SATU BULAN KEMUDIAN.
Erlan dan Rania pun telah resmi menikah. Namun, pernikahan tersebut dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dihadiri dua keluarga inti serta Ketua KUA saja. Hal itu dilakukan semata-mata agar pihak luar tidak mengetahui pernikahan tersebut, terutama dari pihak sekolah dan teman-teman Rania maupun Erlan. . "Lu tidur di lantai, gue tidur di kasur!" tegas Erlan dengan tatapan serius. Rania menganga, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Lu tenang aja. Gue punya kasur cadangan di lemari. Pake aja tuh, biar lu enggak kedinginan," sambung Erlan masih dengan gaya arogannya. Kendati demikian dari kalimat yang digunakan, ada makna perhatian di baliknya. Rania menghela napas panjang, sebelum akhirnya dia mengangguk pelan. Kamar ini telah dihias selayaknya taman. Ada kelopak bunga mawar menghiasi lantai serta tempat tidur. Kata orang, ini adalah malam pertama, malam yang sangat indah bagi sepasang pengantin baru. Namun, bagi Rania, ini adalah malam yang menjadi awal dari kesengsaraannya. Buktinya saja, dia sudah diminta untuk tidur di lantai, meskipun ada kasur lantai, tapi tetap saja kesannya tidaklah mengenakan. Bagaimana pendapat orang rumah, seandainya tahu masalah ini? "Apa lagi?" Rania bertanya singkat dengan nada malas. "Maksud lu?" Erlan balik melontarkan pertanyaan. Rania kembali membuang napas panjang, "maksud gue, apa ada lagi yang harus gue patuhin di kamar ini?" "Ohhhh ... Ngomong dong yang jelas, kan jadinya gue enggak salah paham sama maksud lu tadi." Rania menggelengkan kepalanya, merasa malas dengan perkataan Erlan yang terkesan basa-basi, membuang-buang waktu. "Gue ingetin lu ya. Kamar ini milik gue. Jadi, lu enggak bisa seenaknya pake kamar ini. Gue enggak suka ada orang yang naruh sembarangan barang di kamar gue. Apa lagi sampai bikin kamar gue berantakan. Gue paling benci sama orang kayak gitu. Jorok tau. Paham kan lu?" "Ya, ya, ya. Gue paham. Lu tenang aja, enggak usah khawatir. Gue buka orang yang kayak gitu. Kamar lu, bakalan aman sama gue." Rania langsung membuang pandangannya setelah berkata demikian. Erlan benar-benar orang yang sangat membosankan, di mata Rania. Ya, meksipun mulai sekarang Erlan adalah suaminya. Akan tetapi, bukan berarti Rania akan takluk di bawah kakinya. Begitu juga dengan Erlan. "Ok. Itu yang pertama ..." "Terus apa yang keduanya?" Rania menyela. "Enggak usah nyela kayak gitu. Gue bakalan jelasin semuanya," dengusnya kesal. "Ya udah, gih lanjut." Gadis mungil dengan tatapan judes itu, membuang pandangannya ke sisi berbeda. Selang beberapa detik dia menghela napas berat. Kalau boleh jujur, Erlan sangatlah menyebalkan. Erlan mengernyitkan keningnya. Baru kali ini, dia dibuat ingin makan jantung orang, saking kesalnya. Ekspresi Rania membuat aliran darahnya bergejolak. Seandainya kalau bukan permintaan Ibunya, tidak sudi dia menikah dengan Rania. "Kedua. Lu, enggak boleh nyentuh barang-barang punya gue. Terutama baju-baju gue yang ada di lemari. Pokoknyau jangan nyentuh barang-barang punya gue seenak lu!" tegas Erlan sambil mengacungkan jari telunjuknya. Rania menarik napasnya dalam-dalam, lalu membuangnya cepat. Setelah itu, barulah dia tersenyum lebar. Padahal itu senyuman yang dibuat-buat agar Erlan puas. "Lu paham kan?" "Iya," jawab Rania singkat. "Jangan iya, iya aja. Aslinya paham enggak lu!" Erlan sedikit meninggikan suaranya. "Iya, bawel. Enggak usah ngegas juga kali." Rania berkata dengan nada malas. Sumpah, lama-lama kepalanya bisa pecah kalau begini terus. "Enggak penting juga," gumam Rania sangat pelan. Saking lelahnya, Erlan tidak bisa mendengarnya. Dia hanya melihat Rania seperti sedang komat-kamit. Belum ada dua puluh empat jam Rania berada di rumah ini, tapi rasanya sudah seperti puluhan tahun terkungkung di rumah besar yang lebih pantas disebut penjara ketimbang rumah. Perkataan Erlan yang pantas disebut tong kosong nyaring bunyinya itu, membuat kepala Rania mulai sakit. Sesuatu seperti ingin meledak dari dalam kepalanya. "Oh, iya. Satu hal lagi." "Lagi?" Rania sedikit menganga. Erlan sudah persis Nenek Sihir itu, yang banyak maunya. Rania menepuk keningnya. Sudah dapat ia bayangkan kehidupan apa yang akan dijalaninya setelah ini. "Ini yang terpenting. Gue, ingetin ke lu ya. Jangan bersikap sok kenal saat di sekolah. Pokoknya, gue enggak mau anak-anak di sekolah tahu hubungan ini!" "Lu jangan bersikap seolah-olah kita ini akrab. Apa lagi sampai lu bilang ke semua orang, kalau kita dah nikah. Lu harus bersikap, seperti enggak kenal gue!" Rania melipat kedua tangannya di dada, "dih, siapa juga yang mau akrab sama lu di sekolah. Ogah banget gue. Jangan kegeeran deh. Gue juga muak, deket-deket sama lu." Rania mengatakannya dengan jujur, tampa ia tutupi kekesalannya itu. Erlan mengepalkan tangan kanannya, hendak melayangkan pukulan saking kesalnya dengan ucapan Rania. Namun, diurungkan niatnya itu, mengingat pesan Desi terhadap dirinya. "Udah, itu aja permintaan lu?" "Iya." Erlan menjawabnya singkat. "Ya udah. Gue mau mandi kalau gitu. Udah gerah gue di sini. Panas kepala gue, dengerin omongan lu," celetuknya jujur, tanpa peduli perasaan Erlan yang tidak lain adalah suaminya sekarang. Rania paling tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Bilamana ada sesuatu yang tidak sreg di hatinya, maka Rania tidak segan-segan untuk mengungkapkannya. Selanjutnya, Rania melenggang pergi. Dia cukup puas dengan kalimat terakhirnya itu. Erlan lagi-lagi mengepalkan tangannya sambil menggertakkan gigi. Seandainya bukan karena janjinya kepada Desi, dia tidak akan mau berbagi kamar dengan Rania. Cewek paling ngeselin, yang pernah dikenalnya. "Awas lu, Rania. Gue bakalan bikin hidup lu menderita di sini!" "Lihat aja nanti, siapa yang bakalan bertahan? Gue bakalan bikin lu enggak betah di sini." . Beberapa jam setelahnya. Erlan berada di atas ranjang yang empuk dan hangat, sementara Rania berbaring di lantai beralaskan kasur tipis. Keduanya tidur secara terpisah. Erlan sibuk dengan ponselnya. Dia sedang bermain game, sedangkan Rania berusaha untuk memejamkan matanya. "Woi, bangsat! Itu di belakang lu, anjir!" teriak Erlan yang asyik dengan dunianya sendiri. Rania pun kesulitan untuk tidur, lantaran Erlan terus menerus berteriak, melontarkan kata-kata umpatan dan lainnya sebagainya, membuat gendang telinga Rania seakan ingin pecah. "Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang harus aku hadapi? Mengapa Engkau membawaku ke dalam situasi yang menyebalkan ini?" Rania menggerutu, mengomentari nasibnya yang selalu berujung sial atau menyengsarakan dirinya. Rania menutup kupingnya dengan bantal, mencoba untuk tertidur. Tubuhnya sudah sangat lelah.Hari berikutnya. Rania pun telah sampai di sekolah lebih dulu. Sedangkan Erlan beberapa menit setelahnya. Keduanya datang dengan kendaraan berbeda. Rania turun dari angkutan umum, sedangkan Erlan dengan motornya. Ketika berpapasan pun, baik Rania maupan Erlan sama-sama bersikap seolah tidak saling melihat. Keduanya sudah sama-sama sepakat, untuk tidak saling menyapa, meskipun status yang dijalani sekarang telah sah menjadi suami istri."Rania tralalala!" Rania menghentikan langkahnya. Suara serta panggilan itu, sangat ia kenali. Ya, siapa lagi kalau bukan Eva. "Gue udah bilang. Jangan panggil gue dengan sebutan Rania tralalala," dengusnya kesal.Rania kembali mengayunkan kakinya. Mengabaikan Eva yang mengekor di belakangnya Sementara itu, Erlan telah memarkirkan motornya di temlat seharusnya. Kedua matanya sempat menangkap pergerakan Rania di sana."Erlannn!!!" Dua gadis centil menghampiri Erlan yang baru saja melepaskan helmnya.Remaja tampan yang selalu bersikap dingin itu, men
JAM KEDUA PELAJAR."Lan, lu mau kemana?" tanya Andri, salah satu murid kelas 12 A, menegur Erlan yang berjalan berlawanan arah.Erlan menoleh."Lu enggak mau ke lapangan? Ada pertandingan voli tuh, kelas kita lawan kelas sebelah." Andri menjelaskan dengan antusias.Erlan tidak berkomentar."Udah, enggak usah banyak mikir!" Andri langsung saja menarik tangan Erlan, mengajaknya untuk pergi ke lapangan, tempat para murid berkumpul untuk menyaksikan pertandingan bola voli, kelas A melawan kelas B.Erlan tidak menolak. Namun, dia cukup kesal lantaran orang lain menyentuh tangannya seenak jidat."Lu harus lihat pertandingan ini. Kelas kita enggak pernah kalah dari kelas manapun," kata Andri begitu semangat."Rania paling jago di kelas kita," tambahnya terdengar begitu membanggakan Rania, yang tidak lain adalah istrinya Erlan. Mendengar nama Rania disebut, Erlan pun langsung menarik tangannya. Andri cukup terkejut. "Kenapa, Lan" tanya Andri penasaran."Gue enggak suka voli." Erlan berkata
"Mau pergi kemana, Sayang?" tegur Desi, ketika melihat Rania menuruni anak-anak tangga. Terlihat penampilan Rania begitu rapih dan berdandan cantik.Biasanya Rania hanya berdandan biasa, polesan make up tipis-tipis saja. Malam ini, sepertinya ada hal spesial. "Itu, Tan ... Aku mau pergi sama teman," jawab Rania beralasan."Kok masih panggil Tante si? Panggil Mommy dong. Sekarang kan, kamu udah jadi anak Mommy." Desi memprotes sikap Rania yang menurutnya masih saja formal dan kaku."Heum ... I-ya, Mommy, maaf."Rania mengangguk dan canggung, merasa kikuk karena sebenarnya dia belum terbiasa menggigil Desi dengan sebutan 'Mommy," sebagaimana seharusnya. "Iya, Sayang. Enggak apa-apa. Jangan diulangi ya. Kamu harus sudah terbiasa, dengan panggilan itu. Sekarang kan kita sudah berkeluarga. Anggap saja, Mommy adalah Ibu kandung kamu."Desi meraih kedua tangan Rania, menggenggamnya erat dan tersenyum hangat."Iya, Mommy."Lagi-lagi Rania hanya bisa tersenyum canggung. Sungguh keadaan yang
"Woi, Bro!" teriak seseorang dari kejauhan, sambil melambaikan tangan.Erlan yang baru memasuki tempat hiburan malam itu, lantas menghampiri rekannya yang ada di sana."Gimana kabar lu?" tanya Aldo, sambil melakukan tos persahabatan, yang biasa dilakukannya bersama Erlan.Biasa lah, anak muda. ABG zaman sekarang. "Enggak ada baik-baiknya kabar gue," jawab Erlan sedikit malas. Dia lantas duduk di sofa, menyandarkan punggungnya ke titik ternyaman. Kepalanya mendongak, pikirannya kacau balau. Hari-harinya semakin ruwet, dengan kehadiran Rania. Semakin membuatnya tidak betah berada di rumah. "Iya, kah? Apa nyokap lu maksa buat ngelakuin sesuatu lagi?" tanya Aldo penasaran seraya duduk menemani rekannya yang sedang gundah gulana itu."Hooh. Pusing kepala gue, pengen pecah rasanya." Erlan tidak menutupi kekesalannya. Kendati demikian , dia tidak akan mau membahas soal Rania di depan Aldo. Bisa kacau semua rahasianya.Aldo mengelus dagunya, sedang memikirkan sebuah rencana yang mampu meng
"Kamu ada di sini, Rania? Saya sangat cemas mencari kamu kemana-mana." Rania tergagap, ketika pria yang mengajaknya untuk nonton di bioskop, tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya sekarang."Ah, heum iya Pak Ravi. Maafkan aku karena pergi tanpa memberitahu Anda," ungkap Rania sedikit gugup. Wajahnya terlihat pucat dan berkeringat. Ravi sedikit menerka situasi yang sedang Rania alami. Kendati demikian, dia tidak mau asal berucap. Rania tertunduk, merasa bersalah, tapi hatinya sedang dongkol karena ulah suaminya yang pergi begitu saja tanpa meminta maaf. "Apa ada sesuatu yang terjadi? Apa kau baik, Rania?" tanya Ravi kembali. Gadis mungil itu mengangkat kepalanya, "bukan apa-apa, Pak. Mendadak kepikiran almarhum Ayah. Kalau gitu, aku pulang duluan ya Pak Ravi. Maaf sudah membuat Anda cemas."Rania sedikit menunduk disertai senyuman kecil yang terkesan terpaksa, setelahnya dia melenggang pergi tanpa menoleh lagi. Ravi hendak mengejarnya. Namun, kedua kakinya tidak mampu untuk melangka
Selama di perjalanan, ponsel Erlan terus saja berdering. Hal tersebut membuat suasana hati pemuda sembilan belas tahun itu semakin buruk. Erlan menepikan motornya di sisi kiri. "Siapa si yang nelpon, ganggu banget?" gerutunya sangat kesal. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, kemudian membuka kaca helmnya.Tertulis 'Ibu' di layar ponselnya. Itu artinya, Desi yang sedari tadi menelpon. Catatan panggilan menampilkan lebih dari 20 kali panggilan tak terjawab, semua itu berasal dari Desi.Erlan membuang napas panjang. Dia membuka helmnya. Panggilan telpon itu sudah berhenti, tapi kurang dari satu menit, ponsel itu kembali berbunyi dan menampilkan nama 'Ibu' di layar. Erlan menggeser tombol hijau itu, kemudian menempelkan benda pipih itu di telinga.[Iya, Mom.] Tidak ada salah yang terucap dari bibir pemuda sembilan belas tahun itu. Dia malah menunjukkan raut wajah tidak suka dan malas bicara.[Akhirnya kamu angkat juga telpon dari Mommy. Sejak tadi, Mommy terus menelpon ka
"ERLANNN!!!"Suara Desi bergema seisi ruangan. Satu tamparan keras ia layangkan pada wajah sang putra. Tangannya begitu ringan untuk melakukan kekerasa. Napasnya memburu di dalam dada. Erlan menatap Desi penuh emosi. Selama ini, wanita yang telah melahirkannya itu tidak pernah namparnya, meski ia sering membuat marah sekalipun. Erlan menatap Rania dari kejauhan. Tatapannya tajam penuh kemarahan. Semenjak ada Rania di rumah ini, Desi kerap kali menamparnya tanpa ampun.Rania pun telah turun dari ranjang, berdiri mematung di sisi kanan tempat tidur. Bingung harus melakukan apa? Menyela sangat tidak mungkin, atau masalah akan semakin rumit."Mommy menampar aku demi cewek sialan itu?" tunjuk Erlan dengan nada bicara yang mengandung kemarahan."Erlan!!!" teriak Desi kembali. Tanpa menyebutkan nama, Desi sudah tahu siapa yang dimaksud 'Cewek sialan' itu."Pukul aku terus, Mom. Tampar aku lagi!" Alih-alih merasa bersalah, Erlan malah menantang Desi untuk bertindak lebih jauh lagi. "Erlan!
"Oh. Jadi, lu yang udah taruh lem di bangku gue, ah?" sungut Rania. Dia berkacak pinggang sambil menghampiri Erlan. Wajahnya membusung, kedua bahunya terangkat. Dia benar-benar terlihat seperti preman jalanan yang menguasai pasar.Erlan tersenyum sinis, sekaligus mengejek dan menyepelekan sikap sok berani yang Rania tunjukkan."Kalau iya, kenapa ah?" Erlan balik menantang Rania, yang tidak lain adalah istrinya, tetapi tidak ada satu pun yang mengetahui status tersebut.Rania sempat mengerjap, tetapi segera dia bersikap dingin kembali. "Cepat bersihin lem itu dari bangku gue!" titah Rania tanpa ragu. Meksipun yang dihadapi suaminya sendiri, tetapi Rania tidak merasa takut sama sekali. "Ogah. Lu aja yang bersihin." Erlan tidak kalah tegas. Dia melipat kedua tangan di dada. Rania mengepalkan tangan kanannya. Merasa geram sekaligus kesal. Bisa-bisanya, dia harus menghadapi suami yang memiliki sifat kekanak-kanakan seperti Erlan. Sungguh membuat kepala ingin pecah."Bersihin enggak! Ata
"Ran, tuh cowok lu udah datang," senggol Eva sambil menunjukkan lirikan mata ke arah Erlan yang baru saja memasuki kelas.Langkah tegap sambil menggendong tas hitam di bahu, menunjukkan tatapan tajam penuh ambisi, membuat mereka yang melihat Erlan, merasa seperti berada di dunia lain.Rania ikut melirik suaminya sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya dengan kasar. "Apaan si? Dia bukan cowok gue," elaknya, buru-buru membuka buku pelajaran yang tergeletak di meja.'Kenapa dia baru datang?' batin Rania, saat mengingat kembali bahwa Erlan pergi ke sekolah lebih dulu, tetapi baru sampai setengah jam setelah dirinya. Eva tertawa kecil, "ah, yang benar? Kenapa ya, gue rasa, lu sama dia punya hubungan khusus gitu?"Ucapan Eva yang cukup keras, memantik perhatian Erlan yang berdiri di sana. Secara samar-samar dia mendengar obrolan Rania dan Eva. Sorot matanya langsung menukik tajam ke arah Rania. Gadis mungil itu, sempat tertunduk, sebelum dia menghela napas panjang setelah itu."Udah ah
Malam semakin larut. Namun, Rania masih terjaga. Matanya enggan terpejam, walau sudah ia usahakan, tetap saja pikirannya masih melalang buana, memikirkan banyak hal. Sementara Erlan, sudah terlelap di atas ranjang menyapa mimpi.Rania beringsut dari tempat tidur. Seperti biasa, dia tidur di lantai, sedangkan Erlan tidur di ranjang. Begitulah adanya jika tidur di kamar ini. Berbeda jika tidur di kamar Desi, sudah pasti Rania mendapatkan tempat nyaman dan hangat.Rania menatap suaminya dalam-dalam. "Di balik wajah yang tenang ini, ada sebuah rahasia yang coba disembunyikan di setiap waktu," gumamnya. "Gue selalu gagal mengenali lu. Terkadang gue mikir, lu seperti pahlawan yang datang di waktu yang tepat buat nyelametin nyawa gue, tapi dari wujud pahlawan itu, ada sosok monster yang tidak bisa gue pahami.""Kenapa gue bilang gitu? Karena, di balik kehangatan lu, yang datang buat nyelametin gue, ada sosok pemarah yang terkadang bikin gue bingung.""Sumpah, Lan. Kalau lu benci gue, terus
"Mom, hari ini Rania tidur di kamar aku. Boleh kan?" kata Erlan, mendadak. Alhasil, Desi langsung tersedak napasnya sendiri. "Apa, Sayang?"Uhukk ...Uhukk ...Dia sampai batuk-batuk kecil. Rania segera mengambil gelas berisi air putih, buru-buru memberikannya kepada Desi."Minum dulu, Mom. Pelan-pelan." Desi mengangguk, lalu menggenggam gelas itu, meneguk air putih tersebut perlahan-lahan.Erlan tampak mengerutkan keningnya, merasa heran, tetapi tidak ada yang dilakukannya selain memperhatikan saja."Mommy udah baikan?" tanya Rania memastikan."Iya, Sayang. Terima kasih." Desi menganggukan kepalanya disertai senyuman tipis, masih menyentuh dadanya yang mendadak sesak napas akibat ucapan Erlan yang seperti anak panah itu.Setelah mematikan mertuanya baik-baik saja, barulah Rania duduk kembali."Kamu ngomong apa tadi, Sayang?" tanya Desi, kepada Erlan yang tampak diam sambil menetap ke arahnya."Aku mau, Rania tidur di kamarku lagi. Kemarin dia masih sakit. Aku enggak masalah dia tidu
Di sisi berbeda, tempat terpisah. Sudah lama tidak ada kabarnya. Bagaimana kondisi Vera sekarang? Wanita licik yang menikahi pria kaya hanya demi harta semata. Dia tentu sedang menikmati harta yang seharusnya menjadi hak anak tirinya.Vera meneguk minuman dalam gelas transparan. "Ah ... Sungguh nikmat rasa minuman ini," ucapnya setelah meneguk sampai habis minuman itu.Vera yang dulu bukanlah dirinya yang sekarang. Satu tahun yang lalu, dia harus berbagi harta dengan anak tirinya dan harus bersikap baik di depan pria berstatus suami. Bersandiwara menjadi sosok panutan bagi seorang anak. Semua itu sudah hilang sepenuhnya dari kehidupan Vera. Sekarang, dia sedang menikmati kekayaan yang membuat hatinya merasa gembira."Hay, ganteng," sapa Vera dengan nada mania, kepada seorang pemuda tampan yang baru saja melewati kursinya.Seperti ada hembusan angin laut yang bertiup sepoi-sepoi, pemuda itu langsung berbalik badan, seolah-olah dia datang sebagai takdir."Halo, tampan." Vera kembali me
"Lepasin tangan lu dari Rania!" tegas Erlan, menatap tajam lawan bicaranya tanpa berkedip."Apa hak kamu, memerintahkan saya?" Jawaban Ravi tidak kalah seriusnya. Secara tidak langsung, dia enggan melepas Rania kepada pria lain.Sementara itu, Rania menatap keduanya bergantian. Apa yang harus ia perbuat sekarang? Jika memilih Erlan, bukan tidak mungkin memberi pertanyaan besar di benak Ravi? Sedangkan jika menolak Erlan, dirinya akan menjadi istri durhaka.Rania meringis, dilanda kegalauan. Dia ingin menjerit, tetapi suaranya tertahan di ujung tenggorokan.Baik Erlan maupun Ravi tidak ada yang mau mengalah. "Lepasin tangan Rania!" tegas Ravi sambil menarik Rania agar terlepas dari genggaman Erlan.Ravi merasa dirinya benar dan perlu untuk melindungi Rania sebagai tanggung jawabnya. "Apa hak lu nyuruh gue buat ngelepasin dia?" Erlan balik menantang.Ravi balik menatap tajam Erlan. "Lantas, apa hak kamu meminta Rania pergi?" Perkataannya masih batas kesopanan, tetapi bukan tidak mungk
"Siapa cewek itu, Lan? Apa gara-gara dia, sikap lu berubah?" cecar Funny, kali ini persoalannya bukan lagi soal sekolah, melainkan kehadiran orang baru dalam keluarga Erlan. Raut wajah yang Funny tunjukkan pun sedikit berbeda dari sebelumnya. Kali ini, ada sorot mata kecemburuan di dalamnya. "Kita udah kenal lama, Lan. Gue kenal betul, sifat lu. Lu yang dulu bukan seperti ini.""Gue tahu, lu tinggal bareng cewek lain. Siapa dia, Lan? Jawab gue! Gue butuh jawaban dari lu."Funny tak lagi membanggakan dirinya. Kalimatnya berisi tuntutan, tentang hubungan yang dijalani Erlan di belakangnya."Lu udah mengkhinati hubungan kita."Erlan mengangkat kepalanya. "Hubungan kata lu? Memangnya di antara kita ada hubungan apa?"Dia mengikis jarak yang tak seberapa jauh itu. Sorot matanya kini semakin tajam dari sebelumnya, seolah dia menunggu-nunggu momen ini terjadi."Katakan, Fun! Memangnya ada hubungan apa di antara kita, sampai-sampai lu ngomong kayak gitu?" cecarnya terus."Lu bilang gue meng
Erlan menghentiakkan motornya di depan sebuah gedung lantai dua, sebuah mansion mewah yang menjadi markas besar Organisasi Naga Merah. Aldo keluar dari mansion. "Akhirnya datang juga. Tadi katanya lima menit, tapi ini udah lima belas menit, dari sepakatan awal," gerutunya, sebagai sambutan hangat. Erlan turun dari motor, melepaskan helm sambil mengayunkan kakinya, melewati Aldo yang berdiri menyambutnya."Sial!" umpat Aldo kesal. Padahal sudah biasa tidak dilihat oleh Erlan, tapi tetap saja terkadang ada rasa jengkel, ingin mencubit ginjal sahabatnya itu.Aldo menyusul setelahnya. Erlan sudah berada di dalam mansion. Dia membanting helmnya ke sembarang tempat. Aldo menepuk keningnya. Bisa ia tebak, suasana hati Erlan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari caranya membanting benda."Cepat kasih tahu, hasil penyelidikan lu!" tegas Erlan sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap serius beberapa lembar foto yang tergeletak di atas mejaAldo mempercepat langkahnya. "S
"Bagaimana keadaanmu saat ini, Sayang?" tanya Desi tanpa bisa menutupi kecemasan saat mendapati Rania terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Kendati demikian, Rania sudah sadar, setelah pingsan beberapa saat lalu. Desi langsung meninggalkan pekerjaannya, pergi ke rumah sakit saat mendapat kabar bahwa Rania jatuh pingsan di tengah-tengah lapangan saat pertandingan bola voli."Aku udah baik kok, Mom," jawab Rania sedikit menunjukkan senyuman."Kamu jangan bohong. Mommy bisa lihat, wajah kamu masih pucat gitu," omel Desi lebih lanjut. "Kamu harus istirahat. Mommy enggak mau denger kata penolakan!" tegasnya kemudian sambil mengacungkan jari telunjuknya. "Mommy sudah dengar semuanya." Dia menoleh ke arah kanan, menatap Erlan yang berdiri sekitar lima meter dari ranjang tempat Rania terbaring."Erlan yang kasih kabar, kalau kamu pingsan tadi," ucap Desi lembut tanpa memalingkan pandangannya dari sang putra.Erlan melipat kedua tangannya di dada, memalingkan wajahnya, tak ingin menatap De
"Ran. Ni, minum buat lu." Leni, teman satu tim Rania, menyodorkan sebotol air putih. Sedangkan tangan satunya juga memegang botol. Rania tersenyum lembut. "Makasih, Len." Dia mengambilnya tanpa ragu."Gue ke sana dulu ya," kata Leni, setelah itu melenggang pergi. Rania mengangguk, kemudian berbalik badan, tepat saat dia berbalik, Erlan sudah berada di belakangnya."Astaghfirullah. Ngapain lu di sini? Bikin kaget aja. Gue kira hantu," umpatnya, cukup kesal. Ekspresi Erlan datar-datar sadar, malah terkesan dingin. "Jangan minum air itu," katanya sangat serius. Rania mengerutkan keningnya. "Apa?""Jangan minum air itu." Erlan mengulangi perkataannya, sambil mengambil botol itu dari tangan Rania."Hei!" Rania meninggikan suaranya, sambil merebut kembali botol itu dari tangan Erlan."Gue bilang, jangan minum air itu!" tegas Erlan satu kali lagi, sekaligus merampas botol itu dari Rania.Keduanya saling berebut Sebuh botol air mineral yang diberikan oleh Leni. "Apa hak lu, ngatur hidup