Semua Bab Sang PENEMBUS Batas: Bab 41 - Bab 50

218 Bab

Bab 041. PERGI DAN TERSISIH

“Semua sikapmu sangat baik Elang, bahkan sikap kamilah yang mungkin kurang berkenan di hatimu. Untuk itu kami mohon maaf,” ucap pak Wahyu. “Mas Elang, jangan sungkan untuk mampir ke sini lagi ya. Rumah ini adalah rumahmu juga Mas,” ucap Frisca serak. Ya, Frisca sangat sedih melihat Elang akan pergi dari kehidupannya. Karena jasa dan budi baik Elang, sangat besar bagi diri dan keluarganya. “Elang, biar nanti bapak urus semuanya. Kalau sudah beres nanti akan bapak kabari kamu,” ucap pak Bernard pelan, sambil memeluk sosok Elang. “Elang. Nanti kabari keberadaanmu seminggu dari sekarang ya. Biar bapak paketkan ke alamatmu berada, soal plat motor dan STNK mu,” ucap pak Wahyu, mengingatkan Elang. “Elang, bila sudah ketemu pacar bilang-bilang ibu ya. Hihihi..!” ucap bu Ratna sambil tertawa kecil menggoda Elang. “Terimakasih semuanya. Kalian semua adalah orang-orang yang baik. Elang mohon pamit, Assalamualaikum,” pamit Elang mengucap salam. “Wa’alaikumsalam... Elang, hati-hati di jalan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-11
Baca selengkapnya

Bab 042. AKSI DI JEMBATAN GANTUNG

Bruaghh !! "Sekarang sebaiknya kamu pergi dari rumah ini Sekar..! Aku tak mau calon anakku menjadi cacad di dalam kandungan, akibat ulah-ulahmu..!” bentak Marini. Ya, Marini datang dan melemparkan pakaian Sekar, beserta sebuah tas besar. Untuk wadah barang-barang Sekar. “Kang Barja..?!” seru Sekar, sambil menatap suaminya memohon pembelaan. Alih-alih mendapat pembelaan dari suaminya, malah...“Benar Marini sayang. Memang lebih baik perempuan ini pulang saja ke rumahnya. Dan mengurus ibunya yang sakit-sakitan itu !” ujar Barja membenarkan prilaku Marini. Hal yang sangat terasa pedas dan menyakitkan sekali di hati Sekar. “Cepat kemasi barang-barangmu Sekar..! Aku sudah muak dikerjai olehmu..! Calon anakku bisa mati sebelum dilahirkan karenamu..!” bentak Marini, yang kata-katanya tentu saja membuat Barja juga cemas, akan nasib kandungan istri mudanya itu. Sungguh licin dan keji memang, wanita bernama Marini ini. “Tunggu apalagi Sekar..?! Cepat keluarr..!” bentak keras Barja. “
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-11
Baca selengkapnya

Bab 043. PULANG DAN KAMBUH

“Sstt. Tenanglah Mbak Sekar. Kasihan Ibu kalau Mbak tinggalkan begitu saja. Mbak tega melihat Ibu sakit sendirian, dan tak ada yang mengurusnya,” ucap Elang, berusaha menenangkan Sekar yang terus meronta. Akhirnya rontaan Sekar melemah, mendengar ucapan Elang yang mengingatkannya akan kondisi ibunya. Tinggallah kini isak tangis Sekar, yang terdengar memilukan di tengah hujan deras. Sungguh hal yang membuat Elang ikut kasihan melihatnya. Akhirnya tak lama kemudian hujan pun reda.“Sebaiknya kita ke rumah Ibu Mbak dulu sekarang. Pakaian Mbak Sekar basah, nanti bisa masuk angin lho,” ucap Elang. Lalu Elang bergegas mengambil tas yang di bawa Sekar tadi. Tas itu masih tergeletak begitu saja, di pinggir jembatan gantung. “Ayolah Mbak, mumpung hujan sudah reda,” ucap Elang.Perlahan Sekar bangkit dan mengikuti Elang menuju ke motornya, yang terparkir di sisi saung itu. “Tolong beri tahu arah ke rumah Ibu Mbak Sekar ya,” ucap Elang. “Iya Kang,” sahut Sekar pelan, menandakan Sekar kin
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-12
Baca selengkapnya

Bab 044. MENGINAP DAN RENCANA JAHAT

“Baiklah, tapi saya tunggu hujan reda saja dulu ya Mbak Sekar,” ucap Elang, sambil menuju ruang tamu dan duduk di sana. Elang berpikir, apakah dia harus membantu masalah yang di hadapi Sekar..? Atau dia tinggalkan saja tempat ini, dan melanjutkan perjalanannya kembali. Namun hati kecil Elang seolah berat, untuk meninggalkan Sekar sendirian, dalam menghadapi masalah yang dihadapinya. Sekitar sejam kemudian. Sekar keluar dari kamar sang Ibu dan menghampiri Elang, yang nampak masih termenung di ruang tamu sendirian. Hujan di luar masih saja terdengar deras mengguyur bumi. “Kang Elang,” panggil Sekar, sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Elang. “Ehh, ya Mbak Sekar,” sahut Elang tersentak dari lamunannya. “Sekar mau tanya sesuatu pada Kang Elang. Boleh kan..?” ucap Sekar. “Silahkan Mbak Sekar,” sahut Elang. “Darimana Kang Elang tahu nama Sekar tadi, saat kita pertama bertemu..?” tanya Sekar. Elang terdiam sejenak, dia merasa agak bingung menjawab pertanyaan Sekar, “Entah
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-12
Baca selengkapnya

Bab 045. BEJATNYA MARINI

"Baik Kang Jaka, besok akan Rini antarkan uangnya ke Akang ya,” ucap Marini. “Siap! Riniku sayank,” rayuan gombal ala gembel pun keluar dari mulut Jaka. “Mmmuah..! Kang Jaka sayank,” balas Marini. “Akang nggak sabar ingin segera menikahi Rini, dan menimang anak kita di sana nanti Rin,” ucap Jaka penuh modus. “Kalau Barja sudah lenyap. Maka Kang Jaka harus segera ke sini, dan menikah dengan Rini ya Kang. Warisan Barja akan cukup buat kita bersenang-senang nantinya Kang,” ucap Marini. “Tentu Rini sayank. Akang pasti akan menikah dengan Rini setelah Barja tiada,” ucap Jaka. “Janji lho..! Akang nggak akan ke klub malam lagi, dan nggak ada cewek lain..!” tuntut Marini cemas. Karena memang ketampanan Jaka adalah idola, bagi para wanita di klub malam. “Kamu ‘satu’ di dalam hati akang, Rini sayank,” ucap Jaka sambil menjebikan bibirnya. ‘Kamu hanya ‘salah satu’ Rini bukan satu’, ralat bathin Jaka gemblung ini.“Ahh, Akang bisa ajah. Sudah ya Kang. Jumpa lagi besok. Mmmuah...!" Klikh
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-12
Baca selengkapnya

Bab 046. DAN TERJADI LAGI

“Cihh..! Heei Sekar..! Amit-amit saya mengambil uangmu, yang paling isinya cuma seratus dua ratus ribu itu..! Cepat pergi..! Atau kupanggil Pak Waluyo di sebelah..!” bentak Marini marah. Elang pun turun dari motornya, ‘Perempuan brengsek ini memang harus dikasih sedikit pelajaran !” pikirnya. Diambilnya beberapa bunga tunas jambu air yang jatuh. Lalu di sentilnya dengan hanya menggunakan sedikit tenaga dalamnya saja. Seth..! Takh..!Bunga jambu itu melesat mengenai jidat Marini, yang kala itu sedang marah-marah pada Sekar. “Aduhhh..!” teriak Marini, sambil memegang jidatnya yang terasa sakit dan panas. Padahal dia tak melihat Sekar melakukan apa pun di depannya. Pandangannya pun berkeliling, mencari siapa yang menimpuk jidatnya. Dilihatnya pemuda yang mengantarkan Sekar, tapi dia sedang sibuk dengan ponselnya. Di rabanya lagi jidatnya, kini ia merasa sudah ada benjolan sebesar kelereng di sana. Rasa panasnya pun tak hilang-hilang. “Sudahlah..! Pergi kamu dari sini Sekar..!!" B
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-13
Baca selengkapnya

Bab 047. HUTANG BUDI SEKAR

“Ada apa Mbak Sekar ?” tanya Elang serak. Dan mata Elang mau tak mau melihat keadaan tubuh ramping padat milik Sekar, yang hampir polos itu. Melihat Elang mendekati dirinya, Sekar menggelengkan kepalanya seolah melawan sesuatu. “Pergilah Kang Elang, ini memalukan,” ucap Sekar, sambil berusaha menutupi bagian tubuh terlarangnya. Namun tangan Sekar sendiri terlihat bergetar, seolah menolaknya. Elang lalu duduk di sisi ranjang, ‘Aku harus melakukannya, kasihan dia bisa mati’, bathin Elang. Perlahan Elang mengelus betis mulus Sekar, yang berbulu sangat halus hingga ke bagian atas dengkul wanita cantik itu. Sontak tubuh Sekar langsung bergetar hebat. Menahan gairahnya yang kian memanas dan menuntut pelepasan. Dan tanpa ada yang mengkomando, tiba-tiba saja mereka telah saling berpelukkan erat. Bibir Sekar yang merah merekah memagut bibir Elang. “Mmhhhh. Kang Elang. Lakukanlah Kang, Sekar ikhlas. Mungkin hanya dengan cara ini Sekar bisa berterimakasih atas kebaikkan Kang Elang. Lak
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-13
Baca selengkapnya

Bab 048. SALDO TAK DISANGKA

"Saya coba menyadarkan Ibu dulu ya Mbak,” ucap Elang meminta ijin Sekar. “Silahkan Kang Elang,” ucap Sekar. Elang mengangkat tubuh bagian atas ibu Sekar, lalu mendudukkannya di atas pembaringan. Kemudian Elang pun naik ke pembaringan, dan mengambil posisi bersila di belakang ibu Sekar. Tangan kiri Elang menahan pundak sang ibu. Sementara tangan kanannya bergerak cepat, menotok beberapa titik simpul di bagian belakang tubuh ibu Sekar. Lalu Elang menempelkan telapak tangannya ke pertengahan tulang belikat sang Ibu. Hawa murni Elang pun mulai mengalir perlahan ke tubuh sang ibu. Dan tk sampai 5 menit kemudian, “Hukk..uhukk..! Hhhh..hhhh,” sang ibu terbatuk, lalu dia mulai menarik nafasnya dalam-dalam. Perlahan pernafasan ibu Sekar pun berangsur normal. “Ibu sudah sadar Kang Elang,” ucap Sekar gembira, melihat ibunya kembali sadar. “Heii, mengapa ibu ada di rumah..?!” tanya sang ibu heran. “Tenanglah Ibu, semuanya baik-baik saja Bu,” ucap Elang lembut. Perlahan Elang kembali mem
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-13
Baca selengkapnya

Bab 049. PAGARAN UNTUK BARJA

“Aih, Kang Elang. Pegang saja uangnya, biar nanti Kang Elang saja yang membayarkannya,” ucap Sekar kaget, melihat seikat uang merah di berikan Elang padanya dengan ringan saja. Seolah bukan sesuatu yang berharga. “Tak apa Mbak Sekar, terimalah. Anggap saja pengganti uang Mbak Sekar yang diambil Marini. Terimalah,” ucap Elang sambil menarik lembut tangan Sekar, dan meletakkan uang itu di genggamannya. “Terimakasih Kang Elang,” ucap Sekar serak.Sepasang mata Sekar seketika beriak basah, karena terharu pada pemuda gagah yang baru dikenalnya ini. “Elang. Siapa pun kamu, ibu sangat berterimakasih padamu,” ucap sang ibu, yang sejak tadi hanya tertegun. Dia melihat Elang memberikan sejumlah uang, yang jumlahnya tidak sedikit begitu saja pada Sekar. “Sudahlah Bu. Yang penting Ibu bisa segera diperiksa dokter di rumah sakit. Mari kita berangkat sekarang,” ucap Elang. Elang menyewa sebuah mobil Avanza, yang kebetulan statusnya disewakan. Tak jauh dari tempat mereka menunggu di tepi jala
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-14
Baca selengkapnya

Bab 050. HASRAT DAN SESAL

"Namanya anak, apalagi kamu itu sedang hamil. Harusnya kamu nggak perlu pergi jauh-jauh dari rumah Marini..! Orangtuamu pasti mengerti kondisimu. Rawan untuk bepergian jarak jauh saat hamil muda Marini. Dan lagi, nggak harus setiap ke sana kamu membawa uang banyak kan Marini.?Uang modal akang bisa habis terpakai nanti. Apakah kamu senang, jika toko akang bangkrut..?!” sentak Barja. Mendadak Marini terdiam. Dia merasa heran, kenapa ‘susuk bunga kantil’nya tidak lagi manjur meluluhkan hati Barja..? 'Apakah ‘susuk’ dari Ki Suwita mempunyai masa pakai dalam jangka waktu tertentu, dan harus di perkuat lagi..?' begitu pikir Marini. Dia tidak tahu, bahwa kini tubuh Barja telah diselimuti aura aji Pedot Roso, yang membuat Barja lepas dari pengaruh ‘susuk bunga kantil’nya. Akhirnya Marini terpaksa diam, dan berniat menunda kepergiannya ke Jakarta besok. Ya, dia harus pergi ke kediaman Ki Suwita dulu di Jatibarang besok. *** Krtkh! Krrtekk..! Duarr..!! Hujan deras kembali tercurah me
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-14
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
34567
...
22
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status