Clara duduk di mejanya, menatap layar komputernya dengan pandangan kosong. Email dari Kieran itu masih terbuka di layar, subjek yang singkat dan penuh arti: 'Pertemuan Pribadi - Kieran Damaris.' Sesuatu di dalam dirinya terasa berbeda kali ini.
Selama dua tahun bekerja di bawah Kieran, Clara sudah terbiasa dengan rapat-rapat rutin, instruksi yang jelas, dan peranannya yang lebih banyak di belakang layar. Tetapi hari ini, ada yang mengusik. Ada ketegangan yang lebih dalam. Tugas-tugas hariannya selalu datang dengan tumpukan file dan jadwal yang padat. Mengatur rapat, mempersiapkan laporan, menyaring email, itu adalah rutinitas yang sudah sangat dikuasainya. Namun, memimpin proyek besar yang melibatkan seluruh tim? Itu sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan. Clara menatap email itu lagi. "Saya ingin kamu memimpin proyek besar ini," kata Kieran dalam pesan singkatnya. Perasaan cemas mulai merayap dalam dirinya. Clara tahu bahwa ini adalah kesempatan yang besar, kesempatan untuk menunjukkan potensinya. Tetapi, di sisi lain, perasaan takut mulai menguasainya. 'Apakah saya benar-benar siap untuk ini?' Di ruang rapat beberapa jam kemudian, tatapan Kieran yang tajam kembali menghantui pikirannya. Kieran sudah duduk di kursinya, dengan ekspresi serius yang selalu dia kenakan saat rapat. Begitu Clara masuk, dia merasa seperti ada tekanan yang tiba-tiba menyelimuti ruangan. Kieran tidak langsung berkata apa-apa. Dia hanya menatapnya, menunggu Clara berbicara. "Clara," Kieran akhirnya memulai, suaranya seperti biasa—tenang dan penuh wibawa. "Saya ingin kamu memimpin proyek besar ini. Saya percaya kamu bisa." Clara merasa pipinya memanas. "P-pemimpin? Saya... saya tidak yakin jika saya siap untuk itu, Pak." Kieran hanya mengamati, matanya tetap tajam. "Jangan meragukan dirimu sendiri. Kamu sudah bekerja di sini cukup lama. Saya tahu kamu bisa." Clara menelan ludah. 'Saya sudah bekerja di sini cukup lama, tapi bukan berarti saya siap memimpin proyek besar ini.' Dalam dua tahun terakhir, dia telah melihat betapa beratnya tanggung jawab seorang pemimpin. Semua keputusan besar, semua tekanan—semua itu harus dihadapi sendirian. Dan saya takut gagal.' "Pak... ini terlalu besar bagi saya," kata Clara, suara bergetar. "Saya tidak ingin mengecewakan Anda." Kieran mengerutkan kening, namun tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap Clara, seolah menunggu lebih banyak penjelasan. Clara merasakan perasaan tidak layak itu semakin menguat—seperti ada suara di dalam dirinya yang mengatakan bahwa dia hanya pantas berada di belakang layar, bukan di depan. 'Saya hanya seorang asisten. Saya bukan pemimpin.' "Kamu tidak akan tahu sampai kamu mencoba," kata Kieran akhirnya, suaranya lebih lembut, namun tetap tegas. "Saya percaya padamu, Clara." Clara mengangguk, meskipun hatinya masih penuh dengan keraguan. "Baik, Pak. Saya akan coba." Ketika rapat berakhir dan Kieran meninggalkan ruangan, Clara tetap duduk di kursinya, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan. Dia merasa seperti ada beban besar yang diletakkan di pundaknya. 'Apa yang akan terjadi jika saya gagal?' Perasaan itu terus menghantuinya. Namun, satu hal yang pasti—kesempatan ini tidak datang dua kali. 'Saya harus mencobanya.' Clara duduk di mejanya, jari-jarinya terhenti di atas keyboard, matanya menatap layar yang kini tampak kabur. Ketegangan yang mengalir di dalam dirinya seolah semakin kuat seiring berjalannya waktu. Kieran Damaris telah memberinya tanggung jawab besar, lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan. Memimpin proyek besar? Itu bukanlah sesuatu yang bisa ia lakukan dengan mudah. Tapi di sisi lain, dia tahu ini adalah kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Dia memalingkan pandangannya dari layar komputer, menatap pemandangan kota yang terlihat dari jendela ruang kerjanya. Gedung pencakar langit, lalu lintas yang sibuk, dan langit biru yang hampir tak terlihat di balik tumpukan awan. Semua itu tampak begitu jauh. 'Begitu jauh dari rasa cemas yang menggerogoti dirinya.' Dia memijat pelipisnya. 'Kenapa aku merasa begitu takut?' Dalam dua tahun bekerja di bawah Kieran, Clara sudah terbiasa dengan beban pekerjaan yang datang dengan cepat dan sering kali mendesak. Mengatur jadwal, menjawab telepon, menyiapkan dokumen, semuanya sudah menjadi rutinitas. Namun, memimpin tim? Mengambil keputusan besar yang bisa memengaruhi seluruh perusahaan? Itu adalah dunia yang jauh lebih besar daripada yang bisa ia bayangkan. Sebuah suara keras terdengar dari luar ruangannya, suara pintu yang terbuka dan langkah kaki yang mantap. Clara menoleh, dan jantungnya langsung berdebar lebih cepat. Kieran. Langkahnya yang pasti terdengar jelas bahkan sebelum ia muncul di ambang pintu. Clara berusaha untuk tetap tenang, menarik napas dalam-dalam dan kembali menatap layar komputernya. Namun, saat Kieran masuk ke ruangan, atmosfer langsung berubah. Ada ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Kieran, dengan tubuh tegap dan wajah yang sulit dibaca, berdiri di depan meja Clara. "Clara," suaranya datar, namun ada nada yang sedikit berbeda—lebih lembut, lebih intens dari biasanya. "Apakah kamu sudah mempersiapkan laporan untuk proyek besar ini?" Clara menatapnya, mencoba menutupi rasa gugupnya dengan sebuah senyuman yang dipaksakan. "Ya, Pak. Semua sudah siap." Suaranya terdengar sedikit lebih tinggi dari biasanya, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia benar-benar siap. Kieran mengangguk pelan, namun matanya tetap menatap Clara dengan intens. "Bagus. Saya ingin proyek ini berjalan sempurna. Dan saya ingin kamu memimpin tim riset ini." Clara merasa seolah seluruh dunia berhenti sejenak. 'Memimpin?' Suara itu bergema dalam pikirannya. 'Saya?' "Pak...," Clara menelan ludah, mencoba untuk tidak memperlihatkan betapa terkejutnya dia. "Saya... saya tidak yakin saya siap untuk itu." Kieran tetap diam, memandangi Clara dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada jeda yang panjang, terlalu panjang bagi Clara. 'Apakah dia kecewa dengan saya? Apakah dia merasa saya tidak mampu?' Rasa cemas itu semakin menggerogoti dirinya, dan dia bisa merasakan pipinya mulai memanas, cemas apakah Kieran bisa melihat kegugupannya yang semakin jelas. "Clara," suara Kieran akhirnya memecah keheningan. "Kamu sudah bekerja di sini cukup lama. Kamu tahu betul bagaimana cara menyelesaikan pekerjaan ini dengan baik." Ia beralih ke dokumen yang terletak di atas meja Clara, mengambil beberapa lembar laporan yang sudah dipersiapkan. "Saya percaya kamu bisa melakukannya." Clara menatap Kieran, bibirnya sedikit terkatup. 'Kamu percaya padaku?' Bagaimana mungkin? Dia hanya seorang asisten, bukan seorang pemimpin. Selama ini, perannya hanya sebagai pendukung—mengatur jadwal, menyaring email, memastikan semuanya berjalan lancar. 'Tapi memimpin proyek besar?' Itu bukan sesuatu yang bisa ia lakukan dengan mudah. "Kami bekerja bersama, Clara," lanjut Kieran dengan nada yang lebih lembut, namun tetap penuh kepastian. "Saya tidak akan membiarkanmu sendirian. Kamu akan mendapatkan dukungan penuh." Clara mengangguk, meskipun rasa ragu dan cemas masih melingkupi pikirannya. 'Dukungan penuh? Tapi apakah saya benar-benar siap?' Perasaan tidak layak itu semakin menguasai dirinya. Dia merasa seolah-olah dunia akan mengamatinya, menilai setiap langkah yang dia ambil. Jika dia gagal, semua orang—terutama Kieran—akan melihatnya sebagai kegagalan. 'Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa saya tanggung.' Namun, Kieran tampaknya tidak melihat keraguan itu. Dia melangkah ke arah pintu, menoleh ke belakang dan menatap Clara dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Saya berharap kamu bisa mengambil kendali, Clara. Saya percaya padamu." Clara hanya bisa mengangguk dengan kaku, berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap profesional. 'Saya harus melakukannya. Saya harus menunjukkan bahwa saya bisa.' Setelah Kieran meninggalkan ruangan, Clara duduk kembali di kursinya, mencoba untuk meredakan ketegangan yang masih menguasai tubuhnya. Tangannya sedikit gemetar saat dia memegang pena, matanya menatap dokumen yang ada di meja. 'Proyek besar ini. Saya akan memimpin tim riset. Saya harus melakukannya.' Namun, di dalam dirinya, perasaan itu tetap ada. Perasaan cemas dan tidak yakin. 'Apa yang akan terjadi jika saya gagal?' Pertanyaan itu terus berputar di pikirannya, seperti bayangan gelap yang tak bisa dihindari. Clara menatap pemandangan kota dari jendela, mencoba menenangkan diri. Tetapi, semakin dia berpikir, semakin kuat perasaan bahwa ini adalah titik balik dalam kariernya—sesuatu yang akan mengubah arah hidupnya, entah itu menjadi peluang besar atau kegagalan yang menghancurkan. 'Saya harus melakukannya. Untuk diri saya sendiri.' Meskipun ketakutan itu terus mengguncang, Clara tahu satu hal: kesempatan ini tidak datang dua kali. 'Saya harus membuktikan bahwa saya bisa.'Clara berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandang kota yang sibuk di bawah sana. Udara pagi terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun musim panas sudah mulai mendekat. Tapi itu bukan cuaca yang membuat Clara merasa kedinginan. Pekerjaan. Proyek besar yang diberikan Kieran terus menghantui pikirannya. Setiap detik, setiap pikiran, semuanya berputar di sekitar satu kalimat yang diucapkan oleh Kieran: "Saya ingin kamu memimpin proyek besar ini." Clara menarik napas dalam-dalam dan berbalik, kembali ke mejanya. Tumpukan dokumen dan laporan menanti untuk diselesaikan, tetapi hari ini, segala sesuatunya terasa berbeda. Ada tekanan yang lebih berat daripada biasanya. "Harus bagaimana?" Dia memandangi layar komputernya yang terhampar penuh dengan spreadsheet dan jadwal yang harus dipenuhi. Namun, pikirannya lebih tertuju pada tatapan Kieran yang penuh penilaian, dan kata-kata yang tak bisa ia lupakan. Kieran Damaris, CEO yang selalu tampak tenang dan menguasai segalanya.
Pagi itu, Clara merasa seperti seluruh dunia ada di atas pundaknya. Udara di luar jendela terlihat cerah, tapi di dalam ruang kerjanya, perasaan cemas yang menguasai dirinya begitu berat. 'Proyek ini.' 'Memimpin tim riset.' Semuanya terasa begitu besar. Terlalu besar untuknya. Sejak pertemuan dengan Kieran kemarin, Clara tidak bisa berhenti memikirkan kata-katanya. "Kamu punya potensi lebih." "Saya percaya padamu." Kata-kata itu mengiang dalam kepala Clara, tetapi semakin ia berpikir, semakin dia merasa seperti sedang berjalan di atas tali yang rapuh. Di satu sisi, ada rasa bangga karena Kieran mempercayainya. Tetapi di sisi lain, ada ketakutan yang tak bisa dia hindari—takut gagal, takut tidak memenuhi harapan, dan yang terburuk, takut mengecewakan Kieran. Clara menatap layar komputernya, mencoba untuk fokus pada dokumen yang terhampar di depan mata. Proyek ini adalah peluang besar, tetapi juga tantangan yang menakutkan. Ia harus memimpin tim yang terdiri dari orang-oran
Pagi itu, Clara merasa seolah-olah dunia berjalan lebih cepat dari yang bisa dia kejar. Setelah rapat kemarin dengan Kieran, perasaan yang membebani dirinya belum juga menghilang. Kata-kata Kieran tentang bagaimana dia "memiliki potensi besar" dan "bisa melakukannya" terus terngiang-ngiang di kepala Clara. Namun, meskipun kata-kata itu memberikan dorongan, ada sesuatu yang lain yang semakin menyelimuti dirinya. *Perasaan itu.* Perasaan yang semakin sulit untuk diabaikan. Clara mengatur napasnya dan mencoba untuk fokus pada pekerjaannya. Hari ini, dia memiliki lebih banyak laporan yang harus diselesaikan sebelum rapat besar dengan tim riset. Namun, semakin lama dia duduk di depan komputernya, semakin ia merasakan perasaan lain yang mengusik dirinya. Setiap kali dia memikirkan proyek besar ini, jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Bukan hanya karena tanggung jawab yang berat, tetapi karena ada satu sosok yang selalu muncul dalam pikirannya—Kieran. *Kenap
Hari-hari setelah pertemuan dengan Kieran semakin terasa panjang bagi Clara. Setiap kali dia memasuki ruang kerjanya, ada perasaan yang semakin sulit untuk diabaikan. Ketegangan antara dia dan Kieran semakin menguat. Setiap pertemuan, setiap percakapan, terasa lebih intens dari sebelumnya. Clara tahu bahwa hubungan mereka sudah berubah, tetapi dia belum siap untuk menghadapi kenyataan bahwa perasaan ini lebih dari sekadar rasa profesionalisme. Pagi itu, Clara duduk di kursinya, menatap layar laptopnya yang penuh dengan spreadsheet dan laporan. 'Saya harus fokus,' pikirnya. 'Ini bukan saatnya untuk berpikir tentang Kieran.' Namun, semakin dia mencoba untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan, semakin perasaan itu semakin sulit untuk diabaikan. Setiap kali dia menatap layar, pikirannya selalu kembali kepada Kieran—kepercayaan yang diberikan padanya, kata-kata yang terus berputar di kepala Clara, dan yang terpenting, tatapan mata Kieran yang penuh perhatian, yang selalu membuat
Clara duduk di ruang kerjanya, menatap layar komputer yang memantulkan cahaya putih yang dingin. Pekerjaan menumpuk di mejanya, tetapi pikirannya jauh dari spreadsheet dan laporan yang harus diselesaikan. Tatapan matanya kosong, fokusnya terbagi antara pekerjaan yang harus segera selesai dan perasaan yang semakin menguasai dirinya. 'Apa yang saya lakukan?' Clara menggosok wajahnya dengan telapak tangan, mencoba untuk mengusir rasa cemas yang menggelayuti dirinya. Proyek besar yang diberikan oleh Kieran adalah kesempatan emas yang tidak bisa disia-siakan. Namun, semakin dia tenggelam dalam pekerjaan, semakin terasa bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya yang mengintai di balik semua itu—perasaan yang berkembang untuk Kieran. Clara menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. 'Ini bukan waktu untuk itu.' Dia harus tetap fokus, menyelesaikan laporan yang harus diserahkan minggu depan. Namun, di balik pikirannya yang berputar-putar, ada
Clara duduk di ruang kerjanya, menghadap layar komputer yang penuh dengan angka-angka dan laporan yang harus segera diselesaikan. Namun, meskipun semuanya tampak seperti pekerjaan biasa, perasaan yang menggelayuti dirinya semakin sulit untuk dihindari. Apa yang terjadi pada saya?' Clara bertanya-tanya pada dirinya sendiri. 'Kenapa rasanya semakin sulit untuk fokus?' Dia sudah berusaha keras untuk menekan perasaan itu, untuk tetap menjaga jarak profesional dengan Kieran. Namun, setiap kali mereka berbicara, setiap kali Kieran memberikan arahan, ada sesuatu yang lebih dari sekadar pekerjaan yang terasa begitu jelas. Tatapan matanya yang tajam, kata-kata yang penuh harapan, bahkan senyum tipis yang terkadang muncul di wajahnya—semua itu membuat Clara merasa semakin terperangkap. ' 'Apakah ini hanya perasaan saya, atau apakah ada sesuatu yang lebih?' Clara menghela napas panjang dan kembali menatap laporan yang harus diselesaikannya. 'Ini bukan waktunya untuk berpikir t
Clara duduk di ruang kerjanya, menatap tumpukan pekerjaan di mejanya. Hari itu, tugasnya semakin berat. Namun, meskipun dia mencoba fokus pada laporan yang harus diselesaikan, pikirannya terus melayang. 'Kieran.' Perasaan itu semakin kuat dan semakin sulit untuk diabaikan. Setiap kali dia memikirkan Kieran, ada campuran perasaan—rasa hormat yang mendalam, ketertarikan yang semakin besar, dan kebingungan yang tak terucapkan. 'Kenapa saya harus merasa seperti ini?' Clara bertanya pada dirinya sendiri. 'Saya seharusnya bisa mengendalikan diri.' Tapi semakin lama dia bekerja dengan Kieran, semakin dia merasa terperangkap. Setiap kali mereka berbicara, setiap kali mereka bertemu, ada ketegangan yang tak bisa dihindari. Clara berusaha keras untuk tetap profesional, tetapi perasaan itu semakin kuat, semakin menguasai dirinya. Ponselnya bergetar di atas meja, memecah keheningan yang menyelimuti ruang kerjanya. Sebuah pesan dari Kieran. "Clara, kita perlu bertemu lagi setel
Clara berjalan dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya menuju ruang kerjanya. Hari ini, semua terasa seperti tantangan. Setiap detik yang berlalu semakin menguatkan perasaan yang telah dia coba untuk tekan. 'Perasaan itu semakin sulit untuk dihindari.' Setiap kali dia bertemu dengan Kieran, setiap kali mereka berbicara tentang pekerjaan, ada sesuatu yang lebih—sesuatu yang melampaui batas profesional yang selama ini mereka jaga. 'Kenapa saya merasa seperti ini?' Clara bertanya pada dirinya sendiri, berusaha mencari jawaban yang tidak kunjung datang. 'Saya harus bisa mengendalikan diri. Ini hanya pekerjaan.' Namun, meskipun dia berusaha untuk tetap fokus pada laporan dan tugas yang ada di mejanya, Clara tahu bahwa ada hal yang lebih besar yang harus dihadapi. Perasaan yang semakin kuat terhadap Kieran tidak bisa lagi disangkal. Setiap tatapan, setiap senyum yang dia berikan, semakin membuat Clara merasa semakin terperangkap. 'Apa yang akan terjadi jika sa
Keputusan yang diambil Clara beberapa hari lalu masih terus menghantuinya. Meskipun Kieran sudah memberikan ruang dan waktu baginya untuk berpikir, hatinya tidak bisa menenangkan diri. Setiap detik yang berlalu terasa berat, penuh dengan pertanyaan yang menggantung di benaknya. Apakah mereka benar-benar siap untuk menjalani hubungan ini? Apakah mereka bisa menghindari masalah yang mungkin muncul, terutama di tempat kerja mereka yang penuh dengan tekanan dan harapan tinggi?Hari itu, Clara duduk di meja kerjanya, menatap layar komputer tanpa benar-benar melihat apa yang tertulis di sana. Pikirannya melayang, berulang kali kembali pada percakapan terakhirnya dengan Kieran. Ada sesuatu tentang lelaki itu yang membuat Clara merasa nyaman, merasa diterima, dan itu sangat jarang dia rasakan. Namun, ada juga rasa takut yang tak terelakkan—takut akan kehilangan kontrol, takut akan mengorbankan sesuatu yang lebih besar dari perasaan mereka berdua.Kieran muncul di pintu kantor Clara, me
Pagi itu Clara merasakan ada yang berbeda. Meskipun hari-harinya dipenuhi dengan rapat dan tenggat waktu yang ketat, ada sesuatu dalam udara yang membuatnya merasa lebih waspada. Tidak ada yang dapat dia ungkapkan, namun perasaan itu mengendap dalam hati, menyesakkan. Kieran datang lebih pagi dari biasanya, dan itu membuat Clara penasaran. Ada yang aneh, ada ketegangan yang tidak bisa dia hilangkan meskipun mereka sudah berusaha untuk menjaga semuanya tetap profesional.Hari ini, meskipun rapat dimulai seperti biasa, ada suasana yang berbeda di antara mereka. Kieran duduk di meja yang biasa, matanya tidak langsung beralih ke Clara. Namun, ketika rapat berakhir, matanya bertemu dengan Clara dalam sekejap—penuh makna. “Kita perlu bicara,” ucap Kieran, suara rendah namun tegas.Clara mengangguk, merasa ada sesuatu yang penting yang perlu diungkapkan. Tanpa kata-kata lebih lanjut, mereka berjalan keluar dari ruang rapat, menuju ke ruang yang lebih pribadi. Ketika pintu tertutup, Cla
Clara duduk di meja kantornya, jari-jarinya bermain dengan pena sambil matanya terfokus pada layar komputer. Kerjaannya terasa begitu membebani, tapi dia tahu ini adalah pilihan yang telah dia buat. Proyek besar yang dihadapi Kieran dan perusahaan mereka tidak bisa dianggap remeh. Namun, Clara merasakan ada sesuatu yang lebih dalam yang mengikat dirinya dengan Kieran.Pikirannya terus berputar tentang percakapan mereka semalam. Kieran—yang tampak dingin dan profesional—ternyata memiliki sisi lain yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Sesekali, tatapan Kieran yang tajam dan penuh tekanan, mengarah padanya, namun malam itu, dia menunjukkan sisi manusiawi yang lebih lembut. Apa yang membuatnya berubah? Ataukah Clara yang mulai melihat Kieran dengan cara yang berbeda?Keringat mulai terasa di pelipisnya. Fokusnya terganggu oleh detak jantung yang terasa lebih cepat dari biasanya. Clara menutup matanya sesaat, mencoba menenangkan diri. Dia harus tetap profesional. Tidak boleh ada ru
Pagi hari datang dengan cerah, meski langit di luar masih menampakkan sisa-sisa hujan semalam. Clara duduk di meja makan, menatap secangkir kopi yang sudah hampir dingin. Hari ini, suasana hatinya berbeda. Ada perasaan campur aduk—kekhawatiran, ketegangan, dan juga sedikit harapan.Ponselnya bergetar di atas meja. Clara melihat nama Kieran muncul di layar. Dengan cepat, ia mengangkat telepon itu, tak ingin menunda pembicaraan lebih lama lagi.“Clara,” suara Kieran terdengar langsung di telinganya, tegas namun lembut. “Aku ingin kita bertemu. Ada yang perlu dibicarakan lebih lanjut.”“Dimana?” tanya Clara, suaranya terdengar tegas meskipun hatinya masih bergejolak. Ada perasaan cemas, tapi dia tahu, ini saat yang penting. Tak ada lagi waktu untuk ragu.“Di tempat yang aman,” jawab Kieran singkat. “Aku akan menjemputmu dalam satu jam.”Clara mengangguk, meskipun Kieran tidak bisa melihatnya. Setelah menutup telepon, ia berdiri dan berjalan ke kamar tidurnya. Memandang ke sekelilingnya
Malam itu, Clara merasa terjaga lebih lama dari biasanya. Pikiran tentang Kieran dan pembicaraan mereka sebelumnya masih menghantuinya. Setiap kata yang diucapkan Kieran menggema dalam pikirannya, dan dia tak bisa menyingkirkan perasaan bahwa situasi yang mereka hadapi jauh lebih rumit dan berbahaya daripada yang dia kira.Di luar jendela kamarnya, suara hujan mulai terdengar. Rintikannya halus, namun bisa meresap ke dalam hati yang tengah gelisah. Clara menarik selimutnya lebih erat, namun tidur masih belum datang juga. Tak tahu harus berbuat apa, dia pun bangkit dan berjalan ke dapur untuk membuat secangkir teh hangat.Saat air mendidih dan aroma teh mulai tercium, Clara duduk di meja makan, membiarkan pikirannya mengembara. Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. Apa yang sebenarnya Kieran sembunyikan darinya? Mengapa dia begitu yakin bahwa Clara bisa terlibat lebih jauh dalam bahaya ini? Dan yang paling penting, siapa orang-orang yang mereka hadapi? Kenapa Kieran begitu ke
Setelah pertemuan pagi itu, Clara merasa seolah ada sebuah perubahan yang tak bisa ia ungkapkan. Sesuatu yang mengganggu pikirannya sepanjang hari, membuatnya tak bisa fokus pada pekerjaan. Kieran sudah meminta agar dia terlibat lebih jauh, tetapi Clara merasakan tekanan yang semakin berat di pundaknya. Tugas mereka bukan sekedar proyek besar ini—ada hal yang jauh lebih besar yang sedang tersembunyi di balik itu.Sore hari, Clara kembali ke ruang kerjanya. Pikirannya masih terpaut pada pertemuan tadi pagi. Ia duduk di kursi, menyandarkan tubuhnya, dan menatap laptop di depannya. Namun, fokusnya tidak ada di layar. Sesekali matanya beralih ke jendela besar yang memperlihatkan langit senja yang mulai gelap, tanda malam akan datang.Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka pelan. Clara mengangkat wajahnya dan melihat Kieran berdiri di ambang pintu, mengenakan jas hitam yang sudah sedikit kusut di bagian kolar. Wajahnya tak tampak lega, justru ada ekspresi yang lebih cemas.“Kieran?” Clara
Hari itu, Clara merasa perasaan cemas menguasai dirinya. Pagi tadi, Kieran telah memanggilnya ke ruang kerjanya dengan ekspresi yang serius. Biasa, Kieran memang memiliki aura misterius yang tak mudah ditebak, namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan yang Clara rasakan di antara mereka, seolah ada sesuatu yang harus diungkapkan, tapi entah kenapa, kata-kata itu sulit keluar dari bibir Kieran.Dia berdiri di luar pintu ruangan Kieran, menarik napas panjang sebelum akhirnya mengetuk pintu dengan ragu. "Masuk," suara Kieran terdengar jelas, tanpa rasa khawatir.Clara membuka pintu dan melangkah masuk. Kieran sedang duduk di kursi kulit hitam besar di balik meja kerjanya yang penuh dengan dokumen dan laptop terbuka. Namun, kali ini, ekspresinya terlihat sedikit lebih tegang daripada biasanya."Kieran?" suara Clara terdengar sedikit ragu. "Ada yang bisa saya bantu?"Kieran mendongak, matanya bertransisi dari rasa cemas menjadi tegas, meskipun masih ada sesuatu yang tak t
[27/3, 17.35] ChatGPT: Tentu, Kang Luqman! Berikut kelanjutan cerita di Bab 131.---*Bab 131: Pilihan yang Tak Terucapkan*Pagi itu, Clara duduk di meja kerjanya, menatap tumpukan dokumen yang belum terselesaikan. Namun, pikirannya teralihkan. Kieran masih ada di benaknya. Percakapan mereka semalam meninggalkan kesan yang dalam. Ada kebingungan yang tak bisa dia hilangkan, perasaan yang semakin terjaga setelah semua yang mereka ungkapkan. Clara ingin yakin, ingin tahu apakah Kieran benar-benar serius dengan keputusannya untuk melangkah perlahan, atau jika itu hanya sekadar alasan untuk mundur dari sesuatu yang lebih besar.Hatinya terasa kacau. Meski dia sudah berusaha untuk tenang, rasa penasaran dan kekhawatiran terus mengganggu. Jika Kieran ragu, apakah itu artinya dia tidak cukup percaya pada hubungan mereka? Ataukah, seperti yang dikatakan Kieran, dia hanya ingin menghindari konsekuensi buruk dari langkah besar yang mereka ambil?Saat Clara tengah melamun, pintu ruangannya terbu
Hari itu terasa berbeda. Clara berjalan menyusuri koridor gedung kantor dengan langkah yang lebih ringan, meski hatinya masih dipenuhi dengan kegelisahan. Setelah pertemuannya dengan Kieran kemarin, ada sesuatu yang berubah. Sebuah keputusan telah dibuat, dan meski dia tahu jalan yang akan ditempuh tidak mudah, dia merasa ada kekuatan baru dalam dirinya. Sebuah keberanian untuk menghadapi perasaan yang selama ini dia pendam.Dia tahu, hubungan mereka—apakah itu hubungan pribadi atau profesional—akan diuji. Tetapi ada satu hal yang pasti. Clara tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Semua yang dia rasakan, semua yang ada dalam hatinya, kini terasa lebih nyata dan lebih terarah. Setiap langkahnya menuju ruang kerjanya terasa lebih berarti, meski masih banyak ketidakpastian yang menghantuinya.Sesampainya di ruang kerjanya, Clara menatap layar komputernya, memandangi daftar tugas yang belum selesai. Namun, pikirannya kembali melayang ke Kieran. Dia tidak bisa menahan perasaan y