Semua Bab Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir: Bab 31 - Bab 40

65 Bab

Menikahlah Denganku

"Dia .... "Ibunda Lewis tidak meneruskan ucapannya. "Astaga. Sudahlah, Bu Ralin. Itu masa lalu."Sebenarnya Ralin ingin sekali mendengar penjelasan dari Ibunda Lewis tentang pernikahan Lewis. Tapi, apalah daya jika sang nyonya besar memilih untuk urung bercerita. Akhirnya Ralin menemani Levi menghabiskan energinya dengan bermain di taman hingga sore hari dengan sejuta pikiran. Sedang Ibunda Lewis memilih menyiapkan makan malam kesukaan Lewis.Meski berkali-kali Ralin berusaha melupakan perasaannya pada Lewis, namun benih-benih cinta di hatinya tetap tumbuh. Termasuk keingintahuannya tentang masa lalu Lewis bersama mantan istri. Secantik apakah ia hingga Lewis begitu menggilainya?Ralin menggelengkan kepala kemudian memilih untuk mengajari Levi belajar mandi sendiri. Tugasnya adalah untuk mendidik Levi, bukan untuk mengagumi sang majikan. Tepat pukul tujuh malam, saat Levi makan malam, Lewis tiba di rumah. "Bunda udah lama?" Tanya Lewis lalu mencium pipi Ibundanya. Pria itu tetap
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-01
Baca selengkapnya

Senang Bekerja Sama Denganmu

"A ... apa, Pak?" Ralin hampir lupa bagaimana cara bernafas ketika Lewis menawarkan pernikahan yang tidak pernah berani ia bayangkan. "Menikahlah dengan saya."Sekujur tubuh Ralin terasa meremang mendengar ucapan Lewis. Pandangan Ralin hanya tertuju pada diri Lewis. "Me ... menikah?" Ralin menegaskan barangkali salah dengar. "Iya."Malam itu, ketika Ralin sedang berbicara dengan pemilik semesta, tentang perasaannya pada Lewis, apakah malaikat benar-benar mencatat harapannya menjadi doa?Dan secepat ini kah?"Maaf kalau ini mendadak sekali, Bu Ralin. Tapi ... saya nggak ada pilihan."Lewis menatap Levi yang sedang asyik menata toples berisi makanan ringan yang ada di meja ruang tamu layaknya gerbong kereta api. "Nggak mudah mengasuh apalagi mendidik anak berkebutuhan khusus kayak Levi. Dan sejauh ini, hanya Bu Ralin yang cocok dengan Levi.""Saya pribadi, lihat Levi bahagia itu sudah cukup. Lagi pula kesibukan saya di pabrik udah menyita waktu bahkan waktu ketemu Levi kadang nggak
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-02
Baca selengkapnya

Menikah Minggu Depan

Hati Ralin tidak karuan bahagianya karena dia berjalan sambil bergandengan tangan dengan Lewis. Memakai gaun dan make up yang indah. Seperti seorang putri sesungguhnya dengan pangeran tampan rupawan. Dan Levi berada dalam gendongan Lewis.Ralin seakan-akan memiliki keluarga bahagia yang selama ini diimpikan. Senyum yang tercetak di bibirnya, bukan sebuah paksaan. Melainkan ungkapan atas euforia hatinya yang benar-benar bahagia. Meski semua ini hanya di atas kertas, hanya sebuah drama penuh kebohongan, hanya ilusi nan sesaat, tapi cintanya untuk Lewis itu nyata. Kasih sayangnya untuk Levi itu tulus. Hanya saja Lewis yang tidak menyadari hal itu. Biarlah Ralin menikmati sandiwara ini sebelum semuanya berakhir. Biarlah dia merasakan indahnya bermimpi meski setelah ia terbangun semuanya sudah tidak lagi sama. Tidak seperti yang ia harapkan.Setidaknya Ralin pernah memiliki keluarga bahagia yang begitu singkat. "Selamat siang, Den Mas Lewis. Silahkan masuk."Seorang pelayan membukakan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-03
Baca selengkapnya

Akhirnya Bebas Juga

"Kalau kalian udah kenal dari SMA, harusnya lebih mudah untuk saling mengenal setelah menikah.""Ayah, dulu kami cuma sebatas teman. Apa Ayah nggak bisa bilang Bunda untuk ngundur pernikahan kami?" Lewis meminta. Ralin yang duduk di sebelah Lewis hanya bisa menunduk dan terdiam. "Lewis, apa yang Bundamu bilang itu --- "Duk!Ternyata Levi turun dari sofa dengan melompat dan hampir saja menyenggol guci yang berdiri di sebelahnya."Levi! Duduk!" Perintah tegas Lewis.Tapi Levi tidak menghiraukan dan berlari ke ruang tengah. "Levi! Dengarkan Ayah!"Karena Lewis sedang berbicara dengan Ayahnya dan Levi tetap harus diawasi, akhirnya Ralin memilih mengikuti kemana Levi melangkah. "Lew, apa aku boleh undur diri untuk nemenin Levi?"Lewis mengangguk dan Ralin pun menarik diri dengan sopan dari hadapan Ayahnya Lewis. Setidaknya Ralin beruntung bisa terhindar dari berbagai macam pertanyaan Ayahnya Lewis yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Dia sangat takut bilamana salah menjaw
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-04
Baca selengkapnya

Tata Hatimu

"Lusa kita ke rumah orang tuamu. Aku tetap perlu restu dan minta mereka menyerahkan perwalianmu. Nanti urusan pernikahan di negara serahin ke aku. Biar David yang atur sahnya gimana.""Iya, Lew," ucap Ralin patuh."Dan ... maaf, aku udah terlanjur bilang kalau orang tuamu itu pebisnis ke Ayah. Jadi ... aku nggak bisa izinin mereka hadir di acara kita. Tapi nanti akan ada orang lain yang aku tunjuk untuk gantiin orang tuamu."Ralin kembali mengangguk paham bahwa ia nanti akan memiliki orang tua palsu saat pernikahan itu tiba. "Iya, Lew. Aku tahu."Pernikahan ini benar-benar terasa seperti sebuah permainan. Seperti ada yang kosong di dalam hati Ralin. Namun dia tidak bisa mundur atas pilihannya. Lewis telah mendeklarasikan Ralin sebagai calon istri pada kedua orang tuanya. Dan sudah memikirkan episode sandiwara mereka berikutnya. Sambil memangku Levi yang sudah tertidur lelap, Ralin menatap Lewis yang begitu serius memperhatikan keluar jendela mobil sambil berpikir. Otaknya pasti seda
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-05
Baca selengkapnya

Sudah Diputuskan

Kedua orang tua Ralin terkejut ketika melihat putri mereka pulang untuk pertama kalinya. Setelah empat tahun pergi dari rumah dan tidak bertegur sapa sama sekali. Bahkan bertanya kabar pun tidak. Ralin seperti hilang ditelan bumi alih-alih mengingat keluarganya. Ralin yang baru keluar dari mobil pun hanya bisa melihat kedua orang tuanya dengan tatapan penuh penyesalan bercampur rindu. Empat tahun berpisah dari kedua orang tuanya yang begitu tulus menyayanginya bukanlah perkara mudah. Rindu itu datang berkali-kali namun tak berani ia sanggupi. Kemudian Levi turun dari mobil diikuti Lewis. Duda satu anak itu menatap kedua orang tua Ralin yang tampak rapi seperti akan memenuhi satu acara. Selama beberapa saat hanya ada adegan saling tatap antara Ralin dan kedua orang tuanya hingga dia tidak kuasa menangis lalu berlari ke arah Ibunya. Dipeluknya sang Ibu dengan tangis penuh haru."Kamu pulang, Lin. Kamu pulang," ucap Ibunya dengan air mata berderai dan membalas pelukan Ralin.Sedang A
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-07
Baca selengkapnya

Kalimat Sakral Penuh Ikatan

"Dan demi kebaikan bersama, jadi Bapak putuskan kalau hari ini ... " Ayah Ralin menatap putrinya dan Lewis bergantian, "Kalian akan Bapak nikahkan."Kedua bola mata Ralin membola mendengar ucapan Ayahnya. Sedang Lewis hanya menunduk sambil mendengarkan baik-baik. "A ... apa? Me ... menikah sekarang?" Tanya Ralin terbata-bata. Kepala Ayahnya mengangguk tegas. "Iya malam ini juga."Ralin kemudian menatap Lewis dan pria itu hanya mengangguk sekilas. Berarti Lewis telah menyetujuinya. "Alasan lainnya, Lewis bilang kalau Levi itu haus kasih sayang seorang ibu dan mau akrabnya cuma sama kamu aja. Bapak nggak tega dan makin yakin untuk nikahin kalian malam ini juga. Anak sekecil itu butuh banyak kasih sayang."Ralin tidak tahu bagaimana Lewis meramu kalimat sehingga Ayahnya Ralin tidak tega melihat Levi tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Disamping itu, hati Ralin sangat bahagia karena pernikahannya kali ini direstui orang tuanya. Pernikahan dengan lelaki yang ia cintai meski itu hanya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-08
Baca selengkapnya

Satu Kamar

"Lin?"Ralin yang sedang membantu membereskan ruang tamu kemudian menatap Lewis. "Apa, Lew?""Kita harus pulang. Besok aku harus ke pabrik."Kepala Ralin mengangguk paham lalu sedikit lagi membereskan ruang tamu. Sedang Levi masih asyik bermain dengan dua keponakan Ralin seperti tidak ada lelahnya. Ralin kemudian memberi kode pada Lewis untuk menemui kedua orang tuanya yang duduk di teras bersama David dan wali hakim yang dibawa dari kota. "Pak, Bu, aku sama Lewis mau pamit balik dulu.""Lho? Nggak nginep dulu, Lin?" Tanya Ayahnya. "Lewis ada kerjaan, Pak. Jadi kita mau balik sekarang."Lalu Ayahnya menatap Lewis. "Apa pekerjaanmu nggak bisa ditinggal sehari aja?""Maaf, Pak. Saya besok ada rapat.""Kamu baru jadi menantuku. Ralin juga baru pulang setelah empat tahun nggak pulang. Bapak sama Ibu masih kangen Ralin."Kemudian terdengar suara tawa Levi dan kedua keponakan Ralin dari ruang tamu. "Anakmu juga masih betah disini, Lew."Lewis terlihat berpikir. "Apa karena kami orang
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-09
Baca selengkapnya

Si Kembar Luis Dan Lewis

Ceklek!Ralin tetap fokus memilih pakaian ganti dengan kondisi hanya memakai pakaian dalam saja. "Astaga, Ralin!"Mendengar suara Lewis, sontak Ralin menoleh dan berbalik badan. Mereka sama-sama terkejut. Ralin panik setengah mati dan langsung berjongkok. Memunguti pakaian kotor untuk dipakai penutup. Sedang Lewis langsung menutup pintu kembali dengan wajah terkejut sempurna. Sebenarnya tidak ada yang salah. Karena mereka sudah menjadi suami istri. Namun karena pernikahan ini terjadi karena sebuah perjanjian, sikap mereka pun seolah-olah bukan suami istri pada umumnya. "Aduh! Harusnya aku kunci pintunya!" Rutuk Ralin pada dirinya sendiri. Dia segera berjalan ke arah pintu untuk menguncinya lalu memilih pakaian dan mengenakannya. Sedang Lewis beralih menuju teras. Mengenyahkan apa yang baru saja dilihat dengan menatap Levi yang tengah asyik bermain di sekitar pohon pisang dengan kedua keponakan Ralin. Sebenarnya dia tadi hendak ke kamar untuk memberitahu Ralin jika harus pulang pa
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-09
Baca selengkapnya

Kapan Pindah Ke Kamar Lewis?

Ralin tidak tahu Lewis pulang pukul berapa tadi malam. Yang pasti pria itu pasti pulang setelah Ralin tertidur.Dan esok paginya, ketika Ralin akan sarapan dengan Levi, di meja makan sudah ada Lewis yang sibuk dengan ponselnya. "Pagi, Lew." Sapa Ralin dengan menggandeng Levi.Sekaligus menyapa sang tuan rumah sebelum ikut bergabung sarapan. Meski Ralin sudah menjadi istri pria itu, namun etika dan kesopanan tetap harus dijaga. "Pagi," ucapnya dengan memandang Ralin sekilas.Kemudian ia kembali menekuri ponselnya dengan sangat serius. Merasa Lewis sangat sibuk, Ralin pun bingung apakah harus mengatakan pesan dari Ibundanya untuk melakukan fitting gaun pernikahan hari ini ataukah tidak. Akhirnya dia memilih mengambilkan Levi sarapan dan mengajari putra tirinya itu melahap sarapan. Kring ... Ponsel Lewis berdering dan langsung diangkat. "Ya, Bunda?"Oh, Ibundanya. Ralin berharap agar Ibundanya sendiri yang mengatakan perihal fitting gaun pernikahan itu. "Apa Ralin udah bilang kala
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-11
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status