Clara, asisten pribadi CEO Kieran Damaris, merasa nyaman dengan rutinitas pekerjaannya yang padat. Namun, semuanya berubah ketika Kieran memberinya tanggung jawab besar: memimpin proyek penting yang dapat mengubah kariernya. Meskipun ini adalah kesempatan emas, Clara merasa tidak siap dan takut gagal. Di sisi lain, hubungan mereka yang selama ini profesional mulai terasa lebih rumit. Ketegangan yang berkembang antara keduanya menumbuhkan perasaan yang tak terucapkan. Clara mulai bertanya-tanya apakah ketertarikannya pada Kieran hanya terkait pekerjaan, atau ada sesuatu yang lebih pribadi yang tak bisa dihindari.
View MoreClara menghela napas dalam-dalam saat menatap layar laptopnya yang penuh dengan email dan laporan dari berbagai tim. Proyek yang baru dimulai bersama Kieran sudah mulai menunjukkan tanda-tanda keberhasilan, tetapi juga penuh dengan tantangan yang tak terduga. Ada perasaan campur aduk dalam dirinya—rasa bangga dan juga kecemasan. Hari itu, di ruang rapat yang biasa, Kieran memanggil Clara untuk membahas beberapa keputusan penting mengenai arah perusahaan. Mereka berdua sudah bekerja keras selama berbulan-bulan, namun seiring berjalannya waktu, semakin banyak keputusan besar yang harus diambil. Keputusan-keputusan ini bukan hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga pada hubungan pribadi mereka.Clara duduk di depan meja rapat, matanya menatap Kieran yang sedang mempersiapkan presentasi. Ia tahu bahwa diskusi kali ini akan berbeda dari biasanya. Ada beberapa isu yang tak bisa lagi dihindari, terutama yang menyangkut masa depan hubungan mereka.Kieran mengangkat pandangannya dan
Setelah pertemuan yang mendalam bersama Kieran, Clara merasa sebuah beban yang lebih ringan di pundaknya. Ia tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang, namun hari itu, ia mulai merasa bahwa keputusan untuk bergabung dalam proyek besar ini adalah langkah yang benar. Namun, seiring dengan rasa percaya diri yang mulai tumbuh, ada juga kekhawatiran yang semakin menggelayuti pikirannya. Dunia bisnis tidaklah mudah, apalagi ketika itu melibatkan hubungan pribadi yang erat. Clara tahu bahwa tantangan yang mereka hadapi jauh lebih besar dari sekadar angka dan strategi. Ada perasaan yang lebih dalam, perasaan yang berisiko, yang berpotensi mengubah segala hal. Tapi satu hal yang jelas di benaknya: ia tidak bisa mundur.Hari itu, setelah pertemuan dengan Kieran, Clara kembali ke apartemennya dengan langkah yang lebih pasti. Di jalan pulang, ia tidak hanya merasakan langkah kaki yang terasa ringan, tetapi juga hati yang lebih terbuka. Seiring dengan itu, ada rasa penasaran tentang bagaim
Malam itu, Clara kembali terjaga lebih lama dari biasanya. Kieran’s proposal—ide untuk membuka perusahaan bersama—berputar-putar dalam pikirannya. Sejak pertemuan mereka di kafe tadi sore, ia tidak bisa berhenti berpikir tentang segala potensi yang bisa terwujud. Namun, keraguan masih mengganjal di hati. Memasuki dunia bisnis bersama Kieran bukan hanya tentang pekerjaan. Itu juga tentang masa depan mereka, hubungan yang lebih dalam yang mungkin saja terancam oleh tekanan dan risiko yang datang bersamaan dengan bisnis.Namun, ada satu hal yang tidak bisa ia pungkiri: ia merasa dihargai oleh Kieran, dan tawaran ini terasa seperti peluang untuk membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar asisten. Itu adalah langkah besar menuju kebebasan dan kredibilitas profesional yang selama ini ia dambakan. Clara menatap ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidurnya. Ada pesan singkat dari Kieran, yang ditulis beberapa jam lalu setelah mereka berpisah."Clara, aku harap kamu sudah merenu
Pagi itu terasa penuh dengan harapan yang terpendam. Clara memulai harinya dengan secangkir kopi panas di tangan, duduk di tepi jendela kantornya, memandang jalanan kota yang sibuk. Dingin pagi menembus kaca jendela, namun hatinya hangat dengan bayangan pertemuan semalam. Malam itu, ketika mereka berdua saling berbagi janji, Clara merasa dunia seperti berhenti sejenak. Semua ketakutannya tentang hubungan ini, semua ketidakpastian yang selama ini menghantui dirinya, tampak seperti kabut yang perlahan menghilang. Kieran, pria yang selama ini ia lihat hanya sebagai bos, kini telah menjadi seseorang yang ia percayai untuk menjalani perjalanan hidupnya bersama. Namun, meskipun ada kehangatan di hatinya, Clara masih merasa cemas. Ketakutan bahwa ia mungkin saja salah, bahwa ia mungkin tidak cukup siap untuk komitmen itu, terus menggerogoti pikirannya. Setiap hari adalah langkah baru untuk membuka diri, untuk menerima perubahan dan tantangan yang datang.Hari ini, Clara memutuskan un
Pagi itu terasa berbeda bagi Clara. Setelah percakapan malam kemarin dengan Kieran, banyak hal yang dipikirkan. Ada perasaan lega yang mulai mengisi ruang hatinya, namun juga rasa takut yang terus menghantui. Clara tahu ini bukanlah akhir dari segala hal, tapi awal dari sebuah babak baru yang penuh tantangan.Sejak pagi, ia merasa ada sebuah ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia berusaha fokus pada pekerjaan yang menumpuk, namun pikirannya tidak bisa lepas dari Kieran. Ada rasa hangat yang mengalir setiap kali ia membayangkan pria itu, dan hatinya tahu satu hal—ia tidak ingin kehilangan kesempatan ini.Kehidupan profesional Clara tetap berjalan seperti biasa. Di kantor, ia menyelesaikan berbagai tugas, menghadiri pertemuan dengan klien, dan memastikan semuanya berjalan dengan lancar.Namun, dalam setiap detik yang berlalu, pikirannya kembali terhubung pada Kieran. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama Kieran muncul di layar, dan Clara merasa jantungnya berdebar.
Hari itu terasa berbeda. Clara merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya, sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Setelah sekian lama, ada secercah harapan yang kembali muncul. Namun, di balik harapan itu, ada juga keraguan yang terus menghantui pikirannya. Clara duduk di ruang kantornya, menatap layar laptop dengan mata yang mulai lelah.Beberapa laporan yang harus diselesaikan masih menumpuk, dan meskipun otaknya ingin fokus pada pekerjaannya, pikirannya selalu kembali pada Kieran. Semalam, setelah mereka berbicara di taman, Clara merasakan kelegaan yang tak terucapkan. Ia mulai sedikit membuka hatinya, memberi Kieran kesempatan untuk membuktikan bahwa ia tidak akan mengecewakannya lagi. Namun, ada rasa takut yang menghantui, rasa takut untuk kembali terluka. Mungkin inilah yang selama ini membuatnya sulit untuk melangkah maju, meskipun Kieran telah menunjukkan kesungguhan yang tulus.Clara menarik napas panjang dan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan sej
Clara menghela napas panjang saat matanya menatap kosong ke layar ponselnya. Pesan dari Kieran tadi masih terbayang di pikirannya. Meskipun kata-kata itu terdengar penuh pengertian, Clara merasa ada jarak yang tak terucapkan di antara mereka. Jarak itu bukan sekadar fisik, melainkan lebih kepada ketidakpastian yang terus menghantui hatinya.Malam itu, ia memutuskan untuk tidak kembali ke apartemennya lebih dulu. Ada perasaan yang menuntunnya untuk pergi ke tempat yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota yang selalu ramai. Ia membutuhkan waktu untuk merenung, untuk benar-benar menemukan apa yang seharusnya ia rasakan dan bagaimana ia seharusnya melangkah.Langkah-langkah Clara membawa dirinya ke taman kota yang sepi. Udara malam yang dingin membelai wajahnya, memberi ketenangan yang sangat dibutuhkannya. Duduk di bangku taman yang terletak di bawah pohon rindang, Clara menatap langit malam yang dihiasi oleh bintang-bintang. Ia tidak tahu mengapa, tetapi bintang-bintang itu sepert
Hari-hari berlalu sejak percakapan penting itu, dan meskipun Kieran berusaha untuk menunjukkan perubahan dalam dirinya, Clara masih merasakan ketegangan yang tersisa. Walaupun ia memberi kesempatan kedua untuk Kieran, rasa ragu itu tidak bisa begitu saja hilang. Ada banyak hal yang masih menggantung di pikirannya—terutama masa lalu Kieran yang gelap dan penuh rahasia. Namun, Clara juga tidak bisa menutup mata terhadap perasaan yang tumbuh di dalam hatinya. Kieran sudah banyak berubah, dan meskipun ketakutan akan masa lalu terus membayanginya, ia tahu bahwa Kieran berjuang keras untuk memperbaiki dirinya.Pagi itu, Clara berdiri di depan cermin, memandangi dirinya. Ia mengenakan gaun sederhana yang dipadukan dengan jaket kulit hitam yang membuatnya tampak elegan. Meski begitu, ada keraguan yang menggelayuti wajahnya—keraguan yang sama yang sudah ada sejak percakapan dengan Kieran. Ia mencintai pria itu, tetapi apakah ia cukup kuat untuk melewati semua ini?Mendengar suara pintu
Malam itu, Clara tidak bisa tidur dengan tenang. Setelah makan malam dengan Kieran, banyak hal yang terus berputar di pikirannya. Meskipun ia mencoba untuk menenangkan diri, hatinya tetap gelisah. Apa yang akan terjadi setelah ini? Apakah benar Kieran bisa melepaskan masa lalunya untuk selamanya? Ataukah, seperti yang dikhawatirkan Valerie, masa lalu itu akan terus menghantuinya?Keesokan paginya, Clara bangun lebih awal dari biasanya. Ia merasa perlu untuk menyegarkan pikirannya, dan berjalan-jalan di taman dekat apartemennya sepertinya bisa menjadi cara yang tepat untuk itu. Angin pagi yang segar dan dedaunan yang bergoyang pelan membuatnya sedikit lebih tenang. Namun, keraguan itu masih menggelayuti dirinya.Clara tidak tahu seberapa besar ia bisa mempercayai perasaan Kieran, meskipun ia ingin sekali mempercayainya. Ia tahu bahwa hubungan mereka penuh dengan komplikasi, dan Kieran adalah sosok yang sulit dimengerti. Namun, di sisi lain, ia merasa ada kekuatan dalam dirinya
Clara duduk di mejanya, menatap layar komputernya dengan pandangan kosong. Email dari Kieran itu masih terbuka di layar, subjek yang singkat dan penuh arti: 'Pertemuan Pribadi - Kieran Damaris.' Sesuatu di dalam dirinya terasa berbeda kali ini. Selama dua tahun bekerja di bawah Kieran, Clara sudah terbiasa dengan rapat-rapat rutin, instruksi yang jelas, dan peranannya yang lebih banyak di belakang layar. Tetapi hari ini, ada yang mengusik. Ada ketegangan yang lebih dalam. Tugas-tugas hariannya selalu datang dengan tumpukan file dan jadwal yang padat. Mengatur rapat, mempersiapkan laporan, menyaring email, itu adalah rutinitas yang sudah sangat dikuasainya. Namun, memimpin proyek besar yang melibatkan seluruh tim? Itu sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan. Clara menatap email itu lagi. "Saya ingin kamu memimpin proyek besar ini," kata Kieran dalam pesan singkatnya. Perasaan cemas mulai merayap dalam dirinya. Clara tahu bahwa ini adalah kesempatan yang besar, k...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments