Share

Efek Ciuman

Author: Juniarth
last update Last Updated: 2025-03-17 22:13:40
Reflek Ralin segera berpaling dan Lewis kembali menutup pintu kamar mandi sebagian.

Hari masih pagi tapi Ralin sudah melihat Lewis bertelanjang dada. Entah pipinya sekarang semerah apa. Setelah keterdiaman keduanya beberapa menit, akhirnya Lewis membuka suara.

"Aku ... mau ambil kemeja kerja, Lin."

Kepala Ralin mengangguk dengan tetap membelakangi Lewis.

"Silahkan, Den Mas."

Kemudian terdengar langkah kaki cepat Lewis beradu dengan lantai dan suara kunci lemari dibuka. Lewis pasti akan berganti pakaian. Lalu Ralin menggunakan kesempatan itu untuk ...

"Den Mas, aku ... pinjam kamar mandinya ya?"

"Iya."

Dengan berjalan menyamping, Ralin menuju kamar mandi lalu menutup pintunya dengan cepat. Ralin menekan dadanya sendiri dengan menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi.

Bukan main! Detak jantungnya seperti atlet sehabis mengikuti kejuaraan lomba lari.

"Ya Tuhan ... " Desahnya lirih.

Sambil teringat akan dada bidang Lewis yang begitu indah, kuat, dan gagah. Lalu Ralin tersenyum seor
Juniarth

:-) doble up terbayar. Selamat malam semuanya...

| 5
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
ARF
Kok belom update lg thor
goodnovel comment avatar
Rahma Wati
thanks totr..double tiap hari y tor
goodnovel comment avatar
Geget Ilang Geget Ilang
efek tidur sore krn hujan lebat,baru baca
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Cinta Ini Tanpa Syarat

    Ralin tersenyum canggung ketika Ibunda Lewis bertanya perihal semalam. Mungkin yang beliau maksud adalah apakah dirinya dan Lewis melakukan hubungan layaknya suami istri. Tentu saja jawabannya adalah ... "Den Mas ... baik, Bunda."Jawaban yang bermakna ambigu dan sangat netral. Ralin tidak ingin membuat jawaban yang menimbulkan pertanyaan selanjutnya. Ibunda Lewis tersenyum sambil mengusap lengan Ralin. "Pelan-pelan, Lin. Semua pasti butuh proses. Bunda yakin kamu segera bebas dari trauma pernikahan itu dan rumah tangga kalian pasti akan baik-baik aja."Amin!Ralin mengucapkan kata itu berkali-kali di dalam hati. Tapi, entah apakah itu akan menjadi kenyataan atau hanya ilusi semata. Karena, mana mungkin seorang Den Mas Lewis Hartadi sudi mencintai wanita sederhana seperti Ralin?Mana mungkin bumi bisa memeluk bulan?******Cinta dan sayang Ralin untuk Levi itu tak terbatas meski hubungan mereka hanya sebetas anak dan ibu tiri. Ralin lah yang tidak mau melewatkan perannya sebagai s

    Last Updated : 2025-03-19
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Curahan Harta Tanpa Cinta

    "Den Ayu ada di kamarnya Den Levi bersama Nyonya Besar."Lewis langsung melangkah lebar menuju kamar Levi dan membuka pintunya pelan. Nampak mereka bertiga sedang asyik mengerjakan sesuatu bersama Levi.Kemudian Lewis membuka pintu lebar-lebar dan memasang senyum seolah-olah tidak terjadi masalah. Lalu ketiganya menoleh. "Baru pulang, Lew?" Tanya Ibundanya."Iya, Bun."Lewis kemudian mencium tangan Ibundanya kemudian mencium pipi. "Aku bawa Ralin ke kamar bentar ya, Bun? Bunda nggak apa-apa kan berdua sama Levi?"Ibundanya tersenyum sembari mengangguk."Bawa aja sana."Mendengar perkataan Lewis yang ambigu, Ralin merasa malu sendiri. Dia merasa sangat tersanjung dan ... penasaran. Ada hal apa sehingga Lewis mengajaknya ke kamar?Kemudian Lewis mencium rambut putranya dan mengambil tangan Ralin. Sungguh ini terasa sangat romantis sekali dan menimbulkan letupan kebahagiaan yang tak terkira di dalam hati Ralin.Andai! Andai ini terjadi tanpa ada sandiwara di dalamnya. Dengan menahan

    Last Updated : 2025-03-19
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Hanya Berbekal Selimut Tipis

    Ralin mengusap air matanya setelah keluar dari kamar Lewis. Sembari menetralkan emosi yang mendadak sangat bergejolak.Niat dan usaha terbaiknya selama menjaga serta merawat Levi tak memiliki nilai di mata Lewis. Hanya karena ia membela Levi terlalu heroik. Bukan! Bukan terlalu heroik. Melainkan terlalu geram. "Lho, Lin. Kok balik ke kamar Levi lagi?" Tanya Ibunda Lewis.Ralin kembali ke kamar Levi sesuai perintah sang tuan rumah. Lalu ia menggeleng sembari tersenyum. "Masih jam tujuh, Bun. Mana bisa tidur jam segini?""Ya nggak apa-apa. Siapa tahu Lewis pengen tidur cepat?" ucap Ibunda dengan menahan senyum. Ralin paham sekali apa maksud beliau yang sebenarnya. Tapi pada kenyataannya, ia kembali ke kamar Levi atas perintah putranya, bukan karena keinginan Ralin sendiri. Dan Ralin tunjukkan senyum bahagia palsu dihadapan beliau agar sandiwara pernikahan mereka tak terbongkar. Meski hatinya dilukai Lewis, tapi Ralin masih menjaga reputasi dan harga diri pria itu. Kurang apakah Ral

    Last Updated : 2025-03-21
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Kembali Ke Kamarku

    Ralin gelagapan ketika Ibunda Lewis menemukannya tidur di kamar Levi. Ia sama sekali tidak menyangka beliau datang sepagi ini."Kamu ada masalah sama Lewis, Lin?"Kepala Ralin menggeleng cepat."Nggak kok, Bun. Kita ... eh ... "Ibunda Lewis menatap Levi yang masih terlelap lalu menarik tangan Ralin. Membawanya keluar dari kamar Levi."Kalau kalian sebenarnya nggak ada masalah, kenapa kok tidur terpisah?! Heh?!" Tanya Ibunda Lewis dengan nada sedikit geram.Tangan Ralin masih digenggam erat sambil mengimbangi langkah beliau."Bunda nggak tenang kalau belum tanya Lewis juga."'Aduh! Matilah aku!' Batin Ralin.Ia hanya bisa berdoa agar Lewis bisa mengatasi kekacauan yang diperbuat pagi ini. Astaga, Ralin tidak bisa menggambarkan bagaimana wajah geram Lewis."Bunda? Ada apa?" Itu suara Luzia yang baru keluar dari kamarnya.Ibunda Lewis menghentikan langkahnya lalu menoleh."Ralin semalam tidur di kamar Levi. Bunda nggak habis pikir, mereka baru menikah tapi kenapa udah pisah ranjang?!"Lu

    Last Updated : 2025-03-22
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Jangan Keluar Kamar

    "Bisa bicara bentar, Lin?" Tanya Lewis. Dia menunggu Ralin dengan menyandarkan punggungnya di tembok luar kamar Levi. Ralin yang baru menidurkan Levi pun mengangguk lalu menutup pintu kamar. Sebenarnya, dia sedikit canggung berhadapan dengan Lewis pasca dengan nyenyaknya dia tidur dalam dekapan pria itu. Ralin takut Lewis menganggapnya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Atau yang lebih parah perasaannya pada Lewis terbongkar. Tidak! Tidak! Ralin tidak mau itu terjadi. Ralin berjalan dengan mengikuti langkah Lewis menuju ruang kerja. "Duduk, Lin." Lewis terlihat tenang dan santai pasca kejadian itu. Tapi tidak dengan Ralin yang takut ketahuan mencintai sang pewaris itu secara diam-diam. Kemudian Ralin duduk di salah satu single sofa empuk ruang kerja Lewis. Sedang sang tuan rumah duduk di seberangnya. "Bunda udah pulang," ucap Lewis mengawali pembicaraan. Ralin menatap Lewis sekilas lalu mengangguk. "Iya, Den Mas." "Jadi ... kamu bisa balik ke kamar

    Last Updated : 2025-03-23
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Kamu Mau Apa?!

    "Gimana, Vid?" Tanya Lewis. Ketika David datang, dia sudah selesai dengan ponselnya. "Nyonya sudah di kamarnya dengan Den Mas Levi, Pak.""Oke. Kita ke kantor sekarang."Baru saja Lewis akan berbalik badan, David menginterupsi. "Pak?""Ya?""Nyonya Besar pasti bertanya-tanya jika Nyonya Ralin tidak ada di rumah besok lusa. Dan Bu Tatik tidak mungkin bisa berbohong di depan Nyonya Besar.""Kita pikirkan hal itu nanti. Sekarang, urusan pabrik lebih penting."Baru mendapat dua langkah, David kembali bersuara. "Pak, bagaimana kalau Den Mas Levi tidak betah di kamar hotel dan ingin keluar?""Ada Ralin yang akan menjaganya," ucap Lewis dengan terus berjalan. David mengikutinya dengan setia di belakang. "Maaf, Pak. Bagaimana kalau Nyonya tidak bisa mengatasinya?"Lewis menghentikan langkah ketika mereka berdua mencapai lobby hotel. "Ralin pasti punya cara. Kamu nggak usah bingung."Seakan urusan pabrik terlalu penting, Lewis kemudian meninggalkan Ralin dan Levi di hotel. Tanpa penjagaa

    Last Updated : 2025-03-24
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Mengeratkan Genggaman Tangan

    "Bisa kita ketemu sebentar, Lin?" Tanya Emran dengan nada sedikit memohon. Ralin ingat sekali bagaimana Emran melukai hati dan raganya beberapa bulan silam. Bahkan cinta tulus yang pernah ia persembahkan untuk mantan suaminya itu, kini benar-benar telah ... sirna!"Sorry! Aku udah nggak mau ketemu kamu atau membahas apapun!" Tegasnya. Hening sejenak lalu Emran kembali berucap. "Tolong, Lin. Bentar aja." Mohonnya dengan nada teramat sangat. "Em, kita udah selesai. Segala sesuatu yang berhubungan sama kamu, udah aku lupain. Persis kayak apa yang kamu minta waktu menceraikan aku.""Aku --- ""Segala hal yang berkaitan sama kamu, nggak lebih cuma tentang kenangan buruk, pengkhianatan, dan trauma. Aku udah berdamai sama semua itu dan mau menata masa depan."Terdengar helaan panjang Emran lalu pria itu kembali berucap. "Maaf, Lin. Maafin semua kesalahanku. Maaf.""Aku udah maafin. Selamat malam.""Lin! Tunggu!"Ralin urung mematikan sambungan telfon. "Apa lagi?!""Aku benar-benar penge

    Last Updated : 2025-03-25
  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Kamu Selalu Di Hatiku

    Ini seperti menghadiri sidang tindak pidana kriminal!Bagaimana tidak, di ruang tengah sudah menunggu Ibunda dan Ayah Lewis layaknya hakim sidang. Beserta Luzia, adik perempuan Lewis, layaknya jaksa penuntut umum. Ralin memiliki firasat jika ini tidak akan baik-baik saja. Pasalnya ketika ia datang, mereka bertiga tidak menunjukkan senyum sama sekali. Kemudian Luzia menunjukkan sebuah kotak mainan besar bergambar susunan lego ke hadapan Levi. "Levi, Tante punya apa ini ya?" Tanya Luzia.Kemudian Levi merosot turun dari gendongan Lewis dan menghampiri Luzia. Dia memperhatikan kotak mainan itu dengan seksama. "Kamu mau main?" Levi mengangguk dengan menatap takjub kotak mainan itu. Lalu Luzia membawanya pergi dari ruang tengah. Ini seperti sudah direncanakan.Bahwa kedua orang tua Lewis ingin menginterogasi Ralin dan Lewis tanpa melibatkan Levi dan Luzia. Ralin yang menyadari hal itu makin menundukkan pandangan. Ia ingin bersembunyi di belakang tubuh Lewis namun tangannya tetap di

    Last Updated : 2025-03-26

Latest chapter

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Siapa Wanita Itu?

    Saat lampu telah berubah hijau, mau tidak mau sopir menekan pedal gas. Meninggalkan pemandangan yang membuatku bertanya-tanya. 'Den Mas, kamu sama siapa?' Batin Ralin. Mata Ralin tidak lagi bisa menjangkau apa yang terjadi selanjutnya. Perasaan bahagia yang tadi baru bermunculan, kini mendadak dipenuhi kesedihan. Apalagi jika bukan karena ia merasa cemburu?!Mana mungkin seorang lelaki mengulurkan tangannya pada wanita dengan penampilan all out seperti tadi jika bukan karena ada perasaan tertentu?!Kepala Ralin lantas menggeleng dan kembali mengeyahkan perasaan yang jelas-jelas salah ini. Bahwa ia tidak boleh terus menerus membiarkan rasa cinta ini tumbuh lalu tidak bisa melepaskannya. Setibanya di rumah, Ralin melahap bubur kacang hijau itu bersama Levi. Kemudian menunggu Levi selesai mandi sendiri. Buah dari kejadian saat ia belum bisa berjalan. Ralin terus menyibukkan diri bersama Levi untuk mengenyahkan bayangan tadi siang. Pertanyaan tentang siapa wanita yang bersamanya tad

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Senyum-Senyum Sendiri

    "Apa Den Mas marah gara-gara kamu punya inisiatif beliin aku ponsel?"Kepala David menggeleng."Saya rasa tidak, Nyonya.""Dia nggak bilang apapun?""Tidak.""Dia masih ngajak kamu bicara kayak biasanya?""Iya. Ada apa, Nyonya?"Ralin menghela nafas sambil menatap beberapa orang yang lalu lalang di dalam rumah sakit ini. "Aku takut Den Mas punya pikiran kita lagi mengkhianati dia, Vid." Kemudian Ralin menatap David kembali, "Lagian, kenapa kamu jujur banget kalau punya ide beliin aku ponsel?""Saya lebih suka terbuka dan apa adanya pada Pak Lewis, Nyonya."Ralin berdecak kesal. "Kalau Den Mas mikir yang nggak-nggak, gimana?""Beliau pasti akan menegur bila saya melakukan kesalahan."Jika David saja bisa bersikap santai dan biasa saja, mengapa Ralin harus terlihat takut setengah mati?Kentara sekali jika Ralin sedang berusaha menjaga perasaan Lewis. Sedangkan dia tidak membutuhkan hal itu karena memang tidak mencintai Ralin. ****Siang ini Ralin akan menjalani terapi terakhir. Ia s

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Tidak Seperti Semalam

    Kepala Ralin reflek menggeleng. "Bukan gitu, Den Mas.""Kalau memang begitu, biar aku panggilin David."Ralin kembali menggeleng. "Aku cuma nggak mau kelihatan kayak perempuan nggak tahu diri aja, Den Mas. Kamu itu pewaris. Mana etis gendong perempuan kayak aku.""Stop! Intinya pagi ini, kamu mau sarapan sama aku apa nggak?"Tentu saja Ralin ingin. Hanya saja dia tidak sampai hati mengatakannya. Belum sempat Ralin menjawab, Lewis kemudian memindahkan alat bantu jalan itu dan langsung menggendongnya begitu saja. Ralin reflek langsung melingkarkan tangannya di belakang leher Lewis. Untuk beberapa detik, Ralin dan Lewis saling tatap. Dan itu membuat seluruh darah Ralin terasa sangat dingin. Dengan jarak sedekat ini, Ralin berharap detak jantungnya yang menggila, tidak terdengar oleh Lewis. "Levi, ayo makan di ruang makan." Lewis berucap pada putranya. Levi mengangguk lalu berjalan bersama Lewis menuju ruang makan dengan menggendong Ralin. Dan pemandangan itu terlihat oleh Bu Tati

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Mau Aku Gendong?

    Dengan berbaring miring sambil memeluk Levi, Lewis menatap Ralin dan melanjutkan ucapannya. "Waktu kamu bilang mau mundur dari pernikahan ini, mau menyudahi pernikahan ini, aku kayak ditampar kenyataan, Lin. Kalau kamu sesakit ini juga karena perbuatan Emran.""Meski kamu sakit pun, kamu masih merhatiin Levi. Masih ngurusin Levi sama keterbatasanmu.""Padahal dalam perjanjian pra nikah, nggak ada pasal yang ngatur ketika kamu sakit harus terus merawat dan menjaga Levi. Tapi apa yang kamu lakukan, melebihi perjanjian pra nikah yang aku buat."Lalu Lewis mengusap rambut Levi yang sudah terlelap dan mencium kening putra semata wayangnya itu. Itu semua tak lepas dari pandangan Ralin."Kamu ngasih dia cinta dan sayang jauh lebih besar ketimbang aku sebagai Ayahnya. Bahkan sekedar tidur pun, dia nggak mau kalau nggak sama kamu. Aku kalah telak dari kamu, Lin.""Dan ucapanmu tadi pagi bikin aku sadar diri, Lin. Kalau kamu juga menderita karena Emran dan Levi bakal jauh lebih kehilangan kala

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Jangan Akhiri Pernikahan Kita

    Ralin kemudian menunduk dan David segera berdiri lalu sedikit membungkuk hormat. "Selamat pagi, Pak."Lewis ternyata sudah berdiri di depan pintu entah sejak kapan. Apakah dia sempat melihat David mengajari Ralin berjalan menggunakan alat bantu jalan itu atau tidak?Kemudian Lewis masuk ke dalam kamar Ralin dengan penampilan tidak jauh berbeda dari David. Sudah sangat tampan dan rapi karena hendak menuju pabrik.Ia memperhatikan Ralin dan alat bantu jalan yang digunakan. "Kamu yang membelikannya, Vid?""Iya, Pak." Jawab David tanpa keraguan.Jiwa lelaki sejatinya tidak perlu diragukan. "Karena Nyonya membutuhkan alat itu."Lewis tidak bertanya lagi kemudian menghampiri Levi. "Ayo kita sarapan, Lev?"Levi kemudian menggeleng. "Makan. Ibu."Ralin paham jika yang Levi maksud adalah ingin sarapan bersama Ralin. "Kamu bisa jalan ke meja makan, Lin?""Akan aku coba, Den Mas."Jangankan ke meja makan, menuju kamar mandi saja Ralin membutuhkan bantuan. Namun, bagaimana dia menolak permi

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Sesayang Dan Sepengertian Itu

    "Apa Nyonya butuh alat bantu jalan?"Kepala Ralin mengangguk. "Sebenarnya iya. Tadi dokter bilang begitu sekalian untuk terapi jalan.""Besok akan saya bawakan."Ralin tersenyum dan mengangguk karena David seakan-akan tahu apa yang dibutuhkan. Tanpa Ralin harus meminta-minta. "Makasih banyak, Vid. Maaf merepotkan.""Sama-sama, Nyonya. Saya undur diri dulu."Setidaknya, masih ada David yang membantu Ralin manakala Lewis masih diliputi rasa kecewa. Kemudian Bu Tatik datang dengan membawa minuman dan camilan. Setelah menandaskannya bersama Levi, Ralin meminum obatnya. "Den Ayu, apa perlu saya temani tidur?"Kepala Ralin mengangguk tegas ketika mendapatkan tawaran yang lagi-lagi sangat ia butuhkan tanpa harus meminta. "Kalau Bu Tatik nggak merasa repot.""Tugas saya sudah pasti untuk melayani keluarga Den Mas. Tidak ada kata repot untuk itu."Satu lagi, selain David, kini Bu Tatik juga menunjukkan dukungan selama Ralin belum sembuh sepenuhnya. Setidaknya Ralin bisa melewati ini semu

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Menggendong Ralin Ke Kamar

    Ralin tidak sedih meski Emran akan mendapatkan hukuman penjara yang tidak main-main akibat ulahnya. Dia berhak mendapatkan balasannya!Dia ingin mencelakai Levi, namun Ralin yang terkena getahnya.Kedua kaki Ralin hampir saja lumpuh jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Beruntungnya, Lewis bersedia memberikan pengobatan terbaik.Meski untuk saat ini Ralin masih harus terapi, namun itu jauh lebih baik dari pada ia lumpuh untuk selamanya.Begitu tiba di rumah, Lewis masih menerima panggilan telfon dari pengacaranya. Sudah pasti yang mereka bahas adalah tuntutan penjara seadil mungkin yang Lewis inginkan untuk membuat jera Emran.“Jika dimungkinkan bisa dituntut dengan pasal berlapis, lakukan!” Titah Lewis.Kemudian dia turun dari mobil dengan menggandeng tangan Levi. Sedang Ralin berusaha turun dari mobil perlahan-lahan tanpa bantuan.“Aku nggak bisa bayangin gimana jadinya, andai tabrakannya itu melukai Levi. Anak sekecil Levi terhantam mobil. Emran sudah gila!”“Mesk

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Aku Sanggup Menjaganya

    "Emran?" Tanya Lewis dengan alis berkerut. "Betul, Pak. Mobil yang dipakai menabrak mobil Den Levi adalah mobil Emran. Dan mobilnya ada di halaman rumahnya."Lewis kemudian teringat akan ucapan bernada tidak suka yang keluar dari bibir Ralin tempo hari ketika Emran datang berkunjung. Tapi Emran dengan tidak tahu dirinya mengirimkan buket bunga dengan pesan penuh cinta. "Tim menyimpulkan jika kemungkinan yang melakukan tabrakan itu adalah Emran. Dan sebelum membawanya ke kantor polisi, tim akan menginterogasi Emran lebih dulu."Kepala Lewis mengangguk dengan wajah tidak bersahabat. "Kalau sampai dia terbukti melakukannya, aku nggak akan ngasih dia nafas kebebasan. Meski itu cuma satu hirupan."Lalu bayangan Levi saat menangis usai kecelakaan itu membuat Lewis makin geram. Dan dia akan bersabar sampai tim mendapatkan informasi yang akurat. "Kita ke rumah sakit sekarang.""Baik, Pak.""Beri tahu Mas Tira."Kondisi Ralin terpantau membaik pasca operasi. Masa kritisnya telah terlewati.

  • Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir   Aku Akan Selalu Ada

    "Halo, Lew.""Halo, Bun. Bunda lagi apa?""Baru selesai bikin kue. Tumben kamu telfon jam segini? Kerjaan udah rampung?"Bukan sudah rampung. Melainkan Lewis meninggalkannya begitu saja demi Ralin. "Bun, Ralin kecelakaan."Hari belum terlalu sore dan Lewis memberi kabar sangat buruk. Membuat sore hari itu terasa kelabu. "Apa?! Kecelakaan gimana, Lew?""Penyebabnya masih diselidiki sama tim yang aku bawa, Bun.""Ralin gimana keadaannya sekarang?""Nggak baik, Bun. Dia harus operasi.""Ya Tuhan, Lew.""Satu jam lagi kita akan berangkat ke Jakarta. Aku mau Ralin dirujuk ke rumah sakit dan dokter paling bagus.""Levi gimana, Lew?""Levi cuma terpental dan trauma, Bun. Bunda bisa kan kemari buat jagain Levi?""Iya. Di rumah sakit mana?"Setelah menunggu setengah jam lamanya, Ibunda dan Ayah Lewis tiba di rumah sakit dengan wajah cemas dan khawatir. Ayahnya pun masih mengenakan kemeja kerja. Levi pun langsung mengulurkan tangan untuk digendong Ayah Lewis. Sedang David selalu setia berada

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status