Malam yang kelam menyelimuti Velmont City saat Ayla Reynard berjalan keluar dari apartemennya. Udara dingin menyentuh kulitnya, namun tidak ada yang lebih dingin daripada perasaan yang ada dalam hatinya. Dengan langkah mantap, ia melangkah ke arah mobil hitam yang menunggu di depan gedung. Setiap detik dalam perjalanan ini semakin menguatkan niatnya—tujuan yang jelas dan tak bisa dibelokkan. Ia harus menghancurkan Leon, dan untuk itu, ia membutuhkan kekuatan. Kekuatan yang hanya dimiliki oleh seorang pria seperti Dimitri Velasquez.
Ayla teringat percakapan terakhirnya dengan Leon, bagaimana ia diperlakukan seperti sekadar barang yang bisa dibuang begitu saja. Setiap kata yang diucapkan Leon, setiap tatapan matanya yang merendahkan, semakin membakar amarah di dalam diri Ayla. Tidak ada kata penyesalan di bibir Leon, hanya alasan kosong tentang status sosial, tentang keluarganya yang lebih memilih uang dan kekuasaan daripada cinta yang mereka punya.
“Apa yang akan kamu lakukan, Ayla?” gumamnya pada diri sendiri, merasakan getaran kegelisahan yang semakin kuat. Namun ia tahu, apa yang akan dia lakukan adalah langkah yang harus diambil. Tidak ada ruang untuk kelemahan, tidak ada ruang untuk penyesalan.
Ayla tiba di sebuah klub malam yang terang benderang, Club Noir, tempat di mana dunia gelap dan terang bertabrakan. Musisi jazz bermain dengan lembut di sudut ruangan, sementara cahaya neon yang redup memberi kesan misterius pada seluruh tempat. Ini adalah dunia yang asing, dunia yang berbeda dari kehidupannya yang dulu. Tapi Ayla tahu bahwa ia tidak punya pilihan selain terjun ke dalamnya.
Di balik meja bar, seorang wanita dengan rambut merah menyala dan riasan tajam menatap Ayla dengan tatapan penuh pertanyaan. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan suara yang keras untuk mengalahkan musik yang menggema.
Ayla tersenyum, meski senyumnya terasa canggung. “Saya ingin bertemu dengan Dimitri Velasquez.”
Wanita itu terdiam sejenak, menilai Ayla dari atas hingga bawah, seolah-olah sedang menilai apakah Ayla benar-benar cocok berada di tempat ini. “Dia tidak mudah ditemui,” ujarnya akhirnya, suaranya terkesan tidak percaya.
Ayla menatapnya dengan tatapan yang tak bisa terbaca. “Saya tahu. Tapi saya harus bertemu dengannya.”
Wanita itu mengerutkan keningnya, kemudian mengangguk pelan. “Ikuti saya.”
Mereka menyusuri lorong sempit yang terhubung dengan ruang belakang klub. Suasana semakin suram dan gelap, tapi Ayla merasa semakin mantap. Ini adalah dunia yang berbahaya, dunia yang penuh dengan risiko, tapi Ayla sudah siap. Di ujung lorong, pintu berat terbuka, memperlihatkan sebuah ruang dengan dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota yang megah. Di tengah ruangan berdiri seorang pria yang lebih tinggi dari yang Ayla bayangkan—Dimitri Velasquez.
Dimitri, dengan wajah dingin dan aura yang mengintimidasi, memandang Ayla tanpa ekspresi. Matanya yang tajam menyelidik, menilai setiap gerakan Ayla dengan ketelitian seorang pemimpin. Di tangannya tergenggam segelas whiskey, yang ia teguk perlahan sebelum berbicara.
“Ayla Reynard,” katanya dengan suara dalam yang menambah kesan misterius. “Apa yang membawamu ke dunia saya?”
Ayla tidak merasa takut, meski sikap Dimitri begitu menekan. Ia mengangkat dagunya sedikit, menunjukkan ketegasan dalam dirinya. “Saya membutuhkan bantuanmu.”
