Home / Romansa / Istri Perawan Disangka Janda / Chapter 91 - Chapter 100

All Chapters of Istri Perawan Disangka Janda: Chapter 91 - Chapter 100

156 Chapters

Bab 91

Meski salju sudah lama turun dan berhenti dari awal datang. Namun, hawa dingin masih seperti membekukan. Sazlina merasa dirinya jauh lebih sensitif pada cuaca belakangan ini. Bahkan timbul rasa meriang kadang-kadang. “Rambutmu pada berdiri, Saz. Apa sebab aku …?” tanya Khaisan dengan tatapan redupnya. “Bukan, bukan sebab kamu. Aku memang sangat dingin. Bukankah dari berangkat aku selalu mengeluh dingin? Tapi aku berharap ada salju yang kusentuh ….” Sazlina buru-buru menyela ucapan Khaisan. Meski sentuhan suaminya sudah sangat tidak sopan, namun memang hawa dinginlah yang membuat kulitnya meremang. “Salju turun di Osaka sangat sebentar, itu pun jarang terjadi. Sama juga dengan di Tokyo, moment yang tidak terduga. Jika ada pun, hitungan menit saja seperti malam ini.” Khaisan menjelaskan dan kemudian tersenyum. Merasa suka dengan respon Sazlina yang terus bergerak-gerak bak cacing kebingungan di bawah kungkungannya. Lebih semangat lagi, istri yang semula bersikap dingin dan marah, tid
last updateLast Updated : 2025-02-24
Read more

Bab 92

Tok Tok Tok“Ada orang…!” respon Sazlina dengan raut waswas. Mendorong Khaisan untuk menyingkir. “Mungkin Daehan atau Shanumi.” Khaisan tidak berat hati untuk menjauh dari menindih istrinya. Sadar jika panggilan di pintu sangatlah penting kali ini. “Mau ke mana?” Daehan menarik tangan Sazlina untuk mundur kembali. “Bukain pintu…,” sahut Sazlina bingung dan kaget. “Kamu pergilah ke kamar mandi. Biar aku yang buka pintu. Itu belum tentu Shanumi, mungkin juga si Daehan. Sedang kamu… nggak pakai boxer.” Khaisan bicara santai sambil berdiri. Lelaki itu terlihat tetap rapi meski ulahnya sangatlah kelewatan. Hanya zipper celana yang mungkin agak turun, tampak sedang dibenarkan sambil jalan. Sazlina menurut dan tidak membantah. Menyadari keadaannya yang sudah kembali ke semi higienis dan bukan bersih yang sempurna. Berharap yang di luar adalah Daehan dan bukan Shanumi. Sangat tidak nyaman jika harus berbincang dengan keadaan berantakan, Sazlina melesat ke dalam kamar mandi. Lima belas
last updateLast Updated : 2025-02-24
Read more

Bab 93

Tok Tok Tok! Bunyi ketukan sangat keras. “Ada orang …!” Sazlina memekik kaget. Keluar dari kamar Oma dengan perasaan lega, tiba-tiba terdengar ketukan nyaring di ruang tamu. Posisi pintu utama rumah tidak jauh dari yang sedang dilewati bersama sang suami. “Siapa bertamu larut malam seperti ini …,” gumam Khaisan. Merasa keluarga di Tokyo tidak ada yang berencana datang ke Osaka malam ini. Hanya dirinya dan Sazlina. Namun, Khaisan gegas melangkah mendekati pintu. Tidak suka akan ada ketukan keras lagi berikutnya. Menyingkap sedikit tirai guna memastikan keamanan. Bereaksi terkejut dan kini diam sambil memandang Sazlina.“Siapa di luar …?” Sazlina mendekat dan bertanya rendah. Merasa janggal dengan reaksi suaminya. “Keponakan Oma,” sahut Khaisan dan terlihat enggan. Tidak juga kembali menghadap pintu. “Kenapa tidak cepat dibuka? Di luar pasti dingin, kasihan …,” ucap Sazlina heran. Sambil akan merapat ke pintu. “Biar aku yang buka, Saz!” Khaisan setengah berseru lirih sambil meng
last updateLast Updated : 2025-02-25
Read more

