Abara Danendra kaget saat mendapati sosok nenek-nenek di kamar pengantinnya. Dia mengaku Liyana. Istrii yang baru dinikahinya tadi pagi. Tetapi, Bara tak percaya pada pengakuan wanita tua itu. Liyana Sarah sang gadis merupakan kembang Desa yang sangat cantik. Cinta pandangan pertama membuat Bara jatuh hati saat melihat Lily di kebun teh milik orang tuanya. Lantas kemana Lily? Kejadian itu sangat membuat Bara frustasi! karena banyak sekali hal dan suatu rahasia yang aneh di hidupnya semenjak menikah dengan Liyana atau yang sering ia sapa Lily itu. Banyak yang tak suka dengan pernikahan dia dengan kembang desa itu. Membuat hidupnya di hantui oleh orang-orang yang ingin mencelakai Lily dan membuat jalan ceritanya semakin rumit. Dia pun tak kenal lelah untuk mencari keberadaan Liyana istrinya. Tanpa ia sadari bahwa orang yang sangat ia cintai sangat dekat di sisinya. Padahal, istrinya selalu menemani dia. Namun, Bara tak pantang menyerah. Ia rela menghabiskan seluruh hartanya bahkan hidupnya sekalipun untuk menemukan Sang Istri. Karena Bara yakin bahwa nenek tua itu bukanlah istrinya.
view moreBayu berlari menyusul Bara, napasnya tersengal. Jantungnya berpacu bukan hanya karena langkahnya yang cepat, tapi juga karena ketakutan yang menyesakkan dada. “Pak Bara!” serunya, tapi pria itu terus berjalan tanpa menoleh. Langkah Bayu terhenti di depan pintu rumah yang sudah terbuka lebar. Ia menatap punggung Bara yang berdiri di tengah ruangan, tubuhnya tegang, seolah menahan amarah yang siap meledak kapan saja. “Pak Bara…” suara Bayu melemah, tapi Bara tiba-tiba berbalik, membuat Bayu terkejut. “Kau tahu sesuatu, kan?” Suara Bara terdengar parau, matanya menyala. “Tentang nenek itu. Tentang hasil tes. Apa yang kau sembunyikan dariku?” Bayu menggigit bibir. “Saya… saya tidak tahu apa yang Bapak maksud.” “Jangan bohong!” Bara membanting meja di depannya, membuat Bayu tersentak. “Sejak awal kau selalu mencurigakan! Kenapa kau begitu peduli dengan hasil tes itu? Siapa kau sebenarnya, Bayu?”
Bayu duduk memeluk lutut di lantai kamar yang dingin. Nafasnya bergetar, dada terasa sesak, dan pikiran berkecamuk. Suara langkah Bara yang menjauh terdengar begitu menyakitkan. Ia ingin mengejar, ingin memohon agar Bara mendengarkannya, tapi tubuhnya terasa berat.Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa diam saja.Bayu menghapus air mata yang menggenang di pipinya. Ia merogoh ponsel dari saku, menatap layar yang buram karena tangannya gemetar. Jarinya mengetik pesan cepat untuk Ryven.“Aku butuh bantuanmu. Cari tahu siapa yang memanipulasi hasil tes DNA itu.”Pesan terkirim. Bayu menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Matanya terpaku pada bayangan dirinya di kaca jendela kamar. Wajah pucat itu terasa asing. Mata sembab dan bibir yang gemetar membuatnya terlihat begitu lemah.Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah keheningan. Bayu buru-buru mengangkatnya. “Ryven?”“Aku sudah menduga kau akan bilang begitu.” Suara Ry
Bayu tertegun. Peluh dingin mengalir di pelipisnya. “Apa maksud Bapak?” Bara mencondongkan tubuhnya, berbisik pelan. “Siapa kamu sebenarnya?” Bayu membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Bara tahu? Tidak… tidak mungkin. “Saya Bayu, Pak,” jawabnya dengan suara bergetar. Bara tertawa kecil, tapi tidak ada kehangatan dalam tawanya. “Benarkah?” Ia menatap Bayu lekat-lekat, lalu berbisik, “Atau kamu… Liyana?” Dunia seakan berhenti berputar. Bayu terpaku di tempat, darahnya berdesir dingin. Mata Bara menatapnya tajam, menunggu reaksi. Bayu mencoba menyangkal, tapi bibirnya terasa kaku. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Jika Bara benar-benar tahu, maka segalanya sudah berakhir. “Bapak… kenapa bicara seperti itu?” suaranya terdengar serak. Bara tidak menjawab. Ia hanya menatap Bayu dalam diam, seolah menunggu lawannya membuat kesalahan. Detik demi detik berlalu, terasa
Malam itu, Bayu hampir tidak tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang diselimuti embun. Pikiran tentang tes DNA yang akan keluar besok membuatnya gelisah. Ancaman dari pria misterius di gudang menambah beban yang menghimpit dadanya.Aku harus melindungi Bara. Bagaimanapun caranya.Bayu meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk Ryven. Namun, jari-jarinya berhenti di atas layar. Tidak… Ryven tidak boleh terlibat. Ini urusannya sendiri. Ia menutup layar ponsel, lalu beranjak keluar kamar.Rumah terasa begitu sunyi di tengah malam. Bayu berjalan pelan menuju ruang kerja Bara. Pintu kayu itu sedikit terbuka, dan ia mendorongnya perlahan. Cahaya temaram dari lampu meja membuat ruangan terasa hangat, tapi hawa tegang di hatinya tidak berkurang.Matanya langsung tertuju pada laci di sudut meja — tempat Bara menyimpan dokumen-dokumen penting. Bayu menelan ludah, lalu berjalan mendekat. Dengan tangan gemetar, ia menarik laci itu perlahan. Koson
Bayu berdiri mematung di tengah jalan, napasnya masih tersengal setelah adegan menegangkan barusan. Angin malam yang dingin menusuk tulang, tapi pikirannya jauh lebih berkecamuk dibandingkan udara yang menusuk kulitnya. Bara mungkin sudah pergi, tapi bahaya belum benar-benar lenyap.Ia melirik ponsel di saku jaketnya, tangan gemetar saat meraihnya. Sebuah pesan baru masuk dari nomor tak dikenal — nomor yang sebelumnya mengancamnya.“Kau membuat gerakan yang berani. Tapi ingat, satu langkah salah, semua berakhir.”Bayu meremas ponselnya, rahangnya mengeras. Siapa pun orang ini, dia mengawasi. Dan itu berarti waktu Bayu semakin menipis.Ia menyalakan motor lagi, melaju kencang kembali ke rumah Bara. Jantungnya terus berdetak tak menentu, pikirannya berkelindan antara rahasia yang ia sembunyikan dan ancaman yang kini mengintainya.Saat tiba di rumah, suasana sudah sunyi. Lampu ruang tengah masih menyala, tapi tak ada tanda-tanda Bara di mana
Bayu duduk diam di tepi ranjang, menatap kosong ke arah lantai. Udara malam terasa begitu berat, seakan menindih dadanya. Pikirannya penuh dengan bayangan masa lalu, ancaman Gustur, serta permintaan pria misterius tadi.Ia meremas ujung selimut. Bagaimana kalau ini jebakan? Bagaimana kalau pria itu sebenarnya anak buah Gustur?Bayu menggeleng pelan. Tidak. Kalau pria itu benar-benar bekerja untuk Gustur, ia tak mungkin memberikan foto-foto itu. Tapi…Tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan. Bayu tersentak, buru-buru menyeka wajahnya dan mencoba menenangkan napasnya.“Masuk,” ujarnya.Pintu terbuka perlahan, dan Bara masuk dengan ekspresi serius. “Kau belum tidur?”Bayu menggeleng. “Belum ngantuk, Pak.”Bara menatapnya lekat. “Aku juga nggak bisa tidur.” Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi dekat jendela. “Bayu… ada yang ingin kutanyakan padamu.”Jantung Bayu berdegup kencang. Ia berusaha menjaga ekspresinya tetap
Keesokan harinya, Bayu terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya terasa berat karena kurang tidur, tapi pikirannya sudah berputar sejak fajar menyingsing. Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponsel yang tergeletak di sampingnya. Tidak ada pesan baru.Bayu meremas ujung selimut, mencoba meredakan kegelisahan yang merayap di dadanya. Ia harus menemui orang itu malam ini. Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus ia lakukan.Setelah mandi dan berganti pakaian, Bayu keluar dari kamar. Lorong rumah masih sepi. Ia berjalan menuju dapur untuk membuat kopi, namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok Bara sudah duduk di ruang makan, menatap secangkir kopi yang mulai dingin di hadapannya.“Pagi, Pak Bara,” sapa Bayu pelan.Bara menoleh sekilas, lalu mengangguk kecil. “Pagi.”Bayu menahan napas. Wajah Bara tampak lelah, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Mungkin pria itu juga tidak tidur nyenyak semalam.Bayu berjalan ke dapur, membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri, lalu d
Bayu menelan ludah, matanya menatap tajam sosok yang kini berdiri hanya beberapa langkah darinya. Dalam redupnya cahaya senter, wajah itu tampak samar, namun suara dingin yang keluar dari mulutnya terasa begitu jelas, menggema di ruangan tua yang lembap dan berdebu.“Permainan apa yang kau maksud?” suara Bayu bergetar, berusaha terdengar tegar meskipun hatinya berdegup kencang.Sosok itu tertawa pelan, langkahnya mendekat hingga Bayu bisa merasakan hembusan napasnya. “Permainan kebenaran, Liyana. Kau sudah terlalu lama bersembunyi di balik identitas palsumu.”Bayu mengepalkan tangan, rahangnya mengatup kuat. “Apa maumu?” ulangnya, kali ini lebih tegas.Sosok itu diam sejenak, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia memencet beberapa tombol sebelum menunjukkan layar ponselnya ke Bayu. Sebuah video diputar — gambar yang terpampang membuat Bayu membeku.Di layar itu terlihat dirinya — atau lebih tepatnya, dirinya dalam balutan identitas Bayu — tengah berbicara dengan Ryven di warung ke
Bayu dan Ryven berjalan beriringan menuju motor mereka, udara malam terasa semakin menusuk. Langkah Bayu terasa berat, pikirannya masih dipenuhi bayangan foto itu — bukti nyata bahwa penyamarannya nyaris terbongkar. Siapa yang mengawasinya selama ini? Bagaimana orang itu bisa mendapatkan foto Liyana? Begitu sampai di dekat motornya, Bayu bersandar di sadel, mencoba menenangkan diri. Ryven berdiri di sampingnya, melipat tangan di dada. “Sekarang apa?” tanya Ryven pelan. Bayu menghela napas panjang, matanya menatap kegelapan. “Aku harus mencari tahu siapa yang mengirim pesan itu.” “Sendirian?” Ryven mengerutkan dahi. “Kau gila? Ini jelas perangkap.” Bayu menatap Ryven, matanya penuh tekad. “Kalau bukan aku, siapa lagi? Ini tentang identitasku. Tentang Bara.” Ia mengepalkan tangan. “Aku tidak bisa membiarkan siapa pun tahu bahwa aku Liyana.” Ryven menatap Bayu lama, lalu menghela napas berat. “Baiklah. Tapi aku akan tetap membantumu.” Bayu tersenyum tipis. “Terima kasih.” Mereka n
______"Siapa, kau!" Bara kaget saat mendapati seorang Nenek-nenek tengah berada di kamarnya terduduk di kursi rias. Menatap cermin."Aa ... aku ... Istrimu, Mas." Wanita yang tampak delapan puluh tahunan itu berbalik dari cermin.Sontak wajah Bara berkerut. Heran."Kau, bukan Istriku!" Bara mendekati wanita itu dari ambang pintu kamar yang baru dibukanya."Mas ... Aku Lily istrimu," ucap wanita itu parau sembari menitikkan air mata."Kau bukan Liyana!" Kini Bara semakin marah. Lantas saja ia merasa risih pada sosok wanita asing itu.Apalagi Wanita paruh baya yang mengaku sebagai Istrinya. Jelas beda! wanita yang baru di ijab olehnya tadi pagi sangat cantik dan masih muda."Aku Liyana, Mas!" Dia masih bersih kukuh. Mengaku bahwa dirinya Liyana."Tidak, kau bukan istriku!" teriak Bara kali ini sembari menggelengkan kepalanya. Wanita paruh baya itu hanya bisa menangis. Dan terus berucap bahwa dia adalah istrinya.Namun, Bara terus menolak. Merasa tidak terima."Jangan bercanda! Di mana...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Comments