Hari berikutnya. Rania pun telah sampai di sekolah lebih dulu. Sedangkan Erlan beberapa menit setelahnya.
Keduanya datang dengan kendaraan berbeda. Rania turun dari angkutan umum, sedangkan Erlan dengan motornya. Ketika berpapasan pun, baik Rania maupan Erlan sama-sama bersikap seolah tidak saling melihat. Keduanya sudah sama-sama sepakat, untuk tidak saling menyapa, meskipun status yang dijalani sekarang telah sah menjadi suami istri. "Rania tralalala!" Rania menghentikan langkahnya. Suara serta panggilan itu, sangat ia kenali. Ya, siapa lagi kalau bukan Eva. "Gue udah bilang. Jangan panggil gue dengan sebutan Rania tralalala," dengusnya kesal. Rania kembali mengayunkan kakinya. Mengabaikan Eva yang mengekor di belakangnya Sementara itu, Erlan telah memarkirkan motornya di temlat seharusnya. Kedua matanya sempat menangkap pergerakan Rania di sana. "Erlannn!!!" Dua gadis centil menghampiri Erlan yang baru saja melepaskan helmnya. Remaja tampan yang selalu bersikap dingin itu, menaikkan sebelah alisnya. Bertanya-tanya, kepada dirinya didatangi dua gadis sekaligus? "Ini sarapan buat kamu." Salah satu gadis menyodorkan kotak makan, yang entah apa isinya itu? "Aku minta Mamaku, untuk buatkan sarapan ini. Kamu bisa makan ini, saat jam istirahat nanti, seandainya kamu belum sarapan itu juga." Gadis itu tersipu malu. Menatap Erlan dari jarak sedekat ini, membuat jantungnya tidak baik-baik saja. "Aku bawain minuman khusus buat kamu, biar kamu enggak kehausan di kelas nanti." Gadis lainnya menyodorkan botol minum yang terbuat dari aluminium itu. "Aku enggak tahu, minuman kesukaan kamu apa? Aku berharap, kamu suka sama minuman yang aku bawain untuk kamu." Ekspresi gadis itu, tidak kalah dengan temannya. Keduanya tersenyum malu-malu. Malu-maluin. Hahaha ... Sementara Erlan tidak mengambil dua pemberian itu dan tidak juga menjawab. Dia langsung saja melenggang pergi, tanpa kata. Dua gadis itu, menatap kepergian Erlan. Pesona remaja tampan yang sudah berstatus suami orang itu, mampu membius keduanya. Mereka masih menganggap Erlan jomblo ganteng yang cintanya harus diperjuangkan. Padahal kenyataannya, Erlan sudah memiliki pawang. *** "Ra, lihat tuh," goda Eva seraya melik Erlan yang baru saja masuk ke ruangan. "Lihat apa?" Rania menjawab dengan nada ketus seraya melirik sekilas suaminya dan kembali fokus membaca. "Tuh, idola baru." Eva yang sempat terpana saat melihat Erlan pun menoleh pada Rania. Dia berdengus kesal, lantaran Rania begitu asyik dengan dunianya sendiri. "Woi, Ran! Sibuk banget baca. Emang apa serunya baca si, padahal ada cowok ganteng di kelas kita, tapi lu malah anggurin," protes Eva cukup keras, alhasil membuat Rania geram. Dia menutup buku paketnya hingga terdengar suara nyaring, kemudian menatap nanar Eva. "Gue lebih baik baca, dari pada liatin cowok. Liatin dia, buang-buang waktu tau. Memangnya siapa dia, buat gue? Dia, enggak bawa keuntungan buat gue. Paham kan lu!" bentaknya tanpa berkedip, kemudian kembali ke posisi duduk semula, yaitu menghadap ke meja dan membuka kembali buku tersebut. Suasana hatinya menjadi kaca, bukan karena ucapan Eva, melainkan Erlan yang dalam waktu singkat langsung mengubah kehidupannya. "Iya, si. Biasa aja, enggak usah ngegas gitu. Gue kan cuma ngomong doang. Ya udah kalau lu enggak mau lihat mah. Biar gue aja. Awas aja nanti, kalau akhirnya lu suka sama dia," sungut Eva, segera mengubah posisi duduknya menjadi membelakangi Rania. Uhuk ... Rania pun batuk pelan. Sementara Eva hanya meliriknya sekilas, setelah itu kembali memperhatikan Erlan yang duduk di sana. Dia bersikap masa bodo, seolah Rania tidak ada di sampingnya. Bukan hanya Eva yang mengagumi Erlan, tetapi para gadis yang ada di kelas ini, bahkan kelas lain pun, kesemsem dengan ketampanan Erlan. Tidak bisa dipungkiri, Erlan memang memiliki wajah ganteng layaknya pemain film. Kulitnya putih, sikapnya dingin dan macho ketika berjalan, membuat para gadis klepek-klepek. Terutama saat Erlan turun dari motor, membuat mereka yang melihatnya luluh lantak. Rania membuka buku paket itu lebar-lebar, tapi sesekali dia melirik Erlan yang sedang digoda pada gadis. "Erlan. Boleh, ya aku foto kamu," kata salah gadis yang ada di sana. Dia sudah menyalakan kamera ponselnya. Namun, detik itu Erlan menepis. "Gue bukan pajangan, yang seenaknya kalian foto!" tegasnya dengan tatapan dingin. Kalimat itu, bukan berlaku untuk satu orang, tetapi mereka yang ada di hadapannya sekarang. "Minggir!" Erlan melenggang pergi, melewati mereka yang mencoba bersikap genit dihadapannya. Rayuan mereka sama sekali tidak menyentuh hati Erlan. Bahkan untuk mencuri perhatiannya pun tidak bisa. Erlan merasa muak, bosan dan jengkel. Mereka mengira, tidak panas apa dikerumuni dari segala sisi? Para murid laki-laki yang ada di sana, saling berbisik dan menatap keheranan Erlan serta pada gadis yang begitu memujinya. Erlan seolah menjadi saingan paling berat di kelas bahkan di sekolah ini. Rania melirik sinis sambil menggeleng pelan. "Dasar sok kegantengan," gumamnya dna kembali fokus pada buku.JAM KEDUA PELAJAR."Lan, lu mau kemana?" tanya Andri, salah satu murid kelas 12 A, menegur Erlan yang berjalan berlawanan arah.Erlan menoleh."Lu enggak mau ke lapangan? Ada pertandingan voli tuh, kelas kita lawan kelas sebelah." Andri menjelaskan dengan antusias.Erlan tidak berkomentar."Udah, enggak usah banyak mikir!" Andri langsung saja menarik tangan Erlan, mengajaknya untuk pergi ke lapangan, tempat para murid berkumpul untuk menyaksikan pertandingan bola voli, kelas A melawan kelas B.Erlan tidak menolak. Namun, dia cukup kesal lantaran orang lain menyentuh tangannya seenak jidat."Lu harus lihat pertandingan ini. Kelas kita enggak pernah kalah dari kelas manapun," kata Andri begitu semangat."Rania paling jago di kelas kita," tambahnya terdengar begitu membanggakan Rania, yang tidak lain adalah istrinya Erlan. Mendengar nama Rania disebut, Erlan pun langsung menarik tangannya. Andri cukup terkejut. "Kenapa, Lan" tanya Andri penasaran."Gue enggak suka voli." Erlan berkata
"Mau pergi kemana, Sayang?" tegur Desi, ketika melihat Rania menuruni anak-anak tangga. Terlihat penampilan Rania begitu rapih dan berdandan cantik.Biasanya Rania hanya berdandan biasa, polesan make up tipis-tipis saja. Malam ini, sepertinya ada hal spesial. "Itu, Tan ... Aku mau pergi sama teman," jawab Rania beralasan."Kok masih panggil Tante si? Panggil Mommy dong. Sekarang kan, kamu udah jadi anak Mommy." Desi memprotes sikap Rania yang menurutnya masih saja formal dan kaku."Heum ... I-ya, Mommy, maaf."Rania mengangguk dan canggung, merasa kikuk karena sebenarnya dia belum terbiasa menggigil Desi dengan sebutan 'Mommy," sebagaimana seharusnya. "Iya, Sayang. Enggak apa-apa. Jangan diulangi ya. Kamu harus sudah terbiasa, dengan panggilan itu. Sekarang kan kita sudah berkeluarga. Anggap saja, Mommy adalah Ibu kandung kamu."Desi meraih kedua tangan Rania, menggenggamnya erat dan tersenyum hangat."Iya, Mommy."Lagi-lagi Rania hanya bisa tersenyum canggung. Sungguh keadaan yang
"Woi, Bro!" teriak seseorang dari kejauhan, sambil melambaikan tangan.Erlan yang baru memasuki tempat hiburan malam itu, lantas menghampiri rekannya yang ada di sana."Gimana kabar lu?" tanya Aldo, sambil melakukan tos persahabatan, yang biasa dilakukannya bersama Erlan.Biasa lah, anak muda. ABG zaman sekarang. "Enggak ada baik-baiknya kabar gue," jawab Erlan sedikit malas. Dia lantas duduk di sofa, menyandarkan punggungnya ke titik ternyaman. Kepalanya mendongak, pikirannya kacau balau. Hari-harinya semakin ruwet, dengan kehadiran Rania. Semakin membuatnya tidak betah berada di rumah. "Iya, kah? Apa nyokap lu maksa buat ngelakuin sesuatu lagi?" tanya Aldo penasaran seraya duduk menemani rekannya yang sedang gundah gulana itu."Hooh. Pusing kepala gue, pengen pecah rasanya." Erlan tidak menutupi kekesalannya. Kendati demikian , dia tidak akan mau membahas soal Rania di depan Aldo. Bisa kacau semua rahasianya.Aldo mengelus dagunya, sedang memikirkan sebuah rencana yang mampu meng
"Kamu ada di sini, Rania? Saya sangat cemas mencari kamu kemana-mana." Rania tergagap, ketika pria yang mengajaknya untuk nonton di bioskop, tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya sekarang."Ah, heum iya Pak Ravi. Maafkan aku karena pergi tanpa memberitahu Anda," ungkap Rania sedikit gugup. Wajahnya terlihat pucat dan berkeringat. Ravi sedikit menerka situasi yang sedang Rania alami. Kendati demikian, dia tidak mau asal berucap. Rania tertunduk, merasa bersalah, tapi hatinya sedang dongkol karena ulah suaminya yang pergi begitu saja tanpa meminta maaf. "Apa ada sesuatu yang terjadi? Apa kau baik, Rania?" tanya Ravi kembali. Gadis mungil itu mengangkat kepalanya, "bukan apa-apa, Pak. Mendadak kepikiran almarhum Ayah. Kalau gitu, aku pulang duluan ya Pak Ravi. Maaf sudah membuat Anda cemas."Rania sedikit menunduk disertai senyuman kecil yang terkesan terpaksa, setelahnya dia melenggang pergi tanpa menoleh lagi. Ravi hendak mengejarnya. Namun, kedua kakinya tidak mampu untuk melangka
Selama di perjalanan, ponsel Erlan terus saja berdering. Hal tersebut membuat suasana hati pemuda sembilan belas tahun itu semakin buruk. Erlan menepikan motornya di sisi kiri. "Siapa si yang nelpon, ganggu banget?" gerutunya sangat kesal. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, kemudian membuka kaca helmnya.Tertulis 'Ibu' di layar ponselnya. Itu artinya, Desi yang sedari tadi menelpon. Catatan panggilan menampilkan lebih dari 20 kali panggilan tak terjawab, semua itu berasal dari Desi.Erlan membuang napas panjang. Dia membuka helmnya. Panggilan telpon itu sudah berhenti, tapi kurang dari satu menit, ponsel itu kembali berbunyi dan menampilkan nama 'Ibu' di layar. Erlan menggeser tombol hijau itu, kemudian menempelkan benda pipih itu di telinga.[Iya, Mom.] Tidak ada salah yang terucap dari bibir pemuda sembilan belas tahun itu. Dia malah menunjukkan raut wajah tidak suka dan malas bicara.[Akhirnya kamu angkat juga telpon dari Mommy. Sejak tadi, Mommy terus menelpon ka
"ERLANNN!!!"Suara Desi bergema seisi ruangan. Satu tamparan keras ia layangkan pada wajah sang putra. Tangannya begitu ringan untuk melakukan kekerasa. Napasnya memburu di dalam dada. Erlan menatap Desi penuh emosi. Selama ini, wanita yang telah melahirkannya itu tidak pernah namparnya, meski ia sering membuat marah sekalipun. Erlan menatap Rania dari kejauhan. Tatapannya tajam penuh kemarahan. Semenjak ada Rania di rumah ini, Desi kerap kali menamparnya tanpa ampun.Rania pun telah turun dari ranjang, berdiri mematung di sisi kanan tempat tidur. Bingung harus melakukan apa? Menyela sangat tidak mungkin, atau masalah akan semakin rumit."Mommy menampar aku demi cewek sialan itu?" tunjuk Erlan dengan nada bicara yang mengandung kemarahan."Erlan!!!" teriak Desi kembali. Tanpa menyebutkan nama, Desi sudah tahu siapa yang dimaksud 'Cewek sialan' itu."Pukul aku terus, Mom. Tampar aku lagi!" Alih-alih merasa bersalah, Erlan malah menantang Desi untuk bertindak lebih jauh lagi. "Erlan!
"Oh. Jadi, lu yang udah taruh lem di bangku gue, ah?" sungut Rania. Dia berkacak pinggang sambil menghampiri Erlan. Wajahnya membusung, kedua bahunya terangkat. Dia benar-benar terlihat seperti preman jalanan yang menguasai pasar.Erlan tersenyum sinis, sekaligus mengejek dan menyepelekan sikap sok berani yang Rania tunjukkan."Kalau iya, kenapa ah?" Erlan balik menantang Rania, yang tidak lain adalah istrinya, tetapi tidak ada satu pun yang mengetahui status tersebut.Rania sempat mengerjap, tetapi segera dia bersikap dingin kembali. "Cepat bersihin lem itu dari bangku gue!" titah Rania tanpa ragu. Meksipun yang dihadapi suaminya sendiri, tetapi Rania tidak merasa takut sama sekali. "Ogah. Lu aja yang bersihin." Erlan tidak kalah tegas. Dia melipat kedua tangan di dada. Rania mengepalkan tangan kanannya. Merasa geram sekaligus kesal. Bisa-bisanya, dia harus menghadapi suami yang memiliki sifat kekanak-kanakan seperti Erlan. Sungguh membuat kepala ingin pecah."Bersihin enggak! Ata
"Ran. Lu kenapa? Kok muka lu pucet gitu?" tanya Eva cemas, ketika melihat Rania yang mendadak lemas sambil memegangi kepalanya. "Enggak apa-apa. Gue baik. Cuma lemes dikit aja." Rania menggeleng, menjawab santai dan disertai sedikit senyuman.Dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, padahal dia sedang merasakan sakit yang sangat luar biasa di bagian kepalanya, seolah ada beban berat yang terus-menerus memukuli kepalanya sehingga ingin pecah saja. Rania kembali memfokuskan dirinya pada buku LKS yang ada di hadapannya. Eva yang melihat sikap sang sahabat, sedikit iba. "Ke UKS aja yuk. Gue takut lu kenapa-kenapa." Eva berusaha membujuk. Namun, hal tersebut mendapat gelengan kepala dari Rania."Enggak apa-apa. Gue baik kok." Bersamaan dengan kalimat itu, Rania mulai merasa pandangannya semakin tidak stabil. Dia melihat semua benda bergerak, memiliki banyak bayangan. Bahkan saat dia melihat ke arah Eva, sahabatnya itu mendadak memiliki dua sampai tiga wajah.Rania menggelengkan kepal
"Ran, tuh cowok lu udah datang," senggol Eva sambil menunjukkan lirikan mata ke arah Erlan yang baru saja memasuki kelas.Langkah tegap sambil menggendong tas hitam di bahu, menunjukkan tatapan tajam penuh ambisi, membuat mereka yang melihat Erlan, merasa seperti berada di dunia lain.Rania ikut melirik suaminya sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya dengan kasar. "Apaan si? Dia bukan cowok gue," elaknya, buru-buru membuka buku pelajaran yang tergeletak di meja.'Kenapa dia baru datang?' batin Rania, saat mengingat kembali bahwa Erlan pergi ke sekolah lebih dulu, tetapi baru sampai setengah jam setelah dirinya. Eva tertawa kecil, "ah, yang benar? Kenapa ya, gue rasa, lu sama dia punya hubungan khusus gitu?"Ucapan Eva yang cukup keras, memantik perhatian Erlan yang berdiri di sana. Secara samar-samar dia mendengar obrolan Rania dan Eva. Sorot matanya langsung menukik tajam ke arah Rania. Gadis mungil itu, sempat tertunduk, sebelum dia menghela napas panjang setelah itu."Udah ah
Malam semakin larut. Namun, Rania masih terjaga. Matanya enggan terpejam, walau sudah ia usahakan, tetap saja pikirannya masih melalang buana, memikirkan banyak hal. Sementara Erlan, sudah terlelap di atas ranjang menyapa mimpi.Rania beringsut dari tempat tidur. Seperti biasa, dia tidur di lantai, sedangkan Erlan tidur di ranjang. Begitulah adanya jika tidur di kamar ini. Berbeda jika tidur di kamar Desi, sudah pasti Rania mendapatkan tempat nyaman dan hangat.Rania menatap suaminya dalam-dalam. "Di balik wajah yang tenang ini, ada sebuah rahasia yang coba disembunyikan di setiap waktu," gumamnya. "Gue selalu gagal mengenali lu. Terkadang gue mikir, lu seperti pahlawan yang datang di waktu yang tepat buat nyelametin nyawa gue, tapi dari wujud pahlawan itu, ada sosok monster yang tidak bisa gue pahami.""Kenapa gue bilang gitu? Karena, di balik kehangatan lu, yang datang buat nyelametin gue, ada sosok pemarah yang terkadang bikin gue bingung.""Sumpah, Lan. Kalau lu benci gue, terus
"Mom, hari ini Rania tidur di kamar aku. Boleh kan?" kata Erlan, mendadak. Alhasil, Desi langsung tersedak napasnya sendiri. "Apa, Sayang?"Uhukk ...Uhukk ...Dia sampai batuk-batuk kecil. Rania segera mengambil gelas berisi air putih, buru-buru memberikannya kepada Desi."Minum dulu, Mom. Pelan-pelan." Desi mengangguk, lalu menggenggam gelas itu, meneguk air putih tersebut perlahan-lahan.Erlan tampak mengerutkan keningnya, merasa heran, tetapi tidak ada yang dilakukannya selain memperhatikan saja."Mommy udah baikan?" tanya Rania memastikan."Iya, Sayang. Terima kasih." Desi menganggukan kepalanya disertai senyuman tipis, masih menyentuh dadanya yang mendadak sesak napas akibat ucapan Erlan yang seperti anak panah itu.Setelah mematikan mertuanya baik-baik saja, barulah Rania duduk kembali."Kamu ngomong apa tadi, Sayang?" tanya Desi, kepada Erlan yang tampak diam sambil menetap ke arahnya."Aku mau, Rania tidur di kamarku lagi. Kemarin dia masih sakit. Aku enggak masalah dia tidu
Di sisi berbeda, tempat terpisah. Sudah lama tidak ada kabarnya. Bagaimana kondisi Vera sekarang? Wanita licik yang menikahi pria kaya hanya demi harta semata. Dia tentu sedang menikmati harta yang seharusnya menjadi hak anak tirinya.Vera meneguk minuman dalam gelas transparan. "Ah ... Sungguh nikmat rasa minuman ini," ucapnya setelah meneguk sampai habis minuman itu.Vera yang dulu bukanlah dirinya yang sekarang. Satu tahun yang lalu, dia harus berbagi harta dengan anak tirinya dan harus bersikap baik di depan pria berstatus suami. Bersandiwara menjadi sosok panutan bagi seorang anak. Semua itu sudah hilang sepenuhnya dari kehidupan Vera. Sekarang, dia sedang menikmati kekayaan yang membuat hatinya merasa gembira."Hay, ganteng," sapa Vera dengan nada mania, kepada seorang pemuda tampan yang baru saja melewati kursinya.Seperti ada hembusan angin laut yang bertiup sepoi-sepoi, pemuda itu langsung berbalik badan, seolah-olah dia datang sebagai takdir."Halo, tampan." Vera kembali me
"Lepasin tangan lu dari Rania!" tegas Erlan, menatap tajam lawan bicaranya tanpa berkedip."Apa hak kamu, memerintahkan saya?" Jawaban Ravi tidak kalah seriusnya. Secara tidak langsung, dia enggan melepas Rania kepada pria lain.Sementara itu, Rania menatap keduanya bergantian. Apa yang harus ia perbuat sekarang? Jika memilih Erlan, bukan tidak mungkin memberi pertanyaan besar di benak Ravi? Sedangkan jika menolak Erlan, dirinya akan menjadi istri durhaka.Rania meringis, dilanda kegalauan. Dia ingin menjerit, tetapi suaranya tertahan di ujung tenggorokan.Baik Erlan maupun Ravi tidak ada yang mau mengalah. "Lepasin tangan Rania!" tegas Ravi sambil menarik Rania agar terlepas dari genggaman Erlan.Ravi merasa dirinya benar dan perlu untuk melindungi Rania sebagai tanggung jawabnya. "Apa hak lu nyuruh gue buat ngelepasin dia?" Erlan balik menantang.Ravi balik menatap tajam Erlan. "Lantas, apa hak kamu meminta Rania pergi?" Perkataannya masih batas kesopanan, tetapi bukan tidak mungk
"Siapa cewek itu, Lan? Apa gara-gara dia, sikap lu berubah?" cecar Funny, kali ini persoalannya bukan lagi soal sekolah, melainkan kehadiran orang baru dalam keluarga Erlan. Raut wajah yang Funny tunjukkan pun sedikit berbeda dari sebelumnya. Kali ini, ada sorot mata kecemburuan di dalamnya. "Kita udah kenal lama, Lan. Gue kenal betul, sifat lu. Lu yang dulu bukan seperti ini.""Gue tahu, lu tinggal bareng cewek lain. Siapa dia, Lan? Jawab gue! Gue butuh jawaban dari lu."Funny tak lagi membanggakan dirinya. Kalimatnya berisi tuntutan, tentang hubungan yang dijalani Erlan di belakangnya."Lu udah mengkhinati hubungan kita."Erlan mengangkat kepalanya. "Hubungan kata lu? Memangnya di antara kita ada hubungan apa?"Dia mengikis jarak yang tak seberapa jauh itu. Sorot matanya kini semakin tajam dari sebelumnya, seolah dia menunggu-nunggu momen ini terjadi."Katakan, Fun! Memangnya ada hubungan apa di antara kita, sampai-sampai lu ngomong kayak gitu?" cecarnya terus."Lu bilang gue meng
Erlan menghentiakkan motornya di depan sebuah gedung lantai dua, sebuah mansion mewah yang menjadi markas besar Organisasi Naga Merah. Aldo keluar dari mansion. "Akhirnya datang juga. Tadi katanya lima menit, tapi ini udah lima belas menit, dari sepakatan awal," gerutunya, sebagai sambutan hangat. Erlan turun dari motor, melepaskan helm sambil mengayunkan kakinya, melewati Aldo yang berdiri menyambutnya."Sial!" umpat Aldo kesal. Padahal sudah biasa tidak dilihat oleh Erlan, tapi tetap saja terkadang ada rasa jengkel, ingin mencubit ginjal sahabatnya itu.Aldo menyusul setelahnya. Erlan sudah berada di dalam mansion. Dia membanting helmnya ke sembarang tempat. Aldo menepuk keningnya. Bisa ia tebak, suasana hati Erlan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari caranya membanting benda."Cepat kasih tahu, hasil penyelidikan lu!" tegas Erlan sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap serius beberapa lembar foto yang tergeletak di atas mejaAldo mempercepat langkahnya. "S
"Bagaimana keadaanmu saat ini, Sayang?" tanya Desi tanpa bisa menutupi kecemasan saat mendapati Rania terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Kendati demikian, Rania sudah sadar, setelah pingsan beberapa saat lalu. Desi langsung meninggalkan pekerjaannya, pergi ke rumah sakit saat mendapat kabar bahwa Rania jatuh pingsan di tengah-tengah lapangan saat pertandingan bola voli."Aku udah baik kok, Mom," jawab Rania sedikit menunjukkan senyuman."Kamu jangan bohong. Mommy bisa lihat, wajah kamu masih pucat gitu," omel Desi lebih lanjut. "Kamu harus istirahat. Mommy enggak mau denger kata penolakan!" tegasnya kemudian sambil mengacungkan jari telunjuknya. "Mommy sudah dengar semuanya." Dia menoleh ke arah kanan, menatap Erlan yang berdiri sekitar lima meter dari ranjang tempat Rania terbaring."Erlan yang kasih kabar, kalau kamu pingsan tadi," ucap Desi lembut tanpa memalingkan pandangannya dari sang putra.Erlan melipat kedua tangannya di dada, memalingkan wajahnya, tak ingin menatap De
"Ran. Ni, minum buat lu." Leni, teman satu tim Rania, menyodorkan sebotol air putih. Sedangkan tangan satunya juga memegang botol. Rania tersenyum lembut. "Makasih, Len." Dia mengambilnya tanpa ragu."Gue ke sana dulu ya," kata Leni, setelah itu melenggang pergi. Rania mengangguk, kemudian berbalik badan, tepat saat dia berbalik, Erlan sudah berada di belakangnya."Astaghfirullah. Ngapain lu di sini? Bikin kaget aja. Gue kira hantu," umpatnya, cukup kesal. Ekspresi Erlan datar-datar sadar, malah terkesan dingin. "Jangan minum air itu," katanya sangat serius. Rania mengerutkan keningnya. "Apa?""Jangan minum air itu." Erlan mengulangi perkataannya, sambil mengambil botol itu dari tangan Rania."Hei!" Rania meninggikan suaranya, sambil merebut kembali botol itu dari tangan Erlan."Gue bilang, jangan minum air itu!" tegas Erlan satu kali lagi, sekaligus merampas botol itu dari Rania.Keduanya saling berebut Sebuh botol air mineral yang diberikan oleh Leni. "Apa hak lu, ngatur hidup