Esmeralda Bandares melarikan diri dari rumahnya, bersama Catherine, sepupunya, dan bersembunyi di Hawaii, sebagai Leah dan Alicia Spencer. Di sana, mereka mengenal Hale dan Darren. Jika Hale berusaha menjerumuskan mereka, Darren selalu menjadi dewa penolong mereka. Namun, itu sebelum Esme mengetahui siapa Darren sebenarnya. Saat telah mengetahui siapa Darren sesungguhnya entah keberadaan pria itu masihkah disyukurinya atau malah disesalinya?
View More- Besok kita akan melakukannya. Apakah sudah siap semua? -
Sebuah pesan dari Catherine baru saja diterima Esme di ponsel baru, yang dibelinya seminggu yang lalu. Ponsel itu juga berisi nomor baru yang hanya diketahui oleh Catherine.
Esmeralda Bandares, gadis 19 tahun, yang berasal dari Mexico, sedang merencanakan sesuatu bersama Catherine, teman baik yang juga sepupu jauhnya. Bagi mereka, rencana besar super rahasia ini akan mengubah hidup mereka berdua. Rencana untuk meraih kebebasan mereka. Dan besok adalah waktunya!
Catherine, gadis 24 tahun, sepupu jauh Esmeralda, tinggal di New York bersama keluarganya. Namun seperti Esme, dia sudah muak hidup dikekang ayahnya, yang juga sepupu dari ayah Esme.
- Sudah siap. Kau? -
Esme membalas pesan Catherine, yang juga memakai ponsel baru dan nomor baru yang hanya diketahui oleh Esme. Mereka telah berbulan-bulan merencanakan ini. Jadi, besok mereka harus berhasil. Tidak boleh gagal. Kesempatan hanya satu kali. Jika gagal, tidak akan mungkin mereka bisa mendapatkan kesempatan lainnya.
- Sudah siap dong! Baiklah. Good night, Esme. Take rest. And it'll gonna be our show time tomorrow! Buat ayah-ayah kita kelabakan! Hahaha, aku sudah tidak sabar membayangkan wajah mereka berdua! -
Itu balasan dari Catherine, membuat Esme yang tegang jadi ikut tersenyum. Sepupunya itu memang berani. Dia terlalu liar untuk menjadi putri keluarga Bandares yang hidup terkekang.
Tapi, biar bagaimanapun, Catherine tidak seterkurung Esme. Dia masih bersekolah di sekolah umum. Dia masih diperbolehkan keluar-keluar meski dengan diikuti beberapa pengawal di belakangnya.
Esme kini menutup ponsel barunya yang berwarna hijau tentara. Kemudian, dia menyelipkannya di tas ransel hitam yang akan dibawanya besok. Tas itu tidak terlalu besar. Tapi cukup untuk membawa beberapa lembar pakaian ganti.
Di sebelahnya terdapat tas pinggang berisi uang 10 ribu dolar, hasil tabungan dari uang sakunya selama satu tahun ini. Ya, dia sudah berhemat demi bisa menabung untuk pelariannya ini.
Besok siang, ayahnya akan mengadakan pertemuan bisnis dengan klien penting di London. Ayah Catherine juga menghadirinya. Mereka semua sudah berangkat dari kemarin. Jadi, besok kedua ayah mereka akan tersita perhatiannya pada meeting mereka. Rumah Esme akan tetap dikawal, tapi sebagian besar pengawal akan dikerahkan untuk mengawal ayahnya. Dengan begitu Esme akan lebih mudah melarikan diri.
Hanya satu hal yang tidak boleh terjadi. Mereka tidak boleh gagal. Jika mereka gagal, sudah pasti ayah mereka akan mengawasi mereka setiap detik dengan pengawalan berlipat kali dari sebelumnya.
Jadi, dia tidak boleh gagal!
Esme memandang sekelilingnya, kemudian teringat bahwa dia ingin menuliskan surat perpisahan untuk ibunya.
Diraihnya pena dan ditulisnya perlahan.
Maafkan aku, Mom. Aku sudah lelah hidup seperti ini. Kita tak hentinya lari, pindah, bersembunyi, kemudian setelah aku mulai bisa beradaptasi di tempat baru, semua harus berulang lagi. Kita lari, pindah, dan bersembunyi lagi. Aku tak tahan lagi hidup seperti itu, Mom.
Aku tidak punya teman. Aku tidak merasakan hal-hal yang dirasakan gadis muda seusiaku. Jalan-jalan ke mall dengan teman segank, nonton di bioskop dengan pacar, ikut kemah di musim panas, belajar selancar, pokoknya banyak hal yang ingin aku lakukan tapi tak pernah bisa karena kita harus bersembunyi.
Aku bahkan selalu home schooling, sendirian. Aku tak tahan lagi, Mom. Masa mudaku menjadi sia-sia di sangkar emas yang Dad sediakan ini, sementara ada banyak hal menungguku di luar sana. Banyak hal, Mom. Dan aku ingin merasakannya sebelum usia mudaku terlewati.
Tertanda, Esme.
Please, Mom, jangan cari aku. Aku akan pulang saat aku sudah merasa puas di luar sana.Esme melipat kertas itu dan meletakkannya di atas meja. Di bagian luar kertas, dia menuliskan: untuk Mom.
Setelahnya dia membaringkan dirinya, mengelap air matanya yang berjatuhan di pipinya. Sungguh lucu, berbulan-bulan dia merasa tak sabar menanti hari ini tiba. Tapi saat hari ini tiba, dia malah menangis dan merasa berat di hatinya.
Tidak! Dia tidak boleh menangis! Besok adalah hari kebebasannya! Besok semuanya akan berubah! Besok adalah hidup barunya ... sebagai Leah Spencer!
***
Di suatu sudut kota Miami, di sebuah gedung perkantoran, Darren Javier baru saja keluar dari ruang atasannya. Wajahnya merengut marah dan sesampainya dia di meja kerjanya, dia menghantamkan pukulan ke tembok di sampingnya.
Rekan-rekannya yang lain melirik diam-diam aksi Darren melampiaskan kemarahannya. Sementara benak pria itu mengulang lagi apa yang baru saja disampaikan atasannya.
"Kau terlalu memendam emosi yang tak tersalurkan, Darren. Itu tidak baik untukmu." Arnold Drawenskiey berujar pelan. Namun tetap saja, kata-katanya terasa menohok bagi Darren.
Terlebih lagi pertanyaan lanjutannya, bagaikan petir yang menyambar pelipis Darren. Arnold bertanya lagi, "Kapan terakhir kalinya kau bercinta?"
Darren melayangkan tatapan tajam pada atasannya itu. Pertanyaan macam apa itu? Tidak beretika!
Pria berusia 30 tahun itu hanya menghunus atasannya dengan tatapan tajam, tanpa sepatah katapun jawaban yang keluar.
Sang atasan yang berperut buncit menghela napasnya dalam-dalam dan berkata lagi, "Jangan bilang rumor tentangmu itu benar adanya?"
Kini Darren yang mengernyit. "Rumor apa?" tanyanya dengan suara kering dan terdengar bagai debu beracun.
"Rumor bahwa kau masih perjaka, Darren!" sergah Arnold kesal.
Kedua mata kelabu Darren yang kelam tidak membelalak lebar. Tapi siapapun yang melihatnya akan mengetahui bahwa pria itu sungguh terkejut.
"Shit, Darren! Itu benar?" tanya atasannya lagi, lebih dari terkejut. "Astaga, Darren! Berapa sih umurmu?" Sang atasan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Pria yang hampir berkepala lima itu tak habis pikir pada Darren. Pria setampan dan semaskulin Darren, pria dengan tubuh sekeras dan seindah Darren yang otot-ototnya terawat dengan baik, benar-benar belum pernah menyentuh seorang wanitapun?
Dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, dia pun membuka laci mejanya, dan mengambil sebuah amplop putih dari sana. Diserahkannya kepada Darren.
Pria yang berambut halus di sepanjang garis rahangnya itu membuka dengan tatapan penuh tanya. Dan saat dia membacanya, dia menjawab gusar, "Aku tidak butuh ini!"
"Oh, ya, kau butuh! Dan ini perintah! Kau akan dibebastugaskan selama tiga bulan. Itu tiket untukmu. Berliburlah ke pulau itu selama tiga bulan. Sampai semua emosimu stabil. Take this, atau kau dipecat!"
Mereka berdua beradu tatap yang sangat tajam. Sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Hingga semenit kemudian Darren akhirnya mengambil lagi amplop putih yang tadinya telah dilemparnya ke meja.
Dengan tatapan tak beranjak sedikit pun dari wajah atasannya hingga di detik terakhir, Darren berbalik dan meninggalkan ruang kerja atasannya itu tanpa sepatah katapun.
Kurang ajar? Entahlah! Tapi sang atasan sudah memahami Darren yang memang biasanya selalu irit bicara!
***
Bersambung ...
Terima kasih sudah membaca bab pertama ini. Semoga enjoy dengan kisah ini, ya.
Tiga hari di Claymont terasa kurang bagi Darren maupun Esme. Akan tetapi, apa mau dikata. Mereka sudah harus pulang. Pekerjaan Darren menantinya. Dengan pangkat baru, tanggung jawab baru, Darren tidak bisa berlama-lama cuti, meskipun dia berharap dia bisa. Sebelum meninggalkan Claymont di hari itu, pagi harinya Esme mengajak Darren menuju ke perkebunan anggur. Dia ingin membawa pulang anggur berkualitas yang langsung bisa dia petik di perkebunan itu. Kebetulan, pemilik perkebunan mengenal baik keluarga Darren. Mereka menyusuri perkebunan itu dengan Mr. Thompson, pemilik perkebunan. Pria paruh baya itu sambil menjelaskan pohon anggur mana yang buahnya berkualitas baik. Hingga tiba di deretan pohon yang berada tepat di tengah-tengah kebun, Mr. Thompson berhenti. “Ini yang paling berkualitas di sini. Dan kau beruntung, ada yang baru berbuah dan belum dipetik. Jika kau datang siang ini, aku yakin buah ini sudah tidak ada di sini.” Esme tersenyum senang. “Trims, Mr. Thompson. Tapi, ak
“Aku ingin tempat yang lebih tenang untuk hidup. Kota kecil atau pedesaan rasanya lebih cocok untukku.”“Pedesaan? Bagaimana kau bisa hidup di pedesaan?”“Aku bisa bertani. Atau beternak. Rasanya lebih menantang, dari pada hanya duduk seharian di apartemen dan menghabiskan uangku untuk minum dan makan saja.”Selesai mengucapkan itu, Martinez melewati Catherine begitu saja.Catherine begitu shock hingga dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Mengejar pria itu? Atau membiarkannya pergi? Catherine seperti kehilangan akalnya sendiri.Baru saat langkah Martinez semakin jauh darinya, Catherine baru tersadar. Gegas dia mengejar pria itu.“Jangan! Jangan pergi!”Martinez menghela napasnya. “Tekadku sudah bulat, Cath.”“Sudah bulat bagaimana? Kenapa kau tiba-tiba pergi? Padahal kau tidak boleh pergi! Kau ha
Pagi itu, Darren duduk di kursi makannya. Dia sedang menyesap kopinya saat matanya tertuju pada layar ponsel. Claire mengiriminya undangan pesta pernikahan. Sebagai kakaknya, tanpa dikirimi undangan pun Darren pasti harus hadir. Tetapi, adiknya itu tetap ingin mengiriminya undangan.Melihat undangan itu, Darren merasa ada yang menggelitik hatinya.Sepiring poblano peppers tersaji di hadapannya secara tiba-tiba. Esme menyusul dengan duduk di sebelah pria itu. Wajahnya tersenyum lembut, memancarkan kebahagiaan.“Wow! Sarapan yang menggiurkan,” ucap Darren dengan matanya berbinar penuh gejolak.“Ya! Tadi kebetulan bangun lebih pagi, dan semua bahannya ini lengkap. Jadi, aku masak saja ini.” Esme mengambil satu dan memasukkannya ke dalam mulut. Dia mengunyah dengan perlahan dan sambil menikmatii rasa yang bercampur dalam mulutnya.“Hmmm, ini sangat lezat. Kau tidak makan?”“Tentu, aku akan
“Apa yang terjadi di sini, biarlah berlalu. Tidak perlu disimpan dalam hati apalagi sampai dibawa pulang ke rumah kita. Aku tidak ingin kebersamaan kita nantinya ternoda dengan segala hal yang diucapkan Claire padamu. Bisakah?”Mendengar ucapan Darren, air mata Esme luruh lagi. Dia menganggukkan kepalanya. Darren menghapus air mata itu dan mengecup wajah Esme dengan penuh kasih.Setelahnya, mereka membawa segala barang bawaan mereka keluar kamar.Baru juga membuka pintu, sosok Claire sudah menghadang Esme di sana.“Mau apa lagi kau?” hardik Esme pada Claire. Rasanya seluruh persendian tubuhnya terasa sakit karena segala emosinya tersentak pada perseteruannya dengan Claire.Darren pun yang masih menarik koper di belakang Esme langsung menghardik Claire juga. “Claire, please. Apa tidak capek kau memikirkan hal itu terus-menerus?”Claire menggeleng. Wajahnya terlihat pucat dan lemah. Dan dengan
Catherine menahan napasnya selama perkelahian mereka dan baru mengembuskan napasnya itu saat Garry telah kehilangan kesadaran. Dia mengangkat wajahnya dan pandangannya tertaut pada tatapan mata Martinez. Di benaknya, dia mengharapkan Martinez akan menanyakan dengan lembut, ‘apa kau tidak apa-apa?’ Namun yang terjadi sesungguhnya, pria itu menatapnya marah dan membentaknya. “Apa kau sudah gila?! Apa kau sudah tidak punya harga diri lagi?!” Catherine shock minta ampun. Dia sampai terbelalak dan mulutnya menganga lebar. Martinez masih melanjutkan kemarahannya pada Catherine. “Kalau kau bodoh, lebih baik kau tinggal di rumah dan mengurus bayimu. Bukannya berkeliaran mencari lelaki lajang. Kau haus belaian atau apa, huh?!” Kata-kata Martinez begitu menusuk hati Catherine. Dia yang baru saja merasakan keterkejutan karena perlakuan Garry yang membuatnya takut, kini malah harus menghadapi kemarahan Martinez. Dia bahkan dikatai b
“LEPASKAN! KAU BAJINGAN!” Catherine berusaha keras untuk berteriak, memukul, menendang. Apa saja agar terlepas dari kungkungan Garry. Tetapi, pria itu jauh lebih kuat darinya.Kini, wajah Garry berada di atas wajahnya. Bibirnya menjelajah di sekeliling pipi dan lehernya, membiarkan liurnya menempel di kulit Catherine. Dan pada akhirnya bibir itu mendarat di bibirnya.Catherine meronta-ronta ingin melepaskan dirinya.Namun nyatanya, tangan Garry malah merobek kaosnya.Catherine semakin histeris. Segala tenaga dia kerahkan hanya untuk merasakan terjangan tenaga yang lebih besar lagi dari Garry.“HELP! HELP!!!” teriak Catherine putus asa. Garry sudah bagai binatang buas yang siap membantai korbannya. ***Tok tok tok.Darren mengetuk pintu kamar orang tuanya. Tak lama kemudian, ayahnya membuka pintu dengan perlahan. Te
Sementara itu di kamarnya, Claire juga menangis tersedu. Dia memikirkan betapa James Carter adalah pria yang baik.James sudah berteman dengan Darren sejak mereka di awal karier kepolisian. Claire suka berada di dekat mereka jika James datang ke rumah.Dan entah sejak kapan, James mulai menunjukkan tanda-tanda suka pada Claire. Meskipun gadis itu tidak menganggap James lebih dari seorang teman, Claire tidak pernah meremehkan perasaan James.Di hari ketika kabar tewasnya James tiba di telinganya, Claire mulai sering memikirkan pria itu. Saat itu, Claire merasa tidak ada salahnya membuka hatinya untuk James. Pria itu dewasa dan sangat baik. Dirinya yang manja mungkin akan bisa merasakan cinta yang manis saat bersama James.Claire bahkan sudah menyusun kata-kata yang akan dia ungkapkan pada James, bahwa dia ingin membuka hatinya untuk James.Tetapi kemudian kabar itu datang. Hatinya hancur remuk.Baru bertahun-tahu
Garry benar-benar mengajak Catherine ke apartemennya. Dalam setiap langkahnya, Catherine merasa semakin gelisah.Meskipun semua ini adalah idenya sendiri, tetapi memikirkan dia akan kepergok Martinez mengunjungi apartemen pria lain, yang malahan baru dia kenal lewat kencan buta, tetaplah membuat perutnya terasa mual.Langkah kaki Cahterine hampir saja berbalik arah jika bukan karena wanita itu terngiang lagi akan ucapan Martinez sebelum ini.‘Kau berhak mendapatkan pria lain yang lebih sempurna. Yang layak mendapatkan dirimu.’Huh! Dasar lelaki tidak peka! Memangnya Martinez tidak sadar jika yang Catherine inginkan adalah pria itu sendiri? Dan karena kebodohannya itu, sekarang Catherine benar-benar ingin mencari yang lebih baik dari pria itu. Dia akan tunjukkan bahwa dia tidak akan mengemis cinta.“Unitmu di lantai ini?” tanya Cahterine terkejut saat mereka keluar dari lift. Bahkan unit Garry berada di lantai yang sama denga
Garry pun memberitahu apartemen tempatnya tinggal. Cahterine terkejut karena nama apartemen yang disebut Garry adalah apartemen tempat Martinez tinggal. Mendadak, selintas ide gila lewat di otak Catherine. Dan idenya ini telah menghilangkan rasa malu Cahterine sebagai wanita. Dia berkata, “Boleh aku mampir ke apartemenmu? Ehm, maksudku, sekarang?” Pertanyaan Cahterine sukses membuat Garry tercengang. Tidak ada wanita yang lebih seterus terang dan segesit dia. Garry juga tidak menyangka jika Catherine bisa mengatakan ini semua mengingat saat makan di kafe tadi, Catherine tidak terlihat ramah. Dia begitu cuek, dingin, dan jutek. Wanita itu seperti tidak memiliki pikirannya di tubuhnya. Tetapi sekarang, tiba-tiba wanita ini memintanya untuk mengajaknya ke apartemen? Mungkin sebentar lagi akan hujan uang. Namun begitu, Garry laki-laki normal. Tidak mungkin dia melewatkan kesempatan emas seperti ini. Apalagi Catherine adalah wanita pirang seksi. Sungguh me
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments