Bagi Ayla, cinta adalah luka yang tak pernah sembuh. Setelah kekasihnya, Leon, memutuskan hubungan hanya karena ia berasal dari keluarga sederhana, Ayla terpuruk dalam penghinaan. Namun, dari kehancuran itu tumbuh tekad untuk membalas dendam, tidak hanya pada Leon, tetapi pada semua yang menganggapnya tidak berharga. Langkah pertama Ayla membawanya ke dunia kelam Dimitri Velasquez, seorang CEO yang memimpin salah satu perusahaan terbesar sekaligus penguasa dunia bawah yang kejam. Ayla pikir Dimitri adalah sekadar alat untuk menghancurkan Leon. Tapi Dimitri melihat Ayla lebih dari sekadar sekutu—ia melihat seorang wanita yang cukup berani memasuki dunianya dan membuatnya ingin melindunginya, meskipun itu berarti mempertaruhkan segalanya. Ketika dendam, obsesi, dan cinta mulai bercampur, Ayla dan Dimitri mendapati diri mereka terperangkap dalam permainan yang jauh lebih besar. Siapakah yang akan menang ketika cinta bertabrakan dengan ambisi?
Lihat lebih banyakLangit malam di Velmont City tampak kelam, seperti menyerap ketegangan yang sedang memuncak di kota itu. Di sebuah gedung tua yang berfungsi sebagai markas sementara Reynard Holdings, Ayla duduk di depan layar komputer dengan ekspresi dingin.Di sampingnya, Victor Moretti berdiri dengan tangan bersedekap. “Data ini cukup untuk menyeret Carlisle Industries ke dalam lubang neraka.”Ayla menatap layar, di mana bukti-bukti tentang penggelapan dana dan korupsi di perusahaan keluarga Leon terpampang jelas. Ini bukan hanya skandal bisnis biasa, ini adalah sesuatu yang bisa menghancurkan reputasi dan stabilitas mereka secara permanen.“Kita rilis secara bertahap,” ujar Ayla mantap. “Jika kita langsung menjatuhkan semuanya, mereka akan punya kesempatan untuk menutupi jejak.”Victor menyeringai. “Kau memang punya otak yang tajam.”Ayla tidak menanggapi. Matanya tetap fokus pada rencana yang sudah ia susun dengan cermat. Eleanor sudah melampaui batas, dan kal
Ayla berdiri di balkon, tubuhnya kaku saat menyaksikan kobaran api melalap salah satu gedung afiliasi Reynard Holdings. Asap hitam membubung ke langit, suara sirene pemadam kebakaran menggema di udara.Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut—tapi karena amarah yang mendidih. Eleanor telah melangkah terlalu jauh.Ponselnya masih berada di genggamannya, suara Eleanor terdengar lagi di ujung sana, penuh kemenangan.“Apa kau masih di sana, Ayla?”Ayla mengepalkan tangan. “Kau baru saja menandatangani surat kematianmu, Eleanor.”Wanita itu tertawa pelan. “Oh, Ayla, sayang sekali aku tidak mudah dijatuhkan. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa aku masih punya kendali atas permainan ini.”Ayla menarik napas dalam, menenangkan dirinya. “Jika kau berpikir ini akan membuatku menyerah, kau salah besar.”“Kita lihat saja.” Eleanor mengakhiri panggilan, meninggalkan Ayla dengan kemarahan yang semakin membara.Dia meraih mantel dan b
Ayla duduk di dalam mobil dengan tangan mengepal. Matanya menatap kosong ke luar jendela, meskipun pikirannya bekerja dengan cepat. Serangan tadi bukan hanya peringatan—itu adalah deklarasi perang. Eleanor Carlisle telah membuat langkahnya, dan Ayla tidak akan tinggal diam.Di kursi kemudi, Victor Moretti mengamati ekspresinya melalui kaca spion. “Kau terlihat siap membakar dunia, Ayla,” katanya dengan nada ringan, tapi ada ketertarikan di matanya.Ayla menghembuskan napas pelan. “Dunia sudah terbakar. Aku hanya akan memastikan bahwa mereka yang menyalakan api akan terbakar lebih dulu.”Victor menyeringai. “Itu semangat yang kusuka. Lalu, apa rencanamu sekarang?”Ayla menoleh ke arahnya. “Aku ingin tahu semua yang kau ketahui tentang Eleanor dan asetnya. Aku tidak hanya ingin menghancurkan Carlisle Industries—aku ingin memastikan dia tidak memiliki kesempatan untuk bangkit kembali.”Victor mengangguk. “Aku bisa mengatur itu. Tapi kau tahu, Eleanor
Ayla berdiri di depan jendela besar penthouse-nya, menatap lampu-lampu kota Velmont yang berkilauan di malam hari. Sejak pertemuan dengan Ivy di pesta Gabriel, pikirannya terus berputar. Wanita itu tidak berbicara sembarangan—ada sesuatu di balik kata-katanya, sebuah ancaman tersirat yang tidak bisa diabaikan begitu saja.Suara langkah kaki terdengar di belakangnya, dan tanpa perlu menoleh, ia tahu siapa itu.“Pikiranmu terlalu berisik,” ujar Dimitri dengan nada rendah, berjalan mendekatinya.Ayla menghela napas, tangannya tetap bertumpu di pinggiran kaca. “Ivy tidak hanya menggertak. Aku bisa merasakannya.”Dimitri menyentuh bahunya lembut, tapi nada suaranya tetap dingin. “Dia hanya mencari celah untuk menyerangmu. Jangan beri dia kesempatan.”Ayla menoleh, menatap pria itu dengan mata penuh keyakinan. “Aku tidak akan. Tapi ini bukan hanya tentang Ivy. Eleanor Carlisle telah bergabung dengan Gabriel. Itu berarti pertempuran ini tidak lagi hanya t
Ayla menatap Dimitri yang berdiri di hadapannya, kedua tangan pria itu masih mencengkeram pinggangnya dengan kuat. Ciuman mereka barusan bukan sekadar ekspresi perasaan—itu adalah pernyataan kepemilikan. Namun, Ayla bukan lagi gadis yang bisa dimiliki begitu saja."Aku tidak akan kembali pada Leon," katanya, suaranya tegas.Dimitri menelusuri wajahnya dengan tatapan tajam, seolah mencoba membaca pikirannya. "Bagus," katanya akhirnya. "Karena aku tidak akan membiarkanmu pergi."Ayla tahu bahwa itu bukan sekadar pernyataan posesif. Dimitri Velasquez bukan pria yang membiarkan sesuatu yang berharga lepas begitu saja. Tapi ia juga bukan wanita yang bisa dikendalikan dengan begitu mudah."Aku akan menghancurkan Carlisle Industries sepenuhnya," lanjut Ayla. "Tapi sekarang, Gabriel dan Ivy mulai masuk ke dalam permainan. Kita tidak bisa mengabaikan mereka."Dimitri menyandarkan tubuhnya ke meja, ekspresinya dingin. "Gabriel selalu mencari celah. Aku sudah memperingatkannya sebelumnya, tetapi
Ayla berdiri di depan jendela kantornya, menatap pemandangan Velmont City yang bermandikan cahaya malam. Di bawah sana, kota ini terus berdenyut dengan kehidupan, tetapi pikirannya terfokus pada satu hal—kehancuran Carlisle Industries.Ketukan di pintu membuatnya menoleh. Clara masuk, membawa setumpuk dokumen dengan ekspresi serius."Kau harus melihat ini," katanya sambil meletakkan berkas-berkas di meja.Ayla mengambil salah satunya dan membukanya. Matanya menyipit saat membaca."Gabriel Delgado?" gumamnya.Clara mengangguk. "Dia mulai bergerak. Beberapa investor yang sebelumnya menarik diri dari Carlisle Industries kini tampaknya beralih ke Delgado Enterprises. Dia memanfaatkan situasi ini."Ayla menggertakkan giginya. Ia tidak menyangka ada pemain lain yang ikut dalam permainan ini."Dan bukan hanya itu," lanjut Clara. "Ivy Larchmont ada di sisinya."Mata Ayla berkedip sesaat. Ivy. Wanita yang pernah menjadi bagian dari masa lalu Dimitri, dan sekarang muncul kembali di tengah kekac
Ayla menatap layar laptopnya dengan ekspresi serius. Data keuangan Carlisle Industries terbuka di depannya, menunjukkan berbagai celah yang bisa dieksploitasi. Perusahaan itu mungkin masih berdiri kokoh di permukaan, tetapi di baliknya, ada kebocoran finansial yang cukup besar."Aku bisa menghancurkan mereka dari dalam," gumamnya.Dimitri, yang berdiri di belakangnya, menyilangkan tangan. "Kau berencana menyerang langsung ke inti bisnis mereka?"Ayla mengangguk, matanya tetap fokus. "Leon dan keluarganya terlalu lama menikmati kekuasaan mereka. Jika aku bisa membuat investor mereka menarik diri, Carlisle Industries akan runtuh tanpa perlu satu pun peluru ditembakkan."Dimitri menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada kebanggaan di sana, tetapi juga sedikit kekhawatiran. "Kau semakin mirip denganku, Ayla."Ayla tersenyum tipis dan menutup laptopnya. "Mungkin aku memang harus menjadi seperti ini untuk bertahan."Malam itu, Ayla menghadiri sebuah gala bisnis di Ravenhurst, tem
Ayla menatap Dimitri dengan mata penuh tekad."Jika Gabriel ingin bermain kotor, kita harus lebih cepat darinya."Dimitri menyandarkan punggung ke kursinya, matanya meneliti setiap ekspresi Ayla. Dia selalu mengagumi kecerdasan dan keberaniannya, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda."Apa yang kau rencanakan?" tanyanya, suaranya rendah namun penuh rasa ingin tahu.Ayla menggeser foto-foto yang dikirim Gabriel ke arah Dimitri. "Dia pikir ini bisa mengintimidasi kita. Tapi yang dia lakukan hanya membuka kelemahannya sendiri."Dimitri menyipitkan mata. "Maksudmu?"Ayla tersenyum kecil, tetapi senyuman itu penuh arti. "Kalau dia bisa mengawasi kita, itu berarti kita juga bisa mengawasinya. Kita hanya perlu tahu di mana titik lemahnya."Victor, yang sejak tadi diam di sudut ruangan, akhirnya angkat bicara. "Kami sudah melacak pergerakan Gabriel. Dia lebih sering muncul di Club Inferno belakangan ini. Klub itu bukan hanya tempat hiburan
Ayla terbangun dengan sinar matahari yang menyelinap melalui tirai besar apartemennya. Tubuhnya masih terasa hangat dari pelukan Dimitri semalam, tapi pikirannya terus bekerja, menimbang apa yang akan terjadi selanjutnya.Dimitri masih tertidur di sampingnya, wajahnya terlihat jauh lebih tenang daripada biasanya. Pria itu selalu menampilkan ekspresi tajam dan penuh kendali di depan orang lain, tetapi di sini, bersamanya, ada sisi lain yang lebih manusiawi.Ayla mengangkat tangan, jemarinya hampir menyentuh wajah Dimitri sebelum akhirnya dia menariknya kembali.Dia tidak bisa membiarkan dirinya terlalu tenggelam dalam perasaan ini.Karena dunia mereka masih berbahaya.Dan keputusan yang akan ia ambil hari ini bisa mengubah segalanya.Satu jam kemudian, Ayla sudah berdiri di depan jendela besar kantornya di Reynard Holdings.Clara masuk dengan ekspresi serius, membawa beberapa dokumen."Kita sudah mengumpulkan semua data tentang Carlisle Industries," katanya. "Sejujurnya, kalau kau ingi
Ayla Reynard memandang cermin dengan tatapan kosong. Rambut coklat gelapnya tergerai dengan sempurna, dibingkai dengan rapi oleh gaun hitam elegan yang dipilih Leon untuk makan malam mereka. Malam ini terasa istimewa, meski ia tak tahu bahwa itu akan menjadi malam yang mengubah segalanya.Senyum Ayla terlukis di wajahnya, namun matanya menyembunyikan kegelisahan yang semakin membesar. Setiap detik yang berlalu seperti sebuah persiapan untuk sesuatu yang tak bisa ia hindari, sebuah keputusan yang tak terelakkan. Di luar jendela kamar tidurnya, suasana malam Velmont City terasa begitu damai, gemerlapnya lampu-lampu kota menciptakan kesan sempurna tentang dunia yang mereka huni. Sebuah dunia yang Ayla kenal terlalu baik—dunia penuh harapan, keinginan, dan impian.Namun, hidupnya tak pernah sesempurna seperti yang terlihat di permukaan.“Segera datang, sayang. Aku akan menjemputmu,” suara Leon dari telepon memecah keheningan. Ayla mengangguk meski tahu Leon tidak bisa melihatnya. Telepon ...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen