
Tukang Bakso Jadi Miliarder
Suatu hari, ketika ia sedang melayani pelanggan di pinggir jalan, pandangannya tertumbuk pada sosok yang tak asing, Lina, kekasih hatinya. Tetapi hari itu berbeda. Di sebelah Lina, duduk seorang pria dengan penampilan yang begitu mencolok. Pria itu mengenakan jam tangan berkilauan, menaiki mobil mewah, dan berpenampilan layaknya seorang raja dalam balutan kekayaan yang mengilap. Dan yang paling menyakitkan, mereka berdua tertawa mesra, saling menggenggam tangan dengan cara yang hanya ia dan Lina lakukan. Dunia Ghenadie seakan runtuh dalam sekejap.
Saat mereka melihat Ghenadie yang hanya seorang tukang bakso, tawa mereka berubah menjadi cemoohan. Pria baru Lina melemparkan pandangan menghina, menganggapnya tak lebih dari debu di jalanan, dan Lina... oh, Lina yang dulu selalu memujanya, kini ikut menundukkan diri dalam kebanggaannya, menginjak-injak harga dirinya di depan teman-teman mereka yang kebetulan ikut, memandang rendah dirinya yang dianggap miskin dan tak berdaya.
Hari berikutnya, di tengah kehancuran hatinya, seorang pria asing muncul. Pria itu mengatakan sesuatu yang nyaris tak masuk akal: Ghenadie, adalah anak seorang direktur besar dan tak tertandingi. "Mana mungkin," pikir Ghenadie, "Aku hanyalah anak kampung yang hidup dari bakso, bukan pewaris kekayaan yang tak terhitung." Ia menolak mempercayai, seolah kenyataan terlalu jauh dari jangkauannya.
Tiba-tiba datang sekelompok orang tak dikenal. Mereka menyerang tanpa ampun, menghancurkan gerobak bakso yang selama ini menjadi penopang hidupnya. Ghenadie berusaha melawan, tetapi apa daya? Mereka lebih kuat, lebih banyak, dan ia terjatuh, terpukul oleh kejamnya dunia yang tak memberinya ruang untuk bernapas.
Entah kenapa, kata-kata pria itu kembali terngiang di benaknya. Apakah ini semua memang kenyataan yang lebih besar dari yang ia bayangkan? Ghenadie mulai merasakan getaran aneh di hatinya, sebuah keyakinan samar yang perlahan muncul di tengah kekacauan hidupnya. Ini bukan sekadar mimpi, mungkin inilah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar penjual bakso yang tertindas. Sebuah titik balik yang bagus ...
Read
Chapter: 68-Pindah Ke Rumah pak AntonPak Anton duduk di belakang meja kantornya, matanya menatap tajam ke arah Desy yang berdiri di depannya. Wajahnya tegang, napasnya berat, seolah dunia runtuh perlahan di sekelilingnya."Desy," ucap Pak Anton pelan namun tegas, "aku ingin kamu pindah ke rumahku."Desy mengerutkan dahi, terlihat bingung. "Maaf, Pak? Maksudnya... pindah ke rumah Bapak?""Ya," jawab Pak Anton tanpa ragu. "Rumahku memiliki sistem keamanan penuh. Semua pintu dan jendela dikunci secara elektronik, hanya bisa dibuka dengan sidik jari dan pemindai wajah. Bahkan security rumah tak bisa membukanya tanpa identitasku."Desy terdiam, berusaha memahami maksud dari pernyataan itu."Saya tidak mengerti, Pak. Apakah ini ada hubungannya dengan Ghenadie?""Sekarang dia hilang lagi." Suara Pak Anton lirih namun sarat emosi. "Aku tak bisa percaya siapa pun, bahkan aparat hukum yang seharusnya menjamin keadilan. Mereka tidak menyentuh Pak Budi, padahal aku sudah memberikan bukti."Pak Anton telah mengerahkan segala koneksi
Last Updated: 2025-04-04
Chapter: 67-Ilmu Rahasia TitisanGhenadie tahu ia tak punya waktu untuk memahami ilmu di gulungan itu. Satu-satunya cara bertahan adalah mengandalkan insting dan kenangan akan latihan yang diberikan Okok Keang. Dengan sisa tenaga, ia mencoba menahan serangan Klan Serigala Hitam.Puluhan anggota klan mengepungnya, mata mereka berkilat liar dalam bayangan malam. Dengan cepat, mereka meluncurkan serangan bertubi-tubi. Ghenadie menangkis dan menghindar sebaik mungkin, namun jumlah mereka terlalu banyak."Kau sudah tamat, bocah!" seorang pria bertubuh kekar mengayunkan pedangnya ke arah Ghenadie.Ghenadie berusaha menahan serangan itu dengan pedangnya sendiri, namun kekuatan lawannya membuatnya terlempar ke belakang. Napasnya tersengal, lututnya bergetar menahan rasa sakit."Aku tidak bisa... aku tidak cukup kuat..." pikirnya.Tapi kemudian, ingatan tentang Okok Keang terlintas di benaknya. Gurunya yang sudah tiada baru saja menunjukkan ilmu rahasia sebelum menghembuskan napas terakhir.Tanpa berpikir panjang, Ghenadie me
Last Updated: 2025-04-04
Chapter: 66-Ilmu RahasiaGhenadie menghela napas dalam. Keringat membasahi dahinya. Ia menatap Okok Keang, gurunya, yang berdiri dengan kuda-kuda siap menyerang."Apakah benar-benar ingin membunuhku, Guru?" tanya Ghenadie dengan suara bergetar.Dia sama sejali tidak pernh mengira, jika gurunya ini tiba-tiba bisa menyerang nya tanpa peringatan. Untunglah gerakan tubuhnya cukup lincah menghindari serangan gurunya yang mematikan itu.Okok Keang tidak menjawab. Dalam sekejap, ia melesat maju, mengayunkan serangan mematikan. Ghenadie nyaris tak sempat menghindar. Pukulan itu menghantam udara kosong, tapi anginnya saja sudah cukup untuk mengguncang tubuh Ghenadie."Ini adalah ujian terakhir," kata Okok Keang dingin. "Jika kau ingin menjadi penerusku, kau harus bertahan hidup."Memang selama ini Okok Keang memang belum ada menetukan diantara murid-mudirnya menjadi penerusnya, bahkan Desdy yang paling lihaipun tidak dia tunjuk sebagai penerusnya.Bukan karena dia perempuan, di mata Okok Keang tidak ada diskriminasi a
Last Updated: 2025-04-03
Chapter: 65-Bayang-Bayang Musuh Tak TerlihatGhenadie duduk bersila di atas tikar pandan, matanya menatap tajam ke wajah Okok Keang yang duduk di depannya. Mereka sudah berbicara cukup lama, membahas berbagai teknik bertahan hidup dari serangan mendadak.Meskipun Ghenadie baru beberapa bulan menjadi muridnya, kemampuannya berkembang dengan pesat, melampaui ekspektasi Okok Keang."Kau memang cepat belajar," ujar Okok Keang, matanya menyipit seolah menilai sesuatu yang tak terlihat."Bahkan beberapa muridku yang sudah bertahun-tahun berlatih tidak bisa mencapai level sepertimu dalam waktu sesingkat ini."Ghenadie tersenyum tipis, tapi ada ketegangan di balik senyumannya. "Aku hanya melakukan apa yang Guru ajarkan dengan sungguh-sungguh. Lagipula, situasi saat ini tidak membiarkanku bersantai."Okok Keang mengangguk pelan. "Ancaman dari Pak Budi, Joko, dan Reza?""Ya," jawab Ghenadie sambil mengepalkan tangannya. "Mereka semakin berbahaya. Aku bisa merasakannya.""Dan itu alasan mengapa kau harus lebih siap," Okok Keang mencondongk
Last Updated: 2025-04-02
Chapter: 64-BuruanLangit di atas kota tampak muram sore itu, seakan ikut merasakan ketegangan yang mengendap di hati Ghenadie. Ia melangkah ke dalam kantor dengan pikiran bercabang, mengingat peringatan yang Pak Anton berikan padanya pagi tadi."Jalankan pekerjaan seperti biasa, tetapi tetaplah waspada," pesan Pak Anton terngiang di benaknya."Pak Budi dan Joko yang seharusnya di penjara, sekarang entah berkeliaran di mana. Mereka memiliki perlindungan dari orang-orang yang seharusnya menegakkan hukum. Uang dan kekuasaan adalah tameng mereka."Ghenadie meneguk napas dalam-dalam. Ia tahu dunia tidak adil, tapi kenyataan ini terasa lebih menyakitkan saat ia harus berhadapan dengannya kenyataan.Pak Budi dan Joko bisa saja suatu saat, datang untuk bertindak kejam karena apa yang mereka mau. Makanya pak Anton meminta kepada Ghenadie lebih mengintensifkan latihan bela dirinya.Ghenadie sangat menghargai prinsip Pak Anton, ayahnya. "Hidup jujur dan jangan sekali pun tunduk pada kejahatan," pesan itu bagaika
Last Updated: 2025-04-02
Chapter: 63-Pahitnya CintaDesy menatap layar ponselnya yang gelap, jari-jarinya gemetar di atas layar. Sudah tiga hari sejak ia memblokir Reza dari semua media sosial, tiga hari sejak ia menghapus semua kenangan digital tentangnya, tiga hari sejak ia memutuskan hubungan yang selama ini begitu disayanginya.Namun, hatinya terasa hampa. Seakan-akan ia baru saja mencabut sepotong besar jiwanya dan membuangnya entah ke mana.Desy mencintai Reza, tak pernah ada keraguan soal itu. Tapi mencintai seseorang yang hampir menghancurkannya adalah hal yang tak bisa dipertahankannya lagi. Malam itu masih menghantui pikirannya, saat Reza nyaris merenggut kehormatannya di pondok di pinggir kota itu.Ia masih bisa merasakan ketakutan yang membekukan tubuhnya, desakan kasar yang memaksanya melawan, dan detik-detik di mana ia merasa tak berdaya. Jika bukan karena Pak Arif, ayah angkatnya, yang tiba tepat waktu, ia tak tahu apa yang akan terjadi padanya.Sejak malam itu, Desy tak bisa lagi melihat Reza sebagai seseorang yang pern
Last Updated: 2025-04-01