Home / Fantasi / KERUMUNAN ADALAH NERAKA / BAB 3 MUDRA, PENJAGA HARAPAN

Share

BAB 3 MUDRA, PENJAGA HARAPAN

Author: ANOMOV
last update Last Updated: 2024-03-20 05:21:16

Mudra lahir dan besar di Desa Gayam, menyerap setiap nilai dan tradisi yang diwariskan oleh leluhur. Desa ini bukan sekadar tempat tinggal baginya, melainkan bagian dari jiwanya. Setiap jalan setapak, setiap rumah, dan setiap wajah warga desa memiliki makna yang mendalam baginya. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa gotong royong adalah napas kehidupan desa, perekat yang menyatukan mereka dalam suka maupun duka.

Mudra dikenal sebagai pemuda yang bijaksana dan penuh semangat. Ia tak hanya berpartisipasi dalam kegiatan desa, tetapi juga berusaha menjaga semangat kebersamaan. Baginya, kebahagiaan sejati adalah melihat senyum di wajah sesama. Ia percaya bahwa desa bukan sekadar kumpulan rumah dan ladang, melainkan sebuah komunitas yang saling mendukung. Satu orang jatuh, yang lain akan membantu bangkit.

Namun, pandemi COVID-19 telah mengubah segalanya. Desa Gayam yang dulu damai dan penuh kehangatan kini sunyi dan mencekam. Ketakutan merayap masuk ke setiap sudut desa, perlahan menggerogoti kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan mereka. Warga yang dulu saling menyapa kini menjaga jarak, bahkan enggan menatap mata satu sama lain. Gotong royong yang menjadi ciri khas desa perlahan memudar, digantikan oleh isolasi dan ketidakpercayaan.

Mudra merasa perih melihat perubahan ini. Ia tak pernah membayangkan desa yang ia cintai bisa terpecah seperti ini. Ia melihat sendiri bagaimana warung Bu Minah, yang dulunya ramai oleh obrolan santai, kini hanya menjadi tempat singgah yang sepi. Ia mendengar keluhan para pedagang pasar yang kehilangan pembeli, menyaksikan anak-anak yang tak lagi berlarian di lapangan desa, dan merasakan atmosfer yang penuh kecemasan.

Namun, Mudra tidak ingin menyerah pada keadaan. Ia tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu. Jika ia membiarkan desa ini tenggelam dalam ketakutan, maka yang akan tersisa hanyalah kehancuran. Dengan tekad bulat, ia mulai berkeliling desa, berbicara dengan warga, mencoba mengembalikan semangat yang telah lama pudar.

"Pak Mudra, bagaimana ini?" tanya Bu Karti, bendahara BUM Desa, dengan wajah cemas. "Modal kita sudah menipis, pemasukan hampir tidak ada."

"Tenang, Bu Karti," jawab Mudra dengan senyum yang mencoba menenangkan. "Kita harus mencari cara lain. Mungkin kita bisa fokus pada produksi masker atau hand sanitizer, kebutuhan yang sekarang sangat tinggi."

"Tapi, siapa yang mau beli?" sahut Pak Darmo, pengurus BUM Desa lainnya. "Orang-orang sekarang lebih khawatir soal makan daripada soal kesehatan."

"Justru itu, Pak Darmo," kata Mudra. "Kita buat produk yang terjangkau, yang bisa membantu warga menjaga kesehatan tanpa memberatkan ekonomi mereka. Kita juga bisa mencari cara agar produksi ini bisa membantu mereka yang kehilangan penghasilan."

Mudra kemudian berjalan keluar kantor, menatap jalanan desa yang sepi. Ia melihat beberapa warga duduk di teras rumah, wajah mereka tampak lesu dan putus asa.

"Pak Mudra, bagaimana dengan bantuan sembako?" tanya Pak Karto, yang sedang duduk di depan rumahnya. "Kita sudah lama tidak dapat bantuan."

"Sedang diusahakan, Pak Karto," jawab Mudra. "Tapi, kita juga harus mandiri. Kita tidak bisa terus bergantung pada bantuan."

"Mandiri bagaimana, Pak Mudra?" tanya Pak Karto dengan nada getir. "Semua usaha sudah tutup, tidak ada penghasilan."

"Kita cari solusi bersama, Pak Karto," kata Mudra. "Kita punya lahan kosong, kita bisa tanam sayuran atau buah-buahan. Kita punya keahlian, kita bisa buat kerajinan tangan. Kita punya semangat, kita pasti bisa melewati ini."

Mudra kemudian pergi ke rumah Kepala Desa. Ia melihat Kepala Desa sedang duduk termenung di ruang tamu, wajahnya tampak lelah dan khawatir.

"Kepala Desa, kita harus segera ambil tindakan," kata Mudra. "Warga semakin putus asa, kita harus berikan mereka harapan."

"Harapan apa, Mudra?" tanya Kepala Desa dengan suara lesu. "Kita sendiri sudah kehilangan harapan."

"Kita punya BUM Desa, Kepala Desa," kata Mudra. "Kita punya sumber daya, kita punya warga yang kuat. Kita bisa bangkit bersama-sama."

"Tapi, bagaimana caranya?" tanya Kepala Desa. "Semua orang takut keluar rumah, semua usaha sudah tutup."

"Kita buat strategi baru, Kepala Desa," kata Mudra. "Kita manfaatkan teknologi, kita jual produk secara online. Kita buat program pelatihan online, kita berikan warga keterampilan baru."

Kepala Desa terdiam sejenak, menatap Mudra dengan pandangan penuh harapan.

"Kamu benar, Mudra," katanya akhirnya. "Kita tidak boleh menyerah. Kita harus bangkit kembali."

Mudra tersenyum. Ia tahu bahwa perjalanan masih panjang dan penuh tantangan. Namun, ia yakin bahwa bersama-sama, mereka bisa melewati masa sulit ini. Ia percaya pada kekuatan komunitas, pada semangat gotong royong yang telah mengalir dalam darah mereka.

Mudra kembali ke kantor BUM Desa, kali ini ditemani oleh beberapa pemuda desa yang masih memiliki semangat untuk membantu. Di ruangan kecil yang pengap itu, mereka berkumpul, merancang strategi untuk membangkitkan kembali ekonomi desa.

"Kita bisa mulai dengan memanfaatkan lahan kosong di belakang balai desa," kata Roni, salah seorang pemuda yang mahir bertani. "Kita tanam sayuran yang cepat panen, seperti kangkung atau bayam."

"Ide bagus, Roni," timpal Siti, seorang gadis yang pandai memasak. "Hasil panennya bisa kita olah menjadi makanan siap saji, lalu kita jual secara daring."

"Tapi, bagaimana dengan modalnya?" tanya Budi, pemuda yang memiliki usaha kerajinan tangan. "Kita kan sudah kehabisan uang."

Mudra tersenyum. "Kita bisa ajukan rencana program kerja BUM Desa kepada pemerintah desa untuk mendapatkan dana bantuan. Kita juga bisa mengajak warga untuk berinvestasi, dengan sistem bagi hasil. Tidak harus penyertaan modal dalam jumlah besar."

Mereka pun mulai bekerja, merencanakan setiap detail usaha mereka. Mereka tidak lagi merasa takut atau putus asa. Semangat gotong royong yang dulu pernah hilang kini kembali membara dalam diri mereka.

Di luar kantor BUM Desa, desa masih tampak sepi dan sunyi. Namun, di dalam hati Mudra, harapan mulai tumbuh kembali. Ia percaya bahwa setiap usaha kecil yang mereka lakukan akan membawa perubahan besar bagi desa. Ia akan terus berjuang, menjadi penjaga harapan bagi desanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 4 KEDATANGAN VANUA

    Vanua tiba di Desa Gayam dengan ransel besar di punggung dan trauma mendalam yang masih menghantuinya. Desa ini, dengan kesunyian dan ketenteramannya, adalah kebalikan total dari kota-kota yang baru saja ia tinggalkan—Yogyakarta, Surabaya, Depok—kota-kota yang menyisakan kenangan pahit tentang pandemi. Rumah sakit yang penuh sesak hingga lorong-lorong, suara tangisan pilu, jeritan kehilangan, serta kematian yang terasa begitu dekat, seolah bisa diraih dengan tangan.Sebagai sukarelawan medis, Vanua telah menyaksikan bagaimana pandemi merenggut nyawa tanpa pandang bulu. Ia melihat bagaimana kerumunan yang dulu dianggap sebagai kekuatan, berubah menjadi sumber ketakutan dan bencana. Ia melihat orang-orang kehilangan rasionalitas mereka, terjerumus dalam kepanikan yang membutakan dan keputusasaan yang melumpuhkan.Trauma itu masih segar membekas, seperti luka yang tak kunjung sembuh. Malam-malamnya sering diisi oleh mimpi buruk—ruang gawat darurat yang penuh sesak, suara mesin ventilator

    Last Updated : 2024-03-20
  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 5 BISIKAN DARI KEGELAPAN

    Desa Gayam kini terasa seperti kota yang dilanda teror, namun bukan teror dari invasi alien atau serangan robot canggih seperti yang dihadapi para pahlawan super dalam film-film. Teror yang mencengkeram desa ini jauh lebih kuno, lebih dalam, dan lebih merasuk ke dalam hati serta pikiran penghuninya. Ketakutan mereka bukan datang dari luar, melainkan dari bayang-bayang di dalam diri sendiri.Bisik-bisik tentang dedemit semakin menjadi-jadi. Kuntilanak, dengan tawa melengkingnya, bukan sekadar sosok hantu perempuan biasa. Ia menjadi perwujudan dari ketakutan mendalam akan kehilangan dan penyesalan. Pocong, dengan kain kafannya yang membalut tubuh, bukan sekadar simbol kematian yang menakutkan, tetapi juga representasi dari masa lalu yang belum selesai. Genderuwo, dengan tubuhnya yang raksasa, melambangkan kekuatan liar yang tak terkendali, sementara Wewe Gombel menjadi personifikasi dari naluri keibuan yang terdistorsi.Bagi sebagian warga desa, makhluk-makhluk ini bukan hanya cerita tur

    Last Updated : 2024-06-20
  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 6 JEJAK MISTERI

    Kejadian-kejadian aneh di Desa Gayam semakin sering terjadi, tidak lagi sekadar desas-desus yang beredar dari mulut ke mulut. Kini, warga desa menyaksikan sendiri fenomena-fenomena yang sulit dijelaskan dengan akal sehat, menambah lapisan ketakutan yang telah lama mengendap di hati mereka.Salah satu kejadian paling menghebohkan adalah penampakan jejak kaki raksasa di sawah Pak Karto. Jejak itu tampak jelas di tanah yang lembap, bentuknya menyerupai jejak kaki manusia, tetapi ukurannya tiga kali lipat dari ukuran kaki orang dewasa."Saya melihatnya sendiri, Nak," cerita Pak Karto kepada Mudra dan Vanua. "Jejak kaki itu muncul semalam, saat saya sedang ronda di sawah. Saya sempat menyorotnya dengan senter, tapi tidak ada siapa-siapa.""Apa mungkin ini ulah seseorang yang memakai sepatu bot besar?" tanya Vanua, mencoba mencari penjelasan logis.Pak Karto menggeleng. "Tidak ada orang di desa ini yang punya sepatu sebesar itu. Dan jejaknya… terlalu dalam, seperti ditinggalkan oleh sesuatu

    Last Updated : 2024-06-20
  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 7 BAYANG-BAYANG MAUT

    Desa Gayam, yang sudah dilanda ketakutan dan misteri, kini diguncang oleh peristiwa yang lebih mengerikan: kematian. Pak Slamet, salah satu warga desa yang aktif dalam ronda malam, ditemukan tewas di pematang sawah. Kematian itu terasa ganjil—tidak ada tanda-tanda penyakit atau serangan binatang buas, tetapi wajahnya membeku dalam ekspresi ketakutan yang mengerikan."Saya menemukannya pagi ini, saat hendak ke sawah," cerita Pak Karto kepada Mudra dan Vanua, suaranya bergetar. "Dia tergeletak di pematang, tubuhnya kaku, wajahnya pucat pasi.""Apakah ada tanda-tanda kekerasan?" tanya Vanua sambil memeriksa jenazah Pak Slamet.Pak Karto menggeleng. "Tidak ada, Nak. Tapi... wajahnya tampak seperti seseorang yang melihat sesuatu yang sangat menakutkan sebelum mati."Kematian Pak Slamet membuat warga desa semakin panik. Mereka yakin bahwa desa mereka telah dikutuk, bahwa makhluk halus kini mulai mengambil nyawa mereka satu per satu."Ini pasti ulah kuntilanak!" seru seorang ibu dengan suara

    Last Updated : 2024-06-20
  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 8 MASUK KE HUTAN BARAT KERAMAT

    Mudra dan Vanua mulai mempersiapkan diri untuk memasuki hutan keramat yang menyimpan sejuta misteri. Mereka membawa senter dengan cahaya paling terang, kompas untuk menavigasi belantara yang bisa menyesatkan, serta beberapa peralatan sederhana yang sekiranya bisa membantu jika terjadi hal-hal tak terduga. Sebelum berangkat, mereka menghadap Kepala Desa, meminta izin dan restu."Hati-hati, Mudra, Vanua," pesan Kepala Desa dengan nada berat. "Hutan itu bukan tempat biasa. Sudah terlalu banyak orang yang masuk dan tidak pernah kembali. Jangan sampai kalian menjadi bagian dari cerita seram berikutnya."Mudra dan Vanua saling bertukar pandang, membaca tekad di mata masing-masing. Mereka memahami betul risiko yang akan mereka hadapi, tetapi kebenaran harus diungkap. Dengan langkah mantap, mereka melangkah ke dalam hutan keramat, memasuki dunia yang bagi warga desa adalah wilayah terlarang.Langkah pertama mereka disambut oleh kesunyian yang pekat. Udara di dalam hutan terasa lebih dingin, le

    Last Updated : 2024-06-20
  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 9 BU LASTRI

    Setelah keluar dari hutan keramat dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, Mudra dan Vanua mendapati Desa Gayam terperosok dalam kekacauan yang lebih dalam. Kematian Pak Slamet telah menyulut gelombang ketakutan baru, seperti api yang menjalar di ladang kering. Penampakan-penampakan aneh semakin sering dilaporkan, seolah makhluk-makhluk gaib sengaja menampakkan diri untuk menebar teror.Di pasar desa, seorang ibu bercerita dengan suara bergetar kepada tetangga-tetangganya, "Tadi malam, saya melihat sosok putih melayang di atas rumah Pak RT! Suaranya mengerikan, seperti tertawa mengejek!"Seorang pemuda menimpali dengan wajah pucat, "Saya juga mendengar suara gemuruh dari hutan. Seperti langkah kaki sesuatu yang sangat besar."Penampakan-penampakan ini, ditambah dengan kematian misterius Pak Slamet, membuat warga semakin yakin bahwa kutukan telah menimpa desa mereka. Rasa aman lenyap, bahkan di siang hari sekalipun ketakutan tetap mencengkeram. Tidak ada lagi suasana desa yang a

    Last Updated : 2024-06-20
  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 10 DUKUN

    "Dukun itu pasti memiliki kekuatan gaib yang sangat besar," kata Vanua. "Dia mungkin dalang di balik semua kejadian aneh dan kematian misterius di desa ini.""Kita harus menemukan dukun itu," kata Mudra. "Kita harus menghentikannya sebelum dia melakukan lebih banyak kerusakan."Mereka pun mempersiapkan diri untuk memasuki hutan keramat sekali lagi, kali ini dengan tujuan untuk menemukan gua dukun. Mereka membawa senter, jimat pelindung, dan tekad yang lebih kuat. Aura hutan terasa berbeda dari sebelumnya—lebih pekat, lebih menekan, seakan menyadari kehadiran mereka dan tidak menginginkannya.Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya Mudra dan Vanua menemukan gua yang tersembunyi di balik air terjun deras. Tebing curam mengapit pintu masuk gua, seolah alam sendiri enggan membiarkan siapa pun masuk tanpa izin. Mereka melangkah masuk, disambut udara lembab dan bau dupa yang menyengat.Di dalam gua, mereka melihatnya—dukun itu. Seorang pria tua dengan jubah kumal, duduk bers

