Rania tinggal bersama Ibu Tirinya yang kejam. Suka memerintah seenak jidat. Bahkan dia memaksa Rania untuk menikah diusianya yang masih belia. Vera menginginkan Rania menikah dengan anak temannya, semata-mata demi mendapatkan uang maskawin yang diberikan. Rania terpaksa menikah dengan Erlan. Ketua OSIS sekaligus geng motor yang ditakuti. Di lain sisi, Rania pun dicintai oleh Ravi, Dokter ganteng yang dulu merawat Ayahnya Rania ketika sakit. Lantas seperti apa kehidupan Rania? Akankah dia tetap mempertahankan pernikahannya dengan Erlan atau berpaling kepada Ravi?
View More"Ran, tuh cowok lu udah datang," senggol Eva sambil menunjukkan lirikan mata ke arah Erlan yang baru saja memasuki kelas.Langkah tegap sambil menggendong tas hitam di bahu, menunjukkan tatapan tajam penuh ambisi, membuat mereka yang melihat Erlan, merasa seperti berada di dunia lain.Rania ikut melirik suaminya sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya dengan kasar. "Apaan si? Dia bukan cowok gue," elaknya, buru-buru membuka buku pelajaran yang tergeletak di meja.'Kenapa dia baru datang?' batin Rania, saat mengingat kembali bahwa Erlan pergi ke sekolah lebih dulu, tetapi baru sampai setengah jam setelah dirinya. Eva tertawa kecil, "ah, yang benar? Kenapa ya, gue rasa, lu sama dia punya hubungan khusus gitu?"Ucapan Eva yang cukup keras, memantik perhatian Erlan yang berdiri di sana. Secara samar-samar dia mendengar obrolan Rania dan Eva. Sorot matanya langsung menukik tajam ke arah Rania. Gadis mungil itu, sempat tertunduk, sebelum dia menghela napas panjang setelah itu."Udah ah
Malam semakin larut. Namun, Rania masih terjaga. Matanya enggan terpejam, walau sudah ia usahakan, tetap saja pikirannya masih melalang buana, memikirkan banyak hal. Sementara Erlan, sudah terlelap di atas ranjang menyapa mimpi.Rania beringsut dari tempat tidur. Seperti biasa, dia tidur di lantai, sedangkan Erlan tidur di ranjang. Begitulah adanya jika tidur di kamar ini. Berbeda jika tidur di kamar Desi, sudah pasti Rania mendapatkan tempat nyaman dan hangat.Rania menatap suaminya dalam-dalam. "Di balik wajah yang tenang ini, ada sebuah rahasia yang coba disembunyikan di setiap waktu," gumamnya. "Gue selalu gagal mengenali lu. Terkadang gue mikir, lu seperti pahlawan yang datang di waktu yang tepat buat nyelametin nyawa gue, tapi dari wujud pahlawan itu, ada sosok monster yang tidak bisa gue pahami.""Kenapa gue bilang gitu? Karena, di balik kehangatan lu, yang datang buat nyelametin gue, ada sosok pemarah yang terkadang bikin gue bingung.""Sumpah, Lan. Kalau lu benci gue, terus
"Mom, hari ini Rania tidur di kamar aku. Boleh kan?" kata Erlan, mendadak. Alhasil, Desi langsung tersedak napasnya sendiri. "Apa, Sayang?"Uhukk ...Uhukk ...Dia sampai batuk-batuk kecil. Rania segera mengambil gelas berisi air putih, buru-buru memberikannya kepada Desi."Minum dulu, Mom. Pelan-pelan." Desi mengangguk, lalu menggenggam gelas itu, meneguk air putih tersebut perlahan-lahan.Erlan tampak mengerutkan keningnya, merasa heran, tetapi tidak ada yang dilakukannya selain memperhatikan saja."Mommy udah baikan?" tanya Rania memastikan."Iya, Sayang. Terima kasih." Desi menganggukan kepalanya disertai senyuman tipis, masih menyentuh dadanya yang mendadak sesak napas akibat ucapan Erlan yang seperti anak panah itu.Setelah mematikan mertuanya baik-baik saja, barulah Rania duduk kembali."Kamu ngomong apa tadi, Sayang?" tanya Desi, kepada Erlan yang tampak diam sambil menetap ke arahnya."Aku mau, Rania tidur di kamarku lagi. Kemarin dia masih sakit. Aku enggak masalah dia tidu
Di sisi berbeda, tempat terpisah. Sudah lama tidak ada kabarnya. Bagaimana kondisi Vera sekarang? Wanita licik yang menikahi pria kaya hanya demi harta semata. Dia tentu sedang menikmati harta yang seharusnya menjadi hak anak tirinya.Vera meneguk minuman dalam gelas transparan. "Ah ... Sungguh nikmat rasa minuman ini," ucapnya setelah meneguk sampai habis minuman itu.Vera yang dulu bukanlah dirinya yang sekarang. Satu tahun yang lalu, dia harus berbagi harta dengan anak tirinya dan harus bersikap baik di depan pria berstatus suami. Bersandiwara menjadi sosok panutan bagi seorang anak. Semua itu sudah hilang sepenuhnya dari kehidupan Vera. Sekarang, dia sedang menikmati kekayaan yang membuat hatinya merasa gembira."Hay, ganteng," sapa Vera dengan nada mania, kepada seorang pemuda tampan yang baru saja melewati kursinya.Seperti ada hembusan angin laut yang bertiup sepoi-sepoi, pemuda itu langsung berbalik badan, seolah-olah dia datang sebagai takdir."Halo, tampan." Vera kembali me
"Lepasin tangan lu dari Rania!" tegas Erlan, menatap tajam lawan bicaranya tanpa berkedip."Apa hak kamu, memerintahkan saya?" Jawaban Ravi tidak kalah seriusnya. Secara tidak langsung, dia enggan melepas Rania kepada pria lain.Sementara itu, Rania menatap keduanya bergantian. Apa yang harus ia perbuat sekarang? Jika memilih Erlan, bukan tidak mungkin memberi pertanyaan besar di benak Ravi? Sedangkan jika menolak Erlan, dirinya akan menjadi istri durhaka.Rania meringis, dilanda kegalauan. Dia ingin menjerit, tetapi suaranya tertahan di ujung tenggorokan.Baik Erlan maupun Ravi tidak ada yang mau mengalah. "Lepasin tangan Rania!" tegas Ravi sambil menarik Rania agar terlepas dari genggaman Erlan.Ravi merasa dirinya benar dan perlu untuk melindungi Rania sebagai tanggung jawabnya. "Apa hak lu nyuruh gue buat ngelepasin dia?" Erlan balik menantang.Ravi balik menatap tajam Erlan. "Lantas, apa hak kamu meminta Rania pergi?" Perkataannya masih batas kesopanan, tetapi bukan tidak mungk
"Siapa cewek itu, Lan? Apa gara-gara dia, sikap lu berubah?" cecar Funny, kali ini persoalannya bukan lagi soal sekolah, melainkan kehadiran orang baru dalam keluarga Erlan. Raut wajah yang Funny tunjukkan pun sedikit berbeda dari sebelumnya. Kali ini, ada sorot mata kecemburuan di dalamnya. "Kita udah kenal lama, Lan. Gue kenal betul, sifat lu. Lu yang dulu bukan seperti ini.""Gue tahu, lu tinggal bareng cewek lain. Siapa dia, Lan? Jawab gue! Gue butuh jawaban dari lu."Funny tak lagi membanggakan dirinya. Kalimatnya berisi tuntutan, tentang hubungan yang dijalani Erlan di belakangnya."Lu udah mengkhinati hubungan kita."Erlan mengangkat kepalanya. "Hubungan kata lu? Memangnya di antara kita ada hubungan apa?"Dia mengikis jarak yang tak seberapa jauh itu. Sorot matanya kini semakin tajam dari sebelumnya, seolah dia menunggu-nunggu momen ini terjadi."Katakan, Fun! Memangnya ada hubungan apa di antara kita, sampai-sampai lu ngomong kayak gitu?" cecarnya terus."Lu bilang gue meng
Erlan menghentiakkan motornya di depan sebuah gedung lantai dua, sebuah mansion mewah yang menjadi markas besar Organisasi Naga Merah. Aldo keluar dari mansion. "Akhirnya datang juga. Tadi katanya lima menit, tapi ini udah lima belas menit, dari sepakatan awal," gerutunya, sebagai sambutan hangat. Erlan turun dari motor, melepaskan helm sambil mengayunkan kakinya, melewati Aldo yang berdiri menyambutnya."Sial!" umpat Aldo kesal. Padahal sudah biasa tidak dilihat oleh Erlan, tapi tetap saja terkadang ada rasa jengkel, ingin mencubit ginjal sahabatnya itu.Aldo menyusul setelahnya. Erlan sudah berada di dalam mansion. Dia membanting helmnya ke sembarang tempat. Aldo menepuk keningnya. Bisa ia tebak, suasana hati Erlan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari caranya membanting benda."Cepat kasih tahu, hasil penyelidikan lu!" tegas Erlan sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap serius beberapa lembar foto yang tergeletak di atas mejaAldo mempercepat langkahnya. "S
"Bagaimana keadaanmu saat ini, Sayang?" tanya Desi tanpa bisa menutupi kecemasan saat mendapati Rania terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Kendati demikian, Rania sudah sadar, setelah pingsan beberapa saat lalu. Desi langsung meninggalkan pekerjaannya, pergi ke rumah sakit saat mendapat kabar bahwa Rania jatuh pingsan di tengah-tengah lapangan saat pertandingan bola voli."Aku udah baik kok, Mom," jawab Rania sedikit menunjukkan senyuman."Kamu jangan bohong. Mommy bisa lihat, wajah kamu masih pucat gitu," omel Desi lebih lanjut. "Kamu harus istirahat. Mommy enggak mau denger kata penolakan!" tegasnya kemudian sambil mengacungkan jari telunjuknya. "Mommy sudah dengar semuanya." Dia menoleh ke arah kanan, menatap Erlan yang berdiri sekitar lima meter dari ranjang tempat Rania terbaring."Erlan yang kasih kabar, kalau kamu pingsan tadi," ucap Desi lembut tanpa memalingkan pandangannya dari sang putra.Erlan melipat kedua tangannya di dada, memalingkan wajahnya, tak ingin menatap De
"Ran. Ni, minum buat lu." Leni, teman satu tim Rania, menyodorkan sebotol air putih. Sedangkan tangan satunya juga memegang botol. Rania tersenyum lembut. "Makasih, Len." Dia mengambilnya tanpa ragu."Gue ke sana dulu ya," kata Leni, setelah itu melenggang pergi. Rania mengangguk, kemudian berbalik badan, tepat saat dia berbalik, Erlan sudah berada di belakangnya."Astaghfirullah. Ngapain lu di sini? Bikin kaget aja. Gue kira hantu," umpatnya, cukup kesal. Ekspresi Erlan datar-datar sadar, malah terkesan dingin. "Jangan minum air itu," katanya sangat serius. Rania mengerutkan keningnya. "Apa?""Jangan minum air itu." Erlan mengulangi perkataannya, sambil mengambil botol itu dari tangan Rania."Hei!" Rania meninggikan suaranya, sambil merebut kembali botol itu dari tangan Erlan."Gue bilang, jangan minum air itu!" tegas Erlan satu kali lagi, sekaligus merampas botol itu dari Rania.Keduanya saling berebut Sebuh botol air mineral yang diberikan oleh Leni. "Apa hak lu, ngatur hidup
"Ini uang lima puluh ribu! Kamu pergi ke pasar, beli daging, telor, sayur, ikan, cabe, bawang, pake uang ini!" tegas wanita itu, seraya memberikan uang kertas pecahan lima puluh ribu, kepada seorang gadis belia, berstatus anak dari mendiang suaminya. "Apa? Belanja sebanyak itu, cuma dikasih lima puluh ribu?"Rania Mikaila, yang biasa dipanggil Rania pun menganga, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Di tangannya sekarang, ada uang lima puluh ribu. Wanita dewasa yang lebih pantas disebut Nenek sihir itu, berstatus ibu di atas kertas baginya. Ia memberikan uang tersebut untuk membeli keperluan dapur. Ongkos ke pasarnya saja sepuluh ribu, untuk satu kali balik. Kalau bolak balik, berarti dua puluh ribu, sisa tiga puluh ribu, sedangkan uang yang diberikan lima puluh ribu dan harus bisa membeli daging, telur dan lainnya. Wanita itu masih waras atau sudah kelewat gila?"Iya! Memangnya kenapa dengan uang segitu? Bukankah cukup untuk membeli daging, telur dan lainnya? Kamu kan pinta...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments