Semua Bab Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir: Bab 11 - Bab 20

65 Bab

Mau Apa Lagi?

"Saya turut bersedih atas apa yang menimpa Bu Ralin. Saya sudah mendengarnya dari David." Ralin melirik David yang berdiri di dekat Lewis. Rupanya, apa yang menjadi aib Ralin telah sampai di telinga Lewis. Sebenarnya itu cukup memalukan dan tidak perlu diumbar pada siapapun. "Saya juga mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Terima kasih banyak Pak Lewis telah membantu saya mencari tahu siapa yang memfitnah saya hingga sekolah pada akhirnya mengeluarkan saya." Lewis sedikit terkejut mendengar pengakuan Ralin. "Dikeluarkan?" "Iya, Pak. Saya sudah resmi dipecat dari sekolah." Kemudian Lewis menatap Levi yang sedang asyik bermain trampolin seorang diri lalu ia kembali menatap Ralin. "Pantas saja, beberapa hari ini baby sitter bilang kalau Levi susah diajak bersekolah. Ternyata Bu Ralin sudah tidak mengajar lagi rupanya." Ralin pun sedikit terkejut mendengar penuturan Lewis kemudian menatap Levi yang begitu senang bermain meski seorang diri. "Sudah tiga
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-08
Baca selengkapnya

Mengesahkan Pernikahan Kami

[Pesan dari Emran : -foto-][Pesan dari Emran : Aku beruntung punya Fayza. Dan sekarang, dia udah sah jadi istriku meski masih siri. Proses perceraian kita udah aku daftarin ke pengadilan agama. Lalu aku bakal mengesahkan pernikahan kami.]Dengan sedih, Ralin memandang foto yang menampilkan Emran begitu tampan mengenakan kemeja putih dan Fayza dengan kebaya putih. Keduanya memamerkan cincin pernikahan dengan senyum lebar. Hati Ralin seperti dihujam belati bertubi-tubi hingga sakitnya menembus tulang. Mereka bercerai secara agama baru satu minggu yang lalu. Tapi kini Emran telah memamerkan pernikahan kedua dengan selingkuhannya. [Pesan dari Emran : Dan kamu bisa bebas jadi wanita murahan pemuas bos-bos! Aku jijik pernah punya istri kayak kamu, Lin!]Pesan terbaru Emran makin menyakiti hatinya lalu Ralin menutup riwayat percakapan. Dia tidak mau membalas pesan mantan suaminya atau pria itu akan membuat Ralin kehilangan sesuatu lain yang amat berarti untuknya.Cukup sudah Emran menghab
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-09
Baca selengkapnya

Kurangkah Menjauh Darimu?

"Ah ... Em ... lebih cepat.""Iya, sayang ... ah ... kamu benar-benar nikmat."Seketika Ralin langsung membeku mendengar suara dua insan yang sedang memadu kasih di atas ranjang. Ralin yakin sekali jika itu suara Emran dan Fayza.Mereka sudah sah menjadi suami istri. Tapi mengapa Emran justru menghubungi Ralin saat mereka sedang menghabiskan waktu terintim?Apakah Emran ingin memamerkan kebahagiaannya bersama Fayza?Ingin membuat Ralin makin terpuruk dalam kesedihan?Tangan Ralin sedikit bergetar begitu mendengar lenguhan dan desahan mereka berdua selanjutnya. Suara-suara kenikmatan duniawi yang pernah Ralin rasakan saat masih harmonis dengan Emran.Lalu pandangannya tetiba seperti tidak bisa fokus dengan kepala terasa pening. Beruntung Levi kemudian datang dan menarik tangan Ralin lalu menunjukkan karyanya menata daun-daun secara melingkar lalu ditengahnya diberi sekuntum bunga. Melihat karya sederhana Levi yang patut di apresiasi, Ralin langsung mematikan sambungan telfon dan mema
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-10
Baca selengkapnya

Pelet

Mana mungkin Ralin menuju ke sekolah selanjutnya untuk melamar pekerjaan? Sedangkan surat lamarannya telah kotor terkena cipratan genangan air. Belum lagi pakaiannya yang terkena noda. Mobil yang Ralin ikuti benar-benar mobil Emran lalu berbelok ke sebuah rumah makan untuk makan siang. Baru saja Emran dan Fayza keluar dari mobil, Ralin langsung datang dan memberinya pelajaran. Plak!Fayza terkejut sampai menutup mulut yang membola dengan telapak tangan. Sedang Emran langsung melirik tajam mantan istrinya itu. "Nggak usah berlagak seolah-olah kamu nggak ngerti apa salahmu padahal kamu tahu apa salahmu!!" ucap Ralin tegas. Emran akan membalas namun Ralin mundur beberapa langkah. "Aku udah banyak bersabar, Em! Aku relain kamu demi wanita murahan itu." Telunjuk Ralin mengarah ke arah Fayza, "Aku rela jadi janda. Bahkan aku rela kehilangan pekerjaan gara-gara ancamanmu ke pihak sekolah! Tapi nggak sama kali ini!"Emran mendengus geli karena Ralin sudah mengetahui ulahnya. "Kamu emang
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-12
Baca selengkapnya

Datang Di Saat Yang Tidak Tepat

Andai saja Ralin tidak memangku Levi, dia pasti akan mencakar muka kedua baby sitter Levi yang berani menuduhnya sembarangan.Bagaimana mungkin dia berubah menjadi wanita genit dengan menghalalkan segala cara? "Bisa kalian jaga ucapan? Levi bisa mendengarnya.""Kalau pun Den Levi dengar, dia nggak akan bisa apa-apa kecuali jalan kesana kemari.""Kalian memang bukan baby sitter yang baik.""Nggak usah mengalihkan pembicaraan, Bu Ralin. Sekarang mending Bu Ralin ngaku aja. Sebenarnya Bu Ralin ngasih Den Levi pelet, kan?! Lalu baik-baikin Den Levi di depan Pak Lewis, biar Bu Ralin bisa menggeser posisi kami lalu mulai mendekati Pak Lewis, kan?!"Tadi siang, Ralin baru saja menampar dan berseteru dengan Emran, tapi sekarang dia sudah dihadapkan pada masalah baru. Hidupnya benar-benar tidak tenang!"Asal Bu Ralin tahu, ya?! Pak Lewis itu nggak level sama wanita modelan kayak Bu Ralin! Idamannya tuh high level! Bukan yang receh kayak Bu Ralin!"Lalu baby sitter satunya ikut mengkonfrontasi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-12
Baca selengkapnya

Apa Kamu Mata-Matanya?

“Mbak Ralin!”Tok! Tok! Tok!Ralin terbangun dari tidur lelapnya ketika mendengar pintu kamarnya diketuk berulang kali dengan tidak sabaran.Dengan kepala berat karena kurang tidur dan mata bengkak akibat terlalu banyak menangis, ia berdiri sedikit sempoyongan membuka pintu.Oh … ternyata ibu kos.“Ya, Bu Rahma. Ada apa?”“Begini, Mbak Ralin. Keponakan saya yang dari kampung mendadak nelfon, ternyata mau tinggal disini. Nah, kamar ini tuh kamar yang mau dia tempati.”Kantuk yang tadi masih menggelayut di kedua mata Ralin pun langsung pergi seketika.Bukankah ucapan ibu kos itu secara tidak langsung menyuruhnya untuk pergi?“Maaf, Bu. Kan saya udah bayar sewanya.”Lalu ibu kos itu mengeluarkan amplop warna putih dari saku.“Ini uangnya saya balikin full. Maaf ya, Mbak Ralin. Soalnya keponakan saya mendadak mau tinggal disini. Anak jaman sekarang emang suka bikin orang tua bingung sama kemauannya.”Karena Ralin tidak kunjung menerima amplop itu, ibu kos segera meraih tangannya.“Kalau bi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-13
Baca selengkapnya

Ambil Nyawaku

"Jawab!"Karena pengendara motor makin banyak yang berhenti, akhirnya lelaki msiterius itu merasa terpojok. "Kamu suruhannya Pak Lewis, kan?!""Bukan. Anda salah orang."Ralin menggeleng tidak percaya sambil menatap lelaki itu. Lalu seorang paruh baya bertanya."Memangnya Mbak dikuntit sama laki-laki ini?""Iya, Pak. Saya yakin kalau dia nguntit saya.""Wah, bahaya itu."Lalu mereka menatap lelaki misterius itu dengan sorot waspada. "Mbak mending pergi aja. Biar kita yang urus! Laki-laki ini emang perlu dilaporin ke polisi. Meresahkan dan bikin khawatir perempuan!" Lelaki itu berusaha mengelak ketika akan diarak menuju kantor polisi. Kemudian dia berkata ..."Saya akan bilang ada apa. Tapi tolong jangan biarkan mereka membawa saya ke kantor polisi, Bu Ralin."Mendengar ia menyebut nama Ralin dengan panggilan formal, padahal keduanya belum sempat berkenalan, Ralin makin yakin jika lelaki ini mengenalnya. Kemudian Ralin meminta pada orang-orang untuk melepaskannya. Mereka berpesan ag
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-14
Baca selengkapnya

Bersiap Mengalah Meski Tak Bersalah

"Mbak Ralin, kalau ada masalah, jangan sampai mengurung diri kayak gini," ucap salah satu tetangga kamar kos Ralin. Curiga karena kamar Ralin tertutup sepanjang hari, akhirnya mereka nekat membuka paksa pintu kamarnya. Dan mereka menemukan Ralin dalam keadaan lemah sambil meringkuk di atas lantai. Beruntung Ralin masih dalam kondisi sadar. Lalu mereka memberi Ralin makan dan minum. "Nggak baik menghukum diri sendiri kayak gini, Mbak.""Semua masalah bisa diatasi, Mbak. Jangan patah semangat."Dan banyak lagi nasehat yang Ralin terima. Hanya saja, dia tetap tidak membuka suara perihal masalah yang dihadapi. Percuma jika ia mengatakan apa yang menjadi masalahnya. Karena mereka yang hadir disekitarnya tidak ada yang bisa membantu Ralin melawan Lewis yang memiliki kuasa dan harta. Keesokan harinya, Ralin hanya berdiam diri di kamar tanpa mempersiapkan diri untuk mengisi jadwal terapi. Pikirnya, mata-mata Lewis pasti sudah menghabisi karirnya di klinik tumbuh kembang tersebut. Ia hany
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-15
Baca selengkapnya

Cukup Sekali Ini Bertemu

Ralin langsung berdiri dari duduk dengan sedikit tergesa-gesa lalu membungkuk hormat. Wajahnya kentara sekali jika menyiratkan rasa takut dan gugup. Sedang kedua matanya tidak berani sedikit pun menatap sang pewaris.Raden Mas Satria Lewis Hartadi. Pria itu berdiri dengan begitu gagah. Masih mengenakan setelan kerja dan sepatu hitam yang mengkilap. Dan David yang selalu berada di belakangnya. "Selamat sore, Pak Lewis," ucap Ralin pelan dengan kepala menunduk. "Silahkan duduk kembali, Bu Ralin."Ralin baru kembali duduk ketika Lewis telah mendudukkan dirinya lebih dulu. Sedang David tetap berdiri di belakang Lewis. Kedua mata Ralin justru lebih nyaman menatap lantai restaurant ketimbang memandang Lewis. "Apa sudah lama menunggu, Bu Ralin?" Tanya Lewis dengan suara tenang. Sama sekali tidak ada intonasi emosi atau amarah yang terpendam. Namun tetap saja Ralin merasa takut. Hal apa lagi yang akan Lewis lakukan pada hidupnya?Kepala Ralin mengangguk sekilas, "Tidak, Pak."Ralin benar
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-16
Baca selengkapnya

Harus Dengan Apa Aku Meminta Maaf

[Pesan dari Emran : Hei, jalang! Apa kamu bisa datang ke rumah? Aku butuh pelampiasan nafsu! Berapa untuk satu jamnya?! Kebetulan istriku sedang nggak bisa dipakai!]Ini masih pagi tapi Emran sudah menggoreskan luka di hati Ralin. Kesalahpahaman mantan suami Ralin hanya karena Lewis membantunya kala itu, ternyata masih berlanjut hingga sekarang. Emran menuduh Ralin adalah wanita simpanan lelaki berharta semasa menjadi istrinya. Padahal itu semua tidak benar!Ralin memilih menghapus pesan itu dan tidak menghiraukannya. Meladeni Emran itu sama seperti menggarami air laut. Toh dia sudah merelakan mantan suaminya itu bersatu dengan selingkuhannya.Hari ini, usai memberi sesi terapi, Ralin kemudian merancang rencana akan pergi ke salah satu kota yang nyaman. Dia akan menggunakan kemampuannya mendidik anak-anak spesial untuk mencari nafkah.Tapi itu masih nanti. Setelah Ralin menerima gaji pertamanya. Keluarga di kampung merasa sangat kecewa dengan keputusan Ralin menikah dengan Emran beb
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-17
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status