Andini menjadi putri kesayangan Keluarga Adipati selama 15 tahun. Suatu hari, Andini diberi tahu dirinya bukan putri asli Keluarga Adipati. Sejak saat itu, orang tua yang menyayangi Andini menjadi milik Dianti dan kakak yang memanjakannya mendorong Andini dari tangga demi Dianti. Bahkan tunangan Andini juga membela Dianti. Demi Dianti, mereka membiarkan Andini difitnah dan dihukum menjadi pelayan di penatu istana selama 3 tahun. Mereka juga tidak pernah mengunjungi Andini. Tiga tahun kemudian, tiba-tiba adipati dan istrinya berkata kepada Andini sembari menangis, "Andin, Ayah dan Ibu salah. Ayo, ikut kami pulang!" Kakak Andini yang arogan juga berlutut semalaman dan memohon, "Andin, maafkan Kakak, ya?" Tunangan Andini yang merupakan jenderal hebat menghampirinya dan memelas, "Andin, tolong perhatikan aku, ya?" Namun, Andini sudah berhenti berharap kepada mereka sejak 3 tahun yang lalu. Dia tidak merasa kasihan kepada mereka sedikit pun! Kemudian, Andini bertemu dengan seorang pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Melihat hidup Andini yang bahagia, orang-orang yang pernah menyakiti Andini tidak berani mendekatinya. Orang-orang itu takut ke depannya mereka tidak bisa melihat Andini dari kejauhan lagi ....
Lihat lebih banyakUsai berkata demikian, Kalingga pun mengangkat pandangannya ke arah Jabal yang berdiri di samping. Tatapannya tampak datar, tidak terlihat ada yang aneh dari luar.Namun, Jabal langsung paham. Dia mengangguk cepat dan menimpali, "Benar, benar! Tabib Riza juga bilang, kaki Tuan sudah lima tahun nggak digunakan. Sekarang tiba-tiba sembuh, tubuhnya pasti belum bisa adaptasi. Nantinya harus dipijat setiap hari supaya pulih sempurna."Tentu saja, lebih baik lagi kalau Nyonya Andini yang memijat.Mendengar penjelasan dari Kalingga dan Jabal, ekspresi Lukman dan Malika akhirnya sedikit lebih tenang.Andini pun merasa masuk akal dengan penjelasan Tabib Riza. Namun, dia tetap berpikir untuk menanyakannya langsung pada tabib ahli itu agar lebih yakin. Apalagi, kalau memang perlu pijatan rutin, bisa jadi si tabib sakti itu punya teknik khusus yang tidak diajarkan oleh tabib biasa.Melihat Andini tampak sedang berpikir, Kalingga tiba-tiba bertanya, "Oh iya, Andin, kemarin kamu bilang ada hal yang
"Besok saja kita bicarakan," Kalingga memotong ucapan Andini, lalu berdiri perlahan dan berkata, "Aku baru saja pulang dari istana menghadap Kaisar, agak lelah."Andini juga ikut berdiri. Melihat wajah Kalingga yang tampak letih, dia sadar bahwa sejak pagi pria itu sudah pergi dan baru kembali sekarang. Entah apa yang dibicarakan dengan Kaisar, mungkin memang ada sesuatu yang membuatnya jenuh atau tertekan.Sepertinya memang bukan waktu yang tepat untuk bicara. Oleh karena itu, dia pun mengangguk pelan. "Kalau begitu, Kak Kalingga istirahat saja dulu."Kalingga mengangguk singkat, lalu berbalik menuju kamarnya.Begitu masuk ke ruang dalam, barulah dia sadar bahwa di telapak tangannya masih tergenggam biji persik tadi.Jabal membawa masuk air untuk mencuci tangan Kalingga dan bertanya dengan khawatir, "Tuan sedang mikirin gosip yang beredar di luar sana? Jangan khawatir, Nyonya Andini jarang keluar rumah, seharusnya nggak akan mendengar apa pun dalam waktu dekat. Hamba akan segera mengu
Saat itu juga Malika mengernyit dalam-dalam, lalu menghela napas sambil berkata, "Ibu nggak menyalahkan Andin, semua itu cuma omongan orang luar .... Sudahlah, gosip seperti itu kalau nggak diladeni, lama-lama juga akan hilang dengan sendirinya.""Benar, nggak perlu dihiraukan," ujar Kalingga akhirnya menoleh pada ibunya dan tersenyum tipis."Kalau begitu, Ibu ... aku kembali dulu ke kamar untuk istirahat.""Baik, baik, kamu istirahatlah dulu!" Malika menjawab cepat sambil mengangguk.Namun, setelah melihat Kalingga memberi hormat dan berjalan pergi, raut wajah Malika malah semakin muram.Begitu anaknya pergi cukup jauh, dia langsung menoleh ke pelayan senior di belakangnya. "Ambilkan perjanjian pernikahan antara Andini dan Kalingga sebelumnya. Salin tanggal lahir Andini, lalu kirim ke Master Hardan dari Kuil Amnan untuk diperiksa."Dulu, saat pernikahan itu dijalankan, tanggal lahir keduanya memang tidak pernah dicocokkan. Bagaimanapun, saat itu ada titah pernikahan langsung dari Kais
