Elang kembali bangun agak kesiangan hari ini, dilihatnya jam pada ponselnya menunjukkan pukul 7:15 pagi. Bergegas Elang beranjak bangkit dari ranjangnya, mengambil handuk dan perlengkapan mandinya, lalu langsung menuju kamar mandi. Dilihatnya Sekar yang sedang memasak telur dadar. Sekilas Sekar menoleh ke arah Elang dan tersenyum malu. ‘Wanita yang menggemaskan’, bathin Elang, sambil balas tersenyum pada Sekar. Lalu Elang pun meneruskan langkahnya menuju kamar mandi. Usai mandi dan berganti pakaian, Elang langsung menuju ruang tamu. Di sana dilihatnya ibu Sekar sedang minum teh dan camilan, sambil memandang ke arah luar rumahnya. “Pagi Bu, sudah merasa baikkan belum Bu..?” tanya Elang, sambil duduk di dekat sang ibu. “Ehh, Elang. Ibu sudah pulih kok, rasanya ibu ingin dagang saja Elang,” sahut ibu Sekar. Dia merasa sayang, jika hari terlewatkan begitu saja tanpa berdagang. “Syukurlah jika Ibu sudah merasa pulih. Ibu sebaiknya jangan terlalu lelah dulu ya. Istirahat saja di rum
Dan permainan sang dukun nakal pun dimulai. Dengan cepat Ki Suwita membuka pakaiannya hingga polos. "Aihh..!" Marini pun terperangah kaget. Melihat terong Ki Suwita yang nampak masih kokoh dan panjang , seolah mengintimidasinyaUkurannya bahkan melebihi milik kang Jaka. Perlahan Marini membuka pakaiannya. Karena tak sabar, Ki Suwita membantu melucuti Marini hingga polos. Selanjutnya Marini benar-benar dibikin megap-megap, dan merintih tak karuan. Merasakan kepiawaian teknik bercinta Ki Suwita. Hingga...“Akhss Kii...! Oughss..!” desah nikmat Marini, tubuhnya mengejang dalam layangan rasa nikmat tak bertepi. 'Gila si Aki ini..! Enaks banget..!’ seru bathin Marini. Marini terbelalak takjub, merasakan kenikmatan puncak yang belum pernah dirasakan senikmat permainan Ki Suwita. Dua kali sudah Marini mencapai kenikmatan klimaksnya, hingga..“Marini ohhks..! Aki sampai nihhs..! Akhss..!” pancaran air kenikmatan dari Ki Suwita begitu deras dirasa Marini. Tubuhnya mengejang dan menekan h
“Brengsek memang dia..!” maki Barja pada Marini. “Ok Barja. Beritahu aku secepatnya, jika Marini hendak berangkat ke Jakarta ya,” ucap Rasto. “Baik Rasto. Terimakasih sobat,” ucap Barja mengakhiri percakapannya. Klik.! Barja bergegas memakai kembali baju yang tadi di pakainya berangkat ke Toko. Dia pun membereskan alat make up Marini, yang tercecer di lantai kamarnya. Lalu meletakkan kembali ponsel Marini pada tempatnya semula. Dan Barja pun kembali keluar rumah dengan Fortuner miliknya. Barja berniat datang ke rumah ibu Sekar. Bermaksud untuk meminta maaf pada Sekar dan ibunya. Dia juga berniat menceritakan semua tindak tanduk Marini, yang berencana membunuhnya setelah menyingkirkan Sekar dari rumahnya. Tak lama kemudian Barja sampai di depan rumah ibu Sekar. Dia memarkirkan mobilnya di tepi jalan, karena halaman rumah ibu Sekar tak cukup luas untuk parkir mobilnya. Barja juga meihat sebuah motor sport biru terparkir di halaman rumah ibu Sekar. ‘Milik siapa motor itu..? Ak
"Hahh..! K-kamu pengendara motor yang mogok di jalan kemarin kan.?!” seru Barja yang kaget saat melihat Elang. “Benar Kang Barja, kemarin saya mencoba memagari Kang Barja dari pengaruh susuk Marini. Syukurlah akhirnya Kang Barja bisa berpikir sehat kembali saat tiba di rumah,” sahut Elang tersenyum. “Kapan dan dengan apa kamu memagari aku, Elang ?” tanya Barja, yang merasa Elang tak melakukan apa-apa padanya kemarin. “Saat saya memegang pundakmu Kang Barja,” sahut Elang tenang. “Dan saat ini, pagaran yang saya buat sedang di serang oleh sesuatu yang cukup mengerikkan Kang Barja. Apakah Marini tidak berada di rumah sekarang ?” tanya Elang. “Dia sudah keluar rumah sejak jam 8 pagi, dan belum pulang saat aku datang ke sini Elang,” jawab Barja agak bingung. “Hmm. Sepertinya dia pergi ke orang pintar yang memasang ‘susuk’nya. Dia bermaksud melenyapkan ‘pagaran’ yang saya buat pada Kang Barja. Apakah sekarang tubuh kang Barja seperti di tusuk-tusuk dengan hawa dingin ?” tanya Elang.
“Ahh, itu siasat yang bagus sekali kang Barja. Benar kata teman Kang Barja, jalankan saja rencana itu Kang Barja,” ucap Elang. “Baik Elang, akan kujalankan rencana itu. Kalau begitu saya pamit dulu,” ucap Barja. Usai berpamitan, Barja pun lalu beranjak menaiki mobilnya, untuk kembali ke rumahnya. *** Marini telah sampai di rumah, beberapa saat setelah Barja pergi ke rumah ibu Sekar. Dia benar-benar tak sadar, kalau Barja telah pulang ke rumah sebelumnya. Tiin.. Tiin..! Barja membunyikan klaksonnya di halaman rumah. Tak lama kemudian pintu rumahnya pun terbuka. Nampak Marini muncul dan tersenyum manis ke arahnya di depan pintu. ‘Huhh..! Senyummu palsu Marini..!’, maki kesal Barja, dalam hatinya. Barja turun dari mobilnya dan dia pun bersandiwara dengan membalas senyum Marini padanya. Barja membiarkan tangannya dicium oleh Marini, saat dia mau masuk ke dalam rumahnya. “Capek ya Kang Barja..?” tanya basa basi Marini, dia bermaksud mengetes reaksi Barja padanya. Ki Suwita ta
"Tak ada yang berlebihan, untuk nilai persaudaraan kita dan juga buatmu Elang. Uang 2 miliar masih terlalu sedikit, dibanding nilai persahabatan dan bantuanmu pada Paman, Elang. Terimalah dan pergunakan sebaik-baiknya dalam perantauanmu Elang,” ucap pak Bernard. “Baik Paman. Terimakasih,” ucap Elang terharu. “Baiklah Elang. Jagalah dirimu baik-baik di perantauan anakku. Dan cepatlah kembali jika sudah menemukan apa yang kau cari. Paman selalu berdo’a untukmu,” ucap Bernard. Klik.!Elang termenung sesaat, setelah menerima telepon dari pak Bernard, yang kini sudah dianggap Paman olehnya. Elang juga terpikir untuk mentranfer dana ke pantinya. Sebagai bukti rasa sayang dan terimakasih dirinya pada orang-orang panti, setelah urusannya di desa Gunungsari ini selesai. Elang sangat ingin, agar adik-adiknya bisa mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Dan tidak seperti dirinya, yang hanya tamatan SMA. ‘Akan kumasukkan uang 10 miliar rupiah pada rekening panti besok’, janji hat
Blarrgk..!!Dari bawah tubuh Elang melesat hawa pukulan jarak jauh. Hal yang membuat pasir pantai, yang tadi dipijak Elang terbongkar ke atas. Terkuak lubang seukuran tubuh manusia dewasa. Pasir pantai muncrat deras ke atas, lalu jatuh berhamburan. Taphh..! "Hahahaa..! Boleh juga kau anak muda..! Tapi jangan sebut Ki Suwita, jika kau bisa pergi dari sini hidup-hidup..!” seru Ki Suwita, yang mendarat mantap di tepi pantai. “Hahaa..! Apa keahlian lainmu selain membokong Pak Tua..?!” seru Elang sambil tertawa. “Hmm. Bocah sombong..!” dengus Ki Suwita marah. Seth..! Sosok Ki Suwita langsung melesat cepat ke arah Elang, sambil mengeluarkan jurus ‘Walet Merah Menyambar’ warisan ayahnya. Wesh.! ... Wersh.!! Tiga buah serangan langsung mengarah ke bagian mata, jantung, dan alat vital Elang. Dua tangan Ki Suwita membentuk seperti paruh burung, tangan kiri menyerang mata, tangan kanannya mengarah jantung, dan kaki kirinya menendang ke arah pangkal paha Elang. Cepat dan ganas sekali s
"Kang Elang masih akan menginap di sini besok kan..?” tanya Sekar. “Maaf, Mbak Sekar. Saya harus melanjutkan perantauan saya besok,” sahut Elang. “Kalau begitu, ini adalah malam terakhir kita Kang Elang sayang,” ucap Sekar sedih, sambil menarik lepas celana pendek dan celana dalam Elang dengan cekatan. “Akhs..! Mbak Sekar nakal,” lenguh Elang nikmat. Saat merasakan sesuatu yang kesat, hangat, dan basah, menyapu dan melumat ‘milik’nya dengan lembut. Pada akhirnya Elang harus kembali melayani Sekar, yang bagai kuda binal lepas dari kandangnya malam itu. Berkali-kali Sekar mengejang dan berdesah keras tertahan, karena takut terdengar oleh ibunya. “Akhs..! Kang E..lang, kenapa makin lama makin e..nakss..oughh..!” erang terbata Sekar. Saat kembali tubuh Sekar yang berada di atas Elang bergoyang kencang. Beberapa bulir keringat nampak bergulir di dahinya. Terlihat seksi, saat Sekar sedang berusaha menahan rasa nikmat, yang seolah hendak jebol dari dalam bagian bawah tubuhnya. “Akkh
"Ayah. Dimana kamar yang pas buat Mas Elang beristirahat..? Dia pasti lelah dan ingin beristirahat setelah perjalanan panjangnya," tanya Keina. Wajah Keina terlihat gembira sekali, mengetahui akhirnya sang ayah menyukai dan mengagumi Elang. "Oh iya, maaf Elang. Saya sampai lupa menyambutmu. Keina antarkan Elang ke kamar tamu sebelah kanan yang di tengah ya," perintah Hiroshi pada putrinya, seraya tersenyum. Hatinya merasa agak lebih tenang saat itu. Karena kabut yang menyelimuti kemelut di perusahaannya, kini perlahan telah terkuak. "Baik Ayah, terimakasih," Keina terlihat sangat senang. Ya, istilah kamar tamu 'sebelah kanan' artinya adalah Elang di anggap tamu terhormat. Dan jika di tempatkan di bagian tengah, itu artinya status Elang di mata Hiroshi adalah 'tamu kehormatan keluarga'. Hal inilah yang menyebabkan wajah Keina terlihat sangat gembira. "Mari Mas Elang. Keina antar ke kamar Mas Elang," ajak Keina dengan wajah senang. "Baik Keina. Terimakasih Pak Hiroshi," Elang m
"Pak Kimura, semua persoalan pasti ada jalan keluarnya. Tenanglah, alat sadap di tubuh Bapak sudah saya lumpuhkan. Kita bisa bicara bebas sekarang," Elang berkata dengan nada pelan namun tegas. "A-apa..?! Apa maksudmu anak muda..?!" seru Kimura gugup dan kaget. Walau dia mengetahui di tubuhnya ada alat penyadap, tapi dia sendiri tak tahu dibagian tubuh yang mana alat penyadap itu dipasang oleh Shaburo cs. Shaburo hanya berpesan keras agar dia tak macam-macam. Karena di tubuhnya terpasang alat penyadap, pada saat dia hendak berangkat ke rumah Hiroshi tadi. 'Bagaimana pemuda ini bisa mengetahuinya?' bathinnya bingung dan kaget. "Elang..! Jangan kurang ajar dengan sahabatku..!" seru Hiroshi menggelegar marah. Namun dia sendiri sebenarnya kaget dan bingung, dengan ekspresi Kimura yang seolah kaget dan gugup. Tapi sebagai sahabat lama Kimura, tentu saja dia harus mengingatkan Elang. Agar Elang berlaku sopan, pada sahabatnya yang lebih tua. "Mas E-elang.." ucap Keina resah dan panik.
'Akhirnya sampai', bathin Elang, saat pesawat baru saja selesai melakukan 'landing' di Kansai International Airport, Osaka. Elang beranjak turun dari pesawat, dan langsung melangkah menuju lobi kedatangan/keluar bandara Kansai. Baru saja Elang memasuki area lobi kedatangan, "Mas Elanng..!" seru Keina gembira, seraya melambaikan tangannya ke arah Elang. "Keina," balas Elang tersenyum memanggil, sambil melambaikan tangannya. Elang berjalan menghampiri Keina, yang terlihat di dampingi dua pengawal berjas hitam di kiri kanannya. Keina tak dapat menahan diri dari rasa rindu dan gembiranya, karena bertemu kembali dengan Elang. Dia pun langsung menubruk dan memeluk Elang erat. "Mas Elang, Keina rindu.." desah Keina di dada Elang. "Kamu makin cantik Keina," puji Elang tulus, sambil menatap penampilan Keina saat itu. Keina memakai kaos panjang agak longgar berwarna krem muda, dan bawahan crlana katun yang juga longgar. Penampilan yang casual dengan rambut terurai lepas. "Ahh, Mas Elan
"Hah..! Mas Permadi, apakah ini tidak terlalu banyak..?!" Shara berseru kaget, saat menerima dua gepok uang merah berjumlah 100 juta itu. Tapi di sisi lain hatinya terharu senang. Karena selama dia menjadi istri muda Ramses, paling banter dia hanya di pegangkan uang 10-20 juta. Jika dia hendak pergi berbelanja, untuk keperluan dirinya dan rumah. Namun Permadi langsung memberinya kepercayaan memegang uang sebanyak itu, hanya untuk jatah sekali mereka belanja bersama. Wanita mana yang tak 'langsung' lumer dibuatnya.?! "Peganglah Shara itu hakmu. Mulai saat ini tiap bulan kau menerima 100 juta dariku, kelolalah dengan baik," ucap Permadi tenang. Bagi Permadi, uang sebesar itu tak ada artinya. Karena dia sendiri telah berhitung dengan uang yang akan mengalir ke kas GASStreet, setelah dia menjalankan rencananya. Ya, GASStreet akan diubahnya menjadi gank motor, dengan modus kejahatan yang terencana dan terkoordinasi rapih. Tentunya di bawah pimpinan dan arahan langsung darinya.
"Hahh..! Mas Permadi, apakah ini tidak terlalu banyak..?!" Shara berseru kaget, saat menerima dua gepok uang merah berjumlah 100 juta itu. Tapi di sisi lain hatinya terharu senang. Karena selama dia menjadi istri muda Ramses, paling banter dia hanya di pegangkan uang 10-20 juta. Jika dia hendak pergi berbelanja, untuk keperluan dirinya dan rumah. Namun Permadi langsung memberinya kepercayaan memegang uang sebanyak itu, hanya untuk jatah sekali mereka belanja bersama. Wanita mana yang tak 'langsung' lumer dibuatnya.?! "Peganglah Shara itu hakmu. Mulai saat ini tiap bulan kau menerima 100 juta dariku, kelolalah dengan baik," ucap Permadi tenang. Bagi Permadi, uang sebesar itu tak ada artinya. Karena dia sendiri telah berhitung dengan uang yang akan mengalir ke kas GASStreet, setelah dia menjalankan rencananya. Ya, GASStreet akan diubahnya menjadi gank motor, dengan modus kejahatan yang terencana dan terkoordinasi rapih. Tentunya di bawah pimpinan dan arahan langsung darinya. Perm
Ya, jejak energi Elang pastilah terendus, oleh orang berkemampuan 'khusus' seperti Permadi. Terlebih Reva telah beberapa kali 'berhubungan intim' dengan Elang. Maka tak ayal lagi, 'energi Elang' nampak sangat jelas di mata Permadi. Reva mengemudikan BMW hitamnya dengan kecepatan sedang. Dia tak sadar sebuah motor sport merah milik Permadi tengah membuntuti ketat mobilnya. Hingga akhirnya kembali mobilnya berhenti, karena rambu merah di sebuah pertigaan jalan. Dan di sebelah mobil Reva, turut berhenti mobil Compass hitam berplat merah. "Hai Reva..! Panjang umur kau..!" jendela mobil Compass itu terbuka, nampak tersenyum seorang berseragam polisi ke arah Reva. "Hai Pak Ahmad..! Mau kemana..?!" seru Reva, balas tersenyum pada sang polisi. "Ke rumahmu Reva..! Saya mau bicara soal kasus Dean itu," sahut AKP Ahmad. "Ok, kita ke rumah sekarang Pak," ajak Reva, dia langsung melajukan mobilnya mendahului Ahmad. Ahmad dengan Compass hitamnya pun langsung membuntuti mobil Reva. Melihat
'Jadi konspirasi pihak mana ini semua? Mengapa cara bermain mereka terlalu kejam dan kasar..?!' demikianlah pertanyaan keras dalam benak Hiroshi, yang juga belum mendapatkan jawaban. 'Dan ninja hebat mana yang bisa menerobos pertahanan gerbang rumahnya..? Padahal rumahnya dijaga para samurai siang malam. Namun mereka bisa menyusup sampai ke teras rumahnya, dan meletakkan begitu saja pakaian ninja merah yang telah tewas saat diutusnya..?' bathin Hiroshi bertambah resah. 'Ini berarti aku sedang berhadapan dengan konspirasi pihak-pihak musuh yang sangat kuat', bathin Hiroshi menyimpulkan. Perlahan Hiroshi mendekat ke sebuah lemari antik di kamar pribadinya. Lalu ditekannya sebuah tombol di balik vas antik jaman dinasti Ming, yang bernilai ratusan miliar rupiah. Klikh! Slakhh..! Slakh..! Srrrekkhh...!Lemari hias itu pun terbelah menjadi dua, dan bergeser ke kiri dan kanan. Kini terbukalah lorong di balik lemari itu. Hiroshi masuk ke dalamnya, dan kembali menekan sebuah tombol di k
"Rodent..! Gunakan uang itu untuk bersenang-senang bersama yang lain.! Pergilah..!" Permadi berkata pelan dan tegas. "Baik Bos..! Bro semuanya..! Ucapkan terimakasih pada Bos Permadi..! Sebelum kita semua bersenang-senang..!" seru si Rodent, dengan nada keren dan bersemangat. "Makasih Boss...!!!" teriak semuanya serentak dan bersemangat. Ya, mereka semua paham kini, Rodent sudah memegang dana untuk mereka bersenang-senang, dari bos baru mereka. "Pergilah bersenang-senang..!" Permadi berseru sambil melambaikan tangannya. "Rodent..! Sebentar..!" Permadi memanggil Rodent, karena dia terlupa sesuatu. "Ya Bos," Rodent mendekat. "Kamu jelaskan pada istri muda bekas Bosmu itu. Bahwa sekarang aku pemilik rumah ini..!" perintah Permadi. "Baik Bos..!" Rodent segera beranjak mengetuk pintu rumah. Tokk, tok, tokk..! Klek.! "Masuk saja Tuan Rodent," sapa sang pelayan rumah, saat melihat siapa yang mengetuk pintu. Sejak tadi sebenarnya orang-orang di dalam rumah sudah mendengar, soal ra
Setthh..! Kraghh..!! Dua tangan Permadi bergerak secepat kilat, mematahkan lengan kiri Ramses yang tertembus peluru itu. "AaRrkhs..!!" teriakkan kesakitan Ramses terdengar bergema, di keheningan dini hari itu. Sungguh sakitnya nggak abis-abis. "Kamu pemimpin mereka semua..?" tanya Permadi tenang, dingin tanpa ekspresi. Ramses yang sedang dalam perjuangan menahan rasa sakit, hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil meringis. "Kalau begitu berikan kata sandi ponselmu, dan pin ATM milikmu..!" seru Permadi, sudah terbersit sebuah rencana di kepalanya. Melihat Ramses masih diam, seolah menolak permintaannya, maka.. Sethh..!! Klekkh..!! Jari Permadi bergerak cepat menarik telapak tangan Ramses, dan langsung mematahkan jari kelingkingnya. "Aarrkhgs..!!" kembali teriakkan bariton Ramses bergema, di tengah jalan yang sepi. Semua anggota genk yang lainnya hanya tertunduk pucat di tempatnya masing-masing. Tiada yang berani bersuara apalagi bergerak sedikitpun. Permadi bagai jelmaan