Semua Bab Sang PENEMBUS Batas: Bab 61 - Bab 70

219 Bab

Bab 061. ON THE ROAD

"Sekar jangan begitu. Jangan memaksakan kehendakmu pada Barja, jika kau akan kembali padanya. Ibu sungguh tak apa-apa tinggal sendiri, asalkan kalian baik-baik saja. Dan ingat, jangan sampai peristiwa seperti kemarin terulang lagi,” ucap sang ibu, dia tak ingin Barja menerimanya karena terpaksa. “Saya rasa hari ini semua masalah dalam rumah tangga Mbak Sekar akan terpecahkan. Dan saya merasa ikut gembira karenanya. Namun perantauan saya masih jauh dan panjang. Untuk itu saya mohon pamit pada Ibu dan juga Mbak Sekar. Saya akan melanjutkan perjalanan saya kembali,” ucap Elang dengan sopan. Sang ibu dan Sekar sontak terdiam, sesungguhnya dalam hati mereka merasa berat melepaskan Elang pergi. Setelah banyak jasa dan kebaikkan Elang, yang telah ditanam untuk mereka berdua. Namun mereka berdua sadar, setiap perjumpaan pasti ada perpisahan. “Baiklah jika memang itu keinginanmu Elang. Ibu tak bisa menahanmu. Terimakasih atas segala bantuan dan pertolonganmu pada kami Elang. Yang past
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-17
Baca selengkapnya

Bab 062. DUA ANAK TERLANTAR

Seorang lelaki kecil usia belasan, nampak tengah menggendong seorang anak perempuan di tepi jalan raya. Usia anak perempuan yang digendong itu sekitar 5 tahunan. Wajah anak lelaki itu terlihat sangat lelah dan penat, di terpa matahari senja di kota Gombong. Keringat juga tercetak di bajunya yang lusuh. Kakinya pun menapak tanpa alas di trotoar jalan, yang masih terasa hangat akibat terik di siang hari tadi. “Kita mau ke mana lagi Mas?” tanya Dila, sang adik yang digendongnya. “Mas sendiri nggak tahu Dek. Kita jalan saja mencari warung makan ya,” sahut sang kakak, dengan wajah agak bingung. Ya, sudah hampir 3 hari ini mereka berdua berjalan. Meninggalkan gubuk yang selama ini mereka tempati bersama ibu mereka, di wilayah Purworejo. Setelah ibu mereka meninggal 4 hari yang lalu, akibat penyakit paru-paru yang dideritanya. Maka mereka berdua benar-benar bagai anak ayam kehilangan induk. Bapak mereka bahkan telah mendahului meninggal dunia, tiga tahun yang lalu. Kini mereka adala
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-17
Baca selengkapnya

Bab 063. REJEKI TUKANG SATE

“Mas turunin Dila. Dila sudah kuat jalan lagi kok,” ucap sang adik. “Ohh, nama adik cantik Dila ya, kalau Masnya siapa?” tanya Elang, sambil menuntun motornya, menyamai langkah kedua bocah kecil itu. “Saya Supandi, Om, di panggilnya Pandi,” sahut si bocah laki-laki. “Ok, Pandi, Dila. Kita sudah sampai. Kalian cuci tangan dulu di kran situ ya,” ucap Elang sambil menunjuk kran, tempat si tukang sate mencuci alat makannya. “Pak, saya pesan sate ayamnya 3 porsi dan 3 gelas es teh manis ya,” ucap Elang pada pedagang sate itu. “Baik Mas, silahkan tunggu sebentar ya,” ucap pedagang sate, sambil menyiapkan pesanan Elang. Mereka pun menunggu sambil berbincang hangat, wajah Pandi dan Dila terlihat sangat ceria malam itu. “Pandi sudah sekolah belum?” tanya Elang. “Belum Om. Ibu nggak punya uang buat masukkin sekolah Pandi,” sahut Pandi. Teringat sesuatu Elang segera mengangkat ponselnya, dicarinya sebuah nomor, Tuttt...Tuttt..!Klik.! "Halo Elang, di mana kamu Nak?” sahut Bu Nunik di
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-17
Baca selengkapnya

Bab 064. ADA PENGKHIANAT

"Mas Elang ya?” ucapnya ramah, setelah membuka gembok pagar. “Iya Ibu, salam,” ucap Elang sopan. Dia langsung berpikir, tentu bu Nunik telah mengabarkan pada pengelola panti ini. Tentang dirinya yang akan datang malam ini, bersama 2 anak yatim piatu terlantar. Mari silahkan masuk Mas Elang, adik-adik,” ucap wanita itu ramah, sambil mendahului berjalan masuk ke dalam rumah panti. Elang mengamati ruangan dalam rumah itu, yang hampir serupa dengan pantinya dulu. ‘Semoga keadaan di pantiku dulu lebih nyaman dari sebelumnya’, harap bathin Elang. “Silahkan duduk dulu Mas Elang, adik-adik,” ucap wanita paruh baya itu. “Terimakasih Bu,” jawab Elang sopan, sambil mencium tangan wanita agak paruh baya itu. “Terimakasih ibu,” ucap si Pandi, sambil menirukan Elang mencium tangan si ibu. Sementara Dila adiknya masih terdiam menunduk. Dia masih merasa asing dengan keadaan itu. Tak lama muncul seorang anak perempuan berusia belasan seusia Pandi. Dia mengantarkan nampan berisi minuman dan c
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-18
Baca selengkapnya

Bab 065. NADYA PRAMESWARI

'Siapakah orangnya yang telah berkhianat dalam perusahaanku..?!’ tanya bathin Bambang marah, dan merasa sangat penasaran.Bambang bergegas naik ke mobilnya, dan memerintahkan sang sopir untuk cepat pulang kerumahnya. Ya, sudah puluhan tahun Bambang membangun kerajaan bisnisnya dari bawah. Hingga produk-produk hasil karyanya harum di pasaran internasional. Bambang mendirikan usaha pembuatan karya seni, dari kayu-kayu limbah dan kayu-kayu setengah jadi. Untuk kemudian di buat Woodcarving dan Woodpanel, yang bernilai seni dan di gemari di dunia internasional. Relasi-relasi dan pelanggannya juga tersebar seperti dari Spanyol, Belanda, Australia, Jepang, dan beberapa negara lainnya. Bambang bahkan sampai mendirikan dua kantor cabang di bawah PT. Jogja Berkarya, guna memenuhi order-order yang terus membanjir baik di dalam dan di luar negeri. Omset totalnya perbulan bahkan bisa mencapai ratusan miliar rupiah, dengan persentase profit dan benefit yang menggiurkan.Orang-orang awam menjul
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-18
Baca selengkapnya

Bab 066. KABAR DAN PENCULIKKAN

"Halo Kang Elang. Di mana sekarang posisi Akang ?” tanya Sekar. “Saya di Jogja sekarang Mbak. Bagaimana kabarnya di sana ?” sahut Elang sambil balas bertanya. “Kang Elang. Marini dan Jaka sudah berhasil di tangkap polisi kemarin sore. Mereka berdua sedang menuju ke Desa Gunungsari, bersama orang bayarannya saat di tangkap. Marini mengalami keguguran, karena jatuh saat berusaha melarikan diri dari penangkapan polisi, Kang. Sedangkan Kang Barja sudah meminta Sekar kembali ke rumah. Bahkan dia sendiri yang mengajak Ibu, ikut tinggal bersama di rumahnya. Besok rencananya Sekar dan Ibu akan dijemput Kang Barja, dan akan mulai tinggal di rumahnya,” ucap Sekar, menceritakan kejadian yang dialaminya di sana. “Syukurlah Mbak Sekar. Saya ikut bahagia mendengarnya,” ucap Elang senang. “Kang Barja juga titip salam buat Kang Elang. Dia sangat kecewa, ketika tahu bahwa kang Elang sudah pergi,” ucap Sekar. “Baiklah. Salam kembali buat Kang Barja ya,” ucap Elang. “Kang Elang, Sekar kangen sa
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-18
Baca selengkapnya

Bab 067. PERTEMUAN PERTAMA

“Tarjo! Beri dia peringatan..!!” seru sang pengemudi kesal. ‘AB 7375 N’ bathin Elang, menghapal nomor plat mobil yaris hitam itu. Dia terus mengekor yaris hitam tersebut. Tarjo membuka kaca jendela belakang mobil sebelah kiri. Kepalanya melongok keluar jendela, lalu tiba-tiba tangannya keluar dan mengarahkan sebuah pistol ke arah Elang. Elang yang berada sekitar 15 meter di belakang mereka agak terkejut, lalu dia langsung mengegoskan motornya ke kanan, bertepatan dengan...Dorr..!Pistol Tarjo menyalak namun meleset, Elang sudah lebih dulu bergeser ke sebelah kanan belakang mobil. ‘Hhh..! Mudah-mudahan ini tak membahayakan si gadis itu', bathin Elang, sambil diam-diam dia menerapkan aji Lindu Sukma tingkat 2 nya. Lalu Elqng memusatkan energi di kaki kirinya. Karena cukup berbahaya, jika dia membiarkan dirinya terus menjadi target tembak penumpang yaris hitam itu. “Bodoh kau Tarjo..! Menembak segitu dekat tak kena..!” seru Kelik, temannya yang duduk di ujung kanan. Tarjo dan Kel
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-18
Baca selengkapnya

Bab 068. PUNCAK KEKAGUMAN NADYA

Tuttt....Tuttt..! Ponsel Elang tiba-tiba berdering. “Sebentar ya Mbak Nadya,” ucap Elang, sambil mengambil ponsel di saku jaketnya. “Silahkan Mas Elang,” ucap Nadya sambil tersenyum.‘Bu Sastro memanggil’ tertera di layar ponsel Elang. Klikh.! "Iya Ibu,” sahut Elang sopan. “Mas Elang. Terimakasih ya, atas dana 2 miliar telah masuk ke rekening panti ....,” ucap bu Sastro di sana. 'Ups..!' bathin Elang kaget. Dia buru-buru menjauhkan beranjak menjauh dari Nadya. Agar pembicaraannya tak terdengar oleh gadis itu. Ya, karena buru-buru tadi, Elang jadi tak sengaja berada agak dekat dengan Nadya. Namun tentu saja Nadya sempat mendengar, ucapan dari wanita di ponsel Elang tadi. Seketika Nadya pun merasa kagum, pada pemuda bernama Elang itu. Nadya kini mulai memperhatikan dan menilai sosok Elang, secara lebih spesifik lagi. 'Hmm. Pemuda yang gagah, ganteng, dan baik hati', bathin Nadya. “Iya Ibu. Semoga bisa bermanfaat buat adik-adik saya di sana." Klikh.!Usai dengan pembicaraann
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-19
Baca selengkapnya

Bab 069. TAWARAN DAN INTIMIDASI

‘Kau luar biasa Mas Elang, siapakah dirimu sebenarnya?’ bathin Nadya penasaran. Ya, Nadya merasa sangat ingin mengenal pemuda ini lebih jauh. “Baiklah. Tapi saya nggak bisa berlama-lama Mbak Nadya,” ucap Elang akhirnya. Akhirnya mereka berdua menaiki tangga teras rumah Nadya, yang terbuat dari batu granit itu. Lalu Nadya menekan bel rumahnya di sisi pintu rumah, yang berdaun pintu 2 dan terbuat dari kayu jati ukir itu. Tak lama pintu pun terbuka, muncul sosok tubuh wanita agak sepuh dari dalamnya, “Wah..! Non Nadya! Syukurlah, bibi ikut cemas mendengar kabarmu dari Ibu,” ucap bi Yuli, yang langsung memeluk Nona majikkannya itu. “Buu..! ini Non Nadya sudah pulang Buu..!” seru bi Yuli senang, sambil mengiringi Nadya masuk ke dalam rumah mewah dan megah itu. "Mas Elang duduk dulu ya," ucap Nadya tersenyum manis, persilahkan Elang duduk di sofa berkelas ruang tamu rumahnya. “Ehh, lupa! Masnya silahkan duduk dulu ya. Mau minum apa Mas?” tanya bi Yuli, setelah Elang duduk di kursi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-19
Baca selengkapnya

Bab 070. PANAS HATI ELANG

'Hmm. Jadi semua ini, hanya karena soal ahli waris perusahaankah?’ bathin Elang. Dia sangat terkejut dan marah, mendapati orang yang merencanakan penculikkan dan pembunuhan atas diri Nadya. Ternyata adalah sanak familinya sendiri. “Sebaiknya kita makan siang bersama dulu sekarang. Kau juga pastinya lapar ya Elang,” ucap Sundari akhirnya sambil tersenyum. Lalu dia mengajak semuanya, menuju ke meja makan keluarga. Makan siang hari itu cukup hangat dirasakan olrh Elang. Walau dia merasa agak kurang nyaman, dengan tatapan benci dan kurang bersahabat dari Setyono dan Freddy. 'Sesungguhnya mereka berdua, adalah ‘musuh dalam selimut’ bagi keluarga ini!' bathin Elang geram. Akhirnya, setelah acara makan siang selesai. Elang pun pamit pulang pada keluarga Bambang. Saat dia hendak menyalami Freddy, yang sejak tadi memandang sinis padanya. Maka terdengar ucapan tajam, yang sangat membuat hati Elang terbakar, “Lho kok buru-buru Mas..? Langsung saja kamu bilang minta berapa untuk jasa kam
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-19
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
56789
...
22
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status