Dimitri tertawa pelan, namun tawanya tidak terdengar ramah. “Bantuan? Dunia ini tidak memberi bantuan pada siapa pun. Kamu tahu itu, bukan?”
Ayla tidak gentar. “Saya tahu bahwa saya harus membayar harga untuk apapun yang saya inginkan. Dan saya siap membayar harga itu.”
Dimitri menilai Ayla dengan tatapan tajam. Ada sesuatu dalam diri wanita ini yang menarik perhatiannya. Bukan hanya penampilannya, yang tentu saja memikat, tetapi ada kegigihan yang terpancar dalam sikap dan sorot matanya. Sesuatu yang tidak banyak orang punya. Sesuatu yang menarik bagi seorang pria seperti Dimitri.
“Jadi, apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Dimitri akhirnya, tidak kehilangan kewaspadaan.
“Saya ingin menghancurkan Leon Carlisle dan perusahaan keluarganya,” jawab Ayla tanpa ragu. Suaranya datar dan penuh keyakinan. “Saya ingin membuat mereka menyesal atas apa yang mereka lakukan pada saya.”
Dimitri mengangkat alisnya. “Kamu tidak takut dengan konsekuensinya?”
Ayla menatapnya dengan mata penuh tekad. “Saya tidak takut. Saya sudah kehilangan semuanya. Saya hanya tinggal satu pilihan—membalas dendam. Dan kamu adalah satu-satunya yang bisa membantu saya mencapai itu.”
Dimitri terdiam sejenak, memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut Ayla. Ia tidak menganggap ini sekadar permintaan. Ada sesuatu yang lebih, sesuatu yang lebih dalam dalam tatapan Ayla yang tak bisa ia abaikan.
“Baiklah,” kata Dimitri akhirnya, menurunkan gelas whiskey-nya. “Aku akan membantumu. Tapi ingat, dunia ini tidak pernah memberikan sesuatu tanpa harga yang harus dibayar.”
Ayla mengangguk, merasa seolah-olah satu babak dalam hidupnya baru saja dimulai. “Saya siap.”
Malam itu, Ayla pulang ke apartemennya dengan langkah yang lebih mantap, tetapi hatinya penuh dengan pergolakan. Keputusan yang baru saja ia buat bukanlah keputusan yang mudah. Namun, ia tahu bahwa tak ada pilihan lain. Balas dendam bukan hanya untuk Leon, tetapi juga untuk dirinya sendiri—untuk harga diri yang telah diinjak-injak, untuk segala luka yang ia simpan dalam hati.
Saat duduk di depan laptopnya, Ayla membuka berkas yang telah ia persiapkan dengan cermat. Setiap langkah yang ia ambil bersama Dimitri akan membawa dampak yang besar, dan ia harus siap untuk itu. Tapi apa yang tidak ia tahu adalah, di tengah perjuangannya untuk menghancurkan Leon, ia akan terperangkap dalam dunia yang lebih gelap dari yang bisa ia bayangkan. Dunia yang tak hanya menawarkan kekuasaan, tetapi juga godaan, obsesi, dan perasaan yang tak bisa ia kendalikan.
“Aku tidak akan mundur,” gumam Ayla, memandangi layar laptopnya yang memantulkan cahaya biru ke wajahnya. “Tidak ada jalan kembali.”
Namun, di belakang kata-katanya yang penuh tekad, ada keraguan yang mulai tumbuh, keraguan yang tak dapat ia sebutkan pada siapa pun. Karena dalam dunia yang kini ia masuki, segala sesuatunya bisa berubah dalam sekejap. Dunia yang dipimpin oleh pria seperti Dimitri Velasquez.
“Selamat datang di dunia baru, Ayla,” bisik Ayla pada dirinya sendiri, dan dunia itu pun mulai berputar dengan caranya yang gelap dan berbahaya.
Pagi berikutnya, Velmont City terbangun dengan hiruk-pikuk khas kota metropolitan. Jalan-jalan dipenuhi dengan mobil mewah yang berkilau di bawah sinar matahari, gedung pencakar langit yang menjulang menghalangi pandangan terhadap langit biru yang bersih. Semua tampak sempurna, tetapi bagi Ayla Reynard, dunia ini hanyalah sebuah panggung di mana dirinya hanyalah bagian dari cerita yang lebih besar—sebuah cerita yang penuh dengan ambisi, pengkhianatan, dan dendam.Ayla duduk di meja kerjanya di Reynard Holdings, perusahaan kecil yang ia bangun dari nol. Meski perusahaan ini belum sekuat Velasquez Corporation milik Dimitri, namun Ayla tahu ini adalah langkah pertamanya menuju puncak. Dia ingin lebih dari sekadar membalas dendam pada Leon dan keluarganya. Dia ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih dari sekadar wanita yang mereka anggap tidak berharga.Namun, satu hal yang Ayla pelajari sejak malam pertama bertemu Dimitri adalah bahwa dunia ini bukan dunia yang mudah untuk dimasuki. Bahkan
Ayla berdiri di luar pintu kaca besar The Elysian Tower, memandangi kota yang bersinar di bawahnya. Angin sore berhembus ringan, membawa aroma kota yang penuh dengan ambisi dan kegembiraan. Namun, bagi Ayla, segala kemewahan dan kemegahan ini hanyalah lapisan luar dari sebuah dunia yang jauh lebih gelap. Dunia yang baru saja ia masuki—dunia yang penuh dengan manipulasi, kekuasaan, dan intrik.“Jangan terlalu terpesona dengan pemandangan ini,” suara berat Dimitri terdengar di belakangnya, membuat Ayla berbalik. Dimitri berdiri dengan sikap tegap, mengenakan jas hitam yang selalu tampak sempurna di tubuhnya. Matanya yang tajam mengamati Ayla dengan penuh perhatian, seolah mengukur sejauh mana wanita ini bisa bertahan.“Apa yang kamu maksud?” Ayla bertanya, berusaha menutupi keraguan yang mulai merayapi dirinya.“Velmont City adalah tempat di mana banyak orang datang untuk meraih impian mereka, tetapi juga tempat di mana impian itu hancur begitu saja. Kamu tidak bisa hanya terpesona oleh
Ayla berdiri di ruang kerja Dimitri yang mewah, matanya menatap kosong ke jendela besar yang menghadap ke Velmont City yang terhampar luas. Pemandangan kota itu, dengan segala kemewahan dan kehidupan yang tampak sempurna, kini terasa semakin hampa. Dunia yang pernah ia anggap sebagai tempat penuh harapan kini tampak seperti arena permainan tanpa aturan, di mana kemenangan hanya diberikan kepada mereka yang mampu bertahan.Dimitri berdiri di belakang meja kerjanya, sibuk dengan laporan dan dokumen-dokumen yang tampaknya tak pernah habis. Suasana di ruangan itu sunyi, hanya suara langkah kaki dan desiran angin dari luar yang mengisi ruang. Ayla tahu bahwa untuk memenangkan permainannya, ia harus menunggu. Menunggu kesempatan yang tepat untuk menyerang, untuk menghancurkan Leon dan segala yang berhubungan dengannya. Tapi saat ini, ia juga tahu bahwa ia sudah terperangkap dalam permainan yang lebih besar, permainan yang tak hanya melibatkan Leon, tetapi juga Dimitri.Dimitri tiba-tiba ber
Malam itu, angin dingin bertiup melalui celah-celah jendela, membawa aroma hujan yang belum turun. Ayla duduk di kursi besar di ruang kerjanya, di antara tumpukan dokumen yang tersebar di meja. Tangan kirinya menggenggam pena, sementara matanya menatap kosong ke layar laptop. Rencana yang telah ia susun matang perlahan memunculkan keraguan di dalam dirinya, namun ia cepat-cepat mengusirnya. Tidak ada ruang untuk keraguan dalam rencana ini.Victor Moretti adalah langkah pertama. Ayla tahu dia tidak bisa bergerak sendiri, dan meskipun ada banyak risiko, bertemu dengan Victor adalah keputusan yang tepat. Tangan kanan Dimitri itu punya banyak informasi yang bisa menjadi kunci untuk menghancurkan Carlisle Industries, perusahaan yang dulu menjadi kebanggaan Leon. Ayla tahu, untuk menghancurkan Leon, ia harus melibas segala sesuatu yang menjadi jantung dari kekuasaannya. Dan Carlisle Industries adalah pusat dari segalanya.Namun, ada sesuatu yang mengganjal. Seseorang yang selalu hadir dalam
Ayla berdiri di balkon apartemennya yang megah, menatap ke luar ke gedung-gedung pencakar langit Velmont City yang penuh cahaya. Angin malam bertiup dingin, tetapi ia tidak merasa apa-apa. Diri yang dulu, yang pernah takut pada kegelapan dunia ini, sudah mati. Sekarang, dunia ini adalah miliknya untuk dijinakkan. Setiap langkah yang ia ambil semakin mendekatkannya pada tujuannya—membalas dendam pada Leon dan mereka yang menghancurkan hidupnya.Namun, hari ini, rasa cemas sedikit menyesaki hatinya. Pertemuan dengan Gabriel Delgado tadi bukanlah sekadar pertemuan bisnis biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang lebih gelap. Meskipun ia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan, ia tahu, permainan ini belum berakhir. Bahkan, baru saja dimulai.Victor Moretti, yang sejak awal telah menjadi sekutunya, tak pernah sekalipun menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Namun, Ayla tahu bahwa dia tidak bisa sepenuhnya mempercayai siapa pun. Bahkan Victor, meskipun loyal kepada Dimitri, tetap mem
Pagi di Velmont City selalu tampak penuh dengan energi yang membara, bahkan saat matahari belum sepenuhnya terbit. Udara pagi yang dingin sedikit menyegarkan, tetapi Ayla merasa tubuhnya lebih terbebani daripada biasanya. Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat, seperti ada bayang-bayang yang mengikutinya. Bayang-bayang yang bukan berasal dari masa lalunya, tetapi dari dunia yang semakin ia masuki—dunia yang penuh dengan kebohongan dan rahasia.Pagi itu, ia duduk di meja kerjanya di Reynard Holdings, perusahaan yang ia bangun sendiri setelah ia bekerja sama dengan Dimitri. Pekerjaannya mulai mengalir lebih lancar, tetapi ia tahu bahwa semua ini hanyalah bagian dari permainan yang lebih besar. Tak jarang, pikirannya melayang kembali kepada Dimitri dan percakapan mereka sebelumnya. Dimitri... Ada yang berbeda darinya, sesuatu yang membuat Ayla merasa seolah dirinya berada di dalam permainan catur yang diatur oleh tangan yang lebih kuat daripada dirinya.Clara, sahabatnya yang
Malam itu, setelah meninggalkan Club Noir, langkah Ayla terasa semakin berat. Udara malam yang dingin semakin menusuk kulitnya, tetapi hatinya jauh lebih beku daripada cuaca yang menerpa tubuhnya. Ia memikirkan percakapan dengan Dimitri yang semakin membingungkan, meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Bayang-bayang masa lalu yang datang mengganggu semakin menguatkan tekadnya untuk melanjutkan perjuangan ini, tetapi juga memperdalam keraguan tentang siapa yang sebenarnya bisa ia percayai.Ayla mengunci pintu mobilnya dengan suara berderit, sebelum melangkah menuju gedung Reynard Holdings, perusahaan yang ia bangun dengan susah payah. Gedung itu kini menjadi simbol dari kebangkitannya, namun setiap kali ia menginjakkan kaki di sana, ada perasaan yang mengusik—sebuah perasaan tidak nyaman yang terus bertumbuh.Di dalam ruang kerjanya yang luas dan minim dekorasi, Ayla duduk di kursinya, menatap layar komputer dengan tatapan kosong. Pikiran-pikirannya melayang ke arah yan
Elysian Tower menjulang tinggi di atas kota Velmont, berkilau dengan cahaya emas yang memantulkan keanggunan dan kekuasaannya. Ayla berdiri di depan pintu utama gedung itu, merasakan ketegangan yang semakin mencekam di dalam dirinya. Malam ini, setiap detik yang berlalu terasa semakin berat. Ia tahu, apapun yang akan terjadi, ini adalah titik balik. Ada sesuatu yang harus ia ketahui, sesuatu yang akan menentukan langkahnya selanjutnya.Dimitri menunggu di dalam. Di balik pintu kaca besar yang terletak di lantai teratas gedung ini, terlihat sosoknya berdiri dengan postur tegap dan ekspresi serius. Tidak ada senyuman yang menghiasi wajahnya, hanya aura dingin yang terasa dari kejauhan. Ayla menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum melangkah masuk.Begitu pintu lift terbuka, Dimitri menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya tatapan tajam yang penuh arti. Ayla menyadari bahwa di dalam mata itu ada sebuah perasaan yang tidak bisa ia tafsirkan. Tapi untuk sa
Langit malam di Velmont City tampak kelam, seperti menyerap ketegangan yang sedang memuncak di kota itu. Di sebuah gedung tua yang berfungsi sebagai markas sementara Reynard Holdings, Ayla duduk di depan layar komputer dengan ekspresi dingin.Di sampingnya, Victor Moretti berdiri dengan tangan bersedekap. “Data ini cukup untuk menyeret Carlisle Industries ke dalam lubang neraka.”Ayla menatap layar, di mana bukti-bukti tentang penggelapan dana dan korupsi di perusahaan keluarga Leon terpampang jelas. Ini bukan hanya skandal bisnis biasa, ini adalah sesuatu yang bisa menghancurkan reputasi dan stabilitas mereka secara permanen.“Kita rilis secara bertahap,” ujar Ayla mantap. “Jika kita langsung menjatuhkan semuanya, mereka akan punya kesempatan untuk menutupi jejak.”Victor menyeringai. “Kau memang punya otak yang tajam.”Ayla tidak menanggapi. Matanya tetap fokus pada rencana yang sudah ia susun dengan cermat. Eleanor sudah melampaui batas, dan kal
Ayla berdiri di balkon, tubuhnya kaku saat menyaksikan kobaran api melalap salah satu gedung afiliasi Reynard Holdings. Asap hitam membubung ke langit, suara sirene pemadam kebakaran menggema di udara.Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut—tapi karena amarah yang mendidih. Eleanor telah melangkah terlalu jauh.Ponselnya masih berada di genggamannya, suara Eleanor terdengar lagi di ujung sana, penuh kemenangan.“Apa kau masih di sana, Ayla?”Ayla mengepalkan tangan. “Kau baru saja menandatangani surat kematianmu, Eleanor.”Wanita itu tertawa pelan. “Oh, Ayla, sayang sekali aku tidak mudah dijatuhkan. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa aku masih punya kendali atas permainan ini.”Ayla menarik napas dalam, menenangkan dirinya. “Jika kau berpikir ini akan membuatku menyerah, kau salah besar.”“Kita lihat saja.” Eleanor mengakhiri panggilan, meninggalkan Ayla dengan kemarahan yang semakin membara.Dia meraih mantel dan b
Ayla duduk di dalam mobil dengan tangan mengepal. Matanya menatap kosong ke luar jendela, meskipun pikirannya bekerja dengan cepat. Serangan tadi bukan hanya peringatan—itu adalah deklarasi perang. Eleanor Carlisle telah membuat langkahnya, dan Ayla tidak akan tinggal diam.Di kursi kemudi, Victor Moretti mengamati ekspresinya melalui kaca spion. “Kau terlihat siap membakar dunia, Ayla,” katanya dengan nada ringan, tapi ada ketertarikan di matanya.Ayla menghembuskan napas pelan. “Dunia sudah terbakar. Aku hanya akan memastikan bahwa mereka yang menyalakan api akan terbakar lebih dulu.”Victor menyeringai. “Itu semangat yang kusuka. Lalu, apa rencanamu sekarang?”Ayla menoleh ke arahnya. “Aku ingin tahu semua yang kau ketahui tentang Eleanor dan asetnya. Aku tidak hanya ingin menghancurkan Carlisle Industries—aku ingin memastikan dia tidak memiliki kesempatan untuk bangkit kembali.”Victor mengangguk. “Aku bisa mengatur itu. Tapi kau tahu, Eleanor
Ayla berdiri di depan jendela besar penthouse-nya, menatap lampu-lampu kota Velmont yang berkilauan di malam hari. Sejak pertemuan dengan Ivy di pesta Gabriel, pikirannya terus berputar. Wanita itu tidak berbicara sembarangan—ada sesuatu di balik kata-katanya, sebuah ancaman tersirat yang tidak bisa diabaikan begitu saja.Suara langkah kaki terdengar di belakangnya, dan tanpa perlu menoleh, ia tahu siapa itu.“Pikiranmu terlalu berisik,” ujar Dimitri dengan nada rendah, berjalan mendekatinya.Ayla menghela napas, tangannya tetap bertumpu di pinggiran kaca. “Ivy tidak hanya menggertak. Aku bisa merasakannya.”Dimitri menyentuh bahunya lembut, tapi nada suaranya tetap dingin. “Dia hanya mencari celah untuk menyerangmu. Jangan beri dia kesempatan.”Ayla menoleh, menatap pria itu dengan mata penuh keyakinan. “Aku tidak akan. Tapi ini bukan hanya tentang Ivy. Eleanor Carlisle telah bergabung dengan Gabriel. Itu berarti pertempuran ini tidak lagi hanya t
Ayla menatap Dimitri yang berdiri di hadapannya, kedua tangan pria itu masih mencengkeram pinggangnya dengan kuat. Ciuman mereka barusan bukan sekadar ekspresi perasaan—itu adalah pernyataan kepemilikan. Namun, Ayla bukan lagi gadis yang bisa dimiliki begitu saja."Aku tidak akan kembali pada Leon," katanya, suaranya tegas.Dimitri menelusuri wajahnya dengan tatapan tajam, seolah mencoba membaca pikirannya. "Bagus," katanya akhirnya. "Karena aku tidak akan membiarkanmu pergi."Ayla tahu bahwa itu bukan sekadar pernyataan posesif. Dimitri Velasquez bukan pria yang membiarkan sesuatu yang berharga lepas begitu saja. Tapi ia juga bukan wanita yang bisa dikendalikan dengan begitu mudah."Aku akan menghancurkan Carlisle Industries sepenuhnya," lanjut Ayla. "Tapi sekarang, Gabriel dan Ivy mulai masuk ke dalam permainan. Kita tidak bisa mengabaikan mereka."Dimitri menyandarkan tubuhnya ke meja, ekspresinya dingin. "Gabriel selalu mencari celah. Aku sudah memperingatkannya sebelumnya, tetapi
Ayla berdiri di depan jendela kantornya, menatap pemandangan Velmont City yang bermandikan cahaya malam. Di bawah sana, kota ini terus berdenyut dengan kehidupan, tetapi pikirannya terfokus pada satu hal—kehancuran Carlisle Industries.Ketukan di pintu membuatnya menoleh. Clara masuk, membawa setumpuk dokumen dengan ekspresi serius."Kau harus melihat ini," katanya sambil meletakkan berkas-berkas di meja.Ayla mengambil salah satunya dan membukanya. Matanya menyipit saat membaca."Gabriel Delgado?" gumamnya.Clara mengangguk. "Dia mulai bergerak. Beberapa investor yang sebelumnya menarik diri dari Carlisle Industries kini tampaknya beralih ke Delgado Enterprises. Dia memanfaatkan situasi ini."Ayla menggertakkan giginya. Ia tidak menyangka ada pemain lain yang ikut dalam permainan ini."Dan bukan hanya itu," lanjut Clara. "Ivy Larchmont ada di sisinya."Mata Ayla berkedip sesaat. Ivy. Wanita yang pernah menjadi bagian dari masa lalu Dimitri, dan sekarang muncul kembali di tengah kekac
Ayla menatap layar laptopnya dengan ekspresi serius. Data keuangan Carlisle Industries terbuka di depannya, menunjukkan berbagai celah yang bisa dieksploitasi. Perusahaan itu mungkin masih berdiri kokoh di permukaan, tetapi di baliknya, ada kebocoran finansial yang cukup besar."Aku bisa menghancurkan mereka dari dalam," gumamnya.Dimitri, yang berdiri di belakangnya, menyilangkan tangan. "Kau berencana menyerang langsung ke inti bisnis mereka?"Ayla mengangguk, matanya tetap fokus. "Leon dan keluarganya terlalu lama menikmati kekuasaan mereka. Jika aku bisa membuat investor mereka menarik diri, Carlisle Industries akan runtuh tanpa perlu satu pun peluru ditembakkan."Dimitri menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada kebanggaan di sana, tetapi juga sedikit kekhawatiran. "Kau semakin mirip denganku, Ayla."Ayla tersenyum tipis dan menutup laptopnya. "Mungkin aku memang harus menjadi seperti ini untuk bertahan."Malam itu, Ayla menghadiri sebuah gala bisnis di Ravenhurst, tem
Ayla menatap Dimitri dengan mata penuh tekad."Jika Gabriel ingin bermain kotor, kita harus lebih cepat darinya."Dimitri menyandarkan punggung ke kursinya, matanya meneliti setiap ekspresi Ayla. Dia selalu mengagumi kecerdasan dan keberaniannya, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda."Apa yang kau rencanakan?" tanyanya, suaranya rendah namun penuh rasa ingin tahu.Ayla menggeser foto-foto yang dikirim Gabriel ke arah Dimitri. "Dia pikir ini bisa mengintimidasi kita. Tapi yang dia lakukan hanya membuka kelemahannya sendiri."Dimitri menyipitkan mata. "Maksudmu?"Ayla tersenyum kecil, tetapi senyuman itu penuh arti. "Kalau dia bisa mengawasi kita, itu berarti kita juga bisa mengawasinya. Kita hanya perlu tahu di mana titik lemahnya."Victor, yang sejak tadi diam di sudut ruangan, akhirnya angkat bicara. "Kami sudah melacak pergerakan Gabriel. Dia lebih sering muncul di Club Inferno belakangan ini. Klub itu bukan hanya tempat hiburan
Ayla terbangun dengan sinar matahari yang menyelinap melalui tirai besar apartemennya. Tubuhnya masih terasa hangat dari pelukan Dimitri semalam, tapi pikirannya terus bekerja, menimbang apa yang akan terjadi selanjutnya.Dimitri masih tertidur di sampingnya, wajahnya terlihat jauh lebih tenang daripada biasanya. Pria itu selalu menampilkan ekspresi tajam dan penuh kendali di depan orang lain, tetapi di sini, bersamanya, ada sisi lain yang lebih manusiawi.Ayla mengangkat tangan, jemarinya hampir menyentuh wajah Dimitri sebelum akhirnya dia menariknya kembali.Dia tidak bisa membiarkan dirinya terlalu tenggelam dalam perasaan ini.Karena dunia mereka masih berbahaya.Dan keputusan yang akan ia ambil hari ini bisa mengubah segalanya.Satu jam kemudian, Ayla sudah berdiri di depan jendela besar kantornya di Reynard Holdings.Clara masuk dengan ekspresi serius, membawa beberapa dokumen."Kita sudah mengumpulkan semua data tentang Carlisle Industries," katanya. "Sejujurnya, kalau kau ingi