Kalingga sebenarnya ingin terlihat ramah sebisa mungkin. Namun, dia tidak menyangka, di balik aura dinginnya yang suram itu, senyuman seperti apa pun justru akan menakuti anak-anak. Anak itu langsung terpaku dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Anak-anak lainnya juga berkumpul dalam satu kelompok dan memandang Kalingga dengan wajah penuh ketakutan.Untungnya, Jabal di sana sudah membeli permen, lalu segera maju ke depan dan membagikan beberapa butir kepada anak-anak sambil berkata, "Jangan takut, jangan takut, Paman cuma mau nanya saja."Permen itu sangat harum dan manis. Anak-anak yang menerima permen akhirnya tidak terlalu takut lagi."Aku dengar dari Tirta!"Tirta menyahut, "Aku diajarin sama Via!"Via menyahut lagi, "Aku diajari nyanyiannya sama Kurnia di ujung jalan!"....Dari satu ke yang lain seperti ini, memang tidak mudah untuk segera menyelidiki semuanya.Jabal melangkah ke depan dan berkata sambil menurunkan suaranya, "Tuan, sebaiknya Anda kembali dulu ke rumah. Hamba ak
Namun, kini jelas sekali bahwa semua ini adalah perbuatan yang disengaja.Kaisar merendahkan suaranya dan bertanya, "Apa kamu tahu siapa yang meracunimu?"Di benak Kalingga, seketika muncul bayangan sosok yang anggun. Menurut apa yang Andini katakan sebelumnya, kemungkinan besar orang ini yang telah meracuninya.Kenangan lama membanjiri pikirannya. Kalingga mengepalkan tangannya sesaat, tetapi akhirnya memilih untuk tidak menyebutkan nama itu.Dia hanya menggeleng dan menyahut, "Setelah kaki saya cedera, saya bertemu banyak orang. Saya nggak tahu siapa yang sebenarnya meracuniku ...."Mendengar ini, Kaisar mengangguk ringan. Dulu saat Kalingga dibawa kembali ke ibu kota dari medan perang, entah berapa banyak orang yang merawatnya sepanjang perjalanan. Setibanya di ibu kota, masih ada banyak tabib istana yang memeriksanya.Di antara begitu banyak orang, bagaimana mungkin bisa dilacak siapa yang telah meracuninya?Memikirkan hal ini, Kaisar menghela napas panjang. "Untungnya, kini keadaa
Keesokan hari.Sejak pagi buta, Kalingga sudah menerima pesan dari istana. Kaisar ingin menemuinya. Sebenarnya, dia sudah menduga akan hal ini sejak kemarin.Pasti Rendra telah memberi tahu Kaisar tentang apa yang terjadi. Begitu mengetahuinya, Kaisar tentu akan memanggilnya.Hanya saja, Kalingga tidak menyangka panggilan itu akan datang secepat ini. Melihat waktu, mungkin sidang pagi pun belum selesai. Namun, Kaisar sudah mengutus orang ke kediaman Keluarga Maheswara.Jabal membantu Kalingga bersiap-siap. Tuannya akan masuk ke istana untuk pertama kalinya setelah 5 tahun, tentu saja harus berpakaian sebaik mungkin.Dengan demikian, semua orang bisa melihat bahwa Jenderal Kalingga yang dulu gagah berani, kini tetap berwibawa seperti sedia kala!Namun, tampaknya pikiran tuannya berada di tempat lain. Jabal mengikuti arah pandang Kalingga ke luar jendela, lalu tersenyum. "Nyonya Andini belum bangun. Masih harus ditunggu."Kurang lebih sejam lagi, Andini pasti akan keluar dari kamarnya.K
