Share

Hanya Dia Pelipur Lara

Penulis: Juniarth
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-23 16:35:42
Sepanjang perjalanan menuju rumah megah Lewis, di dalam mobil, Ralin hanya dima dengan wajah menunduk. Sudah tidak ada bulir air mata yang membasahi pipinya. Hanya saja gurat kesedihan terpancar jelas di wajahnya yang nampak pucat.

Tas dan akta percerain berada di atas pangkuannya. Dengan kedua tangan menggenggam erat kain coklat yang menutup badannya.

Lewis pun tidak berani bertanya lebih jauh karena begini saja dia sudah bisa menyimpulkan jika Ralin tidak baik-baik saja.

Dia pun teringat akan bagaimana nasib putranya jika Ralin mengalami stres? Sedangkan Levi begitu dekat dengan Ralin.

Terbersit satu ide untuk memanggil psikolog ke rumah untuk membantu Ralin melewati tekanan ini namun alangkah baiknya dia bertanya lebih dulu jika Ralin sudah tenang.

Setibanya di rumah, Levi langsung menarik kain coklat yang Ralin genggam erat-erat. Namun Lewis dengan segera menggendong Levi namun tangan putranya itu terulur ke Ralin dengan suara merengek.

"Levi, Bu Ralin lagi nggak enak badan. Bi
Juniarth

:-0

| 4
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Geget Ilang Geget Ilang
mau apa lewis,kapan lilyah nongol ya??? kangen,cerita si lewis punya adik ga thor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Debaran Yang Tak Biasa

    Sabtu ceria.Baru saja Ralin selesai memandikan Levi dan akan mengajaknya bermain sekaligus belajar di taman rumah yang luas, tiba-tiba saja Lewis mengetuk pintu kamar putranya itu. Setelah memasangkan celana Levi, Ralin berdiri dengan sopan menyambut kedatangan sang pemilik rumah. Biasanya, Lewis sudah berangkat bekerja pagi sekali. Tapi mengapa dia masih terlihat santai dengan pakaian kasual?"Levi, mau nggak jalan-jalan sama Ayah?" Tanya Lewis dengan mensejajarkan tubuh dengan putranya.Ia kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana lalu menunjukkan sesuatu dari layar ponsel. Sedang Ralin hanya memandang interaksi mereka. Raut wajah Levi perlahan-lahan berubah sumringah ketika menonton video pendek yang diputarkan Lewis. Kemudian ia mengambil ponsel Lewis dan memperhatikan video itu dengan seksama. "Mau kesana?" Tanya Lewis dengan mengusap rambut Levi lalu mencium pipi putranya. Levi masih memandangi dengan seksama. "Gimana? Mau apa nggak?"Bukannya menjawab, Levi kemudian b

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-24
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Memiliki Yang Baru

    Ucapan Lewis meninggalkan sebuah perasaan yang aneh di dalam hati Ralin. Perasaan yang membuatnya tidak bisa tidur hingga selarut ini. Dia sendiri tidak mengerti perasaan apakah ini. Ketika tangan kanannya menyentuh tepat di dada, rasanya benar-benar ada yang tidak beres. "Kenapa aku begini?"Kepalanya menggeleng dan menghela nafas panjang."Pasti ini cuma karena Pak Lewis terlalu baik saat aku butuh pertolongan. Ini nggak benar. Ini nggak boleh diterusin, Ralin. Nggak boleh." Gumamnya sendiri.Ralin kemudian kembali ke kamar dan menutup pintu balkon. Dipandanginya Levi yang tertidur begitu lelap. Wajah tuan muda kecil itu begitu mirip dengan Lewis. Lalu ia mencuri ciuman di pipi yang sama ketika Lewis tadi mencium Levi. Ralin kembali menegaskan pada diri dan hatinya apa yang menjadi tugasnya. Bukan berangan-angan tentang Lewis terlalu tinggi. Tuhan menciptakan laki-laki sebagai makhluk paling indah. Dan Lewis salah satunya. Kedekatan interaksi mereka karena Levi adalah pemicunya

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-25
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Terlalu Kecil Untukmu Yang Sangat Besar

    "Lew, Bunda pernah muda. Pernah punya pasang surut hubungan sama Ayahmu." "Lalu?" "Zaylin udah lama pergi. Apa kamu nggak kesepian?" 'Siapa itu Zaylin? Apakah dia mantan istri Lewis?' Batin Ralin. Lewis menarik tangan dari genggaman Ibundanya lalu menghela nafas panjang. "Bunda, sekali lagi aku tegasin. Kalau aku nggak butuh wanita." "Untuk saat ini." Ibundanya masih saja mendebat Lewis yang belum mau membuka hatinya. "Dan selamanya." Tegas Lewis. "Astaga, Lewis. Jangan bilang gitu!" ucap Ibundanya dengan nada tidak suka. Ralin makin penasaran dan meneruskan sesi menguping itu. "Bunda, Levi itu anak spesial. Perilakunya nggak kayak anak pada umumnya. Pertanyaanku, kalau Ibu kandungnya aja pergi ninggalin dia, perempuan mana yang bisa tahan sama dia?" Mulut Ralin membola lalu ia segera menutupnya dengan telapak tangan kanan. Dia tidak menyangka jika karena kekurangan Levi, kemudian Ibunya lebih memilih pergi meninggalkan. Padahal kekurangan Levi masih bisa diperbaiki.

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Tidak Nyaman

    Ralin tidak menatap kehadiran Lewis dan Kamilia di dekat kolam. Dia menyibukkan diri dengan menjaga Levi yang sedang asyik berjalan-jalan di bagian kolam renang yang hanya sebatas mata kaki. "Levi aktif banget ya, Den Mas?""Iya. Kadang kelewat aktif.""Itu biasanya dipicu dari makanan atau minuman yang dilarang.""Iya."Ralin sebenarnya tidak ingin mendengarkan obrolan mereka. Namun bagaimana lagi, jarak mereka tidaklah jauh. "Tapi anak istimewa kayak Levi pasti punya kelebihan, Den Mas. Dan kelebihannya itu harus dipantik, nggak bisa cuma ditunggu kapan munculnya."Tatapan Lewis kesana kemari dan mengangguk seadanya. Kemudian ia menunduk dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Ada apa, Den Mas?"Lewis kemudian menoleh ke arah Kamilia dengan wajah bingung. "Kenapa?" Tanyanya kembali. "Aku perhatiin Den Mas dari tadi kayak nggak lepas. Kita ngobrol biasa aja. Kita jalani perkenalan ini dengan santai biar nggak tertekan."Lewis menghela nafas panjang lalu menganggu

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Mantan Istri Empat Tahun Silam

    Teguran yang Lewis berikan, membuat Ralin menyadari satu hal. Bahwa pria itu tidak ingin siapapun memaksa Levi.Dia benar-benar mengutamakan kenyamanan Levi ketimbang sibuk memikirkan Ibu baru untuk putranya. Dan Ralin tidak mau kembali membuat kesalahan dengan membiarkan Kamilia mendekati Levi secara paksa.Esok pagi harinya, saat Lewis dan Levi sarapan, tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi.Lewis segera menghentikan sarapan lalu menatap Ralin yang duduk di sebelah Levi. Mengajari putranya itu melahap sarapan."Apa itu Kamilia?""Saya tidak tahu, Pak."Cara bertanya Lewis sudah menunjukkan rasa tidak suka."Kalau itu memang dia, saya nggak mau Levi dipaksa akrab. Bu Ralin saya beri hak untuk melarang Kamilia seenaknya pada Levi. Termasuk memaksa Levi agar mau begini begitu."Ralin mengangguk paham."Iya, Pak. Saya minta maaf untuk kesalahan saya yang kemarin.""Saya maklumi, karena Bu Ralin pasti takut melarang Kamilia."Tidak salah lagi! Ralin mana mungkin berani melarang Kamilia jika

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-28
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Menikahlah Denganku

    "Dia .... "Ibunda Lewis tidak meneruskan ucapannya. "Astaga. Sudahlah, Bu Ralin. Itu masa lalu."Sebenarnya Ralin ingin sekali mendengar penjelasan dari Ibunda Lewis tentang pernikahan Lewis. Tapi, apalah daya jika sang nyonya besar memilih untuk urung bercerita. Akhirnya Ralin menemani Levi menghabiskan energinya dengan bermain di taman hingga sore hari dengan sejuta pikiran. Sedang Ibunda Lewis memilih menyiapkan makan malam kesukaan Lewis.Meski berkali-kali Ralin berusaha melupakan perasaannya pada Lewis, namun benih-benih cinta di hatinya tetap tumbuh. Termasuk keingintahuannya tentang masa lalu Lewis bersama mantan istri. Secantik apakah ia hingga Lewis begitu menggilainya?Ralin menggelengkan kepala kemudian memilih untuk mengajari Levi belajar mandi sendiri. Tugasnya adalah untuk mendidik Levi, bukan untuk mengagumi sang majikan. Tepat pukul tujuh malam, saat Levi makan malam, Lewis tiba di rumah. "Bunda udah lama?" Tanya Lewis lalu mencium pipi Ibundanya. Pria itu tetap

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-01
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Senang Bekerja Sama Denganmu

    "A ... apa, Pak?" Ralin hampir lupa bagaimana cara bernafas ketika Lewis menawarkan pernikahan yang tidak pernah berani ia bayangkan. "Menikahlah dengan saya."Sekujur tubuh Ralin terasa meremang mendengar ucapan Lewis. Pandangan Ralin hanya tertuju pada diri Lewis. "Me ... menikah?" Ralin menegaskan barangkali salah dengar. "Iya."Malam itu, ketika Ralin sedang berbicara dengan pemilik semesta, tentang perasaannya pada Lewis, apakah malaikat benar-benar mencatat harapannya menjadi doa?Dan secepat ini kah?"Maaf kalau ini mendadak sekali, Bu Ralin. Tapi ... saya nggak ada pilihan."Lewis menatap Levi yang sedang asyik menata toples berisi makanan ringan yang ada di meja ruang tamu layaknya gerbong kereta api. "Nggak mudah mengasuh apalagi mendidik anak berkebutuhan khusus kayak Levi. Dan sejauh ini, hanya Bu Ralin yang cocok dengan Levi.""Saya pribadi, lihat Levi bahagia itu sudah cukup. Lagi pula kesibukan saya di pabrik udah menyita waktu bahkan waktu ketemu Levi kadang nggak

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-02
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Menikah Minggu Depan

    Hati Ralin tidak karuan bahagianya karena dia berjalan sambil bergandengan tangan dengan Lewis. Memakai gaun dan make up yang indah. Seperti seorang putri sesungguhnya dengan pangeran tampan rupawan. Dan Levi berada dalam gendongan Lewis.Ralin seakan-akan memiliki keluarga bahagia yang selama ini diimpikan. Senyum yang tercetak di bibirnya, bukan sebuah paksaan. Melainkan ungkapan atas euforia hatinya yang benar-benar bahagia. Meski semua ini hanya di atas kertas, hanya sebuah drama penuh kebohongan, hanya ilusi nan sesaat, tapi cintanya untuk Lewis itu nyata. Kasih sayangnya untuk Levi itu tulus. Hanya saja Lewis yang tidak menyadari hal itu. Biarlah Ralin menikmati sandiwara ini sebelum semuanya berakhir. Biarlah dia merasakan indahnya bermimpi meski setelah ia terbangun semuanya sudah tidak lagi sama. Tidak seperti yang ia harapkan.Setidaknya Ralin pernah memiliki keluarga bahagia yang begitu singkat. "Selamat siang, Den Mas Lewis. Silahkan masuk."Seorang pelayan membukakan

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-03

Bab terbaru

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Siapa Wanita Itu?

    Saat lampu telah berubah hijau, mau tidak mau sopir menekan pedal gas. Meninggalkan pemandangan yang membuatku bertanya-tanya. 'Den Mas, kamu sama siapa?' Batin Ralin. Mata Ralin tidak lagi bisa menjangkau apa yang terjadi selanjutnya. Perasaan bahagia yang tadi baru bermunculan, kini mendadak dipenuhi kesedihan. Apalagi jika bukan karena ia merasa cemburu?!Mana mungkin seorang lelaki mengulurkan tangannya pada wanita dengan penampilan all out seperti tadi jika bukan karena ada perasaan tertentu?!Kepala Ralin lantas menggeleng dan kembali mengeyahkan perasaan yang jelas-jelas salah ini. Bahwa ia tidak boleh terus menerus membiarkan rasa cinta ini tumbuh lalu tidak bisa melepaskannya. Setibanya di rumah, Ralin melahap bubur kacang hijau itu bersama Levi. Kemudian menunggu Levi selesai mandi sendiri. Buah dari kejadian saat ia belum bisa berjalan. Ralin terus menyibukkan diri bersama Levi untuk mengenyahkan bayangan tadi siang. Pertanyaan tentang siapa wanita yang bersamanya tad

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Senyum-Senyum Sendiri

    "Apa Den Mas marah gara-gara kamu punya inisiatif beliin aku ponsel?"Kepala David menggeleng."Saya rasa tidak, Nyonya.""Dia nggak bilang apapun?""Tidak.""Dia masih ngajak kamu bicara kayak biasanya?""Iya. Ada apa, Nyonya?"Ralin menghela nafas sambil menatap beberapa orang yang lalu lalang di dalam rumah sakit ini. "Aku takut Den Mas punya pikiran kita lagi mengkhianati dia, Vid." Kemudian Ralin menatap David kembali, "Lagian, kenapa kamu jujur banget kalau punya ide beliin aku ponsel?""Saya lebih suka terbuka dan apa adanya pada Pak Lewis, Nyonya."Ralin berdecak kesal. "Kalau Den Mas mikir yang nggak-nggak, gimana?""Beliau pasti akan menegur bila saya melakukan kesalahan."Jika David saja bisa bersikap santai dan biasa saja, mengapa Ralin harus terlihat takut setengah mati?Kentara sekali jika Ralin sedang berusaha menjaga perasaan Lewis. Sedangkan dia tidak membutuhkan hal itu karena memang tidak mencintai Ralin. ****Siang ini Ralin akan menjalani terapi terakhir. Ia s

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Tidak Seperti Semalam

    Kepala Ralin reflek menggeleng. "Bukan gitu, Den Mas.""Kalau memang begitu, biar aku panggilin David."Ralin kembali menggeleng. "Aku cuma nggak mau kelihatan kayak perempuan nggak tahu diri aja, Den Mas. Kamu itu pewaris. Mana etis gendong perempuan kayak aku.""Stop! Intinya pagi ini, kamu mau sarapan sama aku apa nggak?"Tentu saja Ralin ingin. Hanya saja dia tidak sampai hati mengatakannya. Belum sempat Ralin menjawab, Lewis kemudian memindahkan alat bantu jalan itu dan langsung menggendongnya begitu saja. Ralin reflek langsung melingkarkan tangannya di belakang leher Lewis. Untuk beberapa detik, Ralin dan Lewis saling tatap. Dan itu membuat seluruh darah Ralin terasa sangat dingin. Dengan jarak sedekat ini, Ralin berharap detak jantungnya yang menggila, tidak terdengar oleh Lewis. "Levi, ayo makan di ruang makan." Lewis berucap pada putranya. Levi mengangguk lalu berjalan bersama Lewis menuju ruang makan dengan menggendong Ralin. Dan pemandangan itu terlihat oleh Bu Tati

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Mau Aku Gendong?

    Dengan berbaring miring sambil memeluk Levi, Lewis menatap Ralin dan melanjutkan ucapannya. "Waktu kamu bilang mau mundur dari pernikahan ini, mau menyudahi pernikahan ini, aku kayak ditampar kenyataan, Lin. Kalau kamu sesakit ini juga karena perbuatan Emran.""Meski kamu sakit pun, kamu masih merhatiin Levi. Masih ngurusin Levi sama keterbatasanmu.""Padahal dalam perjanjian pra nikah, nggak ada pasal yang ngatur ketika kamu sakit harus terus merawat dan menjaga Levi. Tapi apa yang kamu lakukan, melebihi perjanjian pra nikah yang aku buat."Lalu Lewis mengusap rambut Levi yang sudah terlelap dan mencium kening putra semata wayangnya itu. Itu semua tak lepas dari pandangan Ralin."Kamu ngasih dia cinta dan sayang jauh lebih besar ketimbang aku sebagai Ayahnya. Bahkan sekedar tidur pun, dia nggak mau kalau nggak sama kamu. Aku kalah telak dari kamu, Lin.""Dan ucapanmu tadi pagi bikin aku sadar diri, Lin. Kalau kamu juga menderita karena Emran dan Levi bakal jauh lebih kehilangan kala

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Jangan Akhiri Pernikahan Kita

    Ralin kemudian menunduk dan David segera berdiri lalu sedikit membungkuk hormat. "Selamat pagi, Pak."Lewis ternyata sudah berdiri di depan pintu entah sejak kapan. Apakah dia sempat melihat David mengajari Ralin berjalan menggunakan alat bantu jalan itu atau tidak?Kemudian Lewis masuk ke dalam kamar Ralin dengan penampilan tidak jauh berbeda dari David. Sudah sangat tampan dan rapi karena hendak menuju pabrik.Ia memperhatikan Ralin dan alat bantu jalan yang digunakan. "Kamu yang membelikannya, Vid?""Iya, Pak." Jawab David tanpa keraguan.Jiwa lelaki sejatinya tidak perlu diragukan. "Karena Nyonya membutuhkan alat itu."Lewis tidak bertanya lagi kemudian menghampiri Levi. "Ayo kita sarapan, Lev?"Levi kemudian menggeleng. "Makan. Ibu."Ralin paham jika yang Levi maksud adalah ingin sarapan bersama Ralin. "Kamu bisa jalan ke meja makan, Lin?""Akan aku coba, Den Mas."Jangankan ke meja makan, menuju kamar mandi saja Ralin membutuhkan bantuan. Namun, bagaimana dia menolak permi

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Sesayang Dan Sepengertian Itu

    "Apa Nyonya butuh alat bantu jalan?"Kepala Ralin mengangguk. "Sebenarnya iya. Tadi dokter bilang begitu sekalian untuk terapi jalan.""Besok akan saya bawakan."Ralin tersenyum dan mengangguk karena David seakan-akan tahu apa yang dibutuhkan. Tanpa Ralin harus meminta-minta. "Makasih banyak, Vid. Maaf merepotkan.""Sama-sama, Nyonya. Saya undur diri dulu."Setidaknya, masih ada David yang membantu Ralin manakala Lewis masih diliputi rasa kecewa. Kemudian Bu Tatik datang dengan membawa minuman dan camilan. Setelah menandaskannya bersama Levi, Ralin meminum obatnya. "Den Ayu, apa perlu saya temani tidur?"Kepala Ralin mengangguk tegas ketika mendapatkan tawaran yang lagi-lagi sangat ia butuhkan tanpa harus meminta. "Kalau Bu Tatik nggak merasa repot.""Tugas saya sudah pasti untuk melayani keluarga Den Mas. Tidak ada kata repot untuk itu."Satu lagi, selain David, kini Bu Tatik juga menunjukkan dukungan selama Ralin belum sembuh sepenuhnya. Setidaknya Ralin bisa melewati ini semu

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Menggendong Ralin Ke Kamar

    Ralin tidak sedih meski Emran akan mendapatkan hukuman penjara yang tidak main-main akibat ulahnya. Dia berhak mendapatkan balasannya!Dia ingin mencelakai Levi, namun Ralin yang terkena getahnya.Kedua kaki Ralin hampir saja lumpuh jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Beruntungnya, Lewis bersedia memberikan pengobatan terbaik.Meski untuk saat ini Ralin masih harus terapi, namun itu jauh lebih baik dari pada ia lumpuh untuk selamanya.Begitu tiba di rumah, Lewis masih menerima panggilan telfon dari pengacaranya. Sudah pasti yang mereka bahas adalah tuntutan penjara seadil mungkin yang Lewis inginkan untuk membuat jera Emran.“Jika dimungkinkan bisa dituntut dengan pasal berlapis, lakukan!” Titah Lewis.Kemudian dia turun dari mobil dengan menggandeng tangan Levi. Sedang Ralin berusaha turun dari mobil perlahan-lahan tanpa bantuan.“Aku nggak bisa bayangin gimana jadinya, andai tabrakannya itu melukai Levi. Anak sekecil Levi terhantam mobil. Emran sudah gila!”“Mesk

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Aku Sanggup Menjaganya

    "Emran?" Tanya Lewis dengan alis berkerut. "Betul, Pak. Mobil yang dipakai menabrak mobil Den Levi adalah mobil Emran. Dan mobilnya ada di halaman rumahnya."Lewis kemudian teringat akan ucapan bernada tidak suka yang keluar dari bibir Ralin tempo hari ketika Emran datang berkunjung. Tapi Emran dengan tidak tahu dirinya mengirimkan buket bunga dengan pesan penuh cinta. "Tim menyimpulkan jika kemungkinan yang melakukan tabrakan itu adalah Emran. Dan sebelum membawanya ke kantor polisi, tim akan menginterogasi Emran lebih dulu."Kepala Lewis mengangguk dengan wajah tidak bersahabat. "Kalau sampai dia terbukti melakukannya, aku nggak akan ngasih dia nafas kebebasan. Meski itu cuma satu hirupan."Lalu bayangan Levi saat menangis usai kecelakaan itu membuat Lewis makin geram. Dan dia akan bersabar sampai tim mendapatkan informasi yang akurat. "Kita ke rumah sakit sekarang.""Baik, Pak.""Beri tahu Mas Tira."Kondisi Ralin terpantau membaik pasca operasi. Masa kritisnya telah terlewati.

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Aku Akan Selalu Ada

    "Halo, Lew.""Halo, Bun. Bunda lagi apa?""Baru selesai bikin kue. Tumben kamu telfon jam segini? Kerjaan udah rampung?"Bukan sudah rampung. Melainkan Lewis meninggalkannya begitu saja demi Ralin. "Bun, Ralin kecelakaan."Hari belum terlalu sore dan Lewis memberi kabar sangat buruk. Membuat sore hari itu terasa kelabu. "Apa?! Kecelakaan gimana, Lew?""Penyebabnya masih diselidiki sama tim yang aku bawa, Bun.""Ralin gimana keadaannya sekarang?""Nggak baik, Bun. Dia harus operasi.""Ya Tuhan, Lew.""Satu jam lagi kita akan berangkat ke Jakarta. Aku mau Ralin dirujuk ke rumah sakit dan dokter paling bagus.""Levi gimana, Lew?""Levi cuma terpental dan trauma, Bun. Bunda bisa kan kemari buat jagain Levi?""Iya. Di rumah sakit mana?"Setelah menunggu setengah jam lamanya, Ibunda dan Ayah Lewis tiba di rumah sakit dengan wajah cemas dan khawatir. Ayahnya pun masih mengenakan kemeja kerja. Levi pun langsung mengulurkan tangan untuk digendong Ayah Lewis. Sedang David selalu setia berada

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status