    Last Updated : 2024-06-20
  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 11 KUNTILANAK

    Mudra dan Vanua duduk di tepi api unggun, mengamati warga desa yang untuk pertama kalinya dalam waktu lama bisa tersenyum kembali. Namun, di balik kegembiraan itu, mereka berdua merasakan kegelisahan yang sulit dijelaskan."Kita telah mengalahkan dukun itu," kata Vanua, menatap api unggun yang berkedip-kedip. "Tapi, apakah ini benar-benar akhir dari segalanya?"Mudra menghela napas, matanya menatap gelapnya hutan keramat di kejauhan. "Aku juga tidak yakin. Ada sesuatu yang masih mengintai di sana. Aku bisa merasakannya.""Mungkin kita hanya paranoid," kata Vanua, mencoba merasionalisasi perasaannya sendiri. "Mungkin kita sudah terlalu lama menghadapi kekuatan gaib.""Mungkin," jawab Mudra. "Tapi aku tidak bisa mengabaikan firasat ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang menunggu—sesuatu yang lebih besar dari dukun itu."Saat itu juga, suara tangisan melengking terdengar dari arah hutan. Tangisan itu bukan suara manusia biasa, melainkan sesuatu yang lebih tajam, lebih menusuk, membuat bulu

    Last Updated : 2024-06-22

Latest chapter

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 22 RAJA BATU

    Vanua berdiri di depan rumah bambunya, menatap Kampung Tujuh yang dahulu tenang, kini dipenuhi kecemasan. Panen yang gagal, bencana alam yang merusak ladang, dan wabah penyakit yang merenggut nyawa, semuanya seperti gejala dari ketidakseimbangan yang lebih besar. Tapi ada satu hal yang lebih mencemaskan: kehadiran sosok misterius yang disebut Raja Batu.Mereka bergegas menuju balai desa, tempat para tetua berkumpul. Bu Ros, kepala desa Kampung Tujuh, berdiri di tengah ruangan dengan wajah penuh keprihatinan."Vanua, Mudra, Sari, kami sangat membutuhkan bantuan kalian," katanya dengan suara berat. "Tanah ini semakin tidak subur, hujan turun tanpa henti, dan orang-orang sakit tanpa sebab yang jelas. Kami khawatir sesuatu telah mengganggu keseimbangan desa."Sari melangkah maju, tatapannya penuh keyakinan. "Kita harus melakukan ritual penyatuan," katanya mantap. "Kekuatan spiritual dan duniawi harus bersatu. Keseimbangan telah terganggu, dan kita harus memanggil kembali harmoni yang hilan

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 21 PERTEMUAN MUDRA DAN SARI

    Kabut tipis menyelimuti Desa Gayam, menyembunyikan sebagian rumah dan jalan setapak. Udara dingin menyusup hingga ke sumsum, membawa serta keheningan yang aneh. Mudra duduk di beranda rumahnya, matanya kosong menatap kabut yang menggantung di cakrawala. Pikirannya melayang, mencoba merangkai kepingan peristiwa yang telah terjadi.Di dalam rumah, Vanua masih tertidur lelap di atas kasur dengan napas yang teratur. Aroma dupa cendana bercampur dengan dingin pagi menciptakan suasana yang mistis. Mudra menghela napas, merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Ia tahu ada sesuatu yang belum selesai, sesuatu yang masih mengendap di dasar pikirannya.Tak ingin larut dalam kebimbangan, Mudra memutuskan untuk mencari ketenangan di petilasan desa. Tempat itu selalu menjadi peraduan batinnya ketika kebingungan melanda. Langkahnya pelan menyusuri jalan setapak, hingga akhirnya tiba di bawah pohon beringin tua yang berdiri kokoh di petilasan.Di sana, ia melihat Sari duduk bersila dengan mata terpejam

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 20 IBU BUMI

    Sari bukan sekadar perempuan desa biasa. Ia adalah pegiat literasi dan penjaga Keris Pasopati, pusaka leluhur yang diwariskan turun-temurun dalam keluarganya. Keris itu memiliki pamor Adeg, diyakini membawa perlindungan serta membuka jalan bagi keberuntungan material. Meski tampak tegar, di balik keteguhannya tersimpan kerinduan mendalam akan sosok ibu yang telah tiada. Kehangatan, nasihat, dan kasih sayang ibunya selalu menjadi sumber kekuatannya, tetapi kini ia harus mencari kekuatan itu dalam dirinya sendiri.Di tengah krisis pangan yang melanda Desa Gayam selama pagebluk, kepemimpinan Sari diuji. Persediaan makanan semakin menipis, dan warga mulai cemas. Sari mengorganisir distribusi bahan pangan dengan adil, memastikan setiap keluarga mendapat bagian yang cukup."Sari, warga mulai khawatir. Stok beras semakin sedikit," lapor seorang pemuda desa."Kita akan atur distribusinya dengan baik. Dahulukan keluarga yang paling membutuhkan," jawab Sari dengan suara tegas."Tapi bagaimana ji

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 19 SANG PENYIHIR

    Pinggiran Hutan Barat yang keramat diselimuti kabut purba, menyelubungi pohon-pohon tua yang menjulang seperti penjaga bisu dari dunia lain. Udara dingin merayap di kulit Mudra, tetapi ada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar cuaca yang menariknya ke sini."Aku merasa ada sesuatu yang menunggu kita di sini," kata Mudra, tatapannya tajam menembus kabut.Vanua mengangguk. "Bisikan sunyi membawa kita ke tempat ini. Seperti ada sesuatu yang harus kita temukan."Di antara pepohonan, berdiri sebuah gapura bambu tua yang membentuk lengkungan alami. Cahaya remang-remang menyelusup di sela-selanya, menyoroti sosok berjubah merah dan kuning yang berdiri tegak di depan altar batu. Sosok itu, tinggi dan penuh wibawa, memegang tongkat kayu berukir yang berpendar dengan cahaya keemasan. Lehernya dihiasi pentagram perak yang berkilau samar di bawah rembulan."Siapa dia?" bisik Mudra."Penyihir," jawab Vanua. "Seorang penjaga batas antara dunia nyata dan dunia gaib."Mereka melangkah mendekat, perlaha

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 18 MIMPI DI TEPIAN JURANG

    Pagi itu, Mudra terbangun dengan perasaan aneh, seolah semalam ia melayang di angkasa. Sebuah kalimat berputar di kepalanya: "Kamu percaya hari ini jam 6 sore di permukaan bulan?" Ponselnya bergetar, pesan dari Vanua: "Hari ini jadwalku bersua denganmu. Aku sedang menuju Desa Gayam, perjalanan dari Kampung Tujuh Yogyakarta."Mudra tersenyum, membayangkan pertemuan ini. "Kita akan bertemu secepatnya, Vanua," balasnya, mengetik pesan di layar ponsel. Dalam hatinya, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda tentang pertemuan kali ini, seolah bukan sekadar percakapan biasa.Hujan turun deras saat Mudra melaju dengan motornya menuju kafe di ujung desa. Ia ingin mentraktir Vanua, sebagai cara untuk memperdalam hubungan mereka dan berbincang tentang tarot, ilmu yang diwarisi dari neneknya. Tarot bukan sekadar alat peramal nasib bagi Mudra, tetapi jendela ke alam bawah sadar, cara untuk memahami diri sendiri dan orang lain."Hujan, kau musuhku," gumamnya, menatap hujan yang menyamarkan pandanganny

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 17 RONTEK DAN NI GRENJENG

    Senja melukis langit Desa Gayam dengan warna keemasan, tetapi Mudra tak lagi peduli keindahannya. Macetnya perputaran dana bergulir BUM Desa mendominasi pikirannya. Salah satu penunggak terbesar adalah Rontek, lelaki bertubuh kekar dengan ilmu kebal yang membuatnya tak mudah ditagih. Sejak pertama kali meminjam uang, Rontek selalu menghindar saat tiba waktunya membayar."Aku harus menagihnya," gumam Mudra, menatap wajah Bu Raisa yang penuh kekhawatiran. "Tapi wajahnya itu, Bu. Seperti matahari saat pinjam uang, seperti kelinci saat ditagih. Terakhir, aku malah disambut parang.""Jangan bercanda, Mudra!" seru Bu Raisa, memasuki ruang kerja BUM Desa. "Rontek itu sakti. Orang-orang bilang dia bersemadi di mata air purba.""Mungkin aku harus ikut bersemadi," jawab Mudra, melirik ke arah mata air purba yang sepi. "Siapa tahu Rontek mau bayar."Malam itu, Mudra mencoba bermeditasi di rumahnya. Ia menyadari napasnya, menerima pikiran yang melompat-lompat seperti monyet di pepohonan. Wajah Ron

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 16 VANUA DI KAMPUNG TUJUH

    Vanua berjalan kaki saat matahari belum menyentuh puncak bukit. Perjalanan menuju Kampung Tujuh adalah ziarah sunyi, napasnya beradu dengan kabut pagi yang menggantung di lembah. Ia telah meninggalkan kota belasan tahun lalu, mencari ruang di mana dinding-dinding beton tak lagi mencekik dan kesunyian bukan lagi penjara.Saat kaki menyentuh tanah Kampung Tujuh, perjalanan batin Vanua berubah arah. Kampung itu hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga, hidup dalam harmoni yang seimbang dengan alam. Di sinilah ia menemukan ketenangan pada masa belia, membangun rumah bambu sederhana berjarak tujuh meter dari kompleks makam leluhur. Rutinitasnya saat itu begitu sederhana: mengumpulkan madu, membakar dupa cendana, dan menari dengan langkah-langkah yang mengalir seperti sungai.Namun, kini ketenangan itu terusik. Pagebluk melanda, membawa pesan kematian yang mengintai di setiap sudut kehidupan. Warga Kampung Tujuh dilanda ketakutan yang merambat seperti api di ladang kering. Mereka takut kehila

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 15 SARI

    Senja merayap turun di Desa Gayam, membawa serta keheningan yang menyesakkan, seolah-olah seluruh desa menahan napas. Sari duduk di beranda rumahnya yang sederhana, memeluk erat buku Sadajiwa, kitab kuno yang menyimpan rahasia leluhur. Di atas meja kayu di hadapannya tergeletak Keris Pasopati, warisan pusaka yang kini terasa begitu berat di tangannya. Cahaya senja yang memudar memantulkan kilatan samar di bilah keris itu, seakan mengingatkannya akan beban yang kini ia pikul.Bukan hanya cerita tentang Mudra dan Vanua yang memenuhi benaknya, atau kisah tentang perjuangan dan perbedaan pandangan mereka yang kini mulai mereda. Malam ini, pikirannya dipenuhi oleh gambaran dari petilasan Ni Grenjeng. Batas antara dunia nyata dan dunia gaib terasa begitu tipis. Bisikan-bisikan halus dari mata air purba, bayangan dedemit yang menari-nari di antara pepohonan tua—semuanya terasa nyata, begitu dekat, seolah-olah baru saja terjadi di hadapannya.“Mereka bukan sekadar makhluk mitos,” bisiknya, sua

  • KERUMUNAN ADALAH NERAKA   BAB 14 PERGI UNTUK KEMBALI

    Setelah meninggalkan Desa Gayam, Vanua berjalan tanpa tujuan yang jelas. Ia mengembara dari satu tempat ke tempat lain, mencari ruang di mana ia bisa benar-benar merasa bebas dari tatapan dan penilaian orang lain. Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin ia merasa asing, semakin ia menyadari bahwa kebebasan yang ia dambakan tidak datang dari keterasingan.Di setiap desa yang ia singgahi, ia melihat berbagai bentuk komunitas: ada yang hidup dalam kebersamaan yang erat, ada pula yang penuh dengan ketidakpercayaan dan konflik. Ia menyaksikan bagaimana masyarakat bertahan, membangun, dan melindungi satu sama lain dalam kebersamaan. Hal ini membuatnya mulai merenungkan kembali pemikirannya tentang kerumunan, tentang "neraka adalah orang lain," dan tentang rasa takutnya terhadap hubungan sosial.Dalam kesendiriannya, ia kembali mengingat Desa Gayam. Ia teringat bagaimana warga desa menyambutnya, bagaimana mereka bekerja sama untuk membangun kembali rumah-rumah yang hancur, bagaimana mereka

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status