Sandra adalah wanita berusia 29 tahun. Dia sudah menikah dengan Rayhan dan memiliki dua orang anak. Namun suaminya yang tempramental, membuat Sandra sering merasa depresi. "Luka yang tertoreh pada tubuh akan segera sembuh. Namun luka yang ada di dalam hati, bahkan waktu pun belum tentu dapat menyembuhkannya." Hingga suatu ketika, Sandra bertemu dengan Arya, partner bisnis suaminya. Arya diam diam memberikan perhatian lebih kepada Sandra. Pertemuan pertama mereka sudah membuat Sandra terkesan pada Arya. Apakah Sandra akan jatuh ke dalam pelukan Arya? Apakah rumah tangga Sandra dan Rayhan mampu bertahan dari kemelut orang ketiga?
View MoreNovi terlihat sangat menikmati keadaan. Ia merasa senang bisa membuat rumah tangga orang lain terpecah belah.Rayhan ingin menghentikan Sandra yang berlari ke kamar anaknya, tapi Ayunda menghentikan Rayhan."Biarkan saja dia! Dia sudah dewasa. Dia tak perlu merasa shock berlebihan seperti itu. Bukankah hal yang wajar jika lelaki memiliki istri lebih dari seorang.""Rayhan, mama benar. Lagipula datangnya aku ke sini, untuk membantumu meringankan tugas tugasmu di kantor."Di dalam kamar anaknya, Sandra mengemas baju Levin dan Ana. Ia kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk mengemas baju bajunya sendiri.Di dalam kamar, Sandra mencoba untuk menghubungi Arya. Tapi sang empunya tidak menjawab telepon.Tiba - tiba Ayunda masuk ke kamar Sandra tanpa permisi."Pergilah dari sini dengan segera. Tapi jangan ajak cucu cucuku!" Ayunda mengusir.Sandra menangis karena Ayunda mengusirnya. Ia lebih sedih karena Ayunda ingin mem
Tak kuat dengan stimulus yang terus diberikan oleh Novi, Rayhan pun melepaskan busana yang menempel di badannya. "BRak!" Rayhan menutup pintu dengan kencang. Dan dengan brutal melepaskan senjata pamungkasnya ke dalam sarang hangat milik Novi. Savana rumput tebal milik Novi akhirnya dilalap habis oleh 'pisang' milik Rayhan. Gerakan maju mundur layaknya seseorang yang sedang memompa ban sepeda dilakukan oleh Rayhan berulang kali, hingga ' pisang ' miliknya menyemburkan gumpalan adonan berwarna putih. Dan membuat Novi menggeliat bagaikan ulat bulu yang jatuh dari dahan pohon. Setelah selesai melakukan 'itu' Rayhan terlihat agak menyesal. "Maaf, untuk appa yang barusan kulakukan kepadamu," ucap Rayhan. "Tidak jangan minta maaf. Inilah yang kuingin kan sejak lama. Kini tak ada alasan bagimu untuk menolak menikah denganku," bisik Novi sambil mengecup mesra pipi Rayhan. Sebenarnya jus dingin yang di b
"Silahkan adukan saja! Aku tidak peduli!" seru Sandra."Kalian berdua kenapa terus bertengkar? Tidak bisakah kalian berdua akur?" Rayhan mencoba menengahi.Novi memulai actingnya. Ia menangis sesenggukan. Mencari simpati dari suami orang yang ia idam idamkan."Rayhan Wijaya, jangan lupa dengan apa yang pernah kau lakukan padaku. Dan ingat dengan ucapan mamamu tadi malam." Novi bicara sambil menangis."Aku tak pernah lupa, aku selalu menghormatimu." Novi permisi ke toilet untuk menghapus air matanya."Bagaimana ini? Kenapa Rayhan sulit sekali untuk ku takhlukkan?! Lebih baik sekarang aku kirim pesan teks kepada Ayunda." Novi berusaha mencari dukungan.Novi mengirim pesan teks singkat yang isinya menyatakan jika dia sedang ada di rumah Rayhan.[[ "Tante... Aku sedang makan siang di rumah Ray. Tapi dia tak mempedulikan diriku. Aku lebih baik pulang saja." ]] >> Send.[[ "Sabar ya sayang. Tante akan hubung
Nama Ayunda terpampang jelas di layar ponsel milik Rayhan."Ya Ma. Ada apa?" "Jika Novi datang ke rumahmu, sambut dia dengan baik. Apa kau mengerti?""Tapi ma.""Tidak ada tapi tapi! Lakukan saja apa yang mama minta! Jangan membantah! Membantah perintah ibu adalah tindakan buruk!" Ayunda menggertak."Baik Ma." Ayunda menutup teleponnya begitu saja. Rayhan meminta Sandra dan Novi untuk berhenti berdebat."Kalian berdua sudahlah! Jangan berdebat! Barusan Mama menelepon! Dia meminta kita untuk menerima Novi." "Apa?" Kedua alis Sandra saling bertaut. "Itu yang Mama katakan!" "Tapi Mas, dia baru saja menghinaku dan juga anak anak.""Sudahlah Sandra. Hanya sekedar kata kata, semua itu tak akan merugikan dirimu." Rayhan merangkul pinggul istrinya, merayunya dengan lembut dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Mereka berjalan bersama ke ruang tamu. Novi merasa cemburu melihat tan
"Kau wanita cac4t yang kurang ajar!" Novi meletakkan pecahan gelas di leher Wulan."Aku tak takut denganmu! Kau mau memb*nuhku! Bu*uh aku! Ayo!" teriak Wulan."Br3ngsek! Jika kau bukan adik dari Rayhan, maka aku akan mel3nyapkanmu!" Novi menatap dengan penuh kebencian."Cuih!" Novi bahkan melud4hi wajah Wulan.Wulan tak bisa melawan. Ia hanya bisa diam menerima semua perlakuan Novi."Ingat Wulan, aku akan memb*nuhmu jika kau berani macam macam, apalagi jika kau berani menggagalkan rencana pernikahanku dengan Rayhan!" Novi memberikan peringatan keras."BRak!" Wanita itu pergi dengan marah dari kamar Wulan sembari membanting pintu kamar.Di dalam kamar, air mata Wulan tak dapat dibendung. Buliran bening lolos begitu saja membasahi pipinya.Tak berselang lama, Ayunda kembali sendirian. Rayhan mengantarkan Dani kembali ke rumah."Kemana Novi? Kok dia sudah nggak ada." Ayunda melihat situasi kamar yang sudah
Ayunda berjalan ke arah Sandra sambil berkacak pinggang. "Coba ulangi lagi ucapanmu barusan!" teriak Ayunda.Sandra hanya menundukkan wajahnya. Ia masih menunjukkan rasa hormat kepada ibu mertuanya."Sekali lagi kau berani menjawab ucapanku, aku akan menyumpal mulutmu menggunakan tanah liat! Apa kau paham!" Ayunda melotot.Sandra hanya mengangguk. Ia berlalu ke dapur untuk membuat teh."Ma... Ini teh nya," ucap Sandra sembari menyodorkan secangkir teh."Taruh saja di meja!" Sandra melakukan apa yang dikatakan oleh Ayunda. Setelah itu, Sandra meninggalkan mereka bertiga di ruang tamu. Ia menuju ke kamar anaknya untuk membantu anak anaknya mengerjakan tugas dari sekolah."Ma siapa yang ada di ruang tamu?" tanya Levin penasaran."Ada nenek dan ada teman papa yang kemarin ikut menjenguk Tante Wulan di rumah sakit." "Teman papa yang namanya Novi yang kemarin ketemu di rumah sakit? Yang dulu perna
"Ayo silahkan duduk," ucap Rayhan."Iya terima kasih. Wah! Rumah kamu besar sekali. Aku pasti akan sangat senang tinggal di sini." Novi melihat sekelilingnya."Oh jadi kamu ingin tinggal di sini?" Sandra datang dan menyela pembicaraan dari balik dinding ruang tamu."Eh bukan begitu maksudku. Aku hanya kagum melihat rumah yang begitu besar seperti ini." Sandra berjalan menuju ruang tamu, ia mengenakan gaun warna putih dengan rambut panjangnya yang tergerai. Kulitnya putih, bibirnya merah merona membuatnya terlihat begitu cantik."Kenalkan aku istri Rayhan, kita sudah bertemu beberapa kali tapi kita tidak berkenalan dengan baik," ucap Sandra seraya mengulurkan tangan.Mereka bersalaman dan saling berbalas basi."Duduklah. Anggap seperti rumahmu sendiri," ucap Sandra."Sejak kapan kalian berdua saling mengenal?" Sandra memulai obrolan."Sudah lama sekali. Mungkin sekitar 5 tahun atau bahkan lebih."
Seperti biasa Sandra harus melayani Rayhan di atas ranjang tanpa menikmati setiap permainannya. "Pelan pelan Mas, sakit." Sandra berbisik. Namun Rayhan tak mau memelankan gerakannya. Sandra menggigit bibir bawahnya sendiri. Matanya memejam dengan rapat. Ia menahan rasa sakit. Sementara senjata perkasa milik suaminya sudah memuntahkan lahar putih. ****Keesokan paginya, Rayhan bersikap seolah tak terjadi apapun tadi malam."Kenapa sejak tadi senyum - senyum sendiri sambil menatap cermin?" Sandra penasaran dengan sikap suaminya."Ah tidak ada apa apa." "Sudah cukup tak perlu kau jelaskan, karena aku tahu siapa yang sedang kau pikirkan." Rayhan yang kaget dengan ucapan Sandra, langsung menoleh, "Siapa memangnya?""Novi. Kau mengingat moment ketika menggendong tubuh sintalnya saat di kolam renang waktu itu. Atau kau sedang mengingat kenangan manis kalian tadi malam."Rayhan terdiam."
"Arya apa perlu aku peringatkan siapa dirimu? Kau itu orang lain! Kau bukan bagian dari keluargaku! Jangan berani ikut campur dengan urusan rumah tanggaku!" Rayhan berteriak. Suara melengking Rayhan sampai membuat kedua anaknya terbangun. Mereka melongo melihat Ayahnya melotot marah sambil menunjuk ke arah Arya. "Tapi yang kau lakukan barusan sangatlah tidak pantas." "Itu bukan urusanmu! Aku sudah katakan, semuanya ini bukanlah urusanmu!" Keduanya mulai terlibat perdebatan hingga berujung perselisihan. "Mas, ini sudah malam. Jangan bertengkar!" Sandra mengingatkan. Tepat ketika Rayhan hendak memukul Arya, Levin turun dari mobil. "Papa!" ucap Levin dengan wajah polosnya. Rayhan melepaskan cengkramannya di leher Arya. "Terima kasih sudah mau mengantarkan anak anak dan istriku pulang!" Rayhan bica
"Dandan yang cantik. Kamu harus tampil sempurna hari ini. Aku ingin mengenalkanmu kepada temanku," ucap Rayhan sambil menoleh ke arah istrinya."Bukankah kita akan pergi ke danau, untuk bersantai bersama anak - anak?" tanya Sandra keheranan.Rayhan menggelengkan kepala. "Tidak, kita akan mampir sebentar ke rumah temanku. Setelah dari sana, baru kita bisa pergi ke danau.""Tapi Mas, aku malu. Untuk apa aku berkenalan dengan temanmu?" bantah perempuan berparas cantik tersebut."Kamu selalu mengajak aku berdebat! Dan membuatku marah! Aku hanya ingin mengenalkanmu saja, kepada temanku! Biar dia tahu, kalau aku memiliki istri yang cantik di rumah!" Rayhan bicara dengan nada meninggi."Memamerkan istrimu sendiri?" gerutu Sandra."Aku ini istrimu Mas, tapi kamu memperlakukan aku seperti barang yang dapat dibayar dengan selembar uang." Sandra bicara dalam hatinya.Sandra menghela nafas panjang. Ia melanjutkan berdandan dan mewarnai bibirnya.Selesai bersiap, mereka sekeluarga berangkat ke ru...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments