Home / Lainnya / Jeruji Tanah Anarki / 9. Jika kau mati lima menit setelah ini

Share

9. Jika kau mati lima menit setelah ini

Author: Maula Faza
last update Last Updated: 2021-07-27 12:25:24

“Baiklah. Apa saja yang perlu kubawa untuk nanti?”

Shaw melangkah lebar-lebar, riang, dan semangat menuju kamar.

“Sepertinya aku harus mencatatnya dulu.”

Ia menghampiri meja dan meraih buku catatan. Namun, tangannya terhenti saat matanya menangkap sesuatu yang tidak asing.

Tas pemberian Daniel!

Mata Shaw membulat. Diraih dan dirabanya tas yang terpampang di hadapan. Dicek pula isinya. Dimiringkan ke depan, kiri, kanan, belakang, memastikan itu adalah tas yang sama.

“Ini tas dari Kak Daniel!” Shaw nyaris berteriak. “Tapi bagaimana bisa ada di sini? Siapa yang membawanya ke sini?”

Shaw mengangkat kepala, menoleh ke jendela yang tertutup. Keningnya berkerut.

“Aku.” Sebuah suara muncul dari belakang.

Shaw membalik badan, menatap waspada, tetapi juga penuh tanda tanya akan sosok misterius yang bersandar pada lemari.

“Siapa?” Shaw bertanya.

Sosok itu maju beberapa langkah, menautkan tangan di belakang, di balik jubahnya, sembari pandang mengitari kamar. Topeng yang dikenakannya menutup sempurna wajah dari atensi Shaw.

“Ruangan ini masih sama, tidak ada yang berubah,” kata sang sosok, pelan dan tenang. Simpul senyum terukir di balik topeng bersama tatapan kesedihan yang tersirat dari matanya.

Kening Shaw makin berkerut. Perkataan jubah hitam membingungkannya. Itu terdengar seperti sang sosok pernah berada di sana sebelumnya, jauh hari, mungkin di masa lalu sedangkan Shaw tidak menemukan itu di ingatannya.

“Apa maksud Anda?” Shaw menelengkan kepala.

Jubah hitam menjatuhkan tatap pada Shaw yang terlihat tenang. Alih-alih menjelaskan, ia malah melempar tanya.

“Apa yang kau sebenarnya coba lakukan?”

Yakin dan tidak yakin, Shaw mengerti maksud pertanyaan tersebut. Pasti tentang rencana pelarian. Kasak-kusuk itu mestilah sampai ke telinga sosok misterius di hadapannya jua.

“Tidak ada urusan untuk saya memberitahukannya.”

Benar, kan? Tidak ada yang perlu Shaw jelaskan. Tidak ada sesuatu yang penting baginya untuk dibagi dengan orang lain terkait itu, apalagi sang sosok yang tidak ia ketahui identitasnya.

Jubah Hitam maju beberapa langkah hingga jarak antara dirinya dengan Shaw terpaut tiga meter. Temaram lentera minyak tidak banyak membantu Shaw yang mencoba melihat mata di balik tudung hitam itu.

“Jika kau mati lima menit setelah ini, apa yang akan kau lakukan di waktu yang tersisa?” Jubah Hitam bertanya. Ini mungkin hanya praduga Shaw, tetapi ia merasa Jubah Hitam menjadi lebih serius.

Shaw mengerjap, terdiam tanpa melepas tatap, bingung harus menjawab apa. Tidak pernah ia memikirkan hal semacam itu.

Jubah Hitam tersenyum hangat di balik topeng. Masuk ke pendengarannya derap langkah mendekat di luar. Ia gerakkan tungkai mengikis jarak, mengulurkan tangan, mengusap kepala Shaw dengan sedikit menekan dan mengacak-acak rambut Shaw.

“Pikirkanlah itu,” ucap Jubah Hitam, kemudian bergeser ke samping, menaruh sebuah benda di atas meja.

“Shaw?” Seseorang memanggil dari luar, arah depan, beriring ketukan pintu.

Shaw menoleh sekilas ke samping, lalu bergegas ke depan, membuka pintu yang dikunci. Spencer dan Gracie selalu berpesan untuk mengunci pintu jika lembayung sudah terlihat.

Sekembalinya ke kamar, tidak didapati lagi sosok misterius berjubah hitam tadi. Hanya ada benda yang ditaruhnya di meja. Shaw mengambilnya, memperhatikan sejenak, lalu menyimpannya ke bagian lemari terdalam.

Pagi buta di depan kandang kuda mansion Hunt, Bailey sedang merapikan pakaian. Wilton bersamanya.

“Wilton, para prajurit belum berganti pos jaga, 'kan?”

Bailey mengusap kuda cokelat yang akan ia tunggangi. Wilton menutup pintu pagar kandang kuda dan menguncinya.

“Sudah, Tuan Muda.”

“Di mana pos jaga Bold?”

“Bold sedang libur. Biasanya dia menghabiskan waktu di asrama.”

“Begitu, ya. Baiklah, terima kasih! Aku pergi dulu, Wilton. Sampai jumpa!”

Bailey melajukan pelan kudanya, menghampiri Edvard yang sudah menunggu di pekarangan depan. Ketika sampai, ia melihat Edvard bercengkerama dengan Profesor Barid Baldric yang datang bersama asistennya, Ramas.

Belum sempat Bailey mendengari, obrolan ketiganya usai. Barid lekas mendekat. Di balik keramahan yang ditunjukkan Barid, Bailey menerka sang profesor datang untuk sesuatu.

“Tuan Muda, apa kita bisa berbincang sejenak?” Barid melontarkan tanya.

“Tentu,” sahut Bailey, turun dari kuda. “Kita bicara di dalam saja.”

Barid melirik Ramas sekejap sebelum mengikuti langkah Bailey. Ramas memberinya anggukan. Ia menunggu di luar bersama Edvard.

“Hari masih awal. Pastilah ada hal penting yang dibawa sampai-sampai bertandang sepagi ini,” pikir Bailey.

“Silakan duduk, Profesor.”

Bailey mendahului, duduk di kursi tunggal. Ia tatap lekat sang profesor dengan tanya.

“Begini ….” Barid membuka suara. “Kabar yang menyebar beberapa hari terakhir sudah sampai ke telinga saya. Jika Tuan Muda berkenan, maukah mengajak Shaw ke rumah saya kapan-kapan?”

Ada sesuatu yang menggelitik Barid perihal kabar itu dan ia ingin memastikannya sendiri. Namun, membahas hal tersebut di sekolah bisa mengundang hal yang tidak diinginkan. Untuk itulah ia datang ke mansion Hunt pagi sekali.

Seorang pelayan datang menyuguhkan hidangan, kembali ke belakang setelah Bailey mengucapkan terima kasih.

“Hum! Aku akan ajak Shaw ke rumah Profesor setelah menemui Bold.”

“Baik. Apa Tuan Hunt ada di rumah?”

“Ayah ada di ruang ….” Ucapan Bailey menggantung, terpotong oleh sahutan dari arah pintu.

“Aku di sini.”

Ascal muncul bersama asisten pribadinya, Bexter Larson, dari pintu depan. Ia duduk di seberang meja Barid dan melepas topi yang dikenakannya, menaruhnya di meja. Bexter berdiri di belakangnya.

Bailey seketika bungkam dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Argumennya dengan Ascal di meja makan saat sarapan kemarin lalu menjadi perbincangan terakhir mereka.

“Ada apa, Profesor?”

“Saya ingin membicarakan tentang Tomat Madu.”

Merespon tomat madu yang diucapkan, Ascal menatap Barid agak lama, lalu berpaling kepada Bailey.

“Bukankah kau akan ke rumah Shaw?”

Bailey mengangguk singkat, menoleh pada Barid. “Kutinggal Profesor dengan Ayah, ya ….”

Bailey langsung pergi tanpa berpamitan pada Ascal. Alis Barid terangkat, melirik Ascal. Ia tahu Bailey anak yang sopan dan pemandangan barusan terasa janggal untuknya. Namun, Ascal tidak bereaksi selain menatap punggung Bailey sebentar.

“Kita bicarakan di ruanganku saja.” Ascal berdiri. “Bexter, temani Ramas.”

Jalan menuju ruang kerja Ascal sepi. Jillian pun tidak terlihat.

Duduk di kursi kebesarannya, Ascal menaruh atensi penuh pada Barid.

“Apa yang ingin Paman sampaikan?”

Panggilan Ascal pada Barid jauh lebih akrab. Tentu akan membuat terkejut orang lain jika mendengarnya. Tidak banyak yang tahu bahwa Ascal dan Barid lebih dekat dan lebih akrab dari apa yang dikira kebanyakan orang.

“Neo bilang dia bertemu Keiki dan Keiki mengatakan pernah bertemu dengan Nakachi di Minangkabau delapan tahun lalu.” Barid menaruh kedua tangan di meja. Otaknya mencoba mengingat pesan yang dikirimkan Neo melalui surel.

“Keiki? Nakachi?” Ascal menatap bingung. Sedetik kemudian kedua matanya membulat. “Nakachi asisten Faryl?!”

Barid mengangguk.

“Benar. Nakachi asisten Faryl. Faryl suami Hima. Hima kakak angkat Maru.”

Ascal terdiam saat Barid menyebut nama Maru. Ada gejolak di dalam dirinya.

“Lalu Keiki?”

“Keiki adalah sepupu Nakachi. Keiki Takehiro.”

“Keiki Takehiro? Sepertinya tidak asing.” Ascal bersandar.

“Kalau kau ingat nahkoda muda yang melemparimu dengan ikan kerapu,” kata Barid sambil menahan tawa.

Ascal melebarkan mata.

“Oh, Hiro? Si sipit berambut jambul itu?” tanya Ascal memastikan.

Barid mengangguk.

“Aku tidak akan melupakan anak itu dan perbuatannya. Bisa-bisanya dia membuatku pulang dengan badan bau anyir ikan,” lanjut Ascal dengan nada kesal.

Barid melepaskan tawa.

“Lantas?” Raut muka Ascal kembali serius.

Puas tertawa, Barid menjawab, “Di sana, Nakachi bercerita pada Keiki kalau dia pernah bertemu Hao Yi dan Maru di Bandung dua tahun sebelumnya dan saat itu Hao Yi memberitahu bahwa dia dan Maru tinggal di Argapura.”

“Lalu?” Jelas sekali Ascal tidak sabar mendengar lanjutannya.

“Saat Neo melakukan penelusuran, dia mendapati Hao Yi dan Maru sudah pindah.” Barid menarik napas. “Hanya itu saja.”

“Itu sudah sangat lama.” Ascal beranjak, berjalan ke lemari kaca tempat buku-bukunya tersimpan. Ruang kerjanya adalah ruangan kedap suara. Namun, itu tidak begitu berarti bagi Ascal yang pendengarannya terlampau tajam.

Ascal berbalik, menatap Barid hangat. “Terima kasih, Paman.”

Derit kursi terdengar. Barid menghampiri Ascal, menepuk pundaknya.

“Ada banyak orang yang membutuhkanmu. Percayalah ... keyakinan Hao Yi dan Maru bukanlah omong kosong. Tegarkan pundakmu, Ascal. Kau pasti akan menang. Kau harus percaya itu, As. Kau pasti bisa!”

Ascal bergeming.

“Dan jangan abaikan keluargamu!” kata Barid lagi. Kakinya berderap. Beberapa langkah dari pintu, ia berhenti dan berbalik. “Kau tahu bagaimana perasaan Jill dan kau pernah menjadi seorang anak kecil, bukan?”

Tidak ada sahutan. Ascal membisu. Ia antar Barid keluar sampai menghilang di balik gerbang.

Kembali ke ruang kerja, Ascal hampiri lemari buku. Termenung ia menatap deretan buku yang rapi. Segar dalam ingatan tentang bagaimana dulu rak itu seringkali berantakan karena ulahnya.

Tiap malam, Ascal di masa lalu akan datang untuk mencari satu buku, membacanya sampai habis malam itu juga. Besoknya, ia akan menceritakan apa yang ia baca pada seorang gadis berambut hitam panjang nan lurus, berkulit sewarna batu pualam, dimpel menghias kedua pipinya. Wajahnya terlihat sangat manis dan menggemaskan saat tersenyum menurut Ascal. Salah satu pemandangan terfavorit Ascal.

Sebuah burung merpati putih datang mengetuk jendela kecil di samping atas lemari. Ascal membuka jendelanya, menangkap sang burung. Terlihat sebuah bambu kecil terikat di kakinya. Ascal melepaskan ikatan itu, kemudian melepaskan burung yang langsung terbang ke luar. Jendela ia tutup dan kunci.

Di dalam bambu terdapat sebuah gulungan kertas. Saat gulungan kertas dibuka, terpampang satu baris kalimat yang ditulis dengan aksara sandi. Ascal meremas kertas itu, mengambil korek api, membakar kertasnya sampai tidak bersisa.

“Makin menjadi saja mereka,” gumam Ascal lirih. Memerah wajahnya. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Jeruji Tanah Anarki   10. Tuan, Anda berdarah!

    “Tetap pergi atau batalkan?” Shaw berpikir.Shaw dilema. Tujuan utama pergi mencari panasea dan mengajak Bold adalah agar bisa kembali ke barat daya, mengambil tas pemberian Daniel, tetapi sekarang tas itu sudah kembali padanya.“Jadi, kalian akan langsung pergi?”Spencer meletakkan sebuah keranjang penuh apel merah yang sudah dicuci. Ia masukkan apel itu ke dalam dua wadah.“Benar, Kek. Kami akan langsung pergi biar tidak kesorean nanti pulangnya soalnya ini sudah mau siang,” jawab Shaw sambil merapikan pakaian setelah Edvard mengobatinya. Ia menambahkan dalam hati, “Pergi sajalah. Aku sudah terlanjur bilang, Bailey pun pasti sudah mengatakan itu pada orangtuanya. Dia juga sudah di sini.”“Ya sudah, berhati-hatilah. Ini ada apel yang sudah masak. Kakek memetiknya pagi-pagi sekali hari ini,” ujar Spencer, memberikan sekantung apel merah pada Bailey dan Edvard.“Terima kasih, Kek,” jawab Bailey dan Edvard.Shaw, Bailey, dan Edvard lantas pamit. Spencer dan Gracie melepas kepergian ketig

    Last Updated : 2021-07-28
  • Jeruji Tanah Anarki   11. Siapa namamu?

    “Yeayy!” Shaw melompat riang. Ia berseru lagi, “Bold mau!”Air muka tenang Bailey berubah. Sekejap ia terkesiap oleh teriakan Shaw. Tingkah Shaw yang langsung menyimpulkan padahal Bold belum menjawab adalah faktor lainnya.“Tidak.” Bold akhirnya menjawab.Sekarang air muka Shaw yang berubah. Ia menunduk murung.Bold mengernyit.“Aku akan berubah pikiran kalau kau bisa menjatuhkan pedangku.”Shaw mengangkat wajah, mengukir kembali senyumnya.“Bertarung?”“Shaw belum sembuh benar. Biar kugantikan.” Bailey mengajukan usul.“Tidak apa, Bailey. Aku saja. Tidak masalah.”Shaw mundur beberapa langkah dan mencabut pedang dari sarung di sisi kiri tubuhnya.“Haah ... ya sudah.”Bailey mengalah, menepi, membiarkan Shaw dan Bold melanjutkan. Beberapa prajurit menengok ketika mendengar pedang Shaw dan Bold mulai beradu, kemudian mendekat dan menonton di tepian. Ini adalah momen langka bagi mereka juga Bailey. Sang Tuan Muda bisa melihat bagaimana Shaw menggerakkan pedangnya jika bertarung dengan or

    Last Updated : 2021-07-29
  • Jeruji Tanah Anarki   12. Riuh di alun-alun

    “Shaw. Namaku Shaw.”“Hanya Shaw?” tanya Barid lagi.Shaw mengangguk.“Hmm ... baiklah. Silakan diminum.”Barid duduk, mengambil gelas berisikan air jeruk manis dan meminumnya.“Tuan Muda, terima kasih sudah beranjang dan membawa Shaw serta.”“Hum. Jadi, kenapa Profesor ingin bertemu Shaw?”Bailey tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak mengajukan pertanyaan yang muncul dalam benaknya sejak pagi. Nama Shaw sedang melambung dalam rumor, Bailey tahu benar, tetapi keraguan menyusupinya bahwa Barid ingin bertemu Shaw karena hal tersebut.“Saya hanya ingin melihat secara langsung. Ah, kalian pasti belum makan. Mari kita makan!”Barid berdiri, menggandeng tangan Bailey dan Shaw hingga keduanya mau tak mau berdiri mengikuti.Bold tetap diam di tempat. Dalam benaknya, Bold berpikir bahwa dirinya tidaklah pantas untuk ikut serta. Di ruang tamu, mereka semua bisa duduk dalam jajar dan tinggi kursi yang sama, tetapi di meja makan, itu adalah hal lain lagi. Tempat yang berbeda.Barid menolehkan k

    Last Updated : 2021-07-30
  • Jeruji Tanah Anarki   13. Menghilangnya lima tahanan

    Dunia sedang tertidur. Pekat malam menyelimuti raga dalam lelap, menemani sukma dalam bunga mimpi.“Siapa kau?”Mata bulat hitamnya menyipit, mencoba menyingkap entitas di balik jubah dan topeng hitam sesosok di depan jeruji. Sisi lain memperhatikan gerak jemari sang sosok yang tampak menggerakkan sesuatu. Sebuah kunci.Temaram lentera menghasilkan siluet sang sosok yang justru makin menyembunyikan dirinya. Hanya berupa bayang hitam yang mengecewakan.“Mau apa kau?”Matanya terus mengawasi sementara raga memasang kuda-kuda. Tubuh yang melemah kehilangan banyak tenaga oleh luka ia abaikan. Tungkai mundur merapat dinding bersamaan sang sosok yang berhasil membuka gembok yang mengunci pintu jeruji besi. Sekarang sang sosok melangkah masuk, mendekat pada gelapnya ruang.Ketika kau tahu bahwa pekat malam menyimpan berjuta misteri, kau kira, apa yang akan kau temui saat memutuskan terjaga di titik tergelap malam? Dalam setarik napas, dalam sekejap, semua hal bisa terjadi.“Tuan, lima tahanan

    Last Updated : 2021-07-31
  • Jeruji Tanah Anarki   14. Mata yang familier

    “Apakah Anda terluka, Tuan muda?” Bexter bertanya sambil memindai keadaan Bailey.“Aku tidak apa-apa, Bexter, tapi kudaku sepertinya tidak bisa berdiri.”Bailey melirik sosok misterius yang tersisa. Satu prajurit mengunci kedua tangan sosok tersebut dengan rantai. Sesaat mata keduanya bersirobok saat sang sosok didorong untuk berjalan, melewati Bailey. Keempat sosok lain yang sudah tidak bernyawa digendong di pundak oleh empat prajurit berbadan kekar.“Biar prajurit membawa kudanya ke mansion nanti. Tuan muda, oh! Leher Anda terluka!”Seruan Bexter memancing atensi prajurit lain dan dalam sekejap ketegangan tercipta. Satu dua dari mereka meneguk ludah, lainnya berusaha bersikap biasa.Bailey meraba lehernya, melihat darah di tangannya dari luka itu.“Hanya luka kecil, tidak usah khawatir. Cukup tidak memberitahukannya pada orang lain, maka ini tidak akan jadi masalah.”Bailey tahu apa yang akan terjadi. Meskipun luka di lehernya cenderung tipis, tidak besar dan dalam, masalah tetap aka

    Last Updated : 2021-08-01
  • Jeruji Tanah Anarki   15. Bekal

    “Bentuknya seperti peti. Kau tahu ini apa, Bold?”Benda di tangannya Shaw sodorkan pada Bold agar dapat melihat lebih jelas. Mereka masih di gudang.“Kurasa memang peti. Ada tempat kunci, lihatlah.” Bold menunjuk satu lubang kecil di tengah benda itu.“Tapi tidak ada kuncinya.”“Mungkin kakek dan nenekmu tahu.”“Hmm ... benar juga.”Lesu Shaw menanggapi perkataan Bold barusan. Kakek dan neneknya mungkin tahu, tetapi masalahnya adalah apakah mereka akan memberikan kunci itu padanya jika mereka tahu dan memilikinya? Sisi muara pikiran buruk dan cemas menghinggapi isi kepala Shaw. Gundah ia dibuatnya.“Eeeehhhh ... kenapa masih di situ?”Satu dari dua yang baru saja dibicarakan datang. Panjang umur Gracie yang muncul dari pintu, mencari keduanya.“Ayo, masuk. Hari sudah gelap.”Shaw dan Bold saling berpandangan sesaat, lalu berjalan mengikuti Gracie.Bold agak canggung, tetapi perlakuan hangat kakek nenek Shaw perlahan mencairkannya. Ia bahkan ikut bersenda gurau saat makan malam bersama.

    Last Updated : 2021-08-02
  • Jeruji Tanah Anarki   16. Cerita Mival

    “Dasar lambat! Ayo, cepat!”Ctash!“Ba … baik, Tuan.”“Lebih cepat lagi! Dasar anak pemalas!”Tungkai yang gemetar melangkah terseok-seok. Rantai dengan bola logam di kedua kaki tidak beralas memberatkan langkah, ditambah sebuah karung yang memperparah sampai raga membungkuk.Aksi tidak menyenangkan mata tersebut tertangkap pelupuk mata Shaw. Ia berbelok ke sana. Bold yang sedikit terkejut sigap mengikuti. Kedua orang yang mengganggu pemandangan Shaw itu menghentikan diri dan menoleh pada kehadiran yang tak diundang.Terlihat jelaslah oleh Shaw, seorang anak berkulit sawo matang lagi kurus yang terlihat begitu tersiksa, tetapi berusaha tidak menunjukkan. Di hadapan samping kiri Shaw, seorang pria dewasa yang Shaw taksir usianya sekitar 40-50 tahun.“Siapa kau?” Sang pria dewasa bertanya setelah mengamati Shaw dari atas ke bawah, lalu pandangannya berganti pada Bold yang baru datang.Mengetahui yang mendatanginya adalah prajurit elite tersohor, sang pria mematung di tempat. Pikirannya m

    Last Updated : 2021-08-03
  • Jeruji Tanah Anarki   17. Pesan dalam anak panah

    Luka di telapak kaki Mival selesai diobati dan dibalut perban. Shaw melepas sandal yang ia kenakan, memakaikannya ke kaki Mival.“Kau anak yang kuat, Mival. Kau sangat tangguh!” puji Shaw, menepuk pelan betis Mival dua kali seraya tersenyum cerah.“Sebentar ….”Shaw mencuci tangan juga kotak makannya ke sungai, kemudian memasukkan kotak makan ke dalam ransel setelahnya dan kembali.Mival merasa pipinya basah. Ia mengangkat tangan, mengusap dengan jemarinya. Ketika air matanya berderai lagi dan lagi, Mival menutup matanya dengan punggung tangan kanan.Shaw duduk di tempatnya, menatap Mival di samping dengan senyum dan membawa anak delapan tahun itu ke dalam dekapan.“Kau hebat, Mival. Orang lain belum tentu bisa bertahan sampai sekarang sepertimu,” ujar Shaw lirih.Bold terdiam memperhatikan. Ia masih belum terbiasa membuka diri dan memeluk orang lain.“Masa depanmu pasti cerah. Kau tidak boleh putus asa. Semuanya akan membaik,” tutur Shaw lembut sambil mengusap-usap punggung Mival. Ana

    Last Updated : 2021-08-04

Latest chapter

  • Jeruji Tanah Anarki   102. Markas naga hibrid

    Kilau cahaya pohon dan jalan memandu Bailey ke kaki gunung sisi utara, melewati area yang Bailey datangi tempo lalu bersama Shaw dan yang lain pada malam operasi penambangan ilegal. Semak belukar lebih tinggi, lalu ketika Bailey sampai di timur, menuju belokan ke tenggara, kilau cahaya kemerahan berkelap-kelip di depan.Bailey segera menghentikan laju kudanya.“Profesor bilang warna lain selain hitam dan putih akan cenderung samar, tapi merah itu terlalu jelas,” gumam Bailey.Menggeser fokus tatapannya, Bailey menemukan lebih banyak siluet merah dengan haki yang menguar di dalam sebuah gua. Bailey mengamati sekitar lebih jeli. Terlihat oleh matanya dinding seperti kubah di atas.Bailey menyalurkan hakinya ke kuda, tetapi tetap menyamarkannya, kemudian membuat kuda berderap pelan dan santai. Sang kuda bagai berjalan di atas angin; tidak ada suara yang terdengar tiap kali kakinya memijak.Mendekati gua, Bailey turun dari kuda. Ia ikatkan tali kuda ke sebuah pohon, kemudian melanjutkan d

  • Jeruji Tanah Anarki   101. Monokrom

    Aaban mengangguk, kemudian beralih tatap pada prajurit yang tadi membawakan kuda.“Buka gerbangnya.”Sang prajurit mengangguk patuh, kemudian berlari menuju pos jaga di sisi salah satu gerbang. Model pos agak tinggi dari permukaan tanah, jadi, ia mendongak dan berseru pada prajurit yang berada di pos.“Buka gerbangnyaaaa!”Prajurit di pos segera menjalankan perintah. Engsel gerbang segera berbunyi, lalu gerbang berderit, perlahan terbuka seiring Bailey menunggangi kuda.“Hati-hati, Tuan Muda!” kata Aaban.Bailey mengangguk. “Aku pergi.”Prajurit yang berseru pada prajurit di gerbang menyingkir, kembali ke sisi Aaban. Bailey menghentak tali kuda, melewati gerbang begitu gerbang terbuka lebar.“Tuan Muda sangat berani dan cerdik,” celetuk prajurit di sisi Aaban. Ia memandangi kepergian Bailey dengan binar takjub di matanya.“Dia putra pemimpin Zanwan. Keberanian dan kecerdikan akan bagus untuk menjadi bagian dari dirinya,” kata Aaban sambil memandangi Bailey yang menjauh, membelah padan

  • Jeruji Tanah Anarki   100. Ancaman Jillian

    Matahari telah terbenam di ufuk barat. Malam telah bertakhta. Dinginnya udara menerpa Zanwan sedingin suasana di meja makan mansion Hunt.“Wilton, di mana Bailey?” Jillian bertanya.Piring-piring masih terisi, belum habis setengah hidangan di atasnya. Satu kursi di meja makan, kursi yang biasa diduduki Bailey, kini kosong. Wilton berdiri di belakang samping kursi tersebut.Pelayan mengatakan Bailey tidak ada di kamarnya beberapa saat lalu. Sebentar sebelum duduk ke kursinya, Jillian pun mengecek kamar Bailey, hanya menemukan ruangan kosong. Sampai Ascal tiba, Bailey belum juga muncul. Tak ayal Ascal memanggil Wilton.“Tuan Muda ….” Wilton bicara serupa suara bisikan di keramaian, nyaris tidak terdengar saking lirihnya.Jillian mengerjap. Ia melirik Wilton sambil makan. Wilton terus menunduk, bahkan tidak kunjung menyelesaikan bicaranya. Ascal berganti melontarkan tanya tanpa menoleh.“Wilton, di mana Bailey?”“Tuan Muda pergi ….” Wilton masih serupa anak kecil yang bersembunyi.“Wilto

  • Jeruji Tanah Anarki   99. Jawaban Bailey

    Bailey manggut-manggut. “Aku tidak mengira kalian akan mengajukan pertanyaan semacam itu, bahkan tidak mengira kalian akan pernah menghiraukan hal semacam itu. Terima kasih, kurasa.”Senyum terukir di hati Bailey. Sebuah kabar gembira bagai menggema di dalam dirinya. Begitu pula yang dirasakan Otto dan Milo. Bailey menyambut baik, tentu itu kabar besar yang membahagiakan. Sekali lagi, perkiraan mereka salah. Sepertinya Bailey tidak mendengar pembicaraan mereka di kelas atau mungkin mendengar, tetapi tidak mempermasalahkan, dan itu membuat kegembiraan mereka kian bertambah.“Sanjungan lebih pantas untukmu,” kata Milo.Bailey merespon itu dengan senyum kecil. Otto dan Milo mengerjap, segera berpikir apakah mereka salah lihat. Namun, mereka dapati bahwa mereka tidak salah lihat. Bailey memang tersenyum. Senyum itu, Bailey tujukan kepada mereka.“Aku mulai dari pertanyaan pertama, ya,” kata Bailey, kemudian menghirup udara sejenak.Otto dan Milo mengangguk dan memasang telinga baik-baik.

  • Jeruji Tanah Anarki   98. Pertanyaan Otto dan Milo

    “Kau mendengarnya?” Otto bertanya dengan wajah memucat. Suaranya amat pelan sampai nyaris tidak terdengar.Milo mengangguk kecil dalam gerakan patah-patah dan sarat keraguan. Ekspresi pada wajahnya tidak jauh berbeda.Kepala mereka kemudian bergerak bersamaan, berpaling tatap ke baris terdepan, lalu mereka melihat Bailey beranjak dari duduknya, pergi keluar.“Apa Tuan Muda mendengar pembicaraan kita?” Milo bertanya dalam suara lebih rendah, serupa bisik-bisik yang mungkin saja akan hanyut terbawa angin.Otto menggeleng. Bukan jawaban meyakinkan, hanya harapan bahwa itu adalah kenyataan yang terjadi.“Kalau benar, semesta mungkin tidak akan berpihak pada kita setelah ini,” kata Otto.Cemas menyerang Otto. Kalau Bailey benar mendengar pembicaraan mereka, apakah kali ini Bailey akan tersinggung? Kesal? Emosi dan apa pun yang lebih buruk?“Kurasa kita sebaiknya bergegas?” Milo melirik Otto.“Itu keputusan paling baik.” Otto berdiri.Milo memasukkan buku catatan yang baru sebentar ia baca

  • Jeruji Tanah Anarki   97. Temui aku di perpustakaan

    “Katakan saja,” ucap Bailey di sela makannya.Bailey tahu dua anak lelaki ini takkan mendatanginya kalau hanya untuk makan. Ada meja-meja kosong lain yang siap untuk ditempati, pun keduanya belum pernah begitu pada Bailey sepanjang sejarah bersekolah walau satu kelas dengan Bailey.“Kami … agak … penasaran. Apa Tuan Muda akan mendaftar untuk turnamen?” Otto Atrius yang duduk di sebelah Milo bertanya. Bibir merah cerahnya berulang kali mengatup dan terbuka setelah pertanyaan diajukan. Otaknya berpikir apakah pertanyaan itu sudah pas atau tidak.“Turnamen umum, maksudmu?” tanya Bailey.Otto mengangguk. “Kami dengar-dengar tahun ini murid yang terpilih untuk mewakili sekolah boleh mendaftar turnamen umum. Kami juga baca informasinya di mading pagi ini.”“Kalau terpilih mewakili sekolah, lalu mendaftar di turnamen umum dan ternyata lolos dalam keduanya ke final, terlebih keluar sebagai juara di peringkat satu, akan otomatis mendapat tiket emas dan bonus berlipat.” Milo turut bicara setela

  • Jeruji Tanah Anarki   96. Keluarga yang sempurna

    “Ayah dan Ibu bawa apa? Itu terlihat banyak sekali!” Shaw mengamati tas-tas belanjaan dengan antusias. Salah satu isi yang tertangkap matanya adalah pakaian.“Oh, ini untuk putra Ibu yang paling manis!” Suara wanita menjawab.“Asyik! Pakaian, ya?” tanya Shaw.“Betul. Ada mainan juga!” Suara pria yang bicara.“Horeeee … mainan!” Shaw berseru gembira. Kebahagiaan meluap-luap pada suaranya.Di atas kaca, Shaw gemetar. Ia tidak mengira danau kaca keyakinan akan menampilkan momen seperti itu. Ia kira itu hanya akan berkisar perjalanannya, rencananya dengan Bailey, tantangan yang dihadapi dalam upaya mewujudkan impian tentang Zanwan. Namun, apa yang ia dengar sepenuhnya berbeda. Sama sekali tidak ada dalam bayangannya. Tidak sedikit pun.Mata Shaw bergetar. Air makin banyak di sana, lalu tumpah kala Shaw dengar suara yang sangat familier.“Shaw, jangan melompat-lompat tinggi begitu.” Itu suara Spencer, terdengar riang dan penuh kasih.“Shaw gembira sekali sepertinya.” Gracie menyusul bicara

  • Jeruji Tanah Anarki   95. Kaca keyakinan

    “Ini danaunya.”Shaw sampai di ujung hutan lain setelah dari hutan sunyi dan melewati padang rumput. Di hadapannya membentang danau jernih yang berkilau, besar dan luas yang tidak mampu Shaw ukur dengan pasti. Ia perkirakan luasnya sama atau bahkan melebihi lapangan alun-alun distrik Acilav.“Sampai di danau itu, cara paling cepat untuk melewatinya adalah membelahnya. Menyeberanginya,” kata Fu dalam pesannya sebelum berpisah. “Jangan terkecoh dengan ukurannya yang kau mungkin kira tidak seberapa luas; masih sangat mungkin untuk dilewati dengan mengitarinya. Terkadang dalam waktu dan untuk alasan yang tidak terduga, setelah melihat wujudnya, begitu kau berjalan, mencoba memutari danau untuk sampai di seberang, di sisi lain, kau akan dapati bahwa ujung danau bahkan tidak kautemukan. Semua yang kaulihat mungkin hanya akan menjadi hamparan air. Tidak ada lagi pepohonan, tidak ada lagi daratan selain tempat kau berpijak dan sekitar.”Shaw berjinjit, mencoba menjangkau seberang danau dengan

  • Jeruji Tanah Anarki   94. Bakat alam

    “Ada rencana untuk keluar lagi di sisa hari ini, Tuan Muda?” Wilton bertanya seturunnya ia dari kuda, memegangi tali setelah Bailey turun. Mereka baru sampai di mansion, pulang dari sekolah.“Kurasa tidak. Sepertinya aku akan habiskan waktu di meja belajar.”“Baik. Saya akan ada di pos malam ini kalau Tuan Muda butuh sesuatu.”“Ya. Aku masuk, ya. Terima kasih untuk hari ini, Wilton.”Bailey pergi, masuk ke mansion. Wilton mengiringi kepergian Bailey dengan anggukan penuh hormat. Bibirnya melengkung membentuk senyum. Usai Bailey tidak lagi terlihat, Wilton membawa kuda ke kandang.Sampai kamar, Bailey menyalakan penerangan, melepaskan ransel, dan bersih-bersih. Ia melanjutkan dengan menekuri buku-buku mata pelajaran sampai pelayan memanggil namanya dari luar pintu.Makan malam tiba, Bailey berseri-seri menemukan Jillian di meja makan. Canda tawa Jillian serupa bunga-bunga di musim semi dan keceriaan Bariela adalah penyempurna. Jillian telah kembali dengan warna cerahnya, tidak lagi ber

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status