Home / Urban / Sang PENEMBUS Batas / Bab 054. SARAN SEORANG SAHABAT

Share

Bab 054. SARAN SEORANG SAHABAT

Author: BayS
last update Last Updated: 2025-02-15 12:26:06

Dan permainan sang dukun nakal pun dimulai. Dengan cepat Ki Suwita membuka pakaiannya hingga polos.

"Aihh..!" Marini pun terperangah kaget. Melihat terong Ki Suwita yang nampak masih kokoh dan panjang , seolah mengintimidasinya

Ukurannya bahkan melebihi milik kang Jaka. Perlahan Marini membuka pakaiannya.

Karena tak sabar, Ki Suwita membantu melucuti Marini hingga polos.

Selanjutnya Marini benar-benar dibikin megap-megap, dan merintih tak karuan. Merasakan kepiawaian teknik bercinta Ki Suwita. Hingga...

“Akhss Kii...! Oughss..!” desah nikmat Marini, tubuhnya mengejang dalam layangan rasa nikmat tak bertepi.

'Gila si Aki ini..! Enaks banget..!’ seru bathin Marini.

Marini terbelalak takjub, merasakan kenikmatan puncak yang belum pernah dirasakan senikmat permainan Ki Suwita.

Dua kali sudah Marini mencapai kenikmatan klimaksnya, hingga..

“Marini ohhks..! Aki sampai nihhs..! Akhss..!” pancaran air kenikmatan dari Ki Suwita begitu deras dirasa Marini. Tubuhnya mengejang dan menekan h
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
FrismaMungil
yaahh bersambung bos ku lagi enaksssss" baca juga wkwkkkkk
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 055. DATANG DAN MINTA MAAF

    “Brengsek memang dia..!” maki Barja pada Marini. “Ok Barja. Beritahu aku secepatnya, jika Marini hendak berangkat ke Jakarta ya,” ucap Rasto. “Baik Rasto. Terimakasih sobat,” ucap Barja mengakhiri percakapannya. Klik.! Barja bergegas memakai kembali baju yang tadi di pakainya berangkat ke Toko. Dia pun membereskan alat make up Marini, yang tercecer di lantai kamarnya. Lalu meletakkan kembali ponsel Marini pada tempatnya semula. Dan Barja pun kembali keluar rumah dengan Fortuner miliknya. Barja berniat datang ke rumah ibu Sekar. Bermaksud untuk meminta maaf pada Sekar dan ibunya. Dia juga berniat menceritakan semua tindak tanduk Marini, yang berencana membunuhnya setelah menyingkirkan Sekar dari rumahnya. Tak lama kemudian Barja sampai di depan rumah ibu Sekar. Dia memarkirkan mobilnya di tepi jalan, karena halaman rumah ibu Sekar tak cukup luas untuk parkir mobilnya. Barja juga meihat sebuah motor sport biru terparkir di halaman rumah ibu Sekar. ‘Milik siapa motor itu..? Ak

    Last Updated : 2025-02-15
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 056. TANTANGAN DUEL

    "Hahh..! K-kamu pengendara motor yang mogok di jalan kemarin kan.?!” seru Barja yang kaget saat melihat Elang. “Benar Kang Barja, kemarin saya mencoba memagari Kang Barja dari pengaruh susuk Marini. Syukurlah akhirnya Kang Barja bisa berpikir sehat kembali saat tiba di rumah,” sahut Elang tersenyum. “Kapan dan dengan apa kamu memagari aku, Elang ?” tanya Barja, yang merasa Elang tak melakukan apa-apa padanya kemarin. “Saat saya memegang pundakmu Kang Barja,” sahut Elang tenang. “Dan saat ini, pagaran yang saya buat sedang di serang oleh sesuatu yang cukup mengerikkan Kang Barja. Apakah Marini tidak berada di rumah sekarang ?” tanya Elang. “Dia sudah keluar rumah sejak jam 8 pagi, dan belum pulang saat aku datang ke sini Elang,” jawab Barja agak bingung. “Hmm. Sepertinya dia pergi ke orang pintar yang memasang ‘susuk’nya. Dia bermaksud melenyapkan ‘pagaran’ yang saya buat pada Kang Barja. Apakah sekarang tubuh kang Barja seperti di tusuk-tusuk dengan hawa dingin ?” tanya Elang.

    Last Updated : 2025-02-16
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 057. TAHAN EMOSI DAN PERSIAPAN

    “Ahh, itu siasat yang bagus sekali kang Barja. Benar kata teman Kang Barja, jalankan saja rencana itu Kang Barja,” ucap Elang. “Baik Elang, akan kujalankan rencana itu. Kalau begitu saya pamit dulu,” ucap Barja. Usai berpamitan, Barja pun lalu beranjak menaiki mobilnya, untuk kembali ke rumahnya. *** Marini telah sampai di rumah, beberapa saat setelah Barja pergi ke rumah ibu Sekar. Dia benar-benar tak sadar, kalau Barja telah pulang ke rumah sebelumnya. Tiin.. Tiin..! Barja membunyikan klaksonnya di halaman rumah. Tak lama kemudian pintu rumahnya pun terbuka. Nampak Marini muncul dan tersenyum manis ke arahnya di depan pintu. ‘Huhh..! Senyummu palsu Marini..!’, maki kesal Barja, dalam hatinya. Barja turun dari mobilnya dan dia pun bersandiwara dengan membalas senyum Marini padanya. Barja membiarkan tangannya dicium oleh Marini, saat dia mau masuk ke dalam rumahnya. “Capek ya Kang Barja..?” tanya basa basi Marini, dia bermaksud mengetes reaksi Barja padanya. Ki Suwita ta

    Last Updated : 2025-02-16
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 058. DATANG DAN HARAPAN

    "Tak ada yang berlebihan, untuk nilai persaudaraan kita dan juga buatmu Elang. Uang 2 miliar masih terlalu sedikit, dibanding nilai persahabatan dan bantuanmu pada Paman, Elang. Terimalah dan pergunakan sebaik-baiknya dalam perantauanmu Elang,” ucap pak Bernard. “Baik Paman. Terimakasih,” ucap Elang terharu. “Baiklah Elang. Jagalah dirimu baik-baik di perantauan anakku. Dan cepatlah kembali jika sudah menemukan apa yang kau cari. Paman selalu berdo’a untukmu,” ucap Bernard. Klik.!Elang termenung sesaat, setelah menerima telepon dari pak Bernard, yang kini sudah dianggap Paman olehnya. Elang juga terpikir untuk mentranfer dana ke pantinya. Sebagai bukti rasa sayang dan terimakasih dirinya pada orang-orang panti, setelah urusannya di desa Gunungsari ini selesai. Elang sangat ingin, agar adik-adiknya bisa mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Dan tidak seperti dirinya, yang hanya tamatan SMA. ‘Akan kumasukkan uang 10 miliar rupiah pada rekening panti besok’, janji hat

    Last Updated : 2025-02-16
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 059. MAUT DI PANTAI KARANGSONG

    Blarrgk..!!Dari bawah tubuh Elang melesat hawa pukulan jarak jauh. Hal yang membuat pasir pantai, yang tadi dipijak Elang terbongkar ke atas. Terkuak lubang seukuran tubuh manusia dewasa. Pasir pantai muncrat deras ke atas, lalu jatuh berhamburan. Taphh..! "Hahahaa..! Boleh juga kau anak muda..! Tapi jangan sebut Ki Suwita, jika kau bisa pergi dari sini hidup-hidup..!” seru Ki Suwita, yang mendarat mantap di tepi pantai. “Hahaa..! Apa keahlian lainmu selain membokong Pak Tua..?!” seru Elang sambil tertawa. “Hmm. Bocah sombong..!” dengus Ki Suwita marah. Seth..! Sosok Ki Suwita langsung melesat cepat ke arah Elang, sambil mengeluarkan jurus ‘Walet Merah Menyambar’ warisan ayahnya. Wesh.! ... Wersh.!! Tiga buah serangan langsung mengarah ke bagian mata, jantung, dan alat vital Elang. Dua tangan Ki Suwita membentuk seperti paruh burung, tangan kiri menyerang mata, tangan kanannya mengarah jantung, dan kaki kirinya menendang ke arah pangkal paha Elang. Cepat dan ganas sekali s

    Last Updated : 2025-02-17
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 060. MALAM TERAKHIR

    "Kang Elang masih akan menginap di sini besok kan..?” tanya Sekar. “Maaf, Mbak Sekar. Saya harus melanjutkan perantauan saya besok,” sahut Elang. “Kalau begitu, ini adalah malam terakhir kita Kang Elang sayang,” ucap Sekar sedih, sambil menarik lepas celana pendek dan celana dalam Elang dengan cekatan. “Akhs..! Mbak Sekar nakal,” lenguh Elang nikmat. Saat merasakan sesuatu yang kesat, hangat, dan basah, menyapu dan melumat ‘milik’nya dengan lembut. Pada akhirnya Elang harus kembali melayani Sekar, yang bagai kuda binal lepas dari kandangnya malam itu. Berkali-kali Sekar mengejang dan berdesah keras tertahan, karena takut terdengar oleh ibunya. “Akhs..! Kang E..lang, kenapa makin lama makin e..nakss..oughh..!” erang terbata Sekar. Saat kembali tubuh Sekar yang berada di atas Elang bergoyang kencang. Beberapa bulir keringat nampak bergulir di dahinya. Terlihat seksi, saat Sekar sedang berusaha menahan rasa nikmat, yang seolah hendak jebol dari dalam bagian bawah tubuhnya. “Akkh

    Last Updated : 2025-02-17
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 061. ON THE ROAD

    "Sekar jangan begitu. Jangan memaksakan kehendakmu pada Barja, jika kau akan kembali padanya. Ibu sungguh tak apa-apa tinggal sendiri, asalkan kalian baik-baik saja. Dan ingat, jangan sampai peristiwa seperti kemarin terulang lagi,” ucap sang ibu, dia tak ingin Barja menerimanya karena terpaksa. “Saya rasa hari ini semua masalah dalam rumah tangga Mbak Sekar akan terpecahkan. Dan saya merasa ikut gembira karenanya. Namun perantauan saya masih jauh dan panjang. Untuk itu saya mohon pamit pada Ibu dan juga Mbak Sekar. Saya akan melanjutkan perjalanan saya kembali,” ucap Elang dengan sopan. Sang ibu dan Sekar sontak terdiam, sesungguhnya dalam hati mereka merasa berat melepaskan Elang pergi. Setelah banyak jasa dan kebaikkan Elang, yang telah ditanam untuk mereka berdua. Namun mereka berdua sadar, setiap perjumpaan pasti ada perpisahan. “Baiklah jika memang itu keinginanmu Elang. Ibu tak bisa menahanmu. Terimakasih atas segala bantuan dan pertolonganmu pada kami Elang. Yang past

    Last Updated : 2025-02-17
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 062. DUA ANAK TERLANTAR

    Seorang lelaki kecil usia belasan, nampak tengah menggendong seorang anak perempuan di tepi jalan raya. Usia anak perempuan yang digendong itu sekitar 5 tahunan. Wajah anak lelaki itu terlihat sangat lelah dan penat, di terpa matahari senja di kota Gombong. Keringat juga tercetak di bajunya yang lusuh. Kakinya pun menapak tanpa alas di trotoar jalan, yang masih terasa hangat akibat terik di siang hari tadi. “Kita mau ke mana lagi Mas?” tanya Dila, sang adik yang digendongnya. “Mas sendiri nggak tahu Dek. Kita jalan saja mencari warung makan ya,” sahut sang kakak, dengan wajah agak bingung. Ya, sudah hampir 3 hari ini mereka berdua berjalan. Meninggalkan gubuk yang selama ini mereka tempati bersama ibu mereka, di wilayah Purworejo. Setelah ibu mereka meninggal 4 hari yang lalu, akibat penyakit paru-paru yang dideritanya. Maka mereka berdua benar-benar bagai anak ayam kehilangan induk. Bapak mereka bahkan telah mendahului meninggal dunia, tiga tahun yang lalu. Kini mereka adala

    Last Updated : 2025-02-17

Latest chapter

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 219.

    "Ayah. Dimana kamar yang pas buat Mas Elang beristirahat..? Dia pasti lelah dan ingin beristirahat setelah perjalanan panjangnya," tanya Keina. Wajah Keina terlihat gembira sekali, mengetahui akhirnya sang ayah menyukai dan mengagumi Elang. "Oh iya, maaf Elang. Saya sampai lupa menyambutmu. Keina antarkan Elang ke kamar tamu sebelah kanan yang di tengah ya," perintah Hiroshi pada putrinya, seraya tersenyum. Hatinya merasa agak lebih tenang saat itu. Karena kabut yang menyelimuti kemelut di perusahaannya, kini perlahan telah terkuak. "Baik Ayah, terimakasih," Keina terlihat sangat senang. Ya, istilah kamar tamu 'sebelah kanan' artinya adalah Elang di anggap tamu terhormat. Dan jika di tempatkan di bagian tengah, itu artinya status Elang di mata Hiroshi adalah 'tamu kehormatan keluarga'. Hal inilah yang menyebabkan wajah Keina terlihat sangat gembira. "Mari Mas Elang. Keina antar ke kamar Mas Elang," ajak Keina dengan wajah senang. "Baik Keina. Terimakasih Pak Hiroshi," Elang m

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 218.

    "Pak Kimura, semua persoalan pasti ada jalan keluarnya. Tenanglah, alat sadap di tubuh Bapak sudah saya lumpuhkan. Kita bisa bicara bebas sekarang," Elang berkata dengan nada pelan namun tegas. "A-apa..?! Apa maksudmu anak muda..?!" seru Kimura gugup dan kaget. Walau dia mengetahui di tubuhnya ada alat penyadap, tapi dia sendiri tak tahu dibagian tubuh yang mana alat penyadap itu dipasang oleh Shaburo cs. Shaburo hanya berpesan keras agar dia tak macam-macam. Karena di tubuhnya terpasang alat penyadap, pada saat dia hendak berangkat ke rumah Hiroshi tadi. 'Bagaimana pemuda ini bisa mengetahuinya?' bathinnya bingung dan kaget. "Elang..! Jangan kurang ajar dengan sahabatku..!" seru Hiroshi menggelegar marah. Namun dia sendiri sebenarnya kaget dan bingung, dengan ekspresi Kimura yang seolah kaget dan gugup. Tapi sebagai sahabat lama Kimura, tentu saja dia harus mengingatkan Elang. Agar Elang berlaku sopan, pada sahabatnya yang lebih tua. "Mas E-elang.." ucap Keina resah dan panik.

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 217.

    'Akhirnya sampai', bathin Elang, saat pesawat baru saja selesai melakukan 'landing' di Kansai International Airport, Osaka. Elang beranjak turun dari pesawat, dan langsung melangkah menuju lobi kedatangan/keluar bandara Kansai. Baru saja Elang memasuki area lobi kedatangan, "Mas Elanng..!" seru Keina gembira, seraya melambaikan tangannya ke arah Elang. "Keina," balas Elang tersenyum memanggil, sambil melambaikan tangannya. Elang berjalan menghampiri Keina, yang terlihat di dampingi dua pengawal berjas hitam di kiri kanannya. Keina tak dapat menahan diri dari rasa rindu dan gembiranya, karena bertemu kembali dengan Elang. Dia pun langsung menubruk dan memeluk Elang erat. "Mas Elang, Keina rindu.." desah Keina di dada Elang. "Kamu makin cantik Keina," puji Elang tulus, sambil menatap penampilan Keina saat itu. Keina memakai kaos panjang agak longgar berwarna krem muda, dan bawahan crlana katun yang juga longgar. Penampilan yang casual dengan rambut terurai lepas. "Ahh, Mas Elan

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 216.

    "Hah..! Mas Permadi, apakah ini tidak terlalu banyak..?!" Shara berseru kaget, saat menerima dua gepok uang merah berjumlah 100 juta itu. Tapi di sisi lain hatinya terharu senang. Karena selama dia menjadi istri muda Ramses, paling banter dia hanya di pegangkan uang 10-20 juta. Jika dia hendak pergi berbelanja, untuk keperluan dirinya dan rumah. Namun Permadi langsung memberinya kepercayaan memegang uang sebanyak itu, hanya untuk jatah sekali mereka belanja bersama. Wanita mana yang tak 'langsung' lumer dibuatnya.?! "Peganglah Shara itu hakmu. Mulai saat ini tiap bulan kau menerima 100 juta dariku, kelolalah dengan baik," ucap Permadi tenang. Bagi Permadi, uang sebesar itu tak ada artinya. Karena dia sendiri telah berhitung dengan uang yang akan mengalir ke kas GASStreet, setelah dia menjalankan rencananya. Ya, GASStreet akan diubahnya menjadi gank motor, dengan modus kejahatan yang terencana dan terkoordinasi rapih. Tentunya di bawah pimpinan dan arahan langsung darinya.

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 215.

    "Hahh..! Mas Permadi, apakah ini tidak terlalu banyak..?!" Shara berseru kaget, saat menerima dua gepok uang merah berjumlah 100 juta itu. Tapi di sisi lain hatinya terharu senang. Karena selama dia menjadi istri muda Ramses, paling banter dia hanya di pegangkan uang 10-20 juta. Jika dia hendak pergi berbelanja, untuk keperluan dirinya dan rumah. Namun Permadi langsung memberinya kepercayaan memegang uang sebanyak itu, hanya untuk jatah sekali mereka belanja bersama. Wanita mana yang tak 'langsung' lumer dibuatnya.?! "Peganglah Shara itu hakmu. Mulai saat ini tiap bulan kau menerima 100 juta dariku, kelolalah dengan baik," ucap Permadi tenang. Bagi Permadi, uang sebesar itu tak ada artinya. Karena dia sendiri telah berhitung dengan uang yang akan mengalir ke kas GASStreet, setelah dia menjalankan rencananya. Ya, GASStreet akan diubahnya menjadi gank motor, dengan modus kejahatan yang terencana dan terkoordinasi rapih. Tentunya di bawah pimpinan dan arahan langsung darinya. Perm

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 214.

    Ya, jejak energi Elang pastilah terendus, oleh orang berkemampuan 'khusus' seperti Permadi. Terlebih Reva telah beberapa kali 'berhubungan intim' dengan Elang. Maka tak ayal lagi, 'energi Elang' nampak sangat jelas di mata Permadi. Reva mengemudikan BMW hitamnya dengan kecepatan sedang. Dia tak sadar sebuah motor sport merah milik Permadi tengah membuntuti ketat mobilnya. Hingga akhirnya kembali mobilnya berhenti, karena rambu merah di sebuah pertigaan jalan. Dan di sebelah mobil Reva, turut berhenti mobil Compass hitam berplat merah. "Hai Reva..! Panjang umur kau..!" jendela mobil Compass itu terbuka, nampak tersenyum seorang berseragam polisi ke arah Reva. "Hai Pak Ahmad..! Mau kemana..?!" seru Reva, balas tersenyum pada sang polisi. "Ke rumahmu Reva..! Saya mau bicara soal kasus Dean itu," sahut AKP Ahmad. "Ok, kita ke rumah sekarang Pak," ajak Reva, dia langsung melajukan mobilnya mendahului Ahmad. Ahmad dengan Compass hitamnya pun langsung membuntuti mobil Reva. Melihat

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 213.

    'Jadi konspirasi pihak mana ini semua? Mengapa cara bermain mereka terlalu kejam dan kasar..?!' demikianlah pertanyaan keras dalam benak Hiroshi, yang juga belum mendapatkan jawaban. 'Dan ninja hebat mana yang bisa menerobos pertahanan gerbang rumahnya..? Padahal rumahnya dijaga para samurai siang malam. Namun mereka bisa menyusup sampai ke teras rumahnya, dan meletakkan begitu saja pakaian ninja merah yang telah tewas saat diutusnya..?' bathin Hiroshi bertambah resah. 'Ini berarti aku sedang berhadapan dengan konspirasi pihak-pihak musuh yang sangat kuat', bathin Hiroshi menyimpulkan. Perlahan Hiroshi mendekat ke sebuah lemari antik di kamar pribadinya. Lalu ditekannya sebuah tombol di balik vas antik jaman dinasti Ming, yang bernilai ratusan miliar rupiah. Klikh! Slakhh..! Slakh..! Srrrekkhh...!Lemari hias itu pun terbelah menjadi dua, dan bergeser ke kiri dan kanan. Kini terbukalah lorong di balik lemari itu. Hiroshi masuk ke dalamnya, dan kembali menekan sebuah tombol di k

  • Sang PENEMBUS Batas   212.

    "Rodent..! Gunakan uang itu untuk bersenang-senang bersama yang lain.! Pergilah..!" Permadi berkata pelan dan tegas. "Baik Bos..! Bro semuanya..! Ucapkan terimakasih pada Bos Permadi..! Sebelum kita semua bersenang-senang..!" seru si Rodent, dengan nada keren dan bersemangat. "Makasih Boss...!!!" teriak semuanya serentak dan bersemangat. Ya, mereka semua paham kini, Rodent sudah memegang dana untuk mereka bersenang-senang, dari bos baru mereka. "Pergilah bersenang-senang..!" Permadi berseru sambil melambaikan tangannya. "Rodent..! Sebentar..!" Permadi memanggil Rodent, karena dia terlupa sesuatu. "Ya Bos," Rodent mendekat. "Kamu jelaskan pada istri muda bekas Bosmu itu. Bahwa sekarang aku pemilik rumah ini..!" perintah Permadi. "Baik Bos..!" Rodent segera beranjak mengetuk pintu rumah. Tokk, tok, tokk..! Klek.! "Masuk saja Tuan Rodent," sapa sang pelayan rumah, saat melihat siapa yang mengetuk pintu. Sejak tadi sebenarnya orang-orang di dalam rumah sudah mendengar, soal ra

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 211.

    Setthh..! Kraghh..!! Dua tangan Permadi bergerak secepat kilat, mematahkan lengan kiri Ramses yang tertembus peluru itu. "AaRrkhs..!!" teriakkan kesakitan Ramses terdengar bergema, di keheningan dini hari itu. Sungguh sakitnya nggak abis-abis. "Kamu pemimpin mereka semua..?" tanya Permadi tenang, dingin tanpa ekspresi. Ramses yang sedang dalam perjuangan menahan rasa sakit, hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil meringis. "Kalau begitu berikan kata sandi ponselmu, dan pin ATM milikmu..!" seru Permadi, sudah terbersit sebuah rencana di kepalanya. Melihat Ramses masih diam, seolah menolak permintaannya, maka.. Sethh..!! Klekkh..!! Jari Permadi bergerak cepat menarik telapak tangan Ramses, dan langsung mematahkan jari kelingkingnya. "Aarrkhgs..!!" kembali teriakkan bariton Ramses bergema, di tengah jalan yang sepi. Semua anggota genk yang lainnya hanya tertunduk pucat di tempatnya masing-masing. Tiada yang berani bersuara apalagi bergerak sedikitpun. Permadi bagai jelmaan

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status