Semua Bab Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir: Bab 41 - Bab 50

65 Bab

Hari Pernikahan

Hari pernikahan itu akan digelar besok. Tapi Ralin dan Lewis jarang terlibat dalam percakapan karena kesibukan Lewis. Selain mengurus pabrik, dia juga sedang mempersiapkan tokoh selanjutnya yang akan membantu memainkan sandiwara pernikahannya dengan Ralin. Dan malam ini Lewis datang ke rumah bersama dua koleganya dan David. Ia kemudian menemui Ralin yang sedang makan malam bersama Levi. "Lin, habis ini ke ruang kerjaku sebentar ya?"Kepala Ralin mengangguk dan kurang dari lima belas menit kemudian ia bersama Levi masuk ke dalam ruang kerja Lewis untuk pertama kalinya. Bukan seperti ruang kerja. Tetapi seperti perpustakaan mini dengan hometheater. Di dinding ada satu foto dirinya saat wisuda dengan diapit kedua orang tuanya. Dan di sofa sudah duduk kedua kolega Lewis. "Duduk, Lin." Lewis mempersilahkan.Kemudian ia duduk di samping Lewis namun dengan jarak tertentu. "Jadi ini yang namanya Ralin? Calon istri pura-puramu, Lew?" Tanya teman laki-laki Lewis."Iya.""Dari pada main-mai
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-11
Baca selengkapnya

Belum Bisa Move On

"Hai, Luis!""Waaah, sang presdir sesungguhnya telah tiba."Ralin yang tengah berdiri di samping Lewis sambil menerima ucapan selamat, kemudian menatap sosok lelaki yang berdiri di depan pintu rumah. Memakai baju batik berlengan panjang dipadu celana jeans hitam. Dengan rambut hitam tebalnya yang disisir begitu rapi. Ralin menatap Luis sekian detik tanpa berkedip karena paras kembaran Lewis itu hampir sama persis. Mereka bak pinang dibelah dua. Kemudian Luis menatap Lewis dan Ralin bergantian. "Acaranya udah selesai ya?""Baru aja selesai akad," ucap saudara yang lain. Kemudian Ibunda mereka berdua berjalan mendekati Luis lalu memeluknya penuh kasih sayang. Kemudian mencium pipi Luis dengan senyum bahagia. "Bunda pikir kamu nggak mau datang. Hampir aja Bunda sedih.""Aku bisa insomnia kalau bikin Bunda sedih."Kemudian Ibundanya memukul lengan Luis."Dasar gombal!""Kayak Ayah, Bun.""Kamu emang anaknya."Percakapan mereka sudah seperti teman karib saja. Tidak seperti anak dan or
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-12
Baca selengkapnya

Konsekuensi Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

"Selamat, Ralin. Kamu udah jadi Nyonya Lewis," ucap Ralin dengan menatap dirinya di pantulan cermin kamar. Masih lengkap dengan kebaya dan riasan pernikahan. "Apa kamu bahagia bisa menikah dengan lelaki yang kamu cintai sekaligus direstui orang tua?" Tanyanya kembali pada diri sendiri. Kemudian Ralin menggeleng dengan eskpresi sedih sambil menatap cincin pernikahan yang tersemat di jarinya. Cincin pernikahan itu entah kapan Lewis membelinya. Lalu tangannya beralih melepas aksesoris pernikahan dari rambutnya satu demi satu. Seharusnya, ini adalah bagian dimana Lewis yang melakukannya. Tapi itu tidak mungkin terjadi. "Jangan bermimpi terlalu tinggi, Lin. Kamu udah bisa jadi Nyonya Lewis itu udah luar biasa." Kemudian ia melepas tusuk sanggul satu demi satu hingga terlepas semuanya. Lalu pandangannya beralih menatap sebuah kotak kado warna merah dan membukanya. "Dari Luzia. Semoga suka dan cocok." Begitu membuka penutup kertas putih, Ralin tidak tahu harus bahagia atau tidak
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

Cium Pipi Istrimu

Ralin tersenyum namun isi hatinya gelagapan.“Tumben Bunda nginap disini?”“Ayah lagi ada acara perusahaan sama Luis sekitar semingguan. Luzia lagi sibuk-sibuknya launching bisnis skincare-nya. Bunda bosan di rumah sendirian. Makanya Bunda izin nginap disini.”‘Mati aku!’ Batin Ralin.“Sekalian nemenin Levi biar kamu ada waktu lebih buat nemenin Lewis. Biar Levi cepat punya adik juga.”Astaga!Tidak hanya Ibu Ralin saja yang berharap agar Ralin segera hamil. Melainkan mertuanya juga berharap demikian.Andai Lewis mencintai Ralin, sudah barang pasti ia sangat siap mengandung anak suami yang sangat ia cintai itu. Hanya saja, kembali lagi ke awal, bahwa ini hanya pernikahan penuh sandiwara.“Oh ya, tadi Bunda iseng beliin Levi sepeda."Kemudian Ibunda Lewis menatap Levi."Ayo, Lev, ikut Bunda ke depan. Ada sepeda baru.”Belum sempat Ralin memberitahu Lewis perihal kedatangan Ibundanya, beliau sudah mengajak Ralin dan Levi ke teras.Alhasil Levi begitu senang ketika melihat sepeda baru ber
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-14
Baca selengkapnya

Mana Cincin Nikahmu?

Ralin melirik ke arah Lewis yang hanya diam dengan pandangan tertunduk. Padahal ia membutuhkan bantuan untuk menangkis kecurigaan Ibundanya agar tidak semakin melebar. Tapi Lewis justru mendadak seperti tidak bisa mengatasi keadaan. Ada apa dengan pria ini?!"Ralin? Lewis? Kenapa kalian kompak diam? Apa Ralin beneran tidur di kamar tamu?" Tanya Ibunda Lewis menuntut. Mulut mereka berdua terasa kelu untuk menjawab. Lalu Ibunda Lewis melangkah ke dalam kamar dan memperhatikan dengan seksama barang-barang Ralin. Lalu tangannya bergerak mengambil satu pakaian Ralin yang tergantung di dalam lemari. Lebih tepatnya gaun pernikahan yang Ralin kenakan beberapa waktu yang lalu saat mereka menikah. Bukti nyata yang tidak bisa mereka berdua elak. "Ini gaun nikah Ralin. Dan itu artinya ... Ralin tidur di sini. Benar kan?!"Ingin sekali Ralin segera membantah pernyataan Ibunda Lewis. Namun, ia tidak berani melangkah sebelum mendapat persetujuan dari Lewis, sang sutradara sandiwara pernikahan in
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya

Handuk Melingkar Di Pinggang

"Kok kamu nggak nelfon aku kalau Bunda kesini?! Seenggaknya kamu bisa kirim pesan ke nomerku. Biar aku nggak kelabakan kayak tadi! Apalgi Bunda ngasih pertanyaan bertubi-tubi yang bikin panas dingin!" Lewis berucap dengan nada kesal. "Maaf, Den Mas. Sebenarnya aku tadi mau nelfon, tapi Levi nggak bisa ditinggal.""Nggak bisa ditinggal gimana?! Levi tuh apa-apa nurut sama kamu."Lewis terus mengonfrontir Ralin. "Iya, tapi tadi Levi terlalu asyik sama sepedanya. Dia nggak mau berhenti.""Kamu bisa alasan sama Bunda sebentar aja kan?! Bilang kalau kamu mau ke toilet. Lalu cepat-cepat hubungi aku! Masak gitu aja kamu nggak bisa nyari alasan?!"Kentara sekali jika kekesalan Lewis tidak main-main pada Ralin. Itu semua karena Lewis benar-benar mati kutu karena Ibundanya terus bertanya tentang kejanggalan rumah tangga mereka."Aku baru datang kerja, lelah, lalu dibombardir Bunda sama pertanyaan yang bikin aku makin bingung gimana jawabnya."Ralin menunduk sambil mendengarkan dengan seksama
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Efek Ciuman

Reflek Ralin segera berpaling dan Lewis kembali menutup pintu kamar mandi sebagian.Hari masih pagi tapi Ralin sudah melihat Lewis bertelanjang dada. Entah pipinya sekarang semerah apa. Setelah keterdiaman keduanya beberapa menit, akhirnya Lewis membuka suara."Aku ... mau ambil kemeja kerja, Lin."Kepala Ralin mengangguk dengan tetap membelakangi Lewis. "Silahkan, Den Mas."Kemudian terdengar langkah kaki cepat Lewis beradu dengan lantai dan suara kunci lemari dibuka. Lewis pasti akan berganti pakaian. Lalu Ralin menggunakan kesempatan itu untuk ... "Den Mas, aku ... pinjam kamar mandinya ya?""Iya."Dengan berjalan menyamping, Ralin menuju kamar mandi lalu menutup pintunya dengan cepat. Ralin menekan dadanya sendiri dengan menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi.Bukan main! Detak jantungnya seperti atlet sehabis mengikuti kejuaraan lomba lari. "Ya Tuhan ... " Desahnya lirih.Sambil teringat akan dada bidang Lewis yang begitu indah, kuat, dan gagah. Lalu Ralin tersenyum seor
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Cinta Ini Tanpa Syarat

Ralin tersenyum canggung ketika Ibunda Lewis bertanya perihal semalam. Mungkin yang beliau maksud adalah apakah dirinya dan Lewis melakukan hubungan layaknya suami istri. Tentu saja jawabannya adalah ... "Den Mas ... baik, Bunda."Jawaban yang bermakna ambigu dan sangat netral. Ralin tidak ingin membuat jawaban yang menimbulkan pertanyaan selanjutnya. Ibunda Lewis tersenyum sambil mengusap lengan Ralin. "Pelan-pelan, Lin. Semua pasti butuh proses. Bunda yakin kamu segera bebas dari trauma pernikahan itu dan rumah tangga kalian pasti akan baik-baik aja."Amin!Ralin mengucapkan kata itu berkali-kali di dalam hati. Tapi, entah apakah itu akan menjadi kenyataan atau hanya ilusi semata. Karena, mana mungkin seorang Den Mas Lewis Hartadi sudi mencintai wanita sederhana seperti Ralin?Mana mungkin bumi bisa memeluk bulan?******Cinta dan sayang Ralin untuk Levi itu tak terbatas meski hubungan mereka hanya sebetas anak dan ibu tiri. Ralin lah yang tidak mau melewatkan perannya sebagai s
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

Curahan Harta Tanpa Cinta

"Den Ayu ada di kamarnya Den Levi bersama Nyonya Besar."Lewis langsung melangkah lebar menuju kamar Levi dan membuka pintunya pelan. Nampak mereka bertiga sedang asyik mengerjakan sesuatu bersama Levi.Kemudian Lewis membuka pintu lebar-lebar dan memasang senyum seolah-olah tidak terjadi masalah. Lalu ketiganya menoleh. "Baru pulang, Lew?" Tanya Ibundanya."Iya, Bun."Lewis kemudian mencium tangan Ibundanya kemudian mencium pipi. "Aku bawa Ralin ke kamar bentar ya, Bun? Bunda nggak apa-apa kan berdua sama Levi?"Ibundanya tersenyum sembari mengangguk."Bawa aja sana."Mendengar perkataan Lewis yang ambigu, Ralin merasa malu sendiri. Dia merasa sangat tersanjung dan ... penasaran. Ada hal apa sehingga Lewis mengajaknya ke kamar?Kemudian Lewis mencium rambut putranya dan mengambil tangan Ralin. Sungguh ini terasa sangat romantis sekali dan menimbulkan letupan kebahagiaan yang tak terkira di dalam hati Ralin.Andai! Andai ini terjadi tanpa ada sandiwara di dalamnya. Dengan menahan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

Hanya Berbekal Selimut Tipis

Ralin mengusap air matanya setelah keluar dari kamar Lewis. Sembari menetralkan emosi yang mendadak sangat bergejolak.Niat dan usaha terbaiknya selama menjaga serta merawat Levi tak memiliki nilai di mata Lewis. Hanya karena ia membela Levi terlalu heroik. Bukan! Bukan terlalu heroik. Melainkan terlalu geram. "Lho, Lin. Kok balik ke kamar Levi lagi?" Tanya Ibunda Lewis.Ralin kembali ke kamar Levi sesuai perintah sang tuan rumah. Lalu ia menggeleng sembari tersenyum. "Masih jam tujuh, Bun. Mana bisa tidur jam segini?""Ya nggak apa-apa. Siapa tahu Lewis pengen tidur cepat?" ucap Ibunda dengan menahan senyum. Ralin paham sekali apa maksud beliau yang sebenarnya. Tapi pada kenyataannya, ia kembali ke kamar Levi atas perintah putranya, bukan karena keinginan Ralin sendiri. Dan Ralin tunjukkan senyum bahagia palsu dihadapan beliau agar sandiwara pernikahan mereka tak terbongkar. Meski hatinya dilukai Lewis, tapi Ralin masih menjaga reputasi dan harga diri pria itu. Kurang apakah Ral
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-21
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status