Suatu hari, ketika ia sedang melayani pelanggan di pinggir jalan, pandangannya tertumbuk pada sosok yang tak asing, Lina, kekasih hatinya. Tetapi hari itu berbeda. Di sebelah Lina, duduk seorang pria dengan penampilan yang begitu mencolok. Pria itu mengenakan jam tangan berkilauan, menaiki mobil mewah, dan berpenampilan layaknya seorang raja dalam balutan kekayaan yang mengilap. Dan yang paling menyakitkan, mereka berdua tertawa mesra, saling menggenggam tangan dengan cara yang hanya ia dan Lina lakukan. Dunia Ghenadie seakan runtuh dalam sekejap. Saat mereka melihat Ghenadie yang hanya seorang tukang bakso, tawa mereka berubah menjadi cemoohan. Pria baru Lina melemparkan pandangan menghina, menganggapnya tak lebih dari debu di jalanan, dan Lina... oh, Lina yang dulu selalu memujanya, kini ikut menundukkan diri dalam kebanggaannya, menginjak-injak harga dirinya di depan teman-teman mereka yang kebetulan ikut, memandang rendah dirinya yang dianggap miskin dan tak berdaya. Hari berikutnya, di tengah kehancuran hatinya, seorang pria asing muncul. Pria itu mengatakan sesuatu yang nyaris tak masuk akal: Ghenadie, adalah anak seorang direktur besar dan tak tertandingi. "Mana mungkin," pikir Ghenadie, "Aku hanyalah anak kampung yang hidup dari bakso, bukan pewaris kekayaan yang tak terhitung." Ia menolak mempercayai, seolah kenyataan terlalu jauh dari jangkauannya. Tiba-tiba datang sekelompok orang tak dikenal. Mereka menyerang tanpa ampun, menghancurkan gerobak bakso yang selama ini menjadi penopang hidupnya. Ghenadie berusaha melawan, tetapi apa daya? Mereka lebih kuat, lebih banyak, dan ia terjatuh, terpukul oleh kejamnya dunia yang tak memberinya ruang untuk bernapas. Entah kenapa, kata-kata pria itu kembali terngiang di benaknya. Apakah ini semua memang kenyataan yang lebih besar dari yang ia bayangkan? Ghenadie mulai merasakan getaran aneh di hatinya, sebuah keyakinan samar yang perlahan muncul di tengah kekacauan hidupnya. Ini bukan sekadar mimpi, mungkin inilah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar penjual bakso yang tertindas. Sebuah titik balik yang bagus ...
View MoreGhenadie menghela napas dalam. Keringat membasahi dahinya. Ia menatap Okok Keang, gurunya, yang berdiri dengan kuda-kuda siap menyerang."Apakah benar-benar ingin membunuhku, Guru?" tanya Ghenadie dengan suara bergetar.Dia sama sejali tidak pernh mengira, jika gurunya ini tiba-tiba bisa menyerang nya tanpa peringatan. Untunglah gerakan tubuhnya cukup lincah menghindari serangan gurunya yang mematikan itu.Okok Keang tidak menjawab. Dalam sekejap, ia melesat maju, mengayunkan serangan mematikan. Ghenadie nyaris tak sempat menghindar. Pukulan itu menghantam udara kosong, tapi anginnya saja sudah cukup untuk mengguncang tubuh Ghenadie."Ini adalah ujian terakhir," kata Okok Keang dingin. "Jika kau ingin menjadi penerusku, kau harus bertahan hidup."Memang selama ini Okok Keang memang belum ada menetukan diantara murid-mudirnya menjadi penerusnya, bahkan Desdy yang paling lihaipun tidak dia tunjuk sebagai penerusnya.Bukan karena dia perempuan, di mata Okok Keang tidak ada diskriminasi a
Ghenadie duduk bersila di atas tikar pandan, matanya menatap tajam ke wajah Okok Keang yang duduk di depannya. Mereka sudah berbicara cukup lama, membahas berbagai teknik bertahan hidup dari serangan mendadak.Meskipun Ghenadie baru beberapa bulan menjadi muridnya, kemampuannya berkembang dengan pesat, melampaui ekspektasi Okok Keang."Kau memang cepat belajar," ujar Okok Keang, matanya menyipit seolah menilai sesuatu yang tak terlihat."Bahkan beberapa muridku yang sudah bertahun-tahun berlatih tidak bisa mencapai level sepertimu dalam waktu sesingkat ini."Ghenadie tersenyum tipis, tapi ada ketegangan di balik senyumannya. "Aku hanya melakukan apa yang Guru ajarkan dengan sungguh-sungguh. Lagipula, situasi saat ini tidak membiarkanku bersantai."Okok Keang mengangguk pelan. "Ancaman dari Pak Budi, Joko, dan Reza?""Ya," jawab Ghenadie sambil mengepalkan tangannya. "Mereka semakin berbahaya. Aku bisa merasakannya.""Dan itu alasan mengapa kau harus lebih siap," Okok Keang mencondongk
Langit di atas kota tampak muram sore itu, seakan ikut merasakan ketegangan yang mengendap di hati Ghenadie. Ia melangkah ke dalam kantor dengan pikiran bercabang, mengingat peringatan yang Pak Anton berikan padanya pagi tadi."Jalankan pekerjaan seperti biasa, tetapi tetaplah waspada," pesan Pak Anton terngiang di benaknya."Pak Budi dan Joko yang seharusnya di penjara, sekarang entah berkeliaran di mana. Mereka memiliki perlindungan dari orang-orang yang seharusnya menegakkan hukum. Uang dan kekuasaan adalah tameng mereka."Ghenadie meneguk napas dalam-dalam. Ia tahu dunia tidak adil, tapi kenyataan ini terasa lebih menyakitkan saat ia harus berhadapan dengannya kenyataan.Pak Budi dan Joko bisa saja suatu saat, datang untuk bertindak kejam karena apa yang mereka mau. Makanya pak Anton meminta kepada Ghenadie lebih mengintensifkan latihan bela dirinya.Ghenadie sangat menghargai prinsip Pak Anton, ayahnya. "Hidup jujur dan jangan sekali pun tunduk pada kejahatan," pesan itu bagaika
Desy menatap layar ponselnya yang gelap, jari-jarinya gemetar di atas layar. Sudah tiga hari sejak ia memblokir Reza dari semua media sosial, tiga hari sejak ia menghapus semua kenangan digital tentangnya, tiga hari sejak ia memutuskan hubungan yang selama ini begitu disayanginya.Namun, hatinya terasa hampa. Seakan-akan ia baru saja mencabut sepotong besar jiwanya dan membuangnya entah ke mana.Desy mencintai Reza, tak pernah ada keraguan soal itu. Tapi mencintai seseorang yang hampir menghancurkannya adalah hal yang tak bisa dipertahankannya lagi. Malam itu masih menghantui pikirannya, saat Reza nyaris merenggut kehormatannya di pondok di pinggir kota itu.Ia masih bisa merasakan ketakutan yang membekukan tubuhnya, desakan kasar yang memaksanya melawan, dan detik-detik di mana ia merasa tak berdaya. Jika bukan karena Pak Arif, ayah angkatnya, yang tiba tepat waktu, ia tak tahu apa yang akan terjadi padanya.Sejak malam itu, Desy tak bisa lagi melihat Reza sebagai seseorang yang pern
Darah mengalir dari sudut bibir Reza saat ia mencoba berdiri, kedua tangannya bertumpu pada lantai dingin yang berlumuran keringat dan luka. Pandangannya kabur, namun semangatnya belum pudar. Ia menggertakkan giginya, menahan sakit yang menusuk di setiap persendian tubuhnya.Di depannya, Pak Arif berdiri dengan wajah tegas, napasnya masih teratur meskipun baru saja memberikan serangkaian pukulan yang brutal. Matanya yang tajam menatap Reza, penuh dengan kebencian rasa kesal, serta dengan kekecewaan yang mendalam.Reza mengepalkan tangannya, jari-jarinya bergetar akibat lelah yang teramat sangat. "Aku tidak akan menyerah," gumamnya dengan suara parau. Ia berusaha bangkit, namun sebelum tubuhnya bisa tegak sempurna, sebuah tendangan keras menghantam perutnya."Ugh!" Reza terhuyung ke belakang, tubuhnya limbung sebelum akhirnya jatuh tersungkur. Pandangannya semakin gelap, kesadarannya perlahan terkikis oleh rasa sakit yang membuncah. Satu tarikan napas terakhir terasa berat sebelum akhi
Rezza duduk di kursi tua yang berderit, tatapan matanya tajam seperti mata elang yang mengawasi mangsanya. Di hadapannya, Desy terbaring lemah, napasnya tersengal, tubuhnya bergetar. Cahaya lampu yang redup menyoroti wajahnya yang basah oleh keringat dan air mata."Akhirnya, Desy..." Rezza berbisik, nyaris seperti mendesis. "Akhirnya kau di sini, di tempat yang seharusnya."Desy sudah tersadar dari pingsannya dan mencoba bergerak, tapi tubuhnya terlalu lemah. Sejenak, dia mengutuk dirinya sendiri karena telah mempercayai Rezza. Laki-laki yang dulu dia anggap telah berubah baik, tempatnya berbagi cerita, kini menunjukkan wajah aslinya.Ada sesuatu yang dingin dan kejam dalam tatapan Rezza, sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang."Kau tahu, selama ini aku bersabar," lanjut Rezza dengan suara rendah. "Aku menunggumu, memberi waktu untukmu menyadari bahwa aku adalah satu-satunya yang pantas untukmu."Desy menggeleng lemah. "Rezza, kau salah... Aku tidak pernah melihatmu seperti itu.
Reza tersenyum manis saat melihat Desy, tapi di balik senyum itu, hatinya dipenuhi rencana yang tak seorang pun boleh tahu. Jika dulu dia mengandalkan amarah, sekarang dia bermain dengan kepura-puraan.Dan Desy? Dia terlalu polos untuk menyadari bahwa orang yang dikiranya 'telah berubah' justru menyiapkan kehancuran untuknya."Reza, kamu benar-benar berubah," kata Desy sambil tersenyum. "Aku nggak nyangka kamu bisa setenang ini sekarang."Reza mengangkat bahu, matanya menatap Desy dengan lembut. "Waktu mengubah banyak hal, Des. Aku sadar, aku nggak bisa terus-terusan hidup dalam kemarahan. Aku ingin jadi orang yang lebih baik."Desy menatapnya dengan penuh harapan. "Aku senang dengar itu, semoga kamu bisa berubah selamanya,” nujar Desy.Meskipun dalam hati Desy sudah memutuskan akan meninggalakn Reza, dia telah terlanjur jatuh cintya kepada Ghnadie, karena selain dia tmpan juga masa depannya cerah. Dia juga baik, sabar dan penuh kasih sayang.Berubah, kata Reza di dalam hatinya. Kata
Langit sore memerah ketika Pak Anton akhirnya memeluk putranya, Ghenadie. Pelukan itu erat, penuh kelegaan dan kebahagiaan setelah berbulan-bulan pencarian.Namun, di balik kebahagiaan itu, ada sesuatu yang bergemuruh di dalam hati Ghenadie."Ayah... ada sesuatu yang harus aku katakan," suara Ghenadie bergetar. Napasnya berat, seperti tengah membawa beban yang tak terkatakan.Pak Anton melepaskan pelukannya perlahan, menatap putranya dengan cemas. "Apa itu, Nak? Katakan saja. Ayah akan mendengarkan."Ghenadie menelan ludah, tangannya mengepal. "Aku... aku menyukai Desy. Tapi masalahnya... dia sudah punya pacar, Reza."Sejenak keheningan menyelimuti mereka. Pak Anton menghela napas. "Ghen, kamu yakin dengan perasaanmu?"Ghenadie mengangguk. "Tapi bukan itu yang membuatku takut, Ayah. Desy sendiri ingin meninggalkan Reza. Katanya Reza pemarah, suka memaksa, dan egois. Aku tidak bisa tinggal diam saat melihatnya terluka..."Pak Anton terdiam. Ia sedikit banyak tahu sifat Reza, dari cerit
Setelah melalui perjalanan yang berat di jalan berbatu dan berlubang, rombongan Okok Keang akhirnya tiba di kota berikutnya saat senja mulai merayap di cakrawala.Jalanan di sini jauh lebih baik, aspalnya mulus dan tanpa lubang, memberikan harapan baru bagi mereka untuk menyelesaikan perjalanan panjang menuju kota tujuan.Okok Keang segera memanfaatkan akses internet yang stabil untuk mengambil tabungannya. Sementara itu, Burhan dan kawannya bersiap untuk berpisah. Mereka harus kembali, dan perjalanan mereka berakhir di sini."Dua puluh juta, sesuai kesepakatan," kata Burhan, menyodorkan tangan.Okok Keang mengeluarkan uangnya, menghitungnya dengan teliti sebelum menyerahkan ke Burhan. "Terima kasih atas perjalanan sejauh ini. Semoga kita bertemu lagi di kesempatan lain."Burhan menerima uang itu dengan anggukan. "Hati-hati di perjalanan. Jalan di depan mungkin mulus, tapi bukan berarti tanpa bahaya."Mereka berjabat tangan, begitu juga dengan anggota rombongan lainnya. Sementara itu,
Ghenadie mendorong gerobak baksonya dengan perlahan menyusuri jalan setapak kota yang bentuknya sudah seperti kampung, karena terletak agak ke pinggiran kota.Ghenadie berjalan dengan santainya memakai pakaian yang cukup rapi dan bersih, namun keringatnya mengalir deras di bawah terik matahari siang.Gerobaknya bergemeretak ringan, seolah mengiringi langkahnya yang mantap meskipun tubuhnya terasa lelah. Aroma bakso yang gurih bercampur dengan sambal pedas melayang di udara, menggoda siapa saja yang melewati.Ghenadie, seorang mahasiswa yang gigih, tak pernah mengeluh meski panas matahari membakar kulitnya. Setiap teriakan yang ia keluarkan saat menawarkan baksonya, membawa harapan besar untuk bisa membayar biaya kuliahnya.Sambil berjalan itu, dia ingat dengan kekasihnya, Lina, seorang gadis yang cantik, tetapi mereka belum bisa menikah karena belum cukup uang. Pikirannya juga melayang ke keluarganya di desa yang berharap besar padanya."Bakso! Bakso panas! Ayo, bakso!" serunya, suara...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments