Share

Bab 3

Author: Miss Secret
last update Last Updated: 2024-09-07 07:34:15

Sejak saat itu, selama dua kali dalam satu minggu, Mr Alex memberikan jam tambahan untukku. Meskipun, jam tambahan itu dilakukan di sekolah, dan hanya membahas pelajaran, tapi tak mengapa. Yang terpenting aku bisa berduaan dengannya.

Tentunya aku sangat bahagia. Tidak ada seorang pun siswa lain yang mengganggu kami. Ya, logika saja, pelajaran fisika, bukan pelajaran yang disukai oleh para siswa. Jadi, wajar jika mereka tidak mau dengan sengaja mengikuti tambahan tanpa diminta.

Pertemuan, serta interaksi yang cukup intens itu akhirnya membuat kami dekat. Aku sudah tidak lagi merasa canggung, dan salah tingkah di dekatnya.

Selain itu, aku juga tidak ingin pelajaran tambahan ini berakhir. Jadi, aku sengaja bersikap tidak terlalu pintar di depan Mr Alex. Aku selalu berpura-pura menanyakan sesuatu bagian yang sebenarnya cukup aku mengerti.

Memang aku sadar, aku salah. Tidak seharusnya aku jatuh cinta, dan membiarkan perasaan ini tumbuh pada laki-laki yang sudah beristri. Namun, terkadang hati memang sangat sulit dikendalikan.

Begitu pula, rasa cinta ini. Cinta memang buta, dan sering kali tak berlogika. Cinta begitu egois, dan tak mampu memilih pada siapa akan berlabuh.

"Bagaimana, sudah selesai?" Suara bariton itu menyentak lamunanku.

"Oh sudah ini, Pak."

Aku menyerahkan latihan soal yang Mr Alex berikan. Lelaki itu tampak menatap kertas itu sejenak, memeriksa hasil pekerjaanku. Lalu, setelah itu senyum manis pun tersungging di bibirnya. Senyum yang sangat manis hingga membuat hati ini terasa meleleh.

"Bagus, perkembangan kamu cukup bagus, Kanaya. Semoga ujian semester ini nilaimu meningkat."

"Terima kasih atas bimbingannya, Mr Alex."

"Sama-sama, kalau begitu kau boleh pulang sekarang."

Aku pun mengangguk, tapi entah mengapa rasanya masih enggan aku beranjak dari tempat ini. Aku pun mulai membuka percakapan kembali dengan Mr Alex yang sedang merapikan buku-buku ke dalam tasnya.

"Sepertinya Mr Alex sedang terburu-buru. Apa Mr Alex akan mengambil tambahan libur untuk merayakan Chinese New Year ke Tiongkok?" Aku berani bertanya seperti itu, karena aku tahu, Mr Alex, sebenarnya adalah pendatang.

Mr Alex menggelengkan kepala. "Tidak, aku sedang banyak pekerjaan. Jadi, aku tetap di sini, tapi istriku akan pulang ke kampung halaman kami selama satu pekan."

Bibirku pun membulat sembari menganggukkan kepala. "Ini sudah sore, ayo cepat pulang."

Aku kembali mengangguk, lalu mengikuti Mr Alex keluar dari ruang kelas kami, tempat biasanya aku mendapatkan tambahan jam pelajaran.

"Mr Alex, hati-hati."

"Terima kasih, Kanaya. Jangan lupa belajar. Kalau kau kesulitan, jangan sungkan untuk bertanya."

"Iya, terima kasih kembali Mr Alex," jawabku sambil sedikit membungkukkan badan. Lalu, menatap punggung Mr Alex yang berjalan menjauh dariku.

"Istrinya sedang pergi ke Tiongkok?" gumamku lirih, seolah sedang memikirkan rencana lain di otakku. Lalu, buru-buru aku menepis semua itu.

"Ngga boleh nakal Kanaya."

****

Beberapa Hari Kemudian.

Libur Chinese New Year pun tiba. Sekolah kami libur, siswa sekolahku yang sebagian besar warga keturunan memilih untuk pulang dari asrama.

Begitu pula dengan teman sekamarku yang berisi tiga orang, salah satunya pulang ke rumahnya untuk merayakan bersama keluarga. Sedangkan, Cecil sedang menginap di hotel bersama keluarganya, yang kebetulan sedang berlibur ke Singapura.

Beberapa kali aku menghubungi Papa, dan Mama untuk mengunjungiku ke Singapura, tapi tampaknya mereka sedang sibuk.

Papa Alan, tentu sana sibuk dengan bisnisnya. Sedangkan Mama Arumi, kini menjadi seorang influencer yang terkenal.

Sejujurnya aku pun bangga tiap kali memperlihatkan Mama pada teman-temanku. Mereka yang tak tahu jika aku ini anak angkat, akan memuji kami berdua yang memiliki wajah rupawan.

"Pantes aja kamu cantik banget, Naya. Mama kamu juga cantik banget." Aku pun hanya tersenyum mendengar pujian itu.

Akan tetapi, siang ini, aku merasa begitu kesepian. Di dalam kamar sepi ini, aku sendiri. Tak sanggup larut dalam kesepian yang membelenggu, akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan keluar. Suasana hari ini begitu ramai, dan penuh pernak-pernik berwarna merah.

Setelah lelah berjalan-jalan, aku memutuskan membeli makanan untuk makan malam. Aku sengaja ingin makan malam di asrama saja. Rasanya enggan makan di luar dalam suasana seramai ini.

Ketika sedang asyik memilih makanan, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara seorang yang cukup kukenal.

"Kanaya ...!" Rasanya seperti mimpi mendengar suara itu, tapi ketika aku mencubit tangan, ternyata sakit.

"Kanaya ...!" Panggilan itu pun kembali terdengar, dan membuatku menoleh.

"Oh Mr Alex ... selamat malam."

"Selamat malam, kamu sendiri?" tanya Mr Alex kembali. Lalu kujawab dengan anggukan.

"Teman sekamar saya sedang berlibur dengan keluarganya."

Kening Mr Alex seketika berkerut. "Sendirian? Bagaimana kalau kau makan malam di tempatku saja?"

Mendengar tawaran Mr Alex, ingin rasanya aku memekik girang. Namun, aku mencoba untuk jual mahal.

"Tidak usah takut merepotkan."

"Tidak apa-apa Kanaya, aku sudah membeli banyak makanan, sepertinya tidak habis kumakan sendiri. Ayo ikut!"

Aku pun mengangguk, sembari berteriak girang di dalam hati. Kapan lagi bisa makan berdua dengan Mr Alex. Meskipun dia menganggapku sebagai muridnya, aku tak peduli. Yang terpenting aku bisa berduaan dengannya.

Tak berapa lama, kami pun sampai di apartemennya. Apartemen itu cukup mewah. Aku bahkan tak menyangka jika Mr Alex tinggal di tempat semewah ini.

"Selain menjadi guru, aku juga usaha jual beli properti." Mr Alex sepertinya paham dengan raut wajah kekagumanku.

"Duduk sini, Kanaya!" perintah Mr Alex, memintaku agar duduk di meja makannya. Aku pun menuruti perintahnya. Kami kemudian duduk di meja makan, menyantap makanan yang tadi dibeli oleh Mr Alex.

Makan malam ini, diiringi dengan obrolan santai, dan juga candaan. Aku tak menyangka jika ternyata Mr Alex cukup humoris. Aku sengaja memperlambat waktu makanku, agar bisa lebih lama berduaan dengan Mr Alex.

Akan tetapi, ternyata hal tersebut membuat aku kekenyangan. Aku ternyata makan terlalu banyak yang membuat perutku sakit.

"Kamu kenapa, Kanaya?" tanya Mr Alex ketika melihatku memegang perut. Namun, aku tak menjawab. Rasanya sulit sekali untuk bersuara.

"Kau kenapa, Kanaya?"

"Perutku sakit Mr Alex, mungkin kekenyangan," jawabku sambil meringis.

"Kalau begitu kita duduk di sofa dulu ya." Aku pun mengangguk. Lalu, Mr Alex menuntunku berjalan ke arah sofa. Jarak kami yang cukup dekat, membuat tubuh ini bergetar, disertai degup jantung yang kian kencang tak beraturan. Apalagi, wangi parfum masukin Mr Alex yang membuatku kian terintimidasi dalam pesonanya.

"Gimana?" Mr Alex membantuku merebahkan tubuh di atas sofa bed yang ada di ruang tengah apartemennya.

"Masih sakit."

"Mau kuantar ke rumah sakit?" sahut Mr Alex, disertai raut wajah cemas.

"Tidak usah, di sini saja. Sebentar lagi juga sembuh."

"Tapi ...."

"Tidak Mr, emh begini saja. Apa di sini ada minyak aromaterapi? Kalau boleh, aku minta minyak aromaterapi saja, agar perutku hangat."

"Ada, sebentar ya." Mr Alex pun bangkit dari sofa, untuk mengambil minyak aromaterapi. Setelah itu, dia kembali duduk di sampingku.

"Mr, bisa nggak gosokin di perut? Kalau lagi sakit, tanganku kram."

Mr Alex sebenarnya cukup terkejut mendengar permintaanku, tapi dia tak kuasa menolak permintaanku. Apalagi setelah melihat wajahku yang cukup pucat.

"Emh, baiklah. Aku akan menggosok perutmu," jawab Mr Alex dengan sedikit gugup.

Aku pun menarik bajuku sedikit ke atas. Membuat perut putih mulus yang terlihat begitu menggoda terekspos begitu saja terpampang di depan Mr Alex.

Detik itu juga, dapat kulihat jakunnya naik turun, seperti menahan sesuatu yang bergejolak.

Aku tahu Mr Alex pasti gugup, dan ragu. Namun, perlahan Mr Alex tetap mengoleskan minyak aromaterapi yang ada di tangannya ke perutku.

Dia pun mulai memijit perutku secara perlahan, hingga dua gunung kembarku mulai sedikit mengintip. Bagaimana juga Mr Alex adalah seorang lelaki dewasa.

Aku yakin, melihatku pasti membuat hasratnya sebagai laki-laki mulai bergejolak. Apalagi, aku kini mulai mengeluarkan suara rintihan yang kian menggugah gairahnya.

Mr Alex masih memijit perutku sembari mengalihkan pandangannya. Namun, akibat hal tersebut, tangan Mr Alex kini tanpa sengaja mengenai gunung kembar milikku.

Aku yang tak menyangka jika hal itu akan terjadi tentunya reflek mengeluarkan desahannya yang kemungkinan membuat Mr Alex, seketika meremas benda kenyal milikku, dan entah kenapa aku menikmati itu. Bahkan, aku menginginkan hal lebih.

Aku tahu aku salah, sudah menggoda seorang laki-laki beristri. Namun, setan di sampingku seolah terus berbisik agar terus melanjutkan kekhilafan yang kami lakukan.

Akan tetapi, gejolak itu sepertinya tidak saja dirasakan olehku. Mr Alex juga sepertinya sudah tak bisa mengendalikan nafsunya. Perlahan dia pun mulai terpancing.

Tangannya kirinya kian keras meremas benda kenyal milikku. Sedangkan tangan kanannya, membuka satu per satu kancing kemeja yang kukenakan.

"Mr Alex ...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 4

    Tiba-tiba gerakan Mr Alex terhenti ketika mendengar suara ponselnya yang berdering. "Astaga ...!" pekiknya, saat menyadari apa yang dia lakukan denganku. Laki-laki dewasa itu pun menarik tangannya dan, menjauh dariku. "Kanaya, maaf ...."Mr Alex mengusap wajahnya dengan kasar sembari menghembuskan napas berat. Dia tampak begitu menyesal dengan apa yang telah dia lakukan. Lebih tepatnya, dengan apa yang kami lakukan."Kanaya maaf ..." Permintaan maaf itu kembali terucap, dan justru membuatku merasa sungkan."Mr Alex, aku juga minta maaf. Aku juga tidak berniat melakukan semua ini pada Anda. Aku tidak sengaja tadi ....""Ya, aku tahu. Kita sama-sama khilaf," potong Mr Alex, ketika aku juga beralibi pada kata khilaf untuk menutup rasa maluku."Mr, sekali lagi maafkan aku. Aku harus pulang sekarang juga." Aku bangkit dari atas sofa, tak mau berlama-lama lagi di tempat ini yang justru semakin membuatku begitu salah tingkah.Di saat itulah, ponsel Mr Alex kembali berdering. Lalu, dia ber

    Last Updated : 2024-09-07
  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 5

    KEESOKAN HARINYA ....Saat ini, aku duduk di ruang tunggu bandara sembari menatap langit pagi ini yang terlihat begitu cerah. Aku memang akan kembali ke Indonesian dengan penerbangan pagi.Ketika sedang asyik melamun, ingatanku kembali tertuju pada kejadian tadi malam tatkala Mr Alex, tiba-tiba berada di toilet, dan menyuruhku untuk menemuinya di ruang kerjanya.Akan tetapi, aku mengabaikan permintaan lelaki dewasa itu. Aku memilih bergegas pulang, dan menghindar darinya. Sungguh, aku tak lagi peduli, dengan apa yang akan dia katakan. Aku memilih pulang, meskipun, pesta perpisahan itu belum usai. Sejujurnya, aku pun tak terlalu nyaman di tengah keramaian pesta. Selain itu, selama aku bersekolah di sana, aku juga tidak banyak memiliki teman. Jadi, perpisahan ini, terasa biasa saja.Kuakui, aku tidak memiliki kenangan yang mendalam di sana. Satu-satunya kenangan yang membekas di hatiku, adalah kisah cintaku yang bertepuk sebelah tangan pada Mr Alex. Namun, aku juga sadar, mencintai seo

    Last Updated : 2024-09-16
  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 6

    "Maaf, Maaf untuk apa Kanaya?" tanya Mama Arumi, yang cukup terkejut mendengar permintaan maaf dariku.Aku pun menarik kedua sudut bibir, menyunggingkan senyum manis. Bersikap seolah, semuanya baik-baik saja. Ya, seharusnya begitu. Seharusnya semua memang baik-baik saja kalau aku tidak memulai perasaan konyol ini."Aku minta maaf nggak jadi nglanjutin kuliah di Singapore. Aku minta maaf, udah ngecewain Papa sama Mama."Mama pun tersenyum simpul, lalu mencubit pipiku gemas. "Kamu ini ada-ada aja deh. Mama sama Papa, 'kan cuma kasih saran. Selanjutnya, itu tergantung kamu. Kalau kamu nggak nyaman hidup sendiri, ngapain dilanjutin?"Jawaban bijak Mama, membuatku merasa tenang. Memang aku merasa bersalah tidak mengikuti permintaan mereka untuk melanjutkan study di Singapore. Namun, sebenarnya tujuan utama aku meminta maaf, bukan untuk itu. Aku meminta maaf, karena diam-diam mengagumi Papa Alan."Makasih ya, Ma. Mama tetap yang terbaik.""Udah, hal kaya gitu nggak usah dipikirin. Sekarang,

    Last Updated : 2024-09-27
  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 7

    "Kanaya ...." Mendengar suara Papa, aku pun seketika menarik tangan ini dari wajah tampannya."Oh-eh, emh. Maaf Pa, tadi ada sisa makanan di pipi Papa," jawabku gugup, sembari merutuki kebodohanku, yang sudah begitu lancang, menyentuh wajah tampan itu. "Ada sisa makanan?" Papa tampak mengibaskan tangan di pipinya. Dia percaya dengan jawaban bohongku. "Sekarang udah bersih?" tanya Papa kembali, beberapa saat kemudian. Aku pun mengangguk, sembari mengulum senyum melihat tingkahnya."Kalau begitu teruskan, Naya.""Teruskan? Teruskan apanya?" sahutku, tak mengerti dengan maksud Papa."Merapikan dasiku. Kamu belum selesai merapikan dasi Papa, 'kan?""Oh iya."Aku pun merapikan kembali dasi yang dikenakan oleh Papa. Meskipun aku cukup gugup, karena jarak kami yang begitu dekat, tapi aku mencoba untuk tetap terlihat tenang.Akan tetapi, semakin lama, sepertinya bola mata itu tak henti memandangku. Namun, aku harus menyadari, mungkin saja aku yang terlalu percaya diri. Papa memang sedang me

    Last Updated : 2024-09-27
  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 8

    "Pa, ini aku Kanaya!" Aku mencoba menyadarkan Papa. Kuakui, aku memang menyukai Papa, tapi malam ini, sungguh aku sama sekali tidak berniat untuk menggodanya. Aroma alkohol yang terasa begitu menyengat, membuatku sadar jika Papa sedang dalam pengaruh minuman memabukkan tersebut. "Pa ...!"Tepat di saat itulah, lampu pun menyala. Papa yang sudah kembali pada kewarasan setelah mendengar teguranku, seketika bangkit, ketika menyadari jika tubuhnya menindih tubuhku."Maaf Kanaya ...." Papa mengusap wajahnya dengan kasar, sambil menggelengkan kepala. Aku hanya mengangguk, merasakan d'javu dengan kejadian ini. Keadaan seperti ini, benar-benar pernah aku alami ketika bersama Mr Alex."Lampunya udah nyala. Mama belum pulang, sebaiknya Papa temenin Kenan aja. Kalau ujan gede kaya gini, Kenan juga biasanya takut 'kan?" Aku sengaja memotong pembicaraan Papa, agar tak lagi merasa canggung dengan apa yang telah terjadi."Iya, Papa temenin Kenan dulu."Aku pun mengangguk, lalu menatap laki-laki d

    Last Updated : 2024-09-27
  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 9

    "Mama ...!" pekik Kenan, yang kebetulan baru saja selesai sarapan.Papa pun ikut menoleh, dan tersenyum pada istrinya. Sedangkan aku, entah mengapa, untuk kali ini aku tidak terlalu antusias dengan kedatangan Mama. Namun, aku buru-buru menepis semua itu.Mama adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku. Meskipun, saat itu aku masih kecil. Aku masih cukup mengingat jika Mama adalah orang yang bersikeras membawaku bersamanya. Jika tidak, aku tidak mungkin bisa mendapatkan kehidupan seperti ini. Atau bahkan, aku masih terlunta-lunta di jalan. "Kalian lagi sarapan?" "Baru aja selesai, Ma." Kali ini, aku yang menjawab. Karena Papa, sedang menyesap kopi-nya, begitu pula dengan Kenan yang sedang menghabiskan segelas susu."Iya Ma, sarapannya enak banget. Kak Kanaya yang bikin," timpal Kenan, setelah meminum susunya. Mama pun mengalihkan pandangannya padaku. "Anak gadis mama, sekarang udah pinter masak ya? Bisa-bisa Mama kalah nih sama kamu." Aku hanya meringis mendengar perkataan Mama

    Last Updated : 2024-09-28
  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 10

    "Oh itu, tadi Kenan rewel banget minta balik ke sini. Jadi, Mama nggak sempat milih barang satupun deh!" Aku hanya mengangguk mendengar jawaban Mama. Padahal, tadi cukup lama mereka meninggalkan kami. Namun, Mama bilang belum sempat memilih apapun. Aku menghela napas, menyadari sifat Mama yang tak pernah berubah. Mama memang perfeksionis dalam segala hal. Jadi, bisa dimaklumi jika dia cukup lama jika mempertimbangkan untuk membeli barang. Bisa dibilang, dia begitu pemilih."Kanaya, kamu udah mutusin mau kuliah di mana?" tanya Mama, beberapa saat kemudian. "Emh kalo Naya, ambil kuliah ke Ausie boleh nggak, Ma?" sahutku dengan ragu.Mama yang saat itu sedang menyendokkan makanan pun menghentikan aktivitasnya. Lalu, menatapku sembari mengernyitkan kening."Ke Ausie? Bukannya kamu pulang karena nggak bisa jauh dari kami? Kenapa tiba-tiba kamu malah mau kuliah lagi di luar negeri?""Oh itu, aku mau coba hal-hal baru, Ma. Niatnya kalo kuliah di sana, aku mau sambil magang," jawabku gugup

    Last Updated : 2024-09-28
  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 11

    "Kanaya ...."Bisikan yang mengudara lirih di telingaku, seketika membuat bulu kudukku meremang. Terpaan napas hangat, di kulitku seakan ikut menjalar menyentuh kalbu. Aku yang sudah terlelap, sontak membuka mata."Kanaya ...." Baru saja mata ini terbuka, netraku menangkap sosok laki-laki dewasa yang kini duduk di tepi ranjang tempat tidurku."Papa ...?" gumamku lirih, sembari mengernyitkan kening. Tak mengerti mengapa Papa tiba-tiba ada di kamar ini. Sebenarnya, apa yang sedang dilakukan Papa, aku pun tak dapat menerka.Padahal, tadi ketika di kantor aku begitu kesal padanya. Hingga berbagai pikiran buruk pun bersarang di dalam benakku. Bahkan, aku pergi dengan acuh, dan pamit sekedarnya, saat Chyntia menawarkan minuman.Aku tak peduli pada Papa, dan sekretaris centilnya itu. Aku memang marah. Ya, aku benar-benar marah, dan juga ... cemburu.'Apa Papa mau minta maaf padaku?' batinku dalam hati. "Pa ...." Aku kembali menyebut namanya. Namun, dia hanya diam, sembari menyunggingkan sen

    Last Updated : 2024-09-28

Latest chapter

  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 243

    Rain melirik Arumi, kekasihnya, yang tampak sendu saat menatap prosesi akad nikah Alan dan Kanaya. Tatapan wanita itu kosong, seolah pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Rain mengeratkan genggamannya di tangan Arumi, mencoba mengalirkan kehangatan, tetapi Arumi tetap terpaku.Alan, mantan suami Arumi, duduk dengan tenang di seberang mereka, mengucapkan ijab kabul dengan suara mantap. Setiap kata yang keluar dari bibir pria itu seperti bilah pisau yang mengiris perasaan Arumi. Rain bisa merasakan tarikan napas berat dari kekasihnya, seolah dia sedang berjuang keras menahan sesuatu di dalam hatinya.Rain tahu, meski kini Arumi adalah miliknya, ada bagian dari hati wanita itu yang masih berdamai dengan luka lama, dan di momen ini, Rain yakin, luka itu kembali menganga.Wanita itu masih terpaku menatap prosesi akad nikah Alan dan Kanaya. Wajahnya terlihat tenang, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang sulit diartikan.Perlahan, Rain meraih tangan Arumi, menggenggamnya dengan lembut

  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 242

    Pagi ini, mentari bersinar lembut, menyapa dengan kehangatan yang membalut langit dalam semburat jingga keemasan. Angin sepoi-sepoi berbisik di antara dedaunan, menyertai aroma bunga-bunga segar yang menghiasi pelataran rumah besar tempat pernikahan Kanaya berlangsung.Kanaya baru saja selesai dirias. Wajahnya tampak begitu cantik dengan balutan make-up pernikahan yang sempurna. Dia menatap bayangannya di cermin, mengagumi bagaimana setiap detail dirancang untuk hari istimewanya. Jemarinya perlahan merapikan gaun yang membalut tubuhnya, memastikan segalanya tampak sempurna.Senyum manisnya merekah seperti mawar yang baru bermekaran. Matanya berbinar, mencerminkan harapan dan kebahagiaan yang memenuhi hatinya. Hari ini adalah awal dari babak baru dalam hidupnya, dan dia siap melangkah dengan penuh keyakinan.Saat ini, gadis itu berdiri di depan cermin dengan gaun pengantinnya yang anggun. Jemarinya sedikit gemetar saat merapikan kerudung yang menjuntai indah. Dia menatap bayangannya de

  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 241

    Di sudut taman rumah sakit jiwa, di bawah pohon kamboja yang bunganya mulai berguguran, seorang wanita tua duduk sendiri di bangku besi yang mulai berkarat.Rambutnya kusut, sebagian telah memutih, dan gaun lusuh yang dia kenakan tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang semakin kurus. Namun, ada sesuatu yang menenangkan dalam caranya duduk, tenang, dan anggun, seolah dunia yang dulu pernah menghancurkannya kini tak lagi punya kuasa atasnya.Dia tersenyum, senyum yang bukan dibuat-buat. Senyum yang bukan karena bahagia, tetapi karena menerima. Matanya kosong, tapi di kedalaman sorotnya, ada sesuatu yang sulit dijelaskan—keikhlasan. Seakan semua luka, semua kepedihan yang pernah membawanya ke tempat ini, telah dia genggam, lalu dia lepaskan dengan ringan.Angin sore berembus lembut, mengayun ujung selendangnya yang lusuh. Beberapa pasien lain berjalan mondar-mandir di taman itu, beberapa berbicara sendiri, beberapa hanya diam seperti patung. Namun, Bu Dahlia berbeda, dia tidak berbicara

  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 240

    Hujan turun dengan lembut, membasahi dedaunan di halaman rumah Rain. Hawa dingin menyusup melalui celah jendela, menciptakan suasana sendu yang seolah menggambarkan isi hatinya.Sudah beberapa hari sejak Arumi kembali, kepulangannya tidak seperti yang diharapkan Rain. Wanita yang dia cintai selalu berdiri di depannya dengan tatapan kosong, tak lagi mengenalnya, tak lagi mengingat kisah mereka. Yang lebih menyakitkan, ingatan yang tersisa justru tentang pria lain, mantan suaminya, Alan.Hal tersebut, membuat Rain ragu untuk menemui Arumi, dan beberapa hari terakhir, dia memilih tak datang ke rumah kekasihnya. Padahal Arumi sudah menunggunya. Malam itu, Arumi pun memutuskan untuk datang ke rumah Rain. Gadis itu berdiri di ambang pintu, mengetuk pelan pintu rumah tersebut. Lalu, tak berapa lama, pintu itu pun terbuka, dan Bu Hani berdiri di depannya."Selamat malam, Bu.""Oh Arumi, ayo masuk, Nak." Bu Hani menyuruh Arumi masuk ke dalam rumah dengan lembut, sambil memperhatikan wajah ga

  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 239

    Arumi menatap secangkir cappuccino di hadapannya, uap hangat mengepul pelan, seolah menari di udara. Namun, pikirannya jauh lebih dingin dan berkabut daripada minuman itu. Di depannya, Kanaya duduk dengan tenang, sesekali mengaduk minumannya tanpa benar-benar meminumnya."Jadi ...." Arumi membuka suara, suaranya terdengar ragu. "Apa aku benar-benar mencintainya?"Kanaya mengangkat wajahnya, menatap kakak tirinya dengan sorot lembut tapi penuh berhati-hati. "Yang aku tahu, kalian sudah menjalin hubungan cukup lama. Kalau tentang bagaimana perasaanmu padanya, aku nggak tahu."Arumi mengangguk pelan, mencoba mencerna kata-kata itu. Kekasih, kata itu terdengar begitu asing. Dia menggigit bibir, menatap jemarinya sendiri yang menggenggam sendok kecil. "Tapi, aku sama sekali nggak ingat sedikitpun tentang dia. Bahkan, saat berada di sampingnya tak ada sama sekali getaran layaknya orang jatuh cinta."Kanaya menghela napas. "Itu wajar. Amnesiamu membuatmu melupakan banyak hal. Tapi Rain ....

  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 238

    Arumi terdiam di dalam mobil yang berhenti di depan rumah megah itu, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Udara dingin menusuk kulitnya, tetapi bukan itu yang membuatnya gemetar, melainkan ketakutan yang mencengkeram hatinya. Setelah sekian lama, akhirnya dia memberanikan diri datang ke rumah mantan mertuanya, tempat Kenan kini tinggal.Di sampingnya, Kanaya menyentuh lengannya pelan. “Kak, kalau belum siap, kita bisa balik,” bisiknya, suaranya lembut tapi penuh dukungan. Kayana mengatakan itu bukannya tanpa alasan, karena pesan yang dikirimkan Alan pun terlihat ambigu.Alan tak mengatakan Kenan mau bertemu dengan Arumi atau tidak, hanya menyuruh mereka untuk datang.Arumi menghela napas panjang. “Aku harus melakukan ini, Nay. Aku sudah terlalu lama membiarkan jarak di antara kami.”Kanaya mengangguk, meski dia tahu ini tidak akan mudah. Dia tahu, Kenan, yang selama ini menyimpan luka dan kebencian, mungkin tidak akan menerima Arumi begitu saja dengan mudah.Keduanya pun turun dari

  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 237

    Alan dan Bu Sinta duduk berhadapan dengan Kenan di ruang tengah. Wajah mereka penuh harap, sementara Kenan menundukkan kepala, tangannya erat menggenggam mobil-mobilan birunya.“Mama mau ketemu kamu, Kenan.”Suara Bu Sinta terdengar lembut, seolah takut membuatnya marah. Namun, Kenan menggeleng cepat. “Nggak mau.”Anak itu masih menolak, meskipun sudah lama dia tak bertemu dengan Arumi. Alan sebenarnya paham, memang hal tersebut membuat luka yang besar di dalam hati. Kejadian itu memang sudah lama berlalu, tapi Kenan masih ingat malam itu, di mana dia melihat Arumi bermesraan dengan pria lain yang bukan ayahnya. Meskipun sebenarnya laki-laki itu adalah ayah kandungnya sendiri. Namun, Kenan tak mengetahui itu, yang Kenan tahu, ayah kandungnya hanyalah Alan.Sejak saat itu, Arumi menjadi sesuatu yang asing baginya. Kenan seolah membuat jauh-jauh wanita itu dalam hidupnya.“Tapi, Kenan. Mama Arumi kangen sama kamu,” bujuk Bu Sinta lagi. Meskipun Bu Sinta tak terlalu menyukai Arumi. Nam

  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 236

    Di dalam kamar milik Arumi yang berwarna pastel dengan pencahayaan temaram dari lampu meja, Arumi dan Kanaya, duduk di atas sofa. Arumi bersandar pada sofa tersebut, sementara Kanaya duduk dengan gelagat canggung di sampingnya, memainkan ujung pakaian yang dia kenakan dengan jemarinya.Kanaya tak tahu apa yang akan Arumi bicarakan. Sejujurnya di dalam hati Kanaya, ada rasa cemas dengan apa yang akan dikatakan oleh Arumi. Kanaya menggigit bibirnya, menahan perasaan yang campur aduk.Sedangkan Arumi, menghela napas pelan, menatap langit-langit sejenak sebelum mengalihkan pandangannya pada Kanaya."Aku minta maaf ...."Suara lirih Arumi memutus keheningan. Matanya kini tampak berkaca-kaca, menggenggam gelas kopi yang mulai mendingin. Beberapa minggu terakhir adalah mimpi buruk baginya—kehilangan ingatan, perasaan kacau, dan prasangka yang salah terhadap Kanaya."Minta maaf untuk apa, Kak?"Kanaya menatap Arumi dengan sabar, meskipun jelas ada luka di matanya. Arumi menarik napas dalam, m

  • Simpanan Ayah Angkat   Bab 235

    Arumi menatap wajah lelaki paruh baya di depannya dengan mata nanar. Ayahnya baru saja menceritakan tentang siapa dirinya sebelum amnesia merenggut sebagian ingatannya. Namun, alih-alih menemukan ketenangan, yang dia rasakan justru kesedihan yang begitu dalam.Apalagi saat mengetahui jika ternyata ibunya masuk rumah sakit jiwa akibat tekanan batin karena telah berbuat jahat pada ibu kandung Kanaya sampai meninggal. Arumi benar-benar tak menyangka jika kehidupan masa lalunya seburuk itu."Dulu Mama kamu juga sengaja suruh kamu buat angkat Kanaya sebagai anak, beberapa hari setelah ibunya Kanaya meninggal. Dia melakukan itu karena merasa bersalah, apalagi saat itu Kanaya juga menjadi gelandang."Arumi memejamkan mata, hatinya seakan teriris mendengar penuturan demi penuturan ayahnya yang terasa begitu menyakitkan."Jadi, aku dulu seperti itu?" Suara Arumi bergetar, nyaris tak terdengar.Pak Rama mengangguk perlahan, wajahnya penuh luka yang tak kasat mata. "Kau pernah menjadi wanita yan

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status