:-0
[Pesan dari Emran : -foto-][Pesan dari Emran : Aku beruntung punya Fayza. Dan sekarang, dia udah sah jadi istriku meski masih siri. Proses perceraian kita udah aku daftarin ke pengadilan agama. Lalu aku bakal mengesahkan pernikahan kami.]Dengan sedih, Ralin memandang foto yang menampilkan Emran begitu tampan mengenakan kemeja putih dan Fayza dengan kebaya putih. Keduanya memamerkan cincin pernikahan dengan senyum lebar. Hati Ralin seperti dihujam belati bertubi-tubi hingga sakitnya menembus tulang. Mereka bercerai secara agama baru satu minggu yang lalu. Tapi kini Emran telah memamerkan pernikahan kedua dengan selingkuhannya. [Pesan dari Emran : Dan kamu bisa bebas jadi wanita murahan pemuas bos-bos! Aku jijik pernah punya istri kayak kamu, Lin!]Pesan terbaru Emran makin menyakiti hatinya lalu Ralin menutup riwayat percakapan. Dia tidak mau membalas pesan mantan suaminya atau pria itu akan membuat Ralin kehilangan sesuatu lain yang amat berarti untuknya.Cukup sudah Emran menghab
"Ah ... Em ... lebih cepat.""Iya, sayang ... ah ... kamu benar-benar nikmat."Seketika Ralin langsung membeku mendengar suara dua insan yang sedang memadu kasih di atas ranjang. Ralin yakin sekali jika itu suara Emran dan Fayza.Mereka sudah sah menjadi suami istri. Tapi mengapa Emran justru menghubungi Ralin saat mereka sedang menghabiskan waktu terintim?Apakah Emran ingin memamerkan kebahagiaannya bersama Fayza?Ingin membuat Ralin makin terpuruk dalam kesedihan?Tangan Ralin sedikit bergetar begitu mendengar lenguhan dan desahan mereka berdua selanjutnya. Suara-suara kenikmatan duniawi yang pernah Ralin rasakan saat masih harmonis dengan Emran.Lalu pandangannya tetiba seperti tidak bisa fokus dengan kepala terasa pening. Beruntung Levi kemudian datang dan menarik tangan Ralin lalu menunjukkan karyanya menata daun-daun secara melingkar lalu ditengahnya diberi sekuntum bunga. Melihat karya sederhana Levi yang patut di apresiasi, Ralin langsung mematikan sambungan telfon dan mema
Mana mungkin Ralin menuju ke sekolah selanjutnya untuk melamar pekerjaan? Sedangkan surat lamarannya telah kotor terkena cipratan genangan air. Belum lagi pakaiannya yang terkena noda. Mobil yang Ralin ikuti benar-benar mobil Emran lalu berbelok ke sebuah rumah makan untuk makan siang. Baru saja Emran dan Fayza keluar dari mobil, Ralin langsung datang dan memberinya pelajaran. Plak!Fayza terkejut sampai menutup mulut yang membola dengan telapak tangan. Sedang Emran langsung melirik tajam mantan istrinya itu. "Nggak usah berlagak seolah-olah kamu nggak ngerti apa salahmu padahal kamu tahu apa salahmu!!" ucap Ralin tegas. Emran akan membalas namun Ralin mundur beberapa langkah. "Aku udah banyak bersabar, Em! Aku relain kamu demi wanita murahan itu." Telunjuk Ralin mengarah ke arah Fayza, "Aku rela jadi janda. Bahkan aku rela kehilangan pekerjaan gara-gara ancamanmu ke pihak sekolah! Tapi nggak sama kali ini!"Emran mendengus geli karena Ralin sudah mengetahui ulahnya. "Kamu emang
Andai saja Ralin tidak memangku Levi, dia pasti akan mencakar muka kedua baby sitter Levi yang berani menuduhnya sembarangan.Bagaimana mungkin dia berubah menjadi wanita genit dengan menghalalkan segala cara? "Bisa kalian jaga ucapan? Levi bisa mendengarnya.""Kalau pun Den Levi dengar, dia nggak akan bisa apa-apa kecuali jalan kesana kemari.""Kalian memang bukan baby sitter yang baik.""Nggak usah mengalihkan pembicaraan, Bu Ralin. Sekarang mending Bu Ralin ngaku aja. Sebenarnya Bu Ralin ngasih Den Levi pelet, kan?! Lalu baik-baikin Den Levi di depan Pak Lewis, biar Bu Ralin bisa menggeser posisi kami lalu mulai mendekati Pak Lewis, kan?!"Tadi siang, Ralin baru saja menampar dan berseteru dengan Emran, tapi sekarang dia sudah dihadapkan pada masalah baru. Hidupnya benar-benar tidak tenang!"Asal Bu Ralin tahu, ya?! Pak Lewis itu nggak level sama wanita modelan kayak Bu Ralin! Idamannya tuh high level! Bukan yang receh kayak Bu Ralin!"Lalu baby sitter satunya ikut mengkonfrontasi
“Mbak Ralin!”Tok! Tok! Tok!Ralin terbangun dari tidur lelapnya ketika mendengar pintu kamarnya diketuk berulang kali dengan tidak sabaran.Dengan kepala berat karena kurang tidur dan mata bengkak akibat terlalu banyak menangis, ia berdiri sedikit sempoyongan membuka pintu.Oh … ternyata ibu kos.“Ya, Bu Rahma. Ada apa?”“Begini, Mbak Ralin. Keponakan saya yang dari kampung mendadak nelfon, ternyata mau tinggal disini. Nah, kamar ini tuh kamar yang mau dia tempati.”Kantuk yang tadi masih menggelayut di kedua mata Ralin pun langsung pergi seketika.Bukankah ucapan ibu kos itu secara tidak langsung menyuruhnya untuk pergi?“Maaf, Bu. Kan saya udah bayar sewanya.”Lalu ibu kos itu mengeluarkan amplop warna putih dari saku.“Ini uangnya saya balikin full. Maaf ya, Mbak Ralin. Soalnya keponakan saya mendadak mau tinggal disini. Anak jaman sekarang emang suka bikin orang tua bingung sama kemauannya.”Karena Ralin tidak kunjung menerima amplop itu, ibu kos segera meraih tangannya.“Kalau bi
"Jawab!"Karena pengendara motor makin banyak yang berhenti, akhirnya lelaki msiterius itu merasa terpojok. "Kamu suruhannya Pak Lewis, kan?!""Bukan. Anda salah orang."Ralin menggeleng tidak percaya sambil menatap lelaki itu. Lalu seorang paruh baya bertanya."Memangnya Mbak dikuntit sama laki-laki ini?""Iya, Pak. Saya yakin kalau dia nguntit saya.""Wah, bahaya itu."Lalu mereka menatap lelaki misterius itu dengan sorot waspada. "Mbak mending pergi aja. Biar kita yang urus! Laki-laki ini emang perlu dilaporin ke polisi. Meresahkan dan bikin khawatir perempuan!" Lelaki itu berusaha mengelak ketika akan diarak menuju kantor polisi. Kemudian dia berkata ..."Saya akan bilang ada apa. Tapi tolong jangan biarkan mereka membawa saya ke kantor polisi, Bu Ralin."Mendengar ia menyebut nama Ralin dengan panggilan formal, padahal keduanya belum sempat berkenalan, Ralin makin yakin jika lelaki ini mengenalnya. Kemudian Ralin meminta pada orang-orang untuk melepaskannya. Mereka berpesan ag
"Mbak Ralin, kalau ada masalah, jangan sampai mengurung diri kayak gini," ucap salah satu tetangga kamar kos Ralin. Curiga karena kamar Ralin tertutup sepanjang hari, akhirnya mereka nekat membuka paksa pintu kamarnya. Dan mereka menemukan Ralin dalam keadaan lemah sambil meringkuk di atas lantai. Beruntung Ralin masih dalam kondisi sadar. Lalu mereka memberi Ralin makan dan minum. "Nggak baik menghukum diri sendiri kayak gini, Mbak.""Semua masalah bisa diatasi, Mbak. Jangan patah semangat."Dan banyak lagi nasehat yang Ralin terima. Hanya saja, dia tetap tidak membuka suara perihal masalah yang dihadapi. Percuma jika ia mengatakan apa yang menjadi masalahnya. Karena mereka yang hadir disekitarnya tidak ada yang bisa membantu Ralin melawan Lewis yang memiliki kuasa dan harta. Keesokan harinya, Ralin hanya berdiam diri di kamar tanpa mempersiapkan diri untuk mengisi jadwal terapi. Pikirnya, mata-mata Lewis pasti sudah menghabisi karirnya di klinik tumbuh kembang tersebut. Ia hany
Ralin langsung berdiri dari duduk dengan sedikit tergesa-gesa lalu membungkuk hormat. Wajahnya kentara sekali jika menyiratkan rasa takut dan gugup. Sedang kedua matanya tidak berani sedikit pun menatap sang pewaris.Raden Mas Satria Lewis Hartadi. Pria itu berdiri dengan begitu gagah. Masih mengenakan setelan kerja dan sepatu hitam yang mengkilap. Dan David yang selalu berada di belakangnya. "Selamat sore, Pak Lewis," ucap Ralin pelan dengan kepala menunduk. "Silahkan duduk kembali, Bu Ralin."Ralin baru kembali duduk ketika Lewis telah mendudukkan dirinya lebih dulu. Sedang David tetap berdiri di belakang Lewis. Kedua mata Ralin justru lebih nyaman menatap lantai restaurant ketimbang memandang Lewis. "Apa sudah lama menunggu, Bu Ralin?" Tanya Lewis dengan suara tenang. Sama sekali tidak ada intonasi emosi atau amarah yang terpendam. Namun tetap saja Ralin merasa takut. Hal apa lagi yang akan Lewis lakukan pada hidupnya?Kepala Ralin mengangguk sekilas, "Tidak, Pak."Ralin benar
Kepala Ralin reflek menggeleng. "Bukan gitu, Den Mas.""Kalau memang begitu, biar aku panggilin David."Ralin kembali menggeleng. "Aku cuma nggak mau kelihatan kayak perempuan nggak tahu diri aja, Den Mas. Kamu itu pewaris. Mana etis gendong perempuan kayak aku.""Stop! Intinya pagi ini, kamu mau sarapan sama aku apa nggak?"Tentu saja Ralin ingin. Hanya saja dia tidak sampai hati mengatakannya. Belum sempat Ralin menjawab, Lewis kemudian memindahkan alat bantu jalan itu dan langsung menggendongnya begitu saja. Ralin reflek langsung melingkarkan tangannya di belakang leher Lewis. Untuk beberapa detik, Ralin dan Lewis saling tatap. Dan itu membuat seluruh darah Ralin terasa sangat dingin. Dengan jarak sedekat ini, Ralin berharap detak jantungnya yang menggila, tidak terdengar oleh Lewis. "Levi, ayo makan di ruang makan." Lewis berucap pada putranya. Levi mengangguk lalu berjalan bersama Lewis menuju ruang makan dengan menggendong Ralin. Dan pemandangan itu terlihat oleh Bu Tati
Dengan berbaring miring sambil memeluk Levi, Lewis menatap Ralin dan melanjutkan ucapannya. "Waktu kamu bilang mau mundur dari pernikahan ini, mau menyudahi pernikahan ini, aku kayak ditampar kenyataan, Lin. Kalau kamu sesakit ini juga karena perbuatan Emran.""Meski kamu sakit pun, kamu masih merhatiin Levi. Masih ngurusin Levi sama keterbatasanmu.""Padahal dalam perjanjian pra nikah, nggak ada pasal yang ngatur ketika kamu sakit harus terus merawat dan menjaga Levi. Tapi apa yang kamu lakukan, melebihi perjanjian pra nikah yang aku buat."Lalu Lewis mengusap rambut Levi yang sudah terlelap dan mencium kening putra semata wayangnya itu. Itu semua tak lepas dari pandangan Ralin."Kamu ngasih dia cinta dan sayang jauh lebih besar ketimbang aku sebagai Ayahnya. Bahkan sekedar tidur pun, dia nggak mau kalau nggak sama kamu. Aku kalah telak dari kamu, Lin.""Dan ucapanmu tadi pagi bikin aku sadar diri, Lin. Kalau kamu juga menderita karena Emran dan Levi bakal jauh lebih kehilangan kala
Ralin kemudian menunduk dan David segera berdiri lalu sedikit membungkuk hormat. "Selamat pagi, Pak."Lewis ternyata sudah berdiri di depan pintu entah sejak kapan. Apakah dia sempat melihat David mengajari Ralin berjalan menggunakan alat bantu jalan itu atau tidak?Kemudian Lewis masuk ke dalam kamar Ralin dengan penampilan tidak jauh berbeda dari David. Sudah sangat tampan dan rapi karena hendak menuju pabrik.Ia memperhatikan Ralin dan alat bantu jalan yang digunakan. "Kamu yang membelikannya, Vid?""Iya, Pak." Jawab David tanpa keraguan.Jiwa lelaki sejatinya tidak perlu diragukan. "Karena Nyonya membutuhkan alat itu."Lewis tidak bertanya lagi kemudian menghampiri Levi. "Ayo kita sarapan, Lev?"Levi kemudian menggeleng. "Makan. Ibu."Ralin paham jika yang Levi maksud adalah ingin sarapan bersama Ralin. "Kamu bisa jalan ke meja makan, Lin?""Akan aku coba, Den Mas."Jangankan ke meja makan, menuju kamar mandi saja Ralin membutuhkan bantuan. Namun, bagaimana dia menolak permi
"Apa Nyonya butuh alat bantu jalan?"Kepala Ralin mengangguk. "Sebenarnya iya. Tadi dokter bilang begitu sekalian untuk terapi jalan.""Besok akan saya bawakan."Ralin tersenyum dan mengangguk karena David seakan-akan tahu apa yang dibutuhkan. Tanpa Ralin harus meminta-minta. "Makasih banyak, Vid. Maaf merepotkan.""Sama-sama, Nyonya. Saya undur diri dulu."Setidaknya, masih ada David yang membantu Ralin manakala Lewis masih diliputi rasa kecewa. Kemudian Bu Tatik datang dengan membawa minuman dan camilan. Setelah menandaskannya bersama Levi, Ralin meminum obatnya. "Den Ayu, apa perlu saya temani tidur?"Kepala Ralin mengangguk tegas ketika mendapatkan tawaran yang lagi-lagi sangat ia butuhkan tanpa harus meminta. "Kalau Bu Tatik nggak merasa repot.""Tugas saya sudah pasti untuk melayani keluarga Den Mas. Tidak ada kata repot untuk itu."Satu lagi, selain David, kini Bu Tatik juga menunjukkan dukungan selama Ralin belum sembuh sepenuhnya. Setidaknya Ralin bisa melewati ini semu
Ralin tidak sedih meski Emran akan mendapatkan hukuman penjara yang tidak main-main akibat ulahnya. Dia berhak mendapatkan balasannya!Dia ingin mencelakai Levi, namun Ralin yang terkena getahnya.Kedua kaki Ralin hampir saja lumpuh jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Beruntungnya, Lewis bersedia memberikan pengobatan terbaik.Meski untuk saat ini Ralin masih harus terapi, namun itu jauh lebih baik dari pada ia lumpuh untuk selamanya.Begitu tiba di rumah, Lewis masih menerima panggilan telfon dari pengacaranya. Sudah pasti yang mereka bahas adalah tuntutan penjara seadil mungkin yang Lewis inginkan untuk membuat jera Emran.“Jika dimungkinkan bisa dituntut dengan pasal berlapis, lakukan!” Titah Lewis.Kemudian dia turun dari mobil dengan menggandeng tangan Levi. Sedang Ralin berusaha turun dari mobil perlahan-lahan tanpa bantuan.“Aku nggak bisa bayangin gimana jadinya, andai tabrakannya itu melukai Levi. Anak sekecil Levi terhantam mobil. Emran sudah gila!”“Mesk
"Emran?" Tanya Lewis dengan alis berkerut. "Betul, Pak. Mobil yang dipakai menabrak mobil Den Levi adalah mobil Emran. Dan mobilnya ada di halaman rumahnya."Lewis kemudian teringat akan ucapan bernada tidak suka yang keluar dari bibir Ralin tempo hari ketika Emran datang berkunjung. Tapi Emran dengan tidak tahu dirinya mengirimkan buket bunga dengan pesan penuh cinta. "Tim menyimpulkan jika kemungkinan yang melakukan tabrakan itu adalah Emran. Dan sebelum membawanya ke kantor polisi, tim akan menginterogasi Emran lebih dulu."Kepala Lewis mengangguk dengan wajah tidak bersahabat. "Kalau sampai dia terbukti melakukannya, aku nggak akan ngasih dia nafas kebebasan. Meski itu cuma satu hirupan."Lalu bayangan Levi saat menangis usai kecelakaan itu membuat Lewis makin geram. Dan dia akan bersabar sampai tim mendapatkan informasi yang akurat. "Kita ke rumah sakit sekarang.""Baik, Pak.""Beri tahu Mas Tira."Kondisi Ralin terpantau membaik pasca operasi. Masa kritisnya telah terlewati.
"Halo, Lew.""Halo, Bun. Bunda lagi apa?""Baru selesai bikin kue. Tumben kamu telfon jam segini? Kerjaan udah rampung?"Bukan sudah rampung. Melainkan Lewis meninggalkannya begitu saja demi Ralin. "Bun, Ralin kecelakaan."Hari belum terlalu sore dan Lewis memberi kabar sangat buruk. Membuat sore hari itu terasa kelabu. "Apa?! Kecelakaan gimana, Lew?""Penyebabnya masih diselidiki sama tim yang aku bawa, Bun.""Ralin gimana keadaannya sekarang?""Nggak baik, Bun. Dia harus operasi.""Ya Tuhan, Lew.""Satu jam lagi kita akan berangkat ke Jakarta. Aku mau Ralin dirujuk ke rumah sakit dan dokter paling bagus.""Levi gimana, Lew?""Levi cuma terpental dan trauma, Bun. Bunda bisa kan kemari buat jagain Levi?""Iya. Di rumah sakit mana?"Setelah menunggu setengah jam lamanya, Ibunda dan Ayah Lewis tiba di rumah sakit dengan wajah cemas dan khawatir. Ayahnya pun masih mengenakan kemeja kerja. Levi pun langsung mengulurkan tangan untuk digendong Ayah Lewis. Sedang David selalu setia berada
Kedua mata Ralin melebar melihat kedua foto itu. Foto yang menunjukkan dirinya sedang dipeluk oleh Emran. Kejadian beberapa hari yang lalu saat Ralin menemuinya di gerbang rumah. "Dan ada sebuah kartu ucapan. Isinya ... " Lewis sedikit menyipitkan mata karena tidak memakai kacamata, "I still love you, Lin. Emran."Usai membacanya Lewis mengangsurkan kartu ucapan itu ke meja. Berdekatan dengan kedua foto tersebut. Jantung Ralin berdetak tidak karuan ketika Lewis telah mengerti segalanya. Ralin pun diam-diam mengutuk perbuatan Emran karena telah mengirimkan satu buket bunga sialan beserta foto itu ke rumah ini. Otaknya pun berpikir cepat, jika apa yang Emran lakukan beberapa hari yang lalu memang sengaja telah direncanakan!Karena, mana mungkin Emran bisa mengirimkan foto mereka saat berpelukan jika bukan menyuruh orang lain untuk memotretnya.Benar-benar licik!Ralin pun bisa menyimpulkan jika Emran sedang berusaha mengacaukan hubungannya dengan Lewis. "Kenapa kalian berpelukan di
Ralin bergegas memanggil Bu Tatik lalu menitipkan Levi padanya. "Titip levi bentar ya, Bu Tatik. Ada tamuku di depan gerbang. Bentar aja kok."Tanpa menunggu persetujuan, Ralin langsung berlari meninggalkan levi bersama Bu Tatik. Dia menuruni tangga teras rumah Lewis dengan begitu tergesa-gesa. Kemudian berlari sekencang mungkin menuju gerbang. Ralin tidak memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan masalah kedatangan Emran ke rumah ini. Lewis sedang mandi dan pria itu pasti tidak akan membuang banyak waktu untuk segera berangkat menyenangkan Levi. Dengan nafas naik turun, Ralin tiba di pos satpam. "Buka ... gerbangnya. Tolong."Begitu gerbang terbuka sebagian, sosok Emran terlihat berdiri di samping mobilnya. Sedang Ralin masih menetralkan deru nafasnya. Ralin tidak tahu apa yang Emran pikirkan tentang dirinya yang kini tinggal di rumah ini. Atau satpam sudah menjelaskan statusnya. "Mau apa kamu kemari?" Tanya Ralin. "Jadi kamu tinggal disini?""Kalau kedatanganmu nggak ada alas