“Amm..punn Pak Wahyu..! Saya akan bicara..! S-saya bicara..!!” ucap Rohim cepat, gugup, dan ketakutan. Keringat dingin sudah membasahi wajahnya. “Saya disuruh Pak Hendi untuk menghadang dan menghabisi Pak Wahyu..! Saya hanya orang suruhan Pak..! Ampuni kami Pak Wahyu..! Ampuunn..!” ucap Rohim memelas, seraya mengakui niat perbuatannya. Sementara tampak genangan air di lantai posko. Rupanya Barto terkencing di celana, saat melihat adegan menegangkan di depan matanya. 'To..Barto..! Orang yang mau di gunting, malah dia yang ngompol..! Hihihi..! Badan doang gede, nyali capung..!' bathin Rustam geli. “Sejak kapan kalian mengintai rumahku..?!” tanya pak wahyu. “Sudah beberapa hari ini Pak Wahyu,” sahut Rohim cepat. Setelah mendapat info hingga terang benderang. Sandi ponsel mereka berdua pun, tak lewat dari pertanyaan pak Wahyu. Bahkan Rohim mengaku tahu, kalau tuannya Hendi menggunakan jasa paranormal dari Sukabumi, bernama Ki Pragola. Kesemua pengakuan Rohim dan Barto terekam jela
Sraath..! Sosok Elang melesat cepat mengelilingi rumah pak Wahyu, dengan kecepatan yang sukar di ikuti oleh mata telanjang. Pak Wahyu dan lainnya yang berada dekat Elang, mereka hanya melihat tubuh Elang tiba-tiba lenyap. Taph..! Lalu dalam sekejapan saja, Elang sudah terlihat kembali di tempatnya. “Selesai. Kini rumah Pak Wahyu sudah aman, dari serangan mistis sekuat apapun,” ucap Elang. “Terimakasih Elang. Tanpa bantuanmu, kami pasti tak berdaya apa pun melawan kiriman orang jahat itu,” ucap pak Wahyu. “Sudahlah Pak Wahyu, saya hanya perantau yang kebetulan lewat, dan punya sedikit kemampuan untuk membantu,” ucap Elang sopan. Tinn..! Tinn..! Brrmm..! Blazer milik pak Bernard tiba di depan pintu gerbang rumah pak Wahyu, dan memberi tanda dengqn klaksonnya.“Pak Rustam, tolong bukakan pintu gerbangnya,” perintah pak Wahyu pada securitynya itu. Bergegas pak Rustam membukakan pintu gerbang, Blazer pak Bernard pun melaju masuk ke halaman rumah Wahyu. Klek.!Bernard turun dari
"Elang. Mulai saat ini, anggaplah aku adalah ayahmu Elang,” bisik pak Bernard serak, ‘Sukanta sobatku, putramu sudah kutemukan. Dia adalah putra yang gagah Sukanta. Tenanglah kau di sisi-Nya bersama Wulandari di sana’, bathin pak Bernard dengan tulus. “Ehem. Maaf, ada apa ya Pak Bernard, Elang..?” terdengar suara Wahyu, yang baru saja kembali dan merasa heran. Karena melihat Bernard dan Elang saling berangkulan. “Ohh, tak ada apa-apa Pak Wahyu. Saya hanya berterimakasih atas bantuan Elang, untuk putra saya,” sahut pak Bernard. Ya, Bernard merasa tak berhak membuka rahasia hidup Elang. 'Biarlah Elang yang bercerita sendiri, jika memang dirasa itu perlu', pikirnya. “Ohh. Kalau begitu mari kita makan malam dulu Pak Bernard, Elang. Saya membeli beberapa porsi sop iga sapi dan bakwan jagung, di warung makan depan hotel,” ucap pak Wahyu, sambil beranjak ke dapur rumah. Wahyu berinisiatif menyiapkan peralatan makan mereka malam ini. Akhirnya mereka pun makan malam bersama dengan nikm
Splash..! Sukma Elang kini berdiri berhadapan dengan sukma Ki Pragola, di tengah-tengah halaman rumah Wahyu. Wahyu, Rustam, dan Bernard hanya bisa melihat tubuh Elang yang sedang bersila, di halaman seolah tak bernafas. Hati mereka merasa sangat cemas terhadap Elang. Namun mereka tak mau gegabah bertindak dan kesalahan tangan. “Kau benar-benar cari mati pemuda keparat..!” teriak sukma Ki Pragola murka. “Mati nggak usah dicari juga datang sendiri Pak Tua,” sahut sukma Elang kalem. Karuan sukma Ki Pragola tambah meledak, mendengar ucapan Elang yang dianggapnya meremehkan dirinya. “Keparat kau pemuda bau kunyit..! Sebentar lagi sukmamu akan terkoyak dengan aji macan silumanku ini..!” Ki Pragola berseru murka, sambil menerapkan aji macan siluman yang dimilikinya. Sukmanya tiba-tiba berubah menjadi macan hitam yang besar, dengan cakar dan gigi taring yang panjangnya melebihi leak Bali. Elang diam-diam menerapkan aji Lindu Sukma tingkat ke 4, dari 7 tingkatan pamungkas ilmu itu. S
“Baiklah Elang. Bapak tak bisa memaksamu. Biarlah nanti bapak, yang akan coba mengurusnya untuk kamu. O iya Elang, nama panti asuhan kamu apa namanya..? Bapak mungkin akan pergi ke sana, dan bicara dengan pengelola panti asuhan tersebut,” tanya pak Bernard. “Panti asuhan ‘Harapan Bangsa’ namanya Pak Bernard, dan nama pengelolanya adalah Bu Nunik,” sahut Elang. Bernard mencatat baik-baik nama panti asuhan dan juga nama pengelolanya itu, dalam memo ponselnya. “O iya Elang. Dalam prosesnya nanti, mungkin bapak memerlukan nomor KTP dan juga nomor rekening bank kamu. Bisakah kau memberikannya pada bapak..?” tanya pak Bernard, dalam hatinya dia merencanakan sesuatu. “Bisa Pak Bernard,” sahut Elang, lalu ia menyebutkan data yang diminta oleh pak Bernard. Bernard pun lalu kembali mencatat data yang di sebutkan oleh Elang itu.Karena malam sudah terlalu larut, akhirnya Bernard memutuskan untuk pulang dan beristirahat di rumahnya. Sementara Elang tetap di rumah pak Wahyu, dan memilih ke
“Asyik..! Terimakasih Mas Elang. Mas tunggu di sini ya. Biar Frisca ambil mobil dulu,” ucap Frisca riang. Mobil yaris berwarna merah meluncur keluar dari garasi, dan langsung menjemput Elang yang menunggu di posko satpam. Mereka pun langsung meluncur menuju ke daerah Petogogan, yang masih berada di wilayah Jakarta Selatan. Tak sampai 30 menit kemudian. Mobil Frisca masuk ke halaman parkir sebuah cafe, bernama ‘Kopi Kalyan’ di jalan Cikajang. Suasana cafe tak begitu ramai, saat Frisca dan Elang masuk ke dalamnya. Mereka mengambil meja yang berada di sudut ruang. Elang memesan kopi kalyan rasa pisang, sedangkan Frisca memesan Cafe latte, roti bakar, dan spaghetti carbonara, untuk mereka berdua. “Mas Elang. Apakah menurut Mas Elang hubungan Frisca dan Aldi bisa di teruskan..? Sejak semalam, Aldi terus menghubungi dan menchat Frisca. Dia merasa sangat menyesal dan meminta maaf pada Frisca,” tanya Frisca memulai percakapan. “Frisca, pertanyaanmu sudah masuk dalam ranah yang paling
'Hmm. Istriku ini memang wanita yang rajin di dapur, senang sekali dia memasak. Sungguh beruntung aku mendapatkannya’, bathin Wahyu bersyukur, sambil memandangi sosok istrinya. Ratna merasa ada yang memperhatikannya, maka ia pun menoleh ke arah suaminya, yang sedang menatap kagum padanya itu, “Aih, Ayah bikin kaget saja, tahu-tahu sudah di pintu dapur,” ucap bu Ratna. “Aroma masakanmu yang membuat ayah terbang kesini Bu,” puji pak Wahyu sambil tersenyum. “Selesai. Silahkan Ayah menunggu di meja makan. Sebentar lagi masakkan akan di hidangkan,” ucap sang istri, yang merasa puas masakannya telah matang sempurna. “Iya sayank,” ucap Wahyu sambil mengecup kening istrinya, sebagai tanda terimakasih. Tinn ! Tiinn ! Suara klakson mobil Frisca terdengar di depan teras rumah. Elang turun dari mobil tersebut, dan Frisca langsung memasukkan mobilnya ke garasi. Frisca segera turun menyusul Elang, yang sudah berada di teras rumah. Frisca langsung mengajak Elang masuk ke rumahnya, “Assalam
“Semua sikapmu sangat baik Elang, bahkan sikap kamilah yang mungkin kurang berkenan di hatimu. Untuk itu kami mohon maaf,” ucap pak Wahyu. “Mas Elang, jangan sungkan untuk mampir ke sini lagi ya. Rumah ini adalah rumahmu juga Mas,” ucap Frisca serak. Ya, Frisca sangat sedih melihat Elang akan pergi dari kehidupannya. Karena jasa dan budi baik Elang, sangat besar bagi diri dan keluarganya. “Elang, biar nanti bapak urus semuanya. Kalau sudah beres nanti akan bapak kabari kamu,” ucap pak Bernard pelan, sambil memeluk sosok Elang. “Elang. Nanti kabari keberadaanmu seminggu dari sekarang ya. Biar bapak paketkan ke alamatmu berada, soal plat motor dan STNK mu,” ucap pak Wahyu, mengingatkan Elang. “Elang, bila sudah ketemu pacar bilang-bilang ibu ya. Hihihi..!” ucap bu Ratna sambil tertawa kecil menggoda Elang. “Terimakasih semuanya. Kalian semua adalah orang-orang yang baik. Elang mohon pamit, Assalamualaikum,” pamit Elang mengucap salam. “Wa’alaikumsalam... Elang, hati-hati di jalan
"Pak Kimura, semua persoalan pasti ada jalan keluarnya. Tenanglah, alat sadap di tubuh Bapak sudah saya lumpuhkan. Kita bisa bicara bebas sekarang," Elang berkata dengan nada pelan namun tegas. "A-apa..?! Apa maksudmu anak muda..?!" seru Kimura gugup dan kaget. Walau dia mengetahui di tubuhnya ada alat penyadap, tapi dia sendiri tak tahu dibagian tubuh yang mana alat penyadap itu dipasang oleh Shaburo cs. Shaburo hanya berpesan keras agar dia tak macam-macam. Karena di tubuhnya terpasang alat penyadap, pada saat dia hendak berangkat ke rumah Hiroshi tadi. 'Bagaimana pemuda ini bisa mengetahuinya?' bathinnya bingung dan kaget. "Elang..! Jangan kurang ajar dengan sahabatku..!" seru Hiroshi menggelegar marah. Namun dia sendiri sebenarnya kaget dan bingung, dengan ekspresi Kimura yang seolah kaget dan gugup. Tapi sebagai sahabat lama Kimura, tentu saja dia harus mengingatkan Elang. Agar Elang berlaku sopan, pada sahabatnya yang lebih tua. "Mas E-elang.." ucap Keina resah dan panik.
'Akhirnya sampai', bathin Elang, saat pesawat baru saja selesai melakukan 'landing' di Kansai International Airport, Osaka. Elang beranjak turun dari pesawat, dan langsung melangkah menuju lobi kedatangan/keluar bandara Kansai. Baru saja Elang memasuki area lobi kedatangan, "Mas Elanng..!" seru Keina gembira, seraya melambaikan tangannya ke arah Elang. "Keina," balas Elang tersenyum memanggil, sambil melambaikan tangannya. Elang berjalan menghampiri Keina, yang terlihat di dampingi dua pengawal berjas hitam di kiri kanannya. Keina tak dapat menahan diri dari rasa rindu dan gembiranya, karena bertemu kembali dengan Elang. Dia pun langsung menubruk dan memeluk Elang erat. "Mas Elang, Keina rindu.." desah Keina di dada Elang. "Kamu makin cantik Keina," puji Elang tulus, sambil menatap penampilan Keina saat itu. Keina memakai kaos panjang agak longgar berwarna krem muda, dan bawahan crlana katun yang juga longgar. Penampilan yang casual dengan rambut terurai lepas. "Ahh, Mas Elan
"Hah..! Mas Permadi, apakah ini tidak terlalu banyak..?!" Shara berseru kaget, saat menerima dua gepok uang merah berjumlah 100 juta itu. Tapi di sisi lain hatinya terharu senang. Karena selama dia menjadi istri muda Ramses, paling banter dia hanya di pegangkan uang 10-20 juta. Jika dia hendak pergi berbelanja, untuk keperluan dirinya dan rumah. Namun Permadi langsung memberinya kepercayaan memegang uang sebanyak itu, hanya untuk jatah sekali mereka belanja bersama. Wanita mana yang tak 'langsung' lumer dibuatnya.?! "Peganglah Shara itu hakmu. Mulai saat ini tiap bulan kau menerima 100 juta dariku, kelolalah dengan baik," ucap Permadi tenang. Bagi Permadi, uang sebesar itu tak ada artinya. Karena dia sendiri telah berhitung dengan uang yang akan mengalir ke kas GASStreet, setelah dia menjalankan rencananya. Ya, GASStreet akan diubahnya menjadi gank motor, dengan modus kejahatan yang terencana dan terkoordinasi rapih. Tentunya di bawah pimpinan dan arahan langsung darinya.
"Hahh..! Mas Permadi, apakah ini tidak terlalu banyak..?!" Shara berseru kaget, saat menerima dua gepok uang merah berjumlah 100 juta itu. Tapi di sisi lain hatinya terharu senang. Karena selama dia menjadi istri muda Ramses, paling banter dia hanya di pegangkan uang 10-20 juta. Jika dia hendak pergi berbelanja, untuk keperluan dirinya dan rumah. Namun Permadi langsung memberinya kepercayaan memegang uang sebanyak itu, hanya untuk jatah sekali mereka belanja bersama. Wanita mana yang tak 'langsung' lumer dibuatnya.?! "Peganglah Shara itu hakmu. Mulai saat ini tiap bulan kau menerima 100 juta dariku, kelolalah dengan baik," ucap Permadi tenang. Bagi Permadi, uang sebesar itu tak ada artinya. Karena dia sendiri telah berhitung dengan uang yang akan mengalir ke kas GASStreet, setelah dia menjalankan rencananya. Ya, GASStreet akan diubahnya menjadi gank motor, dengan modus kejahatan yang terencana dan terkoordinasi rapih. Tentunya di bawah pimpinan dan arahan langsung darinya. Perm
Ya, jejak energi Elang pastilah terendus, oleh orang berkemampuan 'khusus' seperti Permadi. Terlebih Reva telah beberapa kali 'berhubungan intim' dengan Elang. Maka tak ayal lagi, 'energi Elang' nampak sangat jelas di mata Permadi. Reva mengemudikan BMW hitamnya dengan kecepatan sedang. Dia tak sadar sebuah motor sport merah milik Permadi tengah membuntuti ketat mobilnya. Hingga akhirnya kembali mobilnya berhenti, karena rambu merah di sebuah pertigaan jalan. Dan di sebelah mobil Reva, turut berhenti mobil Compass hitam berplat merah. "Hai Reva..! Panjang umur kau..!" jendela mobil Compass itu terbuka, nampak tersenyum seorang berseragam polisi ke arah Reva. "Hai Pak Ahmad..! Mau kemana..?!" seru Reva, balas tersenyum pada sang polisi. "Ke rumahmu Reva..! Saya mau bicara soal kasus Dean itu," sahut AKP Ahmad. "Ok, kita ke rumah sekarang Pak," ajak Reva, dia langsung melajukan mobilnya mendahului Ahmad. Ahmad dengan Compass hitamnya pun langsung membuntuti mobil Reva. Melihat
'Jadi konspirasi pihak mana ini semua? Mengapa cara bermain mereka terlalu kejam dan kasar..?!' demikianlah pertanyaan keras dalam benak Hiroshi, yang juga belum mendapatkan jawaban. 'Dan ninja hebat mana yang bisa menerobos pertahanan gerbang rumahnya..? Padahal rumahnya dijaga para samurai siang malam. Namun mereka bisa menyusup sampai ke teras rumahnya, dan meletakkan begitu saja pakaian ninja merah yang telah tewas saat diutusnya..?' bathin Hiroshi bertambah resah. 'Ini berarti aku sedang berhadapan dengan konspirasi pihak-pihak musuh yang sangat kuat', bathin Hiroshi menyimpulkan. Perlahan Hiroshi mendekat ke sebuah lemari antik di kamar pribadinya. Lalu ditekannya sebuah tombol di balik vas antik jaman dinasti Ming, yang bernilai ratusan miliar rupiah. Klikh! Slakhh..! Slakh..! Srrrekkhh...!Lemari hias itu pun terbelah menjadi dua, dan bergeser ke kiri dan kanan. Kini terbukalah lorong di balik lemari itu. Hiroshi masuk ke dalamnya, dan kembali menekan sebuah tombol di k
