Setelah tiga tahun mengabdikan masa mudanya untuk berbakti pada suami yang sangat dicintainya, akhirnya malam itu Rania dipaksa pergi dari rumah yang Ia tinggali dengan suaminya. Ia dikhianati, dicerai dan diusir suaminya sendiri tanpa boleh membawa sepeser uang dan harta benda, padahal saat itu kista tengah bersarang di rahimnya. Setelah sepuluh tahun berlalu Rania dan mantan suaminya bertemu kembali dalam keadaan yang jauh berbeda. Rania yang telah sukses dalam karir, sementara mantan suaminya tengah terpuruk karena kehilangan pekerjaan yang dulu selalu dibanggakannya. Tidak tanggung-tanggung, berbagai macam kesialan dan kehancuran datang silih berganti mewarnai kehidupan mantan suami dan istri barunya. Bagaimanakah Rania membalas perlakuan kedua manusia pengkhianat itu? Karena dengan apa yang dimilikinya sekarang, Rania bisa melakukan apapun, jika dia mau...
View MoreRania sejenak berpikir sambil menggaruk lembut pelipisnya yang tidak gatal, dia sesungguhnya tengah memutar otak bagaimana cara untuk menolak kandidat ini, sungguh Ia sangat tidak mau lagi bertemu dengan mantan suaminya itu. Luka lama itu telah dikuburnya dalam dan Ia tak ingin melihat Aldi dan berurusan dengan lelaki itu.“Oh, Aldi? kalau begitu saya pasti punya alasan mengapa menolak. Apakah Pak Robert sudah mengetahui alasannya dan mencari tahu kebenarannya?”, tanya Rania.“Saya sudah dengar dari Heri dan HR, tapi mungkin saja staff HR perusahaannya yang lama memang secara pribadi ada yang kurang suka dengannya. Kita kan tidak pernah tahu masalah yang sebenarnya, Bu. Harus divalidasi lagi kebenaran informasinya”, jawab Pak Robert.“Kalau begitu bagaimana cara kita bisa memvalidasi kebenaran informasi itu jika tidak dengan jalan mencari tahu kredibilitasnya saat bekerja pada perusahaan terdahulu?”, tanya Rania lagi, Ia sesungguhnya penasaran kenapa Pak Robert sampai segitunya mau me
“Mas... “ panggil Angela pelan.Aldi diam saja tak menjawab, Ia mencari dasi dan jas lama yang bisa dia pakai besok.“Mas, aku lapar”, ucap Angela.Aldi menoleh dengan tatapan tajam, “Kamu ini benar-benar merepotkan, bisanya minta makan aja, kenapa tidak minta makan sama laki-laki selingkuhan yang sudah menghamili kamu dan memberi penyakit sialan itu padaku?”, hardik Aldi dengan nada tinggi.“Mas, jangan berani bicara seperti itu padaku!”, bantah Angela.Aldi bangkit dari berjongkok, dengan senyum sinis Ia menghampiri Angela yang masih menatapnya dengan mata bulatnya. Mata itu dulu membuat Aldi tergila-gila, sekarang rasanya Ia ingin mencolok dengan jarinya kalau bisa.“Lalu kamu mau apa kalau aku bicara begitu? Memang itu kenyataannya, kamu harus sadar diri, kenapa aku harus takut bicara kebenaran itu sama kamu? Aku akan terus mengatakannya lagi dan lagi sampai kamu mati”, setelah selesai bicara Aldi melempar salah satu kemejanya ke arah Angela hingga mengenai wajahnya.Angela mengam
Aldi sangat berharap bisa diterima bekerja di perusahaan yang sama dengan Rania, dalam perkiraannya jabatan Rania pasti berada di bawahnya jika melihat pengalaman kerja yang pasti masih jauh dibawahnya. Saat bercerai dengan Rania dulu, Aldi sudah menjabat sebagai kepala divisi penjualan, sementara Rania hanya seorang istri pengangguran, Ibu rumah tangga yang bisanya hanya membersihkan rumah dan perabotannya, memasak, menyipakan air hangat untuknya mandi, membuat kopi, dan perintah-perintah lainnya dari Aldi. Selama tiga tahun menikah, selama itu pula Rania tidak bekerja. Jabatan terakhir Rania yang diketahui Aldi pun hanya staff penjualan biasa, Rania tidak pernah membanggakan pekerjaannya sebagai asisten manager di perusahaan berskala internasional itu karena khawatir membuat suaminya kala itu merasa tersaingi.Aldi memutar otaknya, dia tahu imej pengalaman kerja terdahulu sangat menjatuhkan kredibilitasnya sebagai seseorang yang biasa mempunyai posisi tinggi di perusahaan, akan suli
Heri memang tidak mengatakan apa-apa sejak dirinya mengetahui blacklist pada Aldi waktu itu, karena dia pikir hanya akan membuang waktu Rania jika menginfokan kandidat yang sudah tidak masuk kriteria.“Lalu hasilnya?”, tanya Rania.“Kandidat memiliki riwayat pekerjaan yang kurang baik, Bu. Ia dipecat secara tidak hormat karena menyelewengkan uang perusahaan sebelumnya”.Rania terkejut menatap Heri.“Apakah kamu yakin?”, tanya Rania lagi. Heri mengangguk, “HR sudah dua kali saya minta untuk cek terpisah dengan saya, begitu juga saya pribadi sudah crosscheck juga, info dari HR di sektor penjualan barang retail, namanya sudah ditandai kurang baik, Bu”, jawab Heri yakin.“Oh... kalau gitu tidak mungkin kita tetap pakai dia, dicoret saja namanya dari daftar kandidat kita”, pinta Rania.“Tapi menurut Pak Robert, orang ini punya skill komunikasi yang baik dan cukup menjual, pengalamannya di bidang distribusi retail dan consumer goods cukup mumpuni. Kandidat ini juga dinilai cukup punya leade
Rania memperlambat laju mobilnya, lampu sen kiri sudah dinyalakan, pertanda dia akan berbelok masuk ke gedung bertingkat di kawasan Sudirman Jakarta. Tapi seorang pria lusuh terus saja berjalan sambil membawa motor di sisinya tanpa berniat berhenti padahal mobil Rania sudah akan masuk. Rania sempat membunyikan klakson dengan singkat hanya supaya orang tersebut menyadari dan berhati-hati, orang itu menengok cepat ke mobil Rania dengan sedikit terkejut dan reflek menghentikan langkahnya untuk memberi jalan, tetapi Rania tetap diam, tidak memajukan mobil dengan maksud memberi jalan. Seolah tahu bahwa dirinya diberi jalan lebih dulu, lelaki itu sedikit mengangguk dan memberi tangan tanda terima kasih. Sesaat Rania terperangah melihat orang itu.Mas Aldi! gumam Rania. Kenapa tampilannya kusut sekali? Apakah sudah sesulit itu hidupnya sekarang? Kemana mobilnya yang dulu selalu dibanggakannya setiap saat untuk dapat menghina aku dan keluargaku? Kemana tampilan parlente yang selalu Ia banggak
Aldi berjalan kaki di pinggir jalan raya sambil membawa motor di sebelahnya, motornya mogok karena kehabisan bensin. Ia baru akan menuju tempat panggilan interview kantor lain yang terletak tak jauh dari kantor Rania, naas motor bututnya mogok.Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh pagi dan Aldi masih berjalan kaki yang membutuhkan waktu paling cepat setengah jam untuk bisa sampai di gedung itu, sementara jadwal interview Aldi tepat jam sepuluh. Keringat mulai membasahi dahi dan wajahnya, bajunya pun sudah terlihat kotor karena tadi saat mencoba membetulkan motornya, sebuah truk melintasi genangan air di dekat Aldi dan sukses memberinya sedikit cipratan pada kemeja yang dia setrika tadi malam. Aldi mencak-mencak kepada supir truk tapi supir itu berjalan terus saja tanpa memperdulikan Aldi atau bahkan meminta maaf.“Woyy... sialan, minta maaf kek lo!”, teriak Aldi. Supir itu jelas tak mendengar karena terus melaju, hanya orang-orang di sekitar Aldi saja yang memandang padanya dengan be
Kini semua berubah 180 derajat, kehidupan dan status suami istri hanya berjalan sebagai formalitas saja. Lelaki itu mudah sekali tersulut emosi saat berbicara dengannya. Tak bisa lagi kini dia merajuk manja meminta apapun darinya, Ia tahu suaminya terpaksa bertahan tetap di sisinya karena sudah tak memiliki harta lagi, yang ada hanya rumah dan motor saja. Ya, Angela tahu persis kalau bertahannya Aldi di sisinya semata hanya karena laki-laki itu sudah miskin sekarang, ingin juga Ia mengusir pria tak berguna itu, tapi sayangnya Ia sudah tak semenarik dulu, bahkan penyakit AIDS yang ditularkan mantan pacar yang menghamilinya dulu terasa menyiksa karena terus menggorogoti tubuhnya. Ia memang sulit untuk hidup sendiri, karena penyakit yang dideritanya memaksa dia untuk hidup bergantung pada pertolongan orang lain, dan hanya Aldi orang yang tetap berada di sampingnya hingga saat ini. Jika sedang kambuh, dirasakannya sakit yang tak tertahan hingga membuatnya jatuh bergulingan di lantai. Dan
Ada perasaan kehilangan dan menyesal di hati Aldi tapi tak ada yang bisa dia lakukan untuk membawa Rania kembali karena Ia pun tak tahu persis dimana Rania tinggal. Sementara yang dia tahu ketika itu Angela telah hamil anaknya. Ia juga tahu pasti kalau Rania hanya sebatang kara di Jakarta, tapi tetap Ia paksa juga Rania untuk pergi malam itu juga tanpa tahu arah tujuan.Selama menikah dengan Aldi, Rania tidak pernah pergi keluar rumah kecuali bersama Aldi jadi dia belum terlalu mengenal wilayah Jakarta sepenuhnya. Karena itu dia memilih mengontrak di dekat situ, tak jauh dari bekas rumahnya dulu bersama Aldi tak lama setelah mendapat pekerjaan di kantor Fahmi. Kebebasan masa mudanya memang terenggut habis-habisan hanya karena satu alasan saja yaitu pengabdian kepada suami. Segala cita-cita dalam membangun karir telah dikuburnya dalam-dalam, dan dengan hati ikhlas hanya keridhaan suamilah yang akhirnya menjadi cita-cita Rania setelah menikah. Sayangnya, Ia mengabdi pada orang yang sal
Rania bangun pagi lebih awal, entah mengapa Ia tidak lagi bisa tidur sejak bangun tahajud pukul tiga pagi tadi, padahal Ia baru tidur pukul sebelas malam, kira-kira tiga puluh menit setelah Fahmi pamit pulang. Ia merasakan pikirannya lebih enteng saat ini, mungkin karena akhirnya Ia kembali merasa berharga sebagai seorang manusia dan juga merasa dicintai lagi, tapi satu yang pasti Rania terharu sekaligus bahagia mengetahui perasaan Fahmi yang disimpan selama lebih dari tiga belas tahun, ia baru tahu ternyata ada orang yang mencintai dirinya setulus itu dan mampu bersabar dengan perasaan yang tak diungkapkannya. Padahal bisa saja dia menyatakan cintanya sebelum Rania menikah, tapi itu tak dilakukan Fahmi karena Ia tak mau mengganggu hubungan yang dijalani Rania saat itu. Fahmi tidak akan sampai hati memaksakan perasaannya sedangkan dia tahu Rania sangat mencintai mantan suaminya dulu.“Pagi Mba Rania”, sapa Bi Inah dari ujung dapur. Wanita tua itu sedang mengeringkan beberapa perabotan
Rania mengusap kasar pipinya yang telah basah oleh air mata. Hatinya sungguh sakit mendapati kenyataan bahwa suami yang dicintai dan sudah dibersamai selama 3 tahun sejak tidak punya apa-apa hingga sukses seperti sekarang ini tega menceraikannya lalu menikah dengan teman satu kantornya. Dunia mereka memang tidak lagi sama. Rania yang sudah melepas karirnya dulu setelah menikah dengan Aldi, sekarang hanyalah ibu rumah tangga biasa yang mengabdikan diri untuk suami tercintanya, suami yang awalnya Ia pikir dapat menjadi teman menua bersama, membesarkan anak mereka, beribadah bersama menuju surganya Allah, tapi ternyata pernikahannya harus berakhir saat suaminya memilih wanita yang berkarir satu kantor dengannya, bahkan satu divisi dengan suaminya.Ingatan Rania terlempar ke masa awal pernikahan ketika Aldi meminta Rania untuk berhenti bekerja. Rania yang saat itu menjabat sebagai asisten manajer dengan terpaksa harus melepaskan pekerjaan yang Ia cintai, karir yang Ia bangun semenjak lulu...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments