Home / Romansa / Istri Perawan Disangka Janda / Chapter 71 - Chapter 80

All Chapters of Istri Perawan Disangka Janda: Chapter 71 - Chapter 80

90 Chapters

Bab 71

Khaisan yang menatap datar saat Sazlina mengajak bermesraan, kini wajah tampannya berpaling. Duduk mematung tanpa mengusir gadis di pangkuan untuk turun. Membiarkan tangan lembut itu mengalung di leher dan mereka sangat dekat. Tangan halus itu tidak lagi sangat dingin, justru seperti mengalirkn hawa panas. “Dingin sekali. Apa tidak bisa membalas memeluk…,” keluh Sazlina lirih dan sengaja memancing. Berharap ada sikap balasan yang sama hangatnya. Tetapi... Khaisan tidak merespon yang kini justru menjauhkan diri dengan menumpu tangan ke belakang di ranjang. Hingga Sazlina sedikit jadi ketarik. “Kalo ingin bicara, segera saja dimulai. Sepertinya Mas Kha memang tidak tertarik untuk bermesra denganku…,” usik Sazlina mengeluh. Merasa hampa diabaikan. “Aku ingin bilang, seharusnya aku berpikir lagi untuk menikahi wanita sepertimu. Tetapi semua sudah terlanjur.” Khaisan tiba-tiba bicara. Bernada serius dengan tatapan tegas. Sazlina jadi merasa gugup dan gentar. "Apa menyesal?" tanya Sazl
last updateLast Updated : 2025-02-13
Read more

Ban 72

Sazlina yang lelah tetapi berniat menunggu kedatangan adiknya dari Indonesia, bangun dari ketiduran sebab ketukan keras di pintu. Bergegas dicarinya kerudung yang telah tersisih di tepi bagian kaki. Buru-buru dia kenakan. Ceklerk“Adikmu datang.” Suara khas menerobos. Khaisan berbicara begitu pintu dibuka. Tetap berdiri dan tidak berbalik pergi. “Di mana? Nanti aku menyusul.” Sazlina menyahut. Kepala yang terasa berat, jadi sedikit berkurang nyut-nyutnya sebab kabar barusan. “Turun denganku,” ucap Khaisan tegas dan kaku. Melihat ketegasan saat Khaisan bicara yang mungkin ada maksud, Sazlina enggan menolak. Memilih segera ke kamar mandi untuk mencuci muka ala kadarnya. Kemudian buru-buru keluar lagi. Mengikuti Khaisan yang perlahan berbalik dan pergi menjauh dari kamar menuju arah tangga. Namun, tiba-tiba lelaki itu melambat langkah dan kini berjalan sejajar. Sazlina terkejut saat Khaisan sudah memegang tangannya dengan cepat untuk di genggam. Tangan besar itu begitu dingin terasa
last updateLast Updated : 2025-02-13
Read more

Bab 73

Di meja makan yang hampir pukul delapan pagi, duduk lima orang dewasa di kursi masing-masing. Seorang asisten wanita lokal yang muda dan kurus, hilir mudik antara dapur dan ruang makan demi sajian terbaiknya. “Jadi, kamu ini kapan nyusul? Nggak baik ada ipar bujang yang seatap dengan pengantin baru!” usik Daehan pada Daishin yang duduk di depannya. Telah sama-sama ada nasi kukus, tamagoyaki (telur dadar digulung) dan nori (rumput laut) di piring mereka. Daishin mengangkat wajah dengan senyum masamnya. “Salah sendiri, adik beradik kalian embat sampai habis!” sahut Daishin sambil melirik Shanumi di sisi samping depan dan Sazlina di sebelah Daehan. Khaisan duduk di sebelah kanan dan berhadapan dengan istrinya. “Lha emang jumlah mereka cuma dua. Gimana gak habis! Kamunya aja yang keasyikan tukar cewek!” Daehan merasa jawaban Daishin cukup kocak. “Coba tanyain ke ibu mertua kalian, masih ada nggak satu adik mereka di rumah Indonesia. Jika masih, biar bulan depan aku datang melamar!”
last updateLast Updated : 2025-02-13
Read more

Bab 74

Sazlina sudah mundur hinggga kaki membentur kisi ranjang. Merasa gentar sebab Khaisan terus maju mendesaknya. Berpikir bahwa lelaki itu akan meminta jatah sebagai suami demi sekadar menghamili, rasa hati sakit dan justru panik luar biasa. “Tadi bilang kalo obrolan mereka soal anak sangat membosankan. Ini, kenapa jadi bertolak balik seperti itu? Mas Kha munafik!” cela Sazlina gugup. Bicaranya tersendat dan susah. Hati pun berdebar dan gundah. “Wajar kan, manusia berubah pikiran? Aku pun telah berubah pikiran," ucap Khaisan dan lalu terdiam. "Makanya, Mas Kha jangan sombong. Kena menjaga sikap dan ucapan. Jangan kasar dan jangan mudah menghakimi. Apalagi pada istri dan harta mereka yang direlakan untuk suami. Harta jiwa raga maksudku. Aku tahu, aku gak punya apa-apa. Terakhir... Doa dari hati terluka dijamin akan dinaikkan hingga semua lapisan di langit!" Sazlina bicara seperti meracau. " Iyalah...," sahut Khaisan lirih. "Tapi, Saz! Kurasa memang akan memalukan jika mereka l
last updateLast Updated : 2025-02-14
Read more

Bab 75

Khaisan melajukan kendaraan menuju area pusat perbelanjaan mewah Ginza di jantung Kota Tokyo. Menuruti permintaan adik ipar perempuan yang ingin mencuci mata dan berbelanja. Sedang Sazlina hanya mengikuti, Khaisan tahu jika istrinya sudah terlalu sering berkunjung di kawasan itu. Tiga lelaki sepakat berotasi mengemudi sebab sopir yang siaga untuk keluarga sedang dibawa orang tua ke Osaka. Bilangnya sebentar ternyata lama juga. “Mas … kalo isinya habis gimana?” Terdengar tanya manja Shanumi dari belakang. Khaisan tidak sengaja mendengar. “Ini isinya full, sayangku,” jawab Daehan agak keras. Menunjuk selembar kartu berhologram di tangan Shanumi. “Ya… maksudku, kalo tak terasa aku habiskan, gimana? Aku suka kesurupan kalo belanja. Lagian ingin beliin Mbak Sazlin beberapa baju yang dia suka, kemarin aku nggak ngasih apa-apa pas nikahannya. Sedang dia malah ngasih tiket pulang pergi ke Bali sama kita bulan depan, kan?” Shanumi menjelaskan. “Aku juga ingin ngasih kado tiket hanimun ke
last updateLast Updated : 2025-02-14
Read more

Bab 76

Meski teruja, perasaan Sazlin juga geli dan seperti aneh dengan nada Khaisan bicara. Lelaki bersuara khas yang berat itu selalu tegas dan kaku saat bicara. Tiba-tiba bicara lembut dan terdengar mesra, adalah hal luar biasa bagi Saalina. Juga... justru jadi aneh rasanya. “Jadi, sengaja menjauhkanku dari Mas Daishin? Apa ingin memfotokan aku?" tanya Sazlina sambil kesusahan menahan senyum. Khaisan terlihat salah tingkah. "Hemm...." Khaisan tidak menjawab. Hanya sahut dehem memberi makna ucapnya. "Tapi sayangnya… aku tidak ingin lagi difoto. Aku khawatir hasilnya akan jelek. Rugi dong bergaya.” Sazlina tersenyum mengejek. “Meremehkanku…?” bisik Khaisan. Ada beberapa orang di belakang mereka. “Aku … aku tidak berani meremehkanmu,” sahut Sazlina gugup. Khaisan tidak lagi memegang tangan. Tetapi berpindah jadi memeluk di pinggang dan menariknya mendekat. Debar di dadda yang sudah bergemuruh, jadi berdetak kencang tak karuan. Telapak lebar dan jari panjang Khaisan juga sambil singgah
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

Bab 77

Setelah berbelanja banyak pakaian di butik Ginza, mereka sempat singgah untuk shalat dzuhur di Masjid Camii yang merupakan tempat ibadah umat islam terbesar di Jepang. Tidak heran jika artis sekaliber Syahrini dan Maia Estianty memilihnya untuk melakukan ijab kabul di hari pernikahan sakral mereka. Sebab, Masjid Camii sendiri memang memberi wadah bagi umat muslim mana pun untuk dinikahkan dengan sah.Memang tidak sebesar dan seluas bangunan Masjid Istiqlal di Jakarta, tetapi juga megah dan artistik dengan mengusung model bangunan Turki yang memukau. Meski tidak beragama Islam, penduduk Jepang dibolehkan masuk untuk sekadar berfoto seperlunya jika ingin. Dalam hal beragama dan beribadah, warga di sana sangat memiliki toleransi. “Lambat sekali…,” tegur lelaki di dekat tangga saat Sazlina baru turun dari lantai dua. Habis shalat, Shanumi sudah pergi duluan yang memang jarang berlama-lama. “Kamu menungguku...?” sahut Sazlina terkejut. Wajah tampan berpeci hitam itu terlihat cerah d
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

Bab 78

Daishin tidak pergi saat Sazlina akan menutup pintu. Sedang seluruh barang belanjaan telah diletak aman oleh lelaki itu di dalam kamar. “Terima kasih bantuanmu, ya, Mas. Selamat istirahat.” Sazlina menegur yang bermaksud agar Daishin berlalu. “Ada yang ingin dikatakan?” tanya Sazlina dengan perasaan tidak nyaman. Daishin terus berdiri menjulang di depan pintu kamar dan menatapnya tak berkedip. “Aku memandang Mas Khaisan adalah lelaki sukses dan berdedikasi. Ternyata, dia gagal menjadi lelaki baik untuk istri sendiri. Dia tidak tahu jika kamu adalah bidadari, Sazlina,” ucap Daishin serius. “Mas Daishin bicara seperti itu untuk apa? Tidak perlu memuji untuk merayuku, aku sudah menikah. Lagipula sikap Mas Khaisan begitu sebab Clara kecelakaan. Mas Daishin tahu sendiri alasannya kan?" Sazlina berusaha menutupi perasaan sesungguhnya. “Tidak perlu pura-pura tegar di depanku. Aku tahu dirimu dan sangat tahu bagaimana suamimu. Aku pernah bilang padamu jika sikapnya pada Clara tidak tegas
last updateLast Updated : 2025-02-16
Read more

Bab 79

Dua insan itu sama-sama engah dan habis napas. Sazlina dengan perasaan campur aduk tak terjabar. Antara melayang, terkejut dan senang. Juga tidak habis pikir jika Khaisan tiba-tiba menciuminya, bahkan dengan berlama-lama. Bukan sekadar di pipi atau di kening saja yang tiba-tiba dicium brutal oleh suaminya. Tetapi juga di bibir! Tidak menyangka Khaisan melakukan hal sein tim itu padanya dengan tiba-tiba. Masih seperti sedang bermimpi saja rasanya. "Apa ini mimpi?" tanya Sazlina pada lelaki yang masih menatapnya dalam dan redup. "Mau diulang lagi agar yakin itu bukan mimpi?" sahut Khaisan tersenyum. Sazlina semakin cantik dengan wajah merona dalam pandangan matanya. "Iya, ayolah diulang," sahut Sazlina setelah terdiam sebab terkejut dengan ucapan suaminya. Namun, hanya bermaksud menggoda meski jika sungguh-sungguh pun tak mengapa. "Serius...?" respon Khaisan, dengan cepat mendekatkan wajahnya lagi pada Sazlina yang masih tersenyum. Dia tahu jika wanita itu pun sambil usil. "Eh, bu
last updateLast Updated : 2025-02-16
Read more

Bab 80

Sazlina akan keluar kamar saat Shanumi datang menjemput. Adiknya terlihat rapi dan cantik dengan gamis modis serta hijab yang menutup di kepala. Mengajak makan pagi ber sama-sama di ruang makan lantai satu. “Mbak, matamu kayak bengkak…,” ucap Shanumi sambil memandang mata kakaknya. Mereka di depan pintu dengan Sazlina yang menutup. “Iya, Nok.” Sazlina mengakui. Bersiap jujur andai Shanumi bertanya detail. “Hari ke dua dan ke tiga haidmu, ya?” tanya Shanumi menebak. Sazlina menghembuskan napas panjang. “Kamu dah hapal ya, Nok.” Sazlina sambil tersenyum. Niat ingin cerita semua pada adiknya pun urung. “Mana lupa, wajah suka bengap saat bangun tidur waktu haid. Malah yang kita sama itu, suka demam pas menjelang datang harinya, Mbak.” Shanumi tiba-tiba meraba dahi Sazlina. “Kali ini aku sehat aja sih, Nok.” Sazlina sambil tersenyum.“Alhamdulillah, Mbak. Nggak demam, ya.” Shanumi menurunkan tangannya dari dahi Sazlina yang kemudian mengangguk. “Kamu mau keluar, Nok?” tanya Sazlina
last updateLast Updated : 2025-02-17
Read more
PREV
1
...
456789
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status