Home / Romansa / KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU / 3. SUASANA HATI YANG BURUK

Share

3. SUASANA HATI YANG BURUK

last update Last Updated: 2024-09-17 21:45:40

PLAAAKKKKKK ...

Tamparan keras mendarat di pipi Rania. Saking kencangnya, sampai meninggalkan bekas merah di sana.

Rania menyentuh pipinya yang terasa nyeri, seraya menyeringai kecil.

"Sudah, Jeng Vera, cukup. Jangan, dilanjutkan. Kasian Rania, Jeng." kata wanita itu, mencoba untuk melerai pertikaian antara Vera dan Rania. Dia merasa tidak enak hati, melihat pasangan ibu dan anak itu saling melukai.

Lagi-lagi Rania tersenyum miring. "Enggak usah masang muka polos kayak gitu, Tan. Aku udah tahu, pikiran kotor kalian. Tante, membeliku, untuk dijadikan budak di club malam kan? Iya kan, Tante?" sungutnya, memberi tuduhan yang tidak dilandasi bukti kuat.

"RANIA! CUKUP!" teriak Vera kembali.

Lama-lama dia muak dengan perkataan Rania yang kurang ajar.

"Berhenti berpikir yang bukan-bukan! Minta maaf cepat, ke Tante Desi!" Vera meninggikan suaranya.

Alih-alih menuruti perintah Vera, Rania malah menyelengos, memasang wajah tidak sedap dipandang. Setelah itu, dia lari begitu saja dari ruangan tersebut, tanpa mengatakan apa-apa.

"Rania! Kembali kamu! Dasar anak tidak tahu diuntung!" teriak Vera, sampai urat-urat lehernya menegang saking kesal dan marah kepada putri sambungnya itu.

"Sudah, Jeng. Jangan marah lagi. Biarkan Rania menenangkan dirinya dulu. Mungkin, Rania belum siap dengan perjodohan ini," kata Desi, berusaha menenangkan Vera yang emosinya sedang meluap-luap itu.

Dada Vera naik turun. Dia benar-benar malu di depan Desi, atas sikap Rania yang keras kepala itu.

"Maafin aku ya, Jeng. Kamu harus lihat kejadian kayak gini. Padahal niat kamu baik, cuma ingin menjodohkan dia dengan anakmu." Vera mulai tenang, setelah berhasil mengendalikan pikirannya, yang sempat kehilangan ketenangan itu.

"Iya, Jeng. Enggak apa-apa. Aku bisa maklumin kok. Bukan kamu aja, Jeng, yang ngadepin sikap keras kepala anak-anak. Aku pun sering berdebat dengan anakku," tutur Desi, yang juga mulai enjoy kembali, setelah sempat ikut merasakan ketegangan tadi.

Vera menarik napasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan-lahan. "Makasih ya, Jeng, atas pengertiannya. Rania memang gitu, sifat keras kepalanya susah dihilangkan. Dia juga susah diatur. Makanya, saya sering marah-marah, kalau ngomong sama dia."

Vera tidak ragu untuk mengungkapkan kelakuan Rania di hadapan Desi.

"Santai aja, Jeng. Jangan buru-buru. Aku sudah melihat Rania. Dia anak yang baik sebenarnya. Perjodohan ini tetap dilanjutkan, Jeng. Kamu tenang aja. Sekarang, kita tinggal mengatur waktu, supaya Rania bisa bertemu dengan anakku."

Perkataan Desi, membawa angin segar bagi Vera. Dia sempat cemas, Desi akan mengubah keputusannya, setelah melihat sikap tidak dewasa Rania.

"Aduh, makasih banget, Jeng Desi. Aku sebagai walinya Rania sekarang, merasa sangat senang dan bersyukur. Jeng Desi, masih mau melanjutkan perjodohan ini."

Desi mengulas senyuman kecil. "Tenang aja, Jeng. Perjodohan ini tetap dilanjutkan dan pernikahan keduanya akan tetap berjalan, sesuai yang kita sepakati bersama. Aku yakin, Rania akan menerima semua ini, cepat atau lambat."

"Amiin. Semoga aja ya, Jeng dan anakmu bisa menerima Rania."

***

Hari berikutnya. Rania pergi sekolah lebih awal dari biasanya. Bahkan dia tidak sarapan. Alasannya karena malas harus kontak mata dengan Vera.

Rania turun dari angkot. Padahal di rumahnya ada mobil serta supir. Namun, Rania enggan menikmati pasilitas tersebut, setelah Ayahnya tiada.

Vera selalu mengungkit soal gaji supir dan ART, kalau dirinya menikmati pasilitas.

Gadis beli berseragam putih abu-abu itu, lantas mengayunkan kakinya melewati gerbang, memasuki halaman sekolah.

"Woi, Rania tralalala!" panggil seseorang dari arah belakang.

Dari cara panggilan itu, Rania langsung mengenali sosok yang baru saja menyapanya.

Dia berbalik badan dan memasang wajah datar, lantaran suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja sejak kemarin.

"Apaan si? Enggak usah pake tralalala gitu. Nama gue, Rania Mikaila Putri!" tegas gadis mungil delapan belas tahun itu, sedikit protes dan kesal, sebab temannya memanggilnya dengan seenak jidat.

"Hahaha, iya, iya. Enggak usah sewot kayak gitu juga kali. Gue juga tahu, nama lu tuh, Rania Mikaila Putri."

"Nah, itu tempe," jawab Rania masih dengan nada ketus. Kemudian, dia kembali mengayunkan kakinya.

"Gue, tebak. Lu, pasti lagi bad mood ya?"

"Hooh. Biasalah. Si Nenek Sihir itu, selalu aja bikin bad mood," aku Rania dengan nada malas.

Malas berkata panjang lebar.

"Kali ini, apa lagi yang dilakuin tuh si Nenek Sihir, ke lu? Sampai-sampai mood lu kayak gini?" tanya Eva, penasaran.

Ya, gadis belia berseragam putih abu-abu dan usianya sebaya dengan Rania itu, bernama Eva Sari. Biasa dipanggil Eva.

Rania pun menghela napas panjang, "dia ngajak Tante-tante ke rumah. Terus, tuh si Tante-tante bilang. Kalau dia mau jadiin gue menantu ..."

"Lah, gue langsung marah dong. Emang dia kira gue cewek apaan, semudah itu buat dijadiin menantu? Terus gue debat, akhirnya gue kena tampar si Nenek Sihir," beber Rania diiringi helaan napas.

"Seriusan? Dia nampar lu?" Eva menghentikan langkahnya, tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

Rania mengangguk satu kali, sebelum akhirnya mengayunkan kakinya kembali.

"Wah, parah itu. Bisa kena pasal kekerasan dalam rumah tangga. Lu bisa nuntut tuh. Apa lagi, tuh Tante-tante niat buat jadiin lu menantunya. Jangan-jangan, lu udah dijual tuh sama si Nenek Sihir ke Tante-tante itu. Makanya dia bilang kayak gitu. Dih, ngeri amat ya," cerocos Eva, ke sana kemari.

"Gue yakin, si Nenek Sihir sama Tante-tante itu, udah ngerencanain sesuatu buat lu ..."

Suasana hati Rania sudah terbakar sejak kemarin, kemudian ditambah Eva menyiraminya dengan minyak tanah. Alhasil, makin menjadi-jadi luapan emosi Rania.

"Woi, Rania tralalala! Tunggu gue!"

Rania memilih untuk mengayunkan kakinya saja, dari pada harus terus-menerus mendengarkan ocehan Eva yang semakin ngawur.

TIIITTT!

Seseorang dengan sepeda motornya, tiba-tiba mengerem mendadak, tepat di depan Rania. Jaraknya hanya beberapa sentimeter saja.

"Rania awas!" teriak Eva sangat keras.

Rania terkejut bukan main. Hanya kurang beberapa detik saja, dia hampir berakhir di rumah sakit.

"Woi, bangsat! Punya mata enggak lu!" Rania yang memang sudah emosi, kini semakin menjadi-jadi.

Dia membusungkan dada serta wajahnya, saat berbicara dengan pengendara motor yang masih mengenakan helm itu.

"Lu, mau bikin gue mati ah! Dasar bangsat lu!" Selain berteriak dan memaki, Rania juga memukul body depan motor itu cukup keras.

Remaja belia yang ada di atas motor itu, lantas membuka helmnya. Dia mengibaskan rambutnya, sehingga terlihat keren di mata para cewek-cewek yang kebetulan berada di area tersebut.

"Ran, liat deh. Ganteng banget dia," bisik Eva sambil bergelayut di tangan Rania.

"Apaan si, enggak usah lebay deh!" Rania mendorong Eva, sehingga temannya itu tidak lagi menempel seperti anak monyet.

"Dih, jangan marah gitu. Kenyataannya dia emang ganteng banget, Ran. Masa si, lu enggak bisa lihat?"

"Enggak!" tegas Rania, tidak bisa diganggu gugat.

"Tadi lu bilang apa? Gue, mau bikin lu mati?" Pemuda itu akhirnya angkat bicara. Dia menanyai Rania, yang sempat marah-marah tadi.

"Hooh! Kan emang benar. Lu pengen gue mati di sini!" sungut Rania seraya berkacak pinggang.

Remaja ganteng yang belum diketahui namanya itu, menyelengos. Sorot matanya terlihat jeles dan menganggap perkataan lawan bicaranya hanyalah bualan semata.

"Alah ... Engga usah lebay lah. Lu sendiri yang jalan enggak pake mata. Udah, tahu gue mau lewat sini, masih aja lu jalan. Dalam hal ini, bukan gue salah. Sudah jelas, lu yang salah!" tegas pemuda itu, membela dirinya sendiri.

Tentu ia mengelak dan tidak mau disalahkan

Rania semakin murka. Wajahnya yang semula merah padam, kini menjadi kelabu. Dia mengepalkan kedua tangannya, sangat-sangat marah.

BRUK!

Rania mendorong helm itu, sehingga jatuh berguling-guling di tanah.

"Woi! Lu punya masalah apa si sama gue, ah?" teriaknya sewot.

Rania menjulurkan lidahnya, balik meledek remaja belia itu. Setelahnya, Rania melenggang pergi.

"Woi, cewek aneh! Minta maaf enggak lu!" Pemuda itu kembali berteriak. Namun, Rania tidak menggubrisnya.

Dia hanya menoleh, sebelum akhirnya kembali berjalan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Noor Sukabumi
heheheee kyknya ini nih calon suami dingin bak es kutub ......
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    4. PERTEMUAN DENGAN CALON SUAMI?

    Di dalam kelas 12 A."Ran, cowok tadi kayaknya anak baru deh. Soalnya dari seragam sekolahnya itu loh, beda sama seragam sekolah kita," bisik Eva pada teman sebangkunya, yang tidak lain adalah Rania."Terus, gue harus bilang wow gitu?" jawab Rania dengan tatapan malas.Eva menyunggingkan bibir bagian atasnya. "Teriak aja sekalian, Ran. Gue ikhlas. Enggak bakalan gue cegah lu, seandainya lu suka sama tuh cowok," celetuknya mencoba menghibur Rania supaya tidak jeles.Alih-alih mengubah suasana hati temannya, Rania malah semakin ngamuk. Dia menjatuhkan tatapan horor, yang mengerikan."Dih, najis! Ogah, gue suka sama cowok kayak dia. Berandalan kayak gitu. Malas banget gue. Mending gue jomblo seumur hidup, dari pada harus suka sama dia. Ih ...""Hust, jangan ngomong kayak gitu, Ran. Entar, Tuhan, denger doa lu gimana? Bukannya jomblo seumur hidup, lu malah nikah sama tuh cowok, terus bucin akut. Gimana, Ran?"Eva mencoba menakut-nakuti. Namun, Rania tidak semudah itu terhasut dengan ucap

    Last Updated : 2024-09-17
  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    5. KEPUTUSAN DESI

    "Jadi, kalian sudah saling kenal?" tanya Desi sambil menatap bergantian Erlan dan Rania."Bukan kenal lagi, tapi sangat kenal, Mom. Dia itu, cewek ngeselin di sekolah," adu Erlan seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menatap sinis Rania."Maksudnya ngeselin apa, Sayang? Mommy enggak paham deh." Desi begitu penasaran dengan arti ucapan Erlan. Ditatapnya dua remaja belia yang usianya tidak terpaut jauh itu."Dia hampir nabrak aku, Tan," timpal Rania cepat, sebelum Erlan sempat menjawab pertanyaan Desi. Dia sedikit mengangkat bahunya, menunjukkan kesan tantangan kepada Erlan secara terbuka."Apa?" Desi cukup terkejut mendengar pengakuan Rania."Woi, cewek ngeselin. Mana ada seperti itu. Lu nya aja yang jalan enggak pake mata," tunjuk Erlan dengan nada kesal dan kasar."Erlan! Jaga bicaramu!" bentak Desi sedikit keras."Apa, Mom? Aku enggak salah, dia yang salah! Udah tahu, ada motor mau lewat, tetap aja dia jalan!" Erlan meninggikan suaranya, membela dirinya di hadap

    Last Updated : 2024-09-27
  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    6. SETELAH RESMI

    SATU BULAN KEMUDIAN.Erlan dan Rania pun telah resmi menikah. Namun, pernikahan tersebut dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dihadiri dua keluarga inti serta Ketua KUA saja. Hal itu dilakukan semata-mata agar pihak luar tidak mengetahui pernikahan tersebut, terutama dari pihak sekolah dan teman-teman Rania maupun Erlan.."Lu tidur di lantai, gue tidur di kasur!" tegas Erlan dengan tatapan serius. Rania menganga, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Lu tenang aja. Gue punya kasur cadangan di lemari. Pake aja tuh, biar lu enggak kedinginan," sambung Erlan masih dengan gaya arogannya. Kendati demikian dari kalimat yang digunakan, ada makna perhatian di baliknya. Rania menghela napas panjang, sebelum akhirnya dia mengangguk pelan.Kamar ini telah dihias selayaknya taman. Ada kelopak bunga mawar menghiasi lantai serta tempat tidur. Kata orang, ini adalah malam pertama, malam yang sangat indah bagi sepasang pengantin baru. Namun, bagi Rania, ini adalah malam yang menjadi awal

    Last Updated : 2024-09-27
  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    7. ERLAN IDOLA DI KELAS

    Hari berikutnya. Rania pun telah sampai di sekolah lebih dulu. Sedangkan Erlan beberapa menit setelahnya. Keduanya datang dengan kendaraan berbeda. Rania turun dari angkutan umum, sedangkan Erlan dengan motornya. Ketika berpapasan pun, baik Rania maupan Erlan sama-sama bersikap seolah tidak saling melihat. Keduanya sudah sama-sama sepakat, untuk tidak saling menyapa, meskipun status yang dijalani sekarang telah sah menjadi suami istri."Rania tralalala!" Rania menghentikan langkahnya. Suara serta panggilan itu, sangat ia kenali. Ya, siapa lagi kalau bukan Eva. "Gue udah bilang. Jangan panggil gue dengan sebutan Rania tralalala," dengusnya kesal.Rania kembali mengayunkan kakinya. Mengabaikan Eva yang mengekor di belakangnya Sementara itu, Erlan telah memarkirkan motornya di temlat seharusnya. Kedua matanya sempat menangkap pergerakan Rania di sana."Erlannn!!!" Dua gadis centil menghampiri Erlan yang baru saja melepaskan helmnya.Remaja tampan yang selalu bersikap dingin itu, men

    Last Updated : 2024-09-28
  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    8. KESENANGAN RANIA

    JAM KEDUA PELAJAR."Lan, lu mau kemana?" tanya Andri, salah satu murid kelas 12 A, menegur Erlan yang berjalan berlawanan arah.Erlan menoleh."Lu enggak mau ke lapangan? Ada pertandingan voli tuh, kelas kita lawan kelas sebelah." Andri menjelaskan dengan antusias.Erlan tidak berkomentar."Udah, enggak usah banyak mikir!" Andri langsung saja menarik tangan Erlan, mengajaknya untuk pergi ke lapangan, tempat para murid berkumpul untuk menyaksikan pertandingan bola voli, kelas A melawan kelas B.Erlan tidak menolak. Namun, dia cukup kesal lantaran orang lain menyentuh tangannya seenak jidat."Lu harus lihat pertandingan ini. Kelas kita enggak pernah kalah dari kelas manapun," kata Andri begitu semangat."Rania paling jago di kelas kita," tambahnya terdengar begitu membanggakan Rania, yang tidak lain adalah istrinya Erlan. Mendengar nama Rania disebut, Erlan pun langsung menarik tangannya. Andri cukup terkejut. "Kenapa, Lan" tanya Andri penasaran."Gue enggak suka voli." Erlan berkata

    Last Updated : 2024-09-29
  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    9. KE BIOSKOP

    "Mau pergi kemana, Sayang?" tegur Desi, ketika melihat Rania menuruni anak-anak tangga. Terlihat penampilan Rania begitu rapih dan berdandan cantik.Biasanya Rania hanya berdandan biasa, polesan make up tipis-tipis saja. Malam ini, sepertinya ada hal spesial. "Itu, Tan ... Aku mau pergi sama teman," jawab Rania beralasan."Kok masih panggil Tante si? Panggil Mommy dong. Sekarang kan, kamu udah jadi anak Mommy." Desi memprotes sikap Rania yang menurutnya masih saja formal dan kaku."Heum ... I-ya, Mommy, maaf."Rania mengangguk dan canggung, merasa kikuk karena sebenarnya dia belum terbiasa menggigil Desi dengan sebutan 'Mommy," sebagaimana seharusnya. "Iya, Sayang. Enggak apa-apa. Jangan diulangi ya. Kamu harus sudah terbiasa, dengan panggilan itu. Sekarang kan kita sudah berkeluarga. Anggap saja, Mommy adalah Ibu kandung kamu."Desi meraih kedua tangan Rania, menggenggamnya erat dan tersenyum hangat."Iya, Mommy."Lagi-lagi Rania hanya bisa tersenyum canggung. Sungguh keadaan yang

    Last Updated : 2024-09-29
  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    10. BALAPAN

    "Woi, Bro!" teriak seseorang dari kejauhan, sambil melambaikan tangan.Erlan yang baru memasuki tempat hiburan malam itu, lantas menghampiri rekannya yang ada di sana."Gimana kabar lu?" tanya Aldo, sambil melakukan tos persahabatan, yang biasa dilakukannya bersama Erlan.Biasa lah, anak muda. ABG zaman sekarang. "Enggak ada baik-baiknya kabar gue," jawab Erlan sedikit malas. Dia lantas duduk di sofa, menyandarkan punggungnya ke titik ternyaman. Kepalanya mendongak, pikirannya kacau balau. Hari-harinya semakin ruwet, dengan kehadiran Rania. Semakin membuatnya tidak betah berada di rumah. "Iya, kah? Apa nyokap lu maksa buat ngelakuin sesuatu lagi?" tanya Aldo penasaran seraya duduk menemani rekannya yang sedang gundah gulana itu."Hooh. Pusing kepala gue, pengen pecah rasanya." Erlan tidak menutupi kekesalannya. Kendati demikian , dia tidak akan mau membahas soal Rania di depan Aldo. Bisa kacau semua rahasianya.Aldo mengelus dagunya, sedang memikirkan sebuah rencana yang mampu meng

    Last Updated : 2024-10-17
  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    11. CINTA DESI

    "Kamu ada di sini, Rania? Saya sangat cemas mencari kamu kemana-mana." Rania tergagap, ketika pria yang mengajaknya untuk nonton di bioskop, tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya sekarang."Ah, heum iya Pak Ravi. Maafkan aku karena pergi tanpa memberitahu Anda," ungkap Rania sedikit gugup. Wajahnya terlihat pucat dan berkeringat. Ravi sedikit menerka situasi yang sedang Rania alami. Kendati demikian, dia tidak mau asal berucap. Rania tertunduk, merasa bersalah, tapi hatinya sedang dongkol karena ulah suaminya yang pergi begitu saja tanpa meminta maaf. "Apa ada sesuatu yang terjadi? Apa kau baik, Rania?" tanya Ravi kembali. Gadis mungil itu mengangkat kepalanya, "bukan apa-apa, Pak. Mendadak kepikiran almarhum Ayah. Kalau gitu, aku pulang duluan ya Pak Ravi. Maaf sudah membuat Anda cemas."Rania sedikit menunduk disertai senyuman kecil yang terkesan terpaksa, setelahnya dia melenggang pergi tanpa menoleh lagi. Ravi hendak mengejarnya. Namun, kedua kakinya tidak mampu untuk melangka

    Last Updated : 2024-10-18

Latest chapter

  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    ERLAN & RANIA [35]

    "Ran, tuh cowok lu udah datang," senggol Eva sambil menunjukkan lirikan mata ke arah Erlan yang baru saja memasuki kelas.Langkah tegap sambil menggendong tas hitam di bahu, menunjukkan tatapan tajam penuh ambisi, membuat mereka yang melihat Erlan, merasa seperti berada di dunia lain.Rania ikut melirik suaminya sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya dengan kasar. "Apaan si? Dia bukan cowok gue," elaknya, buru-buru membuka buku pelajaran yang tergeletak di meja.'Kenapa dia baru datang?' batin Rania, saat mengingat kembali bahwa Erlan pergi ke sekolah lebih dulu, tetapi baru sampai setengah jam setelah dirinya. Eva tertawa kecil, "ah, yang benar? Kenapa ya, gue rasa, lu sama dia punya hubungan khusus gitu?"Ucapan Eva yang cukup keras, memantik perhatian Erlan yang berdiri di sana. Secara samar-samar dia mendengar obrolan Rania dan Eva. Sorot matanya langsung menukik tajam ke arah Rania. Gadis mungil itu, sempat tertunduk, sebelum dia menghela napas panjang setelah itu."Udah ah

  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    ERLAN & RANIA [34]

    Malam semakin larut. Namun, Rania masih terjaga. Matanya enggan terpejam, walau sudah ia usahakan, tetap saja pikirannya masih melalang buana, memikirkan banyak hal. Sementara Erlan, sudah terlelap di atas ranjang menyapa mimpi.Rania beringsut dari tempat tidur. Seperti biasa, dia tidur di lantai, sedangkan Erlan tidur di ranjang. Begitulah adanya jika tidur di kamar ini. Berbeda jika tidur di kamar Desi, sudah pasti Rania mendapatkan tempat nyaman dan hangat.Rania menatap suaminya dalam-dalam. "Di balik wajah yang tenang ini, ada sebuah rahasia yang coba disembunyikan di setiap waktu," gumamnya. "Gue selalu gagal mengenali lu. Terkadang gue mikir, lu seperti pahlawan yang datang di waktu yang tepat buat nyelametin nyawa gue, tapi dari wujud pahlawan itu, ada sosok monster yang tidak bisa gue pahami.""Kenapa gue bilang gitu? Karena, di balik kehangatan lu, yang datang buat nyelametin gue, ada sosok pemarah yang terkadang bikin gue bingung.""Sumpah, Lan. Kalau lu benci gue, terus

  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    ERLAN & RANIA [33]

    "Mom, hari ini Rania tidur di kamar aku. Boleh kan?" kata Erlan, mendadak. Alhasil, Desi langsung tersedak napasnya sendiri. "Apa, Sayang?"Uhukk ...Uhukk ...Dia sampai batuk-batuk kecil. Rania segera mengambil gelas berisi air putih, buru-buru memberikannya kepada Desi."Minum dulu, Mom. Pelan-pelan." Desi mengangguk, lalu menggenggam gelas itu, meneguk air putih tersebut perlahan-lahan.Erlan tampak mengerutkan keningnya, merasa heran, tetapi tidak ada yang dilakukannya selain memperhatikan saja."Mommy udah baikan?" tanya Rania memastikan."Iya, Sayang. Terima kasih." Desi menganggukan kepalanya disertai senyuman tipis, masih menyentuh dadanya yang mendadak sesak napas akibat ucapan Erlan yang seperti anak panah itu.Setelah mematikan mertuanya baik-baik saja, barulah Rania duduk kembali."Kamu ngomong apa tadi, Sayang?" tanya Desi, kepada Erlan yang tampak diam sambil menetap ke arahnya."Aku mau, Rania tidur di kamarku lagi. Kemarin dia masih sakit. Aku enggak masalah dia tidu

  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    ERLAN & RANIA [32]

    Di sisi berbeda, tempat terpisah. Sudah lama tidak ada kabarnya. Bagaimana kondisi Vera sekarang? Wanita licik yang menikahi pria kaya hanya demi harta semata. Dia tentu sedang menikmati harta yang seharusnya menjadi hak anak tirinya.Vera meneguk minuman dalam gelas transparan. "Ah ... Sungguh nikmat rasa minuman ini," ucapnya setelah meneguk sampai habis minuman itu.Vera yang dulu bukanlah dirinya yang sekarang. Satu tahun yang lalu, dia harus berbagi harta dengan anak tirinya dan harus bersikap baik di depan pria berstatus suami. Bersandiwara menjadi sosok panutan bagi seorang anak. Semua itu sudah hilang sepenuhnya dari kehidupan Vera. Sekarang, dia sedang menikmati kekayaan yang membuat hatinya merasa gembira."Hay, ganteng," sapa Vera dengan nada mania, kepada seorang pemuda tampan yang baru saja melewati kursinya.Seperti ada hembusan angin laut yang bertiup sepoi-sepoi, pemuda itu langsung berbalik badan, seolah-olah dia datang sebagai takdir."Halo, tampan." Vera kembali me

  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    ERLAN & RANIA [31]

    "Lepasin tangan lu dari Rania!" tegas Erlan, menatap tajam lawan bicaranya tanpa berkedip."Apa hak kamu, memerintahkan saya?" Jawaban Ravi tidak kalah seriusnya. Secara tidak langsung, dia enggan melepas Rania kepada pria lain.Sementara itu, Rania menatap keduanya bergantian. Apa yang harus ia perbuat sekarang? Jika memilih Erlan, bukan tidak mungkin memberi pertanyaan besar di benak Ravi? Sedangkan jika menolak Erlan, dirinya akan menjadi istri durhaka.Rania meringis, dilanda kegalauan. Dia ingin menjerit, tetapi suaranya tertahan di ujung tenggorokan.Baik Erlan maupun Ravi tidak ada yang mau mengalah. "Lepasin tangan Rania!" tegas Ravi sambil menarik Rania agar terlepas dari genggaman Erlan.Ravi merasa dirinya benar dan perlu untuk melindungi Rania sebagai tanggung jawabnya. "Apa hak lu nyuruh gue buat ngelepasin dia?" Erlan balik menantang.Ravi balik menatap tajam Erlan. "Lantas, apa hak kamu meminta Rania pergi?" Perkataannya masih batas kesopanan, tetapi bukan tidak mungk

  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    ERLAN & RANIA [30]

    "Siapa cewek itu, Lan? Apa gara-gara dia, sikap lu berubah?" cecar Funny, kali ini persoalannya bukan lagi soal sekolah, melainkan kehadiran orang baru dalam keluarga Erlan. Raut wajah yang Funny tunjukkan pun sedikit berbeda dari sebelumnya. Kali ini, ada sorot mata kecemburuan di dalamnya. "Kita udah kenal lama, Lan. Gue kenal betul, sifat lu. Lu yang dulu bukan seperti ini.""Gue tahu, lu tinggal bareng cewek lain. Siapa dia, Lan? Jawab gue! Gue butuh jawaban dari lu."Funny tak lagi membanggakan dirinya. Kalimatnya berisi tuntutan, tentang hubungan yang dijalani Erlan di belakangnya."Lu udah mengkhinati hubungan kita."Erlan mengangkat kepalanya. "Hubungan kata lu? Memangnya di antara kita ada hubungan apa?"Dia mengikis jarak yang tak seberapa jauh itu. Sorot matanya kini semakin tajam dari sebelumnya, seolah dia menunggu-nunggu momen ini terjadi."Katakan, Fun! Memangnya ada hubungan apa di antara kita, sampai-sampai lu ngomong kayak gitu?" cecarnya terus."Lu bilang gue meng

  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    ERLAN & RANIA [29]

    Erlan menghentiakkan motornya di depan sebuah gedung lantai dua, sebuah mansion mewah yang menjadi markas besar Organisasi Naga Merah. Aldo keluar dari mansion. "Akhirnya datang juga. Tadi katanya lima menit, tapi ini udah lima belas menit, dari sepakatan awal," gerutunya, sebagai sambutan hangat. Erlan turun dari motor, melepaskan helm sambil mengayunkan kakinya, melewati Aldo yang berdiri menyambutnya."Sial!" umpat Aldo kesal. Padahal sudah biasa tidak dilihat oleh Erlan, tapi tetap saja terkadang ada rasa jengkel, ingin mencubit ginjal sahabatnya itu.Aldo menyusul setelahnya. Erlan sudah berada di dalam mansion. Dia membanting helmnya ke sembarang tempat. Aldo menepuk keningnya. Bisa ia tebak, suasana hati Erlan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari caranya membanting benda."Cepat kasih tahu, hasil penyelidikan lu!" tegas Erlan sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap serius beberapa lembar foto yang tergeletak di atas mejaAldo mempercepat langkahnya. "S

  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    ERLAN & RANIA [28]

    "Bagaimana keadaanmu saat ini, Sayang?" tanya Desi tanpa bisa menutupi kecemasan saat mendapati Rania terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Kendati demikian, Rania sudah sadar, setelah pingsan beberapa saat lalu. Desi langsung meninggalkan pekerjaannya, pergi ke rumah sakit saat mendapat kabar bahwa Rania jatuh pingsan di tengah-tengah lapangan saat pertandingan bola voli."Aku udah baik kok, Mom," jawab Rania sedikit menunjukkan senyuman."Kamu jangan bohong. Mommy bisa lihat, wajah kamu masih pucat gitu," omel Desi lebih lanjut. "Kamu harus istirahat. Mommy enggak mau denger kata penolakan!" tegasnya kemudian sambil mengacungkan jari telunjuknya. "Mommy sudah dengar semuanya." Dia menoleh ke arah kanan, menatap Erlan yang berdiri sekitar lima meter dari ranjang tempat Rania terbaring."Erlan yang kasih kabar, kalau kamu pingsan tadi," ucap Desi lembut tanpa memalingkan pandangannya dari sang putra.Erlan melipat kedua tangannya di dada, memalingkan wajahnya, tak ingin menatap De

  • KETUA OSIS DINGIN ITU, SUAMIKU    ERLAN & RANIA [27]

    "Ran. Ni, minum buat lu." Leni, teman satu tim Rania, menyodorkan sebotol air putih. Sedangkan tangan satunya juga memegang botol. Rania tersenyum lembut. "Makasih, Len." Dia mengambilnya tanpa ragu."Gue ke sana dulu ya," kata Leni, setelah itu melenggang pergi. Rania mengangguk, kemudian berbalik badan, tepat saat dia berbalik, Erlan sudah berada di belakangnya."Astaghfirullah. Ngapain lu di sini? Bikin kaget aja. Gue kira hantu," umpatnya, cukup kesal. Ekspresi Erlan datar-datar sadar, malah terkesan dingin. "Jangan minum air itu," katanya sangat serius. Rania mengerutkan keningnya. "Apa?""Jangan minum air itu." Erlan mengulangi perkataannya, sambil mengambil botol itu dari tangan Rania."Hei!" Rania meninggikan suaranya, sambil merebut kembali botol itu dari tangan Erlan."Gue bilang, jangan minum air itu!" tegas Erlan satu kali lagi, sekaligus merampas botol itu dari Rania.Keduanya saling berebut Sebuh botol air mineral yang diberikan oleh Leni. "Apa hak lu, ngatur hidup

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status