“Fahri, katkan dimana Qasam?” desak Qizha tak sabar.Fahri di sberang malah diam.“Fahri, kenapa kamu diam? Ayo katakan dimana Qasam?” ulang Qizha makin tak sabar.“Aku sebenarnya kesulitan mengatakan ini kepadamu melalui via telepon begini, itulah sebabnya aku minta supaya kamu menemuiku. Aku sendiri pun tidak punya banyak waktu untuk menggerakkan kendaraanku menuju ke tempatmu saat ini. klien sudah menungguku di kafe sekarang,” sebut Fahri.“Sudahlah, tidak masalah bagiku kita bicara via telepon. Kamu hanya tinggal jelaskan saja kepadaku dimana dia,” desak Qizha lagi. “Tanpa sengaja aku menabrak seseorang yang berjalan di pingir jalan, dia berkaos putih, celana jeans dan rambut tanpa minyak. Lukanya tidak begitu parah, lututnya berdarah karena terantuk aspal. Tapi dia jadi pincang. Dialah Qasam,” jelas Fahri membuat hati Qizha nyeri.“Lalu?” tanya Qizha lirih, snagat penasaran.“Aku mengajak Qasam ke dokter, namun dia menolak. Dia mengatakan kalau dia baik- baik saja. Dia
“Stop di sini, Pak!” titah Qizha pada supir taksi yang ditumpanginya.Qizha keluar dari taksi, melangkah cepat meniti gang sempit. Pandangannya mengedar ke sekeliling. Berusaha memastikan bahwa alamat yang diberikan Fahri tidak salah.Gang begitu sempit, di kiri kanan terdapat perumahan padat penduduk, sangat rapat jarak antara satu rumah kecil dengan rumah lainnya.Jemuran pakaian tergantung tak beraturan di depan rumah, banyak juga berderet di pinggir jalan.Anak-anak berlarian, ibu- ibu berdaster duduk-duduk mengerumpi. Bapak-bapak duduk di depan rumah sambil merokok dan ngopi.Orang-orang menatapnya dengan aneh.Apakah ada yang salah dengan dirinya? Tempat ini sangat asing, membuat Qizha merasa tak nyaman. Mungkinkah Qasam betah tinggal di daerah seperti ini?Qizha menganggukkan kepala seraya melempar senyum saat berpapasan dengan orang-orang di sekitar sana. Ada yang membalas sapaannya dengan senyum ramah, ada pula yang membalas dengan raut sinis.Qizha terus melangkah di
“Ini adalah suami saya, Pak,” ucap Qizha ambil menunjuk gambar di hp nya.“Ooh… Jadi itu suaminya Mbak? Kemungkinan nanti sore dia kembali kemari lagi. Soalnya biasanya begitu.”“Apa dia nggak bilang mau kemana setiap dia pergi, Pak?” tanya Qizha.“Tidak. Saya Cuma tanya kerja dimana, dia bilang tidak bekerja karena pengangguran. Jadi ya saya pikir dia mencari pekerjaan.”“Baiklah. Aku akan tunggu di sini sampai sore nanti.”“Tunggu saja di rumah. Ayo, kerumah! Istri saya ada di rumah kok,” tawar bapak itu dengan ramah.Qizha menggeleng. “Saya di sini saja, Pak.”Bapak itu terlalu baik, dia bahkan tidak mau mencari tahu alasan apa yang membuat Qasam pergi dari rumah. Tidak ada rasa kepo yang membuatnya banyak tanya. Dia berlalu pergi memasuki rumahnya.Sampai senja tiba, Qizha masih setia menunggu. Bahkan sudah dua kali ia mengikuti shalat berjamaah di masjid itu, dhuhur dan ashar, namun batang hidung Qasam belum juga muncul.Apakah Qasam pergi menghindar saat tahu Qizha me
"Aku pikir, kau tidak bisa memaafkan aku. Dan mungkin butuh waktu lama untuk membuatmu bisa memahamiku, jadi aku merasa lebih baik jauh darimu dulu. Aku juga mengira kau tak akan peduli padaku saat aku pergi dari rumah, jadi aku merasa tidak membutuhkan hp untuk menghubungi siapa pun," sambung Qasam. "Terakhir kali aku sudah tidak marah lagi sama kamu. Aku merasa kesepian. Aku ingin bertemu denganmu.""Kau sudah memaafkan aku?" tanya Qasam."Iya. Aku sudah memaafkanmu sejak kamu menjelaskan tentang Qansha kepadaku. Tapi kamu keburu pergi.""Makanya, lain kali dengarkan dulu penjelasan orang lain, apa pun bentuk kesalahannya, kau mesti mendengar penjelasannya dulu." "Maaf!" polos Qizha.Qasam menjepit hidung Qizha dengan jarinya. Membuat Qizha langsung tersenyum. "Jangan menangis lagi." Qasam mengusap air mata di pipi Qizha.Hati Qizha berdesir diusap begitu. Sebelumnya, tak pernah ia diperlakukan selembut itu oleh suaminya. Dia hanya tahu kalau suaminya adalah orang yang kasar dan
“Kamu mau tinggal di sini nggak? Rumahnya biasa saja ini,” ucap Qizha sambil memutar kunci rumah kontrakan sederhana, kecil namun bersih. “Aku dimana saja tidak masalah.” Qasam memasuki rumah, mengikuti Qizha. Tidak ada Ac di rumah itu. Hanya ada kipas angin. “Tidur di jalanan pun tidak masalah bagiku. Bukan berarti aku terbiasa hidup mewah, lantas aku akan kaget saat hidup miskin. Aku terbiasa naik gunung, tersesat di hutan, makan daun saat kelaparan, tidur di bawah pohon beralas tanah, aku minum air laut. Aku ini hobi berpetualang. Jadi tidak akan kaget saat hidup susah,” sahut Qasam dengan santai. “Baiklah, kamu mandi saja dulu. Aku ambilkan handuk ya. Ini tadi aku beli di jalan.” Qizha mengambil handuk dadi tas yang baru dibeli. Semua barang yang dia bawa adalah barang yang baru dibeli di jalan. Termasuk pakaian milik Qasam dan juga pakaian Qizha yang nantinya akan dipakai untuk sehari-hari mereka. Qizha menyerahkan handuk yang langsung disambut oleh Qasam. Pria itu langsung
“Apa kau yakin berjalan kaki? Ini bisa saja melelahkan. Kau tidak boleh kelelahan karena kau sedang hamil muda,” tutur Qasam memperingatkan Qizha. “Tidak apa-apa. Hanya berjalan ringan begini saja tidak akan membuatku keguguran. Ini rileks saja kok,” sahut Qizha dengan senyum. “Atau kau mau aku gendong?” “Hei, aku masih kuat. Kalau aku kecapekan nanti, baru aku mau minta gendong.” Qizha terkekeh. Qasam mengambil tangan Qizha dan mengalungkannya ke lengannya. Qizha tersenyum. Dengan mengenakan celana pendek selutut dipadu kaos putih, penampilan Qasam tampak sangat santai sekali. Tak akan ada seorang pun yang tahu kalau pria berpenampilan sesantai itu adalah seorang sultan. Eh tapi sekarang sultannya sedang diusir dari rumah, jadi dia sedang tidak punya apa- apa. Pandangan orang-orang di gang yang berpapasan tampak menatap mereka dengan iri. Mereka terlihat sebagai pasangan pasutri yang berbahagia, bikin hati ngiri. Wajar saja emak- emak dan para gadis pun iri melihat
“Mulutnya belepotan tuh!” Qasam mengambil tisu dan mengelap sudut bibir Qizha.“Duh, aku jadi malu. Makan bisa sampai belepotan.” Qizha tersipu. Ia mengambil alih tisu dari tangan Qasam. Lalu mengelap sekeliling mulutnya sendiri. Qasam menatap Qizha tanpa kedip, bibirnya sedikit tertarik membentuk senyum. “Mas, jangan lihatin aku begitu dong!” Qizha memalingkan wajahnya yang merah semu. Ditatap suami seintens itu membuatnya jadi salah tingkah.Qasam tidak menyahuti. Ia masih terus mengawasi wajah istrinya dan senyum kecilnya tak berubah.“Mas, ini makannya nggak habis- habis loh kalau kamu malah ngelihatin aku terus.” Qizha menempelkan telapak tangannya ke mata Qasam.Senyum Qasam makin melebar. Dia tidak menurunkan tangan Qizha, dia biarkan saja telapak tangan Qizha terus menempel di matanya. “Kita sama- sama tidak akan bisa menghabiskan makan kalau begini caranya,” tukas Qasam. “Habisnya Mas Qasam ngelihatin aku terus sih.” Qizha mneurunkan tangannya.Qasam mengali
Pagi hari, Qizha tidak menemukan Qasam di sisinya. Kemana pria itu?Qizha menggeliat sebentar setelah berdoa mengucap syukur karena saat bangun masih diberi kesempatan untuk bernapas.Qizha bangkit bangun.Begitu membuka pintu kamar, ia mencium aroma yang khas. Seperti aroma…Qizha melangkah ke dapur. Pemandangan menarik langsung menyambutnya. Qasam terlihat sedang menggoreng mie.Loh?Pria itu mengaduk- aduk mie di atas kuali.Tak lama, ia mematikan kompor, lalu menuangkan mie ke piring yang dibagi menjadi dua.“Hei, sudah bangun?” Qasam menoleh, mendapati istrinya yang berdiri di dekat meja makan dengan pandangan keheranan. Rambutnya yang lurus itu tetap terlihat rapi meski ia baru bangun tidur.“Mas, apa yang kamu lakukan? Biar aku saja.” Qizha mendekat pada Qasam ingin mengambil kuali.“Sudah sleesai. Duduklah dan makan!” Qasam meletakkan kuali ke atas kompor. Lalu duduk di kursi sambil menyodorkan mie yang telah siap saji.Qizha termenung menatap mie panas itu. warna