Share

IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI
IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI
Author: Evie Yuzuma

Bab 1

Author: Evie Yuzuma
last update Last Updated: 2024-11-02 16:04:40

“Ardi! Kamu mama besarkan dengan baik! Kamu mama kuliahkan di tempat mahal! Kerjaan sudah mapan! Tiba-tiba kamu maksa mama suruh nerima gadis yatim piatu yang gak jelas asal-usulnya ini jadi menantu! Tanpa kamu tanya pun, harusnya kamu tahu apa jawaban mama?!” ketus perempuan dengan sanggul tinggi itu. Ameera yang malam ini diundang Ardi untuk makan malam, merasa tiba-tiba begitu kerdil. Apalagi adik dan Kakak Ardi menatapnya dengan pandangan remeh.

“Ameera gadis baik, Ma! Tolong kasih kesempatan!” Ameera masih teringat jelas, suara Ardi bergetar.

“Kasih kesempatan? Jangan mimpi!” Perempuan yang tadi dikenalkan sebagai kakanya Ardi menyeringai, lalu berdiri dan melempar sendok ke meja.

“Jadi rusak selera makan, Mbak. Gara-gara kamu, Di!” tuturnya.

“Iya, bener!” timpal adiknya.

“Malas banget!” sambungnya lagi.

Lalu, satu per satu mereka pergi meninggalkan meja makan, termasuk orang tua Ardi sendiri. Ameera yang masih mematung bersisian dengan Ardi mengelus dada. Hatinya terasa remuk. Hubungannya yang diharapkan bisa berakhir ke pelaminan, rupanya tak akan pernah kesampaian. Cinta mereka harus kandas terhalang restu, hanya karena perbedaan status sosial.

***

“Ameera! Ameera!” Suara kencang Sasha membuyarkan lamunan Ameera. Sasha berlari sambil mengacungkan gawai. Napasnya terengah-engah. Rambutnya yang diikat kuncir ekor kuda tampak bergerak-gerak di balik topi lebar warna tosca yang menutup kepalanya.

“Hmmm?” Ameera menaikkan alisnya ke atas. Dia baru saja meletakkan bag pemain di porter dan ketika melihat ke tempat di mana Ardi biasa menjemput, dia malah melamun. Saat ini, gadis dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter itu bekerja sebagai caddy.

“Tahi lalat kamu masih ada ‘kan?” tanya Sasha sambil mengatur napas.

“Hah? Tahi lalat?” Ameera menautkan alis.

Pertanyaan Sasha menurutnya terlalu mengada-ada. Sore-sore begini, kenapa harus membahas tahi lalat? Apa lagi yang ada dalam benak Sasha saat ini? Apa tadi di lapangan, kepalanya terbentur bola golf sampai sedikit bermasalah? Itu yang berkelebat dalam benak Ameera saat ini.

“Ya, tahi lalat kamu yang di punggung itu, Ra! Aku pernah lihat waktu maen ke kosan kamu! Itu tahi lalat sungguhan ‘kan?” desaknya dengan mata berbinar-binar.

“Ya sungguhanlah! Kamu ini kenapa, si? Aneh.” Ameera menaiki mobil golf, Sasha dengan gesit meraih sandbagnya dan ikut duduk di samping Ameera. Ameera pun melajukan mobilnya menuju tempat parkiran.

“Ini kesempatan emas, Ra! Lihat ini!” Sasha menunjukkan smartphonenya. Konten viral di salah satu sosial media itu tak lain adalah sayembara Tuan Rivaldo. Hanya saja, karena Ameera cuma melirik tak berminat, Sasha membacakan isi sayembara itu dengan lantang.

“Hah? G1la? Orang kaya tingkahnya aneh-aneh! Gak ada kerjaan lain apa, ya?” kekeh Ameera sambil tertawa miring. Baginya, itu hal diluar nalar dan tak masuk akal. Apa tak ada cara yang lebih elegan? Itu pikirnya.

“Hush! Kamu jangan gitu! Siapa tahu, kamu ini adalah anak perempuan Tuan Rivaldo yang disayembarakan! Pokoknya kamu harus coba! Titik!” tutur Sasha bersemangat.

“Enggak, ah! Aku gak mau ketinggian mimpi, sakit kalo jatoh!” tukas Ameera sambil membelokkan mobil golf itu menuju tempat parkiran.

“Kamu gak mau bikin keluarga si Ardi nyesel, Ra? Coba kalau ibunya Ardi yang sok kaya itu tahu, kamu itu anaknya Tuan Rivaldo, orang terkaya nomor lima di Indonesia, Ra! Kalau gak langsung stroke, langsung lewat bisa!” kekeh Sasha.

Ameera tersenyum getir. Kalimat panjang lebar Sasha mampu mengingatkan dia pada penolakan pahit calon mertuanya beberapa hari lalu. Namun, untuk mengikuti sayembara itu, terlalu tak masuk akal menurutnya.

“Taraaaa … sudah kelar! Kamu sudah aku daftarin!” Suara Sasha bersama tepukannya pada bahu membuat Ameera sontak terperanjat. Rupanya Sasha sudah mengisikan link sayembara itu dan mendaftarkan nama Ameera.

“Ya ampuuun, Sasha! Kamu apa-apaan, sih! Aku gak mau ikutan!” Ameera mendelik dan menatap Sasha tajam. Namun, semua itu hanya dibalas kekehan.

“Semoga kamu benar-benar anak perempuan Tuan Rivaldo yang hilang itu, Ra! Jangan lupain aku kalau itu beneran, ya!” tutur Sasha sambil mengedipkan sebelah mata.

***

[Sayembara! Dicari, anak perempuan yang hilang! Pewaris utama keluarga Rivaldo. perempuan, usia 19 tahun pada tahun ini. Ciri-ciri fisik, memiliki tahi lalat di bagian punggung! Bagi yang merasa memiliki tanda spesifik tersebut, silakan isi data di website dan sertakan lampiran data diri yang meyakinkan!]

“Mas! Kamu sudah g1la! Tega-teganya membuat sayembara seperti ini! Gimana kalau Safiyya tahu? Kamu gak mikirin perasaan dia, Mas?”

Bibir Anesya bergetar. G1la, ini benar-benar g1la. Suaminya nekat membuat sayembara tidak masuk akal itu. Kini, Tuan Rivaldo benar-benar tak mau mendengarnya lagi. Semua itu bermula dengan kecelakaan Safiyya---putri yang sejak kecil dirawatnya. Lalu, dari sanalah terkuak semuanya. Safiyya bukan darah dagingnya.

“Berhenti bicara omong kosong, Anesya! Sebaiknya kamu keluar!” Tuan Rivaldo tak menoleh pada perempuan yang masih sah menjadi istrinya itu. Dia masih memandang lurus ke depan.

“Mas! Please, Mas! Aku gak mau menukar Safiyya dengan anak perempuan manapun! Apalagi anak perempuan hasil sayembara gak jelas ini! Aku sudah telanjur sayang sama dia!” Anesya memelas.

Tuan Rivaldo menghela napas kasar.

“Gak ada yang akan ditukar! Semua hanya akan menempati posisi sesuai porsinya, paham? Gavin, antar saya keluar!” tegas Tuan Rivaldo dengan nada tenang.

Sigap, Gavin yang sejak tadi hanya seperti patung dan berdiri tegak dalam jarak beberapa meter dari kursi rodanya, mendekat. Dia lekas mendorong kursi roda yang diduduki Tuan Rivaldo meninggalkan Anesya yang mendengus kesal.

Anesya mengepal. Sepasang matanya nyalang menatap punggung Tuan Rivaldo. Lelaki yang benar-benar menyusahkan. Bahkan, setelah usahanya berhasil untuk membuat Tuan Rivaldo cacat, rupanya lelaki itu tetap sulit dikendalikan.

Anesya segera mengambil gawai dan mengirim pesan pada seseorang.

[Cepat temukan gadis itu dan singkirkan! Apa kamu sudah menemukan alamat panti yang saya kirimkan?]

[Saya baru tiba di sini, Nyonya! Segera saya beri kabar!]

Sebuah pesan balasan diterima. Anesya menarik napas kasar. Ada rasa sesal. Kenapa, dia memberi kesempatan bayi perempuan itu dulu untuk hidup. Padahal, jika waktu itu dia lenyapkan, maka masalah akan selesai.

“Semua ini gara-gara aku malah mikirin hutang budi, ck!” desis Anesya sambil merutuki keputusannya untuk menyelamatkan bayi perempuan milik sahabat dekatnya itu dulu.

Sementara itu, Tuan Rivaldo meminta Gavin---assiten pribadinya mengantarnya ke ruang kerja. Dia lekas membuka layar laptop dan melihat sudah berapa banyak data yang masuk.

“Ck, baru tiga jam sayembara disebar! Kenapa sudah ribuan data yang masuk?!” Tuan Rivaldo memijit pelipisnya. Bukan tugas mudah untuk memeriksa ribuan data itu satu-satu.

“Apa sebanyak ini anak yatim piatu yang berusia sembilan belas tahun pada tahun ini, Gavin? Atau mereka semua hanya orang-orang yang rela menukar identitas demi kemewahan?” de-sah Tuan Rivaldo putus asa.

“Biar saya bantu check, Tuan! Setelah itu, saya akan berikan pada Tuan data yang lebih sesuai!” tutur Gavin sopan. Dia membetulkan kaca mata tebalnya. Lelaki itu terkesan pendiam, kaku, serius dan selalu siaga. Hanya saja di balik penampilannya yang kaku, tetap tak bisa ditampik jika wajahnya memang enak dipandang.

Rahang tegas itu membingkai, hidung mancung, alis tebal dan hampir saling menyambung. Bibir yang terlihat merah alami dan kulit yang putih bersih membuatnya terlihat menawan.

“Semenjak satu per satu kebohongan Anesya terungkap, apakah aku masih bisa percaya orang lain?” batin Tuan Rivaldo. Dia benar-benar dilemma untuk begitu saja menerima penawaran dari Gavin. Kini, dia tak lagi mudah percaya pada orang.

“Mohon maaf jika saya lancang, Tuan! Jika keberatan, saya tidak memaksa!” Gavin seperti paham apa yang sedang dipikirkan majikannya itu.

Tuan Rivaldo menghela napas kasar. Dia memandang nanar ribuan data yang masuk.

“Saya akan mencoba mengerjakannya sendiri! Silakan tunggu diluar!” titahnya setelah beberapa detik mempertimbangkan. Gavin mengangguk sopan. Dia lekas berjalan dan meninggalkan Tuan Rivaldo sendirian.

Baru saja Gavin berjalan keluar, suara Anesya terdengar memanggilnya.

"Gavin, tunggu! Saya mau bicara!"

Related chapters

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 2

    "Gavin, tunggu! Saya mau bicara!" Sepasang mata Elang Gavin menatap Anesya. “Ya, Nyonya?” Gavin membungkuk hormat. Seperti apapun hubungan Anesya dengan Tuan Rivaldo. Perempuan itu tetaplah istri dari majikannya. “Ini hal yang sangat penting! Bisa ikut saya!” tutur Anesya sambil menatap wajah Gavin. “Baik, Nyonya!” Gavin pun mengikuti langkah Anesya yang menuju ke sebuah ruangan. Rupanya tujuannya adalah ruang baca. Kini keduanya sudah berdiri di antara deretan rak buku yang berjajar di sana. Anesya pun memulai kalimatnya. Gavin hanya terdiam dan mendengarkan dengan seksama.*** Ameera dan Sasha beriringan turun dari mobil bus warga baru. Gerah terasa menjalar ke seluruh badan. Meskipun tadi Ameera memandu pemain golf menggunakan golfcar tetap saja mengitari lapangan yang luasnya berhektar-hektar itu melelahkan. “Makan apa, Ra?” Sasha mengedarkan pandangan. Turun dari bus jemputan, selalu disuguhkan beragam pilihan makanan angkringan. “Hmmm … pecel ayam saja, Sha.” Sepasang ne

    Last Updated : 2024-11-02
  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 3

    [Target sudah kami amankan, Nyonya! Tolong kirim pelunasannya!] Anesya tersenyum ketika membaca sederet kalimat itu. Lalu tampak foto seorang perempuan dengan lengan terikat dan foto tahi lalat pada punggungnya. Meskipun tak terlihat jelas wajah itu, tetapi Anesya cukup puas. [Oke, habisi! Jangan sampai suamiku bisa menemukannya!] Anesya cepat mengirim pesan itu. Senyum pada bibirnya tersungging. Tak rugi dia membayar mahal para sindikat itu. Rupanya, mereka bekerja jauh lebih hebat dari pada yang dia perkirakan. [Perjanjiannya, pelunasan dulu, Nyonya! Setelah itu baru action!] Pesan masuk, kembali diterima.Anesya menghela napas kasar. Dia pun mau tak mau bergegas mengirimkan uang. Sejumlah nominal yang cukup besar dia gelontorkan. Tak apa, yang penting langkah pertama sudah dijalankan.Andaipun langkah ini tak berhasil. Dia sudah mengantisipasinya dengan mendekati Gavin. Bukankah mudah saja, tinggal buat semua hasil test DNA untuk peserta sayembara terpilih digagalkan. Jika Gavin

    Last Updated : 2024-11-02
  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 4

    [Target sudah kami habisi, Nyonya!] Sebuah foto diterima Anesya. Foto seorang gadis belia yang tergeletak tak berdaya. Darah segar mengalir. Kerumunan orang terlihat sesak. [Bagus! Karena kalian mengerjakan perintah dengan baik, saya akan segera kirim bonus.] Hati Anesya yang sedang bahagia berbunga-bunga. Bahkan dia lekas membuka e-banking dan mengirim sejumlah uang. [Terima kasih Nyonya.] Balasan diterima. Anesya tersenyum puas. Hari ini dia baru mau menjemput Safiyya dan membawanya pulang. Misinya sudah selesai. Putri kandung dari suaminya sudah tidak ada lagi di dunia ini.“Lihat ‘kan, Mas? Aku jauh lebih pintar dari pada kamu,” batin Anesya sambil menyeringai. Dia lekas berjalan dan segera meraih kunci mobil. Hari ini, dia berencana mau menjemput Safiyya. Anesya berjalan ringan. Dia tak tahu jika para sindikat itu sudah melepaskan Ameera dan membawa kabur uang-uangnya. Foto itu hanya sebuah foto kecelakaan lalu lintas yang para sindikat itu kirim, korbannya entah siapa. “Kam

    Last Updated : 2024-11-02
  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 5

    “Gimana kalau Tuan Rivaldo itu beneran ayah kamu, Ra! Apa kamu gak kepengen ketemu dengan Ayah dan Ibu kandung kamu sendiri, hmmm?” Sasha menatap lekat wajah sahabatnya itu. Dia terus berusaha meyakinkan Ameera agar mau ikut menjadi peserta sayembara itu.Ameera tersenyum getir. Dia menatap ke arah Sasha lalu bicara, “Jika dia memang ayahku? Ke mana saja dia selama ini? Kenapa baru hari ini mencari? Ke mana saja dia selama aku tertatih-tatih merindukannya? Ke mana mereka, Sha? Ke mana?” Suara Ameera bergetar. Akhirnya apa yang selama ini terpendam dalam benaknya kini dia luahkan. Bulir bening berjatuhan, tetapi dengan kasar dia hapus. Sasha terdiam. Dia tak pernah berpikir, jika sahabatnya seluka itu. “Di mana mereka, Sha? Di mana? Dari dulu hanya Bu Uti yang memeluk Ameera kecil yang nangis merindukan mama. Hanya Bu Uti yang memeluk Ameera kecil yang nangis, merindukan ayah. Sekarang, aku sudah dewasa … aku tak lagi butuh mereka.” Ameera bicara sambil terisak. Dari getaran suaranya

    Last Updated : 2024-11-02
  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 6

    “Kamu siapa? Ada apa nyari saya?” Gavin mengulangi lagi pertanyaannya. “Maaf, apa benar dengan Pak Gavin? Saya salah satu peserta sayembara terpilih kemarin, tetapi kemarin betul-betul berhalangan. Apakah bisa diberikan kesempatan kedua?” Sasha menatap Gavin sambil memasang wajah memelas.Gavin tertawa miring. Ditiliknya wajah Sasha sambil menyipitkan mata lalu bicara, “Ameera atau Hazana?” tanyanya. “Saya Sasha, Pak!” Reflek Sasha menyebut namanya sendiri. “Sasha? Tak ada peserta dengan nama itu. Jika hanya mengaku-ngaku, silakan keluar!” tegas Gavin sambil hendak memutar tubuh. “M—Maksud saya, Ameera! Saya Ameera!” Sasha meralat ucapannya. Sudah tanggung kepalang dia tiba di sana, percuma kalau tak bisa bertemu dengan Tuan Rivaldo yang selama ini hanya dia lihat wajahnya di televisi itu.“Ameera atau Sasha?” Gavin menekankan sekali lagi. “Ameera, Pak!” Sasha menjawab cepat. “Apa bukti kalau kamu memang kami undang?” Tanya Gavin lagi. Sasha terdiam sejenak. Otaknya berputar ce

    Last Updated : 2024-12-01
  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 7

    Test DNA baru saja selesai. Berbekal masker, topi dan jaket yang mendadak dibeli Sasha, akhirnya dia memiliki keberanian untuk masuk ke dalam rumah sakit itu. Meskipun Sasha tak terlalu paham jadwal praktek dua kakak lelakinya. Namun, dia cukup khawatir jikalau tiba-tiba kepergok dan semua akan menjadi kacau. “Untuk hasilnya, akan saya emailkan! Bagi yang memang hasil test DNA-nya akurat, akan kami hubungi segera. Pastikan nomor ponsel kalian aktif, juga alamat yang kalian cantumkan dalam formulir, benar!” Sasha dan ketiga orang perempuan sebayanya yang baru saja selesai test DNA, mengangguk. Lalu, setelah itu mereka semua diperbolehkan pulang. Sasha menghembuskan napas lega. Akhirnya dia bisa segera keluar. Semoga saja memang bukan jadwal praktek kakaknya sekarang. Jadi, dia akan merasa aman. Beruntungnya, kemarin pun dia mengirimkan foto berdua dengan Ameera dalam lampiran, karena hanya itu yang ada. Jadi, wajahnya tak dipertanyakan. Gavin sudah beranjak terlebih dulu. Dia berja

    Last Updated : 2024-12-01
  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 8

    Anesya menatap wajah Safiyya yang tampak berseri-seri. Dress merah maroon di atas lutut dan rambut yang di curly membuatnya terlihat fresh. Meskipun baru pulang dari rumah sakit, tetapi tak terlihat jika Safiyya habis sakit. Hari ini adalah hari bahagia baginya. Keluarga calon suami Safiyya, akan berkunjung. “Apa kamu sudah siap bertemu mereka, Sayang?” Anesya menatap gadis berusia sembilan belas tahunan itu.“Iya, Ma. Cuma … aku masih berasa belum pede,” tutur Safiyya sambil mengusap perutnya. Lalu dia mendongak dan bertanya ragu, “A—Apakah kelihatan seperti orang habis keguguran, Ma? Bekas hamilnya gak keliatan ‘kan, Ma?” Anesya terkekeh melihat raut panik putrinya.“Kamu seperti masih ting-ting, kok, Sayang! Lagipula … keluarga mereka tak akan mempermasalahkan juga penampilan kamu, missal pun kamu jelek dan gen-dut, Ses Mita itu sudah terkagum-kagum dengan keluarga kita. Apalagi ketika tahu, kamu itu anak satu-satunya. Pewaris dari keluarga Rivaldo.” Anesya meyakinkan putrinya.

    Last Updated : 2024-12-02
  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   Bab 9

    Hari itu, Ardi baru saja pulang kerja. Menjadi owner di salah satu konsultan sumber daya manusia, cukup menyita waktunya. Salah satu perusahaan yang menggunakan jasa rekrutment dari perusahaan yang Ardi kelola adalah tempat kerja Ameera. Dari sanalah, pertemuan mereka bermula. Hingga perlahan, hubungan itu terjalin karena Ardi kerap melibatkan diri untuk mengurusi hal-hal remeh demi bisa melihat sang gadis yang sudah memikat hatinya pada pertemuan pertama.Ayah Ardi pun masih kerja, dia merupakan salah satu senior manager di perusahaan real estate ternama dan perusahaan tersebut masih di bawah naungan Rivaldo Grup. Karena itu juga, Mita---ibunda Ardi, kerap mengikuti berbagai pertemuan yang diadakan perusahaan demi bisa mendekati istri dari pemilik Rivaldo Grup. Dia pun mulai mencari tahu, kegiatan Anesya.Meskipun levelnya berbeda, tetapi dia tahu istri dari Tuan Rivaldo, Anesya sering sekali mengikuti acara-acara sosial. Dari sanalah, dia mulai mendekati Anesya. Awalnya Mita hanya i

    Last Updated : 2024-12-02

Latest chapter

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 60B-END

    “Saya harus extra kuat sekarang, Ra. Ada dua perempuan rapuh di rumah. Beruntung Mbak Maria sudah pindah rumah, Marina juga sudah menikah dan ikut suaminya. Seenggaknya, saya dan Papa berbagi tugas untuk mengawasi dua orang itu saja.” Ameera mengangguk-angguk paham. Pantas saja, Ardi tampak jauh cepat lebih tua. Rupanya beban hidup yang dialaminya cukup membuat Ameera turut prihatin.“Salam buat keluarga, ya, Mas! Maaf gak bisa ngobrol lama, ada acara lagi setelah ini.” “Iya, Ra. Sukses terus, ya! Seenggaknya saya bangga pernah menjadi orang yang berarti dalam hidup kamu, meski itu dulu.” Ardi tersenyum kecut dan bicara lirih. Sorot matanya tetap menatap Ameera dengan pandangan yang masih sama, seperti dulu.“Ya, Mas!” Ameera tersenyum, lalu berpamitan dan meninggalkan Ardi yang mengusap rambutnya yang sudah ramai ditumbuhi uban.***Setelah kegiatan perusahaan banyak diambil alih kembali oleh Ameera. Perlahan kesibukkan Gavin mulai terbagi lagi. Kini, dia memiliki sedikit waktu lon

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 60A

    Tuan Rivaldo langsung terdiam ketika mendengar persyaratan yang disampaikan Arsyla. Bahunya melorot, lalu dia meminta Parjo mendorong kursi rodanya kembali ke teras menemani Ameera. Selera makannya mendadak menguap begitu saja.“Mama kamu itu, Ra. Apa gak kasihan sama Papa? Masa iya ngasih syarat diluar nalar kayak gitu.” “Hah, syarat apa, Pa?” Ameera yang baru selesai membalas email bertanya tanpa menoleh pada sang Papa. “Masa iya, dia bilang … Papa jangan pernah menemui dia lagi selama setahun kalau mau dipertimbangkan balikan lagi. Mana mungkin bisa gak ketemu, Papa ‘kan pasti ke sini tiap hari.” Ameera terkekeh, lalu dia berbisik ke telingan Tuan Rivaldo. Lelaki paruh baya itu tampak menautkan alis. Lalu setelahnya menatap Ameera sambil tersenyum sumringah.“Oke, Papa temuin mama kamu dulu! Papa sanggupin saja, ya! Kamu pinter sih, Ra. Papa ‘kan bisa temuin kamu di kantor, jadi gak akan ketemu Mama kamu, walau berat, sih! Setahun, Ra,” tutur Tuan Rivaldo dan segera beranjak ke