Bab 94

Lelaki yang lamat-lamat diingat Sazlina dan bergelagat memberi ancaman, telah bertindak lebih gesit darinya. Dekapan yang mengunci tak terlawan oleh tenaganya yang bagi lelaki itu pasti tidaklah seberapa. “Jangan kurang ajar! Kenapa kamu tidak menghargai keponakanmu?” tanya Sazlina yang segera paham situasi dan kondisi. Secara silsilah, tempat Khaisan adalah sebagai keponakan pria itu. “Aku tidak menyangka, keluarga sepupuku adalah pengkhianat semuanya.” Pria di belakang Sazlina berbicara lirih. Mengunci dua pundak Sazlina dengan membentang lengan di bawah leher. Wajah merapat di kepala Sazlina. Meski berkerudung, tetapi terasa jika bibir pria itu menempel di telinga mungilnya. “Maksudmu apa? Tapi, singkirkan tanganmu.” Sazlina bicara tegas. Namun, lelaki itu mengabaikan dan bertahan dengn posisi semula. Sungguh risih rasanya. “Aku sangat menyukai adikmu. Tetapi tiba-tiba Daehan menikahinya. Dia berbohong, dia bilang Shanumi sudah punya calon. Aku pun mundur, sebab sebetulnya aku
last updateLast Updated : 2025-02-25
Read more

Bab 95

Pesawat yang membawa Shanumi dan Daehan telah membumbung tinggi di angkasa biru langit Jepang yang cerah dan merekah pagi ini. Meninggalkan dua insan dengan ekspresi berlainan. Yang satu bermuka tenang dan cerah, satu lagi terlihat sedih dan muram dengan mata yang tak henti berkaca-kaca. “Sudah, Saz, ikhlaslah. Semua manusia di dunia, sedekat dan sesayang apa kita, akan berpisah dan memiliki masa depan sendiri-sendiri. Kamu dan adikmu sudah memiliki pasangan hidup, dengan keluarga barumulah seharusnya kamu merasa bahagia saat ini.” Khaisan berusaha meredam kegalauan istrinya. “Siapa keluarga baruku?” tanya Sazlina tersenyum. Tidak ingin menghampakan maksud baik perkataan suaminya. “Mama Hana…,” sahut Khaisan sambil mengulum senyum. “Kok mertua … lalu suamiku buat apa?” tanya Sazlina pura-pura bersungut. Kesedihan akan kepergian Shanumi dari negara Jepang benar-benar sedikit berkurang sebab canda suaminya. “Keluarga barumu hanya aku. Tetapi jika kamu menganggap Mama dan Papa juga
last updateLast Updated : 2025-02-26
Read more

Bab 96

Perjalan panjang yang singkat tetapi penuh warna dan bahagia dengan kereta cepat pun berakhir. Mereka kembali pulang. Rumah besar yang terlihat lengang dari luar, tetapi ada dua orang tukang kebun sedang bekerja di area taman dalam rumah. Buru-buru menoleh dan mengangguk khidmat demi menyambut kedatangan Tuan Muda rumah itu. “Apa tidak ada orang di rumah?” Khaisan bertanya pada mereka dalam bahasa lokal. “Kami tidak tahu, kami baru datang.” Mereka menyahut juga dalam bahasa Jepang sambil menggeleng berulang kali. Sebab mereka terlihat sungguh-sungguh, Khaisan tidak ingin bertanya lagi. Tukang kebun itu hanya datang tiga kali dalam satu bulan. Bukan pekerja tetap rumah ini. Sebab tidak pernah tukar orang, wajah dua tukang kebun itu sangatlah dihapalnya. Khaisan membawa Sazlina masuk ke ruang utama dan langsung menuju tangga untuk naik ke lantai dua. “Saz …!” seru Kjaisan pada Sazlina yang sudah melewati kamarnya. Mereka sudah berada di deretan kamar di lantai dua. “Aku ingin men
last updateLast Updated : 2025-02-27
Read more

Bab 97

Khaisan berdiri di belakang istrinya di depan cermin rias di kamarnya. Tidak bosan memandang dengan bibir senyum simpul. Mata rada sipitnya yang biasa bersorot tajam, kini meredup dan teduh. “Sudah, biar aja terlihat. Hanya ada Mijhe.” Khaisan memberikan pendapat. “Tiba-tiba ada orang datang, kan malu…. Lagipula, yakin ya jika Clara gak ada?” sahut Sazlina sambil memasang dan membenarkan kerudung instan agar menutup di leher serta dadda. Setelah tampak sibuk mengoles salep di beberapa titik lebam pada leher putihnya. Ulah Khaisan siang tadi saat mereka coba making love yang pertama. “Padahal itu hanya noda palsu.” Khaisan berkata lirih yang jadi melebar senyumnya. Abai akan tanya Sazlina tentang Clara. “Kok noda palsu?” sahut Sazlina cepat hingga menolehkan wajah. Bukan lagi memandang di cermin. Sambil menatap suami, dia menyimpan sajadah dan mukena ke dalam almari. Mereka baru saja berjamaah dalam shalat. “Gimana tidak palsu, aku gagal…,” ucap Khaisan mengeluh sambil mendekati s
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 98

Dua badan tanpa busana sedang saling berpeluk rapat sebab dingin AC dalam ruangan. Meski sudah membuka mata sebab sayup suara adzan dari Masjid Cangi terdengar berkumandang di kejauhan, untuk bangun pun rasa badan sungguh enggan. “Pukul berapa?” tanya Sazlina saat Khaisan menguatkan pelukan. Keinginan mencari di mana bajunya pun urung. Kehangatan yang diberi suami lagi-lagi melenakan. “Pukul lima kurang lima,” jawab Khaisan serak. Suara seksi khasnya saat bngun tidur pun mengudara. “Bangun yuk …,” sambut Sazlina meski rasanya memang enggan. Rasa badan remuk redam seperti habis dipalu godam. Kenapa bisa sepegal ini, apa faktor usia? Ah, bukan! Dirinya masih muda. Rasa lelah dan malas ini harus dihempaskan! Namun, Khaisan tetap tanpa pergerakan. Terus menenggelamkan istri dalam pelukan di dada dengan sebelah tangan. Rasanya hangat dan lembut. Menghadirkan bahagia dan nyaman yang susah dijabarkan. Serasa menghanyutkannya kembali ke alam bawah sadar. “Mas, bangun yuk. Ntar keburu ter
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 99

Meski tidak berbuat hal berarti saat mandi, waktu mereka cukup banyak tergunakan di sana. Jika tidak bergegas, akan terancam kehilangan waktu subuh. Mentari pun sudah tanda-tanda mulai menyembul di ufuk timur. Selisih waktu dua jam lebih cepat di Tokyo daripada di Jakarta itu membuat matahari menyembul pada pukul enam pagi lewat sedikit. Sebab raut Sazlina yang terlihat pucat, Khaisan merasa tidak tenang dan memberi penawaran. Ingin menambah rebahan atau pergi turun ke meja makan. Meski masih pagi, setidaknya pasti ada roti yang bisa dipakai untuk mereka bersarapan. “Tidak perlu. Paling tidak untuk sekarang, biarlah Mijhe sendiri yang menyiapkan isi meja makan. Kamu tampak pucat, Saz.”Khaisan menegaskan saat Sazlina menolak sambung rebahan setelah shalat subuh dan memilih turun sendiri ke lantai bawah. Bahkan berniat untuk membantu Mijhe memasak pagi ini. “Tapi tiduran melulu juga tidak baik. Aku pasti akan bosan dan semakin merasa tubuhku kurang fit. Aku justru perlu rajin berg
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 100

Rumah besar telah sepi kembali. Khaisan dan Clara pun hilang bayangnya meninggalkan pagar dan meluncur di jalan kecil komplek perumahan. Sazlina menapaki anak tangga satu-satu tidak cepat. Merasa sedih dan kesal. Baru juga ada kemajuan luar biasa pada pernikahannya, terpaksa kembali penuh warna dengan adanya urusan Khaisan pada Clara. Rasa peduli dan tanggung jawab pada saudara, konon ….“Ish, sampai kapan si Clara ngganggu terus. Kenapa mama tidak mengusirnya? Pilih kasih, kenapa Daishin saja yang disuruh pergi?” Sazlina menggerutu lirih sambil terus menapak anak tangga hingga habis. Kini sedikit membelok menuju kamar miliknya dan melewati kamar Khaisan. “Oh, pasti sebab Clara masih sakit. Mungkin sebentar lagi juga disuruh pergi sama Mama.”Sazlina kembali bicara lirih. Dalam hati berharap agar mama mertua peka pada duri dalam rumah tangga anaknya. Klrk Klerk Klerk“Dikunci …,” keluh Sazlina lirih. Knop pintu gagal dibukanya. Padahal kunci tidak dia bawa. Tetapi menggantung di bal
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more
PREV
1
...
89101112
...
16
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status