Semua Bab Sang PENEMBUS Batas: Bab 51 - Bab 60

218 Bab

Bab 051. SIAPA YANG MANDUL

Namun Barja tak sadar, saat ada sepasang mata yang penuh kebencian menatap dirinya, dari balik korden kamar. Ya, tentu saja itu adalah sepasang mata milik Marini. Marini sangat jelas mendengar ucapan Barja tadi. Dan dia merasa yakin kini, bahwa pengaruh ‘susuk’nya memang sudah benar-benar lenyap. ‘Aku harus ke tempat Ki Suwita besok’, gumam bathin Marini. Dia tak ingin Barja lepas dari kendalinya, dan menjemput Sekar kembali ke rumah ini. Karena bagi Marini, hal itu sama saja dengan menggagalkan rencananya, yang sudah lama di susunnya bersama kang Jaka. “Marinii..!” seru Barja memanggil Marini dari ruang tamu. “Ya Kang Barja,” sahut lembut Marini, berusaha untuk bermanis muka di hadapan Barja. Marini pun datang menghampiri Barja, dengan senyum termanis yang dia punya. “Bikinkan aku kopi hitam,” ucap Barja, dia kini bersikap acuh pada Marini. “Ba..baik Kang,” ucap Marini agak gagap. Karena selama ini, Sekarlah yang melayani segala perintah Barja dan dirinya. Barja tadinya bah
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-14
Baca selengkapnya

Bab 052. TERBONGKAR DAN MURKA

Pagi harinya, di rumah Barja sudah terdengar suara pertengkaran di dalamnya, “Tidak boleh Marini..! Kamu tak boleh keluar dari rumah lagi..! Jaga kandunganmu baik-baik! Berani kamu keluar dari rumah ini, maka jangan pernah kamu kembali lagi..!” seru Barja tegas pada Marini, yang berniat keluar dan meminta uang pada Barja. “Tapi aku mau memeriksa kandungan Kang Barja..! Apa Akang tak ingin mengetahui kondisi janin di perut Marini..!” seru Marini membalas. “Tak ada yang melarang kau periksa kandungan Marini. Tapi ini masih terlalu pagi, untuk ke klinik ataupun puskesmas..! Bahkan kopi untukku juga belum kau buatkan..! Cepat buatkan aku kopi hitam..!” seru Barja tak ingin dibantah. Barja merasa ada sesuatu yang aneh dan mencurigakan, pada niat Marini keluar rumah pagi-pagi sekali. “Baik Kang Barja. Aku akan ke klinik nanti agak siangan,” ucap Marini melembut. Dia pun beranjak ke belakang, untuk membuatkan kopi buat Barja. ‘Hhh..! Makin kesini kok rasanya semua prilaku Marini maki
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-15
Baca selengkapnya

Bab 053. DUKUN NAKAL

Elang kembali bangun agak kesiangan hari ini, dilihatnya jam pada ponselnya menunjukkan pukul 7:15 pagi. Bergegas Elang beranjak bangkit dari ranjangnya, mengambil handuk dan perlengkapan mandinya, lalu langsung menuju kamar mandi. Dilihatnya Sekar yang sedang memasak telur dadar. Sekilas Sekar menoleh ke arah Elang dan tersenyum malu. ‘Wanita yang menggemaskan’, bathin Elang, sambil balas tersenyum pada Sekar. Lalu Elang pun meneruskan langkahnya menuju kamar mandi. Usai mandi dan berganti pakaian, Elang langsung menuju ruang tamu. Di sana dilihatnya ibu Sekar sedang minum teh dan camilan, sambil memandang ke arah luar rumahnya. “Pagi Bu, sudah merasa baikkan belum Bu..?” tanya Elang, sambil duduk di dekat sang ibu. “Ehh, Elang. Ibu sudah pulih kok, rasanya ibu ingin dagang saja Elang,” sahut ibu Sekar. Dia merasa sayang, jika hari terlewatkan begitu saja tanpa berdagang. “Syukurlah jika Ibu sudah merasa pulih. Ibu sebaiknya jangan terlalu lelah dulu ya. Istirahat saja di rum
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-15
Baca selengkapnya

Bab 054. SARAN SEORANG SAHABAT

Dan permainan sang dukun nakal pun dimulai. Dengan cepat Ki Suwita membuka pakaiannya hingga polos. "Aihh..!" Marini pun terperangah kaget. Melihat terong Ki Suwita yang nampak masih kokoh dan panjang , seolah mengintimidasinyaUkurannya bahkan melebihi milik kang Jaka. Perlahan Marini membuka pakaiannya. Karena tak sabar, Ki Suwita membantu melucuti Marini hingga polos. Selanjutnya Marini benar-benar dibikin megap-megap, dan merintih tak karuan. Merasakan kepiawaian teknik bercinta Ki Suwita. Hingga...“Akhss Kii...! Oughss..!” desah nikmat Marini, tubuhnya mengejang dalam layangan rasa nikmat tak bertepi. 'Gila si Aki ini..! Enaks banget..!’ seru bathin Marini. Marini terbelalak takjub, merasakan kenikmatan puncak yang belum pernah dirasakan senikmat permainan Ki Suwita. Dua kali sudah Marini mencapai kenikmatan klimaksnya, hingga..“Marini ohhks..! Aki sampai nihhs..! Akhss..!” pancaran air kenikmatan dari Ki Suwita begitu deras dirasa Marini. Tubuhnya mengejang dan menekan h
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-15
Baca selengkapnya

Bab 055. DATANG DAN MINTA MAAF

“Brengsek memang dia..!” maki Barja pada Marini. “Ok Barja. Beritahu aku secepatnya, jika Marini hendak berangkat ke Jakarta ya,” ucap Rasto. “Baik Rasto. Terimakasih sobat,” ucap Barja mengakhiri percakapannya. Klik.! Barja bergegas memakai kembali baju yang tadi di pakainya berangkat ke Toko. Dia pun membereskan alat make up Marini, yang tercecer di lantai kamarnya. Lalu meletakkan kembali ponsel Marini pada tempatnya semula. Dan Barja pun kembali keluar rumah dengan Fortuner miliknya. Barja berniat datang ke rumah ibu Sekar. Bermaksud untuk meminta maaf pada Sekar dan ibunya. Dia juga berniat menceritakan semua tindak tanduk Marini, yang berencana membunuhnya setelah menyingkirkan Sekar dari rumahnya. Tak lama kemudian Barja sampai di depan rumah ibu Sekar. Dia memarkirkan mobilnya di tepi jalan, karena halaman rumah ibu Sekar tak cukup luas untuk parkir mobilnya. Barja juga meihat sebuah motor sport biru terparkir di halaman rumah ibu Sekar. ‘Milik siapa motor itu..? Ak
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-15
Baca selengkapnya

Bab 056. TANTANGAN DUEL

"Hahh..! K-kamu pengendara motor yang mogok di jalan kemarin kan.?!” seru Barja yang kaget saat melihat Elang. “Benar Kang Barja, kemarin saya mencoba memagari Kang Barja dari pengaruh susuk Marini. Syukurlah akhirnya Kang Barja bisa berpikir sehat kembali saat tiba di rumah,” sahut Elang tersenyum. “Kapan dan dengan apa kamu memagari aku, Elang ?” tanya Barja, yang merasa Elang tak melakukan apa-apa padanya kemarin. “Saat saya memegang pundakmu Kang Barja,” sahut Elang tenang. “Dan saat ini, pagaran yang saya buat sedang di serang oleh sesuatu yang cukup mengerikkan Kang Barja. Apakah Marini tidak berada di rumah sekarang ?” tanya Elang. “Dia sudah keluar rumah sejak jam 8 pagi, dan belum pulang saat aku datang ke sini Elang,” jawab Barja agak bingung. “Hmm. Sepertinya dia pergi ke orang pintar yang memasang ‘susuk’nya. Dia bermaksud melenyapkan ‘pagaran’ yang saya buat pada Kang Barja. Apakah sekarang tubuh kang Barja seperti di tusuk-tusuk dengan hawa dingin ?” tanya Elang.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-16
Baca selengkapnya

Bab 057. TAHAN EMOSI DAN PERSIAPAN

“Ahh, itu siasat yang bagus sekali kang Barja. Benar kata teman Kang Barja, jalankan saja rencana itu Kang Barja,” ucap Elang. “Baik Elang, akan kujalankan rencana itu. Kalau begitu saya pamit dulu,” ucap Barja. Usai berpamitan, Barja pun lalu beranjak menaiki mobilnya, untuk kembali ke rumahnya. *** Marini telah sampai di rumah, beberapa saat setelah Barja pergi ke rumah ibu Sekar. Dia benar-benar tak sadar, kalau Barja telah pulang ke rumah sebelumnya. Tiin.. Tiin..! Barja membunyikan klaksonnya di halaman rumah. Tak lama kemudian pintu rumahnya pun terbuka. Nampak Marini muncul dan tersenyum manis ke arahnya di depan pintu. ‘Huhh..! Senyummu palsu Marini..!’, maki kesal Barja, dalam hatinya. Barja turun dari mobilnya dan dia pun bersandiwara dengan membalas senyum Marini padanya. Barja membiarkan tangannya dicium oleh Marini, saat dia mau masuk ke dalam rumahnya. “Capek ya Kang Barja..?” tanya basa basi Marini, dia bermaksud mengetes reaksi Barja padanya. Ki Suwita ta
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-16
Baca selengkapnya

Bab 058. DATANG DAN HARAPAN

"Tak ada yang berlebihan, untuk nilai persaudaraan kita dan juga buatmu Elang. Uang 2 miliar masih terlalu sedikit, dibanding nilai persahabatan dan bantuanmu pada Paman, Elang. Terimalah dan pergunakan sebaik-baiknya dalam perantauanmu Elang,” ucap pak Bernard. “Baik Paman. Terimakasih,” ucap Elang terharu. “Baiklah Elang. Jagalah dirimu baik-baik di perantauan anakku. Dan cepatlah kembali jika sudah menemukan apa yang kau cari. Paman selalu berdo’a untukmu,” ucap Bernard. Klik.!Elang termenung sesaat, setelah menerima telepon dari pak Bernard, yang kini sudah dianggap Paman olehnya. Elang juga terpikir untuk mentranfer dana ke pantinya. Sebagai bukti rasa sayang dan terimakasih dirinya pada orang-orang panti, setelah urusannya di desa Gunungsari ini selesai. Elang sangat ingin, agar adik-adiknya bisa mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Dan tidak seperti dirinya, yang hanya tamatan SMA. ‘Akan kumasukkan uang 10 miliar rupiah pada rekening panti besok’, janji hat
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-16
Baca selengkapnya

Bab 059. MAUT DI PANTAI KARANGSONG

Blarrgk..!!Dari bawah tubuh Elang melesat hawa pukulan jarak jauh. Hal yang membuat pasir pantai, yang tadi dipijak Elang terbongkar ke atas. Terkuak lubang seukuran tubuh manusia dewasa. Pasir pantai muncrat deras ke atas, lalu jatuh berhamburan. Taphh..! "Hahahaa..! Boleh juga kau anak muda..! Tapi jangan sebut Ki Suwita, jika kau bisa pergi dari sini hidup-hidup..!” seru Ki Suwita, yang mendarat mantap di tepi pantai. “Hahaa..! Apa keahlian lainmu selain membokong Pak Tua..?!” seru Elang sambil tertawa. “Hmm. Bocah sombong..!” dengus Ki Suwita marah. Seth..! Sosok Ki Suwita langsung melesat cepat ke arah Elang, sambil mengeluarkan jurus ‘Walet Merah Menyambar’ warisan ayahnya. Wesh.! ... Wersh.!! Tiga buah serangan langsung mengarah ke bagian mata, jantung, dan alat vital Elang. Dua tangan Ki Suwita membentuk seperti paruh burung, tangan kiri menyerang mata, tangan kanannya mengarah jantung, dan kaki kirinya menendang ke arah pangkal paha Elang. Cepat dan ganas sekali s
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-17
Baca selengkapnya

Bab 060. MALAM TERAKHIR

"Kang Elang masih akan menginap di sini besok kan..?” tanya Sekar. “Maaf, Mbak Sekar. Saya harus melanjutkan perantauan saya besok,” sahut Elang. “Kalau begitu, ini adalah malam terakhir kita Kang Elang sayang,” ucap Sekar sedih, sambil menarik lepas celana pendek dan celana dalam Elang dengan cekatan. “Akhs..! Mbak Sekar nakal,” lenguh Elang nikmat. Saat merasakan sesuatu yang kesat, hangat, dan basah, menyapu dan melumat ‘milik’nya dengan lembut. Pada akhirnya Elang harus kembali melayani Sekar, yang bagai kuda binal lepas dari kandangnya malam itu. Berkali-kali Sekar mengejang dan berdesah keras tertahan, karena takut terdengar oleh ibunya. “Akhs..! Kang E..lang, kenapa makin lama makin e..nakss..oughh..!” erang terbata Sekar. Saat kembali tubuh Sekar yang berada di atas Elang bergoyang kencang. Beberapa bulir keringat nampak bergulir di dahinya. Terlihat seksi, saat Sekar sedang berusaha menahan rasa nikmat, yang seolah hendak jebol dari dalam bagian bawah tubuhnya. “Akkh
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-17
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
45678
...
22
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status