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 59

    Kabar kehamilan Ameera diterima dengan suka cita. Arsyla memeluk haru putri semata wayangnya dengan buncah bahagia. Bahkan, demi memastikan Ameera cukup istirahat dan terjaga pola makannya. Arsyla memutuskan untuk tinggal sementara waktu di kediaman putrinya itu. Aksa merasa senang, setidaknya ditengah kesibukannya, sang istri ada yang memberi ekstra perhatian. Hanya saja, mau tak mau, Gavin yang kini menjadi tumbal. Karena kehamilan Ameera, rencana bulan madunya yang awalnya akan ke Bali dalam beberapa pekan, harus dibatalkan. Aksa meminta Tuan Rivaldo agar Ameera tak terlalu menerima beratnya beban pikiran. Alhasil, Gavin pun bisa memakluminya. Beruntung, Sasha bukan perempuan dengan tipe manja. “Gak apa, kok, Mas! Bulan madu bisa di mana saja! Di kantor juga bisa,” tukas Sasha sambil mengerling jahil. Dia sedang mengeringkan rambut basahnya. Semalam baru saja keduanya berpetualang hebat. Gavin yang baru selesai mandi, menoleh pada sang istri dengan ekor matanya. “Bulan madu? D

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 58B

    Tuan Rivaldo hanya tersenyum kaku. Dia seperti kehabisan kata-kata. Seorang asisten yang menggantikan Gavin, duduk juga di sampingnya. Sementara itu, kedua orang tua Gavin dan Sasha duduk membersamai pengantin di depan sana.“Arsyla … sepertinya jarak yang kamu bentangkan semakin hari, semakin lebar saja … apa tak ada kesempatan untukku menebus segalanya?” batin Tuan Rivaldo. Perempuan yang sudah melahirkan buah hatinya itu tampak begitu ceria mengobrol dengan anak menantunya. Sesekali perempuan paruh baya itu tertawa. “Bodohnya aku,Syla … bodohnya aku yang menyia-nyiakanmu dulu,” batin Tuan Rivaldo dipenuhi sesal. Seorang panitia datang dan mengantarkan pesanan makanan. “Wah, bakso, ya!” Sumringah Bu Uti ketika mencium wangi yang menguar. Rupanya Aksa tadi yang memesan. Hanya saja, Ameera tiba-tiba menutup hidung dan terlihat tak nyaman. “Duh, bau banget, sih, Bang!” rengeknya sambil menjauhkan mangkuk bakso dari depannya.Aksa mengernyit. Pasalnya, biasanya Ameera adalah orang y

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 58A

    Suara deheman Gavin, membuat Sasha mencubit perut Johanes. Lelaki yang dicubitnya itu mengaduh. Lalu, mau tak mau melepas pelukannya.“Masih saja galak! Kuwalat lo sama abang sendiri!” ejek Johanes. Wajahnya tampak datar lagi dan kini dia beralih menyalami Gavin. Sepasang mata elang Gavin seolah tengah melayangkan protes atas kelakuannya tadi.“Biasa aja lihatinnya, Dek! Lo sekarang adek gue juga!” kekeh Johanes tersenyum masam. Dia menepuk pundak Gavin dua kali. “Gue gak perlu nitipin dia ke elo! Gue yakin, elo bakal jagain dia jauh lebih baik dari gue!” Johanes melepas jabatan tangannya dengan Gavin. Lalu menoleh pada perempuan yang berjalan dengan pelan karena perut yang sudah membesar. “Pasti, Bang!” Gavin menjawab singkat. “Berasa tua gue dipanggil Abang,” kekeh Johanes. Tak ada sedikitpun raut bahagia di wajahnya. Dia pun meraih jemari perempuan yang sejak tadi seperti tak diacuhkannya itu. Entah perempuan mana lagi yang dihamilinya. Perut yang besar dengan high heel yang ag

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 57B

    Hanya saja, pesan Sasha pun tetap diabaikan juga. Karena penasaran, Sasha pun mencoba melakukan panggilan. Namun, tak ada satu pun panggilan darinya diterima Johanes.“Ngambeknya kayak anak kecil,” oceh Sasha. *** Resepsi pernikahan, akan diadakan besar-besaran. Apalagi Antoni pun tak mau ketinggalan. Dia tetap tebal muka dengan penolakan Sasha. Bahkan dia sudah mendeklarasikn kepada rekan bisnisnya tentang keberadaan putri kandungnya. Karena itu, pernikahan Sasha terbilang dirancang dengan cukup megah. Di mana ada tiga pendonor utama yaitu dokter Subarkah, Anotni dan juga Tuan Rivaldo. Waktu bergerak merangkak. Persiapan pernikahan yang dilakukan sudah hampir rampung. Johanes, belum memberikan kabar keberadaan hingga sekarang. Hanya saja, ada sedikit kemajuan. Jika Ibunya mengirim pesan, setidaknya dibalas. Dia selalu bilang, kalau sekarang dia berada di tempat yang aman. Butuh waktu untuk lelaki itu mengobati luka yang menganga cukup besar. Hanya dua orang yang pesannya dibalas.

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 57A

    Sasha menatap langit-langit kamar yang polos. Rasa lelah seharian, tak serta merta membuatnya bisa tidur cepat. Hari ini terlalu penuh kejutan untuknya. Malam yang mulai larut, putaran jam dinding yang terus menggulir waktu, tak bisa membuat Sasha dengan mudah memejamkan mata. Bayangan wajah Gavin yang hari ini memberi kejutan luar biasa untuknya. Terus-menerus bergelayut di kelopak mata. Sudah sejak tadi dia bolak-balik membuka sosial medianya. Beberapa postingan yang memuat kebersamaannya dengan Gavin, sudah memenuhi wall-nya. Sengaja Sasha postingkan untuk mengabadikan momen yang sangat langka dan berharga ini. Sontak banyak sekali komentar dari link pertemanan yang menyatakan kaget luar biasa. [Lo sama Jo, udahan?] [Secepat itu kamu berubah haluan, Sha?] [Wah? Dilamar? Jadi, Jo kalah gercep?] [So sweet banget, sih! Kelihatan banget dia ngasih kejutan dadakan, sampe cicinnya kebesaran.] Dan banyak lagi komentar yang menyangkut pautkannya dengan hubungan Sasha dengan Johanes

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 56C

    Sepasang netra Sasha kembali besinar. Dia bergegas menghampiri Bu Uti dan ikut membaca sederet tulisan lama yang menuliskan alamat Sasti. Sasha pun mengambil gambar dengan ponselnya lekas menoleh ke arah Gavin, Ameera dan Aksa.“Aku mau ke sana! Aku ingin mencari Mama!” Ketiganya mengangguk. Tak menunggu waktu, hari itu juga mereka bergerak menuju lokasi yang disebutkan. Mereka menggunakan satu mobil saja, sedangkan yang satunya dititip di panti. Setelah menempuh waktu sekitar empat jam, akhirnya mereka tiba di sebuah perkampungan. Asing, itulah yang Sasha rasakan. Setelah berputar-putar mencari nama tersebut dan di arahkan ke sana sini. Banyak yang bernama Sasti, tapi rata-rata usianya masih muda, ada juga yang masih bayi. Hingga akhirnya mereka diarahkan ke sebuah rumah, katanya dulunya milik almarhumah Bu Sasti. Hanya saja ternyata rumah itu sedang kosong. Beruntung, ada seorang perempuan berjilbab lebar yang kebetulan keluar dari rumah megah yang berseberangan menanyai mereka.“

  • IDENTITAS TERSEMBUNYI SANG PEWARIS ASLI   BAB 56B

    Sasha meninggalkan rooftop rumah sakit dengan mood yang sudah membaik. Ide Ameera menelpon Gavin sepertinya adalah ide paling tepat. Kini, wajah Sasha yang tadi terlihat begitu muram, perlahan terlihat cerah. Meranti, Subarkah, Merisa dan Antoni ternyata menunggu mereka di lantai satu. Aksa sudah membocorkan kondisi Sasha. Semua turut senang, kesedihan itu tak bertahan lama.Bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Empat pasang mata itu menatap kedatangan dua pasang muda-mudi itu. Jemari mereka saling bertaut. Hanya saja, Sasha yang tak biasa, lekas melepas gamitan jemari Gavin ketika melihat ada empat orang tua yang tengah menunggunya. “Sha … anak kesayangan mama.” Meranti langsung memburu Sasha, memeluk erat dan menangis tersedu. Dia merasa begitu bersalah karena selalu mengulur waktu untuk memberitahu pada Sasha hal yang sebenarnya. Dia selalu merasa tak siap menghadapi reaksi Sasha. Hingga akhirnya itu hanya menjadi bom waktu yang pada hari ini harus meledak diluar kendali mer

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status