:-0
Mengapa kaum pria selalu memiliki sifat pemaksa?!Ralin kesal setengah mati karena Lewis terus mendesaknya agar kembali mendidik dan merawat Levi. Padahal dia sudah mengibarkan bendera putih. "Sejak saya memecat kedua baby sitter Levi dua hari yang lalu, Levi bersama Bunda saya, Bu Ralin. Saya akui, kalau bukan orang seperti Bu Ralin, Levi tidak akan bisa diatasi.""Bunda saya hampir menyerah merawat dan mendidik Levi padahal hanya dua hari. Sedang saya sudah tidak percaya lagi dengan baby sitter manapun.""Dan saya sudah membulatkan tekad untuk meminta Bu Ralin kembali mendidik dan merawat Levi. Saya tidak akan bisa tenang bekerja kalau Levi bersama orang lain."Ralin memejamkan mata sejenak lalu menatap Lewis. "Saya benar-benar tidak bisa, Pak Lewis. Tolong hargai keputusan saya."Lewis menatap Ralin sungguh-sungguh dan menggeleng tegas. "Maaf, Bu Ralin. Saya tahu kalau anda takut dengan saya karena ulah saya sendiri. Maka dari itu, akan saya siapkan hitam di atas putih yang menje
Karena hari sudah petang dan tanda-tanda kedatangan Lewis belum juga nampak, akhirnya Ralin memilih menunggu sang pewaris itu.Firasatnya tidak enak bila meninggalkan Levi sedang Lewis belum tiba. Karena Levi sedang tidur, Ralin pun menuju dapur rumah megah ini untuk mengisi perut. Meski sempat tersesat hingga dua kali. Khawatir Levi terbangun dan tidak ada siapapun, akhirnya Bu Tatik menemani Ralin makan malam di dalam kamar Levi. Tidak berapa lama, Lewis akhirnya tiba di rumah. Ralin langsung berdiri dari duduk dengan kepala menunduk ketika Lewis membuka pintu kamar Levi. Pria itu masih mengenakan kemeja kerja dengan garis wajah yang nampak lelah. Dilihatnya Levi yang begitu nyenyak tertidur lalu menatap Ralin."Bisa kita bicara di luar, Bu Ralin?" Tanya Lewis dengan suara pelan agar tidak mengganggu Levi. Kepala Ralin mengangguk lalu mengikuti langkah kaki Lewis menuju ruang tengah yang berada di depan kamar Levi persis. Di sana sudah ada David sedang menata dokumen di atas me
Menjadi guru sekaligus terapis pribadi Levi ternyata begitu menggiurkan!Bagaimana tidak, kamar yang ditempati Ralin jauh lebih baik dari kamarnya bersama Emran. Belum lagi, segala fasilitas yang Ralin terima.Dia tidak perlu memusingkan pakaian kotor, makanan, bahkan mobil serta sopir pribadi. Semuanya siap sedia.Bahkan baru bekerja satu hari saja, Ralin sudah mendapat gaji penuh untuk satu bulan. Gaji yang menurutnya sangat menjanjikan untuk hidup seorang diri di kota ini.Pantas saja mantan kedua baby sitter Levi, mati-matian mempertahankan pekerjaan ini bahkan rela memfitnah Ralin. Mendapat segala kenyamanan seperti ini, bukannya Ralin merasa senang. Justru dia berpikir keras bagaimana bisa menjalankan tugasnya dengan baik. "Aku nggak boleh banyak ngelakuin salah." Gumam Ralin.Dia hanya takut jika Lewis kemudian kecewa dengan pengasuhannya terhadap Levi. Tapi baru dua hari bekerja, tiba-tiba saja Levi terlihat lemas, batuk ringan, dan demam. Ralin khawatir setengah mati."Bu T
