All Chapters of IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI: Chapter 1 - Chapter 10

106 Chapters

Bab 1

“Ardi! Kamu mama besarkan dengan baik! Kamu mama kuliahkan di tempat mahal! Kerjaan sudah mapan! Tiba-tiba kamu maksa mama suruh nerima gadis yatim piatu yang gak jelas asal-usulnya ini jadi menantu! Tanpa kamu tanya pun, harusnya kamu tahu apa jawaban mama?!” ketus perempuan dengan sanggul tinggi itu. Ameera yang malam ini diundang Ardi untuk makan malam, merasa tiba-tiba begitu kerdil. Apalagi adik dan Kakak Ardi menatapnya dengan pandangan remeh. “Ameera gadis baik, Ma! Tolong kasih kesempatan!” Ameera masih teringat jelas, suara Ardi bergetar. “Kasih kesempatan? Jangan mimpi!” Perempuan yang tadi dikenalkan sebagai kakanya Ardi menyeringai, lalu berdiri dan melempar sendok ke meja. “Jadi rusak selera makan, Mbak. Gara-gara kamu, Di!” tuturnya.“Iya, bener!” timpal adiknya.“Malas banget!” sambungnya lagi. Lalu, satu per satu mereka pergi meninggalkan meja makan, termasuk orang tua Ardi sendiri. Ameera yang masih mematung bersisian dengan Ardi mengelus dada. Hatinya terasa remu
last updateLast Updated : 2024-11-02
Read more

Bab 2

"Gavin, tunggu! Saya mau bicara!" Sepasang mata Elang Gavin menatap Anesya. “Ya, Nyonya?” Gavin membungkuk hormat. Seperti apapun hubungan Anesya dengan Tuan Rivaldo. Perempuan itu tetaplah istri dari majikannya. “Ini hal yang sangat penting! Bisa ikut saya!” tutur Anesya sambil menatap wajah Gavin. “Baik, Nyonya!” Gavin pun mengikuti langkah Anesya yang menuju ke sebuah ruangan. Rupanya tujuannya adalah ruang baca. Kini keduanya sudah berdiri di antara deretan rak buku yang berjajar di sana. Anesya pun memulai kalimatnya. Gavin hanya terdiam dan mendengarkan dengan seksama.*** Ameera dan Sasha beriringan turun dari mobil bus warga baru. Gerah terasa menjalar ke seluruh badan. Meskipun tadi Ameera memandu pemain golf menggunakan golfcar tetap saja mengitari lapangan yang luasnya berhektar-hektar itu melelahkan. “Makan apa, Ra?” Sasha mengedarkan pandangan. Turun dari bus jemputan, selalu disuguhkan beragam pilihan makanan angkringan. “Hmmm … pecel ayam saja, Sha.” Sepasang ne
last updateLast Updated : 2024-11-02
Read more

Bab 3

[Target sudah kami amankan, Nyonya! Tolong kirim pelunasannya!] Anesya tersenyum ketika membaca sederet kalimat itu. Lalu tampak foto seorang perempuan dengan lengan terikat dan foto tahi lalat pada punggungnya. Meskipun tak terlihat jelas wajah itu, tetapi Anesya cukup puas. [Oke, habisi! Jangan sampai suamiku bisa menemukannya!] Anesya cepat mengirim pesan itu. Senyum pada bibirnya tersungging. Tak rugi dia membayar mahal para sindikat itu. Rupanya, mereka bekerja jauh lebih hebat dari pada yang dia perkirakan. [Perjanjiannya, pelunasan dulu, Nyonya! Setelah itu baru action!] Pesan masuk, kembali diterima.Anesya menghela napas kasar. Dia pun mau tak mau bergegas mengirimkan uang. Sejumlah nominal yang cukup besar dia gelontorkan. Tak apa, yang penting langkah pertama sudah dijalankan.Andaipun langkah ini tak berhasil. Dia sudah mengantisipasinya dengan mendekati Gavin. Bukankah mudah saja, tinggal buat semua hasil test DNA untuk peserta sayembara terpilih digagalkan. Jika Gavin
last updateLast Updated : 2024-11-02
Read more

Bab 4

[Target sudah kami habisi, Nyonya!] Sebuah foto diterima Anesya. Foto seorang gadis belia yang tergeletak tak berdaya. Darah segar mengalir. Kerumunan orang terlihat sesak. [Bagus! Karena kalian mengerjakan perintah dengan baik, saya akan segera kirim bonus.] Hati Anesya yang sedang bahagia berbunga-bunga. Bahkan dia lekas membuka e-banking dan mengirim sejumlah uang. [Terima kasih Nyonya.] Balasan diterima. Anesya tersenyum puas. Hari ini dia baru mau menjemput Safiyya dan membawanya pulang. Misinya sudah selesai. Putri kandung dari suaminya sudah tidak ada lagi di dunia ini.“Lihat ‘kan, Mas? Aku jauh lebih pintar dari pada kamu,” batin Anesya sambil menyeringai. Dia lekas berjalan dan segera meraih kunci mobil. Hari ini, dia berencana mau menjemput Safiyya. Anesya berjalan ringan. Dia tak tahu jika para sindikat itu sudah melepaskan Ameera dan membawa kabur uang-uangnya. Foto itu hanya sebuah foto kecelakaan lalu lintas yang para sindikat itu kirim, korbannya entah siapa. “Kam
last updateLast Updated : 2024-11-02
Read more

Bab 5

“Gimana kalau Tuan Rivaldo itu beneran ayah kamu, Ra! Apa kamu gak kepengen ketemu dengan Ayah dan Ibu kandung kamu sendiri, hmmm?” Sasha menatap lekat wajah sahabatnya itu. Dia terus berusaha meyakinkan Ameera agar mau ikut menjadi peserta sayembara itu.Ameera tersenyum getir. Dia menatap ke arah Sasha lalu bicara, “Jika dia memang ayahku? Ke mana saja dia selama ini? Kenapa baru hari ini mencari? Ke mana saja dia selama aku tertatih-tatih merindukannya? Ke mana mereka, Sha? Ke mana?” Suara Ameera bergetar. Akhirnya apa yang selama ini terpendam dalam benaknya kini dia luahkan. Bulir bening berjatuhan, tetapi dengan kasar dia hapus. Sasha terdiam. Dia tak pernah berpikir, jika sahabatnya seluka itu. “Di mana mereka, Sha? Di mana? Dari dulu hanya Bu Uti yang memeluk Ameera kecil yang nangis merindukan mama. Hanya Bu Uti yang memeluk Ameera kecil yang nangis, merindukan ayah. Sekarang, aku sudah dewasa … aku tak lagi butuh mereka.” Ameera bicara sambil terisak. Dari getaran suaranya
last updateLast Updated : 2024-11-02
Read more

Bab 6

“Kamu siapa? Ada apa nyari saya?” Gavin mengulangi lagi pertanyaannya. “Maaf, apa benar dengan Pak Gavin? Saya salah satu peserta sayembara terpilih kemarin, tetapi kemarin betul-betul berhalangan. Apakah bisa diberikan kesempatan kedua?” Sasha menatap Gavin sambil memasang wajah memelas.Gavin tertawa miring. Ditiliknya wajah Sasha sambil menyipitkan mata lalu bicara, “Ameera atau Hazana?” tanyanya. “Saya Sasha, Pak!” Reflek Sasha menyebut namanya sendiri. “Sasha? Tak ada peserta dengan nama itu. Jika hanya mengaku-ngaku, silakan keluar!” tegas Gavin sambil hendak memutar tubuh. “M—Maksud saya, Ameera! Saya Ameera!” Sasha meralat ucapannya. Sudah tanggung kepalang dia tiba di sana, percuma kalau tak bisa bertemu dengan Tuan Rivaldo yang selama ini hanya dia lihat wajahnya di televisi itu.“Ameera atau Sasha?” Gavin menekankan sekali lagi. “Ameera, Pak!” Sasha menjawab cepat. “Apa bukti kalau kamu memang kami undang?” Tanya Gavin lagi. Sasha terdiam sejenak. Otaknya berputar ce
last updateLast Updated : 2024-12-01
Read more

Bab 7

Test DNA baru saja selesai. Berbekal masker, topi dan jaket yang mendadak dibeli Sasha, akhirnya dia memiliki keberanian untuk masuk ke dalam rumah sakit itu. Meskipun Sasha tak terlalu paham jadwal praktek dua kakak lelakinya. Namun, dia cukup khawatir jikalau tiba-tiba kepergok dan semua akan menjadi kacau. “Untuk hasilnya, akan saya emailkan! Bagi yang memang hasil test DNA-nya akurat, akan kami hubungi segera. Pastikan nomor ponsel kalian aktif, juga alamat yang kalian cantumkan dalam formulir, benar!” Sasha dan ketiga orang perempuan sebayanya yang baru saja selesai test DNA, mengangguk. Lalu, setelah itu mereka semua diperbolehkan pulang. Sasha menghembuskan napas lega. Akhirnya dia bisa segera keluar. Semoga saja memang bukan jadwal praktek kakaknya sekarang. Jadi, dia akan merasa aman. Beruntungnya, kemarin pun dia mengirimkan foto berdua dengan Ameera dalam lampiran, karena hanya itu yang ada. Jadi, wajahnya tak dipertanyakan. Gavin sudah beranjak terlebih dulu. Dia berja
last updateLast Updated : 2024-12-01
Read more

Bab 8

Anesya menatap wajah Safiyya yang tampak berseri-seri. Dress merah maroon di atas lutut dan rambut yang di curly membuatnya terlihat fresh. Meskipun baru pulang dari rumah sakit, tetapi tak terlihat jika Safiyya habis sakit. Hari ini adalah hari bahagia baginya. Keluarga calon suami Safiyya, akan berkunjung. “Apa kamu sudah siap bertemu mereka, Sayang?” Anesya menatap gadis berusia sembilan belas tahunan itu.“Iya, Ma. Cuma … aku masih berasa belum pede,” tutur Safiyya sambil mengusap perutnya. Lalu dia mendongak dan bertanya ragu, “A—Apakah kelihatan seperti orang habis keguguran, Ma? Bekas hamilnya gak keliatan ‘kan, Ma?” Anesya terkekeh melihat raut panik putrinya.“Kamu seperti masih ting-ting, kok, Sayang! Lagipula … keluarga mereka tak akan mempermasalahkan juga penampilan kamu, missal pun kamu jelek dan gen-dut, Ses Mita itu sudah terkagum-kagum dengan keluarga kita. Apalagi ketika tahu, kamu itu anak satu-satunya. Pewaris dari keluarga Rivaldo.” Anesya meyakinkan putrinya.
last updateLast Updated : 2024-12-02
Read more

Bab 9

Hari itu, Ardi baru saja pulang kerja. Menjadi owner di salah satu konsultan sumber daya manusia, cukup menyita waktunya. Salah satu perusahaan yang menggunakan jasa rekrutment dari perusahaan yang Ardi kelola adalah tempat kerja Ameera. Dari sanalah, pertemuan mereka bermula. Hingga perlahan, hubungan itu terjalin karena Ardi kerap melibatkan diri untuk mengurusi hal-hal remeh demi bisa melihat sang gadis yang sudah memikat hatinya pada pertemuan pertama.Ayah Ardi pun masih kerja, dia merupakan salah satu senior manager di perusahaan real estate ternama dan perusahaan tersebut masih di bawah naungan Rivaldo Grup. Karena itu juga, Mita---ibunda Ardi, kerap mengikuti berbagai pertemuan yang diadakan perusahaan demi bisa mendekati istri dari pemilik Rivaldo Grup. Dia pun mulai mencari tahu, kegiatan Anesya.Meskipun levelnya berbeda, tetapi dia tahu istri dari Tuan Rivaldo, Anesya sering sekali mengikuti acara-acara sosial. Dari sanalah, dia mulai mendekati Anesya. Awalnya Mita hanya i
last updateLast Updated : 2024-12-02
Read more

Bab 10

"Kita ini mau ke mana sih, Sha?” Ameera menatap bingung pada Sasha. Dalam sebuah mobil online kini mereka berada. “Ahm itu, Ra. Temani aku untuk bertemu seseorang. Penting banget.” Sasha menjawab santai sambil duduk bersandar pada jok mobil. “Jauh gak, Sha? Aku loh cuma pakai baju ginian!” Ameera memperhatikan pakaiannya yang alakadarnya. “Hmmm … lumayan … gak apalah gitu juga, bukan kencan,” tukas Sasha santai. Ameera hanya mengangguk saja. Dia tak banyak bertanya lagi. Hanya mengikuti saja ke mana mobil online yang Sasha pesan meluncur. Pada saat tengah duduk santai. Ponsel Ameera berdenting beberapa kali. Dia membuka layar gawai dan mendapati beberapa pesan masuk. Nomor itu, dia sudah beri nama. Nomor Maria---kakaknya Ardi, rupanya. Jempol Ameera reflek mengusap layar. Beberapa detik, Ameera terbengong seolah terhipnotis oleh gambar-gambar yang dikirimkan. Namun, detik kemudian, rasa perih berkelindan. Terlihat jelas, gambar Ardi yang tengah berbicara dengan seorang pe
last updateLast Updated : 2024-12-03
Read more
PREV
123456
...
11
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status