All Chapters of IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI: Chapter 51 - Chapter 60

106 Chapters

Bab 32A

“Ini kamar Anda, Nona!” Gavin mempersilakan Ameera. Mereka baru saja tiba di depan sebuah kamar yang sudah disiapkan.“Terima kasih.” Ameera menatap bagian dalam kamar yang baru saja Gavin bukakan kuncinya. “Silakan masuk, Nona! Jika ada apa-apa bisa menghubungi saya atau Tuan dengan intercom. Satu lagi, sebentar lagi asisten pribadi untuk Non Ameera akan sampai. Dia yang akan membantu mengatur jadwal Non Ameera dan menjadi tangan kanan, Anda.” Gavin menjelaskan panjang lebar. Kedua alis Ameera saling bertaut. Ditatapnya wajah Gavin yang terkesan dingin itu dan kembali bertanya. “Asisten pribadi? Jadwal?” Ameera menatap tak paham. “Ya.” Gavin menjawab singkat. “Aku tak butuh!” ketus Ameera. “Tuan ingin segera agar Anda mengambil alih perusahaan! Jadi, saya harap, Nona bisa mengikuti semua gemblengan yang akan disiapkan! Ingat, Nona! Anda bisa memberikan kehidupan terbaik untuk anak-anak panti yang kurang beruntung itu, jika Anda punya uang dan kekuasaan! Tuhan sudah memilih Anda
last updateLast Updated : 2024-12-14
Read more

BAB 32B

Tiba-tiba teringat kembali kilas pertemuan di panti dengan Tuan Rivaldo dan Gavin. ***Langkah Ameera memelan ketika melihat dua sosok yang tak asing tengah menunggunya di ruang serba guna. Ruangan yang tadi ramai dengan anak-anak kecil yang bernyanyi. Kini, dua orang itu tengah menatap ke arahnya.“M—Mereka?” Suara Ameera tercekat dan menggantung begitu saja. Bu Uti mengusap lembut punggung tangan Ameera dan mulai berbicara. “Merekalah donatur yang Ibu bicarakan padamu waktu itu, Meera.” “J—jadi?” Ameera kehabisan kata-kata. Kalimatnya terputus begitu saja. Kakinya seakan tak menginjak bumi saat ini. “Jadi beliaulah orang yang ingin mengadopsimu, Meera!” tutur Bu Uti.Tuan Rivaldo tersenyum dan menatap wajah putri yang dirindukannya. Putri yang kehadirannya mampu menepis ragu. Demi Ameera, dia sudah susah payah melawan egonya yang masih menginginkan keberadaan Safiyya. “Panggil saya, Papa … meskipun kamu tak bisa menerima sebagai Papa kandungmu! Anggap saja saya ini Papa angkatm
last updateLast Updated : 2024-12-14
Read more

BAB 33A

Seminggu berada di rumah Tuan Rivaldo, Ameera mulai belajar beradaptasi. Kehidupan di rumah megah itu lebih teratur dan terjadwal. Semua hal yang ia butuhkan selalu disediakan. Meskipun, demikian. Hubungannya dengan sang Papa, belum mengalami perkembangan yang signifikan. Semenjak pertemuan sore itu dan bicara panjang lebar. Tuan Rivaldo pun seperti memberikan ruang pada putrinya. Dia tak memaksa Ameera untuk bisa menerimanya. Di waktu senggang, Prita pun mengajarkannya teknik-teknik dasar bela diri. Ameera yang awalnya tak menyukai olah raga, mau tak mau kini memiliki jadwal rutin untuk berlatih bela diri dan menguras keringatnya. Kehidupannya yang semula santai, berbalik seratus delapan puluh derajat. Prita pun rupanya serba bisa. Selain diajarkan teknik-teknik bela diri dasar, Prita pun piawai memainkan beragam alat musik. Piano, satu alat musik yang kini mulai membuat Ameera merasa nyaman. Dia mulai menikmati setiap denting dari tuts yang ia tekan. Hari itu, Ameera tengah duduk
last updateLast Updated : 2024-12-14
Read more

BAB 33B

Jika hatimu masih belum tersentuh! Pergilah ke palestina atau setidaknya baca, lihat dan rasakan! Lihat mereka! Lihat ratusan anak-anak yang harus menyaksikan orang tua sendiri terbu-nuh di depan mata. Bayangkan anak-anak itu yang menggigil sangat ketakutan karena serangan bom yang bertubi-tubi dan begitu dahsyatnya!Lihat! Lihat kondisi mereka! Jangankan tidur nyenyak, makan enak, sekadar setetes air pelepas dahaga pun tak ada, jangankan berharap dipeluk orang tua , untuk menatap matahari esok saja entah bisa ada kesempatan lagi entah tidak.Kamu yang selalu merasa hidupmu paling menderita! Hanya kamu yang tak pernah mau memandang dunia luar! Kamu yang hanya memikirkan kenyamanan sendiri! Tidakkah kamu tergerak? Lihatlah mereka!” Ameera tertunduk. Perlahan air matanya menitik, ruas-ruas tangannya mengepal. Ya, selama ini dia sudah seperti manusia anti sosial. Yang dikatakan Gavin, itu benar. Dia egois. Dia hanya memikirkan kenyamanan diri sendiri tanpa mau berjuang lebih lagi. Hing
last updateLast Updated : 2024-12-14
Read more

BAB 34A

Anesya menatap ponselnya tanpa berkedip. Sesekali dia mendengus sebal. Lalu dilemparnya benda pipih itu ke atas pembaringan.Kekesalan meluap-luap di dalam hatinya. Gertakannya terhadap keputusan Tuan Rivaldo yang ditentangnya, rupanya dianggap angina lalu. Bagaimana bisa, selama dua bulan ini lelaki yang pernah tergila-gila padanya itu tak mencarinya sama sekali. Bahkan, lelaki itu yang biasa sangat protektif pada Safiyya, kini bersikap abai.“Setan apa yang merasuki pikiranmu, Mas? Seserius ini rupanya kamu mau menggugat cerai dan mengusirku dan Fiyya dari rumah kita,” batin Anesya geram. Wajah kusut Anesya bertambah kusut ketika terdengar rengekkan Safiyya di sampingnya.“Ma, gimana ini? Kata Mama, Papa pasti akan nyari kita kalau kita nolak rumah kecil yang dia kasih itu?” Safiyya menatap wajah Anesya. Hidupnya mulai tak nyaman. Dia merindukan rumah megah dan segala fasilitasnya itu.“Mama juga pusing, Fiyya! Bisa gak bantuin mikir! Nanya doang bisanya!” hardik Anesya. Safiyya mem
last updateLast Updated : 2024-12-15
Read more

BAB 34B

[Papa, kamu beneran tega, sih? Dua bulan kami tak ada di rumah! Kamu sama sekali gak niat nyari kami? Lihat putri yang dulu selalu kamu manjakkan kini sakit, Pa! Dia sakit karena rindu kamu. Dia sakit karena rindu pulang ke rumah kita. Sadarlah, Pa … Safiyya sangat merindukan kamu, Pa.] Pesan Anesya kirimkan kepada Tuan Rivaldo. Dia berharap, lelaki itu terketuk hatinya dan mencari keberadaan mereka. Anesya tidak tahu, jika di rumah utama sekarang sudah ada putri kandung yang dia kira sudah meninggal itu. Hanya saja, Gavin memang sudah membungkan media. Tak sedikitpun pemberitaan lolos jika putri Tuan Rivaldo sudah kembali dan sedang dipersiapkan untuk menjadi sang pewaris yang sesungguhnya. *** Aksa menyetir dengan kecepatan lambat. Dua bulan sudah dia menyibukkan diri agar yang terasa hilang itu segera tertutupi. Dia mengira, karena sudah terbiasa melihat Ameera saja, dia menjadi seperti itu. Namun, rupanya tak semudah itu. Mobil yang dikendarai dari arah rumah sakit itu, melaju
last updateLast Updated : 2024-12-15
Read more

BAB 35A

Gavin mengendarai mobil miliknya. Mobil yang seringnya hanya terparkir di garasi rumah Tuan Rivaldo karena seringnya dia menyetir mobil Tuan Rivaldo dan mengantarnya ke mana-mana. Sebuah Alphard warna hitam sudah melaju gagah menembus keramaian. Ponsel yang tergeletak di dashboard berdering. Sasha memanggil. Lekas dia mengangkat benda pipih berlambang apel kroak itu.“Hallo!”“Sudah sampai mana, Mas?” “Sekitar lima belas menitan lagi sampai.” “Oke, take care! See you!” “Ok.” Sasha menurunkan ponsel dan menghembuskan napas kasar“Kalau sampai kamu gak dateng lagi, mampus aku, Mas! Pasti mama papa mau jodohin aku sama si Johanes itu. Mana udah dibilang muka kami mirip pula. Dih amit-amit jangan sampai jodoh sama dia.” Sasha bergidik ketika membayangkan wajah selengehan Johanes. Meskipun dia baru melihat dari video yang ditunjukkan mamanya, tetapi lelaki tipe bad boy seperti itu, bukan seleranya. Hanya saja karena hubungan baik orang tua Sasha dan orang tua Johanes, dan karakter Sas
last updateLast Updated : 2024-12-15
Read more

BAB 35B

“Eh, Papa sudah pulang? Baru juga mau Sasha telepon.” Sasha tersenyum pada lelaki yang masih mengenakan jas putih itu. Baru saja, Pak Subarkah tiba dan tampak tengah menyalami Gavin. Mereka tengah berbasa-basi tampaknya. “Papa pasti ontime, dong! Sudah berapa kali kamu reschedule.” Pak Subarkah melirik ke arah Sasha. “Hehehe, sorry! Mas Gavinnya sibuk soalnya.” Sasha tersenyum sumringah. Dia benar-benar tak bisa menyembunyikan raut kegembiraan pada wajahnya. “Silakan diminum, Mas!” tutur Sasha seraya meletakkan secangkir kopi di depan Gavin. “Thanks.” Gavin mendongak dan tersenyum. Sontak membuat degup jantung Sasha berlarian tak karuan. “Kok Gavin doang yang dibuatin, Sha! Papa enggak?” Tanya Pak Subarkah seraya menyimpan tas dan jas nya pada sofa.“Oke deh, Sasha buatin.” Sasha pergi kembali ke dapur. Sementara itu, Pak Subarkah langsung saja duduk menemani Gavin dan mengajaknya berbincang. “Makasih banyak Mas Gavin sudah menyempatkan diri ke sini, Mas. Semenjak kejadian waktu
last updateLast Updated : 2024-12-15
Read more

Bab 36A

Semakin hari, hati Anesya semakin resah. Kegelisahan Anesya, bukan tanpa alasan. Pesan yang terkirim pada Tuan Rivaldo hanya centang dua warna biru. Namun, tidak ada balasan. Dua bulan sudah dia meninggalkan rumah, tetapi ternyata gertakkannya tak digubris sama sekali oleh lelaki itu. Bahkan foto-foto Safiyya yang berpura-pura sakit, sama sekali tak mendapatkan respon. Dia telepon, tapi sama sekali tak diangkatnya.“Mas, kamu setega ini sama kami?” batin Anesya. Setelah semua pesan dan rengekkannya tak digubris, akhirnya Anesya memutuskan untuk pergi. Dia sedang bersiap-siap ketika terdengar jeritan Safiyya dari kamar mandi.“Apa sih, Fiyya?” Anesya mendelik kesal karena Safiyya menjerit-jerit memekakkan telinga. Safiyya yang baru keluar dari kamar mandi, memasang wajah ditekuk. Dia mendekat ke arah Anesya yang tengah memoles bibirnya dengan lipstik warna merah. Safiyya menunjukkan benda pipih dengan dua garis merah. “A—Aku beneran hamil, Ma.” Safiyya menunduk lesu. Dia menjatuhkan t
last updateLast Updated : 2024-12-16
Read more

BAB 36B

“Di dunia ini yang dipanggil Jo ‘kan banyak. Ngapain juga harus ingat sama pemuda selengehan itu, hiyyy! Bisa jadi kan nama anaknya Si Jojo, Jono, Jontor.” Sasha bergidik sendiri. Dia pun lekas menghampiri Gavin setelah merasa mendapatkan pakaian yang cocok untuk mereka. “Mas, sorry lama! Kita cobain, yuk!” tutur Sasha sambil menunjukkan beberapa pakaian yang dia pilih.“Oke.” Gavin mengangguk seraya bergegas bangun. Dia pun lekas mengekori Sasha menuju ruang ganti. “Aku cobain ini dulu, ya!” Sasha menunjukkan setumpuk gaun yang dipegangnya dan langsung melesat ke dalam kamar ganti. Lalu dia keluar dan tersenyum penuh percaya diri.“Ini gimana, Mas?” Sasha menatap Gavin dengan pandangan mata berbinar. Dia yakin, Gavin akan terpesona melihat penampilannya yang berbeda. Hanya saja, ekspresi Gavin, tak seperti yang Sasha bayangkan. Dia tampak tertegun beberapa saat, lalu menggeleng pelan, “Itu terlalu terbuka.” Bahu Sasha melorot. Dia menyingkirkan pilihan baju yang dia pilih pertama
last updateLast Updated : 2024-12-16
Read more
PREV
1
...
45678
...
11
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status