Home / Urban / Sang PENEMBUS Batas / Bab 045. BEJATNYA MARINI

Share

Bab 045. BEJATNYA MARINI

Author: BayS
last update Last Updated: 2025-02-12 18:13:44

"Baik Kang Jaka, besok akan Rini antarkan uangnya ke Akang ya,” ucap Marini.

“Siap! Riniku sayank,” rayuan gombal ala gembel pun keluar dari mulut Jaka.

“Mmmuah..! Kang Jaka sayank,” balas Marini.

“Akang nggak sabar ingin segera menikahi Rini, dan menimang anak kita di sana nanti Rin,” ucap Jaka penuh modus.

“Kalau Barja sudah lenyap. Maka Kang Jaka harus segera ke sini, dan menikah dengan Rini ya Kang. Warisan Barja akan cukup buat kita bersenang-senang nantinya Kang,” ucap Marini.

“Tentu Rini sayank. Akang pasti akan menikah dengan Rini setelah Barja tiada,” ucap Jaka.

“Janji lho..! Akang nggak akan ke klub malam lagi, dan nggak ada cewek lain..!” tuntut Marini cemas.

Karena memang ketampanan Jaka adalah idola, bagi para wanita di klub malam.

“Kamu ‘satu’ di dalam hati akang, Rini sayank,” ucap Jaka sambil menjebikan bibirnya.

‘Kamu hanya ‘salah satu’ Rini bukan satu’, ralat bathin Jaka gemblung ini.

“Ahh, Akang bisa ajah. Sudah ya Kang. Jumpa lagi besok. Mmmuah...!"

Klikh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 046. DAN TERJADI LAGI

    “Cihh..! Heei Sekar..! Amit-amit saya mengambil uangmu, yang paling isinya cuma seratus dua ratus ribu itu..! Cepat pergi..! Atau kupanggil Pak Waluyo di sebelah..!” bentak Marini marah. Elang pun turun dari motornya, ‘Perempuan brengsek ini memang harus dikasih sedikit pelajaran !” pikirnya. Diambilnya beberapa bunga tunas jambu air yang jatuh. Lalu di sentilnya dengan hanya menggunakan sedikit tenaga dalamnya saja. Seth..! Takh..!Bunga jambu itu melesat mengenai jidat Marini, yang kala itu sedang marah-marah pada Sekar. “Aduhhh..!” teriak Marini, sambil memegang jidatnya yang terasa sakit dan panas. Padahal dia tak melihat Sekar melakukan apa pun di depannya. Pandangannya pun berkeliling, mencari siapa yang menimpuk jidatnya. Dilihatnya pemuda yang mengantarkan Sekar, tapi dia sedang sibuk dengan ponselnya. Di rabanya lagi jidatnya, kini ia merasa sudah ada benjolan sebesar kelereng di sana. Rasa panasnya pun tak hilang-hilang. “Sudahlah..! Pergi kamu dari sini Sekar..!!" B

    Last Updated : 2025-02-13
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 047. HUTANG BUDI SEKAR

    “Ada apa Mbak Sekar ?” tanya Elang serak. Dan mata Elang mau tak mau melihat keadaan tubuh ramping padat milik Sekar, yang hampir polos itu. Melihat Elang mendekati dirinya, Sekar menggelengkan kepalanya seolah melawan sesuatu. “Pergilah Kang Elang, ini memalukan,” ucap Sekar, sambil berusaha menutupi bagian tubuh terlarangnya. Namun tangan Sekar sendiri terlihat bergetar, seolah menolaknya. Elang lalu duduk di sisi ranjang, ‘Aku harus melakukannya, kasihan dia bisa mati’, bathin Elang. Perlahan Elang mengelus betis mulus Sekar, yang berbulu sangat halus hingga ke bagian atas dengkul wanita cantik itu. Sontak tubuh Sekar langsung bergetar hebat. Menahan gairahnya yang kian memanas dan menuntut pelepasan. Dan tanpa ada yang mengkomando, tiba-tiba saja mereka telah saling berpelukkan erat. Bibir Sekar yang merah merekah memagut bibir Elang. “Mmhhhh. Kang Elang. Lakukanlah Kang, Sekar ikhlas. Mungkin hanya dengan cara ini Sekar bisa berterimakasih atas kebaikkan Kang Elang. Lak

    Last Updated : 2025-02-13
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 048. SALDO TAK DISANGKA

    "Saya coba menyadarkan Ibu dulu ya Mbak,” ucap Elang meminta ijin Sekar. “Silahkan Kang Elang,” ucap Sekar. Elang mengangkat tubuh bagian atas ibu Sekar, lalu mendudukkannya di atas pembaringan. Kemudian Elang pun naik ke pembaringan, dan mengambil posisi bersila di belakang ibu Sekar. Tangan kiri Elang menahan pundak sang ibu. Sementara tangan kanannya bergerak cepat, menotok beberapa titik simpul di bagian belakang tubuh ibu Sekar. Lalu Elang menempelkan telapak tangannya ke pertengahan tulang belikat sang Ibu. Hawa murni Elang pun mulai mengalir perlahan ke tubuh sang ibu. Dan tk sampai 5 menit kemudian, “Hukk..uhukk..! Hhhh..hhhh,” sang ibu terbatuk, lalu dia mulai menarik nafasnya dalam-dalam. Perlahan pernafasan ibu Sekar pun berangsur normal. “Ibu sudah sadar Kang Elang,” ucap Sekar gembira, melihat ibunya kembali sadar. “Heii, mengapa ibu ada di rumah..?!” tanya sang ibu heran. “Tenanglah Ibu, semuanya baik-baik saja Bu,” ucap Elang lembut. Perlahan Elang kembali mem

    Last Updated : 2025-02-13
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 049. PAGARAN UNTUK BARJA

    “Aih, Kang Elang. Pegang saja uangnya, biar nanti Kang Elang saja yang membayarkannya,” ucap Sekar kaget, melihat seikat uang merah di berikan Elang padanya dengan ringan saja. Seolah bukan sesuatu yang berharga. “Tak apa Mbak Sekar, terimalah. Anggap saja pengganti uang Mbak Sekar yang diambil Marini. Terimalah,” ucap Elang sambil menarik lembut tangan Sekar, dan meletakkan uang itu di genggamannya. “Terimakasih Kang Elang,” ucap Sekar serak.Sepasang mata Sekar seketika beriak basah, karena terharu pada pemuda gagah yang baru dikenalnya ini. “Elang. Siapa pun kamu, ibu sangat berterimakasih padamu,” ucap sang ibu, yang sejak tadi hanya tertegun. Dia melihat Elang memberikan sejumlah uang, yang jumlahnya tidak sedikit begitu saja pada Sekar. “Sudahlah Bu. Yang penting Ibu bisa segera diperiksa dokter di rumah sakit. Mari kita berangkat sekarang,” ucap Elang. Elang menyewa sebuah mobil Avanza, yang kebetulan statusnya disewakan. Tak jauh dari tempat mereka menunggu di tepi jala

    Last Updated : 2025-02-14
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 050. HASRAT DAN SESAL

    "Namanya anak, apalagi kamu itu sedang hamil. Harusnya kamu nggak perlu pergi jauh-jauh dari rumah Marini..! Orangtuamu pasti mengerti kondisimu. Rawan untuk bepergian jarak jauh saat hamil muda Marini. Dan lagi, nggak harus setiap ke sana kamu membawa uang banyak kan Marini.?Uang modal akang bisa habis terpakai nanti. Apakah kamu senang, jika toko akang bangkrut..?!” sentak Barja. Mendadak Marini terdiam. Dia merasa heran, kenapa ‘susuk bunga kantil’nya tidak lagi manjur meluluhkan hati Barja..? 'Apakah ‘susuk’ dari Ki Suwita mempunyai masa pakai dalam jangka waktu tertentu, dan harus di perkuat lagi..?' begitu pikir Marini. Dia tidak tahu, bahwa kini tubuh Barja telah diselimuti aura aji Pedot Roso, yang membuat Barja lepas dari pengaruh ‘susuk bunga kantil’nya. Akhirnya Marini terpaksa diam, dan berniat menunda kepergiannya ke Jakarta besok. Ya, dia harus pergi ke kediaman Ki Suwita dulu di Jatibarang besok. *** Krtkh! Krrtekk..! Duarr..!! Hujan deras kembali tercurah me

    Last Updated : 2025-02-14
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 051. SIAPA YANG MANDUL

    Namun Barja tak sadar, saat ada sepasang mata yang penuh kebencian menatap dirinya, dari balik korden kamar. Ya, tentu saja itu adalah sepasang mata milik Marini. Marini sangat jelas mendengar ucapan Barja tadi. Dan dia merasa yakin kini, bahwa pengaruh ‘susuk’nya memang sudah benar-benar lenyap. ‘Aku harus ke tempat Ki Suwita besok’, gumam bathin Marini. Dia tak ingin Barja lepas dari kendalinya, dan menjemput Sekar kembali ke rumah ini. Karena bagi Marini, hal itu sama saja dengan menggagalkan rencananya, yang sudah lama di susunnya bersama kang Jaka. “Marinii..!” seru Barja memanggil Marini dari ruang tamu. “Ya Kang Barja,” sahut lembut Marini, berusaha untuk bermanis muka di hadapan Barja. Marini pun datang menghampiri Barja, dengan senyum termanis yang dia punya. “Bikinkan aku kopi hitam,” ucap Barja, dia kini bersikap acuh pada Marini. “Ba..baik Kang,” ucap Marini agak gagap. Karena selama ini, Sekarlah yang melayani segala perintah Barja dan dirinya. Barja tadinya bah

    Last Updated : 2025-02-14
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 052. TERBONGKAR DAN MURKA

    Pagi harinya, di rumah Barja sudah terdengar suara pertengkaran di dalamnya, “Tidak boleh Marini..! Kamu tak boleh keluar dari rumah lagi..! Jaga kandunganmu baik-baik! Berani kamu keluar dari rumah ini, maka jangan pernah kamu kembali lagi..!” seru Barja tegas pada Marini, yang berniat keluar dan meminta uang pada Barja. “Tapi aku mau memeriksa kandungan Kang Barja..! Apa Akang tak ingin mengetahui kondisi janin di perut Marini..!” seru Marini membalas. “Tak ada yang melarang kau periksa kandungan Marini. Tapi ini masih terlalu pagi, untuk ke klinik ataupun puskesmas..! Bahkan kopi untukku juga belum kau buatkan..! Cepat buatkan aku kopi hitam..!” seru Barja tak ingin dibantah. Barja merasa ada sesuatu yang aneh dan mencurigakan, pada niat Marini keluar rumah pagi-pagi sekali. “Baik Kang Barja. Aku akan ke klinik nanti agak siangan,” ucap Marini melembut. Dia pun beranjak ke belakang, untuk membuatkan kopi buat Barja. ‘Hhh..! Makin kesini kok rasanya semua prilaku Marini maki

    Last Updated : 2025-02-15
  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 053. DUKUN NAKAL

    Elang kembali bangun agak kesiangan hari ini, dilihatnya jam pada ponselnya menunjukkan pukul 7:15 pagi. Bergegas Elang beranjak bangkit dari ranjangnya, mengambil handuk dan perlengkapan mandinya, lalu langsung menuju kamar mandi. Dilihatnya Sekar yang sedang memasak telur dadar. Sekilas Sekar menoleh ke arah Elang dan tersenyum malu. ‘Wanita yang menggemaskan’, bathin Elang, sambil balas tersenyum pada Sekar. Lalu Elang pun meneruskan langkahnya menuju kamar mandi. Usai mandi dan berganti pakaian, Elang langsung menuju ruang tamu. Di sana dilihatnya ibu Sekar sedang minum teh dan camilan, sambil memandang ke arah luar rumahnya. “Pagi Bu, sudah merasa baikkan belum Bu..?” tanya Elang, sambil duduk di dekat sang ibu. “Ehh, Elang. Ibu sudah pulih kok, rasanya ibu ingin dagang saja Elang,” sahut ibu Sekar. Dia merasa sayang, jika hari terlewatkan begitu saja tanpa berdagang. “Syukurlah jika Ibu sudah merasa pulih. Ibu sebaiknya jangan terlalu lelah dulu ya. Istirahat saja di rum

    Last Updated : 2025-02-15

Latest chapter

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 219.

    "Ayah. Dimana kamar yang pas buat Mas Elang beristirahat..? Dia pasti lelah dan ingin beristirahat setelah perjalanan panjangnya," tanya Keina. Wajah Keina terlihat gembira sekali, mengetahui akhirnya sang ayah menyukai dan mengagumi Elang. "Oh iya, maaf Elang. Saya sampai lupa menyambutmu. Keina antarkan Elang ke kamar tamu sebelah kanan yang di tengah ya," perintah Hiroshi pada putrinya, seraya tersenyum. Hatinya merasa agak lebih tenang saat itu. Karena kabut yang menyelimuti kemelut di perusahaannya, kini perlahan telah terkuak. "Baik Ayah, terimakasih," Keina terlihat sangat senang. Ya, istilah kamar tamu 'sebelah kanan' artinya adalah Elang di anggap tamu terhormat. Dan jika di tempatkan di bagian tengah, itu artinya status Elang di mata Hiroshi adalah 'tamu kehormatan keluarga'. Hal inilah yang menyebabkan wajah Keina terlihat sangat gembira. "Mari Mas Elang. Keina antar ke kamar Mas Elang," ajak Keina dengan wajah senang. "Baik Keina. Terimakasih Pak Hiroshi," Elang m

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 218.

    "Pak Kimura, semua persoalan pasti ada jalan keluarnya. Tenanglah, alat sadap di tubuh Bapak sudah saya lumpuhkan. Kita bisa bicara bebas sekarang," Elang berkata dengan nada pelan namun tegas. "A-apa..?! Apa maksudmu anak muda..?!" seru Kimura gugup dan kaget. Walau dia mengetahui di tubuhnya ada alat penyadap, tapi dia sendiri tak tahu dibagian tubuh yang mana alat penyadap itu dipasang oleh Shaburo cs. Shaburo hanya berpesan keras agar dia tak macam-macam. Karena di tubuhnya terpasang alat penyadap, pada saat dia hendak berangkat ke rumah Hiroshi tadi. 'Bagaimana pemuda ini bisa mengetahuinya?' bathinnya bingung dan kaget. "Elang..! Jangan kurang ajar dengan sahabatku..!" seru Hiroshi menggelegar marah. Namun dia sendiri sebenarnya kaget dan bingung, dengan ekspresi Kimura yang seolah kaget dan gugup. Tapi sebagai sahabat lama Kimura, tentu saja dia harus mengingatkan Elang. Agar Elang berlaku sopan, pada sahabatnya yang lebih tua. "Mas E-elang.." ucap Keina resah dan panik.

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 217.

    'Akhirnya sampai', bathin Elang, saat pesawat baru saja selesai melakukan 'landing' di Kansai International Airport, Osaka. Elang beranjak turun dari pesawat, dan langsung melangkah menuju lobi kedatangan/keluar bandara Kansai. Baru saja Elang memasuki area lobi kedatangan, "Mas Elanng..!" seru Keina gembira, seraya melambaikan tangannya ke arah Elang. "Keina," balas Elang tersenyum memanggil, sambil melambaikan tangannya. Elang berjalan menghampiri Keina, yang terlihat di dampingi dua pengawal berjas hitam di kiri kanannya. Keina tak dapat menahan diri dari rasa rindu dan gembiranya, karena bertemu kembali dengan Elang. Dia pun langsung menubruk dan memeluk Elang erat. "Mas Elang, Keina rindu.." desah Keina di dada Elang. "Kamu makin cantik Keina," puji Elang tulus, sambil menatap penampilan Keina saat itu. Keina memakai kaos panjang agak longgar berwarna krem muda, dan bawahan crlana katun yang juga longgar. Penampilan yang casual dengan rambut terurai lepas. "Ahh, Mas Elan

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 216.

    "Hah..! Mas Permadi, apakah ini tidak terlalu banyak..?!" Shara berseru kaget, saat menerima dua gepok uang merah berjumlah 100 juta itu. Tapi di sisi lain hatinya terharu senang. Karena selama dia menjadi istri muda Ramses, paling banter dia hanya di pegangkan uang 10-20 juta. Jika dia hendak pergi berbelanja, untuk keperluan dirinya dan rumah. Namun Permadi langsung memberinya kepercayaan memegang uang sebanyak itu, hanya untuk jatah sekali mereka belanja bersama. Wanita mana yang tak 'langsung' lumer dibuatnya.?! "Peganglah Shara itu hakmu. Mulai saat ini tiap bulan kau menerima 100 juta dariku, kelolalah dengan baik," ucap Permadi tenang. Bagi Permadi, uang sebesar itu tak ada artinya. Karena dia sendiri telah berhitung dengan uang yang akan mengalir ke kas GASStreet, setelah dia menjalankan rencananya. Ya, GASStreet akan diubahnya menjadi gank motor, dengan modus kejahatan yang terencana dan terkoordinasi rapih. Tentunya di bawah pimpinan dan arahan langsung darinya.

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 215.

    "Hahh..! Mas Permadi, apakah ini tidak terlalu banyak..?!" Shara berseru kaget, saat menerima dua gepok uang merah berjumlah 100 juta itu. Tapi di sisi lain hatinya terharu senang. Karena selama dia menjadi istri muda Ramses, paling banter dia hanya di pegangkan uang 10-20 juta. Jika dia hendak pergi berbelanja, untuk keperluan dirinya dan rumah. Namun Permadi langsung memberinya kepercayaan memegang uang sebanyak itu, hanya untuk jatah sekali mereka belanja bersama. Wanita mana yang tak 'langsung' lumer dibuatnya.?! "Peganglah Shara itu hakmu. Mulai saat ini tiap bulan kau menerima 100 juta dariku, kelolalah dengan baik," ucap Permadi tenang. Bagi Permadi, uang sebesar itu tak ada artinya. Karena dia sendiri telah berhitung dengan uang yang akan mengalir ke kas GASStreet, setelah dia menjalankan rencananya. Ya, GASStreet akan diubahnya menjadi gank motor, dengan modus kejahatan yang terencana dan terkoordinasi rapih. Tentunya di bawah pimpinan dan arahan langsung darinya. Perm

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 214.

    Ya, jejak energi Elang pastilah terendus, oleh orang berkemampuan 'khusus' seperti Permadi. Terlebih Reva telah beberapa kali 'berhubungan intim' dengan Elang. Maka tak ayal lagi, 'energi Elang' nampak sangat jelas di mata Permadi. Reva mengemudikan BMW hitamnya dengan kecepatan sedang. Dia tak sadar sebuah motor sport merah milik Permadi tengah membuntuti ketat mobilnya. Hingga akhirnya kembali mobilnya berhenti, karena rambu merah di sebuah pertigaan jalan. Dan di sebelah mobil Reva, turut berhenti mobil Compass hitam berplat merah. "Hai Reva..! Panjang umur kau..!" jendela mobil Compass itu terbuka, nampak tersenyum seorang berseragam polisi ke arah Reva. "Hai Pak Ahmad..! Mau kemana..?!" seru Reva, balas tersenyum pada sang polisi. "Ke rumahmu Reva..! Saya mau bicara soal kasus Dean itu," sahut AKP Ahmad. "Ok, kita ke rumah sekarang Pak," ajak Reva, dia langsung melajukan mobilnya mendahului Ahmad. Ahmad dengan Compass hitamnya pun langsung membuntuti mobil Reva. Melihat

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 213.

    'Jadi konspirasi pihak mana ini semua? Mengapa cara bermain mereka terlalu kejam dan kasar..?!' demikianlah pertanyaan keras dalam benak Hiroshi, yang juga belum mendapatkan jawaban. 'Dan ninja hebat mana yang bisa menerobos pertahanan gerbang rumahnya..? Padahal rumahnya dijaga para samurai siang malam. Namun mereka bisa menyusup sampai ke teras rumahnya, dan meletakkan begitu saja pakaian ninja merah yang telah tewas saat diutusnya..?' bathin Hiroshi bertambah resah. 'Ini berarti aku sedang berhadapan dengan konspirasi pihak-pihak musuh yang sangat kuat', bathin Hiroshi menyimpulkan. Perlahan Hiroshi mendekat ke sebuah lemari antik di kamar pribadinya. Lalu ditekannya sebuah tombol di balik vas antik jaman dinasti Ming, yang bernilai ratusan miliar rupiah. Klikh! Slakhh..! Slakh..! Srrrekkhh...!Lemari hias itu pun terbelah menjadi dua, dan bergeser ke kiri dan kanan. Kini terbukalah lorong di balik lemari itu. Hiroshi masuk ke dalamnya, dan kembali menekan sebuah tombol di k

  • Sang PENEMBUS Batas   212.

    "Rodent..! Gunakan uang itu untuk bersenang-senang bersama yang lain.! Pergilah..!" Permadi berkata pelan dan tegas. "Baik Bos..! Bro semuanya..! Ucapkan terimakasih pada Bos Permadi..! Sebelum kita semua bersenang-senang..!" seru si Rodent, dengan nada keren dan bersemangat. "Makasih Boss...!!!" teriak semuanya serentak dan bersemangat. Ya, mereka semua paham kini, Rodent sudah memegang dana untuk mereka bersenang-senang, dari bos baru mereka. "Pergilah bersenang-senang..!" Permadi berseru sambil melambaikan tangannya. "Rodent..! Sebentar..!" Permadi memanggil Rodent, karena dia terlupa sesuatu. "Ya Bos," Rodent mendekat. "Kamu jelaskan pada istri muda bekas Bosmu itu. Bahwa sekarang aku pemilik rumah ini..!" perintah Permadi. "Baik Bos..!" Rodent segera beranjak mengetuk pintu rumah. Tokk, tok, tokk..! Klek.! "Masuk saja Tuan Rodent," sapa sang pelayan rumah, saat melihat siapa yang mengetuk pintu. Sejak tadi sebenarnya orang-orang di dalam rumah sudah mendengar, soal ra

  • Sang PENEMBUS Batas   Bab 211.

    Setthh..! Kraghh..!! Dua tangan Permadi bergerak secepat kilat, mematahkan lengan kiri Ramses yang tertembus peluru itu. "AaRrkhs..!!" teriakkan kesakitan Ramses terdengar bergema, di keheningan dini hari itu. Sungguh sakitnya nggak abis-abis. "Kamu pemimpin mereka semua..?" tanya Permadi tenang, dingin tanpa ekspresi. Ramses yang sedang dalam perjuangan menahan rasa sakit, hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil meringis. "Kalau begitu berikan kata sandi ponselmu, dan pin ATM milikmu..!" seru Permadi, sudah terbersit sebuah rencana di kepalanya. Melihat Ramses masih diam, seolah menolak permintaannya, maka.. Sethh..!! Klekkh..!! Jari Permadi bergerak cepat menarik telapak tangan Ramses, dan langsung mematahkan jari kelingkingnya. "Aarrkhgs..!!" kembali teriakkan bariton Ramses bergema, di tengah jalan yang sepi. Semua anggota genk yang lainnya hanya tertunduk pucat di tempatnya masing-masing. Tiada yang berani bersuara apalagi bergerak sedikitpun. Permadi bagai jelmaan

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status