Share

Ambil Nyawaku

Penulis: Juniarth
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-14 23:58:11
"Jawab!"

Karena pengendara motor makin banyak yang berhenti, akhirnya lelaki msiterius itu merasa terpojok.

"Kamu suruhannya Pak Lewis, kan?!"

"Bukan. Anda salah orang."

Ralin menggeleng tidak percaya sambil menatap lelaki itu. Lalu seorang paruh baya bertanya.

"Memangnya Mbak dikuntit sama laki-laki ini?"

"Iya, Pak. Saya yakin kalau dia nguntit saya."

"Wah, bahaya itu."

Lalu mereka menatap lelaki misterius itu dengan sorot waspada.

"Mbak mending pergi aja. Biar kita yang urus! Laki-laki ini emang perlu dilaporin ke polisi. Meresahkan dan bikin khawatir perempuan!"

Lelaki itu berusaha mengelak ketika akan diarak menuju kantor polisi. Kemudian dia berkata ...

"Saya akan bilang ada apa. Tapi tolong jangan biarkan mereka membawa saya ke kantor polisi, Bu Ralin."

Mendengar ia menyebut nama Ralin dengan panggilan formal, padahal keduanya belum sempat berkenalan, Ralin makin yakin jika lelaki ini mengenalnya.

Kemudian Ralin meminta pada orang-orang untuk melepaskannya. Mereka berpesan ag
Juniarth

:-0

| 5
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Miyuk Kaslan
baru mulai,berkaca kaca
goodnovel comment avatar
Avary
Wah Thor, udah mulai menguras air mataku nihhhh. Lanjut ya tiap hari kelanjutan ceritanya
goodnovel comment avatar
Geget Ilang Geget Ilang
hadeuh,digoreng ni si ralin sama lewis kenapa lewis bego,tinggal cek cctv,biar dia malu dan jatuh harga diri,dah salah sasaran dendam
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Bersiap Mengalah Meski Tak Bersalah

    "Mbak Ralin, kalau ada masalah, jangan sampai mengurung diri kayak gini," ucap salah satu tetangga kamar kos Ralin. Curiga karena kamar Ralin tertutup sepanjang hari, akhirnya mereka nekat membuka paksa pintu kamarnya. Dan mereka menemukan Ralin dalam keadaan lemah sambil meringkuk di atas lantai. Beruntung Ralin masih dalam kondisi sadar. Lalu mereka memberi Ralin makan dan minum. "Nggak baik menghukum diri sendiri kayak gini, Mbak.""Semua masalah bisa diatasi, Mbak. Jangan patah semangat."Dan banyak lagi nasehat yang Ralin terima. Hanya saja, dia tetap tidak membuka suara perihal masalah yang dihadapi. Percuma jika ia mengatakan apa yang menjadi masalahnya. Karena mereka yang hadir disekitarnya tidak ada yang bisa membantu Ralin melawan Lewis yang memiliki kuasa dan harta. Keesokan harinya, Ralin hanya berdiam diri di kamar tanpa mempersiapkan diri untuk mengisi jadwal terapi. Pikirnya, mata-mata Lewis pasti sudah menghabisi karirnya di klinik tumbuh kembang tersebut. Ia hany

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-15
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Cukup Sekali Ini Bertemu

    Ralin langsung berdiri dari duduk dengan sedikit tergesa-gesa lalu membungkuk hormat. Wajahnya kentara sekali jika menyiratkan rasa takut dan gugup. Sedang kedua matanya tidak berani sedikit pun menatap sang pewaris.Raden Mas Satria Lewis Hartadi. Pria itu berdiri dengan begitu gagah. Masih mengenakan setelan kerja dan sepatu hitam yang mengkilap. Dan David yang selalu berada di belakangnya. "Selamat sore, Pak Lewis," ucap Ralin pelan dengan kepala menunduk. "Silahkan duduk kembali, Bu Ralin."Ralin baru kembali duduk ketika Lewis telah mendudukkan dirinya lebih dulu. Sedang David tetap berdiri di belakang Lewis. Kedua mata Ralin justru lebih nyaman menatap lantai restaurant ketimbang memandang Lewis. "Apa sudah lama menunggu, Bu Ralin?" Tanya Lewis dengan suara tenang. Sama sekali tidak ada intonasi emosi atau amarah yang terpendam. Namun tetap saja Ralin merasa takut. Hal apa lagi yang akan Lewis lakukan pada hidupnya?Kepala Ralin mengangguk sekilas, "Tidak, Pak."Ralin benar

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-16
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Harus Dengan Apa Aku Meminta Maaf

    [Pesan dari Emran : Hei, jalang! Apa kamu bisa datang ke rumah? Aku butuh pelampiasan nafsu! Berapa untuk satu jamnya?! Kebetulan istriku sedang nggak bisa dipakai!]Ini masih pagi tapi Emran sudah menggoreskan luka di hati Ralin. Kesalahpahaman mantan suami Ralin hanya karena Lewis membantunya kala itu, ternyata masih berlanjut hingga sekarang. Emran menuduh Ralin adalah wanita simpanan lelaki berharta semasa menjadi istrinya. Padahal itu semua tidak benar!Ralin memilih menghapus pesan itu dan tidak menghiraukannya. Meladeni Emran itu sama seperti menggarami air laut. Toh dia sudah merelakan mantan suaminya itu bersatu dengan selingkuhannya.Hari ini, usai memberi sesi terapi, Ralin kemudian merancang rencana akan pergi ke salah satu kota yang nyaman. Dia akan menggunakan kemampuannya mendidik anak-anak spesial untuk mencari nafkah.Tapi itu masih nanti. Setelah Ralin menerima gaji pertamanya. Keluarga di kampung merasa sangat kecewa dengan keputusan Ralin menikah dengan Emran beb

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-17
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Terima Kasih dan Maafkan Aku

    Mengapa kaum pria selalu memiliki sifat pemaksa?!Ralin kesal setengah mati karena Lewis terus mendesaknya agar kembali mendidik dan merawat Levi. Padahal dia sudah mengibarkan bendera putih. "Sejak saya memecat kedua baby sitter Levi dua hari yang lalu, Levi bersama Bunda saya, Bu Ralin. Saya akui, kalau bukan orang seperti Bu Ralin, Levi tidak akan bisa diatasi.""Bunda saya hampir menyerah merawat dan mendidik Levi padahal hanya dua hari. Sedang saya sudah tidak percaya lagi dengan baby sitter manapun.""Dan saya sudah membulatkan tekad untuk meminta Bu Ralin kembali mendidik dan merawat Levi. Saya tidak akan bisa tenang bekerja kalau Levi bersama orang lain."Ralin memejamkan mata sejenak lalu menatap Lewis. "Saya benar-benar tidak bisa, Pak Lewis. Tolong hargai keputusan saya."Lewis menatap Ralin sungguh-sungguh dan menggeleng tegas. "Maaf, Bu Ralin. Saya tahu kalau anda takut dengan saya karena ulah saya sendiri. Maka dari itu, akan saya siapkan hitam di atas putih yang menje

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-18
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Satu Ronde

    Karena hari sudah petang dan tanda-tanda kedatangan Lewis belum juga nampak, akhirnya Ralin memilih menunggu sang pewaris itu.Firasatnya tidak enak bila meninggalkan Levi sedang Lewis belum tiba. Karena Levi sedang tidur, Ralin pun menuju dapur rumah megah ini untuk mengisi perut. Meski sempat tersesat hingga dua kali. Khawatir Levi terbangun dan tidak ada siapapun, akhirnya Bu Tatik menemani Ralin makan malam di dalam kamar Levi. Tidak berapa lama, Lewis akhirnya tiba di rumah. Ralin langsung berdiri dari duduk dengan kepala menunduk ketika Lewis membuka pintu kamar Levi. Pria itu masih mengenakan kemeja kerja dengan garis wajah yang nampak lelah. Dilihatnya Levi yang begitu nyenyak tertidur lalu menatap Ralin."Bisa kita bicara di luar, Bu Ralin?" Tanya Lewis dengan suara pelan agar tidak mengganggu Levi. Kepala Ralin mengangguk lalu mengikuti langkah kaki Lewis menuju ruang tengah yang berada di depan kamar Levi persis. Di sana sudah ada David sedang menata dokumen di atas me

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-19
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Bukan Untuk Melayanimu!

    Menjadi guru sekaligus terapis pribadi Levi ternyata begitu menggiurkan!Bagaimana tidak, kamar yang ditempati Ralin jauh lebih baik dari kamarnya bersama Emran. Belum lagi, segala fasilitas yang Ralin terima.Dia tidak perlu memusingkan pakaian kotor, makanan, bahkan mobil serta sopir pribadi. Semuanya siap sedia.Bahkan baru bekerja satu hari saja, Ralin sudah mendapat gaji penuh untuk satu bulan. Gaji yang menurutnya sangat menjanjikan untuk hidup seorang diri di kota ini.Pantas saja mantan kedua baby sitter Levi, mati-matian mempertahankan pekerjaan ini bahkan rela memfitnah Ralin. Mendapat segala kenyamanan seperti ini, bukannya Ralin merasa senang. Justru dia berpikir keras bagaimana bisa menjalankan tugasnya dengan baik. "Aku nggak boleh banyak ngelakuin salah." Gumam Ralin.Dia hanya takut jika Lewis kemudian kecewa dengan pengasuhannya terhadap Levi. Tapi baru dua hari bekerja, tiba-tiba saja Levi terlihat lemas, batuk ringan, dan demam. Ralin khawatir setengah mati."Bu T

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-20
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Lagi Pengen Banget

    Setibanya di rumah yang dulu ia tinggali bersama Emran, Ralin kemudian membuka pagar kecil setinggi perut. Mobil yang dulu dibeli dengan tabungan Ralin demi mobilitas mantan suaminya itu, kini terparkir di garasi. Dan halaman dan taman kecil yang dulu rajin Ralin rawat, kini mulai tidak terurus. Banyak rumput liar yang tumbuh dan beberapa pot dibiarkan miring. Juga sampah daun yang berserakan dan lantai teras yang berdebu. Sesibuk apakah Fayza hingga tidak bisa mengurus rumah dengan baik?Ting tong!Ralin menekan bel rumah dengan mental yang sudah siap. Bahwa ia masih dalam proses membunuh cintanya untuk Emran dan tidak memiliki niatan untuk kembali lagi. Begitu pintu rumah terbuka, Emran memandangnya dengan senyum remeh dengan penampilan sedikit acak-acakan. "Hai, Ralin. Oh, bukan! Hai, jalang."Ralin tidak menjawab dan hanya menatap Emran datar. Sedang tangannya sudah gatal sekali ingin memukul mantan suaminya itu dengan benda apapun. Emran sudah menikah dengan Fayza, selingkuh

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-21
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Hanya Dia Pelipur Lara

    Sepanjang perjalanan menuju rumah megah Lewis, di dalam mobil, Ralin hanya dima dengan wajah menunduk. Sudah tidak ada bulir air mata yang membasahi pipinya. Hanya saja gurat kesedihan terpancar jelas di wajahnya yang nampak pucat. Tas dan akta percerain berada di atas pangkuannya. Dengan kedua tangan menggenggam erat kain coklat yang menutup badannya. Lewis pun tidak berani bertanya lebih jauh karena begini saja dia sudah bisa menyimpulkan jika Ralin tidak baik-baik saja. Dia pun teringat akan bagaimana nasib putranya jika Ralin mengalami stres? Sedangkan Levi begitu dekat dengan Ralin.Terbersit satu ide untuk memanggil psikolog ke rumah untuk membantu Ralin melewati tekanan ini namun alangkah baiknya dia bertanya lebih dulu jika Ralin sudah tenang.Setibanya di rumah, Levi langsung menarik kain coklat yang Ralin genggam erat-erat. Namun Lewis dengan segera menggendong Levi namun tangan putranya itu terulur ke Ralin dengan suara merengek. "Levi, Bu Ralin lagi nggak enak badan. Bi

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-23

Bab terbaru

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Tidak Seperti Semalam

    Kepala Ralin reflek menggeleng. "Bukan gitu, Den Mas.""Kalau memang begitu, biar aku panggilin David."Ralin kembali menggeleng. "Aku cuma nggak mau kelihatan kayak perempuan nggak tahu diri aja, Den Mas. Kamu itu pewaris. Mana etis gendong perempuan kayak aku.""Stop! Intinya pagi ini, kamu mau sarapan sama aku apa nggak?"Tentu saja Ralin ingin. Hanya saja dia tidak sampai hati mengatakannya. Belum sempat Ralin menjawab, Lewis kemudian memindahkan alat bantu jalan itu dan langsung menggendongnya begitu saja. Ralin reflek langsung melingkarkan tangannya di belakang leher Lewis. Untuk beberapa detik, Ralin dan Lewis saling tatap. Dan itu membuat seluruh darah Ralin terasa sangat dingin. Dengan jarak sedekat ini, Ralin berharap detak jantungnya yang menggila, tidak terdengar oleh Lewis. "Levi, ayo makan di ruang makan." Lewis berucap pada putranya. Levi mengangguk lalu berjalan bersama Lewis menuju ruang makan dengan menggendong Ralin. Dan pemandangan itu terlihat oleh Bu Tati

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Mau Aku Gendong?

    Dengan berbaring miring sambil memeluk Levi, Lewis menatap Ralin dan melanjutkan ucapannya. "Waktu kamu bilang mau mundur dari pernikahan ini, mau menyudahi pernikahan ini, aku kayak ditampar kenyataan, Lin. Kalau kamu sesakit ini juga karena perbuatan Emran.""Meski kamu sakit pun, kamu masih merhatiin Levi. Masih ngurusin Levi sama keterbatasanmu.""Padahal dalam perjanjian pra nikah, nggak ada pasal yang ngatur ketika kamu sakit harus terus merawat dan menjaga Levi. Tapi apa yang kamu lakukan, melebihi perjanjian pra nikah yang aku buat."Lalu Lewis mengusap rambut Levi yang sudah terlelap dan mencium kening putra semata wayangnya itu. Itu semua tak lepas dari pandangan Ralin."Kamu ngasih dia cinta dan sayang jauh lebih besar ketimbang aku sebagai Ayahnya. Bahkan sekedar tidur pun, dia nggak mau kalau nggak sama kamu. Aku kalah telak dari kamu, Lin.""Dan ucapanmu tadi pagi bikin aku sadar diri, Lin. Kalau kamu juga menderita karena Emran dan Levi bakal jauh lebih kehilangan kala

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Jangan Akhiri Pernikahan Kita

    Ralin kemudian menunduk dan David segera berdiri lalu sedikit membungkuk hormat. "Selamat pagi, Pak."Lewis ternyata sudah berdiri di depan pintu entah sejak kapan. Apakah dia sempat melihat David mengajari Ralin berjalan menggunakan alat bantu jalan itu atau tidak?Kemudian Lewis masuk ke dalam kamar Ralin dengan penampilan tidak jauh berbeda dari David. Sudah sangat tampan dan rapi karena hendak menuju pabrik.Ia memperhatikan Ralin dan alat bantu jalan yang digunakan. "Kamu yang membelikannya, Vid?""Iya, Pak." Jawab David tanpa keraguan.Jiwa lelaki sejatinya tidak perlu diragukan. "Karena Nyonya membutuhkan alat itu."Lewis tidak bertanya lagi kemudian menghampiri Levi. "Ayo kita sarapan, Lev?"Levi kemudian menggeleng. "Makan. Ibu."Ralin paham jika yang Levi maksud adalah ingin sarapan bersama Ralin. "Kamu bisa jalan ke meja makan, Lin?""Akan aku coba, Den Mas."Jangankan ke meja makan, menuju kamar mandi saja Ralin membutuhkan bantuan. Namun, bagaimana dia menolak permi

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Sesayang Dan Sepengertian Itu

    "Apa Nyonya butuh alat bantu jalan?"Kepala Ralin mengangguk. "Sebenarnya iya. Tadi dokter bilang begitu sekalian untuk terapi jalan.""Besok akan saya bawakan."Ralin tersenyum dan mengangguk karena David seakan-akan tahu apa yang dibutuhkan. Tanpa Ralin harus meminta-minta. "Makasih banyak, Vid. Maaf merepotkan.""Sama-sama, Nyonya. Saya undur diri dulu."Setidaknya, masih ada David yang membantu Ralin manakala Lewis masih diliputi rasa kecewa. Kemudian Bu Tatik datang dengan membawa minuman dan camilan. Setelah menandaskannya bersama Levi, Ralin meminum obatnya. "Den Ayu, apa perlu saya temani tidur?"Kepala Ralin mengangguk tegas ketika mendapatkan tawaran yang lagi-lagi sangat ia butuhkan tanpa harus meminta. "Kalau Bu Tatik nggak merasa repot.""Tugas saya sudah pasti untuk melayani keluarga Den Mas. Tidak ada kata repot untuk itu."Satu lagi, selain David, kini Bu Tatik juga menunjukkan dukungan selama Ralin belum sembuh sepenuhnya. Setidaknya Ralin bisa melewati ini semu

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Menggendong Ralin Ke Kamar

    Ralin tidak sedih meski Emran akan mendapatkan hukuman penjara yang tidak main-main akibat ulahnya. Dia berhak mendapatkan balasannya!Dia ingin mencelakai Levi, namun Ralin yang terkena getahnya.Kedua kaki Ralin hampir saja lumpuh jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Beruntungnya, Lewis bersedia memberikan pengobatan terbaik.Meski untuk saat ini Ralin masih harus terapi, namun itu jauh lebih baik dari pada ia lumpuh untuk selamanya.Begitu tiba di rumah, Lewis masih menerima panggilan telfon dari pengacaranya. Sudah pasti yang mereka bahas adalah tuntutan penjara seadil mungkin yang Lewis inginkan untuk membuat jera Emran.“Jika dimungkinkan bisa dituntut dengan pasal berlapis, lakukan!” Titah Lewis.Kemudian dia turun dari mobil dengan menggandeng tangan Levi. Sedang Ralin berusaha turun dari mobil perlahan-lahan tanpa bantuan.“Aku nggak bisa bayangin gimana jadinya, andai tabrakannya itu melukai Levi. Anak sekecil Levi terhantam mobil. Emran sudah gila!”“Mesk

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Aku Sanggup Menjaganya

    "Emran?" Tanya Lewis dengan alis berkerut. "Betul, Pak. Mobil yang dipakai menabrak mobil Den Levi adalah mobil Emran. Dan mobilnya ada di halaman rumahnya."Lewis kemudian teringat akan ucapan bernada tidak suka yang keluar dari bibir Ralin tempo hari ketika Emran datang berkunjung. Tapi Emran dengan tidak tahu dirinya mengirimkan buket bunga dengan pesan penuh cinta. "Tim menyimpulkan jika kemungkinan yang melakukan tabrakan itu adalah Emran. Dan sebelum membawanya ke kantor polisi, tim akan menginterogasi Emran lebih dulu."Kepala Lewis mengangguk dengan wajah tidak bersahabat. "Kalau sampai dia terbukti melakukannya, aku nggak akan ngasih dia nafas kebebasan. Meski itu cuma satu hirupan."Lalu bayangan Levi saat menangis usai kecelakaan itu membuat Lewis makin geram. Dan dia akan bersabar sampai tim mendapatkan informasi yang akurat. "Kita ke rumah sakit sekarang.""Baik, Pak.""Beri tahu Mas Tira."Kondisi Ralin terpantau membaik pasca operasi. Masa kritisnya telah terlewati.

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Aku Akan Selalu Ada

    "Halo, Lew.""Halo, Bun. Bunda lagi apa?""Baru selesai bikin kue. Tumben kamu telfon jam segini? Kerjaan udah rampung?"Bukan sudah rampung. Melainkan Lewis meninggalkannya begitu saja demi Ralin. "Bun, Ralin kecelakaan."Hari belum terlalu sore dan Lewis memberi kabar sangat buruk. Membuat sore hari itu terasa kelabu. "Apa?! Kecelakaan gimana, Lew?""Penyebabnya masih diselidiki sama tim yang aku bawa, Bun.""Ralin gimana keadaannya sekarang?""Nggak baik, Bun. Dia harus operasi.""Ya Tuhan, Lew.""Satu jam lagi kita akan berangkat ke Jakarta. Aku mau Ralin dirujuk ke rumah sakit dan dokter paling bagus.""Levi gimana, Lew?""Levi cuma terpental dan trauma, Bun. Bunda bisa kan kemari buat jagain Levi?""Iya. Di rumah sakit mana?"Setelah menunggu setengah jam lamanya, Ibunda dan Ayah Lewis tiba di rumah sakit dengan wajah cemas dan khawatir. Ayahnya pun masih mengenakan kemeja kerja. Levi pun langsung mengulurkan tangan untuk digendong Ayah Lewis. Sedang David selalu setia berada

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Jangan Sentuh Ralin

    Kedua mata Ralin melebar melihat kedua foto itu. Foto yang menunjukkan dirinya sedang dipeluk oleh Emran. Kejadian beberapa hari yang lalu saat Ralin menemuinya di gerbang rumah. "Dan ada sebuah kartu ucapan. Isinya ... " Lewis sedikit menyipitkan mata karena tidak memakai kacamata, "I still love you, Lin. Emran."Usai membacanya Lewis mengangsurkan kartu ucapan itu ke meja. Berdekatan dengan kedua foto tersebut. Jantung Ralin berdetak tidak karuan ketika Lewis telah mengerti segalanya. Ralin pun diam-diam mengutuk perbuatan Emran karena telah mengirimkan satu buket bunga sialan beserta foto itu ke rumah ini. Otaknya pun berpikir cepat, jika apa yang Emran lakukan beberapa hari yang lalu memang sengaja telah direncanakan!Karena, mana mungkin Emran bisa mengirimkan foto mereka saat berpelukan jika bukan menyuruh orang lain untuk memotretnya.Benar-benar licik!Ralin pun bisa menyimpulkan jika Emran sedang berusaha mengacaukan hubungannya dengan Lewis. "Kenapa kalian berpelukan di

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Satu Buket Bunga

    Ralin bergegas memanggil Bu Tatik lalu menitipkan Levi padanya. "Titip levi bentar ya, Bu Tatik. Ada tamuku di depan gerbang. Bentar aja kok."Tanpa menunggu persetujuan, Ralin langsung berlari meninggalkan levi bersama Bu Tatik. Dia menuruni tangga teras rumah Lewis dengan begitu tergesa-gesa. Kemudian berlari sekencang mungkin menuju gerbang. Ralin tidak memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan masalah kedatangan Emran ke rumah ini. Lewis sedang mandi dan pria itu pasti tidak akan membuang banyak waktu untuk segera berangkat menyenangkan Levi. Dengan nafas naik turun, Ralin tiba di pos satpam. "Buka ... gerbangnya. Tolong."Begitu gerbang terbuka sebagian, sosok Emran terlihat berdiri di samping mobilnya. Sedang Ralin masih menetralkan deru nafasnya. Ralin tidak tahu apa yang Emran pikirkan tentang dirinya yang kini tinggal di rumah ini. Atau satpam sudah menjelaskan statusnya. "Mau apa kamu kemari?" Tanya Ralin. "Jadi kamu tinggal disini?""Kalau kedatanganmu nggak ada alas

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status