Semua Bab Sang PENEMBUS Batas: Bab 31 - Bab 40

218 Bab

Bab 031. SEPUH DI BELAKANG BERNARD

"A-apa..?! Dipelet maksud Mas Elang..?!” seru tertahan Frisca, karena menyadari mereka berada di tempat publik. “Benar Frisca. Dan orang yang memelet Aldi, adalah dukun yang sama dengan yang mengirimkan santet Jala Neraka ke rumahmu,” ucap Elang. “Lalu apa hubungannya dengan wanita mrahan itu Mas Elang..?” tanya Frisca agak bingung. “Kemungkinan besar, wanita itu ada hubungannya dengan orang yang menyuruh dukun itu Frisca,” tebak Elang. “Dan jika benar Pak Hendi di belakang semua ini. Maka wanita itu pasti ada hubungannya dengan Pak Hendi. Benarkah begitu Mas..?” ucap Frisca. “Benar sekali Frisca,” sahut Elang. “Tapi aku tetap tak mau kembali pada Aldi..! Walau pun dia dalam keadaan tak sadar, saat bersama wanita murahan itu Mas Elang,” ucap Frisca keukeuh, terlihat wajahnya menjadi geram dan marah saat menyebut kedua orang itu. “Saat ini. Dukun itu pasti sudah menyadari, jika peletnya telah kumusnahkan dari tubuh Aldi. Dia pasti akan segera mendeteksi keberadaanku,” ucap Elan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-08
Baca selengkapnya

Bab 032. SIASAT JITU BERNARD

“Saya menduga kejadian ini semua, ada hubungannya dengan Pak Hendi, Pak Bernard. Adapun soal wanita lain yang dekat dengan Aldi, saya masih belum melihat hubungannya dengan masalah saya Pak Bernard. Sepertinya hal itu disengaja dilakukan, untuk merenggangkan hubungan kita Pak Bernard,” ucap Wahyu, mengemukakan dugaannya. Pak Bernard terdiam, logikanya berusaha menganalisa rangkaian kejadian yang akhir-akhir ini juga membingungkannya. Putranya Aldi memang jadi sering keluar malam pulang pagi, atau sebaliknya keluar pagi pulang malam belakangan ini. Dan dia juga sempat berkenalan dengan wanita itu. Saat wanita itu menjemput Aldi suatu pagi, dan dia berada di teras rumah. Namanya ‘Desi’ kalau dia tak salah ingat. Dan Bernard sendiri, yang memanggilkan Aldi saat itu. “Ahh. ! Video itu Pak Bernard..! Siapakah orang yang mengirimkan video saat kejadian Aldi itu Pak Bernard..?” tanya Wahyu, yang selalu penasaran dan bertanya-tanya tentang pengirim video itu. “Ahh, benar Pak Wahyu. Co
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-08
Baca selengkapnya

Bab 033. INTEROGASI DAN INTIMIDASI

“Mas Elang. Masuk saja ke dalam yuk. Ayah menunggu Mas Elang, untuk makan bersama,” ajak Frisca. Sejujurnya mereka berdua memang belum terlalu lapar. Karena mereka telah makan beberapa kue donat tadi di cafe. Namun Elang merasa tak enak, jika menolak ajakan dari pak Wahyu. Maka ia pun beranjak masuk ke dalam kamar. Tampak Ratna juga baru terbangun dari tidur siangnya, “Ehh, Ayah sudah pulang tho,” ucap istrinya. “Iya bu, kita makan bersama dulu yuk Bu,” ajak suaminya. “Hayuk Yah, kebetulan ibu sudah lapar,” sahut istrinya. “Ayo Elang, sini kita makan bareng,” ajak pak Wahyu, sambil menepuk karpet lantai di sebelahnya. “Iya Elang sini, jangan sungkan,” ucap bu Ratna. “Iya Pak, Bu, makasih,” ucap Elang sambil duduk di sebelah pak Wahyu. Siang itu mereka makan paket ayam crispy bersama. Suasana terasa hangat di sela obrolan santai mereka. Seolah masalah berat yang menghimpit mereka tak dirasakan saat itu. Usai makan Wahyu mengajak Elang berbicara di balkon kamar, “Elang, ber
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-09
Baca selengkapnya

Bab 034. MURKA KI PRAGOLA

“Amm..punn Pak Wahyu..! Saya akan bicara..! S-saya bicara..!!” ucap Rohim cepat, gugup, dan ketakutan. Keringat dingin sudah membasahi wajahnya. “Saya disuruh Pak Hendi untuk menghadang dan menghabisi Pak Wahyu..! Saya hanya orang suruhan Pak..! Ampuni kami Pak Wahyu..! Ampuunn..!” ucap Rohim memelas, seraya mengakui niat perbuatannya. Sementara tampak genangan air di lantai posko. Rupanya Barto terkencing di celana, saat melihat adegan menegangkan di depan matanya. 'To..Barto..! Orang yang mau di gunting, malah dia yang ngompol..! Hihihi..! Badan doang gede, nyali capung..!' bathin Rustam geli. “Sejak kapan kalian mengintai rumahku..?!” tanya pak wahyu. “Sudah beberapa hari ini Pak Wahyu,” sahut Rohim cepat. Setelah mendapat info hingga terang benderang. Sandi ponsel mereka berdua pun, tak lewat dari pertanyaan pak Wahyu. Bahkan Rohim mengaku tahu, kalau tuannya Hendi menggunakan jasa paranormal dari Sukabumi, bernama Ki Pragola. Kesemua pengakuan Rohim dan Barto terekam jela
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-09
Baca selengkapnya

Bab 035. JATI DIRI DAN PERSAHABATAN

Sraath..! Sosok Elang melesat cepat mengelilingi rumah pak Wahyu, dengan kecepatan yang sukar di ikuti oleh mata telanjang. Pak Wahyu dan lainnya yang berada dekat Elang, mereka hanya melihat tubuh Elang tiba-tiba lenyap. Taph..! Lalu dalam sekejapan saja, Elang sudah terlihat kembali di tempatnya. “Selesai. Kini rumah Pak Wahyu sudah aman, dari serangan mistis sekuat apapun,” ucap Elang. “Terimakasih Elang. Tanpa bantuanmu, kami pasti tak berdaya apa pun melawan kiriman orang jahat itu,” ucap pak Wahyu. “Sudahlah Pak Wahyu, saya hanya perantau yang kebetulan lewat, dan punya sedikit kemampuan untuk membantu,” ucap Elang sopan. Tinn..! Tinn..! Brrmm..! Blazer milik pak Bernard tiba di depan pintu gerbang rumah pak Wahyu, dan memberi tanda dengqn klaksonnya.“Pak Rustam, tolong bukakan pintu gerbangnya,” perintah pak Wahyu pada securitynya itu. Bergegas pak Rustam membukakan pintu gerbang, Blazer pak Bernard pun melaju masuk ke halaman rumah Wahyu. Klek.!Bernard turun dari
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-09
Baca selengkapnya

Bab 036. LEBURNYA TRISULA NERAKA

"Elang. Mulai saat ini, anggaplah aku adalah ayahmu Elang,” bisik pak Bernard serak, ‘Sukanta sobatku, putramu sudah kutemukan. Dia adalah putra yang gagah Sukanta. Tenanglah kau di sisi-Nya bersama Wulandari di sana’, bathin pak Bernard dengan tulus. “Ehem. Maaf, ada apa ya Pak Bernard, Elang..?” terdengar suara Wahyu, yang baru saja kembali dan merasa heran. Karena melihat Bernard dan Elang saling berangkulan. “Ohh, tak ada apa-apa Pak Wahyu. Saya hanya berterimakasih atas bantuan Elang, untuk putra saya,” sahut pak Bernard. Ya, Bernard merasa tak berhak membuka rahasia hidup Elang. 'Biarlah Elang yang bercerita sendiri, jika memang dirasa itu perlu', pikirnya. “Ohh. Kalau begitu mari kita makan malam dulu Pak Bernard, Elang. Saya membeli beberapa porsi sop iga sapi dan bakwan jagung, di warung makan depan hotel,” ucap pak Wahyu, sambil beranjak ke dapur rumah. Wahyu berinisiatif menyiapkan peralatan makan mereka malam ini. Akhirnya mereka pun makan malam bersama dengan nikm
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-10
Baca selengkapnya

Bab 037. TETAP BERKELANA

Splash..! Sukma Elang kini berdiri berhadapan dengan sukma Ki Pragola, di tengah-tengah halaman rumah Wahyu. Wahyu, Rustam, dan Bernard hanya bisa melihat tubuh Elang yang sedang bersila, di halaman seolah tak bernafas. Hati mereka merasa sangat cemas terhadap Elang. Namun mereka tak mau gegabah bertindak dan kesalahan tangan. “Kau benar-benar cari mati pemuda keparat..!” teriak sukma Ki Pragola murka. “Mati nggak usah dicari juga datang sendiri Pak Tua,” sahut sukma Elang kalem. Karuan sukma Ki Pragola tambah meledak, mendengar ucapan Elang yang dianggapnya meremehkan dirinya. “Keparat kau pemuda bau kunyit..! Sebentar lagi sukmamu akan terkoyak dengan aji macan silumanku ini..!” Ki Pragola berseru murka, sambil menerapkan aji macan siluman yang dimilikinya. Sukmanya tiba-tiba berubah menjadi macan hitam yang besar, dengan cakar dan gigi taring yang panjangnya melebihi leak Bali. Elang diam-diam menerapkan aji Lindu Sukma tingkat ke 4, dari 7 tingkatan pamungkas ilmu itu. S
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-10
Baca selengkapnya

Bab 038. RENCANA KEJUTAN

“Baiklah Elang. Bapak tak bisa memaksamu. Biarlah nanti bapak, yang akan coba mengurusnya untuk kamu. O iya Elang, nama panti asuhan kamu apa namanya..? Bapak mungkin akan pergi ke sana, dan bicara dengan pengelola panti asuhan tersebut,” tanya pak Bernard. “Panti asuhan ‘Harapan Bangsa’ namanya Pak Bernard, dan nama pengelolanya adalah Bu Nunik,” sahut Elang. Bernard mencatat baik-baik nama panti asuhan dan juga nama pengelolanya itu, dalam memo ponselnya. “O iya Elang. Dalam prosesnya nanti, mungkin bapak memerlukan nomor KTP dan juga nomor rekening bank kamu. Bisakah kau memberikannya pada bapak..?” tanya pak Bernard, dalam hatinya dia merencanakan sesuatu. “Bisa Pak Bernard,” sahut Elang, lalu ia menyebutkan data yang diminta oleh pak Bernard. Bernard pun lalu kembali mencatat data yang di sebutkan oleh Elang itu.Karena malam sudah terlalu larut, akhirnya Bernard memutuskan untuk pulang dan beristirahat di rumahnya. Sementara Elang tetap di rumah pak Wahyu, dan memilih ke
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-10
Baca selengkapnya

Bab 039. MENERAWANG SANG KEKASIH

“Asyik..! Terimakasih Mas Elang. Mas tunggu di sini ya. Biar Frisca ambil mobil dulu,” ucap Frisca riang. Mobil yaris berwarna merah meluncur keluar dari garasi, dan langsung menjemput Elang yang menunggu di posko satpam. Mereka pun langsung meluncur menuju ke daerah Petogogan, yang masih berada di wilayah Jakarta Selatan. Tak sampai 30 menit kemudian. Mobil Frisca masuk ke halaman parkir sebuah cafe, bernama ‘Kopi Kalyan’ di jalan Cikajang. Suasana cafe tak begitu ramai, saat Frisca dan Elang masuk ke dalamnya. Mereka mengambil meja yang berada di sudut ruang. Elang memesan kopi kalyan rasa pisang, sedangkan Frisca memesan Cafe latte, roti bakar, dan spaghetti carbonara, untuk mereka berdua. “Mas Elang. Apakah menurut Mas Elang hubungan Frisca dan Aldi bisa di teruskan..? Sejak semalam, Aldi terus menghubungi dan menchat Frisca. Dia merasa sangat menyesal dan meminta maaf pada Frisca,” tanya Frisca memulai percakapan. “Frisca, pertanyaanmu sudah masuk dalam ranah yang paling
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-11
Baca selengkapnya

Bab 040. HADIAH DAN PAMIT

'Hmm. Istriku ini memang wanita yang rajin di dapur, senang sekali dia memasak. Sungguh beruntung aku mendapatkannya’, bathin Wahyu bersyukur, sambil memandangi sosok istrinya. Ratna merasa ada yang memperhatikannya, maka ia pun menoleh ke arah suaminya, yang sedang menatap kagum padanya itu, “Aih, Ayah bikin kaget saja, tahu-tahu sudah di pintu dapur,” ucap bu Ratna. “Aroma masakanmu yang membuat ayah terbang kesini Bu,” puji pak Wahyu sambil tersenyum. “Selesai. Silahkan Ayah menunggu di meja makan. Sebentar lagi masakkan akan di hidangkan,” ucap sang istri, yang merasa puas masakannya telah matang sempurna. “Iya sayank,” ucap Wahyu sambil mengecup kening istrinya, sebagai tanda terimakasih. Tinn ! Tiinn ! Suara klakson mobil Frisca terdengar di depan teras rumah. Elang turun dari mobil tersebut, dan Frisca langsung memasukkan mobilnya ke garasi. Frisca segera turun menyusul Elang, yang sudah berada di teras rumah. Frisca langsung mengajak Elang masuk ke rumahnya, “Assalam
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-11
Baca selengkapnya
Sebelumnya
123456
...
22
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status