Sazlina sudah mundur hinggga kaki membentur kisi ranjang. Merasa gentar sebab Khaisan terus maju mendesaknya. Berpikir bahwa lelaki itu akan meminta jatah sebagai suami demi sekadar menghamili, rasa hati sakit dan justru panik luar biasa. “Tadi bilang kalo obrolan mereka soal anak sangat membosankan. Ini, kenapa jadi bertolak balik seperti itu? Mas Kha munafik!” cela Sazlina gugup. Bicaranya tersendat dan susah. Hati pun berdebar dan gundah. “Wajar kan, manusia berubah pikiran? Aku pun telah berubah pikiran," ucap Khaisan dan lalu terdiam. "Makanya, Mas Kha jangan sombong. Kena menjaga sikap dan ucapan. Jangan kasar dan jangan mudah menghakimi. Apalagi pada istri dan harta mereka yang direlakan untuk suami. Harta jiwa raga maksudku. Aku tahu, aku gak punya apa-apa. Terakhir... Doa dari hati terluka dijamin akan dinaikkan hingga semua lapisan di langit!" Sazlina bicara seperti meracau. " Iyalah...," sahut Khaisan lirih. "Tapi, Saz! Kurasa memang akan memalukan jika mereka l
Khaisan melajukan kendaraan menuju area pusat perbelanjaan mewah Ginza di jantung Kota Tokyo. Menuruti permintaan adik ipar perempuan yang ingin mencuci mata dan berbelanja. Sedang Sazlina hanya mengikuti, Khaisan tahu jika istrinya sudah terlalu sering berkunjung di kawasan itu. Tiga lelaki sepakat berotasi mengemudi sebab sopir yang siaga untuk keluarga sedang dibawa orang tua ke Osaka. Bilangnya sebentar ternyata lama juga. “Mas … kalo isinya habis gimana?” Terdengar tanya manja Shanumi dari belakang. Khaisan tidak sengaja mendengar. “Ini isinya full, sayangku,” jawab Daehan agak keras. Menunjuk selembar kartu berhologram di tangan Shanumi. “Ya… maksudku, kalo tak terasa aku habiskan, gimana? Aku suka kesurupan kalo belanja. Lagian ingin beliin Mbak Sazlin beberapa baju yang dia suka, kemarin aku nggak ngasih apa-apa pas nikahannya. Sedang dia malah ngasih tiket pulang pergi ke Bali sama kita bulan depan, kan?” Shanumi menjelaskan. “Aku juga ingin ngasih kado tiket hanimun ke
Meski teruja, perasaan Sazlin juga geli dan seperti aneh dengan nada Khaisan bicara. Lelaki bersuara khas yang berat itu selalu tegas dan kaku saat bicara. Tiba-tiba bicara lembut dan terdengar mesra, adalah hal luar biasa bagi Saalina. Juga... justru jadi aneh rasanya. “Jadi, sengaja menjauhkanku dari Mas Daishin? Apa ingin memfotokan aku?" tanya Sazlina sambil kesusahan menahan senyum. Khaisan terlihat salah tingkah. "Hemm...." Khaisan tidak menjawab. Hanya sahut dehem memberi makna ucapnya. "Tapi sayangnya… aku tidak ingin lagi difoto. Aku khawatir hasilnya akan jelek. Rugi dong bergaya.” Sazlina tersenyum mengejek. “Meremehkanku…?” bisik Khaisan. Ada beberapa orang di belakang mereka. “Aku … aku tidak berani meremehkanmu,” sahut Sazlina gugup. Khaisan tidak lagi memegang tangan. Tetapi berpindah jadi memeluk di pinggang dan menariknya mendekat. Debar di dadda yang sudah bergemuruh, jadi berdetak kencang tak karuan. Telapak lebar dan jari panjang Khaisan juga sambil singgah
Setelah berbelanja banyak pakaian di butik Ginza, mereka sempat singgah untuk shalat dzuhur di Masjid Camii yang merupakan tempat ibadah umat islam terbesar di Jepang. Tidak heran jika artis sekaliber Syahrini dan Maia Estianty memilihnya untuk melakukan ijab kabul di hari pernikahan sakral mereka. Sebab, Masjid Camii sendiri memang memberi wadah bagi umat muslim mana pun untuk dinikahkan dengan sah.Memang tidak sebesar dan seluas bangunan Masjid Istiqlal di Jakarta, tetapi juga megah dan artistik dengan mengusung model bangunan Turki yang memukau. Meski tidak beragama Islam, penduduk Jepang dibolehkan masuk untuk sekadar berfoto seperlunya jika ingin. Dalam hal beragama dan beribadah, warga di sana sangat memiliki toleransi. “Lambat sekali…,” tegur lelaki di dekat tangga saat Sazlina baru turun dari lantai dua. Habis shalat, Shanumi sudah pergi duluan yang memang jarang berlama-lama. “Kamu menungguku...?” sahut Sazlina terkejut. Wajah tampan berpeci hitam itu terlihat cerah d
Daishin tidak pergi saat Sazlina akan menutup pintu. Sedang seluruh barang belanjaan telah diletak aman oleh lelaki itu di dalam kamar. “Terima kasih bantuanmu, ya, Mas. Selamat istirahat.” Sazlina menegur yang bermaksud agar Daishin berlalu. “Ada yang ingin dikatakan?” tanya Sazlina dengan perasaan tidak nyaman. Daishin terus berdiri menjulang di depan pintu kamar dan menatapnya tak berkedip. “Aku memandang Mas Khaisan adalah lelaki sukses dan berdedikasi. Ternyata, dia gagal menjadi lelaki baik untuk istri sendiri. Dia tidak tahu jika kamu adalah bidadari, Sazlina,” ucap Daishin serius. “Mas Daishin bicara seperti itu untuk apa? Tidak perlu memuji untuk merayuku, aku sudah menikah. Lagipula sikap Mas Khaisan begitu sebab Clara kecelakaan. Mas Daishin tahu sendiri alasannya kan?" Sazlina berusaha menutupi perasaan sesungguhnya. “Tidak perlu pura-pura tegar di depanku. Aku tahu dirimu dan sangat tahu bagaimana suamimu. Aku pernah bilang padamu jika sikapnya pada Clara tidak tegas
Dua insan itu sama-sama engah dan habis napas. Sazlina dengan perasaan campur aduk tak terjabar. Antara melayang, terkejut dan senang. Juga tidak habis pikir jika Khaisan tiba-tiba menciuminya, bahkan dengan berlama-lama. Bukan sekadar di pipi atau di kening saja yang tiba-tiba dicium brutal oleh suaminya. Tetapi juga di bibir! Tidak menyangka Khaisan melakukan hal sein tim itu padanya dengan tiba-tiba. Masih seperti sedang bermimpi saja rasanya. "Apa ini mimpi?" tanya Sazlina pada lelaki yang masih menatapnya dalam dan redup. "Mau diulang lagi agar yakin itu bukan mimpi?" sahut Khaisan tersenyum. Sazlina semakin cantik dengan wajah merona dalam pandangan matanya. "Iya, ayolah diulang," sahut Sazlina setelah terdiam sebab terkejut dengan ucapan suaminya. Namun, hanya bermaksud menggoda meski jika sungguh-sungguh pun tak mengapa. "Serius...?" respon Khaisan, dengan cepat mendekatkan wajahnya lagi pada Sazlina yang masih tersenyum. Dia tahu jika wanita itu pun sambil usil. "Eh, bu
Sazlina akan keluar kamar saat Shanumi datang menjemput. Adiknya terlihat rapi dan cantik dengan gamis modis serta hijab yang menutup di kepala. Mengajak makan pagi ber sama-sama di ruang makan lantai satu. “Mbak, matamu kayak bengkak…,” ucap Shanumi sambil memandang mata kakaknya. Mereka di depan pintu dengan Sazlina yang menutup. “Iya, Nok.” Sazlina mengakui. Bersiap jujur andai Shanumi bertanya detail. “Hari ke dua dan ke tiga haidmu, ya?” tanya Shanumi menebak. Sazlina menghembuskan napas panjang. “Kamu dah hapal ya, Nok.” Sazlina sambil tersenyum. Niat ingin cerita semua pada adiknya pun urung. “Mana lupa, wajah suka bengap saat bangun tidur waktu haid. Malah yang kita sama itu, suka demam pas menjelang datang harinya, Mbak.” Shanumi tiba-tiba meraba dahi Sazlina. “Kali ini aku sehat aja sih, Nok.” Sazlina sambil tersenyum.“Alhamdulillah, Mbak. Nggak demam, ya.” Shanumi menurunkan tangannya dari dahi Sazlina yang kemudian mengangguk. “Kamu mau keluar, Nok?” tanya Sazlina
Sazlina tidak jadi menutup pintu saat namanya dipanggil. Ternyata Daishin yang sudah sampai di depan kamar. “Ada apa, Mas?” Sazlina membuka pintu lebih lebar. Mereka baru selesai sarapan pagi. “Orang dari Thailand mempercepat penerbangan, mereka sudah check-in pukul enam pagi tadi, emailnya baru masuk. Tengah hari kita harus sudah standby di Bandara Narita. Kamu sudah siap?” tanya Daishin serius. “Benarkah, syukur tidak jadi malam…,” sambut Sazlina setengah mengeluh. Ekspresi lega teebaca jelas di wajah eloknya. “Untuk sementara mereka hingga sore saja di Tokyo. Mereka ingin ditemani olehmu, maksudku, guide dari Indonesia dengan bahasa mereka hanya saat di Ueno, Saz. Selebihnya kita lepas.” Daishin menjelaskan buru-buru. Ada galau di wajah Sazlina. Khawatir jika gadis itu tiba-tiba membatalkan. Tidak ada ikatan kerja pada Sazlina kali ini. Sedang agensi dengan pengunjung dari Thailand, lebih dari sekadar perjanjian tulis. Akan tercoreng nama agensi andai Sazlina berubah
Memang lelaki, konon … meski tidak memakai hati, tetapi napsu dan hasrat terus menyala panas melebihi bara api. Begitu pun Daishin. Rasa kesal dengan niat sekadar menggoda, pada akhirnya seperti lupa diri. Mengakui jika tampilan Osara terlalu membuat lena yang akan menyeretnya hingga seperti gila. Benar-benar lupa dengan batasan bahwa gadis itu masih berstatus saudara baginya. Juga abai pada aturan hingga dirinya mulai membuat lagi dosa besar.Tap (Lampu kamar mandi menyala) Tap (Lampu meja di samping ranjang menyala) Tap (Lampu di depan pintu menyala) Seperti lepas posisi jantung di dadanya. Kondisi gelap gulita berubah terang benderang. Cahaya silau seperti menusuk dalam di mata Daishin yang redup. Sesaat.... Sebab rasa tertusuk dan silau oleh lampu, terganti dengan pemandangan memabukkan dari Osara yang hampir telanjangg sebab ulahnya. Hasrat dalam jiwa kembali menggelegak hingga ke ubun di kepala. Namun…. “Maafkan aku, Osa!” ucap Daishin setelah terkesiap dengan kedua mata
“Shiin!” Seruan Osara terdengar gemetar dan ragu. Daishin tidak jadi membuka pintu kamar saat merasa kemeja piyamanya tertarik keras ke belakang hingga membuat kerahnya mencekik leher. Merasa ini perbuatan Osara yang random dan tidak cukup hanya memanggil. “Apalah kau ini, Osa!” Daishin merasa kesal dengan cara gadis itu menahan langkahnya. Bahkan kepala pun ikut mendongak ke atas. Memanggil ragu tetapi tarikan di baju kelewat kencang. Rada-rada memang. “Berapa lama mati lampu…?” tanya Osa dalam gelap. Masih menarik kuat ujung kemeja belakangnya. Ponsel Daishin sudah benar-benar tidak berdaya menyala. Sedang punya Osara diletak sembarangan dalam koper bersama tas cantiknya begitu saja sebab buru-buru. “Aku tidak tahu, biasanya lama.” Daishin menyahut susah sambil berdecak samar. Menduga Osara takut gelap seperti perempuan pada umumnya, menyimpan sikap manja terpendam. “Kamu jangan narik kemeja gini, ah! Kepalaku bisa nengkleng. Ketampananku bisa aus sebelum mencapai lansia.” Dai
Osara tidak menyadari jika salah kamar. Bahkan dirinya hampir tertidur pulas saat Daishin menelponnya dan berkabar bahwa kamar mereka telah tertukar. Maklum, hanya dari koper pribadinya semua keperluan dia ambil. Secara kasat mata memang seperti kamar hotel pada umumnya. Serba warna putih. Namun, aroma kamar yang maskulin memang mencolok dan ini diabaikan Osara. Kini baru disadari jika isi dalam almari memang full barangan pribadi milik lelaki. Boxer, kaos dalam dan kaus kaki besar yang semua serba warna hitam. Juga beberapa piyama polos navy yang modelan lelaki. Serta T-shirt keren yang semuanya berwarna gelap khas pujaan lelaki. “Ish, ada ada saja, pria brengsek, pasti sengaja!” Osara sangat kesal hingga merutuki sambil menyeret koper keluar kamarnya. Meski lengang dan larut, terpaksa ditempuh demi sikap baiknya yang terpendam. Menuju lantai sembilan di nomor kamar yang sudah Daishin sebutkan. Meski ada rasa trauma dan takut akan kejadian waktu itu, tetapi salah kamar yang mem
Sebab tidak ingin menjadi obat nyamuk. Daishin memilih duduk di meja sendiri dan makan dengan santai tanpa perlu berhadapan dengan dua manusia yang di matanya sungguh kekanakan. Namun, membiarkan juga saat tagihan di mejanya dibayarkan oleh teman Osara bernama Tengku itu. Daishin juga acuh tak acuh saat lelaki muda itu terlihat segan yang mungkin sudah menganggapnya calon kakak ipar. “Begitu ya, kelakuanmu di luaran? Orang tua menganggap kamu gadis baik, sampai dicarikan jodoh sultan, nyatanya kamu punya laki-laki di sini?” Daishin menegur Osa setelah saling diam di sepanjang jalan pulang. Tengku adalah orang yang mengantar mereka menuju hotel dan baru saja berlalu. “Kamu kuno sekali. Makan dan ketemuan model gini bukankah lazim? Ini cuma pendekatan dan bukan lamaran. Untuk apa diakui di depan keluarga kalo cuma sebatas makan malam. Aku bukan gadis brengsek. Hari itu aku menolak Firash sebab sudah ada Tengku yang kusaka dan sepertinya dia juga sama. Aku berencana kembali ke Jepang.
Daishin yang terbang ke Jepang lebih cepat beberapa hari daripada Osara, hari ini terpaksa kembali ke bandara untuk menjemput kedatangan gadis itu malam ini. Mama Azizah dan Papa Handy akan menyusul dua hari kemudian. Setelah dirasa kesehatan papanya benar-benar fit tanpa keluhan. Daishin baru saja berdiri di pintu kedatangan saat dari jauh terlihat calon istri dadakannya mendorong koper baru yang berwarna coklat susu. Setelah berada dekat dan mereka saling menghampiri, sangat jelas jika wajah cantik Osara sangat masam dan tanpa senyum memandangnya. “Sudah kubilang, tidak perlu jemput aku. Temanku sudah siaga menyambutku.” Osara berkata dingin seperti biasa belakangan ini. Sikapnya pada Daishin kembali ketus dan kaku setelah mereka dijodohkan. Sikap membaik saat saling dukung untuk mendapat video bukti Firash waktu lalu, kini hilang tak tersisa. “Mana temanmu? Jika siaga harusnya sudah di sini.” Daishin menyahut datar. “Dia masih dalam perjalanan. Lambat beberapa menit hingga bela
Kamar ICU di rumah sakit terasa sungguh sunyi, hanya suara mesin pemantau jantung yang berbunyi pelan di samping ranjang. Osara duduk di kursi, matanya sembab, sementara Daishin berdiri dengan wajah muram di dekat jendela.Sama-sama sedang merasa cemas dan merasa bersalah. Terlebih beberapa kali tatapan Mama Azizah yang tajam seperti sedang mengiris dan menguliti. Di atas ranjang, Papa Handy berbaring lemah meski kesadarannya sudah kembali. Wajah memucat tetapi matanya tetap memancar sorot tegas. "Aku hanya ingin melihat kalian menikah sebelum aku pergi," suara Papa Handy terdengar lirih namun penuh harapan. Kembali mengungkit perkara penyebab kambuh sakitnya. Osara menggigit bibir. "Tapi, Pa ... jangan bicara seperti itu. Kumohon, mengertilah. Kami tidak saling mencintai. Aku juga tidak terpikir untuk menikah dengannya. Keinginan Papa, aku tidak bisa." Osa bersikeras pelan dan hati2. Daishin yang sudah berdiri di sebelahnya pun mengangguk. "Ini bukan hal yang bisa kami jalani beg
Orang-orang di ruang tamu terbelalak. Bahkan juga Osara. Tetapi semua bungkam dan mematung memandang Daishin. Pengakuannya barusan terdengar tidak masuk akal bagi Papa Handy dan Mama Azizah. Osara sungguh heran, tidak menyangka Daishin tiba-tiba mengaku yang sebenarnya. Waswas pada Papa Handy, takut jantung di dada tua itu kembali bermasalah. Lagi-lagi itu membuatnya merasa selalu jadi penyebab segala ketidaknyamanan belakangan ini. Padahal, Osara berharap semua berlalu begitu saja tanpa perlu mencium bangkai dalam rumah di keluarganya. Justru kecewa dan sangat terkejut akan pengakuan Daishin yang tiba-tiba. Sayang, tidak ada kesempatan untuk melarang Daishin membuat pengakuan. “Duh, Shin …. Bicara apa kamu ini? Ucapkan istighfar. Sana ucap istighfar, Nak. Hal begitu tidak boleh buat candaan dan main-main,” Mama Azizah yang akhirnya memecah kebisuan. Memang sama sekali tidak percaya. “Iya, ngomong apa sih? Kamu nggak lihat keadaan! Bercanda nggak kira-kira!” Osara ikut nenimpali
Sebab ucapan Firash, Papa Handy seperti sedang kebakaran jenggot. Sangat tidak terima dan menganggap tuduhan itu hanyalah alibi Firash yang mengada-ngada. “Jangan ucap fitnah secara ceroboh demi menutup aibmu sendiri, Firash.” Papa Handy bicara dengan nafas yang seolah hanya sampai di tekak. Terlalu marah hingga susah berkata-kata. Napasnya pun memburu tiba-tiba. “Siapa yang berkata fitnah, Om? Ha ha ha, aib anak orang di seberang benua sebesar gajah. Aib anak sendiri di lubang hidung tak terendus. Pandai sangat ya Osara kau?!” ucap Firash tampak puas dengan senyum lebarnya pada Osara. Lelah menatap marah pada Firash, kini tatapan Papa Handy bergeser pada Osara. Anak angkat yang sedang diperjuangkannya itu justru menunduk dengan tangisan. Seketika tatapan Papa Handy berubah nyalang sebab perasaannya tiba-tiba tidak enak. Bukan marah, menyangkal atau mengumpat tidak terima, tetapi Osara justru menangis. Ah, respon macam apa itu?! Papa Handy merasa harus terbiasa menghadapi Osara.
Sudah hampir pukul tujuh pagi, tetapi matahari belum terbit di bumi jiran, Malaysia. Maklum, waktu subuh pun tiba sekitar pukul enam pagi. Meski perbedaan waktu hanya 1 jam lebih cepat dengan waktu di Indonesia bagian barat, tetapi perbedaan waktu ini sungguh mencolok. Namun, sebenarnya waktu di Malaysia ini memberi kemudahan kepada seluruh warga. Khususnya bagi muslim. Kenapa? Tentu jatuh waktu begini lebih membuat ringan. Bisa bangun pagi sekalian shalat subuh sambung pergi kerja. Sebab, waktu efektif kerja pun dimulai pukul tujuh pagi. Berbeda tantangan dengan di Indonesia bagian barat. Serba nanggung rasanya, subuh pukul empat lebih, sedang waktu efektif kerja pukul tujuh. Habis subuh tidur dulu. Alhasil bangun tidur kepala jadinya pening! Apa kamu pun begitu? Namun, ada waktu di Indonesia yang bersamaan dengan waktu di Malaysia. Yakni di wilayah Waktu Indonesia bagian Tengah. Tidak ada selisih waktu dengan di Malaysia! Osara turun tangga dengan penampilan yang sudah rapi da