"Rodent..! Gunakan uang itu untuk bersenang-senang bersama yang lain.! Pergilah..!" Permadi berkata pelan dan tegas. "Baik Bos..! Bro semuanya..! Ucapkan terimakasih pada Bos Permadi..! Sebelum kita semua bersenang-senang..!" seru si Rodent, dengan nada keren dan bersemangat. "Makasih Boss...!!!" teriak semuanya serentak dan bersemangat. Ya, mereka semua paham kini, Rodent sudah memegang dana untuk mereka bersenang-senang, dari bos baru mereka. "Pergilah bersenang-senang..!" Permadi berseru sambil melambaikan tangannya. "Rodent..! Sebentar..!" Permadi memanggil Rodent, karena dia terlupa sesuatu. "Ya Bos," Rodent mendekat. "Kamu jelaskan pada istri muda bekas Bosmu itu. Bahwa sekarang aku pemilik rumah ini..!" perintah Permadi. "Baik Bos..!" Rodent segera beranjak mengetuk pintu rumah. Tokk, tok, tokk..! Klek.! "Masuk saja Tuan Rodent," sapa sang pelayan rumah, saat melihat siapa yang mengetuk pintu. Sejak tadi sebenarnya orang-orang di dalam rumah sudah mendengar, soal ra
Setthh..! Kraghh..!! Dua tangan Permadi bergerak secepat kilat, mematahkan lengan kiri Ramses yang tertembus peluru itu. "AaRrkhs..!!" teriakkan kesakitan Ramses terdengar bergema, di keheningan dini hari itu. Sungguh sakitnya nggak abis-abis. "Kamu pemimpin mereka semua..?" tanya Permadi tenang, dingin tanpa ekspresi. Ramses yang sedang dalam perjuangan menahan rasa sakit, hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil meringis. "Kalau begitu berikan kata sandi ponselmu, dan pin ATM milikmu..!" seru Permadi, sudah terbersit sebuah rencana di kepalanya. Melihat Ramses masih diam, seolah menolak permintaannya, maka.. Sethh..!! Klekkh..!! Jari Permadi bergerak cepat menarik telapak tangan Ramses, dan langsung mematahkan jari kelingkingnya. "Aarrkhgs..!!" kembali teriakkan bariton Ramses bergema, di tengah jalan yang sepi. Semua anggota genk yang lainnya hanya tertunduk pucat di tempatnya masing-masing. Tiada yang berani bersuara apalagi bergerak sedikitpun. Permadi bagai jelmaan
Ciitt...!! Ngunkk..!! Lalu Permadi segera memutar balik arah, dan menggas penuh motornya. Joker dan Bandrex agak terkejut dengan gerakkan yang di lakukan Permadi. Mereka cepat membalik arah motornya, dan kembali tancap gas mengejar Permadi. Namun tiba-tiba dengan senyum lega keduanya mengendurkan tarikkan gas mereka. Saat dari kejauhan mereka melihat rombongan bos mereka, yang pastinya akan menyongsong dan menghadang laju Permadi. Kini Permadi terkepung..! Di depannya nampak barisan konvoi dari teman-teman pengejarnya. Karena dilihatnya mereka mengenakan jaket dan logo yang sama. Jalanan nampak lengang di saat dini hari itu, hanya ada Permadi dan anggota genk GASStreet yang mengaspal. Permadi kembali membalikkan arah motornya, lalu dia pun tancap gas penuh dengan level gear mentok..! Ya, dia hendak menabrakkan motornya dengan dua motor pengejarnya tadi, Joker dan Bandrex. Joker dan Bandrex tak menduga Permadi akan berlaku nekat, menantang nyali mereka. Mereka pun tak mau kala