Kerumunan manusia pada masa pandemi Covid-19 yang ditafsir sebagai neraka. Situasi dan orang lain dialami secara tak sadar sebagai neraka. Pergulatan hidup yang dialami oleh Mudra dan Vanua di Desa berada dalam situasi cinta yang absurd. Diselingi pembelajaran meditasi dan kartu Tarot yang membuat mereka menembus "alam lain". Alam mimpi dalam mimpi. Bermimpi dalam mimpi. Permainan kartu tarot menuntun mereka berpetualang dan kembali dari masa depan. Masa lalu dan masa depan meluruh dalam masa sekarang (here and now). Ya! Kerumunan adalah Neraka. Kesendirian adalah surga tanpa nama.
View MoreVanua berdiri di depan rumah bambunya, menatap desanya yang dahulu hangat dan damai, kini dicengkeram kecemasan. Misteri kehadiran Raja Batu, bencana alam yang merusak ladang, dan wabah penyakit yang merenggut nyawa, telah menebar ketakutan di hati warga.Mereka bergegas menuju balai desa, tempat para tetua berkumpul. Bu Ros, kepala desa Kampung Tujuh yang bijaksana, berdiri di tengah ruangan, matanya memancarkan keprihatinan yang mendalam."Vanua, Mudra, Sari, kami sangat membutuhkan bantuan kalian," kata Bu Ros dengan suara berat. "Tanah ini rusak, panen gagal, dan penyakit ini merenggut nyawa. Apa yang bisa kita lakukan?"Sari melangkah maju, sorot matanya tajam namun penuh kelembutan, mengingat kebijaksanaan Ibu Bumi yang selalu diresapnya. "Kita harus melakukan ritual penyatuan," katanya dengan suara mantap. "Kekuatan spiritual dan duniawi harus bersatu. Kita harus memanggil kembali keseimbangan alam yang telah terganggu." Bu Nita, seorang tetua yang dihormati dan diakui kearif
Kabut tipis menyelimuti Desa Gayam, menyembunyikan sebagian rumah dan jalan setapak. Mudra duduk di beranda rumahnya, rambutnya sedikit berantakan, matanya menatap kosong ke arah kabut. Pikirannya melayang.Di dalam rumah Mudra, Vanua masih tertidur lelap di kasur yang beraroma tubuh romantik. Wajahnya yang damai kontras dengan kegelisahan yang Mudra rasakan. Ia ingin segera memulai sesuatu, tapi tidak tahu dari mana. Mudra berdiri, memutuskan untuk mencari ketenangan di petilasan desa, tempat yang sering dikunjungi para leluhur untuk bermeditasi. Ia percaya, di sana ia bisa menemukan jawaban atas kegelisahannya.Saat tiba di petilasan, Mudra melihat Sari duduk di bawah pohon beringin besar, matanya terpejam, tangannya memegang sebuah buku kuno. Sari sering mengunjungi petilasan, mencari inspirasi dan pengetahuan dari para leluhur. Mudra mendekat perlahan, tidak ingin mengganggu konsentrasi Sari.Sari membuka matanya dan tersenyum lembut. "Mudra, aku tahu kau akan datang," ujarnya pel
Sari bukan sekadar perempuan desa biasa. Ia adalah pegiat literasi dan penjaga Keris Pasopati, pusaka leluhur yang diwariskan turun-temurun dalam keluarganya. Keris itu berbentuk lurus, dengan pamor Adeg, dan diyakini memiliki kekuatan magis untuk menghalau masalah gangguan dari makhluk halus dan membuka jalan keberuntungan material. Di matanya, terpancar keteguhan seorang pemimpin, namun di balik itu, tersimpan kerinduan mendalam akan sosok ibu yang telah tiada. Ia merindukan kehangatan, nasihat, dan senyuman yang selalu menjadi sumber kekuatannya.Sari mengagumi Mudra, bukan hanya karena keberaniannya, tetapi juga karena aura misterius yang terpancar darinya. Ia merasakan getaran aneh setiap kali Mudra tersenyum, senyum yang membuatnya tersipu dan jantungnya berdebar tak menentu. Mudra bukan hanya pemimpin, tapi juga sosok yang membuatnya merasa rapuh dan terlindungi di saat bersamaan.Di saat Desa dilanda krisis pangan pada masa pandemi Covid-19, kepemimpinan Sari diuji. Ia mengorg
Pinggiran hutan barat yang keramat diselimuti kabut purba, seperti kain kafan yang menyembunyikan rahasia. Dinginnya udara mencengkeram kulit Mudra, namun nyala api tekadnya membakar hangat di dalam jiwa."Kita merasakan tarikan aneh ini," kata Mudra.Vanua mengangguk. "Bisikan sunyi membawa kita ke sini.""Lihat," Mudra menunjuk ke depan. "Kanopi bambu itu...""Seperti pilar kuil purba," Vanua menyelesaikan kalimatnya."Dan lihat sosok itu," Mudra menunjuk Penyihir Tarot. "Jubahnya...""Merah dan kuning," kata Vanua. "Seperti matahari terbit.""Pentagram di lehernya," Mudra mengamati. "Simbol perlindungan.""Dan kekuatan spiritual," tambah Vanua."Simbol-simbol di kainnya..." Mudra menatap detail jubah sang penyihir."Seperti peta dimensi lain," Vanua berbisik."Gapura mawar merah itu..." Mudra menunjuk ke arah belakang penyihir."Harmoni antara manusia dan alam," kata Vanua."Peran kita..." Mudra menatap Vanua."Jembatan antara dunia nyata dan gaib," kata Vanua, menyadari apa yang di
Pagi itu, Mudra terbangun dengan perasaan aneh, seolah semalam ia melayang di angkasa. Kalimat aneh berputar di kepalanya: "Kamu percaya hari ini jam 6 sore di permukaan bulan?" Ponselnya bergetar, pesan dari Vanua: "Hari ini jadwalku bersua denganmu. Aku sedang menuju Desa Gayam, perjalanan dari Kampung Tujuh Yogyakarta." Mudra tersenyum, membayangkan pertemuan lanjutan ini "Kita akan bertemu secepatnya, Vanua," balasnya, mengetik pesan di layar ponsel.Mudra, sambil menatap buku agenda usang, merenungkan pertemuannya dengan Vanua. Ia ingat surat elektronik Vanua, surat yang penuh kecemasan tentang pagebluk, tentang kerumunan yang dibubarkan dengan paksa, tentang kematian yang berbau alkohol vodka di Kampung Tujuh. Ia merasa ada kesamaan di antara mereka, sama-sama mencari makna di tengah kekacauan yang melanda Desa-desa.Di kafe ujung jalan Desa Gayam, hujan turun dengan deras. Mudra, dengan motor mahalnya, melaju menerjang hujan. Ia ingin mentraktir Vanua, sebagai upaya untuk mem
Senja melukis langit Desa Gayam dengan warna keemasan, namun Mudra tak lagi peduli keindahannya. Kerumunan penunggak dana bergulir berputar-putar di kepalanya. Nyeri di ulu hati pun lebih mendominasi, hasil dari macetnya perputaran dana bergulir BUM Desa. Rontek, salah satu penunggak pembayaran dana bergulir, menjadi duri dalam daging karena ilmu kebalnya membuat Rontek tak mudah untuk ditagih."Aku harus menagihnya," gumam Mudra, menatap wajah Bu Raisa yang penuh kekhawatiran. "Tapi wajahnya itu, Bu. Seperti matahari saat pinjam uang, seperti kelinci saat ditagih. Terakhir, aku disambut parang.""Jangan bercanda, Mudra!" seru Bu Raisa, memasuki ruang kerja BUM Desa. "Rontek itu sakti. Orang-orang bilang dia bersemadi di mata air purba.""Mungkin aku harus ikut bersemadi," jawab Mudra, melirik ke arah mata air purba yang sepi. "Siapa tahu Rontek mau bayar."Mudra memulai latihannya, bukan di matras mewah, tetapi di kasur usang. Ia menyadari napas, menerima pikiran yang melompat-lompat
Vanua berjalan kaki, matahari belum lagi menyentuh puncak-puncak bukit. Perjalanan menuju Kampung Tujuh adalah ziarah sunyi, napasnya beradu dengan kabut pagi yang menggantung di lembah. Ia telah meninggalkan kota belasan tahun lalu, memilih untuk hidup sementara di Kampung Tujuh, mencari ruang di mana dinding-dinding beton tak lagi mencekik dan kesunyian bukan lagi penjara. Saat kaki menyentuh bumi Kampung Tujuh, perjalanan batin Vanua berubah arah. Lembaran kitab eksistensialisme Sartre yang dulu dihayatinya, kini pudar oleh kenangan dupa dan makam keramat. Rahasia yang disimpannya, sebuah kemampuan tersembunyi, menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, yang tak boleh dilihat oleh Mudra.Kampung Tujuh, dengan tujuh kepala keluarga yang menghuni, adalah tempat Vanua menemukan kedamaian pada masa belia. Rumah bambu yang telah dibangunnya, berjarak tujuh meter dari kompleks makam Kampung Tujuh, telah menjadi saksi bisu dari pergulatan batinnya. Di sana, di antara rimbun akasia
Senja merayap turun di Desa Gayam, membawa serta keheningan yang menyesakkan, seolah-olah seluruh desa menahan napas. Sari duduk di beranda rumahnya yang sederhana, memeluk erat buku Sadajiwa, kitab kuno yang menyimpan rahasia leluhur. Di atas meja kayu di hadapannya tergeletak Keris Pasopati, warisan pusaka yang kini terasa begitu berat di tangannya. Cahaya senja yang memudar memantulkan kilatan samar di bilah keris itu, seakan mengingatkannya akan beban yang kini ia pikul.Bukan hanya cerita tentang Mudra dan Vanua yang memenuhi benaknya, atau kisah tentang perjuangan dan perbedaan pandangan mereka yang kini mulai mereda. Malam ini, pikirannya dipenuhi oleh gambaran dari petilasan Ni Grenjeng. Batas antara dunia nyata dan dunia gaib terasa begitu tipis. Bisikan-bisikan halus dari mata air purba, bayangan dedemit yang menari-nari di antara pepohonan tua—semuanya terasa nyata, begitu dekat, seolah-olah baru saja terjadi di hadapannya.“Mereka bukan sekadar makhluk mitos,” bisiknya, sua
Setelah meninggalkan Desa Gayam, Vanua terombang-ambing dalam kesendirian yang menyesakkan. Dia mengembara tanpa tujuan yang jelas, mencari tempat di mana ia bisa merasa bebas dari tatapan dan penilaian orang lain, tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus merasa tercekik oleh ekspektasi dan norma sosial. Namun, semakin jauh ia pergi, semakin ia merasa terisolasi dan hampa.Di tengah kesendiriannya, ia merenungkan kembali kata-kata Mudra tentang kebebasan, tanggung jawab, dan hubungan antar manusia. Ia mulai bertanya-tanya apakah ia telah salah selama ini. Apakah "neraka" yang selama ini ia ciptakan dalam pikirannya hanyalah proyeksi dari ketakutannya sendiri, dari trauma masa lalunya, dari luka yang belum sembuh?Vanua termenung, pandangannya kosong menatap api unggun yang redup. Dalam benaknya, kenangan tentang Desa Gayam perlahan-lahan menyeruak, bagaikan kepingan-kepingan mozaik yang mulai tersusun kembali. Dia teringat akan momen-momen kebersamaan yang dulu ia aba
Perempuan berumur tiga puluh lima tahun itu berjalan pelan di depan Balai Desa Gayam. Ia seorang pegiat literasi yang menerima kuasa untuk memegang keris Desa Gayam berjuluk Pasopati.Sejak pagi hingga senja ia menatap benda purbakala itu untuk menemukan kedamaian dalam diri. Tak ada guna mengharap kedamaian di luar dirinya.Dan malam itu ia meninggalkan Balai Desa dengan rasa galau tak berujung. Sambil mengapit buku kumpulan cerita, Sadajiwa. Bibirnya komat-kamit membaca kalimat pada sampul buku tipis berwarna hitam itu: “karena hidup adalah keindahan imajinasi, sedangkan kematian adalah kenyataan yang nestapa.” Anak lelaki semata wayangnya baru kembali dari kota. Anak muda yang kalah dari pertempuran nafkah ojek online. Di rumah kos anaknya sudah ada orang tua yang tetiba sesak napas, mati, terbujur kaku dan akhirnya dikubur dengan protokol kafan plastik.Jarak antara ia dan anaknya hanya satu meter, tanpa pelukan. Terhijab oleh benda laknat bernama plastik isolasi.Jeritan mengge...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments