Qasam mendorong tubuh Qizha ke kasur, membuat wanita itu terbanting kecil di kasur empuk. Tatapan Qizha tajam pada Qasam. Dia sudah memendam kekesalan itu terlalu lama. "Aku sudah cukup kesal padamu, jangan membuatku makin kesal," tegas Qizha sambil bangkit hendak melompat turun dari kasur. "Biarkan saja kau kesal. Silakan marah." Qasam menyusul naik ke kasur, menimpa tubuh qizha cepat saat wanita itu hendak kabur. Sigap sekali Qasam menduduki paha Qizha dan memegangi kedua lengan wanita itu. Wajah Qizha di bawah tampak sangat kesal. "Kamu itu jahat, Mas. Kamu sudah hancurkan perasaanku. Kamu lumpuhkan hatiku dnegan cara ini. Kamu bahkan tidak jujur ke aku kalau Qansha ternyata masih hidup. Coba saja kamu bilang sejak awal, tentu aku tidak akan smearah ini. Kamu berduata. Kamu berbohong." Qizha menjerit kesal. "Qansha tidak mau kembali ke rumah," tegas Qasam cepat. Kening Qizha bertaut. Mulai berpikir tentang apa yang dikatakan suaminya. "Lalu, kalau Qansha tidak mau
Napas Qizha yang tersengal sudah tidak terdengar lagi. Dia mulai terlihat tenang. Wajahnya yang berpaling, kini menatap ke arah Qasam di atasnya. “Qansha memang masih hidup, tapi bukan semata- mata karena keinginanku menyembunyikannya dari mama dan papa, mengertilah! Toh Qansha sekarang hidupnya dalam keadaan terjamin, dia baik-baik saja dan aku terus menjaganya,” ucap Qasam. Prang!Sebuah gelas terjatuh, pecah. Suara gaduh itu membuat Qasam dan Qizha sontak menoleh ke sumber suara. Qasam menyingkir dari atas paha Qizha, sedangkan Qizha bangkit duduk. Tampak Habiba berdiri di ambang pintu. Dia baru saja membawa segelas monuman sehat yang sengaja dibikin dengan tangannya sendiri, berniat akan menyerahkannya kepada Qizha. Namun, tanpa sengaja ia malah mendengar pembicaraan barusan. “Apa katamu? Qansha masih hidup?” Habiba nyaris terlihat seperti patung dnegan membeku di tempat. Wajahnya memucat. Tubuhnya lemas. “Mama?” Qasam tak bisa berkata- kata.Lama Habiba terdiam, sampai akhi
Beberapa detik terdiam, akhirnya Qizha berlari mengejar Qasam keluar. Langkahnya sangat cepat sekali menuruni anak tangga. Sesekali kakinya samoai tersandung akibat terburu- butmru, bahkan sempat terhutjng hampir jatuh saat menginjak anak tangga terakhir kali dan menapakkan kaki ke lantai bawah. “Mas Qasam!” Qizha berseru memanggil suaminya. Ia terus berlari namun tak menemukan suaminya. Cepat sekali pria itu berlu pergi. Qizha melewati pintu utama, melewati teras dan berlari di halaman luas mengejar Qasam. Berharap masih bisa menemukan jejak suaminya. Sudut hatinya tak tega membiarkan suaminya pergi meninggalkannya. Kalau Qasam pergi, pria itu akan tinggal di mana? Suaminya tidak membawa uang sepeser pun. Bahkan sudah tidak ada lagi pemasukan mengingat fasilitan dan keuangannya sudah diputus. Lalu, bagaimana caranya pria itu bertahan hidup di tengah kerasnya dunia luar?Qizha memang marah pada Qasam, namun sejak Qasam menjelaskan situasi yang sebenarnya, kemarahannya memuai. H
Di meja makan itu, Qizha tak selera menyantap makan. Sebenarnya makanan yang disajikan enak sekali. Namun nafsu makannya memudar entah kemana. Ada Habiba yang juga tengah makan bersamanya. Sejak tadi keduanya membisu. Habiba fokus sekali dengan isi piringnya. Sedangkan Qizha terlalu sering menatap ke arah Habiba. Qizha sedang ancang- ancang memcari waktu yang tepat untuk bisa bicara tentang Qasam. Qizha ingin memberi pengertian pada Habiba agar bisa memaafkan dan memaklumi sikap Qasam mengingat Qizha sedang hamil dan sangay membutuhkan suami. Namun, sepertinya waktunya tidak tepat. Suasana hati Habiba sedang tidak kondusif. Bawaannya marah terus dan bersedih. Qizha harus mencari pembahasan yang tepat untuk kemudian bisa melipir membahas mengenai Qasam. “Mama sudah menemukan Qansha?” tanya Qizha. Habiba menatap Qizha. Ia menghela napas. “Tadi malam mama dan papa susah mencari kemana- mana tapi belum menemukan titik terang. Hasan sempat menemui mama dan bilang kalau Qansha disemb
Di sisi lain, Qasam menemui Qansha ke apartemen. Dia bergerak sangat cepat. “Kemasi barang seperlunya. Kau harus segera pergi dari sini!” titah Qasam.“Sudah. Semua sudah aku kemasi. Sejak istrimu datang kemari, aku sudah berniat akan pergi. Tapi tidak tahu harus kemana. Aku menghubungimu tapi nomermu tidak aktif.” “Ayo, cepat!” Qasam menggandeng Qansha dan membawanya pergi dari sana. Mereka naik taksi. Tujuan Qasam memindahkan Qansha bukan karena ingin memisahkan Habiba dangan Qansha. Melainkan ingin menunjukkan pada Qansha bahwa Qansha tidak sendirian, Qansha masih memiliki sosok yang memihaknya. Dengan begitu, Qansha tidak akan merasa sendiri, dia merasa memiliki sosok yang memihak dan mendukungnya. Suatu saat kelak, Qasam yakin kalau Qansha akan menyadari dengan sendirinya untuk bisa kembali pada Habiba tanpa harus dipaksa. Jika saja Habiba tiba-tiba datang ke apartemen dan menemui Qansha, pasti Qansha akan membenci Qizha karena beranggapan bahwa Qizha adalah orang yang mem
Setelah pencarian Habiba terhadap Qansha ke apartemen, rupanya ia tidak menemukan putrinya di sana. Hasil pencariannya nihil. Qizha pun lega atas hasil pencarian itu. Seisi rumah ini sedang sibuk dan fokus pada pencarian Qansha, tak ada yang seorang pun yang memikirkan Qizha, bahwa dia membutuhkan Qasam. Sudah satu minggu Qasam pergi dari rumah dan tidak kembali. Bukan hanya di rumah saja Qizha tidak melihat Qasam, bahkan di kantor pun, pria itu tak kelihatan. Tentu saja Qasam tak lagi muncul di kantor, pria itu sudah tidak bekerja lagi di sana. Hari itu adalah hari pertama Qizha masuk kantor. Habiba sudah membersihkan nama Qizha semenjak Qizha terbukti tidak bersalah. Habiba memberikan pengumuman di kantor bahwa tuduhan pembunuh bagi Qizha adalah kesalah pahaman. Fahri memasuki ruangan Qizha. Pria itu menarik kursi di hadapan Qizha dan duduk di sana.“Aku tidak mengerti kenapa Qasam mendadak diberhentikan dari tugasnya,” ucap Fahri secara tiba- tiba. “Ada apa sebenarnya?
Qizha menatap ke kaca jendela kamarnya. Hujan rintik- rintik di luar. Disaat gerimis begini, apa yang dilakukan Qasam? Apakah dia tidur kedinginan? sebenarnya Qasam tinggal dimana? Kenapa dia tidak menelepon Qizha? Apakah Qasam beranggapan kalau Qizha benar- benar sudah sangat marah dan tidak mau memaafkannya sehingga dia tidak mau menelepon Qizha?Hati Qizha jadi gundah. Dunia luar sangat keras. Apakah suaminya mampu bertahan dengan tanpa uang sepeser pun?Bagaimana makannya? Bagaimana tidurnya? Bagaimana pula kesehariannya?Ya, mungkin Qasam beranggapan bahwa Qizha sudah snagat marah sehingga tidak perlu lagi berkomunikasi.Qizha berjalan keluar kamar. Dia menuju ke teras samping rumah. Dia berdiri di sana, menatap gerimis yang makin lama makin deras. Angin sangat kencang memainkan baju yang dia kenakan. Jilbabnya pun berkibar bebas. Qizha memeluk lengannya sendiri. membayangkan apa yang terjadi pada suaminya di luar sana. Mungkin Qasam kehujanan, atau bahkan ked
Fara muncul membawa segelas teh hangat. Dengan senyum dia berkata, “Sialakan diminum, Non!”Qizha mengangguk, lalu meneguk separuh. “Makasih, Bi.”“Dihabiskan, Non,” bisik Fara, lalu manik matanya melirik ke arah Amira dan berbisik, “Dari pada kena sentil mami ciriwit!”Qizha tersenyum. Akhirnya meneguk sampai habis.“Mantap!” Fara mengacungkan jempol. Membawa gelas ke belakang.Qizha menatap ke arah hp nya, kemudian mengirim pesan kepada Fahri.‘Apakah sudah mendapat info tentang Mas Qasam?’Tak ada balasan. Mungkin Fahri sedang sibuk. Sebenarnya Qizha tak perlu menanyakan hal ini kepda Fahri, sebab tak mungkin Fahri diam saja jika dia sudah menemukan kabar tentang Qasam. Pasti Fahri duluan mengabari.Tak lama kemudian, Fahri membalas.‘Aku sedang usahakan. Akan aku kabari jika sudah mendapatkan informasi akurat.’“Pergilah kau ke kamar! Apa lagi yang kau tunggu? Qasam tidak akan kembali dengan kau menunggu diam di kursi begitu!” titah Amira.Qizha bangkit dari sofa, berge
Qizha bermain dengan Zein di ruang main yang sengaja di desain khusus untuk anak bermain. Di sana lengkap ada berbagai macam jenis mainan, muali dari mobil-mobilan, bola, tempat mandi bola, perosotan, bahkan permainan untuk lompat-lompatan pun ada.Qizha mengawasi dari jarak beberapa meter, duduk sambil minum jus. Di sisinya ada Arini yang selalu stand by, memberikan apa saja keperluan Qizha.Si kecil mandi bila bersana dengan baby sitter yang tak pernah lepas dari posisi Zein kemana pun pergi. Qizha menatap layar ponselnya yang menunjuk tanggal dua belas, artinya tiga hari lagi Qasam pulang. Lama sekali rasanya menghitung hari. Serindu itu ternyata Qizha pada Qasam? Qizha malu jika mengingat dirinya yang nyaris seperti orang kasmaran dan jatuh cinta. Benda pipih itu kemudian berdering, nama Qasam tertera di layar. Qasam menelepon? Qizha tersenyum senang. Ia langsung menjawab telepon dan mengucap salam.“Kenapa sudah meneleponku? Kangen?” tanya Qizha.“Ha haa… tidak. Aku sama seka
Sudah tiga minggu Qasam pergi ke Jepang sejak terakhir kali Qizha mengantarnya ke bandara, pria itu belum kembali. Kemarin mengaku hanya akan perhi selama dua minggu, tapi ternyata sudah tiga minggu berlalu, Qasam belum kembali.Qizha mengerjakan aktivitas seperti biasanya, menghabiskan waktu dengan bermain bersama Zein, putra semata wayangnya. Kini, Zein sudah tumbuh makin besar. Usianya satu tahun. Di usia sembilan bulan, Zein sudah bisa berjalan. Sekarang, bocah itu sudah bisa berlari meski belum kencang.Qizha merindukan Qasam. Pria itu memang ngangenin. Sebentar tak ketemu, rasa rindu sudah sampai ke ubun- ubun. Sikap Qasam yang setahun belakangan terlihat memuliakan wanita, membuat Qizha merasa kalau Qasam itu seperti candu. Bayangkan saja, setiap saat, Qizha selalu saja mendapat kelembutan dan perhatian khusus dari suaminya. Lalu beberapa minggu, ia harus berpisah. Tentu saja ia rindu. Qizha baru saja meletakkan tubuh Zein ke kasur tidur khusus balita, berdekatan dengan kas
Baby sitter terlihat terampil ketika memandikan Zein, bayi yang baru berusia dua minggu. Qizha mengawasi di samping baby sitter. Selama ini, Qizha sendiri yang memandikan bayinya. Baru kali ini ia mengijinkan baby sitter memandikan bayinya, itu pun diawasi olehnya.“Kamu keliahtan terbiasa memandikan bayi,” komentar Qizha.“Iya, Non. Soalnya saya khusus mengurus bayi merah kan dulu sewaktu dip anti asuhan. Dan setelah masuk yayasan, saya juga jadi baby sitter,” sahut wanita yang usianya sekitar empat puluh limaan tahun itu.“Pantesan cekatan. Sini, biar aku yang pakaikan bajunya. Baju dan peralatan untuk si kecil sudah disiapkan?” Qizha mengambil alih bayinya setelah diangkat dari bak mandi.“Sudah, Non.” Qizha melangkah keluar dan segera memasang baju bayi yang sudah disediakan. Termasuk minyak kayu putih dan bedak juga sudah disediakan. Di kamar bayi itu, aroma minyam telon menguar, harum. Arini mendampingi Qizha. Dia bertugas untuk melayani Qizha. Sedangkan baby sit
Qasam membawa air hangat kuku dari pemanas air di sudut kamar sesuai permintaan Qizha dan menyerahkannya kepada istrinya itu. “Ayo minum!”Qasam membantu mendekatkan gelas ke bibir Qizha.“Aku bisa sendiri, Mas,” ucap Qizha dan mengambil alih gelas tersebut lalu meminumnya “Terima kasih, Mas.”Pandangan Qasam kemudian tertuju ke bayi kecil yang ada di samping Qizha. Pipinya tebem, kulitnya putih kemerahan. Hidungnya mancung. Menggemaskan dan lucu sekali. Ini adalah hari pertama Qizha dibawa pulang ke rumah setelah menjalani perawatan selama tiga hari di rumah sakit. Padahal sebenarnya di hari kedua Qizha sudah diijinkan pulang karena kondisinya sehat dan baik-baik saja, namun seperti biasa, Qasam melarang Qizha pulang dan dia diminta untuk dirawat di rumah sakit dengan pantauan dokter. Rumah sakit milik ayahnya, jadi mudah saja baginya mengatur kondisi di rumah sakit.Bahkan, kini Qasam meminta dokter keluarga untuk mengecek kondisi ibu dan bayi ke rumah di tiga hari perta
“Pinggangku sakit banget, Mas!” ucap Qizha sambil memegangi pinggang. Mulutnya meringis. Sebenarnya sudah sejak di perjalanan tadi Qizha merasakan ngilu, namun ia menahannya karena rasa ngilu itu datang dan hilang begitu saja. dia mengira hal itu biasa terjadi seiring kehamilannya yang semakin membesar.Namun, kini rasa ngilu itu makin parah, hampir setiap lima belas menit sekali muncul dan rasanya melilit sampai ke perut bagian bawah. Habiba memegang perut Qizha, rasanya keras menggumpal ke satu titik. Kemudian gumpalan keras itu bergerak menuju ke titik lain. Begitu seterusnya.“Ini Qizha sudah mau melahirkan. Ayo cepat bawa ke rumah sakit,” seru Habiba, membuat Qasam langsung gerak cepat menggendong tubuh Qizha dan membawanya ke mobil.Supir menyetir dnegan kelajuan tinggi mendengar suara ritihan Qizha di belakang. Qasam menggenggam tangan Qizha sambil terus mengatakan kata-kata motifasi.Qizha berkeringat, mukanya makin memucat, lemas sekali. Sesekali meringis menahan s
Semenjak Qizha tahu kalau Sina rujuk dengan Arsen, ia menjadi jauh lebih lega. Kini adiknya itu sudah ada yang menanggung jawabi. Hidupnya tidak lagi mengenaskan, Qizha pun tak perlu mencemaskan keadaannya lagi. Sina kini tinggal bersama sang suami. Setelah balitanya keluar dari rumah sakit, Sina mengunjungi rumah Qasam, menemui Qizha dan Qasam untuk mengucapkan rasa terima kasih. Arsen pun menunjukkan sikap layaknya sebagai saudara ipar. Qizha memberikan beberapa helai pakaian dan jilbab baru kepada Sina seperti yang dia janjikan. Qasam pun mulai membuka hati pada Sina. Dia tidak ketus lagi melihat sikap Sina yang jelas sudah jauh berubah. Penampilan Sina pun sudah tidak lusuh lagi seperti saat dia menjanda. Sepeninggalan Sina dan Arsen, tinggal lah Qizha dan Qasam yang duduk di ruang tamu berdua. “Mas, kamu udah nggak benci lagi sama Sina, kan?” tanya Qizha sambil.memegang tangan suaminya.“Tidak.” Tatapan Qasam tertuju pada mata bulat istrinya yang menggemaskan. “Dia seperti
Qizha menatap ekspresi wajah adik tirinya yang tak pernah dia lihat selama ini, wajah itu tampak jajh lebih menyedihkan, penuh penyesalan, dan tatapan iba. Ini adalah pemandangan pertama kalinya. Wajah Sina benar-benar tampak sangat mengenaskan. Bahkan tampilannya pun berbada, dia memakai kerudung untuk menutup auratnya. Apakah ini adalah awal bagi Sina untuk taubat? Dari mata adiknya, Qizha tidak melihat dendam dan tatapan kebencian seperti dulu. Setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.Qizha meraih pundak Sina. “Bawa anakmu ke rumah sakit sekarang. Aku akan mengantarmu.”Sina mengangguk dengan senyum dan air matanya langsung berurai. “Iya, Kak. Makasih.”***Di rumah sakit itu, Qizha dan Sina duduk di depan balita yang terbujur dengan selang infus menusuk di kaki. Si kecil tidur pulas. Qizha didampingi oleh Arini, asisten rumah tangga yang satu itu tak diijinkan jauh dari Qizha. Selalu diminta Qasam untuk mendampingi Qizha. Wajah Sina yang tadinya murung, kini
“Mas, becandanya nggak lucu. Masak ngintip sih?” tanya Qizha yang tak terima suaminya mengucapkan kata-kata konyol tadi. “Ya, kalau aku lagi nganu sama kamu kan itu kepala bawah lagi ngintip ke dalam. He hee…” Qasam makin konyol. Ia kembali mengelus permukaan perut Qizha. Ia merasakan sensasi saat janin di dalam bergerak-gerak. “Dia bergerak. Setiap kali aku memancing dengan elusan, pasti dia bergerak-gerak.” Qasam tersenyum.“Iya, kalau ada pancingan dari luar, bayi kita pasti merespon. Dia tahu ada yang perhatian kepadanya.”“Tendangannya makin hari makin kuat.”“Namanya juga sudah sembilan bulan. Tinggal menunggu hari, ya tentu makin kuat dong.”“Hah? Sudah sembilan bulan?” Qasam kaget. “Cepat sekali rasanya? Aku bakalam punya anak nih sebentar lagi?”Qizha tersenyum. “Kamu kok jam segini udah pulang, Mas? Biasanya pulangnya agak malam atau lebih sore. Ini baru jam tiga sore loh.”“Aku kangen sama kamu, makanya cepet- cepet pulang.”“Sekarang sudah mulai bisa gombalin ya? Receh l
Tujuh bulan sudah berlalu. Kini Qizha menghabiskan waktu di rumah saja, menikmati kehamilannya yang sudah membuncit. Dia menghabsikan waktu dengan berjalan santai di sekitar rumah. Pemandangan di sekitar rumah besar yang dikelilingi pagar beton setinggi dua meter itu sangat asri. Ada banyak tanaman hijau yang menyejukkan mata, pancuran air pun ada. Qizha ditemani asisten rumah tangga yang setia mengikutinya. Menyediakan apa saja keperluannya. Ah, Qizha benar-benar merasa speerti ratu. Iya, diratukan oleh suaminya.Saat bosan, Qizha pergi ke salon. Menikmati creambath dan berbagai jenis perawatan lainnya.Qizha juga sesekali jalan-jalan ke mall untuk melihat-lihat suasana baru. Dikawal oleh asisten rumah tangga yang ditugaskan menemani. Namanya Arini, asisten rumah tangga yang sopan dan ramah. Dia melayani Qizha mulai dari A sampai Z. dia hafal kapan Qizha harus makan, minum susu, makan buah, dan minum jus. Dia juga mengambilkan handuk saat Qizha mau mandi, menyiapkan p