Zanitha Azkayra Wiranata terpaksa menikahi Ananta Victor von Rotchchild gara-gara terlibat sebuah kecelakaan membingungkan dan menewaskan calon mempelai pengantin wanita kontrak dari Ananta. Ananta hanya menginginkan anak untuk bisa menjadi pewaris perusahaan kakeknya dan Zanitha terpaksa harus menggantikan calon mempelai pengantin yang meninggal dunia itu demi agar Ananta tidak menuntut dan menjebloskannya ke Penjara.
View MoreRuangan studio yang semula penuh dengan suara kamera yang berbunyi kini berubah menjadi sunyi saat Zanitha tiba-tiba menghentikan posenya.Dia menunduk sembari memegangi perut yang terasa bergejolakRasa mual yang menggeliat di perutnya semakin menjadi-jadi. Ia mencoba bertahan, menelan ludah berkali-kali, tetapi gelombang rasa tidak enak di tubuhnya semakin kuat.“Aku butuh istirahat sebentar…,” gumamnya pelan, sambil berusaha melangkah keluar dari studio.Wajahnya pucat disertai banyak buliran peluh di pelipisnya.Namun, saat kakinya baru dua kali melangkah, pandangannya mulai berputar. Dunia di sekelilingnya bergoyang. Keringat dingin membasahi hingga ke lehernya.Dengan langkah tertatih, Zanitha berhasil sampai ke kamar mandi di dalam studio.Begitu pintu tertutup, ia langsung berlutut di depan kloset, memuntahkan isi perutnya dengan hebat.Air mata Zanitha mengalir di pipinya saat muntahan tidak kunjung berhenti. Perutnya terasa diremas d
Suasana ruang makan yang biasanya tenang kini mencekam dan sebentar lagi akan berubah menjadi arena pertengkaran yang dipenuhi ketegangan.Cahaya pagi yang masuk dari jendela tinggi tak mampu menghangatkan ruangan, karena hawa dingin yang berasal dari tatapan tajam Ananta kepada Zanitha mengalahkan segalanya.Zanitha masih duduk di tempatnya, menggenggam iPad yang baru saja dilemparkan oleh Ananta.Layar di tangannya menampilkan serangkaian berita dengan foto-foto ‘mesra’-nya bersama Elias.Di seberangnya, Ananta duduk dengan rahang mengeras, napasnya memburu, serta kedua tangannya mengepal di atas meja.“Apa yang kamu lakukan dengan Elias?” suara Ananta akhirnya keluar—serak, dingin, dan dipenuhi dengan kemarahan yang berusaha pria itu tahan.Zanitha menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, bukan karena takut, melainkan karena kecewa.Ia menggeleng pelan, berusaha menjelaskan.“Ta… ini enggak seperti yang kamu pikirkan.” Dia mengulang karena entah harus menjelaskan mulai da
“Sayang, aku pergi ya ….” Zanitha datang ke ruang makan dengan langkah terburu-buru, mengecup pipi Ananta kemudian pergi.“Kamu enggak sarapan dulu?” Ananta berteriak karena langkah Zanitha nyaris melewati batas antara ruang makan dengan living room. “Aku sarapan sama Elias dan photographer sambil diskusi tentang pemotretan besok.” Dan Zanitha masih sempat menjelaskan meski harus berteriak.Setelah itu Zanitha melanjutkan langkah keluar dari mansion untuk masuk ke dalam mobil Elias.Rahang Ananta mengeras, satu tangannya mengepal di atas meja.Pria itu tidak suka situasi seperti ini, semestinya sebagai istri-Zanitha menemaninya sarapan pagi lalu mengantarnya hingga teras.Kebiasaan itu tidak bisa mereka lakukan lagi karena akal-akal Elias yang ingin merebut hati istrinya.“Brengsek!” Ananta menggeram.Sementara di dalam mobil, Zanitha tidak bersuara usai menyapa Elias dengan kalimat ‘Selamat Pagi’ ketika masuk tadi.“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Elias bertanya karena
Matahari pagi menyinari mansion megah Von Rotchschild milik Ananta dengan cahaya keemasan.Ananta berdiri di depan kamar mereka, sudah dibalut setelan jas hitam dengan dasi yang belum terikat sempurna.Di hadapannya, Zanitha sedang berdiri mengenakan blazer putih dan celana panjang krem yang membuatnya terlihat elegan sekaligus profesional.Hari ini, Zanitha akan pergi menemui para perancang busana kelas dunia bersama Elias.Sesuatu yang membuat dada Ananta terasa sesak.Pria itu tidak suka ini.Namun, Ananta tahu bisnis tetap bisnis.Zanitha sibuk merapikan dirinya di depan cermin saat ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat menyentuh pinggangnya dari belakang.Ananta.Tanpa bicara, pria itu melingkarkan lengannya di pinggang Zanitha, menarik tubuhnya lebih dekat.“Ta?” Zanitha menoleh, sedikit terkejut.Ananta tidak menjawab kemudian memutar tubuh Zanitha agar menghadapnya.Setelah itu, Ananta menempelkan keningnya ke
Makan malam di mansion Sebastian Von Rotchschild adalah acara rutin sebulan sekali yang tidak bisa dihindari oleh setiap anggota keluarga.Sebagai Chairman di perusahaan yang merupakan kepala dari dinasti bisnis Helvion Group, Sebastian selalu menjadi sosok yang disegani sekaligus ditakuti oleh keluarganya.Malam ini, meja makan panjang di mansion megah Sebastian sudah dipenuhi oleh anggota keluarga Von Rotchschild.Duduk di kursi paling ujung adalah Sebastian, dengan ekspresi tenang dan penuh wibawa.Di sebelahnya, Leonardo dan Livia—orang tua Rafael dan Seraina—duduk dengan postur kaku, meskipun sesekali berbasa-basi dengan anggota keluarga yang lainnya.Sementara di sisi lain, Simon dan Amelie—orang tua Elias dan Luca—tampak lebih santai, tetapi ada kilatan tajam dalam sorot mata mereka, seakan menunggu momen yang tepat untuk menyerang.Malam ini, hanya ada satu kursi kosong, kursi yang seharusnya diduduki oleh Mathias.Namun, pria itu sudah kem
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Ananta tiba di mansion Mathias.Dia masuk dari pintu depan tanpa menunggu asisten rumah tangga membukakan pintu, wajah tampannya berekspresi tidak ramah kali ini.Kakinya melangkah cepat melewati lorong menuju taman belakang, di mana Mathias biasanya menikmati pagi setelah tadi Ananta mengecek ruang makan yang kosong.Begitu sampai di sana, pemandangan pertama yang ia lihat membuat dadanya sedikit menghangat—dan sekaligus kesal.Di bawah gazebo yang dikelilingi oleh taman bunga yang asri, Zanitha dan Mathias duduk berhadapan di meja makan yang elegan. Mereka tengah menikmati sarapan dengan santai. Cangkir teh porselen berisi teh hitam mengepul di depan mereka, sementara berbagai jenis pastry khas Eropa tersaji di atas meja.Yang membuat Ananta mendengus kesal adalah tawa renyah Zanitha yang terdengar begitu lepas.Istrinya itu terlihat menikmati percakapan dengan Mathias, wajahnya cerah seperti anak kecil yang sedang m
Ananta menggenggam tangan Zanitha erat saat mereka berjalan keluar dari venue, menuju limosin yang sudah menunggu.Sorot mata pria itu masih menyiratkan ketegasan dan dominasi, tetapi ada sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, lebih penuh gairah.Begitu pintu mobil tertutup, keheningan menyelimuti mereka.Limosin mulai melaju di jalanan kota Zurich yang sepi, hanya diterangi lampu jalan dan kilauan kota di kejauhan.Zanitha menghela napas panjang, melepas sepatunya dengan nyaman. Ia baru saja akan menyandarkan kepalanya ke kursi, ketika tiba-tiba, sebuah sentuhan hangat menyentuh pipinya.Ananta. Pria itu mendekat, ujung jarinya membelai pipi Zanitha perlahan sebelum turun ke dagunya, menahannya agar ia tetap menatap mata kelam itu.“Kamu tahu hukuman macam apa yang akan kamu dapatkan malam ini, hm?” suara Ananta terdengar rendah, nyaris seperti bisikan.Zanitha menelan ludah. “Aku enggak takut.”Ananta menyeringai tipis, lal
Mobil limosin hitam itu berhenti di depan gerbang utama Château de Rotchschild, sebuah properti mewah yang telah dimiliki oleh keluarga Von Rotchschild selama lebih dari satu abad.Château ini terletak di tepi danau Zurich, dengan arsitektur bergaya Renaissance yang megah.Pilar-pilar besar menopang atap berkubah tinggi, sementara lampu kristal raksasa tergantung di langit-langit lobi utama, memancarkan cahaya lembut yang menciptakan atmosfer eksklusif dan berkelas.Tangga marmer putih dengan pegangan emas mengarah ke pintu utama, di mana para tamu yang mengenakan gaun couture dan tuksedo berkumpul, menyambut pasangan yang baru tiba.Pelayan dalam seragam formal berdiri dengan tangan bersedekap, siap melayani tamu-tamu kehormatan dari berbagai belahan dunia.Ananta keluar lebih dulu, kemudian membungkuk sedikit untuk mengulurkan tangan kepada Zanitha. Begitu wanita itu turun, kilauan lampu-lampu di sekitar venue memantulkan cahaya dari gaunnya yang berpayet halus.Zanitha menata
Suasana mansion terasa lebih hidup malam ini. Para pelayan mondar-mandir memastikan semuanya berjalan lancar.Aroma parfum mewah bercampur dengan wangi lilin aromaterapi yang diletakkan di beberapa sudut ruangan.Ananta baru saja tiba di mansion untuk mengganti pakaian dan menjemput Zanitha. Begitu memasuki rumahnya, pria itu menghela napas panjang, melonggarkan dasi yang sedari tadi terasa mengikat tenggorokannya.Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita berdiri di tengah ruangan, membelakangi pintu masuk.Gaun malam berbahan satin berwarna champagne membalut tubuh wanita itu dengan sempurna. Rambut panjangnya ditata dalam gelombang lembut, memberikan kesan anggun sekaligus menggoda. Punggungnya terbuka sebagian, memperlihatkan kulit sehalus porselen.Cahaya lampu gantung kristal memantulkan kilauan samar dari payet di gaunnya.Ananta mengernyit, lalu melirik Klaus yang berdiri tidak jauh darinya.“Siapa dia?” tanyanya dengan nada datar.Klaus menoleh ke arah wa
Ananta Victor von Rotchchild, CEO blasteran Swiss-Indonesia yang kini menjadi pimpinan tertinggi Helvion Group di Indonesia itu sedang mematut diri di depan cermin sambil menautkan kancing di lengan kemeja, kerutan halus tampak di antara kedua alisnya yang tebal padahal pria itu begitu tampan mengenakan tuxedo di hari pernikahannya ini.Mungkin karena Ananta membenci hari ini lantaran terpaksa menikahi seorang gadis hanya untuk mendapatkan keturunan.Adik sepupunya yang bernama Rafael telah menikah dan memiliki anak laki-laki membuat kakek mereka sang Chairman of the Board di perusahan Helvion Group Swiss merasa senang dan digadang-gadang Rafael akan menggantikan posisi beliau sebagai pemimpin tertinggi perusahaan melangkahi Ananta.Itu kenapa Ananta mengutus Ryan-sekretarisnya mencarikan seorang gadis untuk dijadikan istri kontrak dan mau melahirkan keturunannya.Namun setelah anak itu lahir, Ananta akan menceraikannya dengan memberikan imbalan yang besar.Ananta tidak pernah me...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments