Share

Bab 10

Penulis: Evie Yuzuma
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-03 19:44:25
"Kita ini mau ke mana sih, Sha?” Ameera menatap bingung pada Sasha. Dalam sebuah mobil online kini mereka berada.

“Ahm itu, Ra. Temani aku untuk bertemu seseorang. Penting banget.” Sasha menjawab santai sambil duduk bersandar pada jok mobil.

“Jauh gak, Sha? Aku loh cuma pakai baju ginian!” Ameera memperhatikan pakaiannya yang alakadarnya.

“Hmmm … lumayan … gak apalah gitu juga, bukan kencan,” tukas Sasha santai.

Ameera hanya mengangguk saja. Dia tak banyak bertanya lagi. Hanya mengikuti saja ke mana mobil online yang Sasha pesan meluncur.

Pada saat tengah duduk santai. Ponsel Ameera berdenting beberapa kali. Dia membuka layar gawai dan mendapati beberapa pesan masuk. Nomor itu, dia sudah beri nama. Nomor Maria---kakaknya Ardi, rupanya.

Jempol Ameera reflek mengusap layar. Beberapa detik, Ameera terbengong seolah terhipnotis oleh gambar-gambar yang dikirimkan. Namun, detik kemudian, rasa perih berkelindan.

Terlihat jelas, gambar Ardi yang tengah berbicara dengan seorang pe
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Wieta Wieta
bab 9 sama 10 knp sama isinya kak
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 11

    Info : Aku ada edit isi bab 10, soalnya sama dengan bab 9, tapi masih dalam tinjauan.“Ahm sebentar lagi juga kamu tahu, Ra! Nah itu dia orangnya! Mereka datang!” Sasha bicara dengan sepasang netra berbinar. Sontak Ameera mengikuti arah pandangan Sasha yang menatap dua orang lelaki yang baru saja masuk dari pintu kedatangan. Satu orang lelaki terlihat masih muda dan gagah. Raut wajahnya dingin dan dan kaca mata tebal membingkai rahang tegasnya. Sementara itu, seorang lelaki paruh baya terlihat duduk di kursi roda. Wajah lelaki sepuh itu terlihat teduh dan ramah. “Rasanya yang duduk di kursi roda itu, wajahnya familiar … tapi, di mana pernah lihat, ya?” batin Ameera sambil memperhatikan mereka mendekat. “Duh, gimana reaksi Ameera, ya? Mereka pasti manggil aku dengan nama Ameera?” batin Sasha sambil melirik ke arah Ameera. “Siapa sih mereka, Sha? Sampe jauh-jauh, Sasha ngajak aku kemari? Kayak pernah lihat, tapi entah di mana.” “Itu yang kubilang masa depan, Ra! Masa depan cerah,”

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-03
  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 12A

    [Gavin, tolong dekati temannya Ameera! Buat alasan agar kita bisa bertemu lagi! Jika bisa, curi rambutnya untuk dilakukan test DNA!] Gavin baru saja menurunkan Ameera setelah tadi mengantar Sasha. Dia mematung ketika membaca pesan yang dikirimkan Tuan Rivaldo. Memang belum beranjak, saat ini masih berada di depan kontrakan Ameera. Namun, jadinya dia harus mencari cara. Ketukan pada kaca mobil membuat Gavin mendongak. Gadis yang dia kira bernama Sasha itu tampak menatapnya heran. Gavin lekas menurunkan kaca jendela sehingga wajah manis itu kian terlihat jelas.“Mas kok belum pergi? Apa mobilnya ada masalah?” Gavin terpegun. Belum terpikir mau menjawab apa. “Kalau mogok, di depan sana ada bengkel!” tutur Ameera lagi. “Ahm, oke-oke, terima kasih. Gak masalah, kok. Cuma boleh mampir sebentar ke toilet?” Akhirnya Gavin menemukan alasan yang paling tepat. Ameera terpegun. Kontrakan petakan miliknya teralu sempit. Dia merasa risih jug ajika ada lelaki yang mampir ke dalam. “Kalau tak

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-04
  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 12B

    “Tadi keluarga Mas Ardi nungguin Papa. Kami sudah tentuin hari pertunangan, Pa!” tutur Safiyya. “Hmmm … sorry, tadi taxinya kejebak macet.” Tuan Rivaldo masih memberikan alasan. Padahal sejak tadi pun dia sudah tiba dan melihat masih ada mobil terparkir di depan rumahnya sehingga dia membayar argo taxi untuk menunggu. “Iya, gak apa. Untung Papa gak kenapa-kenapa,” tutur Safiyya sambil tersenyum dan duduk di kursi empuk yang ada di kamar Tuan Rivaldo. “Memangnya Gavin ke mana, sih, Pa? Majikan sendiri suruh naik taxi. Apa bagusnya Papa punya asisten seperti Gavin, sih?” Suara Anesya terdengar agak keras dan ketus sehingga membuat Tuan Rivaldo menoleh. “Keluarlah dari kamarku. Capek, mau istirahat!” Tuan Rivaldo yang sudah muak dengan sikap Anesya lekas mengalihkan topik pembahasan.“Ck! Kamu itu masih saja ngambek, Mas! Awas kalau ngambeknya lama, gak aku kasih jatah!” Anesya membisikkan kalimat itu di samping telinga Tuan Rivaldo. Hanya saja lelaki itu, lagi-lagi melengos. Anesya

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-04
  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 13 A

    “Sebetulnya, ada hal yang sangat penting yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Nona!” tutur Ardi dengan Bahasa yang sangat kaku dan formal. Berbeda sekali dengan Ardi yang tersenyum hangat dan berbicara lembut ketika pertemuan keluarga kemarin. Safiyya seperti melihat satu sisi yang bertolak belakang. “Bicara apa, Mas?” Safiyya menatap Ardi penasaran. Dia cukup kaget dengan perubahan sikap Ardi yang begitu drastis saat ini. “Saya mencintai orang lain.” Ardi menjawab dengan mantap. Safiyya mendadak terdiam. Meskipun dia tahu, perkenalan mereka baru sehari. Meskipun Safiyya tahu, tak ada cinta bersemayam dalam hubungan mereka. Namun, demi apapun, harga dirinya merasa terkoyak ketika seorang lelaki berbicara seperti itu di depannya. “Lalu?” safiyya menaikkan satu alisnya ke atas. “Apa Nona yakin mau menerima perjodohan ini, tetapi di hati saya ada orang lain?” Ardi kembali menekankan. Safiyya tersenyum miring lalu menjawab dengan percaya diri, “Apa kamu yakin tak akan ja

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-04
  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 13B

    “Eh, jadi anaknya Tuan Rivaldo yang hilang itu sudah ditemukan, ya?” batin Ameera ketika melihat tulisan di bawah nama mempelai wanita.“Duarrrr!” “Astaghfirulloh!” Ameera terkejut ketika tiba terdengar bunyi letusan. Dia menoleh ke asal datangnya suara. Tampak Sasha sedang sibuk meniup balon, lalu setelah selesai, dia menusuknya dengan jarum. “Duarrrr!” Balon kedua meletus lagi.“Sha! Kurang kerjaan, ya?” oceh Yuli salah satu rekan caddy yang baru saja finish. Ameera dan Sasha standby sebagai grup kedua yang masuk siang. Mereka baru saja tiba dan tengah duduk-duduk di depan area loker yang cukup luas. Di sanalah para caddy biasanya berbincang-bincang sebelum atau sesudah tugas di lapangan. “Ya, Yul! Biar dapat gaji tambahan, makanya nyari kerjaan!” oceh Sasha dan kembali melanjutkan kegiatannya. Ameera mendekati Sasha lalu memunguti balon-balon yang tadi dia borong dari tukang jualan di tepi jalan itu. Sebelum naik jemputan, Sasha melihat kakek-kakek berjualan balon. Jadi dia bo

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-04
  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 14A

    Hanya saja, ketika mereka tiba di area parkiran. Ameera menyenggol lengan Sasha ketika tampak seorang lelaki dengan kaca mata tebal sedang berdiri di samping mobilnya. Lengannya dimasukkan ke dalam saku dan tampak dia mengedarkan pandangan. Gaya cool yang menjadi ciri khasnya membuat beberapa orang caddy yang kebetulan menoleh, berbisik-bisik dan turut mengaguminya juga. Dialah Gavin. Sengaja datang ke tempat kerja Sasha dan Ameera demi satu titah lagi, mencari tahu lebih jauh kehidupan Ameera. “Sha itu, jangan-jangan nyariin ponsel,” bisik Ameera. Dia langsung teringat ponsel Gavin yang tertinggal dan belum sempat dikembalikan. “Eh, seriusan itu dia? Mimpi apa aku semalam, ya?” Sasha mengucek mata. Degub dalam dadanya tiba-tiba bertalu lebih cepat dari biasanya. “Duh, aku jadi gak enak. Nanti dikiranya kita gak mau balikin lagi,” bisik Ameera. Kebetulan, keduanya belum sempat mengembalikan ponsel itu karena bentrok dengan jadwal kerja. “Biar Sasha yang selesaikan.” Sasha menepuk

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-05
  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 14B

    Jika memang berpisah dengannya Ameera bisa lebih bahagia, maka ia akan berusaha ikhlas menjalani. Hanya saja, dia ingin Ameera tahu, perasaannya masih tak berubah, masih sama seperti yang dulu. Jadi, dia mengirim surat itu dan dikirimkan pada alamat tempat kerja Ameera. Ardi tak bisa memaksakan untuk tetap mempertahankan Ameera. Dia ingat betul jika kakaknya memiliki kepribadian psikopat. Bahkan Maria tega membu-nuh anaknya sendiri. Dulu alasannya adalah syndrome baby blues. Itu pula yang Ardi cemaskan. Jika pada anak sendiri saja tega, apalagi hanya pada Ameera. Apalagi percobaan penculikan kala itu, sudah membuat Ardi cukup shock. Ardi mendengar sendiri Maria berbicara dengan Ibunya, kalau akan melakukan segala hal agar Ardi tak jadi menikahi Ameera. Maria sangat patuh pada ibunya, itu pasalnya. “Semoga kamu bahagia, Ra. Perasaan Mas masih tetap sama. Mas rela berkorban demi kebaikanmu.” Ardi mengusap wajah. Dia pun menatap pantulan dirinya di depan cermin. Baju yang dipilihkan i

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-05
  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 15A

    Beberapa foto pernikahan Ardi dan Safiyya, Ameera terima. Entah kenapa, adik dan kakakknya Ardi seolah belum puas menjejalinya dengan semua ini. Padahal Ameera sendiri sedang belajar ikhlas untuk tak lagi terlibat dalam kehidupan mereka. Ameera sudah terlalu lelah. Sejak kecil, Ameera hanya ingin mendapat pelukan penuh cinta dari sosok ayah dan Ibu yang tak pernah didapatkannya. Ameera terlalu lelah jika harus mempertaruhkan sisa hidupnya yang mulai terasa baik-baik saja demi sebuah hubungan yang perlu rongrongan, karena itu dia melepaskan. Namun ternyata, tak semudah itu. Orang-orang di sekitar Ardi masih kerap mengganggunya. Ameera tak setangguh itu untuk berjalan menerjang badai, tapi kenapa meskipun dia menjauh, mereka masih merecokinya. Ameera sudah lelah, merasa kesepian dan menangis sendirian. Dia benar-benar hanya merindukan sisa hidup yang penuh kedamaian.Ameera pun langsung menghapus semua pesan yang dikirimkan kakaknya Ardi. Karena dia bukan pendendam. Ameera tak suka me

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-05

Bab terbaru

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 60B-END

    “Saya harus extra kuat sekarang, Ra. Ada dua perempuan rapuh di rumah. Beruntung Mbak Maria sudah pindah rumah, Marina juga sudah menikah dan ikut suaminya. Seenggaknya, saya dan Papa berbagi tugas untuk mengawasi dua orang itu saja.” Ameera mengangguk-angguk paham. Pantas saja, Ardi tampak jauh cepat lebih tua. Rupanya beban hidup yang dialaminya cukup membuat Ameera turut prihatin.“Salam buat keluarga, ya, Mas! Maaf gak bisa ngobrol lama, ada acara lagi setelah ini.” “Iya, Ra. Sukses terus, ya! Seenggaknya saya bangga pernah menjadi orang yang berarti dalam hidup kamu, meski itu dulu.” Ardi tersenyum kecut dan bicara lirih. Sorot matanya tetap menatap Ameera dengan pandangan yang masih sama, seperti dulu.“Ya, Mas!” Ameera tersenyum, lalu berpamitan dan meninggalkan Ardi yang mengusap rambutnya yang sudah ramai ditumbuhi uban.***Setelah kegiatan perusahaan banyak diambil alih kembali oleh Ameera. Perlahan kesibukkan Gavin mulai terbagi lagi. Kini, dia memiliki sedikit waktu lon

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 60A

    Tuan Rivaldo langsung terdiam ketika mendengar persyaratan yang disampaikan Arsyla. Bahunya melorot, lalu dia meminta Parjo mendorong kursi rodanya kembali ke teras menemani Ameera. Selera makannya mendadak menguap begitu saja.“Mama kamu itu, Ra. Apa gak kasihan sama Papa? Masa iya ngasih syarat diluar nalar kayak gitu.” “Hah, syarat apa, Pa?” Ameera yang baru selesai membalas email bertanya tanpa menoleh pada sang Papa. “Masa iya, dia bilang … Papa jangan pernah menemui dia lagi selama setahun kalau mau dipertimbangkan balikan lagi. Mana mungkin bisa gak ketemu, Papa ‘kan pasti ke sini tiap hari.” Ameera terkekeh, lalu dia berbisik ke telingan Tuan Rivaldo. Lelaki paruh baya itu tampak menautkan alis. Lalu setelahnya menatap Ameera sambil tersenyum sumringah.“Oke, Papa temuin mama kamu dulu! Papa sanggupin saja, ya! Kamu pinter sih, Ra. Papa ‘kan bisa temuin kamu di kantor, jadi gak akan ketemu Mama kamu, walau berat, sih! Setahun, Ra,” tutur Tuan Rivaldo dan segera beranjak ke

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 59

    Kabar kehamilan Ameera diterima dengan suka cita. Arsyla memeluk haru putri semata wayangnya dengan buncah bahagia. Bahkan, demi memastikan Ameera cukup istirahat dan terjaga pola makannya. Arsyla memutuskan untuk tinggal sementara waktu di kediaman putrinya itu. Aksa merasa senang, setidaknya ditengah kesibukannya, sang istri ada yang memberi ekstra perhatian. Hanya saja, mau tak mau, Gavin yang kini menjadi tumbal. Karena kehamilan Ameera, rencana bulan madunya yang awalnya akan ke Bali dalam beberapa pekan, harus dibatalkan. Aksa meminta Tuan Rivaldo agar Ameera tak terlalu menerima beratnya beban pikiran. Alhasil, Gavin pun bisa memakluminya. Beruntung, Sasha bukan perempuan dengan tipe manja. “Gak apa, kok, Mas! Bulan madu bisa di mana saja! Di kantor juga bisa,” tukas Sasha sambil mengerling jahil. Dia sedang mengeringkan rambut basahnya. Semalam baru saja keduanya berpetualang hebat. Gavin yang baru selesai mandi, menoleh pada sang istri dengan ekor matanya. “Bulan madu? D

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 58B

    Tuan Rivaldo hanya tersenyum kaku. Dia seperti kehabisan kata-kata. Seorang asisten yang menggantikan Gavin, duduk juga di sampingnya. Sementara itu, kedua orang tua Gavin dan Sasha duduk membersamai pengantin di depan sana.“Arsyla … sepertinya jarak yang kamu bentangkan semakin hari, semakin lebar saja … apa tak ada kesempatan untukku menebus segalanya?” batin Tuan Rivaldo. Perempuan yang sudah melahirkan buah hatinya itu tampak begitu ceria mengobrol dengan anak menantunya. Sesekali perempuan paruh baya itu tertawa. “Bodohnya aku,Syla … bodohnya aku yang menyia-nyiakanmu dulu,” batin Tuan Rivaldo dipenuhi sesal. Seorang panitia datang dan mengantarkan pesanan makanan. “Wah, bakso, ya!” Sumringah Bu Uti ketika mencium wangi yang menguar. Rupanya Aksa tadi yang memesan. Hanya saja, Ameera tiba-tiba menutup hidung dan terlihat tak nyaman. “Duh, bau banget, sih, Bang!” rengeknya sambil menjauhkan mangkuk bakso dari depannya.Aksa mengernyit. Pasalnya, biasanya Ameera adalah orang y

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 58A

    Suara deheman Gavin, membuat Sasha mencubit perut Johanes. Lelaki yang dicubitnya itu mengaduh. Lalu, mau tak mau melepas pelukannya.“Masih saja galak! Kuwalat lo sama abang sendiri!” ejek Johanes. Wajahnya tampak datar lagi dan kini dia beralih menyalami Gavin. Sepasang mata elang Gavin seolah tengah melayangkan protes atas kelakuannya tadi.“Biasa aja lihatinnya, Dek! Lo sekarang adek gue juga!” kekeh Johanes tersenyum masam. Dia menepuk pundak Gavin dua kali. “Gue gak perlu nitipin dia ke elo! Gue yakin, elo bakal jagain dia jauh lebih baik dari gue!” Johanes melepas jabatan tangannya dengan Gavin. Lalu menoleh pada perempuan yang berjalan dengan pelan karena perut yang sudah membesar. “Pasti, Bang!” Gavin menjawab singkat. “Berasa tua gue dipanggil Abang,” kekeh Johanes. Tak ada sedikitpun raut bahagia di wajahnya. Dia pun meraih jemari perempuan yang sejak tadi seperti tak diacuhkannya itu. Entah perempuan mana lagi yang dihamilinya. Perut yang besar dengan high heel yang ag

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 57B

    Hanya saja, pesan Sasha pun tetap diabaikan juga. Karena penasaran, Sasha pun mencoba melakukan panggilan. Namun, tak ada satu pun panggilan darinya diterima Johanes.“Ngambeknya kayak anak kecil,” oceh Sasha. *** Resepsi pernikahan, akan diadakan besar-besaran. Apalagi Antoni pun tak mau ketinggalan. Dia tetap tebal muka dengan penolakan Sasha. Bahkan dia sudah mendeklarasikn kepada rekan bisnisnya tentang keberadaan putri kandungnya. Karena itu, pernikahan Sasha terbilang dirancang dengan cukup megah. Di mana ada tiga pendonor utama yaitu dokter Subarkah, Anotni dan juga Tuan Rivaldo. Waktu bergerak merangkak. Persiapan pernikahan yang dilakukan sudah hampir rampung. Johanes, belum memberikan kabar keberadaan hingga sekarang. Hanya saja, ada sedikit kemajuan. Jika Ibunya mengirim pesan, setidaknya dibalas. Dia selalu bilang, kalau sekarang dia berada di tempat yang aman. Butuh waktu untuk lelaki itu mengobati luka yang menganga cukup besar. Hanya dua orang yang pesannya dibalas.

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 57A

    Sasha menatap langit-langit kamar yang polos. Rasa lelah seharian, tak serta merta membuatnya bisa tidur cepat. Hari ini terlalu penuh kejutan untuknya. Malam yang mulai larut, putaran jam dinding yang terus menggulir waktu, tak bisa membuat Sasha dengan mudah memejamkan mata. Bayangan wajah Gavin yang hari ini memberi kejutan luar biasa untuknya. Terus-menerus bergelayut di kelopak mata. Sudah sejak tadi dia bolak-balik membuka sosial medianya. Beberapa postingan yang memuat kebersamaannya dengan Gavin, sudah memenuhi wall-nya. Sengaja Sasha postingkan untuk mengabadikan momen yang sangat langka dan berharga ini. Sontak banyak sekali komentar dari link pertemanan yang menyatakan kaget luar biasa. [Lo sama Jo, udahan?] [Secepat itu kamu berubah haluan, Sha?] [Wah? Dilamar? Jadi, Jo kalah gercep?] [So sweet banget, sih! Kelihatan banget dia ngasih kejutan dadakan, sampe cicinnya kebesaran.] Dan banyak lagi komentar yang menyangkut pautkannya dengan hubungan Sasha dengan Johanes

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 56C

    Sepasang netra Sasha kembali besinar. Dia bergegas menghampiri Bu Uti dan ikut membaca sederet tulisan lama yang menuliskan alamat Sasti. Sasha pun mengambil gambar dengan ponselnya lekas menoleh ke arah Gavin, Ameera dan Aksa.“Aku mau ke sana! Aku ingin mencari Mama!” Ketiganya mengangguk. Tak menunggu waktu, hari itu juga mereka bergerak menuju lokasi yang disebutkan. Mereka menggunakan satu mobil saja, sedangkan yang satunya dititip di panti. Setelah menempuh waktu sekitar empat jam, akhirnya mereka tiba di sebuah perkampungan. Asing, itulah yang Sasha rasakan. Setelah berputar-putar mencari nama tersebut dan di arahkan ke sana sini. Banyak yang bernama Sasti, tapi rata-rata usianya masih muda, ada juga yang masih bayi. Hingga akhirnya mereka diarahkan ke sebuah rumah, katanya dulunya milik almarhumah Bu Sasti. Hanya saja ternyata rumah itu sedang kosong. Beruntung, ada seorang perempuan berjilbab lebar yang kebetulan keluar dari rumah megah yang berseberangan menanyai mereka.“

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 56B

    Sasha meninggalkan rooftop rumah sakit dengan mood yang sudah membaik. Ide Ameera menelpon Gavin sepertinya adalah ide paling tepat. Kini, wajah Sasha yang tadi terlihat begitu muram, perlahan terlihat cerah. Meranti, Subarkah, Merisa dan Antoni ternyata menunggu mereka di lantai satu. Aksa sudah membocorkan kondisi Sasha. Semua turut senang, kesedihan itu tak bertahan lama.Bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Empat pasang mata itu menatap kedatangan dua pasang muda-mudi itu. Jemari mereka saling bertaut. Hanya saja, Sasha yang tak biasa, lekas melepas gamitan jemari Gavin ketika melihat ada empat orang tua yang tengah menunggunya. “Sha … anak kesayangan mama.” Meranti langsung memburu Sasha, memeluk erat dan menangis tersedu. Dia merasa begitu bersalah karena selalu mengulur waktu untuk memberitahu pada Sasha hal yang sebenarnya. Dia selalu merasa tak siap menghadapi reaksi Sasha. Hingga akhirnya itu hanya menjadi bom waktu yang pada hari ini harus meledak diluar kendali mer

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status