Semua Bab Menjadi Istri Kedua Kembaran Suamiku: Bab 41 - Bab 50

85 Bab

41. Tiba-tiba pergi

“Boleh aku masuk?” Dyra langsung meringis mual, dan tiba-tiba kakinya reflek bergerak mundur satu langkah. Dari jarak kurang lebih dua meter saja, aroma alkohol sudah sangat menyengat ketika Romi bicara. Tidak tahu berapa banyak pria itu menegakkan cairan perusak akal sehat. Tapi yang pasti, sekarang Dyra mendadak mual. Ia benci aroma itu. “Tidak! Kau sedang mabuk, dan aku tidak suka!” tolak Dyra tegas. Ia juga sudah akan menutup pintu tapi dengan cepat Romi menahannya. “Setidaknya hargai perjuanganku mencari tempat tinggalmu.” “Itu urusanmu!” Dyra mendorong Romi agar menjauh. Namun, ketika hendak kembali menutup pintu, Romi bisa lebih dulu menyelinap dan akhirnya berhasil masuk. “Kau!” Dyra berubah tegang sambil susah payah menelan salivanya melihat Romi terus mengikis jarang diantara mereka. “Stop! Berhenti disana! Atau aku akan memanggil pelayan untuk mengusirmu!” Tapi peringatan Dyra sama sekali tidak Romi hiraukan. Kakinya tetap melangkah maju. Sampai kemudian.. “B
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-01
Baca selengkapnya

42. Dua raga dalam satu rasa

Dyra masih bertanya-tanya saat melihat Ghavin membuka topeng setelah turun dari mobilnya, dan sepertinya tidak tahu sedang diperhatikan. Sebenarnya bukan dari mana suaminya itu pergi yang Dyra cemaskan, melainkan melihat banyaknya noda darah di jaket denim yang Ghavin kenakan memunculkan berbagai dugaan buruk di kepala.Baru ketika sudah membuka pintu kaca, Ghavin yang sejak tadi berjalan menunduk terkejut mengetahui keberadaan Dyra. “Sayang! Sejak kapan kau disini?” Ghavin berusaha tetap tenang meski sebenarnya was-was Dyra akan takut padanya.“Kenapa bisa ada banyak darah disini? Apa Mas terluka?” Alih-alih menjawab, Dyra malah melontarkan pertanyaan yang membuat Ghavin ragu untuk langsung menjawab. Terlebih ketika tahu, tidak hanya tangan Dyra yang bergetar saat meraba jaketnya yang banyak noda darah, tetapi juga disertai bulir bening yang ikut merangsek keluar. Ghavin jadi tahu Dyra sedang mencemaskan dirinya.Dyra terlalu takut membayangkan sesuatu yang buruk menimpa suaminya. M
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-02
Baca selengkapnya

43. Keseriusan palsu

“Aku minta maaf belum bisa mengunjungi Nyonya Sushmita sampai dengan hari ini.” Saat Marissa menoleh padanya, Romi langsung menunjukkan gelas di tangannya yang masih menyisakan sedikit cairan merah beraroma khas pada Marissa. “Mau minum?” “Tidak!” Marissa menjawab cepat. “Setidaknya jangan tunjukan wajah itu di pestaku, Risa. Semua yang ada di sini harus bebas. Happy party!” Romi mengingatkan. Dilihat dari semua yang hadir, memang hanya Marissa yang terlihat murung. Wajah cantik itu yang biasanya stay angkuh, kini terlihat seperti tengah menyimpan kecemasan. “Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” lanjut Romi setelah menegak sisa minumannya. “Aku baik-baik saja. Pergilah. Temui artismu yang berpotensi itu.” Dari konotasi yang Marisaa gunakan terselip kesinisan, Romi yakin wanita itu sedang kesal padanya. Bisa saja karena ia mematikan ponsel dua hari kemarin. Atau dari beberapa nama yang ia sebutkan tadi, kesemuanya pendatang baru. “Ayolah, Risa. Penghargaanmu sudah terlalu banyak. S
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-03
Baca selengkapnya

44. Ayah pada umumnya

“Apa rencana Mas hari ini?”Ghavin yang masih menimang Megan, beralih menatap wajah cantik Dyra lewat pantulan cermin. Sesaat Ghavin tertegun dengan kecantikan Dyra. Hanya dengan sentuhan make up tipis saja wajah istrinya itu bisa sangat memikat mata. Tidak bosan dipandang meski dalam waktu yang lama. Tapi mendadak muncul kecemasan di hati Ghavin, bagaimana jika perasaan itu juga dimiliki laki-laki lain? Ia juga langsung teringat kedatangan Romi kemarin lusa, pun kata Dyra yang menjelaskan Romi dalam keadaan mabuk. Ghavin mulai dilema apakah akan tetap baik jika masih menjadikan Dyra pengganti sementara dirinya?“Mas?” Dyra segera berbalik saat tahu Ghavin malah melamun. Mengetahui panggilan pelannya tak mampu mengembalikan kesadaran Ghavin, Dyra pilih segera mendekat lantas menyentuh lengan lelakinya. “Apa yang Mas pikirkan, hm?”Tersentak dengan sentuhan sekaligus suara lembut Dyra, reflek Ghavin kembali menggoyangkan badan pelan—ingat masih menimang putrinya. “Aku terlalu cemas
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-04
Baca selengkapnya

45. Setidaknya berbeda

“Sepertinya aku akan tetap di rumah sepanjang hari ini.” Ghavin menjawab pertanyaan Dyra sebelumnya, setelah melepaskan belitan tangannya di panggang sang istri.“Janji jangan membuatku takut lagi.” Dyra menatap penuh harap. Sebelumnya ia sampai membakar jaket denim Ghavin yang berlumuran darah. Meski setelah memastikan tidak ada luka serius di tubuh suaminya, tetap saja mendapati bercak darah manusia menempel pakaian Ghavin, Dyra tidak bisa membayangkan apa yang terjadi sebelum suaminya kembali.Sementara Ghavin malah yakin, berhasil menggetarkan pihak lawan dengan tewasnya sniper andalan mereka yang sering ditugaskan pengintaian dan melakukan serangan jarak jauh. Bahkan pria itu juga telah berhasil menewaskan empat anak buah Ghavin yang bertugas menjaga hutan dari jarak puluhan meter. Janur, orang kepercayaan Ghavin yang dipercaya menjadi komando saat bertugas di hutan, menjelaskan bukan hanya menghasut mereka dengan iming-iming kesenangan duniawi, tetapi Romi juga telah melakuka
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-04
Baca selengkapnya

46. Keputusan besar

“Kau mau kemana?” Romi bertanya setelah beringsut duduk, lantas memastikan waktu dari layar ponselnya. Waktu masih terlalu pagi untuk Marissa buru-buru meninggalkan kamarnya. Bahkan biasanya wanita itu tidak segan menggodanya untuk kembali mengulang aktivitas panas mereka.“Aku harus pulang!” Nada bicara Marissa masih saja ketus meski sambil mengenakan pakaiannya. Sayangnya Romi tidak pernah peduli dengan mulut ketus Marissa, terbukti semarah apapun wanita itu ia tetap berhasil menaklukannya di atas ranjang. Begitu juga semalam, Romi sengaja memancing keributan dengan mengajak wanita muda meninggalkan pesta saat tahu mata tajam Marissa mengarah padanya. Meski tahu Marissa akan mengejar, tetapi Romi tetap saja terkejut ketika baru memasuki lift—hendak meninggalkan pesta tiba-tiba Marisa sudah menyelinap masuk dan langsung menarik rambut wanita yang bersamanya. Wanita itu mengaduh kesakitan, meminta Marissa melepas cengkraman rambutnya. Namun, Marissa tidak peduli, justru akan melaya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-05
Baca selengkapnya

47. Siapa lebih licik

“Kau disini?” Romi langsung memasang wajah tidak suka begitu mendapati kemunculan adik iparnya.“Sudah lama aku tidak mengunjungi paman,” balas Galih yang tidak sepenuhnya berbohong. Sambil beranjak duduk di sofa seberang Romi, Galih masih bisa menyambut kedatangan kakak iparnya itu dengan senyum hangat. Bersikap seperti sang pemilik rumah. “Kakak sendiri ada keperluan apa datang sepagi ini?” “Ada sedikit urusan dengan Dyra.” Romi menjawab tak acuh, walaupun yakin niat mengajak Dyra pergi bersama bisa gagal dengan adanya Galih. Tapi ia tidak begitu saja menyerah sebelum mencoba. Jika Galih tetap menunjukkan sikap tenang berhadapan dengan Romi, lain halnya Ghavin yang sudah menyelinap ke celah dinding untuk bisa keluar ke halaman depan lewat jendela. Sedangkan Martin beserta Dyra sudah pergi ke meja makan. Mereka memutuskan sarapan lebih dulu.Di halaman depan, Ghavin berhasil keluar dan sekarang sudah ada di bawah kolong mobil Romi yang terparkir di samping beranda depan. Sehingga m
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-08
Baca selengkapnya

48. Kesediaan Ghavin

“Kita harus segera bertindak, Sayang. Jangan sampai wanita itu tahu Ghavin sudah mengetahui kebenaran putrinya.” Sambil menutup luka di dahi Marissa, Sushmita memberi saran.“Sepertinya kita memang membutuhkan bantuan Romi, Ma. Aku yakin dengan bekerja sama dengannya kita semakin mudah untuk bisa menguasai harta Ghavin.” Marissa coba merayu, selain itu ia juga ingin menunjukkan kesungguhan Romi.“Jangan bodoh kamu! Mama tahu Romi sangat licik!” tolak Sushmita.“Tapi Ma—”“----dengar Marissa.” Sushmita lebih dulu menyela. “Mama punya firasat tidak baik pada laki-laki itu. Sekeras apapun usahamu menyakinkan mama, keputusan mama tetap sama. Mama tidak akan mendukung hubungan kalian!” Peringatan tegas Sushmita seketika memupus harapan yang bahkan baru kemarin berani Marissa rangkai.*******Di ruang kerjanya, Ghavin hanya bisa menggeram marah begitu orang suruhannya memberi kabar, Romi berhasil selamat dari ledakan mobilnya. Ghavin merutuki ketidaktahuannya akan alat deteksi yang ada di m
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-09
Baca selengkapnya

49. Masa lalu Marissa

“Mas! Ya ampun!” Dyra memekik terkejut. Melihat Dyra memasuki kamar, Ghavin yang baru keluar dari ruang ganti iseng langsung mengangkatnya, lantas didudukan ke atas nakas dan mengurungnya dengan kedua tangan agar tidak bisa menghindar saat ia beri banyak ciuman di wajah “Kenapa baru pulang? Apa saja yang kamu kerjakan seharian ini, hm? Ghavin pura-pura marah dengan memasang wajah serius saat menatap Dyra yang tegang. “Hari ini aku sedikit sibuk. Ada beberapa pertemuan yang aku lakukan di luar.” Mendengar penjelasan Dyra, Ghavin mengulas senyum tipis. Ia tahu istrinya itu tidak sedang berbohong. “Mas ingat Tuan Prabu?” Ghavin seketika dibuat berpikir keras. “Yang dulu pernah meminta Mas mengakuisisi perusahaan Lencana harapan,” lanjut Dyra membantu Ghavin mengingat seorang pria paruh baya yang dulu sempat memiliki hubungan baik dengannya. Memang sudah terlalu lama, Dyra pikir wajar Ghavin bisa lupa. Padahal yang sebenarnya, Ghavin hanya tidak mau membicarakan pria itu. “Untuk ap
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-10
Baca selengkapnya

50. Siapa mereka?

“Apalagi yang kau inginkan sekarang?” Galih duduk tanpa menurunkan Bella dari gendongannya. Wanita itu sudah seperti bayi koala, menempel tubuh jangkung Galih yang tampak ringan saat menggendongnya. Ditemani semilir angin, Galih memilih gazebo tempat pemberhentiannya setelah lelah berputar-putar. Setidaknya ia lega tidak lagi mendengar suara Bella yang seperti akan muntah. “Aku mau pulang,” ujar Bella langsung turun, lantas beranjak pergi lebih dulu. Galih mendesak nafas pelan saat menatap punggung istrinya yang semakin menjauh. “Aku harap kau akan tetap seperti ini bahkan setelah anakku lahir.” Galih bermonolog. “Karena aku yakin bukan kau yang melakukannya.” Tidak ingin membuat Bella menunggu, Galih bergegas ikut meninggalkan gazebo. Tapi sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, ia sempat melirik ke atas. Ternyata Romi sudah tidak ada lagi di balkon kamarnya. Mungkin terlalu muak melihat perubahan adiknya yang manja, Romi memilih menghindar. ******* Di dalam mobil B
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-11
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
34567
...
9
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status