Lalu, bagaimana dengan Kalingga? Apakah hubungan saudaranya dengan Rangga akan retak hanya karena dirinya?Lebih baik Andini mengambil kesempatan ini untuk pergi, benar-benar melepaskan diri dari semua orang di ibu kota ini.Dia sudah lama menantikan ini. Pergi ke luar ibu kota, mencari dunia baru, menemukan dirinya yang baru.Andini merasa waktunya sudah tiba. Namun, menurut Laras, tetap tinggal di sini juga bukan pilihan yang buruk.Kalingga adalah orang yang baik, begitu juga dengan Jabal. Selama dia dan nonanya tinggal di sini, mereka tidak pernah diperlakukan buruk.Namun, karena nonanya sudah mengatakan bahwa inilah saatnya untuk pergi, pasti ada alasannya.Laras pun mengangguk dengan mantap. "Hamba akan mengikuti keputusan Nona."Malam itu.Saat Kalingga kembali, langit sudah benar-benar larut. Tubuhnya sedikit bau alkohol, tetapi bukan karena dirinya yang minum. Sebagian besar aroma itu berasal dari Lukman.Hari ini, Lukman benar-benar bahagia. Dia memerintahkan pelayan untuk m
Semua orang yang hadir tahu seperti apa hubungan antara Andini dan Rangga. Mereka mengerti bahwa kepergian Rangga kali ini pasti karena dia tidak sanggup melihat Andini dan Kalingga begitu mesra.Andini spontan mengerutkan keningnya. Ekspresi Kalingga pun menjadi suram. Suasana di dalam aula seketika menjadi canggung.Malika adalah orang pertama yang bereaksi. Dia mendorong Nayshila dengan lembut, memberi isyarat agar putrinya tidak membahas lagi. Kemudian, dia segera berkata, "Kurasa dia pergi karena ada urusan militer yang mendesak, nggak perlu dibahas!"Nayshila tersadar dan buru-buru mengiakan, "Benar, benar! Kak Rangga pasti sibuk dengan urusan militer, bukan karena Kak ...."Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, dia buru-buru menutup mulutnya sendiri. Dia bahkan ingin menampar dirinya sendiri karena hampir mengucapkan sesuatu yang tak seharusnya.Wajah Andini dan Kalingga semakin muram.Lukman hanya bisa menatap Nayshila dengan kesal sebelum akhirnya mengalihkan perhatiannya ke
Usai berbicara, Abimana membuka tirai kereta dan melangkah keluar. Namun, sebelum melompat turun, dia kembali berkata dengan suara dingin, "Kalau dia mati, itu karena perbuatannya sendiri. Tapi Andini, salah apa dia?"Setelah mengatakan itu, Abimana melangkah pergi dengan terburu-buru. Dia tidak sanggup berlama-lama di dalam kereta itu.Jujur, dia juga tidak ingin melihat Dianti mati. Bagaimanapun, Dianti tetap adiknya!Saat Dianti berpura-pura hendak bunuh diri dengan menabrakkan dirinya ke pilar, Abimana tidak menghentikannya karena mengira itu hanya akting.Namun, hari ini saat melihat sorot mata Dianti yang benar-benar memancarkan tekad untuk mati, Abimana tak bisa tinggal diam dan membiarkannya begitu saja.Adik perempuannya yang dulu begitu lembut dan baik hati, mengapa setelah menjadi bagian dari Keluarga Maheswara, menjadi sekejam ini?Abimana tidak mengerti. Namun, yang lebih tidak bisa dia pahami adalah apa kesalahan Andini?Apa salahnya hingga harus diculik dan dilecehkan ol
Di Negara Darsa, tanggal 28 Desember. Cuaca sangat dingin. Andini Gatari baru selesai mencuci pakaian terakhir di pagi hari.Sebelum sempat menyeka tangannya yang sudah mati rasa karena kedinginan, pelayan senior di penatu istana memanggil, "Andini, cepat! Anggota Keluarga Adipati menjemputmu!"Andini tertegun. Keluarga Adipati terdengar familier dan juga asing bagi Andini. Dia pernah menjadi putri Keluarga Adipati selama 15 tahun, tetapi dia diberi tahu dirinya bukan putri asli 3 tahun yang lalu.Bidan yang membantu istri adipati melahirkan berniat jahat. Dia menukar putrinya dengan putri Keluarga Adipati. Namun, bidan itu merasa tidak tega menjelang kematiannya. Jadi, dia mengungkap kebenarannya.Andini mengingat dengan jelas adipati dan istrinya sangat emosional saat pertama kali bertemu dengan Dianti. Mereka berpelukan sambil tertawa dan menangis. Sementara itu, Andini yang berdiri di samping kewalahan. Ternyata dia bukan anak kandung orang tua yang diakuinya selama 15 tahun.Mungk...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen