Share

Menikah Minggu Depan

Penulis: Juniarth
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-03 23:58:38
Hati Ralin tidak karuan bahagianya karena dia berjalan sambil bergandengan tangan dengan Lewis. Memakai gaun dan make up yang indah. Seperti seorang putri sesungguhnya dengan pangeran tampan rupawan. Dan Levi berada dalam gendongan Lewis.

Ralin seakan-akan memiliki keluarga bahagia yang selama ini diimpikan.

Senyum yang tercetak di bibirnya, bukan sebuah paksaan. Melainkan ungkapan atas euforia hatinya yang benar-benar bahagia.

Meski semua ini hanya di atas kertas, hanya sebuah drama penuh kebohongan, hanya ilusi nan sesaat, tapi cintanya untuk Lewis itu nyata. Kasih sayangnya untuk Levi itu tulus.

Hanya saja Lewis yang tidak menyadari hal itu.

Biarlah Ralin menikmati sandiwara ini sebelum semuanya berakhir. Biarlah dia merasakan indahnya bermimpi meski setelah ia terbangun semuanya sudah tidak lagi sama. Tidak seperti yang ia harapkan.

Setidaknya Ralin pernah memiliki keluarga bahagia yang begitu singkat.

"Selamat siang, Den Mas Lewis. Silahkan masuk."

Seorang pelayan membukakan
Juniarth

:-)

| 4
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Miyuk Kaslan
benar benar fresh kisahnya y
goodnovel comment avatar
Juniarth
udah nggak kak. Lewis aja udah duda
goodnovel comment avatar
Miyuk Kaslan
thor! numpang tanya,itu para kakek nenek buyutnya levi,di cerita ini masih hidup nggak ya???
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Akhirnya Bebas Juga

    "Kalau kalian udah kenal dari SMA, harusnya lebih mudah untuk saling mengenal setelah menikah.""Ayah, dulu kami cuma sebatas teman. Apa Ayah nggak bisa bilang Bunda untuk ngundur pernikahan kami?" Lewis meminta. Ralin yang duduk di sebelah Lewis hanya bisa menunduk dan terdiam. "Lewis, apa yang Bundamu bilang itu --- "Duk!Ternyata Levi turun dari sofa dengan melompat dan hampir saja menyenggol guci yang berdiri di sebelahnya."Levi! Duduk!" Perintah tegas Lewis.Tapi Levi tidak menghiraukan dan berlari ke ruang tengah. "Levi! Dengarkan Ayah!"Karena Lewis sedang berbicara dengan Ayahnya dan Levi tetap harus diawasi, akhirnya Ralin memilih mengikuti kemana Levi melangkah. "Lew, apa aku boleh undur diri untuk nemenin Levi?"Lewis mengangguk dan Ralin pun menarik diri dengan sopan dari hadapan Ayahnya Lewis. Setidaknya Ralin beruntung bisa terhindar dari berbagai macam pertanyaan Ayahnya Lewis yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Dia sangat takut bilamana salah menjaw

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-04
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Tata Hatimu

    "Lusa kita ke rumah orang tuamu. Aku tetap perlu restu dan minta mereka menyerahkan perwalianmu. Nanti urusan pernikahan di negara serahin ke aku. Biar David yang atur sahnya gimana.""Iya, Lew," ucap Ralin patuh."Dan ... maaf, aku udah terlanjur bilang kalau orang tuamu itu pebisnis ke Ayah. Jadi ... aku nggak bisa izinin mereka hadir di acara kita. Tapi nanti akan ada orang lain yang aku tunjuk untuk gantiin orang tuamu."Ralin kembali mengangguk paham bahwa ia nanti akan memiliki orang tua palsu saat pernikahan itu tiba. "Iya, Lew. Aku tahu."Pernikahan ini benar-benar terasa seperti sebuah permainan. Seperti ada yang kosong di dalam hati Ralin. Namun dia tidak bisa mundur atas pilihannya. Lewis telah mendeklarasikan Ralin sebagai calon istri pada kedua orang tuanya. Dan sudah memikirkan episode sandiwara mereka berikutnya. Sambil memangku Levi yang sudah tertidur lelap, Ralin menatap Lewis yang begitu serius memperhatikan keluar jendela mobil sambil berpikir. Otaknya pasti seda

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-05
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Sudah Diputuskan

    Kedua orang tua Ralin terkejut ketika melihat putri mereka pulang untuk pertama kalinya. Setelah empat tahun pergi dari rumah dan tidak bertegur sapa sama sekali. Bahkan bertanya kabar pun tidak. Ralin seperti hilang ditelan bumi alih-alih mengingat keluarganya. Ralin yang baru keluar dari mobil pun hanya bisa melihat kedua orang tuanya dengan tatapan penuh penyesalan bercampur rindu. Empat tahun berpisah dari kedua orang tuanya yang begitu tulus menyayanginya bukanlah perkara mudah. Rindu itu datang berkali-kali namun tak berani ia sanggupi. Kemudian Levi turun dari mobil diikuti Lewis. Duda satu anak itu menatap kedua orang tua Ralin yang tampak rapi seperti akan memenuhi satu acara. Selama beberapa saat hanya ada adegan saling tatap antara Ralin dan kedua orang tuanya hingga dia tidak kuasa menangis lalu berlari ke arah Ibunya. Dipeluknya sang Ibu dengan tangis penuh haru."Kamu pulang, Lin. Kamu pulang," ucap Ibunya dengan air mata berderai dan membalas pelukan Ralin.Sedang A

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-07
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Kalimat Sakral Penuh Ikatan

    "Dan demi kebaikan bersama, jadi Bapak putuskan kalau hari ini ... " Ayah Ralin menatap putrinya dan Lewis bergantian, "Kalian akan Bapak nikahkan."Kedua bola mata Ralin membola mendengar ucapan Ayahnya. Sedang Lewis hanya menunduk sambil mendengarkan baik-baik. "A ... apa? Me ... menikah sekarang?" Tanya Ralin terbata-bata. Kepala Ayahnya mengangguk tegas. "Iya malam ini juga."Ralin kemudian menatap Lewis dan pria itu hanya mengangguk sekilas. Berarti Lewis telah menyetujuinya. "Alasan lainnya, Lewis bilang kalau Levi itu haus kasih sayang seorang ibu dan mau akrabnya cuma sama kamu aja. Bapak nggak tega dan makin yakin untuk nikahin kalian malam ini juga. Anak sekecil itu butuh banyak kasih sayang."Ralin tidak tahu bagaimana Lewis meramu kalimat sehingga Ayahnya Ralin tidak tega melihat Levi tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Disamping itu, hati Ralin sangat bahagia karena pernikahannya kali ini direstui orang tuanya. Pernikahan dengan lelaki yang ia cintai meski itu hanya

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-08
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Satu Kamar

    "Lin?"Ralin yang sedang membantu membereskan ruang tamu kemudian menatap Lewis. "Apa, Lew?""Kita harus pulang. Besok aku harus ke pabrik."Kepala Ralin mengangguk paham lalu sedikit lagi membereskan ruang tamu. Sedang Levi masih asyik bermain dengan dua keponakan Ralin seperti tidak ada lelahnya. Ralin kemudian memberi kode pada Lewis untuk menemui kedua orang tuanya yang duduk di teras bersama David dan wali hakim yang dibawa dari kota. "Pak, Bu, aku sama Lewis mau pamit balik dulu.""Lho? Nggak nginep dulu, Lin?" Tanya Ayahnya. "Lewis ada kerjaan, Pak. Jadi kita mau balik sekarang."Lalu Ayahnya menatap Lewis. "Apa pekerjaanmu nggak bisa ditinggal sehari aja?""Maaf, Pak. Saya besok ada rapat.""Kamu baru jadi menantuku. Ralin juga baru pulang setelah empat tahun nggak pulang. Bapak sama Ibu masih kangen Ralin."Kemudian terdengar suara tawa Levi dan kedua keponakan Ralin dari ruang tamu. "Anakmu juga masih betah disini, Lew."Lewis terlihat berpikir. "Apa karena kami orang

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-09
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Si Kembar Luis Dan Lewis

    Ceklek!Ralin tetap fokus memilih pakaian ganti dengan kondisi hanya memakai pakaian dalam saja. "Astaga, Ralin!"Mendengar suara Lewis, sontak Ralin menoleh dan berbalik badan. Mereka sama-sama terkejut. Ralin panik setengah mati dan langsung berjongkok. Memunguti pakaian kotor untuk dipakai penutup. Sedang Lewis langsung menutup pintu kembali dengan wajah terkejut sempurna. Sebenarnya tidak ada yang salah. Karena mereka sudah menjadi suami istri. Namun karena pernikahan ini terjadi karena sebuah perjanjian, sikap mereka pun seolah-olah bukan suami istri pada umumnya. "Aduh! Harusnya aku kunci pintunya!" Rutuk Ralin pada dirinya sendiri. Dia segera berjalan ke arah pintu untuk menguncinya lalu memilih pakaian dan mengenakannya. Sedang Lewis beralih menuju teras. Mengenyahkan apa yang baru saja dilihat dengan menatap Levi yang tengah asyik bermain di sekitar pohon pisang dengan kedua keponakan Ralin. Sebenarnya dia tadi hendak ke kamar untuk memberitahu Ralin jika harus pulang pa

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-09
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Kapan Pindah Ke Kamar Lewis?

    Ralin tidak tahu Lewis pulang pukul berapa tadi malam. Yang pasti pria itu pasti pulang setelah Ralin tertidur.Dan esok paginya, ketika Ralin akan sarapan dengan Levi, di meja makan sudah ada Lewis yang sibuk dengan ponselnya. "Pagi, Lew." Sapa Ralin dengan menggandeng Levi.Sekaligus menyapa sang tuan rumah sebelum ikut bergabung sarapan. Meski Ralin sudah menjadi istri pria itu, namun etika dan kesopanan tetap harus dijaga. "Pagi," ucapnya dengan memandang Ralin sekilas.Kemudian ia kembali menekuri ponselnya dengan sangat serius. Merasa Lewis sangat sibuk, Ralin pun bingung apakah harus mengatakan pesan dari Ibundanya untuk melakukan fitting gaun pernikahan hari ini ataukah tidak. Akhirnya dia memilih mengambilkan Levi sarapan dan mengajari putra tirinya itu melahap sarapan. Kring ... Ponsel Lewis berdering dan langsung diangkat. "Ya, Bunda?"Oh, Ibundanya. Ralin berharap agar Ibundanya sendiri yang mengatakan perihal fitting gaun pernikahan itu. "Apa Ralin udah bilang kala

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-11
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Hari Pernikahan

    Hari pernikahan itu akan digelar besok. Tapi Ralin dan Lewis jarang terlibat dalam percakapan karena kesibukan Lewis. Selain mengurus pabrik, dia juga sedang mempersiapkan tokoh selanjutnya yang akan membantu memainkan sandiwara pernikahannya dengan Ralin. Dan malam ini Lewis datang ke rumah bersama dua koleganya dan David. Ia kemudian menemui Ralin yang sedang makan malam bersama Levi. "Lin, habis ini ke ruang kerjaku sebentar ya?"Kepala Ralin mengangguk dan kurang dari lima belas menit kemudian ia bersama Levi masuk ke dalam ruang kerja Lewis untuk pertama kalinya. Bukan seperti ruang kerja. Tetapi seperti perpustakaan mini dengan hometheater. Di dinding ada satu foto dirinya saat wisuda dengan diapit kedua orang tuanya. Dan di sofa sudah duduk kedua kolega Lewis. "Duduk, Lin." Lewis mempersilahkan.Kemudian ia duduk di samping Lewis namun dengan jarak tertentu. "Jadi ini yang namanya Ralin? Calon istri pura-puramu, Lew?" Tanya teman laki-laki Lewis."Iya.""Dari pada main-mai

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-11

Bab terbaru

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Siapa Wanita Itu?

    Saat lampu telah berubah hijau, mau tidak mau sopir menekan pedal gas. Meninggalkan pemandangan yang membuatku bertanya-tanya. 'Den Mas, kamu sama siapa?' Batin Ralin. Mata Ralin tidak lagi bisa menjangkau apa yang terjadi selanjutnya. Perasaan bahagia yang tadi baru bermunculan, kini mendadak dipenuhi kesedihan. Apalagi jika bukan karena ia merasa cemburu?!Mana mungkin seorang lelaki mengulurkan tangannya pada wanita dengan penampilan all out seperti tadi jika bukan karena ada perasaan tertentu?!Kepala Ralin lantas menggeleng dan kembali mengeyahkan perasaan yang jelas-jelas salah ini. Bahwa ia tidak boleh terus menerus membiarkan rasa cinta ini tumbuh lalu tidak bisa melepaskannya. Setibanya di rumah, Ralin melahap bubur kacang hijau itu bersama Levi. Kemudian menunggu Levi selesai mandi sendiri. Buah dari kejadian saat ia belum bisa berjalan. Ralin terus menyibukkan diri bersama Levi untuk mengenyahkan bayangan tadi siang. Pertanyaan tentang siapa wanita yang bersamanya tad

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Senyum-Senyum Sendiri

    "Apa Den Mas marah gara-gara kamu punya inisiatif beliin aku ponsel?"Kepala David menggeleng."Saya rasa tidak, Nyonya.""Dia nggak bilang apapun?""Tidak.""Dia masih ngajak kamu bicara kayak biasanya?""Iya. Ada apa, Nyonya?"Ralin menghela nafas sambil menatap beberapa orang yang lalu lalang di dalam rumah sakit ini. "Aku takut Den Mas punya pikiran kita lagi mengkhianati dia, Vid." Kemudian Ralin menatap David kembali, "Lagian, kenapa kamu jujur banget kalau punya ide beliin aku ponsel?""Saya lebih suka terbuka dan apa adanya pada Pak Lewis, Nyonya."Ralin berdecak kesal. "Kalau Den Mas mikir yang nggak-nggak, gimana?""Beliau pasti akan menegur bila saya melakukan kesalahan."Jika David saja bisa bersikap santai dan biasa saja, mengapa Ralin harus terlihat takut setengah mati?Kentara sekali jika Ralin sedang berusaha menjaga perasaan Lewis. Sedangkan dia tidak membutuhkan hal itu karena memang tidak mencintai Ralin. ****Siang ini Ralin akan menjalani terapi terakhir. Ia s

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Tidak Seperti Semalam

    Kepala Ralin reflek menggeleng. "Bukan gitu, Den Mas.""Kalau memang begitu, biar aku panggilin David."Ralin kembali menggeleng. "Aku cuma nggak mau kelihatan kayak perempuan nggak tahu diri aja, Den Mas. Kamu itu pewaris. Mana etis gendong perempuan kayak aku.""Stop! Intinya pagi ini, kamu mau sarapan sama aku apa nggak?"Tentu saja Ralin ingin. Hanya saja dia tidak sampai hati mengatakannya. Belum sempat Ralin menjawab, Lewis kemudian memindahkan alat bantu jalan itu dan langsung menggendongnya begitu saja. Ralin reflek langsung melingkarkan tangannya di belakang leher Lewis. Untuk beberapa detik, Ralin dan Lewis saling tatap. Dan itu membuat seluruh darah Ralin terasa sangat dingin. Dengan jarak sedekat ini, Ralin berharap detak jantungnya yang menggila, tidak terdengar oleh Lewis. "Levi, ayo makan di ruang makan." Lewis berucap pada putranya. Levi mengangguk lalu berjalan bersama Lewis menuju ruang makan dengan menggendong Ralin. Dan pemandangan itu terlihat oleh Bu Tati

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Mau Aku Gendong?

    Dengan berbaring miring sambil memeluk Levi, Lewis menatap Ralin dan melanjutkan ucapannya. "Waktu kamu bilang mau mundur dari pernikahan ini, mau menyudahi pernikahan ini, aku kayak ditampar kenyataan, Lin. Kalau kamu sesakit ini juga karena perbuatan Emran.""Meski kamu sakit pun, kamu masih merhatiin Levi. Masih ngurusin Levi sama keterbatasanmu.""Padahal dalam perjanjian pra nikah, nggak ada pasal yang ngatur ketika kamu sakit harus terus merawat dan menjaga Levi. Tapi apa yang kamu lakukan, melebihi perjanjian pra nikah yang aku buat."Lalu Lewis mengusap rambut Levi yang sudah terlelap dan mencium kening putra semata wayangnya itu. Itu semua tak lepas dari pandangan Ralin."Kamu ngasih dia cinta dan sayang jauh lebih besar ketimbang aku sebagai Ayahnya. Bahkan sekedar tidur pun, dia nggak mau kalau nggak sama kamu. Aku kalah telak dari kamu, Lin.""Dan ucapanmu tadi pagi bikin aku sadar diri, Lin. Kalau kamu juga menderita karena Emran dan Levi bakal jauh lebih kehilangan kala

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Jangan Akhiri Pernikahan Kita

    Ralin kemudian menunduk dan David segera berdiri lalu sedikit membungkuk hormat. "Selamat pagi, Pak."Lewis ternyata sudah berdiri di depan pintu entah sejak kapan. Apakah dia sempat melihat David mengajari Ralin berjalan menggunakan alat bantu jalan itu atau tidak?Kemudian Lewis masuk ke dalam kamar Ralin dengan penampilan tidak jauh berbeda dari David. Sudah sangat tampan dan rapi karena hendak menuju pabrik.Ia memperhatikan Ralin dan alat bantu jalan yang digunakan. "Kamu yang membelikannya, Vid?""Iya, Pak." Jawab David tanpa keraguan.Jiwa lelaki sejatinya tidak perlu diragukan. "Karena Nyonya membutuhkan alat itu."Lewis tidak bertanya lagi kemudian menghampiri Levi. "Ayo kita sarapan, Lev?"Levi kemudian menggeleng. "Makan. Ibu."Ralin paham jika yang Levi maksud adalah ingin sarapan bersama Ralin. "Kamu bisa jalan ke meja makan, Lin?""Akan aku coba, Den Mas."Jangankan ke meja makan, menuju kamar mandi saja Ralin membutuhkan bantuan. Namun, bagaimana dia menolak permi

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Sesayang Dan Sepengertian Itu

    "Apa Nyonya butuh alat bantu jalan?"Kepala Ralin mengangguk. "Sebenarnya iya. Tadi dokter bilang begitu sekalian untuk terapi jalan.""Besok akan saya bawakan."Ralin tersenyum dan mengangguk karena David seakan-akan tahu apa yang dibutuhkan. Tanpa Ralin harus meminta-minta. "Makasih banyak, Vid. Maaf merepotkan.""Sama-sama, Nyonya. Saya undur diri dulu."Setidaknya, masih ada David yang membantu Ralin manakala Lewis masih diliputi rasa kecewa. Kemudian Bu Tatik datang dengan membawa minuman dan camilan. Setelah menandaskannya bersama Levi, Ralin meminum obatnya. "Den Ayu, apa perlu saya temani tidur?"Kepala Ralin mengangguk tegas ketika mendapatkan tawaran yang lagi-lagi sangat ia butuhkan tanpa harus meminta. "Kalau Bu Tatik nggak merasa repot.""Tugas saya sudah pasti untuk melayani keluarga Den Mas. Tidak ada kata repot untuk itu."Satu lagi, selain David, kini Bu Tatik juga menunjukkan dukungan selama Ralin belum sembuh sepenuhnya. Setidaknya Ralin bisa melewati ini semu

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Menggendong Ralin Ke Kamar

    Ralin tidak sedih meski Emran akan mendapatkan hukuman penjara yang tidak main-main akibat ulahnya. Dia berhak mendapatkan balasannya!Dia ingin mencelakai Levi, namun Ralin yang terkena getahnya.Kedua kaki Ralin hampir saja lumpuh jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Beruntungnya, Lewis bersedia memberikan pengobatan terbaik.Meski untuk saat ini Ralin masih harus terapi, namun itu jauh lebih baik dari pada ia lumpuh untuk selamanya.Begitu tiba di rumah, Lewis masih menerima panggilan telfon dari pengacaranya. Sudah pasti yang mereka bahas adalah tuntutan penjara seadil mungkin yang Lewis inginkan untuk membuat jera Emran.“Jika dimungkinkan bisa dituntut dengan pasal berlapis, lakukan!” Titah Lewis.Kemudian dia turun dari mobil dengan menggandeng tangan Levi. Sedang Ralin berusaha turun dari mobil perlahan-lahan tanpa bantuan.“Aku nggak bisa bayangin gimana jadinya, andai tabrakannya itu melukai Levi. Anak sekecil Levi terhantam mobil. Emran sudah gila!”“Mesk

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Aku Sanggup Menjaganya

    "Emran?" Tanya Lewis dengan alis berkerut. "Betul, Pak. Mobil yang dipakai menabrak mobil Den Levi adalah mobil Emran. Dan mobilnya ada di halaman rumahnya."Lewis kemudian teringat akan ucapan bernada tidak suka yang keluar dari bibir Ralin tempo hari ketika Emran datang berkunjung. Tapi Emran dengan tidak tahu dirinya mengirimkan buket bunga dengan pesan penuh cinta. "Tim menyimpulkan jika kemungkinan yang melakukan tabrakan itu adalah Emran. Dan sebelum membawanya ke kantor polisi, tim akan menginterogasi Emran lebih dulu."Kepala Lewis mengangguk dengan wajah tidak bersahabat. "Kalau sampai dia terbukti melakukannya, aku nggak akan ngasih dia nafas kebebasan. Meski itu cuma satu hirupan."Lalu bayangan Levi saat menangis usai kecelakaan itu membuat Lewis makin geram. Dan dia akan bersabar sampai tim mendapatkan informasi yang akurat. "Kita ke rumah sakit sekarang.""Baik, Pak.""Beri tahu Mas Tira."Kondisi Ralin terpantau membaik pasca operasi. Masa kritisnya telah terlewati.

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Aku Akan Selalu Ada

    "Halo, Lew.""Halo, Bun. Bunda lagi apa?""Baru selesai bikin kue. Tumben kamu telfon jam segini? Kerjaan udah rampung?"Bukan sudah rampung. Melainkan Lewis meninggalkannya begitu saja demi Ralin. "Bun, Ralin kecelakaan."Hari belum terlalu sore dan Lewis memberi kabar sangat buruk. Membuat sore hari itu terasa kelabu. "Apa?! Kecelakaan gimana, Lew?""Penyebabnya masih diselidiki sama tim yang aku bawa, Bun.""Ralin gimana keadaannya sekarang?""Nggak baik, Bun. Dia harus operasi.""Ya Tuhan, Lew.""Satu jam lagi kita akan berangkat ke Jakarta. Aku mau Ralin dirujuk ke rumah sakit dan dokter paling bagus.""Levi gimana, Lew?""Levi cuma terpental dan trauma, Bun. Bunda bisa kan kemari buat jagain Levi?""Iya. Di rumah sakit mana?"Setelah menunggu setengah jam lamanya, Ibunda dan Ayah Lewis tiba di rumah sakit dengan wajah cemas dan khawatir. Ayahnya pun masih mengenakan kemeja kerja. Levi pun langsung mengulurkan tangan untuk digendong Ayah Lewis. Sedang David selalu setia berada

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status