Semua Bab Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir: Bab 51 - Bab 60

65 Bab

Kembali Ke Kamarku

Ralin gelagapan ketika Ibunda Lewis menemukannya tidur di kamar Levi. Ia sama sekali tidak menyangka beliau datang sepagi ini."Kamu ada masalah sama Lewis, Lin?"Kepala Ralin menggeleng cepat."Nggak kok, Bun. Kita ... eh ... "Ibunda Lewis menatap Levi yang masih terlelap lalu menarik tangan Ralin. Membawanya keluar dari kamar Levi."Kalau kalian sebenarnya nggak ada masalah, kenapa kok tidur terpisah?! Heh?!" Tanya Ibunda Lewis dengan nada sedikit geram.Tangan Ralin masih digenggam erat sambil mengimbangi langkah beliau."Bunda nggak tenang kalau belum tanya Lewis juga."'Aduh! Matilah aku!' Batin Ralin.Ia hanya bisa berdoa agar Lewis bisa mengatasi kekacauan yang diperbuat pagi ini. Astaga, Ralin tidak bisa menggambarkan bagaimana wajah geram Lewis."Bunda? Ada apa?" Itu suara Luzia yang baru keluar dari kamarnya.Ibunda Lewis menghentikan langkahnya lalu menoleh."Ralin semalam tidur di kamar Levi. Bunda nggak habis pikir, mereka baru menikah tapi kenapa udah pisah ranjang?!"Lu
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-22
Baca selengkapnya

Jangan Keluar Kamar

"Bisa bicara bentar, Lin?" Tanya Lewis. Dia menunggu Ralin dengan menyandarkan punggungnya di tembok luar kamar Levi. Ralin yang baru menidurkan Levi pun mengangguk lalu menutup pintu kamar. Sebenarnya, dia sedikit canggung berhadapan dengan Lewis pasca dengan nyenyaknya dia tidur dalam dekapan pria itu. Ralin takut Lewis menganggapnya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Atau yang lebih parah perasaannya pada Lewis terbongkar. Tidak! Tidak! Ralin tidak mau itu terjadi. Ralin berjalan dengan mengikuti langkah Lewis menuju ruang kerja. "Duduk, Lin." Lewis terlihat tenang dan santai pasca kejadian itu. Tapi tidak dengan Ralin yang takut ketahuan mencintai sang pewaris itu secara diam-diam. Kemudian Ralin duduk di salah satu single sofa empuk ruang kerja Lewis. Sedang sang tuan rumah duduk di seberangnya. "Bunda udah pulang," ucap Lewis mengawali pembicaraan. Ralin menatap Lewis sekilas lalu mengangguk. "Iya, Den Mas." "Jadi ... kamu bisa balik ke kamar
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-23
Baca selengkapnya

Kamu Mau Apa?!

"Gimana, Vid?" Tanya Lewis. Ketika David datang, dia sudah selesai dengan ponselnya. "Nyonya sudah di kamarnya dengan Den Mas Levi, Pak.""Oke. Kita ke kantor sekarang."Baru saja Lewis akan berbalik badan, David menginterupsi. "Pak?""Ya?""Nyonya Besar pasti bertanya-tanya jika Nyonya Ralin tidak ada di rumah besok lusa. Dan Bu Tatik tidak mungkin bisa berbohong di depan Nyonya Besar.""Kita pikirkan hal itu nanti. Sekarang, urusan pabrik lebih penting."Baru mendapat dua langkah, David kembali bersuara. "Pak, bagaimana kalau Den Mas Levi tidak betah di kamar hotel dan ingin keluar?""Ada Ralin yang akan menjaganya," ucap Lewis dengan terus berjalan. David mengikutinya dengan setia di belakang. "Maaf, Pak. Bagaimana kalau Nyonya tidak bisa mengatasinya?"Lewis menghentikan langkah ketika mereka berdua mencapai lobby hotel. "Ralin pasti punya cara. Kamu nggak usah bingung."Seakan urusan pabrik terlalu penting, Lewis kemudian meninggalkan Ralin dan Levi di hotel. Tanpa penjagaa
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-24
Baca selengkapnya

Mengeratkan Genggaman Tangan

"Bisa kita ketemu sebentar, Lin?" Tanya Emran dengan nada sedikit memohon. Ralin ingat sekali bagaimana Emran melukai hati dan raganya beberapa bulan silam. Bahkan cinta tulus yang pernah ia persembahkan untuk mantan suaminya itu, kini benar-benar telah ... sirna!"Sorry! Aku udah nggak mau ketemu kamu atau membahas apapun!" Tegasnya. Hening sejenak lalu Emran kembali berucap. "Tolong, Lin. Bentar aja." Mohonnya dengan nada teramat sangat. "Em, kita udah selesai. Segala sesuatu yang berhubungan sama kamu, udah aku lupain. Persis kayak apa yang kamu minta waktu menceraikan aku.""Aku --- ""Segala hal yang berkaitan sama kamu, nggak lebih cuma tentang kenangan buruk, pengkhianatan, dan trauma. Aku udah berdamai sama semua itu dan mau menata masa depan."Terdengar helaan panjang Emran lalu pria itu kembali berucap. "Maaf, Lin. Maafin semua kesalahanku. Maaf.""Aku udah maafin. Selamat malam.""Lin! Tunggu!"Ralin urung mematikan sambungan telfon. "Apa lagi?!""Aku benar-benar penge
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-25
Baca selengkapnya

Kamu Selalu Di Hatiku

Ini seperti menghadiri sidang tindak pidana kriminal!Bagaimana tidak, di ruang tengah sudah menunggu Ibunda dan Ayah Lewis layaknya hakim sidang. Beserta Luzia, adik perempuan Lewis, layaknya jaksa penuntut umum. Ralin memiliki firasat jika ini tidak akan baik-baik saja. Pasalnya ketika ia datang, mereka bertiga tidak menunjukkan senyum sama sekali. Kemudian Luzia menunjukkan sebuah kotak mainan besar bergambar susunan lego ke hadapan Levi. "Levi, Tante punya apa ini ya?" Tanya Luzia.Kemudian Levi merosot turun dari gendongan Lewis dan menghampiri Luzia. Dia memperhatikan kotak mainan itu dengan seksama. "Kamu mau main?" Levi mengangguk dengan menatap takjub kotak mainan itu. Lalu Luzia membawanya pergi dari ruang tengah. Ini seperti sudah direncanakan.Bahwa kedua orang tua Lewis ingin menginterogasi Ralin dan Lewis tanpa melibatkan Levi dan Luzia. Ralin yang menyadari hal itu makin menundukkan pandangan. Ia ingin bersembunyi di belakang tubuh Lewis namun tangannya tetap di
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-26
Baca selengkapnya

Jangan Sakiti Hati Den Mas Lagi

"Akhirnya aku bisa ketemu kamu, Lin."Ralin langsung menyentak tangan Emran namun mantan suaminya itu justru menggunakan satu tangannya lagi untuk menggenggam tangan Ralin. "Lepas, Em!""Please, Lin. Aku pengen bicara sama kamu."Kepala Ralin menggeleng tegas."Kita udah nggak ada urusan dan nggak ada yang perlu diomongin!""Aku mohon kasih satu kesempatan lagi buat memperbaiki segalanya, Lin. Aku mohon."Ralin tetap berusaha melepaskan tangan Emran tapi tidak bisa. "Nggak! Aku nggak mau balikan sama kamu!""Maafin salahku, Lin. Gara-gara aku, kamu dipecat dari sekolah ini lalu kamu sekarang jadi baby sitter. Maafin aku yang udah bikin hidupmu jadi berantakan kayak gini.""Lepas!"Ralin terus berusaha melepaskan tangannya tapi gagal. "Maafin aku yang udah ambil pekerjaanmu yang terhormat sebagai seorang guru. Malah sekarnag kamu jadi baby sitter.""Lepasin, Emran!!!"Emran saja yang tidak tahu jika Ralin saat ini bukanlah seorang baby sitter rendahan. Baby sitter hanyalah topeng ag
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-27
Baca selengkapnya

Satu Buket Bunga

Ralin bergegas memanggil Bu Tatik lalu menitipkan Levi padanya. "Titip levi bentar ya, Bu Tatik. Ada tamuku di depan gerbang. Bentar aja kok."Tanpa menunggu persetujuan, Ralin langsung berlari meninggalkan levi bersama Bu Tatik. Dia menuruni tangga teras rumah Lewis dengan begitu tergesa-gesa. Kemudian berlari sekencang mungkin menuju gerbang. Ralin tidak memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan masalah kedatangan Emran ke rumah ini. Lewis sedang mandi dan pria itu pasti tidak akan membuang banyak waktu untuk segera berangkat menyenangkan Levi. Dengan nafas naik turun, Ralin tiba di pos satpam. "Buka ... gerbangnya. Tolong."Begitu gerbang terbuka sebagian, sosok Emran terlihat berdiri di samping mobilnya. Sedang Ralin masih menetralkan deru nafasnya. Ralin tidak tahu apa yang Emran pikirkan tentang dirinya yang kini tinggal di rumah ini. Atau satpam sudah menjelaskan statusnya. "Mau apa kamu kemari?" Tanya Ralin. "Jadi kamu tinggal disini?""Kalau kedatanganmu nggak ada alas
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-28
Baca selengkapnya

Jangan Sentuh Ralin

Kedua mata Ralin melebar melihat kedua foto itu. Foto yang menunjukkan dirinya sedang dipeluk oleh Emran. Kejadian beberapa hari yang lalu saat Ralin menemuinya di gerbang rumah. "Dan ada sebuah kartu ucapan. Isinya ... " Lewis sedikit menyipitkan mata karena tidak memakai kacamata, "I still love you, Lin. Emran."Usai membacanya Lewis mengangsurkan kartu ucapan itu ke meja. Berdekatan dengan kedua foto tersebut. Jantung Ralin berdetak tidak karuan ketika Lewis telah mengerti segalanya. Ralin pun diam-diam mengutuk perbuatan Emran karena telah mengirimkan satu buket bunga sialan beserta foto itu ke rumah ini. Otaknya pun berpikir cepat, jika apa yang Emran lakukan beberapa hari yang lalu memang sengaja telah direncanakan!Karena, mana mungkin Emran bisa mengirimkan foto mereka saat berpelukan jika bukan menyuruh orang lain untuk memotretnya.Benar-benar licik!Ralin pun bisa menyimpulkan jika Emran sedang berusaha mengacaukan hubungannya dengan Lewis. "Kenapa kalian berpelukan di
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-29
Baca selengkapnya

Aku Akan Selalu Ada

"Halo, Lew.""Halo, Bun. Bunda lagi apa?""Baru selesai bikin kue. Tumben kamu telfon jam segini? Kerjaan udah rampung?"Bukan sudah rampung. Melainkan Lewis meninggalkannya begitu saja demi Ralin. "Bun, Ralin kecelakaan."Hari belum terlalu sore dan Lewis memberi kabar sangat buruk. Membuat sore hari itu terasa kelabu. "Apa?! Kecelakaan gimana, Lew?""Penyebabnya masih diselidiki sama tim yang aku bawa, Bun.""Ralin gimana keadaannya sekarang?""Nggak baik, Bun. Dia harus operasi.""Ya Tuhan, Lew.""Satu jam lagi kita akan berangkat ke Jakarta. Aku mau Ralin dirujuk ke rumah sakit dan dokter paling bagus.""Levi gimana, Lew?""Levi cuma terpental dan trauma, Bun. Bunda bisa kan kemari buat jagain Levi?""Iya. Di rumah sakit mana?"Setelah menunggu setengah jam lamanya, Ibunda dan Ayah Lewis tiba di rumah sakit dengan wajah cemas dan khawatir. Ayahnya pun masih mengenakan kemeja kerja. Levi pun langsung mengulurkan tangan untuk digendong Ayah Lewis. Sedang David selalu setia berada
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-30
Baca selengkapnya

Aku Sanggup Menjaganya

"Emran?" Tanya Lewis dengan alis berkerut. "Betul, Pak. Mobil yang dipakai menabrak mobil Den Levi adalah mobil Emran. Dan mobilnya ada di halaman rumahnya."Lewis kemudian teringat akan ucapan bernada tidak suka yang keluar dari bibir Ralin tempo hari ketika Emran datang berkunjung. Tapi Emran dengan tidak tahu dirinya mengirimkan buket bunga dengan pesan penuh cinta. "Tim menyimpulkan jika kemungkinan yang melakukan tabrakan itu adalah Emran. Dan sebelum membawanya ke kantor polisi, tim akan menginterogasi Emran lebih dulu."Kepala Lewis mengangguk dengan wajah tidak bersahabat. "Kalau sampai dia terbukti melakukannya, aku nggak akan ngasih dia nafas kebebasan. Meski itu cuma satu hirupan."Lalu bayangan Levi saat menangis usai kecelakaan itu membuat Lewis makin geram. Dan dia akan bersabar sampai tim mendapatkan informasi yang akurat. "Kita ke rumah sakit sekarang.""Baik, Pak.""Beri tahu Mas Tira."Kondisi Ralin terpantau membaik pasca operasi. Masa kritisnya telah terlewati.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-31
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status