Semua Bab Diusir Suami, Dimanjakan Tuan Presdir: Bab 21 - Bab 30

65 Bab

Terima Kasih dan Maafkan Aku

Mengapa kaum pria selalu memiliki sifat pemaksa?!Ralin kesal setengah mati karena Lewis terus mendesaknya agar kembali mendidik dan merawat Levi. Padahal dia sudah mengibarkan bendera putih. "Sejak saya memecat kedua baby sitter Levi dua hari yang lalu, Levi bersama Bunda saya, Bu Ralin. Saya akui, kalau bukan orang seperti Bu Ralin, Levi tidak akan bisa diatasi.""Bunda saya hampir menyerah merawat dan mendidik Levi padahal hanya dua hari. Sedang saya sudah tidak percaya lagi dengan baby sitter manapun.""Dan saya sudah membulatkan tekad untuk meminta Bu Ralin kembali mendidik dan merawat Levi. Saya tidak akan bisa tenang bekerja kalau Levi bersama orang lain."Ralin memejamkan mata sejenak lalu menatap Lewis. "Saya benar-benar tidak bisa, Pak Lewis. Tolong hargai keputusan saya."Lewis menatap Ralin sungguh-sungguh dan menggeleng tegas. "Maaf, Bu Ralin. Saya tahu kalau anda takut dengan saya karena ulah saya sendiri. Maka dari itu, akan saya siapkan hitam di atas putih yang menje
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-18
Baca selengkapnya

Satu Ronde

Karena hari sudah petang dan tanda-tanda kedatangan Lewis belum juga nampak, akhirnya Ralin memilih menunggu sang pewaris itu.Firasatnya tidak enak bila meninggalkan Levi sedang Lewis belum tiba. Karena Levi sedang tidur, Ralin pun menuju dapur rumah megah ini untuk mengisi perut. Meski sempat tersesat hingga dua kali. Khawatir Levi terbangun dan tidak ada siapapun, akhirnya Bu Tatik menemani Ralin makan malam di dalam kamar Levi. Tidak berapa lama, Lewis akhirnya tiba di rumah. Ralin langsung berdiri dari duduk dengan kepala menunduk ketika Lewis membuka pintu kamar Levi. Pria itu masih mengenakan kemeja kerja dengan garis wajah yang nampak lelah. Dilihatnya Levi yang begitu nyenyak tertidur lalu menatap Ralin."Bisa kita bicara di luar, Bu Ralin?" Tanya Lewis dengan suara pelan agar tidak mengganggu Levi. Kepala Ralin mengangguk lalu mengikuti langkah kaki Lewis menuju ruang tengah yang berada di depan kamar Levi persis. Di sana sudah ada David sedang menata dokumen di atas me
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-19
Baca selengkapnya

Bukan Untuk Melayanimu!

Menjadi guru sekaligus terapis pribadi Levi ternyata begitu menggiurkan!Bagaimana tidak, kamar yang ditempati Ralin jauh lebih baik dari kamarnya bersama Emran. Belum lagi, segala fasilitas yang Ralin terima.Dia tidak perlu memusingkan pakaian kotor, makanan, bahkan mobil serta sopir pribadi. Semuanya siap sedia.Bahkan baru bekerja satu hari saja, Ralin sudah mendapat gaji penuh untuk satu bulan. Gaji yang menurutnya sangat menjanjikan untuk hidup seorang diri di kota ini.Pantas saja mantan kedua baby sitter Levi, mati-matian mempertahankan pekerjaan ini bahkan rela memfitnah Ralin. Mendapat segala kenyamanan seperti ini, bukannya Ralin merasa senang. Justru dia berpikir keras bagaimana bisa menjalankan tugasnya dengan baik. "Aku nggak boleh banyak ngelakuin salah." Gumam Ralin.Dia hanya takut jika Lewis kemudian kecewa dengan pengasuhannya terhadap Levi. Tapi baru dua hari bekerja, tiba-tiba saja Levi terlihat lemas, batuk ringan, dan demam. Ralin khawatir setengah mati."Bu T
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-20
Baca selengkapnya

Lagi Pengen Banget

Setibanya di rumah yang dulu ia tinggali bersama Emran, Ralin kemudian membuka pagar kecil setinggi perut. Mobil yang dulu dibeli dengan tabungan Ralin demi mobilitas mantan suaminya itu, kini terparkir di garasi. Dan halaman dan taman kecil yang dulu rajin Ralin rawat, kini mulai tidak terurus. Banyak rumput liar yang tumbuh dan beberapa pot dibiarkan miring. Juga sampah daun yang berserakan dan lantai teras yang berdebu. Sesibuk apakah Fayza hingga tidak bisa mengurus rumah dengan baik?Ting tong!Ralin menekan bel rumah dengan mental yang sudah siap. Bahwa ia masih dalam proses membunuh cintanya untuk Emran dan tidak memiliki niatan untuk kembali lagi. Begitu pintu rumah terbuka, Emran memandangnya dengan senyum remeh dengan penampilan sedikit acak-acakan. "Hai, Ralin. Oh, bukan! Hai, jalang."Ralin tidak menjawab dan hanya menatap Emran datar. Sedang tangannya sudah gatal sekali ingin memukul mantan suaminya itu dengan benda apapun. Emran sudah menikah dengan Fayza, selingkuh
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-21
Baca selengkapnya

Hanya Dia Pelipur Lara

Sepanjang perjalanan menuju rumah megah Lewis, di dalam mobil, Ralin hanya dima dengan wajah menunduk. Sudah tidak ada bulir air mata yang membasahi pipinya. Hanya saja gurat kesedihan terpancar jelas di wajahnya yang nampak pucat. Tas dan akta percerain berada di atas pangkuannya. Dengan kedua tangan menggenggam erat kain coklat yang menutup badannya. Lewis pun tidak berani bertanya lebih jauh karena begini saja dia sudah bisa menyimpulkan jika Ralin tidak baik-baik saja. Dia pun teringat akan bagaimana nasib putranya jika Ralin mengalami stres? Sedangkan Levi begitu dekat dengan Ralin.Terbersit satu ide untuk memanggil psikolog ke rumah untuk membantu Ralin melewati tekanan ini namun alangkah baiknya dia bertanya lebih dulu jika Ralin sudah tenang.Setibanya di rumah, Levi langsung menarik kain coklat yang Ralin genggam erat-erat. Namun Lewis dengan segera menggendong Levi namun tangan putranya itu terulur ke Ralin dengan suara merengek. "Levi, Bu Ralin lagi nggak enak badan. Bi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-23
Baca selengkapnya

Debaran Yang Tak Biasa

Sabtu ceria.Baru saja Ralin selesai memandikan Levi dan akan mengajaknya bermain sekaligus belajar di taman rumah yang luas, tiba-tiba saja Lewis mengetuk pintu kamar putranya itu. Setelah memasangkan celana Levi, Ralin berdiri dengan sopan menyambut kedatangan sang pemilik rumah. Biasanya, Lewis sudah berangkat bekerja pagi sekali. Tapi mengapa dia masih terlihat santai dengan pakaian kasual?"Levi, mau nggak jalan-jalan sama Ayah?" Tanya Lewis dengan mensejajarkan tubuh dengan putranya.Ia kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana lalu menunjukkan sesuatu dari layar ponsel. Sedang Ralin hanya memandang interaksi mereka. Raut wajah Levi perlahan-lahan berubah sumringah ketika menonton video pendek yang diputarkan Lewis. Kemudian ia mengambil ponsel Lewis dan memperhatikan video itu dengan seksama. "Mau kesana?" Tanya Lewis dengan mengusap rambut Levi lalu mencium pipi putranya. Levi masih memandangi dengan seksama. "Gimana? Mau apa nggak?"Bukannya menjawab, Levi kemudian b
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-24
Baca selengkapnya

Memiliki Yang Baru

Ucapan Lewis meninggalkan sebuah perasaan yang aneh di dalam hati Ralin. Perasaan yang membuatnya tidak bisa tidur hingga selarut ini. Dia sendiri tidak mengerti perasaan apakah ini. Ketika tangan kanannya menyentuh tepat di dada, rasanya benar-benar ada yang tidak beres. "Kenapa aku begini?"Kepalanya menggeleng dan menghela nafas panjang."Pasti ini cuma karena Pak Lewis terlalu baik saat aku butuh pertolongan. Ini nggak benar. Ini nggak boleh diterusin, Ralin. Nggak boleh." Gumamnya sendiri.Ralin kemudian kembali ke kamar dan menutup pintu balkon. Dipandanginya Levi yang tertidur begitu lelap. Wajah tuan muda kecil itu begitu mirip dengan Lewis. Lalu ia mencuri ciuman di pipi yang sama ketika Lewis tadi mencium Levi. Ralin kembali menegaskan pada diri dan hatinya apa yang menjadi tugasnya. Bukan berangan-angan tentang Lewis terlalu tinggi. Tuhan menciptakan laki-laki sebagai makhluk paling indah. Dan Lewis salah satunya. Kedekatan interaksi mereka karena Levi adalah pemicunya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-25
Baca selengkapnya

Terlalu Kecil Untukmu Yang Sangat Besar

"Lew, Bunda pernah muda. Pernah punya pasang surut hubungan sama Ayahmu." "Lalu?" "Zaylin udah lama pergi. Apa kamu nggak kesepian?" 'Siapa itu Zaylin? Apakah dia mantan istri Lewis?' Batin Ralin. Lewis menarik tangan dari genggaman Ibundanya lalu menghela nafas panjang. "Bunda, sekali lagi aku tegasin. Kalau aku nggak butuh wanita." "Untuk saat ini." Ibundanya masih saja mendebat Lewis yang belum mau membuka hatinya. "Dan selamanya." Tegas Lewis. "Astaga, Lewis. Jangan bilang gitu!" ucap Ibundanya dengan nada tidak suka. Ralin makin penasaran dan meneruskan sesi menguping itu. "Bunda, Levi itu anak spesial. Perilakunya nggak kayak anak pada umumnya. Pertanyaanku, kalau Ibu kandungnya aja pergi ninggalin dia, perempuan mana yang bisa tahan sama dia?" Mulut Ralin membola lalu ia segera menutupnya dengan telapak tangan kanan. Dia tidak menyangka jika karena kekurangan Levi, kemudian Ibunya lebih memilih pergi meninggalkan. Padahal kekurangan Levi masih bisa diperbaiki.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-26
Baca selengkapnya

Tidak Nyaman

Ralin tidak menatap kehadiran Lewis dan Kamilia di dekat kolam. Dia menyibukkan diri dengan menjaga Levi yang sedang asyik berjalan-jalan di bagian kolam renang yang hanya sebatas mata kaki. "Levi aktif banget ya, Den Mas?""Iya. Kadang kelewat aktif.""Itu biasanya dipicu dari makanan atau minuman yang dilarang.""Iya."Ralin sebenarnya tidak ingin mendengarkan obrolan mereka. Namun bagaimana lagi, jarak mereka tidaklah jauh. "Tapi anak istimewa kayak Levi pasti punya kelebihan, Den Mas. Dan kelebihannya itu harus dipantik, nggak bisa cuma ditunggu kapan munculnya."Tatapan Lewis kesana kemari dan mengangguk seadanya. Kemudian ia menunduk dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Ada apa, Den Mas?"Lewis kemudian menoleh ke arah Kamilia dengan wajah bingung. "Kenapa?" Tanyanya kembali. "Aku perhatiin Den Mas dari tadi kayak nggak lepas. Kita ngobrol biasa aja. Kita jalani perkenalan ini dengan santai biar nggak tertekan."Lewis menghela nafas panjang lalu menganggu
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-27
Baca selengkapnya

Mantan Istri Empat Tahun Silam

Teguran yang Lewis berikan, membuat Ralin menyadari satu hal. Bahwa pria itu tidak ingin siapapun memaksa Levi.Dia benar-benar mengutamakan kenyamanan Levi ketimbang sibuk memikirkan Ibu baru untuk putranya. Dan Ralin tidak mau kembali membuat kesalahan dengan membiarkan Kamilia mendekati Levi secara paksa.Esok pagi harinya, saat Lewis dan Levi sarapan, tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi.Lewis segera menghentikan sarapan lalu menatap Ralin yang duduk di sebelah Levi. Mengajari putranya itu melahap sarapan."Apa itu Kamilia?""Saya tidak tahu, Pak."Cara bertanya Lewis sudah menunjukkan rasa tidak suka."Kalau itu memang dia, saya nggak mau Levi dipaksa akrab. Bu Ralin saya beri hak untuk melarang Kamilia seenaknya pada Levi. Termasuk memaksa Levi agar mau begini begitu."Ralin mengangguk paham."Iya, Pak. Saya minta maaf untuk kesalahan saya yang kemarin.""Saya maklumi, karena Bu Ralin pasti takut melarang Kamilia."Tidak salah lagi! Ralin mana mungkin berani melarang Kamilia jika
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-28
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status