Leo pun terlelap mulai memasuki alam bawah sadarnya.Dalam mimpinya, Leo berdiri di sebuah taman yang dipenuhi bunga berwarna-warni. Langit biru cerah membentang di atasnya, dan udara terasa segar serta menenangkan. Di tengah taman itu, ia melihat Sandra berdiri mengenakan gaun putih sederhana yang berkilauan di bawah sinar matahari. Senyum lembut menghiasi wajahnya, namun ada kesedihan tipis yang tersembunyi di balik kehangatannya.
"Leo," kata Sandra, suaranya seperti bisikan angin yang hangat. "Aku senang bisa melihatmu di sini." Leo terdiam. Kehadirannya membawa kenangan yang bercampur antara rasa bahagia dan perih. Ia ingin memalingkan wajah, tetapi mata Sandra seolah memaksanya untuk bertahan. "Aku ingin kamu tahu, aku tidak pernah membencimu," Sandra melanjutkan. "Kita mungkin pernah gagal, tapi aku tidak pernah menyesali waktu yang pernah kita lalui. Aku hanya ingin kamu bahagia, meski bukan denganku." Leo menunduk. Kata-kata itu, meskipun lembut, terasa seperti tamparan. "Aku yang salah, Sandra," ujarnya pelan. "Aku terlalu cepat menyerah. Aku marah saat kamu terlalu sibuk, padahal aku tahu semua itu kamu lakukan demi masa depan kita." Sandra tersenyum tipis. Ia mendekat, menggenggam tangan Leo dengan lembut. "Aku mengerti, Leo. Kita berdua sama-sama terluka, tapi tak ada yang perlu kamu sesali lagi. Hidup kita berjalan maju, meski tidak selalu sesuai yang kita rencanakan." Suasana hening sejenak. Taman itu terasa begitu damai, tetapi hati Leo bergejolak. "Sandra," ucapnya dengan suara serak, "aku menikah dengan Fiona karena permintaan terakhir ayahku. Dia merasa bertanggung jawab atas tragedi yang menimpa seseorang tak bersalah dan dia ingin aku memperbaikinya dengan kepedulian." Leo menghela napas panjang. "Aku melakukannya karena rasa tanggung jawab, bukan karena cinta." Sandra tetap memandangnya dengan penuh pengertian. "Kamu punya pilihan, Leo. Aku tidak pernah memintamu untuk bertahan di masa lalu, dan aku tidak ingin jadi alasan kamu tidak bahagia. Yang penting, temukan jalanmu, Leo. Itu saja yang kuinginkan." Leo merasa ada beban yang terangkat dari dadanya, tetapi juga lubang kosong yang tak terisi. Ia ingin berkata lebih banyak, tetapi sebelum sempat, Sandra perlahan memudar, seperti angin yang menghapus kehadirannya dari taman itu. ---------- Leo terbangun dengan napas terengah-engah. Pikirannya masih kabur antara mimpi dan kenyataan. Ada rasa perih yang mencubit dadanya saat menyadari bahwa Sandra hanya bayangan dari masa lalunya yang telah hilang. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba menenangkan diri, tetapi ada sesuatu yang menyesakkan. Kenangan itu, meski indah, terasa seperti belati yang menusuk hatinya. "Kenapa aku harus memimpikan dia?" bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya serak. Ia memalingkan wajah ke samping, melihat Fiona yang tampak tertidur di sampingnya. Namun Fiona tidak benar-benar tidur. Ia sudah terjaga sejak mendengar Leo mengigau, menyebut nama Sandra dengan nada yang begitu lembut dan penuh kerinduan. Dadanya bergolak. Ada amarah yang bercampur dengan rasa cemburu, namun ia menahannya dalam diam. "Sandra lagi," pikirnya. "Dia tidak pernah benar-benar melupakannya." Fiona berusaha menguatkan dirinya, tetapi bayangan tentang bagaimana Leo memandang Sandra tidak bisa ia singkirkan. Dalam hati, ia bertanya-tanya, apakah ia akan selalu menjadi bayang-bayang dari cinta yang tidak pernah bisa dimiliki sepenuhnya oleh suaminya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air matanya. Namun rasa cemburu itu membakar hatinya, meninggalkan luka yang perlahan berubah menjadi kebencian. Di sisi lain, Leo merasa terluka oleh mimpi itu. Sandra mengingatkannya pada keputusan impulsif yang ia buat—memutuskan hubungan menjelang pernikahan hanya karena kesal Sandra menghilang tanpa mencari sebab yang jelas. Ia tahu, saat itu, Sandra tengah mempersiapkan masa depan mereka, tetapi ego dan keinginannya untuk selalu menjadi prioritas membuatnya memilih jalan yang salah. "Sandra," gumamnya tanpa sadar. Bisikan itu terdengar pelan, tetapi cukup untuk menusuk hati Fiona. Ia mengepalkan tangannya di bawah selimut, berusaha menahan diri. "Aku lebih dari cukup untukmu, Leo," pikir Fiona. "Waktu akan membantumu melupakan dia. Aku akan membuatmu melihat bahwa aku satu-satunya yang layak ada di sisimu." Namun di balik itu, ada suara lain dalam hati Fiona, lebih gelap, lebih kelam. "Sandra sudah pergi. Dan aku akan memastikan dia tetap pergi, tak peduli apa pun yang terjadi." ---------- Keesokan harinya,Sandra duduk di sebuah kafe bersama Siska,sahabatnya.Sandra berusaha mendengar apa yang diucapkan sahabtnya,namun pikirannya tak bisa henti memikirkan pria bernama Leo yang ditemuinya terakhir di rumah sakit. "Sandra?!" seru Siska membuyarkan lamunannya. “Sandra, kamu benar-benar tidak ingat aku? Kita sering curhat, dan aku sangat syok waktu dengar kamu kecelakaan. Syukurlah kamu selamat,” kata Siska dengan nada prihatin. Sandra menggeleng pelan. “Tapi ingatanku kacau, Siska. Aku bahkan tidak bisa mengenali siapa pun. Bahkan Leo... yang katanya kekasihku.” Mendengar nama Leo disebut, Siska menghela napas berat. Ada kilatan kesal di matanya, meski ia berusaha menutupinya. Baginya, Leo adalah luka yang seharusnya sudah tertutup rapat. “Sandra, aku minta tolong, jangan sebut nama itu lagi. Dia sudah tidak berarti buat kamu. Fokus saja ke dirimu sendiri sekarang. Masa depanmu jauh lebih penting.” Sandra menatap Siska dengan bingung. “Memangnya ada apa? Apa yang terjadi dengan Leo?” Siska menatapnya sejenak sebelum menyeruput kopinya. “Tidak ada. Nanti kalau ingatanmu pulih, kamu juga akan tahu semuanya.” “Tapi aku ingin tahu sekarang. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres,” desak Sandra. Siska menghela napas panjang. “Pokoknya, kalau kamu bertemu dia, sebaiknya kamu cuek saja Sandra. Jangan beri dia kesempatan untuk mendekat lagi.” Sandra terdiam, meresapi kata-kata Siska. Meski ia tidak paham sepenuhnya, ada rasa tidak nyaman yang perlahan merayap ke hatinya. Obrolan itu pun berakhir tanpa jawaban yang memuaskan. Setelah itu, Sandra pulang ke rumah dengan pikiran yang semakin berat. Ada kekosongan di hatinya yang tidak ia mengerti, dan entah kenapa, Leo ada di sana—sebagai sosok yang ia pikirkan dengan perasaan campur aduk. Di sudut sebuah kamar sederhana, Sandra duduk di tepi ranjang, menatap benda kecil yang dia temukan dilacinya. Sebuah cincin perak dengan ukiran inisial L&S yang terasa begitu familiar, namun ia tak mampu mengingat apa-apa tentangnya. “Kapan aku pernah memiliki ini?” gumam Sandra pada dirinya sendiri, mencoba mengais-ngais ingatan yang telah hilang sejak kecelakaan itu. Cincin itu seperti bayangan masa lalu yang terus menghantui, memberikan perasaan yang tak ia mengerti—antara kehangatan dan luka yang menyakitkan. Ia mendekatkan cincin itu ke jari manisnya. Pas, seolah memang dibuat untuknya. Namun, siapa yang memberikannya? Kenangan yang buram hanya menambah rasa frustrasinya. Sandra menghela napas panjang, lalu menyimpan cincin itu di dalam kotak kecil yang ada di meja samping tempat tidur. ---------- Sementara itu di lain tempat, Fiona membuka sebuah amplop cokelat di ruang kerjanya. Tony, anak buahnya, telah mengirimkan laporan yang ia minta tentang Sandra. Fiona membaca dengan cermat, matanya berhenti pada satu foto. Foto itu menunjukkan Sandra bersama Leo. Wajah mereka tampak bahagia, dan di tangan Sandra, ada cincin yang mirip dengan cincin kawin mereka. Fiona mengerutkan kening, lalu membalik dokumen lainnya. Sebuah catatan singkat tertulis di sana: Sandra pernah bertunangan dengan Leo sebelum kecelakaan. Namun, pertunangan itu dibatalkan karena Leo memilih menikahi Anda atas permintaan mendiang ayahnya. Fiona menutup dokumen itu perlahan. Perasaannya campur aduk. Di satu sisi, ada perih karena tahu ia adalah pilihan kedua, tetapi di sisi lain, ada rasa bangga dan bahagia. “Jadi, akhirnya dia memilih aku,” gumam Fiona dengan senyum kecil yang perlahan melebar. Fiona melipat dokumen itu dan menyimpannya di laci, memastikan Leo tidak akan menemukannya. Ia menatap dirinya sendiri di cermin, senyumnya berubah menjadi tatapan penuh tekad. “Leo harus berhenti hidup di masa lalu,” katanya pada dirinya sendiri. “Aku adalah masa depannya.” ---------- Malam itu, Fiona dan Leo duduk bersama di meja makan. Suasana di antara mereka hening, hanya suara alat makan yang bergesekan dengan piring yang terdengar. Fiona menatap Leo, yang tampak asyik melamun seperti biasa. “Leo,” panggil Fiona tiba-tiba, memecah keheningan. Leo mengangkat kepala, sedikit terkejut. “Ya, sayang?” Fiona menatapnya dengan lembut, tetapi tegas. “Aku tahu belakangan ini kamu banyak pikiran, tapi aku ingin kamu fokus pada kita. Aku istrimu, Leo. Aku ingin kamu benar-benar ada di sini bersamaku, bukan hanya fisikmu, tapi juga pikiranmu.” Leo terdiam, kata-kata Fiona menohoknya. Ia tahu Fiona benar, namun sulit baginya untuk sepenuhnya mengabaikan bayangan Sandra. “Aku... aku minta maaf,” ucap Leo pelan. “Aku hanya... kadang aku merasa terlalu banyak hal yang belum selesai di masa lalu.” Fiona tersenyum tipis, meskipun ada luka di matanya. “Masa lalu adalah masa lalu, Leo. Kamu yang memilih aku, dan aku ingin kita benar-benar bahagia. Apa pun yang belum selesai, itu bukan lagi tanggung jawabmu sekarang. Itu sudah tertutup saat kamu memutuskan menikah denganku.” Leo mengangguk perlahan, menyadari bahwa Fiona benar. Ia telah memilih jalannya sendiri, dan sekarang ia harus menerima konsekuensi dari pilihannya.Keesokan harinya, Sandra kembali menatap cincin itu. Pikirannya berkecamuk, mencoba mengingat siapa pria yang telah memberikannya cincin tersebut. Bayangan kabur tentang seorang lelaki yang memegang tangannya muncul di benaknya, tetapi setiap kali ia mencoba mengingat lebih banyak, kepalanya terasa berdenyut, seolah otaknya menolak menggali lebih dalam. “Mungkin lebih baik aku melupakan semuanya,” gumam Sandra pelan. Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa pria itu pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Di luar jendela, tanpa ia sadari, Leo berdiri di sudut jalan, mengamatinya dari kejauhan. Hatinya bergetar melihat Sandra yang tampak begitu asing namun tetap sama seperti dulu. Ia merindukan wanita itu, tapi rasa bersalahnya pada masa lalu membuatnya tetap berdiri di tempatnya tanpa berani mendekat. ---------- Malam hari,Fiona menunggu Leo di kamar tidur. Ia mengenakan gaun tidur yang sederhana, namun tetap cantik. Ketika Leo masuk, Fiona menghampirinya dan memelukny
Sandra menatap layar ponselnya dengan ragu setelah mengirim pesan kepada Leo. Ia tidak yakin apa yang membuatnya merasa harus menghubungi pria itu, tetapi nama itu terus mengusik pikirannya sejak pagi. Tak sampai beberapa menit, ponselnya bergetar. Balasan dari Leo muncul di layar: [Sandra? Kamu ingat aku? Tentu aku mau bertemu. Katakan di mana, aku akan datang.] Sandra membaca pesan itu dengan kening berkerut. Ingat? pikirnya. Apa aku benar-benar pernah mengenalnya? Namun di sisi lain, Leo yang menerima pesan itu merasa hatinya bergolak. Matanya membesar, tangannya sedikit gemetar saat membaca nama pengirim pesan. Ada kelegaan sekaligus kebahagiaan yang tak bisa ia sembunyikan. "Dia ingat aku," gumamnya dengan suara serak, senyum kecil terukir di wajahnya. Tanpa pikir panjang, ia mengetik balasan dengan cepat. ---------- Pertemuan Sandra dan Leo Kafe kecil yang dipenuhi aroma kopi hangat, Sandra terduduk merasa dingin saat menunggu. Ketika pintu terbuka, seorang pria m
Di kantornya,Leo dan Amar kembali berdiskusi menyusun rencana. Leo terdiam, merenungkan saran Amar. "Dan jika ternyata mereka benar-benar punya hubungan?" "Kalau itu terjadi," Amar melanjutkan dengan nada licik, "Anda sudah punya akses untuk menggali lebih dalam. Bukti bisa dikumpulkan perlahan tanpa ada kecurigaan. Dengan pendekatan ini, Anda tetap memegang kendali penuh." Leo mengangguk pelan, mulai melihat logika di balik saran Amar. "Baik. Atur pertemuan itu. Pastikan semuanya terlihat seperti urusan bisnis. Aku ingin tahu siapa sebenarnya bos Sandra dan apa yang dia sembunyikan." Amar tersenyum penuh kepuasan. "Percayakan pada saya,Tuan. Kita akan menemukan jawabannya tanpa perlu membuat mereka merasa terancam." Leo akhirnya duduk kembali di kursinya, meski amarahnya belum sepenuhnya reda. Namun, kini ia memiliki rencana yang terasa lebih strategis. Sementara itu, Amar mulai memikirkan langkah-langkah untuk memuluskan pertemuan tersebut, sekaligus mempersiapkan cara aga
Sandra pun berbalik hendak meninggalkan Leo,namun saat Sandra mencoba pergi, Leo dengan cepat menarik lengannya, menghentikan langkahnya. "Sandra!" katanya dengan geram.Sandra berbalik, terkejut dengan tindakan Leo. Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, Leo menariknya lebih dekat dan mencium bibirnya dengan penuh emosi. Ciuman itu tidak lembut; itu adalah luapan amarah, rasa sakit, dan cemburu yang ia tahan selama ini.Sandra terkejut dan marah,dia langsung memberontak. Dengan tenaga yang ia miliki, ia mendorong Leo untuk menjauh, lalu menampar wajahnya cukup keras."Apa yang kamu lakukan, Leo?!" teriak Sandra, matanya penuh dengan kemarahan dan air mata.Leo, bukannya merasa bersalah, malah semakin terbakar oleh emosinya. "Aku tahu kenapa kamu seperti ini, Sandra? Karena kamu sudah punya pria lain yang lebih kamu anggap berarti! Kamu bahkan merasa nyaman dengannya, sedangkan aku kamu abaikan!"Sandra menggeleng, air mata membanjiri wajahnya. "Bagaimana kamu bisa mengatakan itu p
Sandra duduk bersama Siska di sebuah kafe yang tenang, menatap cangkir kopinya yang belum tersentuh. Setelah menarik napas panjang, ia menceritakan semua yang terjadi—konfrontasinya dengan Leo, kata-kata menyakitkan yang dilontarkan, hingga rasa bingung yang terus menghantuinya. Siska mendengarkan dengan seksama, tetapi wajahnya memerah karena amarah. "Sandra! Kamu harus menjauh darinya! Dia jelas tidak menghargaimu! Wanita murahan? Berani sekali dia berkata seperti itu!" Sandra menunduk, tangannya gemetar di atas meja. "Aku tidak tahu Siska,aku merasa ada yang salah. Tapi, aku tidak tahu harus bagaimana..." Siska memegang tangan Sandra dengan erat. "Dengar, Sandra. Kalau dia benar-benar peduli padamu, dia tidak akan bicara seperti itu. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu! Jauhkan dirimu dari dia sebelum dia membuatmu semakin hancur." Sandra tidak menjawab, hanya terdiam dengan wajah yang penuh kebingungan. Ia tahu Siska hanya ingin melindunginya, tetapi hatinya tidak b
Hujan mulai mereda ketika Leo membawa mobilnya keluar dari jalan utama. Pepohonan lebat di sepanjang jalan kecil itu menciptakan kanopi alami yang membuat udara terasa lembap dan dingin. Sandra duduk di kursi, kedua tangannya meremas tas kecil di pangkuannya, seolah mencari pegangan dari rasa cemas yang perlahan merayap. Setiap tikungan terasa seperti sebuah misteri. Sandra memandang Leo, mencoba membaca ekspresinya, tetapi pria itu hanya menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras, namun matanya menyiratkan sesuatu yang sulit ditebak. Ketika mobil berhenti di depan sebuah taman yang indah, Sandra mengernyit. Taman itu terlihat seperti dunia yang lain—jalan setapak berbatu dihiasi bunga-bunga yang masih basah oleh hujan. Daun-daun besar meneteskan sisa air, menciptakan simfoni pelan. Namun, ada sesuatu tentang tempat ini yang membuat Sandra merasa aneh. Bukan ketakutan, tetapi rasa tak nyaman, seperti menyentuh kenangan yang terkubur. "Apa ini?" tanya Sandra, nyaris berbisik. L
Malam semakin larut, namun pikiran Leo tidak pernah tenang.Leo duduk di sofa dengan segelas whisky di tangannya, ia menatap kosong ke arah meja di depannya. Botol minuman hampir habis, tapi rasa gelisah yang menghantui tidak juga mereda. "Kenapa semuanya jadi seperti ini?" pikir Leo, meremas rambutnya sendiri. Keputusan untuk menikahi Fiona kini terasa seperti belenggu yang semakin mengetat. Ia menikahi Fiona di saat hidupnya hancur berantakan setelah Sandra menghilang tanpa alasan yang jelas. Fiona hadir di saat ia rapuh, menawarkan kenyamanan dan harapan. Ia berpikir saat itu, mungkin cinta pada Sandra akan memudar seiring waktu. Tapi, kenyataan berkata lain. Sandra kembali, meski dengan ingatan yang hilang. Tatapan mata wanita itu, suara lembutnya—semuanya membawa Leo kembali ke masa lalu. Luka lama yang ia kira telah sembuh, ternyata hanya terkubur di balik kepura-puraannya. Namun, kini ia berada di tengah badai yang tidak tahu bagaimana harus ia hadapi. "Bagaimana jika Sandr
Fiona menyerahkan uang itu dengan kasar kepada ayahnya. Tanpa mengucapkan terima kasih, pria itu segera pergi, meninggalkannya dalam kekacauan emosi. Begitu pintu tertutup, Fiona terjatuh ke lantai, tubuhnya gemetar. Air matanya mengalir deras saat rasa frustrasi dan kemarahan mendidih di dalam dirinya. Dengan emosi yang tak terkendali, Fiona bangkit dan mulai melemparkan barang-barang di ruang tamu. Vas bunga pecah berkeping-keping, dan buku-buku berserakan di lantai. “Kenapa hidupku selalu begini?” teriaknya, penuh rasa putus asa. “Yang aku inginkan hanya kehidupan mewah dan cinta! Kenapa semuanya selalu hancur?” Bayangan Leo yang terus-menerus menyebut nama Sandra menghantui pikirannya. Semua pengorbanan yang ia lakukan terasa sia-sia. Perasaan cemburu, marah, dan tidak berdaya berkumpul menjadi satu, menghancurkan semua logika dan kendali dirinya. Ia mengangkat ponselnya, lalu menekan nomor Amar. “Ka Amar, datang ke rumah sekarang,” ucap Fiona, suaranya serak dan penuh teka
Leo masih terjaga,pikirannya terus melayang pada Sandra. Namun, saat ia menghirup napas panjang, pikirannya kembali membawa dirinya ke sebuah kehidupan yang tak pernah ia jalani. "Bagaimana kalau waktu itu aku menikah dengan Sandra?" pikirnya, membiarkan imajinasinya mengambil alih. Ia membayangkan Sandra dengan gaun pengantin yang cantik, senyum lembut menghiasi wajahnya, saat mereka saling mengucapkan janji di hadapan Tuhan. Kehidupan mereka akan dimulai dengan penuh cinta, tanpa keraguan. Mereka akan tinggal di rumah yang hangat, tempat di mana tawa selalu mengisi setiap sudut ruangan. Dalam bayangannya, Leo bisa melihat Sandra menyambutnya setiap pulang kerja dengan senyum khasnya. Ia membayangkan mereka duduk bersama di ruang tamu, berbagi cerita hari itu, atau menikmati teh di sore hari di taman kecil mereka. Tak hanya itu, Leo juga membayangkan dua atau tiga anak kecil berlarian di sekitar mereka, memanggilnya "Ayah" dengan penuh semangat. Anak-anak yang mungkin memilik
Melihat Sandra yang masih tampak kaku dan menunduk, semangat Leo untuk menari seakan runtuh. Ia menghela napas panjang,tanpa berkata banyak, ia langsung menggenggam tangan Sandra. "Ayo keluar!" katanya singkat, suaranya terdengar datar namun penuh makna. Sandra terkejut, namun ia tidak berusaha menolak. "Leo, ada apa?" tanyanya, sedikit bingung. Leo hanya menjawab singkat, "Kita butuh udara segar." Mereka berjalan keluar dari aula pesta menuju taman yang diterangi lampu malam yang temaram. Suasana di luar begitu tenang, hanya ditemani suara angin yang berhembus lembut. Leo memilih sebuah kursi di dekat air mancur kecil dan meminta Sandra untuk duduk bersamanya. Sementara Sandra masih mencoba membaca situasi, Leo membuka pembicaraan dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan. "Aku rindu..." katanya tiba-tiba. Sandra menoleh dengan bingung. "Rindu apa?" "Masa-masa dulu," jawab Leo, menatap ke arah langit malam. "Saat kamu selalu menyapaku dengan ramah, bersikap lembut, tanpa
Keesokan harinya, Sandra duduk di sebuah kafe yang tenang bersama sahabatnya, Siska. Aroma kopi hangat dan suasana yang nyaman membuat percakapan mereka mengalir santai. Siska menyeruput cappuccino-nya sambil sesekali melirik Sandra yang terlihat lebih tenang daripada biasanya. "Jadi," Siska mulai, suaranya sedikit menggoda, "Bagaimana rasanya semalam,menghabiskan makan malam bersama Bagas di restoran? Kalian kelihatan cocok, lho." Sandra mendongak dari cangkir kopinya, menatap Siska dengan alis terangkat. "Siska, kamu tahu kan, aku hanya ikut karena itu urusan kerja. Lagipula,Bagas itu atasan.Tidak lebih dari itu." Siska terkekeh. "Iya, iya. Tapi aku lihat caranya dia memandangmu... beda, Sandra. Dia tidak hanya bos biasa." Sandra menghela napas, menaruh cangkirnya di atas meja. "Aku akui, dia memang atasan yang sangat baik. Dia perhatian,tidak pernah diluar batas, dan selalu menghargaiku. Tapi itu saja. Aku tidak mau berpikiran lebih jauh." Siska tersenyum puas, merasa senang m
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Leo melangkah keluar dari gedung kantor dengan kepala penuh pikiran. Ia berencana pulang lebih awal untuk menenangkan diri. Namun, suara familiar memanggil namanya dari kejauhan. "Leo!" Leo berbalik dan mendapati Fiona berlari ke arahnya. Sebelum sempat bereaksi, Fiona memeluknya erat, membuat Leo terkejut. "Fiona?" Suaranya terdengar bingung. Ia melepas pelukan Fiona dengan hati-hati dan menatapnya. "Ada apa? Bukankah aku sudah bilang untuk menunggu di rumah? Kenapa kamu datang kemari?" Fiona menatap Leo dengan wajah memelas, matanya mulai berkaca-kaca. "Kenapa? Kamu tidak senang melihatku? Atau... karena Sandra?" Leo terdiam sejenak, tak menyangka Fiona akan menyebut nama itu. Ia mencoba menjawab dengan tenang, "Bukan begitu. Aku hanya—" "Sudahlah, Leo," potong Fiona. Suaranya mulai bergetar, dan air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. "Kamu tidak perlu berbohong. Aku tahu semuanya. Kamu ingin meninggalkanku, kan? Karena Sandra sudah kembali
Fiona menyerahkan uang itu dengan kasar kepada ayahnya. Tanpa mengucapkan terima kasih, pria itu segera pergi, meninggalkannya dalam kekacauan emosi. Begitu pintu tertutup, Fiona terjatuh ke lantai, tubuhnya gemetar. Air matanya mengalir deras saat rasa frustrasi dan kemarahan mendidih di dalam dirinya. Dengan emosi yang tak terkendali, Fiona bangkit dan mulai melemparkan barang-barang di ruang tamu. Vas bunga pecah berkeping-keping, dan buku-buku berserakan di lantai. “Kenapa hidupku selalu begini?” teriaknya, penuh rasa putus asa. “Yang aku inginkan hanya kehidupan mewah dan cinta! Kenapa semuanya selalu hancur?” Bayangan Leo yang terus-menerus menyebut nama Sandra menghantui pikirannya. Semua pengorbanan yang ia lakukan terasa sia-sia. Perasaan cemburu, marah, dan tidak berdaya berkumpul menjadi satu, menghancurkan semua logika dan kendali dirinya. Ia mengangkat ponselnya, lalu menekan nomor Amar. “Ka Amar, datang ke rumah sekarang,” ucap Fiona, suaranya serak dan penuh teka
Malam semakin larut, namun pikiran Leo tidak pernah tenang.Leo duduk di sofa dengan segelas whisky di tangannya, ia menatap kosong ke arah meja di depannya. Botol minuman hampir habis, tapi rasa gelisah yang menghantui tidak juga mereda. "Kenapa semuanya jadi seperti ini?" pikir Leo, meremas rambutnya sendiri. Keputusan untuk menikahi Fiona kini terasa seperti belenggu yang semakin mengetat. Ia menikahi Fiona di saat hidupnya hancur berantakan setelah Sandra menghilang tanpa alasan yang jelas. Fiona hadir di saat ia rapuh, menawarkan kenyamanan dan harapan. Ia berpikir saat itu, mungkin cinta pada Sandra akan memudar seiring waktu. Tapi, kenyataan berkata lain. Sandra kembali, meski dengan ingatan yang hilang. Tatapan mata wanita itu, suara lembutnya—semuanya membawa Leo kembali ke masa lalu. Luka lama yang ia kira telah sembuh, ternyata hanya terkubur di balik kepura-puraannya. Namun, kini ia berada di tengah badai yang tidak tahu bagaimana harus ia hadapi. "Bagaimana jika Sandr
Hujan mulai mereda ketika Leo membawa mobilnya keluar dari jalan utama. Pepohonan lebat di sepanjang jalan kecil itu menciptakan kanopi alami yang membuat udara terasa lembap dan dingin. Sandra duduk di kursi, kedua tangannya meremas tas kecil di pangkuannya, seolah mencari pegangan dari rasa cemas yang perlahan merayap. Setiap tikungan terasa seperti sebuah misteri. Sandra memandang Leo, mencoba membaca ekspresinya, tetapi pria itu hanya menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras, namun matanya menyiratkan sesuatu yang sulit ditebak. Ketika mobil berhenti di depan sebuah taman yang indah, Sandra mengernyit. Taman itu terlihat seperti dunia yang lain—jalan setapak berbatu dihiasi bunga-bunga yang masih basah oleh hujan. Daun-daun besar meneteskan sisa air, menciptakan simfoni pelan. Namun, ada sesuatu tentang tempat ini yang membuat Sandra merasa aneh. Bukan ketakutan, tetapi rasa tak nyaman, seperti menyentuh kenangan yang terkubur. "Apa ini?" tanya Sandra, nyaris berbisik. L
Sandra duduk bersama Siska di sebuah kafe yang tenang, menatap cangkir kopinya yang belum tersentuh. Setelah menarik napas panjang, ia menceritakan semua yang terjadi—konfrontasinya dengan Leo, kata-kata menyakitkan yang dilontarkan, hingga rasa bingung yang terus menghantuinya. Siska mendengarkan dengan seksama, tetapi wajahnya memerah karena amarah. "Sandra! Kamu harus menjauh darinya! Dia jelas tidak menghargaimu! Wanita murahan? Berani sekali dia berkata seperti itu!" Sandra menunduk, tangannya gemetar di atas meja. "Aku tidak tahu Siska,aku merasa ada yang salah. Tapi, aku tidak tahu harus bagaimana..." Siska memegang tangan Sandra dengan erat. "Dengar, Sandra. Kalau dia benar-benar peduli padamu, dia tidak akan bicara seperti itu. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu! Jauhkan dirimu dari dia sebelum dia membuatmu semakin hancur." Sandra tidak menjawab, hanya terdiam dengan wajah yang penuh kebingungan. Ia tahu Siska hanya ingin melindunginya, tetapi hatinya tidak b
Sandra pun berbalik hendak meninggalkan Leo,namun saat Sandra mencoba pergi, Leo dengan cepat menarik lengannya, menghentikan langkahnya. "Sandra!" katanya dengan geram.Sandra berbalik, terkejut dengan tindakan Leo. Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, Leo menariknya lebih dekat dan mencium bibirnya dengan penuh emosi. Ciuman itu tidak lembut; itu adalah luapan amarah, rasa sakit, dan cemburu yang ia tahan selama ini.Sandra terkejut dan marah,dia langsung memberontak. Dengan tenaga yang ia miliki, ia mendorong Leo untuk menjauh, lalu menampar wajahnya cukup keras."Apa yang kamu lakukan, Leo?!" teriak Sandra, matanya penuh dengan kemarahan dan air mata.Leo, bukannya merasa bersalah, malah semakin terbakar oleh emosinya. "Aku tahu kenapa kamu seperti ini, Sandra? Karena kamu sudah punya pria lain yang lebih kamu anggap berarti! Kamu bahkan merasa nyaman dengannya, sedangkan aku kamu abaikan!"Sandra menggeleng, air mata membanjiri wajahnya. "Bagaimana kamu bisa mengatakan itu p