Setibanya di rumah yang dulu ia tinggali bersama Emran, Ralin kemudian membuka pagar kecil setinggi perut. Mobil yang dulu dibeli dengan tabungan Ralin demi mobilitas mantan suaminya itu, kini terparkir di garasi. Dan halaman dan taman kecil yang dulu rajin Ralin rawat, kini mulai tidak terurus. Banyak rumput liar yang tumbuh dan beberapa pot dibiarkan miring. Juga sampah daun yang berserakan dan lantai teras yang berdebu. Sesibuk apakah Fayza hingga tidak bisa mengurus rumah dengan baik?Ting tong!Ralin menekan bel rumah dengan mental yang sudah siap. Bahwa ia masih dalam proses membunuh cintanya untuk Emran dan tidak memiliki niatan untuk kembali lagi. Begitu pintu rumah terbuka, Emran memandangnya dengan senyum remeh dengan penampilan sedikit acak-acakan. "Hai, Ralin. Oh, bukan! Hai, jalang."Ralin tidak menjawab dan hanya menatap Emran datar. Sedang tangannya sudah gatal sekali ingin memukul mantan suaminya itu dengan benda apapun. Emran sudah menikah dengan Fayza, selingkuh
Sepanjang perjalanan menuju rumah megah Lewis, di dalam mobil, Ralin hanya dima dengan wajah menunduk. Sudah tidak ada bulir air mata yang membasahi pipinya. Hanya saja gurat kesedihan terpancar jelas di wajahnya yang nampak pucat. Tas dan akta percerain berada di atas pangkuannya. Dengan kedua tangan menggenggam erat kain coklat yang menutup badannya. Lewis pun tidak berani bertanya lebih jauh karena begini saja dia sudah bisa menyimpulkan jika Ralin tidak baik-baik saja. Dia pun teringat akan bagaimana nasib putranya jika Ralin mengalami stres? Sedangkan Levi begitu dekat dengan Ralin.Terbersit satu ide untuk memanggil psikolog ke rumah untuk membantu Ralin melewati tekanan ini namun alangkah baiknya dia bertanya lebih dulu jika Ralin sudah tenang.Setibanya di rumah, Levi langsung menarik kain coklat yang Ralin genggam erat-erat. Namun Lewis dengan segera menggendong Levi namun tangan putranya itu terulur ke Ralin dengan suara merengek. "Levi, Bu Ralin lagi nggak enak badan. Bi
Sabtu ceria.Baru saja Ralin selesai memandikan Levi dan akan mengajaknya bermain sekaligus belajar di taman rumah yang luas, tiba-tiba saja Lewis mengetuk pintu kamar putranya itu. Setelah memasangkan celana Levi, Ralin berdiri dengan sopan menyambut kedatangan sang pemilik rumah. Biasanya, Lewis sudah berangkat bekerja pagi sekali. Tapi mengapa dia masih terlihat santai dengan pakaian kasual?"Levi, mau nggak jalan-jalan sama Ayah?" Tanya Lewis dengan mensejajarkan tubuh dengan putranya.Ia kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana lalu menunjukkan sesuatu dari layar ponsel. Sedang Ralin hanya memandang interaksi mereka. Raut wajah Levi perlahan-lahan berubah sumringah ketika menonton video pendek yang diputarkan Lewis. Kemudian ia mengambil ponsel Lewis dan memperhatikan video itu dengan seksama. "Mau kesana?" Tanya Lewis dengan mengusap rambut Levi lalu mencium pipi putranya. Levi masih memandangi dengan seksama. "Gimana? Mau apa nggak?"Bukannya menjawab, Levi kemudian b
Ucapan Lewis meninggalkan sebuah perasaan yang aneh di dalam hati Ralin. Perasaan yang membuatnya tidak bisa tidur hingga selarut ini. Dia sendiri tidak mengerti perasaan apakah ini. Ketika tangan kanannya menyentuh tepat di dada, rasanya benar-benar ada yang tidak beres. "Kenapa aku begini?"Kepalanya menggeleng dan menghela nafas panjang."Pasti ini cuma karena Pak Lewis terlalu baik saat aku butuh pertolongan. Ini nggak benar. Ini nggak boleh diterusin, Ralin. Nggak boleh." Gumamnya sendiri.Ralin kemudian kembali ke kamar dan menutup pintu balkon. Dipandanginya Levi yang tertidur begitu lelap. Wajah tuan muda kecil itu begitu mirip dengan Lewis. Lalu ia mencuri ciuman di pipi yang sama ketika Lewis tadi mencium Levi. Ralin kembali menegaskan pada diri dan hatinya apa yang menjadi tugasnya. Bukan berangan-angan tentang Lewis terlalu tinggi. Tuhan menciptakan laki-laki sebagai makhluk paling indah. Dan Lewis salah satunya. Kedekatan interaksi mereka karena Levi adalah pemicunya
"Lew, Bunda pernah muda. Pernah punya pasang surut hubungan sama Ayahmu." "Lalu?" "Zaylin udah lama pergi. Apa kamu nggak kesepian?" 'Siapa itu Zaylin? Apakah dia mantan istri Lewis?' Batin Ralin. Lewis menarik tangan dari genggaman Ibundanya lalu menghela nafas panjang. "Bunda, sekali lagi aku tegasin. Kalau aku nggak butuh wanita." "Untuk saat ini." Ibundanya masih saja mendebat Lewis yang belum mau membuka hatinya. "Dan selamanya." Tegas Lewis. "Astaga, Lewis. Jangan bilang gitu!" ucap Ibundanya dengan nada tidak suka. Ralin makin penasaran dan meneruskan sesi menguping itu. "Bunda, Levi itu anak spesial. Perilakunya nggak kayak anak pada umumnya. Pertanyaanku, kalau Ibu kandungnya aja pergi ninggalin dia, perempuan mana yang bisa tahan sama dia?" Mulut Ralin membola lalu ia segera menutupnya dengan telapak tangan kanan. Dia tidak menyangka jika karena kekurangan Levi, kemudian Ibunya lebih memilih pergi meninggalkan. Padahal kekurangan Levi masih bisa diperbaiki.
Saat lampu telah berubah hijau, mau tidak mau sopir menekan pedal gas. Meninggalkan pemandangan yang membuatku bertanya-tanya. 'Den Mas, kamu sama siapa?' Batin Ralin. Mata Ralin tidak lagi bisa menjangkau apa yang terjadi selanjutnya. Perasaan bahagia yang tadi baru bermunculan, kini mendadak dipenuhi kesedihan. Apalagi jika bukan karena ia merasa cemburu?!Mana mungkin seorang lelaki mengulurkan tangannya pada wanita dengan penampilan all out seperti tadi jika bukan karena ada perasaan tertentu?!Kepala Ralin lantas menggeleng dan kembali mengeyahkan perasaan yang jelas-jelas salah ini. Bahwa ia tidak boleh terus menerus membiarkan rasa cinta ini tumbuh lalu tidak bisa melepaskannya. Setibanya di rumah, Ralin melahap bubur kacang hijau itu bersama Levi. Kemudian menunggu Levi selesai mandi sendiri. Buah dari kejadian saat ia belum bisa berjalan. Ralin terus menyibukkan diri bersama Levi untuk mengenyahkan bayangan tadi siang. Pertanyaan tentang siapa wanita yang bersamanya tad
"Apa Den Mas marah gara-gara kamu punya inisiatif beliin aku ponsel?"Kepala David menggeleng."Saya rasa tidak, Nyonya.""Dia nggak bilang apapun?""Tidak.""Dia masih ngajak kamu bicara kayak biasanya?""Iya. Ada apa, Nyonya?"Ralin menghela nafas sambil menatap beberapa orang yang lalu lalang di dalam rumah sakit ini. "Aku takut Den Mas punya pikiran kita lagi mengkhianati dia, Vid." Kemudian Ralin menatap David kembali, "Lagian, kenapa kamu jujur banget kalau punya ide beliin aku ponsel?""Saya lebih suka terbuka dan apa adanya pada Pak Lewis, Nyonya."Ralin berdecak kesal. "Kalau Den Mas mikir yang nggak-nggak, gimana?""Beliau pasti akan menegur bila saya melakukan kesalahan."Jika David saja bisa bersikap santai dan biasa saja, mengapa Ralin harus terlihat takut setengah mati?Kentara sekali jika Ralin sedang berusaha menjaga perasaan Lewis. Sedangkan dia tidak membutuhkan hal itu karena memang tidak mencintai Ralin. ****Siang ini Ralin akan menjalani terapi terakhir. Ia s
Kepala Ralin reflek menggeleng. "Bukan gitu, Den Mas.""Kalau memang begitu, biar aku panggilin David."Ralin kembali menggeleng. "Aku cuma nggak mau kelihatan kayak perempuan nggak tahu diri aja, Den Mas. Kamu itu pewaris. Mana etis gendong perempuan kayak aku.""Stop! Intinya pagi ini, kamu mau sarapan sama aku apa nggak?"Tentu saja Ralin ingin. Hanya saja dia tidak sampai hati mengatakannya. Belum sempat Ralin menjawab, Lewis kemudian memindahkan alat bantu jalan itu dan langsung menggendongnya begitu saja. Ralin reflek langsung melingkarkan tangannya di belakang leher Lewis. Untuk beberapa detik, Ralin dan Lewis saling tatap. Dan itu membuat seluruh darah Ralin terasa sangat dingin. Dengan jarak sedekat ini, Ralin berharap detak jantungnya yang menggila, tidak terdengar oleh Lewis. "Levi, ayo makan di ruang makan." Lewis berucap pada putranya. Levi mengangguk lalu berjalan bersama Lewis menuju ruang makan dengan menggendong Ralin. Dan pemandangan itu terlihat oleh Bu Tati
Dengan berbaring miring sambil memeluk Levi, Lewis menatap Ralin dan melanjutkan ucapannya. "Waktu kamu bilang mau mundur dari pernikahan ini, mau menyudahi pernikahan ini, aku kayak ditampar kenyataan, Lin. Kalau kamu sesakit ini juga karena perbuatan Emran.""Meski kamu sakit pun, kamu masih merhatiin Levi. Masih ngurusin Levi sama keterbatasanmu.""Padahal dalam perjanjian pra nikah, nggak ada pasal yang ngatur ketika kamu sakit harus terus merawat dan menjaga Levi. Tapi apa yang kamu lakukan, melebihi perjanjian pra nikah yang aku buat."Lalu Lewis mengusap rambut Levi yang sudah terlelap dan mencium kening putra semata wayangnya itu. Itu semua tak lepas dari pandangan Ralin."Kamu ngasih dia cinta dan sayang jauh lebih besar ketimbang aku sebagai Ayahnya. Bahkan sekedar tidur pun, dia nggak mau kalau nggak sama kamu. Aku kalah telak dari kamu, Lin.""Dan ucapanmu tadi pagi bikin aku sadar diri, Lin. Kalau kamu juga menderita karena Emran dan Levi bakal jauh lebih kehilangan kala
Ralin kemudian menunduk dan David segera berdiri lalu sedikit membungkuk hormat. "Selamat pagi, Pak."Lewis ternyata sudah berdiri di depan pintu entah sejak kapan. Apakah dia sempat melihat David mengajari Ralin berjalan menggunakan alat bantu jalan itu atau tidak?Kemudian Lewis masuk ke dalam kamar Ralin dengan penampilan tidak jauh berbeda dari David. Sudah sangat tampan dan rapi karena hendak menuju pabrik.Ia memperhatikan Ralin dan alat bantu jalan yang digunakan. "Kamu yang membelikannya, Vid?""Iya, Pak." Jawab David tanpa keraguan.Jiwa lelaki sejatinya tidak perlu diragukan. "Karena Nyonya membutuhkan alat itu."Lewis tidak bertanya lagi kemudian menghampiri Levi. "Ayo kita sarapan, Lev?"Levi kemudian menggeleng. "Makan. Ibu."Ralin paham jika yang Levi maksud adalah ingin sarapan bersama Ralin. "Kamu bisa jalan ke meja makan, Lin?""Akan aku coba, Den Mas."Jangankan ke meja makan, menuju kamar mandi saja Ralin membutuhkan bantuan. Namun, bagaimana dia menolak permi
"Apa Nyonya butuh alat bantu jalan?"Kepala Ralin mengangguk. "Sebenarnya iya. Tadi dokter bilang begitu sekalian untuk terapi jalan.""Besok akan saya bawakan."Ralin tersenyum dan mengangguk karena David seakan-akan tahu apa yang dibutuhkan. Tanpa Ralin harus meminta-minta. "Makasih banyak, Vid. Maaf merepotkan.""Sama-sama, Nyonya. Saya undur diri dulu."Setidaknya, masih ada David yang membantu Ralin manakala Lewis masih diliputi rasa kecewa. Kemudian Bu Tatik datang dengan membawa minuman dan camilan. Setelah menandaskannya bersama Levi, Ralin meminum obatnya. "Den Ayu, apa perlu saya temani tidur?"Kepala Ralin mengangguk tegas ketika mendapatkan tawaran yang lagi-lagi sangat ia butuhkan tanpa harus meminta. "Kalau Bu Tatik nggak merasa repot.""Tugas saya sudah pasti untuk melayani keluarga Den Mas. Tidak ada kata repot untuk itu."Satu lagi, selain David, kini Bu Tatik juga menunjukkan dukungan selama Ralin belum sembuh sepenuhnya. Setidaknya Ralin bisa melewati ini semu
Ralin tidak sedih meski Emran akan mendapatkan hukuman penjara yang tidak main-main akibat ulahnya. Dia berhak mendapatkan balasannya!Dia ingin mencelakai Levi, namun Ralin yang terkena getahnya.Kedua kaki Ralin hampir saja lumpuh jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Beruntungnya, Lewis bersedia memberikan pengobatan terbaik.Meski untuk saat ini Ralin masih harus terapi, namun itu jauh lebih baik dari pada ia lumpuh untuk selamanya.Begitu tiba di rumah, Lewis masih menerima panggilan telfon dari pengacaranya. Sudah pasti yang mereka bahas adalah tuntutan penjara seadil mungkin yang Lewis inginkan untuk membuat jera Emran.“Jika dimungkinkan bisa dituntut dengan pasal berlapis, lakukan!” Titah Lewis.Kemudian dia turun dari mobil dengan menggandeng tangan Levi. Sedang Ralin berusaha turun dari mobil perlahan-lahan tanpa bantuan.“Aku nggak bisa bayangin gimana jadinya, andai tabrakannya itu melukai Levi. Anak sekecil Levi terhantam mobil. Emran sudah gila!”“Mesk
"Emran?" Tanya Lewis dengan alis berkerut. "Betul, Pak. Mobil yang dipakai menabrak mobil Den Levi adalah mobil Emran. Dan mobilnya ada di halaman rumahnya."Lewis kemudian teringat akan ucapan bernada tidak suka yang keluar dari bibir Ralin tempo hari ketika Emran datang berkunjung. Tapi Emran dengan tidak tahu dirinya mengirimkan buket bunga dengan pesan penuh cinta. "Tim menyimpulkan jika kemungkinan yang melakukan tabrakan itu adalah Emran. Dan sebelum membawanya ke kantor polisi, tim akan menginterogasi Emran lebih dulu."Kepala Lewis mengangguk dengan wajah tidak bersahabat. "Kalau sampai dia terbukti melakukannya, aku nggak akan ngasih dia nafas kebebasan. Meski itu cuma satu hirupan."Lalu bayangan Levi saat menangis usai kecelakaan itu membuat Lewis makin geram. Dan dia akan bersabar sampai tim mendapatkan informasi yang akurat. "Kita ke rumah sakit sekarang.""Baik, Pak.""Beri tahu Mas Tira."Kondisi Ralin terpantau membaik pasca operasi. Masa kritisnya telah terlewati.
"Halo, Lew.""Halo, Bun. Bunda lagi apa?""Baru selesai bikin kue. Tumben kamu telfon jam segini? Kerjaan udah rampung?"Bukan sudah rampung. Melainkan Lewis meninggalkannya begitu saja demi Ralin. "Bun, Ralin kecelakaan."Hari belum terlalu sore dan Lewis memberi kabar sangat buruk. Membuat sore hari itu terasa kelabu. "Apa?! Kecelakaan gimana, Lew?""Penyebabnya masih diselidiki sama tim yang aku bawa, Bun.""Ralin gimana keadaannya sekarang?""Nggak baik, Bun. Dia harus operasi.""Ya Tuhan, Lew.""Satu jam lagi kita akan berangkat ke Jakarta. Aku mau Ralin dirujuk ke rumah sakit dan dokter paling bagus.""Levi gimana, Lew?""Levi cuma terpental dan trauma, Bun. Bunda bisa kan kemari buat jagain Levi?""Iya. Di rumah sakit mana?"Setelah menunggu setengah jam lamanya, Ibunda dan Ayah Lewis tiba di rumah sakit dengan wajah cemas dan khawatir. Ayahnya pun masih mengenakan kemeja kerja. Levi pun langsung mengulurkan tangan untuk digendong Ayah Lewis. Sedang David selalu setia berada